Wednesday, May 15, 2013

Bila kau pernah cinta Yesus

Saya hendak memberikan perenungan singkat mengenai satu tema yaitu “Bila kau pernah Yesus”. Perenungan tulisanku ini saya dedikasikan pada teman-temanku dan saudara-saudaraku yang mungkin di dalam hidup mengikut Kristus pernah sadar dirinya mendukakan hati Tuhan. Tetapi saya percaya satu hal yaitu kasihNya melebihi pelanggaran kita. Sebelumnya mari kita renungkan satu nats Alkitab yaitu :

Yohanes 21:15-19 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."  

Seringkali kita begitu antusias mengikuti Yesus. Seringkali kita begitu benar-benar semangat dan menggebu-gebu di dalam menjalani panggilan kita sebagai seorang murid. Kita mengalami sukacita dan damai sejahtera di dalam Kristus Yesus yang melebihi apapun. Kita mungkin bisa mengatakan “I rather have Jesus than silver or gold !”. Kita benar-benar euphoria mengenai keberadaan kita. Kita berada di dalam pengalaman emosi menikmati yang high. Kita sudah tinggalkan semuanya untuk ikut Yesus. Kita sadar bahwa kita dekat dengan Dia adalah satu berkat yang melebihi berkat apapun.

Namun ternyata pada satu titik di dalam hidup kita. Kita di dalam keterbatasan dan kelemahan kita sebagai seorang manusia. Kita jatuh dan mendukakan hati Tuhan. Kadang yang kita perbuat itu mungkin satu hal kecil yang menyakitkan Tuhan. Namun ada kalanya kita kaget karena kita tidak menyangka bahwa kita yang mengatakan mengasihi Tuhan ini kita melakukan hal besar yang menyakitkan hati Tuhan. Satu tragedi yang mengenaskan bagi diri kita, bukan ?

Kalau saya memakai analogi dari penyakit yang saya derita. Ini cuma  satu metafora yang bukan berarti setiap orang yang bertindak demikian adalah sakit bipolar disorder. Ini cuma gaya bahasa perbandingan. Orang-orang yang mempunyai penyakit bipolar disorder atau dulu disebuh manic disorder maka mereka bisa sangat antuias melakukan sesuatu dan sangat percaya diri dan sangat energik. Sampai satu titik mereka mengalami kegagalan maka mereka kaget dan tidak sanggup menghadapi dan mengatasinya. Mereka menjadi depresi. Mereka mengurung diri. Mereka tidak berani menghadapi realita.

Bukankah hal seperti ini mungkin terjadi pada kita ?

Ketika saya merenungkan mengenai Simon Petrus. Pengalaman dia mungkin bisa ada mirip dengan anda dan saya. Begitu komitmen dan menggebu-gebu mengikut Tuhan. Tetapi jatuh dalam dosa. Dan ketika Simon Petrus mengetahui bahwa Yesus Kristus mati di salibkan, Simon Petrus kembali kepada kehidupannya yang lama yaitu menjadi nelayan. Simon Petrus yang sudah meninggalkan pekerjaan nelayannya untuk mengikut Tuhan maka kembali kepada pekerjaannya.

Di dalam realitas ini memang seringkali tidak mudah bagi kita untuk menghadapi kegagalan. Tidak semua orang mempunyai kekuatan untuk langsung berani menghadapi kegagalan. Raja Daud di dalam hidupnya ketika jatuh dalam dosa dan ditegur oleh Nathan maka dia dapat dengan cepat menyesal dan bertobat. Namun seringkali pengalaman ini bukan pengalaman kita. Seringkali kita terperosok dan terikat serta terisolasi di dalam pengalaman kesalahan kita. Dan kita menjadi depresi, tidak menghadapi realitas dan juga menghukum diri kita terus menerus.

Tetapi bersyukur kepada Tuhan !  Injil kabar berita baik itu bukan saja bagi masa lalu kita. Bahkan Injil Kerajaan itu juga untuk masa sekarang dan masa depan kita. Berita kabar baik itu adalah bahwa Yesus Kristus bukan saja mati di kayu salib untuk menebus dosa kita namun Dia bangkit kembali untuk supaya kita bisa hidup di dalam kebenaran. Dan Yesus yang bangkit adalah Yesus yang sama yang mengasihi dan melawat umatNya. Dia bangkit dan kembali melawat Simon Petrus.

Seringkali kita mempunyai satu pandangan bahwa Injil itu adalah satu berita kabar baik. Kemudian kita menerimanya dan kita punya pengharapan akan masa depan karena di masa lampau kita sudah menerima Injil. Tetapi sesungguhnya kita bukan saja diselamatkan karena percaya Injil di masa lampau. Namun kita harus hidup oleh Injil dan terus menerus bergantung pada Injil. Menerima Injil bukan cuma satu momen di dalam awal hidup percaya kita. Menerima Injil adalah terus menerus hidup di dalam Injil dan terus menerus hidup di dalam kasih karunia dan pengampunanNya. Kita bukan saja percaya Injil namun harus hidup oleh Injil.

Ketika mungkin saudara/saudari sedang mengalami masa pahit dan mengenaskan di dalam hidup. Saya bukan bicara muluk-muluk. Kita harus sadar bahwa kita bukan superhero. Kita tidak bisa dengan cara diri kita untuk bangkit baik dengan cara psikoterapi ataupun cara-cara yang lain. Kita hanya perlu sadar memang kita sudah bersalah. Kita harus real jujur. Kita harus menyadari bahwa kita memang orang yang miskin itu, orang yang papa itu, orang yang hina itu dan orang yang membutuhkan anugerah Tuhan. Dan berbahagialah orang-orang seperti demikian yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah.

Salah satu cara untuk pulih adalah dengan jujur mengakui kesalahan kita dan real menghadapinya dengan Tuhan yang maha kasih. Kita perlu datang kepada Tuhan dengan segala keberadaan diri kita. Dan mengaku kita membutuhkan anugerahNya.

Saya percaya anugerah pemulihan dan penyembuhan rohani itu Tuhan akan karuniakan kepada kita yang sungguh-sungguh kembali kepadaNya. Sebab itu adalah perkataan JanjiNya yang tidak pernah bersalah.  Yoh 1:9 Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Marilah kita yang mungkin pernah mendukakan hati Tuhan, kembali kepada tangan kasih karuniaNya. Tuhan Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar namun untuk yang berdosa.

Puji Tuhan !
Amin !

Jeffrey Lim
19-12-2011
www.iccccty.com

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG