Wednesday, May 15, 2013

Mungkinkah saya sebagai murid Kristus mengalahkan dosa dan kedagingan ?

Ketika kita memikirkan hidup ini yang penuh dengan pergumulan, penderitaan, kesulitan dan air mata ini maka kita mempunyai satu harapan akan kebebasan secara rohani. Kedamaian dimana kita lepas dari segala hal yang menekan dan menindas. Memang ini apa yang Alkitab katakan bahwa kita semua sebagai anak-anak Tuhan dan segenap ciptaan Tuhan mengeluh dan menanti penebusan dan kemuliaan masa depan ( Rom 8:18-21 ). Kita semua anak-anak Tuhan punya satu keinginan untuk lepas dari derita dan dari kesia-siaan hidup ini dan masuk ke dalam kemuliaan.

Ketika kita merenungkan apa yang menjadi masalah di dalam dunia ini ? Mengapa adanya penderitaan dan kesulitan ? Mengapa adanya perang ? Mengapa adanya konflik ? Mengapa adanya kerusakan-kerusakan dan penyakit ? Maka kita mulai merenung apa yang terjadi pada manusia ? Apa yang terjadi ?

Orang Budhis menyadari secara praktis bahwa manusia menderita karena keinginan duniawi dan banyak orang yang beragama menyadari bahwa musuh terbesar umat manusia bukan orang lain, bukan lingkungan tetapi diri kita sendiri. Ada kejahatan yang merupakan sisi gelap dari diri kita sendiri. Tetapi sayang sekali orang Budhis pun tidak menyadari bahwa ketika mereka melihat sesuatu serpihan kebenaran maka mereka sendiri masih diselubungi oleh kabut kegelapan yang menipu. Betapa liciknya hati ! Lebih licik dari sesuatu !. Tidak cukup kita mengenal diri kita mempunyai sisi gelap dan diri kita adalah musuh terbesar. Kita perlu Firman Wahyu Allah untuk mengenal diri kita sesungguhnya.

Firman Tuhan menceritakan bahwa kutuk dan penderitaan di dalam dunia ini adalah karena dosa. Firman Tuhan menjelaskan semua ini karena manusia berdosa ingin mengambil jalan sendiri. Manusia ingin menjadi seperti Allah. Manusia ingin hidup otonomi. Manusia tidak mau diatur oleh Tuhan Allah. Manusia tidak mau menjadi hamba Tuhan tetapi ingin menjadi tuan atas dirinya sendiri dan orang lain. Manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.

Ketika manusia jatuh dalam dosa maka mereka ada di dalam perbudakan dosa. Alkitab mengatakan bahwa barangsiapa berdosa ialah hamba dosa. Seseorang yang mau bebas di luar kehendak Tuhan menjadi terikat oleh kehendak kedagingannya sendiri. Seseorang yang mengatakan dia bebas untuk makan narkoba menjadi hancur terikat oleh narkoba. Seorang yang ingin bebas melampiaskan nafsu seksnya menjadi terikat oleh hawa nafsunya sendiri. Seorang yang merasa bebas untuk berjudi akhirnya habis bangkrut oleh keserakahannya sendiri.

    Tragedi ! Tragedi ! Inilah realitas hidup kita. Adanya kejatuhan !

    Alkitab mencatat bahwa dunia dengan segala nafsunya akan lenyap.

    Tragedi ! Dan tragis !

Ketika sebelum mengenal Kristus kita terbiasa untuk hidup di dalam perbudakan dosa dan hawa kematian. Kita sudah terbiasa hidup di dalam kegelapan. Dan kita sudah terbiasa hidup mengikuti hawa nafsu kita. Pertanyaannya : Bisakah kita lepas dari semua itu ?

Saya ambil contoh konkret mengenai Agustinus. Dia adalah seorang Bapa gereja. Dia hidup masa remaja dan mudanya hancur. Dia suka hidup sembarangan. Dia suka main perempuan. Dan kita tahu dari pengalaman kita sendiri bahwa orang yang hidupnya diikat hawa nafsu akan sulit keluar. Bisakah Agustinus hidup suci dan kudus berkenan kepada Tuhan ? Misalnya kita tahu bahwa pergumulan laki-laki salah satunya adalah di dalam aspek kekudusan. Mungkin ada pertanyaan di dalam hati kita apakah kita bisa lepas dari dosa seksual dari tahap yang ringan seperti masturbasi sampai tahap yang lebih berat ?     Saya sendiri pernah bergumul dengan pertanyaan ini. Jujur bicara ini adalah pemikiran saya yang murni. Apakah mungkin Agustinus lepas dari dosa seksual seperti masturbasi dalam bentuk yang paling ringan ? Apakah dia mungkin mengalami kemenangan di dalam pergumulan nafsunya ? Dia menulis buku berjudul the confessions. Saya percaya bisa !

Tetapi di hari minggu di subuh hari ini saya dibukakan satu pengertian oleh Tuhan Allah. Ketika Yesus mati dan bangkit untuk kita maka saya percaya hal itu mungkin ! Bagaimana mungkin untuk menaklukkan diri kita yang penuh dengan segala nafsu dan keinginan ? Semua itu mungkin karena karya Kristus yang sempurna di kayu salib.

Di dalam pergumulan hidup saya sendiri saya dibukakan beberapa pengertian dari mengenal Firman Tuhan. Saya makin menyadari bahwa mempunyai keinginan itu sebenarnya bukan hal yang salah. Keinginan adalah satu hal yang netral. Namun yang jadi masalah adalah keingingan yang berlawanan dengan kehendak Allah atau kita sebut keinginan daging. Semua keinginan yang sinkron dengan Firman Tuhan dan kehendak Allah itu adalah baik. Tetapi pertanyaannya mengapa kita terus mengingini ? Mengapa kita terus mengingini kesenangan ? Mengapa kita terus mengingini kekuasaan ? Mengapa kita terus mengingini uang ? Mengapa kita terus mengingini hal-hal duniawi ?

Akhirnya saya menemukan jawabannya dari perenungan Firman Tuhan ! Oh betapa Firman Tuhan menjadi penasihat-penasihatku. Betapa Firman Tuhan menjadi terangku.

Kita terus mengingini karena kita haus ! Kita mengingini karena jiwa kita miskin ! Kita mengingini karena jiwa kita gersang dan mengharapkan air ! Kita mengingini karena kita kosong dan mengharapkan makna dari semua itu ! Dan kita ingin memenuhi dahaga jiwa kita dengan hal yang sia-sia. Kita ingin hidup kita dipenuhi dan kita tidak menyadari bahwa tempat kosong itu hanya bisa diisi oleh Allah ( Blaise Pascal ).

Kitab Pengkotbah mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Solomo sendiri adalah seseorang yang begitu berhikmat dan dia mencobai dirinya untuk menyelidiki segala sesuatu dengan hikmatnya mengenai rahasia hidup. Dia menyelidiki semua arti kesenangan duniawi. Dia mencoba dari hal kekuasaan, uang, seks, kemewahan, nama baik dan segala yang dipandang baik bagi dunia ini. Tetapi di dalam kitab Pengkotbah Salomo mengatakan bahwa semua itu sia-sia dan usaha menjaring angin. Semua itu tidak bisa dipegang.

Kitab Yeremia 17 mengatakan bahwa terkutuklah yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri. Ketika kita tidak menjadikan Tuhan sebagai Tuhan dan kita menjadikan berhala baik itu orang lain atau diri kita maka kita ada di dalam kutuk. Dengan mengandalkan sesuatu yang bukan Tuhan membuat hidup kita malang. Karena itu Amsal mengatakan percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu. Jangan mengandalkan pengertianmu sendiri.

Ternyata Tuhan mendesain manusia sedemikian rupa dimana natur dia harus bergantung kepada Tuhan Allah sebagai sumber segalanya : sumber bahagia, sumber damai, sumber kecukupan, sumber rohani, sumber segala-galanya. Dari sanalah mereka akan memperoleh makna, kepuasan, sukacita, dan damai sejahtera.

Kemudian saya merenung lebih dalam mengenai perenungan saya mengenai Bapa gereja Agustinus. Mungkinkah orang seperti dia benar-benar menang melawan pergumulan dosanya ?

Memang kita harus menyadari bahwa kita harus memiliki pola pikir penebusan yang already but not yet. Namun ketegangan paradoks ini seharusnya bukan membuat kita berpikir kita tidak akan pernah akan sampai di dalam kekudusan sebab kita berpikir semua hanya terjadi di dalam hidup yang akan datang. Ataupun juga kita jangan berpikir bahwa kita dapat kudus sempurna di dalam dunia ini. Kita harus melihat bahwa keselamatan sudah kita peroleh sejak kita menerima Yesus Kristus dan akan digenapi sepenuhnya pada akhir jaman. Dan di dalam masa itu kita berada di dalam pengudusan yang progresif.

Kembali pertanyaan : Mungkinkah orang seperti Agustinus benar-benar makin menang melawan pergumulan dosanya ? Dari pengajaran Agustinus sendiri saya menemukan satu pemahaman yang menyejukkan jiwa saya. Yaitu pengajaran mengenai frui dan uti. Di dalam ajaran Agustinus ini saya menemukan penerobosan dan saya percaya konsep ini sesuai dengan firman Tuhan.

Alkitab tidak pernah melarang kesenangan. Alkitab tidak melarang manusia menikmati dunia ciptaan Tuhan. Tetapi yang Alkitab larang adalah kesenangan yang berdosa melawan Tuhan. Keinginan berdosa yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Tetapi bagaimana bila kesenangan itu bersifat netral seperti makan, minum, olahraga, menikmati alam, musik, seni, dsb ? Dalam hal ini ketika kita mempunyai keinginan untuk menikmati dunia ciptaan Tuhan maka Agustinus mengajarkan bahwa itu semua jangan berakhir pada dirinya sendiri. Semua kenikmatan dalam dunia ini yang baik-baik ini semua hanya merupakan uti ( alat ) dimana kenikmatan sejatinya ( frui )  hanya berasal dari Tuhan.

Saya mencoba untuk mengelaborasi pemikiran Agustinus dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Semua hal di dalam ciptaan Tuhan ini yang baik dan membangun  seperti makanan yang sehat, olahraga, musik yang ritmenya sesuai dengan irama alam semesta ciptaan Tuhan, hubungan relasi manusia dengan manusia di dalam kasih, hubungan suami istri sampai pada hubungan seksualitas yang kudus, seni , dsb, semua ini boleh manusia nikmati. Tetapi kita harus sadar bahwa mereka ini semua bersifat analogi dimana kita sadar bahwa sesungguhnya yang bersifat fisik ini adalah analogi dari kenikmatan dari Tuhan Allah itu sendiri. Kecap dan lihatlah betapa baiknya Tuhan !
Ada lagu yang mengatakan I rather have Jesus than silver and gold. Kemudian di dalam lagu itu dikatakan bahwa Yesus lebih manis dari madu. Bukankah semua hal keindahan di dalam dunia, semua yang baik itu berasal dari Sang Baik yaitu Tuhan itu sendiri ? Maka ketika kita melihat kebaikan di dalam dunia ciptaan yang sementara ini dan kemudian hendak kita pegang, itu adalah usaha menjaring angin. Semua itu tidak bisa dipegang. Hanya Allah yang tidak berubah yang bisa menjadi andalan kita.

Di subuh hari ini saya kembali merenungkan satu hal bahwa bila kita mengingini Tuhan Allah sebagai porsi kenikmatan kita maka kita akan dipuaskan. Pada saat itu kita bisa berkata. Tuhan adalah gembalaku, aku puas dan tidak butuh apapun lagi.

Jawaban terhadap apakah kita bisa di dalam hidup ini makin mengalahkan dosa dan kedagingan ? Bisa dengan anugerah Tuhan ! Karena Tuhan Yesus sudah menang mengalahkan kuasa dosa. Tuhan Yesus yang memampukan kita dengan kuasa kebangkitanNya supaya kita hidup kudus. Dan Tuhan Yesus memberikan diriNya sebagai makanan rohani yang menjadi kenikmatan segala-galanya bagi kita.

Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim
www.iccccty.com
26-2-2012

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG