Wednesday, May 15, 2013

Jangan bergantung pada perasaan tetapi gantungkan iman anda kepada Firman Tuhan

Perasaan kita bisa berubah. Kadang bisa senang. Kadang bisa sedih. Kadang bersemangat. Kadang letih lesu. Kadang sukacita. Tetapi bisa juga depresi. Perasaan kita bisa bergelombang dan berubah-rubah. Karena itu relasi kita dengan Tuhan janganlah bergantung pada perasaan tetapi dengan iman terhadap Firman Tuhan. Apalagi kalau kita berbicara mengenai depresi. Depresi yang berat dapat membuat suasana hati menjadi galau dan gelap. Pikiran dan perasaan dapat menjadi kacau.

Kita coba melihat pergumulan seorang penulis Hymne William Cowper yang mengalami depresi di dalam hidupnya. Beliau ada empat kali mental breakdown. Di dalam hidupnya beliau ada mengalami perasaan ditinggalkan Tuhan. Perasaan depresi itu begitu dalam. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan orang pilihanNya. Rancangan Allah tidak berubah. Dia tidak menyesali kasih karunia dan panggilanNya. Ada kalanya bila engkau mengalami depresi engkau dapat merasa Tuhan begitu jauh. Engkau dapat merasakan sepertinya Tuhan tidak mendengar doa. Engkau berpikir mungkin Tuhan sudah tidak mengasihimu. Tetapi hal itu tidak benar. Perasaan kita berbicara terlalu jauh dari realita. 

Seorang hamba Tuhan bernama Martin Lloyd Jones di dalam bukunya Spiritual Depression ( buku dalam bahasa Indonesia berjudul buluh yang terkulai ) mengajarkan supaya kita jangan mendengarkan pikiran dan perasaan kita yang dalam ( inner ) yang berkata-kata kepada kita. Sebaliknya kita perlu berkata-kata dan berkotbah kepada diri kita.  Semakin kita mendengarkan pikiran dan perasaan inner kita yang depresi maka kita akan semakin depresi. Karena itu kita harus aktif mengkotbahkan Firman Tuhan kepada diri kita. Jangan biarkan gundah gulana jiwa itu terus menerus menguasai hati pikiran kita. Tetapi mulai ingatkan diri kita akan kasih Tuhan, kesetiaan Tuhan, perlindungan Tuhan, pengampunan Tuhan, dan segala berkat anugerahNya. Saya mengerti bahwa ketika seseorang mengalami depresi berat maka bukan hal yang mudah untuk menang atas perasaan mood yang dalam, galau dan gelap. Ada kalanya kita juga harus mengecek apakah fisik kita ( bukan batiniah ) apakah ada sakit ? Karena depresi adalah gejala psikosomatic ( relasi tubuh jiwa yang saling berkaitan ). Tetapi saya ingin memberikan satu wawasan bahwa kita musti memerangi depresi dan jangan bersandar kepada perasaan kita. Biarlah semoga renungan singkat ini boleh menjadi berkat bagi saudara-saudari yang mengalami pergumulan iman di dalam depresi

Jeffrey Lim
9 Oktober 2012
www.iccccty.com

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG