Saturday, May 18, 2013

Ketenangan batin ditengah-tengah kebisingan karena kasih

Bayangkan kita berada di pantai yang sejuk di pagi hari di tengah hangatnya sinar matahari. Kita mendengar semilir angin dan pemandangan ombak yang menuju sisir pantai. Kita mungkin bisa merasakan satu keadaan yang menyejukkan dan mendatangkan sukacita bagi kita. Atau apabila kita berada di pegunungan dimana pemandangan begitu indah. Paduan sinar matahari berwarna kuning dengan hijaunya pepohonan ditambah kabut dan awan yang menghiasi membuat hati kita sejuk. Apalagi apabila udara segar dengan angin sejuk menyegarkan membuat badan kita merasa nyaman.
    
Alam semesta ini menyatakan kemuliaan Tuhan. Adanya irama dan keteraturan serta keindahan di dalam karya Tuhan ini. Semuanya terasa baik. Ada lagu rohani yang melukiskan keindahan segala sesuatu dan judulnya adalah all things bright and beautiful. Dan juga ada lagu rohani lainnya yang menyanyikan keindahan alam semesta. Kata-katanya adalah for the beauty of the earth, for the beauty of the skies. Dunia ini walaupun jatuh dalam dosa tetapi kita masih dapat menyaksikan keindahan anugerah umum dari Tuhan Allah.
    
Tetapi bila kita masuk ke dalam suasana riil kehidupan manusia, kita seringkali menyaksikan suasana yang bising dan kacau. Ambil contoh ditengah kota besar yang polusi, macet dan klakson mobil dimana-mana. Manusia dikejar-kejar waktu dan merasa tidak sabar terhadap sesamanya. Kemarahan dan kata-kata kasar ada di bibir supir yang sedang menjalankan mobilnya dengan kasar. Mobil saling mendahului dan di dalam mobil terdengar musik yang keras. Sungguh keadaan yang seringkali menggelisahkan batin kita.
    
Atau kita bisa menyaksikan satu suasana di mall dimana setiap toko menyuarakan lagunya masing-masing. Lagu-lagu yang dijalankan speaker tumpang tindih bercampur satu sama lain ditambah suasana promosi ini itu. Orang-orang berseliweran saling tidak kenal dan peduli. Masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing dan berjalan-jalan di mall. Mungkin tidak ada kekerasan tetapi ada ketidakpedulian.
    Kita mungkin tidak sampai ditempatkan disuasana tempat perang dimana ada baku hantama, tembak-tembakan dan  adanya kekejaman. Di dalam situasi perang kita dapat melihat manusia berubah menjadi ganas dan jahat. Kekacauan yang kita alami mungkin tidak seperti keadaan perang dunia 2. Kondisi kita mungkin hanya di kota besar yang bising. Tetapi kita jangan lupa bahwa sesungguhnya di dalam setiap apapun yang kita alami adanya peperangan rohani wilayah yang tidak kelihatan. Peperangan ini riil.
    
Apa yang membuat jiwa kita dapat lebih tenang dan stabil di dalam kebisingan dunia ini ? Permasalahannya ketenangan bukan  masalah pilihan di antara suara yang keras yang dikaitkan dengan keheningan. Kalau kita pikir hening lebih baik maka kita akan memilih suasana alam dan menjauhi kota besar. Orang-orang yang menyepi dan orang-orang seperti kaum Taoisme memilih untuk menyendiri dari kebisingan kota ke alam. Tetapi apakah pilihannya adalah antara suara keras dan keheningan ? Jangan berpikir bahwa hening itu juga suatu yang lebih baik. Masalahnya bukan masalah suara keras atau keheningan. Masalahnya bukan sekedar eksternal tetapi internal. Masalah yang lebih mendasar adalah kita mendengar suara apa di dalam batin kita.  Suara apa dan siapa yang kita dengar ? Apakah kita mendengar suara noise dari dunia, iblis dan kedagingan kita ataukah kita mendengar suara Tuhan kita. Suara godaan dari dunia ini membuat hati kita gelisah. Bila jiwa kita dipikat oleh berhala-berhala dunia seperti kesenangan sementara, kekuasaan, keangkuhan hidup maka jiwa kita tidak pernah tenang. Saya hendak memparafrasekan doa St. Agustinus yang mengatakan bahwa kita manusia diciptakan untuk berelasi dengan Tuhan dan jiwa kita tidak akan pernah tenang sampai kita menemukan peristirahatan di dalam Tuhan. Masalah yang mendasar adalah suara siapa yang kita dengar dan bagaimana kita berespon terhadap suara itu.
    
Di dalam renungan ini, saya akan mencoba mengelaborasi satu poin untuk kita renungkan. Dari pengalaman merefleksi dan kontemplasi, saya mendapatkan bahwa seringkali yang membuat batin kita tidak tenang karena adanya pertempuran dalam batin kita. Sebenarnya peperangan rohani riil terjadi setiap saat. Dan saya merenungkan bahwa satu emosi yang membuat batin kita tidak tenang adalah kemarahan, kekesalan bahkan kebencian.  Ini salah satu yang akan kita bahas. Masih banyak yang lain seperti kurang iman, ketakutan dan kekuatiran. Tetapi kita akan coba renungkan mengenai kekesalan dan kebencian.
    
Kekesalan bahkan kebencian dapat dipicu karena orang lain tidak sama dengan kita. Kesukaan orang lain tidak sama dengan kita. Dan kesukaan orang lain mungkin mengganggu kita. Kepentingan orang lain mungkin menghalangi kepentingan kita. Apa yang kita hendak dapatkan terhalangi oleh orang lain. Tetapi yang lebih mendasar kebencian disebabkan karena tidak adanya kasih. Kasih itu unsurnya membangun dan kebencian itu sifatnya mementingkan diri sendiri. Dimana ada sifat mementingkan diri sendiri maka akan adanya kebencian dan perpecahan.
    
Untuk menjelaskan situasi ini saya ingin menjelaskan dengan analogi satu suasana di rumah. Di dalam rumah suami dan istri masing-masing sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Suami menyetel lagu yang sangat keras sambil minum dan nyemil sedangkan istri juga tidak mau kalah menyetel televisi dengan keras yang berisi film kesukaannya. Masing-masing tenggelam dengan hobbynya masing-masing dan tidak ada pembicaraan yang hangat antara satu sama lain.  Suasana ini bisa terjadi dalam waktu yang panjang. Ketika mungkin sebenarnya tidak ada konflik kelihatan terjadi tetapi sesungguhnya kebisingan yang diciptakan di dalam disharmoni suara tersebut diakibatkan karena ada sifat mementingkan diri sendiri di masing-masing pribadi. Dan ketika tidak ada kasih kasih maka tindakan egois itu sendiri adalah tindakan yang saya percaya ada unsur membenci. Dimana tidak ada kasih maka ada kebencian. Ini riil.
    
Kembali ke dalam gambaran di kota besar dimana banyak orang ngebut dengan tidak sabar, dimana klakson saling berbunyi dan supir-supir angkotan kota pada bersungut-sungut, semua itu saya percaya terjadi karena ketidaksabaran. Lebih dalam lagi mungkin ada kekesalan dan bahkan mungkin kebencian. Kepahitan hidup di kota membuat orang semakin keras. Hidup  serasa yang dikejar-kejar waktu. Hidup yang terasa kompetitif. Hidup serasa kejam. Karena itu untuk bertahan maka semua orang harus survival of the fittest. Semua orang harus berjuang dan bertahan hidup. Itulah situasi manusia modern. Kebisingan eksternal terjadi karena adanya pertempuran internal. Kekesalan, bahkan kebencian. Respon terhadap kekerasan hidup dibalas dengan respon balas dendam kekerasan menimbulkan kebisingan yang lebih besar.
    
Lalu bagaimana untuk mengatasi kebencian, kekerasan dan kebisingan di dalam dunia ini ? Bagaimana supaya kita dapat mengalahkan kebencian ? Kebisingan disebabkan oleh manusia di dalam kekesalan dan kebenciannya berespon dengan membalas kekesalan dengan kekesalan, kebencian dengan kebencian. Akhirnya lingkaran setan berputar dan akhirnya kebisingan makin terasa keras. Lalu bagaimana menghentikan siklus kekacauan, kekerasan dan balas dendam ini ?
    
Supaya kita dapat tidak membenci maka kita harus belajar mengasihi. Di dalam mengasihi kita bisa menerima dan melayani orang lain. Dan bagaimana kita dapat mengasihi yaitu kita harus mengenal kasih Tuhan terlebih dahulu. Kasih Tuhan dinyatakan di dalam diri AnakNya yang tunggal yang mati bagi kita. Yesus Kristus menjadi contoh bagaimana Dia mengatasi kebencian di dalam dunia ini dengan kasihNya. Dia datang untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Dia adalah pernyataan kasih Allah. Dia memperhatikan kebutuhan manusia yang mendasar yaitu pengampunan dosa. Dia memperhatikan penderitaan manusia. Dia menanggung dosa dan penderitaan kita. Dia tidak egois. Dia tidak mementingkan diri sendiri. Hidupnya dibagikan untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Yesus Kristus tidak menjauhkan diri ke alam. Dia mengatakan bahwa kita adalah terang dunia dan garam dunia. Dia turun ke dunia dan berinkarnasi. Dia tidak menyendiri dan menjadi petapa yang menjauhkan diri dari dunia ini. Dia rela bersama-sama dan diam diantara kita. Respon Yesus Kristus terhadap kekerasan dan kejahatan adalah tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi mengampuni. Dia mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. Dia mengajarkan kepada kita untuk memberi pipi kiri ketika pipi kanan ditampar. Yesus Kristus sendiri mempunyai sifat yang lemah lembut dan rendah hati. Dia seorang Raja tetapi melayani. Dia adalah Allah yang mulia tetapi rela merendahkan diri. Dia Allah yang kaya tidak terbatas maha berlimpah tetapi rela membatasi diri menjadi miskin karena kasihNya kepada manusia. Yesus Kristus memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dan Dia memberikan damai sejahtera kepada kita yaitu damai yang tidak diberikan dunia.
    
Ketika saya merenungkan hidup Yesus Kristus, saya dibukakan satu pengertian bagaimana kita bisa mengatasi kebisingan di dalam dunia dan terutama di dalam batin kita adalah dengan mengasihi dan mengampuni. Kita  dipanggil bukan untuk menjauh dari dunia. Sebab tindakan menjauh itu adalah tindakan kebencian secara pasif. Kita juga bukan membalas kebisingan dengan kebisingan yang kita ciptakan sebab itu berarti membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab itu adalah kebencian secara aktif. Tetapi kita harus rela mengasihi, melayani dan turun ke dalam dunia ini. Menjadi garam dan terang dunia. Ketika kita ada di dalam kasih maka kasih yang sempurna itu mengalahkan ketakutan. Kasih yang sempurna itu membawa damai. Dan berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah
   
Saya simpulkan secara singkat perenungan hari ini :
1.    Supaya batin tenang jangan membenci
2.    Supaya bisa tidak membenci kita harus aktif mengasihi
3.    Supaya bisa mengasihi kita terlebih dahulu harus mengalami kasih dan pengampunan Tuhan
4.    Kita juga harus meneladani Yesus Kristus dengan mengasihi Tuhan dan sesama.
Jeffrey Lim
www.iccccty.com
18-5-2013

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG