Monday, June 10, 2013

Aku tidak malu akan Injil - Sebuah Refleksi mengenai Rasa Malu dan Injil

Rasul Paulus mengatakan, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil,  karena Injil adalah kekuatan Allah  yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,  pertama-tama orang Yahudi,  tetapi juga orang Yunani.” ( Roma 1:16 ). Terjemahan lainnya mengatakan bahwa “Sebab aku tidak malu akan Injil”.

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai rasa “malu” akan dirinya. Ed Welch mengatakan bahwa di dalam rasa malu ini mengandung beberapa nuansa.  Pertama-tama, yaitu kita merasa diri kita “terekspos” ( terbuka telanjang ) baik di hadapan Allah maupun di hadapan umum (sesama manusia).  Kedua, di dalam rasa malu juga mengandung nuansa bahwa kita merasa diri kita najis, kotor, dan terkontaminasi. Kita merasa jijik dengan diri kita dan berpandangan mungkin orang lain juga mengetahui dan jijik terhadap diri kita. Dan terakhir malu bernuansa bahwa kita ditolak dan tidak diterima oleh orang lain. Kita merasa tidak dimiliki. Kita merasa terbuang dan dibuang.

Perasaan malu adalah perasaan yang dasyat. Perasaan ini masuk ke dalam hati kita dan dapat membuat kita gelisah, kuatir, takut dan bersalah. Malu dapat terjadi karena dosa kita atau juga dapat terjadi karena tindakan dosa orang lain terhadap kita. Malu ini mengandung asosiasi. Ketika kita diasosiasikan dengan dosa, kenajisan dan pelanggaran maka secara otomatis ini menimbulkan rasa malu.

Tetapi bersyukur kepada Tuhan sebab oleh karena Injil kita tidak perlu merasa malu. Mengapa ?
Sebab di dalam Injil kita ditutupi oleh kebenaran Kristus. KebenaranNya menjubahi ketelanjangan kita karena dosa. KekudusanNya menghiasi batin kita. Berita Injil adalah berita sukacita bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib untuk mengampuni, menghapus dan membersihkan dosa kita. Dan karena Injil kita diterima menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus Yesus.

Orang-orang yang datang kepada Yesus Kristus tidak akan dipermalukan. Pemazmur mengatakan bahwa “kepadaMu Tuhan aku berlindung, jangan aku mendapat malu”. Karena Yesus Kristus adalah Tuhan maka orang yang datang kepadaNya tidak akan dipermalukan. Tidak dipermalukan oleh siapa ? Tidak dipermalukan oleh Allah sendiri. Tidak dipermalukan oleh Yesus Kristus sendiri.

Ketika Yesus Kristus tidak mempermalukan orang yang berlindung padaNya, tetapi mungkin orang yang datang kepada Tuhan masih dipermalukan oleh orang lain dan sekitar. Misalnya sebelum anda percaya Tuhan anda adalah seorang yang dipenjara dan jahat. Ketika anda percaya Tuhan mungkin orang lain masih mempermalukan anda bahwa anda orang berdosa. Contoh lain adalah anda mungkin seorang yang di mata masyarakat memalukan. Kemudian anda percaya kepada Tuhan Yesus. Orang mungkin masih memandang anda orang yang memalukan. Tetapi Tuhan tidak mempermalukan orang yang datang kepadaNya. Dan pertanyaannya : penilaian siapa yang kita pandang ? Penilaian Tuhan atau manusia ? Ketika Tuhan mendeklarasikan dan mengampuni dosa manusia, siapakah manusia yang berhak merasa bersalah dan malu terus menerus ? Kalau Allah membenarkan seorang manusia siapakah yang menghukum dia ?

Kisah-kisah Tuhan Yesus menerima dan mengampuni serta membenarkan orang berdosa seperti ini banyak di dalam Alkitab. Ingat kisah Zakheus si pemungut cukai yang dibenci oleh masyarakat ? Ingat kisah perempuan Samaria yang dianggap perempuan berdosa ? Ingat peristiwa orang yang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus Kristus ? Ingat kisah perempuan berdosa yang menggunakan rambut dan air matanya untuk mengurapi Tuhan Yesus ?

Atau mari kita melihat kisah murid Yesus sendiri yaitu Simon Petrus. Rasul Petrus pernah menyangkal Yesus Kristus sebanyak 3x. Dia merasa malu dan bersalah. Tetapi Tuhan Yesus memulihkannya dengan 3 pertanyaan “Simon, apakah engkau mengasihi Aku ?” Ketika Petrus menjawab pertanyaan Yesus, Yesus Kristus mengatakan kembali :”gembalakanlah domba-dombaKu”

Atau marilah kita juga melihat Rasul Paulus yang sebelumnya menganiaya jemaat Tuhan. Kemudian dia dipanggil Tuhan menjadi rasul bagi jemaat Tuhan. Tentunya bukan hal yang mudah bagi rasul Paulus di dalam batinnya ketika berhadapan dengan jemaat Tuhan. Dia tentu ada perasaan bersalah dan malu. Tetapi Paulus menyadari satu hal bahwa dia tidak malu akan Injil. Injil yang menyelamatkan dia. Injil yang memulihkan dia.

Mungkin saudara adalah orang yang di mata dunia bukan seorang yang terhormat. Kemudian saudara hendak datang kepada Tuhan Yesus dan mungkin dunia mentertawakan anda. Jangan malu karena Injil ! Karena Tuhan Yesus mengasihi dan menerima anda. Injil yang anda percayai adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Mungkin anda di mata dunia bukan seorang yang mulia. Seorang yang pernah berdosa. Seorang yang dinilai memalukan. Tetapi Tuhan memanggil anda menjadi hamba Tuhan dan dunia mungkin mengolok-ngolok anda. Tetapi janganlah malu karena Injil ! Layanilah Tuhan !

Mungkin anda di dalam penilaian dunia bukan seorang yang kaya, berpengaruh, berkuasa, hebat dan seorang yang dipandang dalam nilai-nilai dunia. Tetapi Tuhan memanggil kita kawanan kecil yang lemah dan miskin untuk menjadi saksi-saksiNya. Janganlah malu karena Injil ! Bersaksilah bagi Dia !

Bila dunia masih mentertawakan anda dan mempermalukan anda, janganlah malu tetapi marilah menanggung semua itu. Yesus Kristus sendiri adalah teladan dalam hal ini. Dia Allah yang menjadi manusia. Lahir di palungan. Lahir sebagai orang miskin. Orang-orang menghina dia adalah anak haram. Tetapi sesungguhnya Dia dikandung dari Roh Kudus dalam rahim Maria dan bukan dari hasil persetubuhan laki-laki dan perempuan. Dia hidup sebagai anak tukang kayu. Berasal dari kota kecil kota nazaret. Dia tidak berpendidikan tinggi. Dia bahkan di dalam matinya harus dipermalukan di kayu salib. Di hina, diolok-olok dan ditelanjangi. Tetapi salib yang dipandang dunia sebagai lambang hina menjadi lambang mulia.

Janganlah malu akan salib Tuhan ! Salib yang sepertinya kekalahan dan kebodohan sesungguhnya adalah kekuatan Allah. Salib adalah hikmat Allah.

Jangan malu di dalam mengikut Tuhan ! Mengikut Tuhan adalah jalan berkat !

Marilah kita tidak malu akan Injil dan bersaksi akan Injil !

Jeffrey Lim
www.jlministry.org
10-6-2013

Read More ....

Thursday, May 30, 2013

Malu kita ditutupi Yesus Kristus

Pemazmur berkata “Tuhan padamu aku berlindung. Jangan sekali-kali aku mendapat malu”. ( Maz 31:1 )
Malu adalah salah satu masalah fundamental manusia. Malu dikaitkan dengan bersalah ( shame and guilt ). Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka yang tadinya tidak merasa malu karena telanjang, sekarang merasakan ketelanjangan mereka. Kemudian mereka menyembunyikan malu mereka dengan bersembunyi dan membuat baju dari daun-daunan.
    
Apakah malu itu ?
    
Ed Welch mengatakan di dalam sesi CCEF National Conference 2012 mengenai shame and guilt bahwa malu itu ada 3 pengalaman dasar yaitu :
1.    Perasaan ketelanjangan, terbuka dan terekspos oleh sesama dan oleh Tuhan Allah
2.    Perasaan dibuang dan tidak lagi dimiliki
3.    Perasaan kotor, jijik, najis dan terkontaminasi
Di dalam malu dikaitkan juga dengan perasaan miskin, lemah, tidak berdaya dan tidak diterima. Malu dapat terjadi karena diri kita dan juga dapat terjadi karena apa yang dilakukan orang lain kepada kita. Malu karena apa yang dilakukan orang lain berkaitan dengan asosiasi orang yang melakukan kejahatan kepada kita dan kejahatan itu sendiri.
Di dalam Lukas 7:36-50, ketika Yesus Kristus diundang oleh orang Farisi bernama Simon, ada perempuan berdosa yang datang kepada Yesus Kristus. Perempuan ini mempunyai pengertian bahwa orang yang didepannya tidak akan menolaknya, tidak akan mengutuknya, akan memberkatinya. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Perempuan ini datang dengan hati hancur. Di dalam hidupnya dia dipermalukan karena dosanya. Orang-orang mengejek perempuan ini perempuan berdosa. Malu yang dia terima memang karena dosanya. Dia terbuka, terekspos di muka umum, merasa dibuang, tidak dimiliki dan merasa kotor terkontaminasi. Tetapi Tuhan Yesus di muka umum pula mengampuni perempuan ini. Yesus Kristus menegur Simon orang Farisi itu dan membandingkannya dengan perempuan itu yang mengasihinya. Tuhan Yesus mendeklarasi bahwa dosanya sudah diampuni dan iman perempuan itu menyelamatkannya.
Di dalam Lukas 8:42-48, ada seorang perempuan yang menderita pendarahan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. Secara tradisi orang Yahudi, perempuan ini najis karena pendarahannya. Dia tentu merasa malu, terisolasi, kotor dan hina di mata masyarakat. Tetapi ketika dia memegang jubah Yesus Kristus, sakit pendarahannya sembuh. Tuhan Yesus kemudian membawa dia dimuka umum dan memberkatinya. Dia dibebaskan dari penyakitnya yang membuat dia menjadi malu.
Masih banyak contoh yang dapat kita pelajari dar Alkitab bahwa Yesus Kristus mengampuni dosa manusia dan menutupi malu mereka. Apakah itu Zakheus yang adalah pemungut cukai yang dibenci masyarakat ? Perempuan berdosa yang hendak dilempari batu ? Coba selidiki Alkitab. Di dalam silsilah Yesus Kristus, Dia tidak malu untuk memasukan daftar nenek moyangnya dan diantaranya ada perempuan-perempuan yang mungkin di dalam pandangan orang Yahudi dihina. Tamar. Rut orang moab. Rahab pelacur. Batsyeba istri Uria. Tetapi mereka semua dipakai dan menjadi nenek moyang Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk kita orang berdosa. Kematiannya di kayu salib, menggantikan dosa kita. DarahNya membersihkan kita dari dosa. Menyucikan kita dari kesalahan kita. Karena kematian Kristus maka orang yang percaya kepadaNya akan diselamatkan. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Orang yang percaya kepada Yesus Kristus dapat memanggil Bapa Abba. Mereka diterima dan dimiliki. Mereka diadopsi menjadi anak-anak Allah. Ketika kita menerima Tuhan Yesus, kebenaran Kristus diberikan kepada kita. KetaatanNya yang sempurna menjadi pembenaran kita. Kita dijubahi oleh Kristus sendiri yang diam di dalam diri kita. Yesus Kristus menutupi dosa dan malu kita. Sebagai orang percaya kita juga berada di dalam persekutuan rohani dengan Kristus Yesus. Kita berada di dalam persekutuan kematian dan kebangkitanNya.
Rasul Paulus mengidentifikasikan penderitaannya dan hal-hal yang membuat dia malu dengan penderitaan Yesus Kristus. Raja segala raja sendiri dipermalukan. Raja segala raja rela datang ke dunia dan mengindentifikasikan dirinya dengan kita. Karena asosiasi kita dengan diriNya maka kita yang berada di dalam Kristus boleh mengatasi masalah malu kita. Paulus mengatakan mengenai dirinya dalam 2 Korintus 11:21-30
11:21    Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah. Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka akupun--aku berkata dalam kebodohan--berani juga!
11:22    Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!
11:23    Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.
11:24    Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan,
11:25    tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.
11:26    Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.
11:27    Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,
11:28    dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.
11:29    Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?
11:30    Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku
Paulus tidak malu lagi mengatakan hal-hal yang mungkin menurut pandangan dunia memalukan. Dia tahu bahwa penderitaannya adalah di dalam persekutuan dengan Kristus Yesus. Dia diasosiasikan dengan Yesus Kristus.
Karena Yesus Kristus menutupi malu kita maka secara aplikasi penolakan orang lain tidak lagi menjadi sesuatu yang mengontrol kita. Harkat dan dignitas kita bukan karena reputasi kita di masyarkat menurut ukuran dunia tetapi karena asosiasi dengan Yesus Kristus. Petrus mengatakan dalam suratnya bahwa mengenai identitas kita sebagai orang percaya : “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:” ( 1 Pet 2:9 ).
Kita adalah dijubahi kekudusan Kristus sendiri dan menjadi milik kepunyaan Allah sendiri. Bagaimana kita bisa terus malu bila kita diasosiasikan dengan Tuhan Allah yang kudus ?
Di dalam Yesaya 54, Tuhan Allah mengasosiasikan dirinya dengan umatNya. Dia memiliki umatNya dengan relasi yang dalam. Coba perhatikan ayat-ayatnya.
“54:4    Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu.
54:5    Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi.”
Karena Tuhan Allah sanggup menebus dosa dan malu kita, marilah datang kepadaNya. Pemazmur mengatakan “Padamu Tuhan aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu” ( Maz 31:1). Dan sesungguhnya orang yang berlindung pada Tuhan tidak akan dipermalukan. Marilah datang kepada Yesus Kristus kita yang letih lesu dan berbeban berat.

Jeffrey Lim
www.iccccty.com
30-5-2013

Read More ....

Saturday, May 18, 2013

Ketenangan batin ditengah-tengah kebisingan karena kasih

Bayangkan kita berada di pantai yang sejuk di pagi hari di tengah hangatnya sinar matahari. Kita mendengar semilir angin dan pemandangan ombak yang menuju sisir pantai. Kita mungkin bisa merasakan satu keadaan yang menyejukkan dan mendatangkan sukacita bagi kita. Atau apabila kita berada di pegunungan dimana pemandangan begitu indah. Paduan sinar matahari berwarna kuning dengan hijaunya pepohonan ditambah kabut dan awan yang menghiasi membuat hati kita sejuk. Apalagi apabila udara segar dengan angin sejuk menyegarkan membuat badan kita merasa nyaman.
    
Alam semesta ini menyatakan kemuliaan Tuhan. Adanya irama dan keteraturan serta keindahan di dalam karya Tuhan ini. Semuanya terasa baik. Ada lagu rohani yang melukiskan keindahan segala sesuatu dan judulnya adalah all things bright and beautiful. Dan juga ada lagu rohani lainnya yang menyanyikan keindahan alam semesta. Kata-katanya adalah for the beauty of the earth, for the beauty of the skies. Dunia ini walaupun jatuh dalam dosa tetapi kita masih dapat menyaksikan keindahan anugerah umum dari Tuhan Allah.
    
Tetapi bila kita masuk ke dalam suasana riil kehidupan manusia, kita seringkali menyaksikan suasana yang bising dan kacau. Ambil contoh ditengah kota besar yang polusi, macet dan klakson mobil dimana-mana. Manusia dikejar-kejar waktu dan merasa tidak sabar terhadap sesamanya. Kemarahan dan kata-kata kasar ada di bibir supir yang sedang menjalankan mobilnya dengan kasar. Mobil saling mendahului dan di dalam mobil terdengar musik yang keras. Sungguh keadaan yang seringkali menggelisahkan batin kita.
    
Atau kita bisa menyaksikan satu suasana di mall dimana setiap toko menyuarakan lagunya masing-masing. Lagu-lagu yang dijalankan speaker tumpang tindih bercampur satu sama lain ditambah suasana promosi ini itu. Orang-orang berseliweran saling tidak kenal dan peduli. Masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing dan berjalan-jalan di mall. Mungkin tidak ada kekerasan tetapi ada ketidakpedulian.
    Kita mungkin tidak sampai ditempatkan disuasana tempat perang dimana ada baku hantama, tembak-tembakan dan  adanya kekejaman. Di dalam situasi perang kita dapat melihat manusia berubah menjadi ganas dan jahat. Kekacauan yang kita alami mungkin tidak seperti keadaan perang dunia 2. Kondisi kita mungkin hanya di kota besar yang bising. Tetapi kita jangan lupa bahwa sesungguhnya di dalam setiap apapun yang kita alami adanya peperangan rohani wilayah yang tidak kelihatan. Peperangan ini riil.
    
Apa yang membuat jiwa kita dapat lebih tenang dan stabil di dalam kebisingan dunia ini ? Permasalahannya ketenangan bukan  masalah pilihan di antara suara yang keras yang dikaitkan dengan keheningan. Kalau kita pikir hening lebih baik maka kita akan memilih suasana alam dan menjauhi kota besar. Orang-orang yang menyepi dan orang-orang seperti kaum Taoisme memilih untuk menyendiri dari kebisingan kota ke alam. Tetapi apakah pilihannya adalah antara suara keras dan keheningan ? Jangan berpikir bahwa hening itu juga suatu yang lebih baik. Masalahnya bukan masalah suara keras atau keheningan. Masalahnya bukan sekedar eksternal tetapi internal. Masalah yang lebih mendasar adalah kita mendengar suara apa di dalam batin kita.  Suara apa dan siapa yang kita dengar ? Apakah kita mendengar suara noise dari dunia, iblis dan kedagingan kita ataukah kita mendengar suara Tuhan kita. Suara godaan dari dunia ini membuat hati kita gelisah. Bila jiwa kita dipikat oleh berhala-berhala dunia seperti kesenangan sementara, kekuasaan, keangkuhan hidup maka jiwa kita tidak pernah tenang. Saya hendak memparafrasekan doa St. Agustinus yang mengatakan bahwa kita manusia diciptakan untuk berelasi dengan Tuhan dan jiwa kita tidak akan pernah tenang sampai kita menemukan peristirahatan di dalam Tuhan. Masalah yang mendasar adalah suara siapa yang kita dengar dan bagaimana kita berespon terhadap suara itu.
    
Di dalam renungan ini, saya akan mencoba mengelaborasi satu poin untuk kita renungkan. Dari pengalaman merefleksi dan kontemplasi, saya mendapatkan bahwa seringkali yang membuat batin kita tidak tenang karena adanya pertempuran dalam batin kita. Sebenarnya peperangan rohani riil terjadi setiap saat. Dan saya merenungkan bahwa satu emosi yang membuat batin kita tidak tenang adalah kemarahan, kekesalan bahkan kebencian.  Ini salah satu yang akan kita bahas. Masih banyak yang lain seperti kurang iman, ketakutan dan kekuatiran. Tetapi kita akan coba renungkan mengenai kekesalan dan kebencian.
    
Kekesalan bahkan kebencian dapat dipicu karena orang lain tidak sama dengan kita. Kesukaan orang lain tidak sama dengan kita. Dan kesukaan orang lain mungkin mengganggu kita. Kepentingan orang lain mungkin menghalangi kepentingan kita. Apa yang kita hendak dapatkan terhalangi oleh orang lain. Tetapi yang lebih mendasar kebencian disebabkan karena tidak adanya kasih. Kasih itu unsurnya membangun dan kebencian itu sifatnya mementingkan diri sendiri. Dimana ada sifat mementingkan diri sendiri maka akan adanya kebencian dan perpecahan.
    
Untuk menjelaskan situasi ini saya ingin menjelaskan dengan analogi satu suasana di rumah. Di dalam rumah suami dan istri masing-masing sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Suami menyetel lagu yang sangat keras sambil minum dan nyemil sedangkan istri juga tidak mau kalah menyetel televisi dengan keras yang berisi film kesukaannya. Masing-masing tenggelam dengan hobbynya masing-masing dan tidak ada pembicaraan yang hangat antara satu sama lain.  Suasana ini bisa terjadi dalam waktu yang panjang. Ketika mungkin sebenarnya tidak ada konflik kelihatan terjadi tetapi sesungguhnya kebisingan yang diciptakan di dalam disharmoni suara tersebut diakibatkan karena ada sifat mementingkan diri sendiri di masing-masing pribadi. Dan ketika tidak ada kasih kasih maka tindakan egois itu sendiri adalah tindakan yang saya percaya ada unsur membenci. Dimana tidak ada kasih maka ada kebencian. Ini riil.
    
Kembali ke dalam gambaran di kota besar dimana banyak orang ngebut dengan tidak sabar, dimana klakson saling berbunyi dan supir-supir angkotan kota pada bersungut-sungut, semua itu saya percaya terjadi karena ketidaksabaran. Lebih dalam lagi mungkin ada kekesalan dan bahkan mungkin kebencian. Kepahitan hidup di kota membuat orang semakin keras. Hidup  serasa yang dikejar-kejar waktu. Hidup yang terasa kompetitif. Hidup serasa kejam. Karena itu untuk bertahan maka semua orang harus survival of the fittest. Semua orang harus berjuang dan bertahan hidup. Itulah situasi manusia modern. Kebisingan eksternal terjadi karena adanya pertempuran internal. Kekesalan, bahkan kebencian. Respon terhadap kekerasan hidup dibalas dengan respon balas dendam kekerasan menimbulkan kebisingan yang lebih besar.
    
Lalu bagaimana untuk mengatasi kebencian, kekerasan dan kebisingan di dalam dunia ini ? Bagaimana supaya kita dapat mengalahkan kebencian ? Kebisingan disebabkan oleh manusia di dalam kekesalan dan kebenciannya berespon dengan membalas kekesalan dengan kekesalan, kebencian dengan kebencian. Akhirnya lingkaran setan berputar dan akhirnya kebisingan makin terasa keras. Lalu bagaimana menghentikan siklus kekacauan, kekerasan dan balas dendam ini ?
    
Supaya kita dapat tidak membenci maka kita harus belajar mengasihi. Di dalam mengasihi kita bisa menerima dan melayani orang lain. Dan bagaimana kita dapat mengasihi yaitu kita harus mengenal kasih Tuhan terlebih dahulu. Kasih Tuhan dinyatakan di dalam diri AnakNya yang tunggal yang mati bagi kita. Yesus Kristus menjadi contoh bagaimana Dia mengatasi kebencian di dalam dunia ini dengan kasihNya. Dia datang untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Dia adalah pernyataan kasih Allah. Dia memperhatikan kebutuhan manusia yang mendasar yaitu pengampunan dosa. Dia memperhatikan penderitaan manusia. Dia menanggung dosa dan penderitaan kita. Dia tidak egois. Dia tidak mementingkan diri sendiri. Hidupnya dibagikan untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Yesus Kristus tidak menjauhkan diri ke alam. Dia mengatakan bahwa kita adalah terang dunia dan garam dunia. Dia turun ke dunia dan berinkarnasi. Dia tidak menyendiri dan menjadi petapa yang menjauhkan diri dari dunia ini. Dia rela bersama-sama dan diam diantara kita. Respon Yesus Kristus terhadap kekerasan dan kejahatan adalah tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi mengampuni. Dia mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. Dia mengajarkan kepada kita untuk memberi pipi kiri ketika pipi kanan ditampar. Yesus Kristus sendiri mempunyai sifat yang lemah lembut dan rendah hati. Dia seorang Raja tetapi melayani. Dia adalah Allah yang mulia tetapi rela merendahkan diri. Dia Allah yang kaya tidak terbatas maha berlimpah tetapi rela membatasi diri menjadi miskin karena kasihNya kepada manusia. Yesus Kristus memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dan Dia memberikan damai sejahtera kepada kita yaitu damai yang tidak diberikan dunia.
    
Ketika saya merenungkan hidup Yesus Kristus, saya dibukakan satu pengertian bagaimana kita bisa mengatasi kebisingan di dalam dunia dan terutama di dalam batin kita adalah dengan mengasihi dan mengampuni. Kita  dipanggil bukan untuk menjauh dari dunia. Sebab tindakan menjauh itu adalah tindakan kebencian secara pasif. Kita juga bukan membalas kebisingan dengan kebisingan yang kita ciptakan sebab itu berarti membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab itu adalah kebencian secara aktif. Tetapi kita harus rela mengasihi, melayani dan turun ke dalam dunia ini. Menjadi garam dan terang dunia. Ketika kita ada di dalam kasih maka kasih yang sempurna itu mengalahkan ketakutan. Kasih yang sempurna itu membawa damai. Dan berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah
   
Saya simpulkan secara singkat perenungan hari ini :
1.    Supaya batin tenang jangan membenci
2.    Supaya bisa tidak membenci kita harus aktif mengasihi
3.    Supaya bisa mengasihi kita terlebih dahulu harus mengalami kasih dan pengampunan Tuhan
4.    Kita juga harus meneladani Yesus Kristus dengan mengasihi Tuhan dan sesama.
Jeffrey Lim
www.iccccty.com
18-5-2013

Read More ....

Wednesday, May 15, 2013

Ada waktu dan tempat untuk meratap di dalam anugerahNya

Kitab mazmur merupakan satu kitab yang indah. Pribadi-pribadi pemazmur di dalam kitab mazmur bergumul dengan Tuhan Allah. Kitab mazmur merupakan pergumulan orang-orang kudus di dalam iman mereka. John Calvin mengatakan bahwa kitab mazmur adalah anatomy of the whole soul. Di dalamnya terkandung seluruh emosi orang-orang kudus. Kita dapat melihat adanya doa, permohonan, ratapan, teriakan, kesedihan, sakit penyakit, depresi, puji-pujian, bersyukur, keberanian, keyakinan, iman, komitmen, pengakuan, dan masih banyak hal-hal lain di dalam kitab ini. Kalau kita mempelajari secara genre maka kitab mazmur juga terdiri dari banyak jenisnya. Ada mazmur hikmat seperti mazmur 1,19,119. Ada mazmur raja. Mazmur mesianik seperti mazmur 2. Ada mazmur ucapan syukur. Ada mazmur puji-pujian. Ada mazmur ratapan. Ada mazmur sejarah dan mengingat masa lalu. Dsb. Jadi kitab ini kaya dengan pengalaman orang kudus di berbagai situasi dan emosi.

Satu hal yang unik dari kitab ini adalah penulis terbuka apa adanya dan jujur bergumul dihadapan Allah. Dan dari kekayaan kitab mazmur ini kita bisa lihat bahwa ratapan di dalam hidup kita ada tempatnya. Bahkan kalau kita memperhatikan dalam kitab mazmur ternyata ratapan itu sangat banyak. Pemazmur seringkali meratap karena musuh dan juga ada kalanya karena dosanya. Pemazmur meminta tolong kepada Allah dan juga pemazmur mengaku dosa.

Kita orang Kristen biasanya punya mood dan tone lagu adalah monoton yaitu kemenangan, sukacita, dan perayaan. Orang-orang Injili dan terutama orang-orang karismatik tone lagunya hamper semuanya adalah bergembira. Tetapi ini tidak realitis bahkan sempit sebab ini hanya parsial di dalam pengalaman orang kudus. Bagaimana kita membawakan lagu pujian di dalam kedukaan akan orang yang ditinggalkan adalah tidak mungkin dengan lagu Allah bangkit ! musuh dikalahkan !. Ketika orang sedang depresi berat diajak lagu yang bersukacita tanpa ada ruang mengekpresikan pergumulan sesesungguhnya bukan hal yang menolong. Bahkan satu hal dapat membuat kita semakin down bila ternyata di dalam mengekspresikan suasana hati di dalam lagu tidak ada lagu yang sesuai dengan keadaan batin kita. Kita tidak bisa memaksakan diri terus harus bergembira. Selain tidak jujur dan munafik itu juga tidak baik bagi kita. Kita perlu apa adanya tetapi bergumul dihadapan Allah. Kita perlu jujur mengakui diri kita dihadapan Allah yang mengasihi kita.

Bersyukur kepada Tuhan ! Di dalam gudang lagu-lagu orang Kristen sepanjang sejarah ternyata sebenarnya banyak kekayaan mood dan tone sesuai dengan pergumulan-pergumulan orang kudus. Ada kalanya kita bisa menyanyikan It is well with my soul. Atau Be still my soul. Atau lagu Aku berserah. Dsb. Di dalam lagu yang sifatnya lebih klasik kita bukan hanya menemukan Hallelujah Chorus oleh Handel misalnya tetapi juga ada kalanya kita perlu merenungkan lagu Hear my prayer dari Mendelssohn.

Kitab Pengkotbah mengajarkan bahwa segala sesuatu ada waktunya di bawah kolong langit.
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Menyimpulkan dari kitab pengkotbah maka kita bisa melihat adanya keragaman di dalam hidup. Jadi kita dapat simpulkan bahwa ada tempatnya untuk meratap. Bila kita sedang bergumul dan sulit di dalam kehidupan. Merataplah di dalam Tuhan. Dan bergumul untuk setia di dalam menjalankan FirmanNya. Dan pengharapan kita adalah ratapan kita akan diganti dengan penghiburan dari Tuhan.

Jeffrey Lim
26-4-2013
www.iccccty.com

Read More ....

Pengenalan diri kita dari kacamata Allah

Refleksi dari kitab nabi Yesaya 43:1-7

Bagian dari kitab ini mau melukiskan bahwa adanya penghiburan dan kata-kata kasih dari Allah sendiri kepada orang-orang yang berada di dalam pembuangan. Orang-orang yang berada di dalam pembuangan itu adalah orang-orang yang menyeleweng dan tidak taat kepada Tuhan. Mereka seperti mempelai perempuan yang tidak setia kepada Allah sebagai sang mempelai laki-laki. Bangsa Israel sebagai mempelai perempuan berzinah kepada berhala.
Dari pelajaran di kitab ini ada pelajaran yang dapat diambil. Bagian ini merupakan surat cinta dari Tuhan Allah kepada Israel. Dan di dalam bagian ini kita akan merenungkan mengenai siapakah diri orang Isreal dihadapan Allah. Tetapi kita dapat mengambil refleksi untuk diri kita yaitu bagaimana Allah memandang diri kita. Ini merupakan sebuah surat cinta yang indah sekali dari Allah kepada kita manusia yang berdosa yang dibuang secara rohani karena dosa

Siapakah saya menurut Alkitab dan terutama kitab Yesaya 43 ?
Pertanyaan siapakah saya adalah salah satu pertanyaan yang paling penting di dalam pertanyaan-pertanyaan yang lainnya. Mengapa ? Sebab pengertian mengenai identitas diri ini akan menentukan bagaimana kita hidup. Identitas diri ini akan mengarahkan hidup kita. Karena itu filsuf Yunani kuno mengatakan :”Kenallah dirimu”. Dan Calvin juga mengatakan bahwa mengenal Allah dan diri adalah bijaksana. Karena itu di dalam bagian ini kita hendak belajar bagaimana mengenai diri kita dari surat cinta Tuhan. Kata kuncinya adalah kita adalah spesial karena kita :

1.    Kita adalah diciptakan Tuhan
Kita diciptakan dan dibentuk Tuhan. Diciptakan dan dibentuk Tuhan bukan dengan asal-asalan tetapi dengan satu tujuan dan rencana yang maha bijaksana. Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Ketika Allah menciptakan kita, Dia menciptakan kita menurut gambar dan rupaNya. Kita diciptakan untuk berelasi dengan Allah dan untuk bersekutu denganNya. Hubungan manusia dengan Tuhan adalah relasi yang indah pada mulanya. Tetapi karena dosa maka relasi manusia dengan Tuhan menjadi rusak. Karena dosa maka manusia mati di dalam dosa. Tetapi Tuhan mempunyai rencana penebusan dan Tuhan hendak memulihkan manusia. Dan Tuhan dengan Roh KudusNya melahir barukan orang yang percaya kepada Kristus. Orang yang percaya kepada Kristus lahir baru dan diciptakan baru. Sebab barangsiapa yang ada di dalam Kristus, Dia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu tetapi sesungguhnya yang baru itu sudah datang. Kita adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan untuk kembali berelasi dengan Dia.

2.    Kita sudah dipilih dan ditebus oleh Tuhan
Di dalam pembuangan dosa, Tuhan berkata “Jangan takut ! Sebab Aku telah menebus engkau. Aku sudah memanggil engkau oleh nama. Kamu adalah milik kepunyaanku”. Kapan kita ditebus dan dipanggil dan dipilih Tuhan ketika kita sedang dibuang di dalam dosa. Tuhan mengatakan sudah ditebus. Sudah dipilih. Sudah dipanggil. Kapan kita dipanggil Tuhan ketika sedang berdosa ? Alkitab mengajarkan bahwa kita dipilih sebelum dunia dijadikan. Ketika itu Tuhan sudah menetapkan umatNya untuk menjadi milik kepunyaanNya. Kita spesial karena kita dipilih Tuhan. Siapakah kita yang hina ini boleh dipilih menjadi anak Tuhan ?

3.    Kita hidup disertai dan dilindungi Tuhan
Metafora melewati air dan melalui sungai serta api adalah metafora mengenai masalah. Hidup ini setelah jatuh di dalam dosa maka kita banyak mengalami masalah dan penderitaan. Di dalam hidup ini seringkali kita harus melewati banyak tantangan dan pergumulan. Tetapi Tuhan mengatakan bahwa AKu menyertai engkau. Ini merupakan sebuah janji penghiburan. Kita mengenal diri kita bahwa kita spesial karena kita disertai oleh Tuhan pencipta langit dan bumi. Seperti bangsa Israel disertai tiang awan dan api, kita juga disertai oleh Roh Kudus yang membantu kita melewati berbagai peperangan rohani. Hidup ini indah karena ada penyertaan Tuhan. Bukan saja penyertaan Tuhan tetapi juga perlindungan Tuhan. Tuhan menjaga sehingga kita aman. Tidak ada sesuatupun yang dapat menganggu kita baik air maupun sungai maupun api. Tidak ada sesuatupun yang dapat membahayakan kita bila Tuhan melindungi. Kita ini spesial karena kita dilindungi Tuhan

4.    Kita adalah hamba Allah
Alkitab mengatakan seterusnya bahwa semua penyertaan dan perlindungan Tuhan ini adalah karena Dia adalah Tuhan. Kata Tuhan berarti berkaitan dengan konsep perjanjian. Tuhan Allah adalah Tuhan perjanjian. Dan Perjanjian berarti adanya satu relasi antara Tuhan dengan manusia. Karena Dia adalah Tuhan maka kita adalah hamba. Tetapi antara Tuan dan hamba itu bukan seperti pengertian kita ini orang yang tidak spesial. Karena di jaman ANE, hamba dan tuan itu punya hubungan yang erat. Contohnya Abraham dan Eliezer dimana Abraham berpikir bahwa Eliezer akan mewarisi harta keluarganya menggantikan dia. Menjadi hamba Allah adalah menerima jabatan yang mulia dan juga menerima warisan dari Tuhan sendiri. Menjadi hamba Allah adalah spesial

5.    Kita adalah penerima keselamatan dari Tuhan
Selain sebagai Tuan dan hamba, di bagian ini dikatakan bahwa Tuhan adalah juru selamat dan kita adalah yang diselamatkan. Sungguh bersyukur bahwa kita yang berdosa diselamatkan dari murka Allah karena Allah sendiri yang menyelamatkan kita. Kita diselamatkan dari dosa karena Kristus mati bagi kita dikayu salib. Keadilan Allah dan kasih Allah dinyatakan. Kristus mati dihukum karena dosa kita dan kita diselamatkan karena kasih karunia Allah.
Jadi kita adalah spesial karena kita diselamatkan oleh Allah.

6.    Kita adalah berharga di mata Tuhan
Alkitab mengatakan bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah ini adalah diberi kemuliaan dan hormat. Tuhan Allah memerintahkan manusia untuk berkuasa atas bumi ini. Menjadi manusia adalah menjadi mahluk yang mulia. Tetapi yang lebih dari itu sendiri adalah perkataan Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa kita adalah dihormati dan dihargai di mata Tuhan. Oh betapa ini adalah dasar dari gambar diri yang sehat. Mengapa kita berharga ? Karena Tuhan sendiri memandang kita berharga.

7.    Kita dikasihi Tuhan
Lebih daripada dihormati dan dihargai Tuhan, kita dikasihi Tuhan. Oh betapa jiwa kita bersyukur dan berterima kasih bahwa kita dikasihi Tuhan. Dikasihi itu melebihi daripada sekedar dihormati, dihargai tetapi tidak dirangkul dengan kehangatan kasih. Tetapi Tuhan mengasihi kita. Kita spesial karena kita dikasihi Tuhan. Mungkin kita sudah biasa mendengar Allah itu kasih dan Allah mengasihi kita. Tetapi pernahkah kita renungkan bahwa Tuhan Allah itu benar-benar mengasihi kita. Dia menciptakan kita, tidak membiarkan kita hilang sehingga Dia mengutus AnakNya mati buat kita. Dia mengutus RohNYa untuk menyertai kita. Dia memelihara kita. Dia melindungi kita. Dia bahkan menjadikan diriNya sebagai Bapa dan kita boleh memanggil Dia : Abba. Sungguh panggilan yang manis dan begitu dekat. Puji Tuhan ! Kita dikasihi Tuhan. Tetapi yang lebih dari itu adalah kasih Tuhan adalah kekal dan tidak berubah. Tuhan mengasihi kita dengan kasih yang tidak berkesudahan yang tanpa berkondisi. Ini namanya anugerah. Bahkan Alkitab menjamin bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
Dikasihi Allah juga adalah dasar yang kuat bagi gambar diri kita. Bukan saja itu tetapi juga dasar yang kuat bagi sekuritas jiwa kita. Kita aman karena dikasihi Tuhan. Kita berharga karena dihargai Tuhan.

8.    Kita diciptakan untuk kemuliaan nama Tuhan
Untuk apa kita hidup ? Apa arti hidup manusia ? Ini adalah pertanyaan eksistensial yang banyak ditanyakan oleh manusia. Manusia perlu arah dan tujuan hidup. Manusia perlu nilai, arti dan makna hidup. Tetapi Tuhan sudah memberikan makna hidup manusia yaitu yang benar-benar satu hak istimewa yaitu untuk memuliakan namaNya. Ini sangat istimewa karena kemuliaan Tuhan adalah tujuan hal tertinggi di dalam semesta ini. Tuhan sendiri mempunyai tujuan tertinggi yaitu kemuliaan namaNya sendiri. Dalam hal ini Dia tidak sombong atau Dia tidak egois. Sebab Dia adalah suci dan kudus. Dari kekudusanNya terpancar kemuliaan dan keindahan. Tuhan bertujuan memuliakan diriNya karena itu satu kesenangan bagiNya dan Dia layak mendapatkan hal ini karena Dia adalah Tuhan. Tuhan layak untuk disembah. Tuhan layak untuk dipuji. Sebab Dia adalah Tuhan dan tidak ada lagi yang seperti Dia. Karena itu Tuhan menciptakan manusia juga adalah untuk kemuliaan namaNya. Ini adalah satu hal yang istimewa sebab manusia hidup mempunyai arti dan tujuan sesuai dengan tujuan diriNya Tuhan sendiri yaitu demi kemuliaan namaNya.
Katekismus Westmister mengatakan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmatiNya. Tidak hanya memuliakan nama Tuhan tetapi Tuhan sendiri memberikan kita kenikmatan dengan menikmatiNya. Kita adalah yang Tuhan bentuk dan ciptakan untuk kemuliaan namaNya dan untuk menikmatiNya. Oh betapa spesialnya kita. Bayangkan saja kita boleh menikmati Allah. Ini hal yang indah luar biasa ! Sebab Allah kita adalah Allah sumber segala berkat dan kasih anugerah dan Dia adalah Allah yang bergembira di dalam diriNya sendiri. Dan Dia mengajak kita untuk bergembira di dalamNya “Bergembiralah di dalam Tuhan maka Ia akan memberikan apa yang diinginkan oleh hatimu” ( Maz 37 ). Oh betapa bahagianya dan spesialnya kita boleh menikmati Tuhan

Kesimpulan : Kita adalah manusia yang spesial karena Tuhan memandang kita dengan spesial. Karena itu kita jangan minder dan juga jangan takut hai kawanan kecil

Jeffrey Lim
www.iccccty.com

Read More ....

Kemuliaan Tuhan, alam semesta dan arti hidup manusia

Pertanyaan umum : Dimana arti dan signifikansi hidup manusia ?

Pertanyaan spesifik refleksi : Siapakah saya ? Apa arti hidup saya ? Apa makna hidup saya ?
 
Ini pertanyaan yang penting. Hanya manusia satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan di dunia ini yang bisa mempertanyakan pertanyaan ini. Binatang tidak bisa mempertanyakan apa makna hidupnya. Binatang hanya lahir, makan, istirahat, kawin mengawin, beranak cucu dan mati. Bila hidup kita hanya untuk makan minum, kawin mengawin dan beranak cucu tanpa memikirkan arti hidup maka kita hidup remeh karena hanya menyerupai binatang. Tetapi manusia di dalam dirinya sendiri adalah mahluk yang mencari nilai. Karena manusia di dalam dirinya ada sense of divinity. Sensus divinitas.

Seharusnya manusia diciptakan untuk kemuliaan Tuhan. Tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakanNya dan menikmatiNya.  Namun setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia mencari nilai dan signifikansinya diluar Tuhan. Manusia berdosa menggantikan kemuliaan Tuhan dengan berhala. Bahkan secara esensial, manusia menjadikan dirinya berhala dimana mereka ingin menjadi seperti Allah.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia didesain untuk memuliakan Allah sebagai wakil Allah di dalam dunia ini. Sebetulnya pengertian gambar dan rupa Allah ini adalah manusia memang diciptakan mirip dengan Allah. Manusia diberikan kemuliaan dan hormat ( Maz 8:5 ) dimana mereka berkuasa atas alam semesta. Tetapi ketika manusia ingin menjadi seperti Allah di dalam pengertian ingin menentukan apa yang baik dan benar, ingin otonomi, ingin bebas dari pimpinan Tuhan maka manusia menjadi berdosa, hina dan malang. Hal yang ironis adalah ketika kita mencari makna di luar kemuliaan Tuhan maka kita masuk ke dalam kesia-siaan dan menjadi kehilangan makna. Ketika manusia mencari nilai diri, manusia kehilangan diri. Ketika manusia mati bagi diri dan hidup bagi Kristus, manusia menemukan hidup.

Kita dapat melihat satu fenomena di dalam dunia ini bahwa manusia seringkali mencari pengenalan dan nilai diri di dalam dirinya sendiri. Kita melihat buku-buku pengembangan diri, seminar-seminar sukses. Manusia hendak menggali dan mencari potensial di dalam diri dan itulah pengenalan, nilai dan signifikansinya bagi dirinya sendiri. Ini berbeda dengan sikap pemazmur di dalam mazmur 8. Mazmur 8 dimulai dengan pengakuan betapa mulianya nama Tuhan. Kemudian pemazmur melihat alam semesta yang begitu indah dan luar biasa besar. Langit, bulan dan bintang yang Tuhan ciptakan. Semua ini menceritakan kemuliaan Tuhan. Dan kita pemazmur membandingkan semua kemuliaan Tuhan di dalam diri Tuhan dan sendiri dan ciptaanNya maka pemazmur merefleksi : apa sebenarnya saya ini sehingga Tuhan begitu mengingatnya dan mengindahkannya ? Siapakah saya ini ?

Respon pemazmur berbeda dengan orang-orang modern di dalam psikologi pop bahkan di dalam gerakan jaman baru. Mereka semua hendak mencari pengenalan dan nilai di dalam diri. Tetapi pemazmur merefleksikan kemuliaan Tuhan. Di dalam hal ini pemazmur mengenal dirinya dengan benar. Dia tahu bahwa dia hanya manusia yang kecil dibandingkan kemuliaan Tuhan baik di dalam dirinya maupun dalam alam semesta yang begitu luas dan lebar dan megah ini. Tetapi dia juga tahu Tuhan mengasihi dia. Dan mazmur 8 dibuka dan ditutup dengan perkataan ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya namamu diseluruh bumi !. Kemuliaan Tuhan menjadi fokus pemazmur. Kemuliaan Tuhan menjadi yang terutama. Pemazmur siapa mengenal siapa dirinya untuk memuliakan Tuhan. Dan ini adalah pengenalan diri yang benar.

John Calvin di dalam pembukaan bab pertama dari buku Institute of Christian Religion mengatakan bahwa bijaksana adalah mengenal Allah dan mengenal diri. Ketika kita mengenal Allah, kita mengenal diri. Dan ketika kita mengenal diri, kita mengenal Allah. Maka ketika kita melihat kemuliaan Allah, kita melihat diri kita yang kecil dan lemah tetapi dikasihi Allah.

Di dalam kuliah oleh Professor Michael Horton mengenai teologi dari John Calvin diajarkan bahwa keselamatan adalah mengenal Allah Tritunggal. Manusia diselamatkan karena mengenal Allah bukan Allah yang generic tetapi Allah Tritunggal. Bukan setiap kata Allah sama tetapi pengertian Allah orang Kristen adalah Allah Tritunggal. Tetapi mengenal Allah Tritunggal tidak cukup untuk keselamatan. Keselamatan adalah mengenal Allah Tritunggal di dalam Yesus Kristus. Tetapi lebih jauh keselamatan adalah mengenal Yesus Kristus yang diwahyukan di dalam Injil.

Bila saya merefleksikan pola ini maka manusia di dalam mengenal diri dan makna hidupnya yang sesungguhnya harus mengenal di dalam diri Allah Tritunggal. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tritunggal. Di dalam Kitab Kejadian 1 dikatakan marilah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita. Kita ini jamak karena Allah Tritunggal yaitu Allah yang satu tetapi mempunyai tiga pribadi. Namun mengenal diri haruslah lebih dalam kita harus mengenal diri dalam mengenal Kristus Yesus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan. Dia adalah gambar dan cahaya kemuliaan Allah. Kita hanya dapat mengenal diri, makna hidup dan keselamatan bila kita melihat kemuliaan Kristus sebagai Anak Allah yang Tunggal yang dikasihi Bapa.

( Sela – Pause – untuk merenungkan Kristus sejenak )

Marilah kita terus belajar mengenal kemuliaan Kristus karena dengan melihat kemuliaan Kristus kita diubahkan dari kemuliaan menuju kemuliaan.

Jeffrey Lim
24-4-2013
www.iccccty.com

Read More ....

Spiritualitas orang percaya bukan spiritualitas biara

Salah satu kesukaan orang kudus adalah merenungkan Firman Tuhan. Pemazmur mengatakan bahwa diberkatilah orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam. Ia seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air yang berbuah pada musimnya dan apa saja yang diperbuatnya berhasil. Ini adalah gema di dalam mazmur 1. Firman Tuhan sudah menjadi kesukaan orang kudus karena di dalamnya mengandung berkat Tuhan di dalam Injil. Injil adalah kekuatan Allah bagi mereka yang percaya.

Di dalam menjalankan panggilannya, maka orang percaya yang serius harus terus bergumul dengan Firman. Dan menariknya Tuhan meletakkan orang percaya di dalam konteks hidup di dalam dunia ini. Dunia di dalam pengertian fisik adalah tempat tinggal kita sementara hidup. Tetapi di dalam pengertian jalan hidup maka dunia adalah bukan jalan hidup kita. Jalan hidup orang benar adalah dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Jalan hidup keduniawian ini bertentangan dengan jalan hidup orang percaya. Kesukaan orang dunia adalah kenikmatan duniawi dan kesenangan orang percaya adalah memuliakan Tuhan.

Tetapi timbul satu ketegangan bahwa kita tinggal di dunia namun bukan berasal dari dunia. Karena ada benih ilahi di dalam diri orang percaya maka orang percaya secara alamiah tidak menyukai dunia. Tentunya kedagingan di dalam diri orang percaya pun terus berperang melawan natur baru. Ini adalah peperangan rohani di dalam hati pikiran. Walaupun iblis dan kuasa dosa sudah dikalahkan oleh kemenangan Kristus di kayu salib bagi orang percaya, namun iblis tidak ingin orang percaya merealisasikan kemenangan ini. Seperti pencobaan Yesus ketiga, iblis sering menawarkan dunia ini sebagai daya tarik supaya orang percaya tidak bertumbuh.

Bila kita melihat dengan mata jasmaniah maka daya tarik dunia begitu kuat. Tetapi seharusnya bila kita melihat dari mata rohani, seharusnya kita melihat karya pekerjaan Kristus di kayu salib yang final itu pasti efektif terlaksana. Di dalam ketegangan daya tarik dunia ini ada orang percaya yang berpikir bahwa spiritualitas Kristen seharusnya adalah menjauhkan diri dari dunia. Alasan dibalik ini adalah karena dunia dipandang sebagai negatif, dunia dipandang sebagai jahat, mencobai dan juga merusak. Lebih baik menjauhkan diri dari dunia dan mendirikan dunia sendiri yaitu dunia yang seakan-akan penuh dengan Firman dan kesalehan. Ini adalah reaksi defense terhadap dunia. Tetapi sesungguhnya reaksi ini tidak di dasarkan pada cinta kasih. Sebab spiritualitas Kristen di dalam Tuhan seharusnya adalah spiritualitas inkarnasi. Spiritualitas yang turun ke dalam dunia untuk menjadi berkat.

Mari kita renungkan doa Tuhan Yesus untuk murid-muridNya kepada Allah Bapa di dalam Yohanes 17:14-19
“Aku telah memberikan firmanMu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran. FirmanMu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” ( Yoh 17:14-19 )

Kita murid Kristus dipanggil untuk menjadi garam dunia. Untuk menjadi berkat. Karena itu spiritualitas kita bukan spiritualitas biara tetapi spiritualitas inkarnasi.

Jeffrey Lim
20-4-2013

Read More ....

Hidup yang kekal dimulai bukan di masa depan belaka

Seringkali kita mendengar argumen agamawi mengapa seseorang harus berbuat baik ? Yaitu supaya orang yang berbuat baik masuk ke dalam surga. Kemudian kalau kita mengerti secara lebih jelas pengertian ini maka pengertian surga disini adalah kehidupan di masa depan. Kalau kita ganti kata “surga” dengan kata “hidup yang kekal” maka pengertian hidup yang kekal dimulai di masa depan dan bukan dimasa sekarang. Argumennya karena hidup sekarang ini adalah hidup yang sementara dan kita toh akan mati. Hidup sekarang ini adalah hidup yang terbatas dan fana. Jadi hidup yang kekal bukan dimulai di masa ini tetapi dimasa depan.

Pengertian ini sepertinya kelihatan sesuai persis dengan tepat seperti apa yang Alkitab katakan bahwa hidup yang kekal itu di masa yang akan datang belaka. Ada beberapa ayat yang mengatakan :

“Dan setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan menerima hidup yang kekal.” ( Matius 19:29 )

Di dalam ayat ini pengertiannya sepertinya orang yang meninggalkan segala sesuatunya dan mengikut Yesus akan mendapatkan berkat ganda yaitu di masa hidup ini dan akan menerima hidup yang kekal di masa depan. Hidup yang kekal diletakkan di dalam akhir kalimat. Hidup yang kekal sepertinya di masa depan belaka.

“Dan mereka ini akan masuk ke tempat yang siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal” ( Matius 25:46 )

Ayat berbicara mengenai penghakiman terakhir diaman Anak Manusia datang dan menghakimi semua orang. Di dalam ayat ini pengertian ini sepertinya hidup yang kekal hanya berarti hidup masa depan bagi orang benar yang dikontraskan dengan siksaan yang kekal bagi orang yang jahat.

“Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” ( Yoh 4:14 )

Ayat indah ini mengatakan bahwa siapa yang datang kepada Yesus Kristus dan minum air yang diberikanNya tidak akan haus lagi untuk selama-lamanya. Air itu akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Seseorang yang datang kepada Yesus Kristus dan minum air yang diberikanNya di dalam dirinya terus memancar kehidupan sampai hidup yang kekal. Ini berarti ada kesinambungan masa kini dan masa depan. Kata untuk selama-lamanya dimulai dari masa kini sampai masa depan. Tetapi di dalam ayat ini hidup yang kekal diletakkan pada akhir dan kalau ditafsirkan dalam pengertian yang sama  maka hidup yang kekal itu di masa depan belaka.

Pengertian bahwa hidup yang kekal adalah hidup di masa datang belaka adalah pengertian yang sepertinya umum ditengah-tengah kita tetapi sesungguhnya pengertian ini tidak terlalu tepat. Tentunya kita tidak menyangkali bahwa ada aspek hidup yang kekal di masa depan. Alkitab sendiri mengatakan pada ayat-ayat diatas. Tetapi pengertian Alkitab yang kaya dan limpah itu bukan berbicara mengenai hidup yang kekal hanya pada masa yang akan datang. Dengan kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia dan dengan kematian dan kebangkitanNya maka yang kekal masuk ke dalam kesementaraan. Ini pengharapan bagi umat manusia di dalam kesementaraan mencicipi hidup yang kekal. Sebab yang kekal itu hadir bersama-sama dengan kita. Hidup yang kekal dimulai dari sekarang semenjak kita menerima Tuhan Yesus.

Saya akan mencoba menunjukkan sisi lain ayat-ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa hidup yang kekal bukan saja hidup di masa depan tetapi hidup di masa sekarang juga dengan percaya kepada Tuhan Yesus. Pada kesempatan ini saya akan mencoba menggali dari beberapa ayat Alkitab berdasarkan pengertian grammar dan tense Alkitab sendiri. Kita akan melihat pengertian dari beberapa ayat supaya memperjelas pengertian semuanya.

Mari kita coba teliti apa itu hidup yang kekal di dalam Alkitab?

Akitab mengatakan :
“Inilah hidup yang kekal; itu, yaitu bahwa mereka mengenal  Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Kau utus” ( Yoh 17:3 )

Di dalam ayat ini kita dapat melihat bahwa hidup yang kekal itu dikaitkan dengan pengenalan akan Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus. Pengenalan bukan hanya pengenalan secara data fakta tetapi di dalam bahasa Alkitab pengenalan itu berkaitan dengan relasi. Di dalam Perjanjian Lama, kata mengenal ( yada ) itu berkaitan dengan memilih, menetapkan dan juga berelasi. Adam mengenal Hawa lalu Hawa mengandung. Kata ini memakai kata ( Yada ) dan diterjemahkan dengan Adam bersetubuh dengan Hawa. Dan di dalam konteks lain dipakai ketika Allah memilih umatNya kata yang dipakai adalah yada. Di dalam bahasa Alkitab baik PL maupun PB, mengenal berkaitan dengan berelasi. Dalam ayat ini kata yang dipakai adalah ginosko.Hidup yang kekal dikaitkan dengan mengenal ( berelasi ) dengan Allah. Kapan orang percaya mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus ? tentunya dimasa sekarang ini. Tetapi ayat ini mungkin belum menjelaskan dengan terang apakah hidup yang kekal itu di masa depan belaka atau juga dimasa sekarang. Paling sedikit secara logis kita tahu bahwa mengenal Allah itu tentunya dimulai dari masa sekarang. Mari kita teruskan ke ayat-ayat yang lain.

“Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” ( Yoh 3:15-16 )

Ayat ini biasanya dikenal ayat favorit sekolah minggu dan ayat yang melukiskan kasih Allah yang besar dimana Dia mengutus AnakNya Tuhan Yesus Kristus supaya yang percaya kepadaNya diselamatkan. Ayat ini juga seringkali dipakai di dalam penginjilan bahwa Allah mengasihi anda dan kalau anda menerima dan percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka anda akan diselamatkan. Di dalam ayat ini ada beberapa kata yang hendak kita gali sesuai dengan grammar dan tense-nya. Kata kerja mengasihi memakai tense aorist dan diterjemahkan dalam bahasa inggris loved. Pengertian Aorist berarti tindakan ini adalah tindakan satu kali di masa lampau bukan berulang kali. Ini merujuk kepada pemberian Yesus Kristus yang sekali dan dijelaskan dengan kata mengaruniakan yang memakai kata kerja aorist juga yang berarti satu kali diberikan. Kemudian syarat orang bisa menerima hidup yang kekal disana dikatakan adalah orang yang percaya kepadaNya. Percaya disini menggunakan tense participle present active. Participle berarti kata ini bersifat kata kerja dan juga kata sifat. Present active berarti terjadi pada masa sekarang secara kontinuitas.  Percaya berarti bukan satu kali percaya tetapi secara kontinuitas menjadi kebiasaan untuk percaya. Dan yang menarik ini adalah kata yang akan kita bahas terakhir yaitu kata beroleh hidup yang kekal. Kata beroleh itu menggunakan tense present active subjunctive. Beroleh itu berarti di masa sekarang karena present active. Sesuai dengan grammar maka hidup yang kekal itu diperoleh dimasa sekarang karena menggunakan tense present.

 “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” ( Yoh 5:24 )
Di dalam ayat ini kita melihat bahwa sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup dikaitkan juga dengan hidup yang kekal. Dari konteks kita bisa melihat dengan jelas bahwa hidup yang disebutkan pindah dari hidup ke dalam maut itu adalah hidup yang kekal itu sendiri. Secara grammar kita melihat kata mendengar perkataanKu, kata mendengar menggunakan tense participle present active. Percaya juga menggunakan tense participle present active. Participle seperti dijelaskan diatas berarti kata ini bersifat kata kerja dan juga kata sifat. Present active berarti terjadi pada masa sekarang secara kontinuitas.  Berarti orang yang diselamatkan adalah orang yang terus menerus mendengar perkataan Tuhan Yesus dan percaya kepada Bapa yang mengutusNya. Dan yang menarik adalah kata yang akan kita bahas terakhir yaitu kata ia mempunyai hidup yang kekal. Kata mempunyai ini menggunakan tense present active indicative. Arti present active indicative menjelaskan tense present yang terjadi di masa sekarang. Kata ini menjelaskan proses yang terus menerus berlangsung. Jadi karena tense yang dipakai adalah present maka mempunyai hidup yang kekal ini sudah dimulai dari masa sekarang.

“Sebab inilah kehendak Bapa-ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir jaman” ( Yoh 6:40 )
Di dalam ayat ini menarik bahwa kata beroleh hidup yang kekal, kata beroleh-nya menggunakan tense present active subjunctive. Tense Present berarti masa sekarang. Dan di dalam ayat ini ketika hidup yang kekal diperoleh di masa sekarang dikontraskan dengan dibangkitkan Tuhan Yesus pada akhir jaman.

“Aku berkata kepadaku : sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” ( Yoh 6:47 )
Ayat ini sama dengan yang diatas. Percaya menggunakan tense participle present active. Mempunyai menggunakan tense present active indicative. Perhatikan semua tensenya menggunakan present.

Dari banyak ayat di atas kita melihat pengertian Alkitab lebih limpah bahwa hidup yang kekal bernuansa dari masa sekarang hingga sampai masa depan. Ada kesinambungan hidup kekal dari masa sekarang sampai masa depan. Ada relasi dan korelasi antara hidup kekal di masa sekarang dan masa depan. Ada kontinuitas dan juga ada diskontinuitas antara hidup kekal di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Ada already but not yet. John Calvin di dalam pengajarannya mengenai meditasi kehidupan yang masa depan hendak mengkaitkan kesalehan di masa kini dengan perenungan masa depan.

Saya akan menutup perenungan singkat ini dengan penggalian ayat Alkitab dari Yoh 10:27-28
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti  tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku" ( Yoh 10:27-28 )

Kita sebagai domba-domba Tuhan mendengarkan suara Tuhan bukan hanya sekali tetapi secara terus menerus sebagai kebiasaan karakter kita ( kata mendengarkan menggunakan tense present active indicative ). Tuhan juga mengenal kita secara terus menerus ( kata mengenal menggunakan tense present active indicative ). Kita mengikut Tuhan juga bukan hanya sekali tetapi secara terus menerus sebagai kebiasaan karakter kita ( kata mengikut menggunakan tense present active indicative juga ). Dan Tuhan Yesus memberikan hidup yang kekal kepada kita mulai dari sekarang sampai selama-lamanya secara proses terus menerus ( kata memberikan juga menggunakan tense present active indicative ). Dan bersyukur bahwa jaminan Tuhan bahwa kita pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya. Disini bukan hanya tidak akan binasa tetapi ada penekanan pasti. ( kata pasti tidak akan binasa menggunakan subjunctive dan berarti penekanan bahkan tidak ada kemungkinan sama sekali untuk binasa. Kita dapat membayangkan penekanan itu dengan adanya kata tidak sebanyak dua kali yang diterjemahkan menjadi pasti tidak akan binasa ).  Ini adalah jaminan keselamatan. Bahkan ditekankan.

Puji Syukur kepada Tuhan !
Jeffrey Lim
13-4-2013
www.iccccty.com

Read More ....

Kejujuran dan pengudusan

Pada malam hari ini, saya mendapatkan satu berkat dari mendengar mp3 seminar keluarga oleh Pdt. Joshua Lie. Perenungan yang saya dapatkan ( walaupun mungkin berupa pengembangan dari isi seminar )  adalah bahwa ada kaitan antara kejujuran dengan pengudusan. Ada kaitan juga antara dosa dan ketersembunyian.

Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia berasa malu dan manusia bersembunyi. Manusia takut dan bersembunyi (hiding). Realita manusia dalam dosa di sepanjang sejarah manusia adalah manusia terus bersembunyi. Manusia sudah tidak bisa berdiri tegak tidak malu dan tidak bersalah di hadapan pribadi lain baik itu Tuhan maupun sesamanya. Isu bersembunyi ini adalah isu yang besar baik secara teologis maupun juga secara psikologis. Bapak psikologi modern Sigmund Freud juga membahas bahwa manusia mempunyai defense mechanism / mekanisme pertahanan. Manusia menuduh orang lain. Manusia berbohong. Manusia berpura-pura. Manusia menekan perasaannya. Manusia mengalihkan. Manusia merasionalisasi. Semua ini upaya manusia untuk bersembunyi.

Saya merenungkan bahwa menurut saya sebenarnya yang membuat manusia bersembunyi intinya adalah karena tidak ada lagi kebenaran, kekudusan, damai sejahtera dan juga kasih. Alkitab mengatakan bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan. Tetapi di dalam dosa manusia penuh dengan ketakutan, kemunafikan, penipuan, dan kenajisan. Ketika tidak ada kebenaran maka yang ada hanya kebohongan. Ketika tidak ada kekudusan maka yang ada hanya kenajisan. Ketika tidak ada damai sejahtera maka yang ada hanyalah ketakutan dan terror. Karena itu manusia harus bersembunyi.
Manusia sebenarnya menipu dirinya sendiri ketika berpikir bahwa ketika dia bersembunyi terhadap Allah dan sesamanya maka dia aman. Sesungguhnya ketika seseorang bersembunyi dan memakai topeng maka dia paling gelisah dan tidak damai sejahtera. Seseorang yang berani belajar hidup berintegritas dan jujur terhadap Tuhan, orang lain dan diri sendiri adalah orang yang berbahagia dan diberkati.

Merenungkan mengenai bersembunyi, satu hal yang menarik bahwa di dalam kitab Imamat perihal mengenai covering dan uncovering ini berkaitan dengan pengampunan dosa. Ketika dosa diampuni maka harus ada uncovering yaitu keterbukaan mengaku dosa. Di dalam prinsip Alkitab hal ini juga berkaitan bahwa jika kita mengaku dosa maka Ia setia dan adil dan akan mengampuni dosa kita dan menyucikan diri kita dari setiap kejahatan ( 1 Yoh 1:9 ). Lawan dari bersembunyi adalah mengakui dosa dan meninggalkannya. Sebenarnya inti pengakuan dosa berarti mengaku kepada Tuhan bahwa kita melakukan dosa itu, kita mengakui bahwa kita bersalah dan kita berhak menerima penghukuman Tuhan. Kemudian kita meminta anugerah pengampunan dosa berdasarkan karya Kristus di kayu salib. Ketika kita menerima pengampunanNya melalui iman, kita juga sekaligus menerima pembenaranNya melalui iman. Kita dibebaskan dari malu dan bersalah. Dibebaskan dari bersalah bersalah karena kita dibenarkan secara hukum. Dibebaskan dari malu karena kita ditutupi dan ditanggung dosanya oleh Kristus di kayu salib. Ini anugerah Tuhan.

Ketika seseorang menjadi orang percaya maka di dalam hidupnya harus ada momen dia mengaku dosa dan menerima Kristus menjadi juru selamat serta hidup baru meninggalkan dosa dan hidup untuk Tuhan. Kemudian tidak berhenti sampai disitu, di dalam pergumulan proses pengudusan, orang percaya terus bergumul di dalam proses hidup makin apa adanya dan makin hidup jujur integritas dihadapan Tuhan dan sesama.

Ada satu teori psikologi yang mengatakan ada wilayah di dalam hidup kita. Pertama yang kita tahu dan orang lain tahu. Itu adalah wilayah terbuka. Kedua, ada wilayah yang kita tahu dan orang lain tidak tahu. Itu adalah wilayah persembunyian. Ketiga, ada wilayah yang kita tidak tahu dan orang lain tahu. Itu adalah wilayah kebutaan. Dan keempat adalah wilayah yang kita tidak tahu dan orang lain tidak tahu.

Wilayah yang pertama yang terbuka adalah wilayah yang transparan dan terang. Makin banyak wilayah ini makin jujur dan integritas hidup seseorang. Tetapi ada wilayah persembunyian dimana kita memakai topeng. Ini wilayah yang perlu kita hadapi.  Wilayah ini adalah wilayah pura-pura kita, wilayah agenda tersembunyi kita dan wilayah kemunafikan kita. Wilayah kebutaan ketika diberi tahu orang lain adalah berkat bagi kita untuk mengenal diri. Dan ada wilayah yang hanya Tuhan sendiri yang tahu dimana kita dan orang lain tidak tahu. Wilayah unknown ini perlu kita minta Tuhan singkapkan seperti doa pemazmur : bebaskan aku daripada yang tidak aku sadari. Kita juga perlu berdoa satu baris dari doa Bapa kami yang singkat yaitu lepaskan kami dari yang jahat. Mengapa ? Sebab yang jahat itu sebenarnya dosa dan kedagingan yang berdiam di dalam diri kita semua. Tentunya iblis dan rencananya termasuk juga dalam wilayah ini. Tetapi kejahatan juga ada secara nyata di dalam diri kita.

Karena ada kaitan antara kejujuran, keterbukaan dan pengudusan maka kita harus terus berusaha hidup di dalam terang. Alkitab mengatakan bahwa jika kita hidup dalam terang, kita beroleh persekutuan satu sama lain dan darah Yesus Kristus akan mengucikan kita dari segala dosa. Ini janji Firman Tuhan. Maka itu pada perenungan singkat ini saya hendak mengajak kita semua merenungkan dan belajar mengambil komitmen untuk hidup makin jujur terhadap Tuhan, sesama dan terhadap diri.

Kebalikan dari berbohong dan bersembunyi di dalam dosa adalah dengan pengakuan dan penyingkapan kebenaran. Dengan ini maka kita boleh hidup benar sebagai anak-anak Tuhan bukan saja secara status tetapi juga secara hati, perkataan dan tingkah laku. Orang benar secara status sudah dibenarkan dan pengakuan mulutnya harus benar karena di dalam hatinya dia integritas dihadapan Tuhan, sesama dan dirinya sendiri.

Kiranya perenungan ini boleh menjadi berkat.

Jeffrey Lim
10 April 2013
Setelah merenungkan mp3 seminar keluarga
www.iccccty.com

Read More ....

Mengasihi dan melayani Tuhan di dalam keadaan sulit

Ketika kita berada di dalam keadaan yang baik-baik mungkin lebih mudah bagi kita untuk “melayani” dan “mengasihi” Tuhan. Tetapi seringkali kesulitan atau bahkan penderitaan dapat menjadi ujian apakah kita benar-benar mengasihi Tuhan. Dan ketika kesulitan atau bahkan badai di dalam kehidupan kita datang, hal ini dapat membukakan apakah isi hati kita yang sesungguhnya.

Saya ambil contoh satu cerita seseorang yang bernama May. May seorang gadis yang senang belajar Alkitab. May aktif di gereja dan dikenal sebagai seorang yang suka melayani. Sampai satu saat May mengalami krisis ketika dia ditinggal oleh kekasihnya Steve. Dan karena kejadian pahit itu, May menyalahkan Tuhan dan dia meninggalkan pelayanan.

Ada contoh lain lagi. Hendra adalah seorang yang bergumul di dalam hidupnya untuk melayani Tuhan sepenuh waktu. Dia rajin mengikuti pembinaan, seminar-seminar dan kulih-kuliah teologi. Dia memasuki seminari di tahun kedua. Hendra aktif di dalam pelayanan dan banyak orang diberkati oleh pelayanannya. Sampai satu peristiwa Hendra konflik dengan rekannya. Ketika konflik itu Hendra melakukan kesalahan yang memalukan dengan menjelekan rekannya di dalam kotbahnya. Dosen akhirnya memutuskan untuk menghukum dia cuti selama 1 semester. Hendra merasa malu dan akhirnya tidak melanjutkan panggilannya.

Ada contoh lain juga dari cerita Alkitab. Rasul Simon Petrus seorang yang dipanggil Tuhan Yesus. Dia begitu antusias di dalam mengikut Yesus. Dia menyerahkan hidupnya untuk mengikut Yesus. Sampai satu saat Tuhan Yesus menanyakan kepada murid-muridNya mengenai siapakah Dia? Petrus menjawab Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup. Jawaban teologis yang tepat yang dikatakan Petrus karena anugerah Tuhan. Tetapi ketika Yesus sedang diadili, Petrus menyangkal Yesus sebanyak 3x. Di saat kesulitan Petrus lebih takut pada manusia daripada mengasihi Tuhan Yesus.

Dari semua cerita diatas ini kita dapat merefleksikan sesuatu. Adalah mudah untuk mengatakan mengasihi Tuhan dan melayaniNya disaat kita sedang dalam kondisi baik. Dalam kondisi diterima. Di dalam kondisi sehat. Di dalam kondisi prima. Di dalam kondisi kelimpahan. Tetapi adalah tidak mudah untuk mengasihi Tuhan dan melayuniNya di saat kondisi buruk. Kondisi banyaknya penolakan. Kondisi ejekan dan hinaan. Kondisi sakit ataupun kondisi kemiskinan. Untuk melukiskan pemahaman ini saya mencoba menjelaskan melalui analogi sepasang suami istri. Sepasang suami istri berjanji di dalam janji nikah untuk setia di dalam saat sehat maupun sakit, saat kelimpahan maupun kekurangan, saat dan kondisi apapun di dalam hidup mereka sampai kematian memisahkan mereka. Ketika sedang lancar-lancar saja mungkin lebih mudah untuk mengasihi. Dan tentunya lebih sulit ketika di dalam keadaan hari gelap untuk terus mengasihi. Karena itu kasih orang Kristen bukan kasih romantik. Kasih orang Kristen seharusnya adalah kasih Karena itu kasih orang Kristen bukan kasih romantik. Kasih orang Kristen seharusnya adalah kasih yang belajar terus komitmen untuk berkorban. Kasih agape.

Panggilan kita mengasihi dan melayani Tuhan adalah seperti relasi suami istri. Kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dan melayaniNya di dalam setiap kondisi. Relasi kita dengan Kristus adalah diikat di dalam perjanjian. Dan ini seperti janji nikah. Tetapi banyak peristiwa di dalam hidup ini menyatakan bahwa seringkali kita tidak setia terhadap Tuhan. Dan bersyukur Tuhan setia kepada kita.

Di dalam kasus May, May melayani Tuhan kalau dia masih ada Steve. Ketika Steve pergi maka peristiwa itu membuktikan bahwa dia lebih mengasihi Steve daripada mengasihi Tuhan. Kalau tidak ada Steve dalam hidupnya maka May menjadi kosong dan tidak ada kekuatan untuk mengasihi Tuhan. Di dalam kasus Hendra, dia tidak bisa mengatasi marahnya dia akibatnya kemudian dia tidak bisa mengatasi rasa malunya dihukum dosen sehingga dia memilih untuk  meninggalkan pelayanan. Rasa malunya sudah menjadi ilah yang dia lebih pentingkan daripada Tuhan. Dalam kasus Petrus, kita tahu Petrus lebih takut manusia daripada menderita bersama dengan Kristus. Di dalam kesimpulan semua kasus ini dibukakan bahwa seringkali manusia lebih mengasihi dirinya daripada mengasihi Tuhan.

Peristiwa-peristiwa di dalam hidup kita seringkali membukakan realita hati kita yang sesungguhnya. Respon kita terhadap satu kejadian menyatakan hati kita dan apa yang kita sembah sesungguhnya. Secara positif dalam anugerah Tuhan kita bersyukur kalau kita diijinkan Tuhan diuji di dalam banyak peristiwa. Semuanya itu untuk menguji kita dan membawa dalam proses pemurnian iman.

Bersyukur kepada Tuhan karena Dia setia di dalam perjanjianNya dengan kita. Ketika kita jatuh, kita dapat berharap kepada kasihNya yang tidak berubah kepada kita anak-anakNya. Marilah kita belajar mengasihi Tuhan baik dalam kondisi baik maupun sulit.

Jeffrey Lim
26-12-2012
www.iccccty.com

Read More ....

Pencobaan, hati kita, relasi dengan Kristus dan kemenangan rohani

Perumpamaan tentang penabur ( Matius 13:1-9 )

13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.  13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. ( Yohanes 15:15 )

Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. ( Kolose 2: 7)

Yesus ketika mengajar ada kalanya Dia menggunakan bahasa secara langsung dan gampang. Namun ada kalanya Dia menggunakan bahasa perumpamaan. Perumpamaan mengenai Penabur ini adalah perumpamaan pertama yang ditulis di dalam kitab Matius. Mengenai perumpamaan ini, saya pernah mendengarkan seorang pendeta yang dipakai Tuhan mengkotbahkannya. Kesimpulan kotbah dia mengenai perumpamaan: yang berbuah adalah orang yang percaya dan yang tidak berbuah adalah orang yang tidak percaya.  Yang berbuah adalah yang beriman dan bertumbuh sedangkan yang tidak berbuah adalah yang tidak beriman dan yang akan binasa. Tetapi hari ini ketika saya merenungkan Firman Tuhan ini, saya mendapatkan satu perspektif dan dimensi lain dalam pergumulan saya mengenai perumpamaan ini. Saya menyimpulkan perumpamaan ini dengan tema pencobaan, masalah hati dan relasi dengan Tuhan.

Alkitab adalah buku dari Tuhan Allah. Tulisan Alkitab dinafaskan dari Tuhan Allah. Walaupun ditulis melalui tangan manusia namun mereka diinspirasikan oleh Roh Kudus. Karena itu Alkitab berbeda dengan buku apapun di dalam dunia ini. Alkitab berisi hikmat Allah yang limpah dan luas. Kita yang terbatas memerluka pertolongan Roh Kudus untuk mengertinya. Banyak perspektif dan dimensi di dalam Alkitab yang sangat kaya. Dan pada kesempatan kali ini saya hendak mensharingkan satu dimensi perenungan yang saya dapatkan dari perumpamaan mengenai penabur.

Di dalam perumpamaan mengenai penabur dikatakan bahwa ada seorang penabur yang keluar untuk menabur. Ketika menabur ini, penabur tentunya bukan menabur dengan teliti pada tanah yang baik saja  tetapi penabur menabur benih dengan acak ( random ) pada semua tanah. Dan dikatakan ada benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu-batu, di semak belukar dan pada tanah yang baik. Benih itu adalah Firman Tuhan. Di dalam penjelasan mengenai perumpamaan ini, Yesus kemudian mengajarkan :
13:19    Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan 13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.  13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Merenungkan perumpamaan ini, saya berpendapat bahwa perumpamaan ini bukan berbicara mengenai keselamatan orang percaya dan tidak percaya secara final. Ini bukan berbicara mengenai akhir jaman ketika Tuhan menghakimi perbuatan manusia yang berbuah dan tidak berbuah. Saya percaya ini sedang menggambarkan keadaan kita dalam sekarang ini dalam present time. Dan di dalam perumpamaan ini kita tidak dapat menyimpulkan final keselamatan masa depan seseorang dilihat dari buah-buah yang dia hasilkan pada masa itu saja. Sebab kita mengenai dari wawasan Alkitab bahwa perjalanan seseorang mengikut Kristus adalah sebuah proses kehidupan yang jatuh bangun dan terus dikuduskan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Di bagian Alkitab yang lain mengenai perumpamaan mengenai pohon ara yang tidak berbuah sebenarnya menjelaskan bagian ini juga. Perumpamaan ini juga seperti perumpamaan mengenai penabur yang menggunakan analogi organis di dalam dunia tumbuhan untuk menggambarkan realita rohani.

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia! (Lukas 13:6-9 )

Di dalam perumpamaan mengenai pohon ara ini kita dapat melihat bahwa keadaan belum berbuah pada satu masa bukan keadaan final seseorang tidak diselamatkan secara masa depan. Karena masih ada kesabaran Tuhan untuk menggarap orang tersebut. Bila sampai akhirnya memang tidak berbuah baru itulah tanda final seseorang tidak diselamatkan. Tetapi kita tidak dapat langsung menyimpulkan keadaan gersang tidak berbuah dalam satu masa menjadi keadaan final keselamatan seseorang. Bukankah seringkali keadaan rohani kita dapat juga menjadi gersang ? Dan pada setelah lewat masa itu kita melihat kesabaran Tuhan yang memupuk rohani kita.  Jadi kesimpulan saya pertama mengenai perumpamaan penabur adalah ini bukan berbicara mengenai masa depan keselamatan seseorang dilihat dari buahnya kemudian tetapi mengenai masa sekarang.

Di dalam perumpamaan penabur dikatakan bahwa benih yang jatuh dipinggir jalan adalah melukiskan orang yang belum percaya Tuhan yang kemudian mendengar Firman Tuhan, namun tidak mengerti dan kemudian iblis merampasnya benih yang ditaburkan di dalam hati orang itu. Dari perkataan ini kita dapat mendapatkan dua kesimpulan : Pertama yaitu kita tahu bahwa orang yang belum percaya   berada di dalam kegelapan, tidak mengerti kebenaran dan mereka dikuasai oleh kuasa si jahat. Iblis tidak ingin mereka mengerti kebenaran dan terus membutakan mereka. Iblis tidak ingin mereka bebas dan terus membelenggu mereka dalam kegelapan. Mereka masih di dalam perbudakan dosa. Kesimpulan kedua di dalam bagian Firman ini, kita dibukakan bahwa tanah itu adalah analogi untuk hati manusia.

Lalu kita meneruskan mengenai benih yang jatuh pada tanah yang berbatu dan tanah yang ditaburkan di tengah semak belukar. Inilah fokus yang hendak saya sorot. Di bagian ini kita melihat pemaparan dari Tuhan Yesus bahwa kedua jenis tanah ini pada awalnya bertumbuh tetapi tidak tahan lama dan kemudian tidak berbuah. Pada kasus benih yang jatuh pada tanah yang berbatu masalahnya adalah benih itu tidak berakar dan tahan sebentar saja.  Ketika datang penganiayaan dan penindasan akan Firman maka orang itu segera murtad. Pada kasus benih yang jatuh pada tanah yang berada di tengah semak belukar dikatakan bahwa  kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit sehingga tidak berbuah. Seperti kita bahas sebelumnya bahwa tanah itu melambangkan hati, maka kedua jenis tanah ini menggambarkan kedua jenis hati yaitu hati yang tidak berakar pada Kristus yang tidak tahan penganiayaan dan hati yang dikuasai oleh kekuatiran dunia serta tipu daya kekayaan.

Di dalam kedua jenis tanah yaitu tanah yang berbatu-batu dan tanah yang berada di tengah semak belukar, kita dapat menemukan satu realita yang dinyatakan bahwa benih itu awalnya bertumbuh namun ada aspek pencobaan yang membuat benih itu tidak bertumbuh. Karena itu saya menyimpulkan bahwa salah satu dimensi dari perikop ini berbicara mengenai pencobaan-pencobaan yang kemudian membuat benih itu tidak bertumbuh dan berbuah.

Perenungan : Mengapa ketika datang pencobaan, benih itu tidak bertumbuh ? Pertanyaan ini seharusnya menjadi perenungan kita. Ketika kita mengalami pencobaan dalam hidup ini, mengapa kita tidak bertumbuh dan berbuah ?

Ada beberapa kesimpulan :
Pertama, Sebenarnya pencobaan-pencobaan yang datang kepada kita itu membukakan realita hati kita yang sesungguhnya. Respon kita terhadap pencobaan-pencobaan itu menyatakan isi hati kita yang sebenarnya. Karena itu ada satu perspektif positif dalam kedaulatan dan kasih karunia Allah bahwa berbahagialah bila kita jatuh di dalam berbagai pencobaan. Surat Yakobus 1: 3-4 mengatakan  Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dalam perspektif kedaulatan dan kasih karunia Allah kita melihat bahwa pencobaan itu membukakan isi hati kita yang sesungguhnya dan itu adalah kesempatan kita untuk menyadari bahwa hati kita jahat sehingga kita perlu terus menerus bertobat dan dengan rendah hati beriman kepada karya Kristus di kayu salib sepanjang hidup kita.

Kedua, Ketika pencobaan itu datang, kemudian kita tidak bertumbuh maka kita disadarkan bahwa kita tidak berakar pada Kristus. Alkitab mengatakan bahwa di luar Kristus kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Kembali lagi analogi organis mengenai tumbuhan membuat kita merenungkan realita rohani yang sesungguhnya. Berakar pada Kristus melukiskan analogi akar dalam tumbuhan seperti pokok anggur dan ranting-rantingnya. Ini mengingatkan kita pada pengajaran Kristus mengenai Dia adalah pokok anggur yang benar dan kita adalah ranting-rantingnya. Analogi ini melukiskan adanya kesatuan organis antara Kristus dan kita. Secara sederhana kita dapat sederhakan bahwa ini adalah relasi rohani antara Kristus dengan kita. Lalu apa hubungannya dengan kejatuhan kita dalam pencobaan dengan realita ini ? Ketika kita sedang tidak bertumbuh karena kita tidak berakar dalam Kristus ini mengindikasikan kita tidak sedang berelasi rohani dengan Kristus.  Ketika kita sedang tidak berelasi dengan Tuhan Yesus maka pada saat pencobaan datang kita jatuh dalam dosa. Sebab di luar Kristus kita  tidak ada kekuatan untuk melawan dosa. Kita tidak bisa berbuat apa-apa di luar Kristus.

Aplikasi praktis

Ada beberapa refleksi yang seharusnya membuat kita  renungkan mengapa kita jatuh dalam dosa ketika datangnya pencobaan itu ? Saya ambil contoh mengenai Jim. Jim adalah seorang pemuda Kristen yang bergumul dengan masalah pornografi dan masturbasi. Dia terus menerus bergumul dengan masalah ini. Dia banyak membaca buku rohani ini dan itu dan mencoba mempraktekan semuanya untuk menghadapi dosanya. Ada yang menyarankan Jim untuk terus memikirkan hal-hal yang positif dan mengalihkan pikirannya dari pikiran yang jahat. Di balik saran ini tersirat bahwa pikiran yang positif mengalahkan atau mengalihkan pikiran negatif. Inti kemenangan berada di dalam memikirkan hal positif. Tetapi kita dapat melihat bahwa cara ini adalah cara yang bergantung pada diri sendiri untuk aktif memikirkan pikiran yang positif. Ada buku yang member saran bagi Jim untuk terus menggali masa lalunya dan mencari penyebabnya. Akhirnya Jim terus melakukan psikoanalisa terus ke dalam batinnya dan mencari penyebab ini dan itu. Tetapi inipun tidak menyelesaikan masalah Jim sebab Alkitab mengatakan bahwa betapa liciknya hati kita itu. Kita tidak bisa menggali ke batin kita untuk menemukan penyelesaian. Batin kita sudah gelap dan jahat maka penyelesaian dosa bukan ada di dalam batin kita dan dengan kekuatan kita sendiri. Ada saran psikologi lainnya supaya Jim terus menerus melakukan Cognitive Behaviour Therapy. Jim harus mengganti pikirannya sehingga emosi dan tingkah lakuknya dikuasai oleh pikiran yang baru. Tetapi semua cara ini adalah cara yang berpusat pada diri sendiri secara otonomi dan tidak melibatkan relasi dengan Tuhan Allah. Cara apapun yang Jim lakukan di luar relasi dengan Kristus tidak membuahkan hasil. Jim seharusnya bukan berpusat pada mengalahkan dosa belaka dengan cara ini dan itu. Paling penting bagi Jim adalah selalu berelasi dengan Kristus dan secara otomatis itu mengalahkan dosa.

Melihat pergumulan Jim, Alkitab mengajarkan supaya kita terus menerus bersekutu di dalam Kristus dan disanalah sumber kekuatan dan pertumbuhan. Di dalam menghadapi dosa, kita jangan berpusat pada dosa dan juga pada diri kita sendiri untuk mengatasi dosa, tetapi kita harus berelasi dengan Kristus yang membawa kita kepada kemenangan. Seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kita harus bergantung dan senantiasa berpegang pada Kristus. Ini adalah relasi pribadi antara kita dan Kristus.

Kembali kepada perumpamaan tentang penabur. Dari jenis tanah yang berbatu-batu dan tanah yang jatuh di semak belukar kita dapat belajar mengenai beberapa jenis pencobaan.

1.    Pencobaan masalah dalam kehidupan
Mengikut Kristus bukan hal yang mudah. Tetapi tidak ikut Kristus sebenarnya lebih sulit. Alkitab memberitahukan bahwa kuk yang Tuhan Yesus pasang itu enak dan beban itu ringan. Tetapi dunia selalu menipu kita bahwa ikut Tuhan itu sulit. Ketika kita mengikut Tuhan maka Alkitab mengajarkan kita akan menderita aniaya. Seseorang yang mau hidup saleh akan menderita penganiayaan. Dan ketika penganiayaan ini datang maka kita dihadapkan pada realita hati kita. Apakah kita lebih suka diterima banyak orang dan mengalami kenikmatan dengan hal itu ? Ataukah kita memilih memikul salib menderita diejek, dihina, dan dilecehkan ? Ketika penganiayaan ini datang maka kita dihadapkan pada dua pilihan : apakah kita lebih baik tidak menderita dan lebih enak secara daging ataukah kita rela seperti Kristus yang menderita ? Panggilan orang Kristen adalah panggilan untuk menderita. Panggilan untuk menderita adalah panggilan untuk bersekutu di dalam penderitaan Kristus. Panggilan ini untuk selalu bergantung kepada Tuhan dan berelasi denganNya. Kedagingan kita tentunya tidak menyukai hal itu. Kedagingan kita lebih suka hal-hal yang nikmat bagi tubuh kita. Kedagingan kita lebih suka kita merdeka dan berjalan sendiri.

2.    Pencobaan mengenai kekuatiran dan harta duniawi
Mengikut Kristus adalah mengutamakan Kerajaan Allah diatas materi kita. Mengikut Kristus adalah mempercayai Tuhan sebagai pemelihara hidup kita. Kita dipanggil untuk mencari kerajaan Allah dan kebenarannya. Dan panggilan ini mengharuskan kita mengutamakan Tuhan diatas segalanya termasuk karir, masa depan kita, keuangan kita, dan kenikmatan kita. Tentunya kedagingan kita tidak menyukai hal itu. Kedagingan kita lebih suka menggantungkan hidup kita pada materi sebagai berhala. Daripada bergantung kepada Tuhan yang tidak kelihatan lebih aman bergantung kepada uang yang kelihatan. Apalagi dengan mengikut Tuhan kita dipanggil bukan untuk memupuk kekayaan tetapi untuk menjadi saluran berkat. Tetapi kedagingan kita ingin supaya diri kita dipuaskan dengan pemupukan kekayaan kita. Kita ingin semuanya untuk kita. Kita ingin nikmat dan bahagia dengan uang kita. Pencobaan akan kekayaan ini makin kuat terasa ketika konteks kehidupan dunia memberikan kita wawasan bahwa hidup itu sulit, hidup harus berjuang keras, hidup harus produktif dan menghasilkan ini dan itu, hidup harus menghasilkan materi banyak sehingga kita bahagia, ikut Tuhan itu susah dan menderita, tanpa materi kita akan menderita. Ini adalah pencobaan yang membuat kita tidak bertumbuh. Mengapa ? Sebab kekuatiran kita membunuh iman kita.

Yesus Kristus memberikan ajaran supaya kita jangan kuatir akan apa yang kita makan dan apa yang kita pakai. Semua itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Yesus Kristus mengajarkan supaya kita mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua akan ditambahkan kepadamu. Tuhan Yesus ingin kita menggantungkan hidup kita kepada Tuhan Allah sebagai pemelihara hidup kita yang berdaulat atas dunia ciptaan ini. Tuhan Yesus memberitahukan bahwa Bapa itu baik, mengasihi kita dan Dia tahu apa yang kita perlukan.  Karena itu kita harus berdoa dan bergantung kepada Tuhan. Panggilan kita orang percaya adalah untuk selalu berelasi dan bergantung kepada Tuhan. Dan kedagingan kita tidak suka akan hal itu. Kita diharuskan memilih.

Kesimpulan

Dari penjelasan mengenai perumpaan mengenai penabur maka kembali kita harus menyadari apa yang Alkitab katakan mengenai hati kita. Amsal 4:23 mengatakan : “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”  Hati kita yang sesungguhnya menjauh dari Tuhan memerlukan anugerah dari Tuhan supaya kita dapat menerima FirmanNya dan bertumbuh. Karena itu marilah kita berdoa kepada Tuhan untuk melembutkan hati kita menerima FirmanNya.

Tuhan Allah Bapa di surga,
Terima kasih untuk FirmanMu yang memberikanku pengertian
Saya seringkali berpikir diri saya baik
Sampai satu saat Kau singkapkan bahwa hatiku jauh daripadaMu
Seringkali hatiku terpikat pada dunia dan kenikmatanNya
Seringkali hatiku tidak percaya padaMu
Aku lebih suka memilih jalanku sendiri
Aku lebih suka menjadikan diriku pusat hidupku
Terima kasih Kau sadarkan keadaanku
Aku perlu anugerahMu
Aku perlu bergantung padaMu
Diluar Kristus aku tidak bisa berbuat apa-apa
Tuhan,
Tolong aku selalu bergantung kepada karya AnakMu di kayu salib
Supaya aku selalu berpegang pada Injil Tuhan Yesus
Dan aku percaya
Engkau akan membentuk aku semakin serupa dengan AnakMu
Dan itulah kerinduanku

Dalam nama Tuhan Yesus,
Saya berdoa dan mengucap syukur
Amin

Jeffrey Lim
www.iccccty.com
18-12-2012

Read More ....

A Matter of Perspective: Depressed Christian or Christian who struggle with Depression ?

Ketika orang percaya mengalami depresi bahkan depresi yang berkepanjangan maka penting untuk melihat perspektif yang benar mengenai hal ini. Mana yang benar : orang percaya itu adalah seorang Kristen depresi ( Depressed Christian ) atau seorang Kristen yang bergumul dengan depresi ? Sepertinya kedua hal ini seperti mirip tetapi berbeda.

Perspektif seorang Kristen Depresi ( Depressed Christian ) mempunyai implikasi bahwa depresi itu melekat dengan diri orang itu. Depresi dapat dipandang sebagai sesuatu yang besar dan tidak dapat dipisahkan dari orang percaya itu. Bahkan yang lebih parah seseorang dapat memandang identitas dirinya pertama dirinya sebagai seorang yang depresi dan kedua sebagai seorang Kristen. Identitas masalah menjadi lebih besar daripada status yang Tuhan Allah sudah berikan kepada dia sebagai orang percaya.

Perspektif yang lain melihat bahwa ketika seseorang Kristen mengalami depresi maka kita melihat bahwa orang percaya itu sedang bergumul menghadapi depresi. Perspektif ini mempunyai implikasi bahwa pertama seorang percaya itu orang Kristen dan kedua orang percaya itu bergumul menghadapi ujian pencobaan depresi.

Perspektif kedua adalah perspektif yang lebih tepat. Seorang percaya harus sadar bahwa dirinya adalah orang Kristen yang mempunyai tujuan hidup memuliakan Tuhan dan untuk dibentuk menyerupai Kristus. Orang percaya sudah diampuni dan dibenarkan dihadapan Allah dan sedang di dalam proses pengudusan untuk menjadi serupa dengan Kristus oleh pekerjaan Tuhan sendiri. Dengan demikian orang percaya sadar bahwa depresi bukan identitas yang melekat dan selamanya melainkan sebagai ujian pencobaan dimana keadaan ini dapat Allah pakai untuk memprosesnya menjadi lebih serupa dengan Yesus Kristus.

Perspektif ini dapat kita perluas. Misalnya : orang percaya itu adalah seorang Kristen bipolar ( Bipolar Christian ) atau seorang Kristen yang bergumul dengan bipolar ? Seorang percaya itu adalah seorang Kristen schizophrenia  atau seorang Kristen yang bergumul dengan Schizophrenia ? dst dst

Semoga perspektif yang lebih tepat membantu kita memilah bahwa orang Kristen yang menderita mempunyai harapan karena yang terutama dia adalah orang percaya Tuhan dan tentunya dikasihi Tuhan.

Jeffrey Lim
16-12-2012
www.iccccty.com

Read More ....

Ketika tubuh jiwamu lemah dan tidak dapat pulih seperti semula ( bahkan terus degenerasi )

Ketika dunia jatuh dalam dosa maka ada realitas sakit penyakit di dalam dunia ini. Penyakit-penyakit ini dapat mempengaruhi fisik dan jiwa seseorang menjadi tidak berfungsi normal seperti semula.  Dan tentunya ini adalah satu penderitaan. Seringkali penderitaan ini mengganggu, menggelisahkan dan membuat kita mempunyai keinginan besar untuk sembuh. Ada yang mencari obat-obatan, mencari dokter hebat, mencari orang pintar, doa terus menerus kepada Tuhan bahkan hadir di dalam kebaktikan yang menawarkan mujizat kesembuhan. Namun seringkali di dalam pengalaman beberapa orang bukan saja tidak sembuh seperti semula maka semakin degenerasi. Di dalam kasus seperti ini bagaimana kita memaknai pengalaman tidak sembuh seperti ini ?

1.    Realita dunia ini fana dan sementara
Dunia ini adalah pancaran kemuliaan, kekuatan dan kebaikan Tuhan namun bukan Tuhan itu sendiri. Dunia ini ibarat bulan yang memantulkan sinar matahari tetapi bukan matahari ini sendiri. Apalagi dunia ini sudah jatuh dalam dosa sehingga makin jauh dari pancaran kemuliaan. Kekuatan dan kebaikan Tuhan. Manusia yang jatuh dalam dosa ingin menikmati dunia ini dan tidak ingin menikmati Tuhan sebagai sumber sukacita sesungguhnya. Manusia mencari kenikmatan di dalam kesehatan, kekayaan, seksualitas, keluarga, makan minum, kekuasaan, dsb. Tetapi semua ini tidak memuaskan hati manusia yang sedalam-dalamnya sebab kepuasan sejati hanya dapat dipenuhi di dalam Tuhan. Dengan adanya realita sakit penyakit yang tidak dapat sembuh baik secara tubuh maupun psikis membuat kita menyadari bahwa dunia ini fana dan sementara. Kesehatan ini sementara. Fisik dan jiwa kita akan terus degenerasi dan akhirnya kita mati.

2.    Berharap kepada tubuh kebangkitan
Dengan adanya penyakit yang tidak dapat sembuh seharusnya membuat kita berharap akan tubuh kebangkitan di masa depan. Di dalam dunia ini ada realita kerusakan bahkan sampai kematian. Tetapi kita orang percaya punya pengharapan bahwa di masa depan ada tubuh kebangkitan dimana tubuh ini tidak dapat rusak untuk selama-lamanya. Pengharapan  dunia yang akan datang bersama dengan Yesus Kristus seharusnya menjadi sukacita dan pengharapan kita ketika menghadapi degenerasi tubuh jiwa di dalam dunia yang fana ini. Ada hidup yang kekal di sana.

3.    Mengkaitkan penderitaan tubuh jiwa kita dengan persekutuan penderitaan bersama dengan Kristus
Penderitaan tubuh jiwa kita menjadi hal yang terasa sia-sia bila kita tidak mengerti makna rohaninya. Ketika kita berbicara mengenai penderitaan kita harus sadar bahwa Yesus Kristus Anak Allah datang ke dunia ini untuk menderita bagi umatNya. Yesus Kristus menderita bahkan sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa umat pilihanNya. Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus imam besar agung turut merasakan penderitaan kita. Dia sendiri seorang yang biasa menderita dan menanggung kesakitan.  Ketika tubuh jiwa kita menderita, seharusnya kita merefleksikan bahwa Kristus pun pernah menderita. Ketika kita menderita karena dosa kita maka Kristus menderita bagi dosa kita. Penderitaan kita membuat kita lebih dapat mengerti kasih Allah kepada kita karena Yesus Kristus pun menderita bagi kita.

4.    Fokus pada hal-hal yang di atas
Ketika dunia ini fana dan tubuh jiwa kita mengalami degenerasi maka seharusnya membuat kita fokus kepada hal-hal yang diatas yang kekal. Penderitaan sakit penyakit seharusnya membuat kita lebih dekat dengan Tuhan.

Jeffrey Lim
12-12-2012
www.iccccty.com

Read More ....

Melihat permasalahan dan problema tubuh dan jiwa manusia dari doktrin dosa

Mengapa ada ADHD ? Mengapa ada anxiety disorder? Mengapa ada social phobia ? Mengapa ada Schizophrenia ? Mengapa ada bipolar disorder ( dahulu dikenal sebagai manic depression ) ? Mengapa ada Multiple Personality Disorder ? Mengapa ada halusinasi ? Mengapa ada delusi ?  Mengapa ada Obsessive Compulsive Disorder ? Mengapa ada Sexual Addiction ? Mengapa ada homoseksual ? Mengapa ada penyakit baik secara fisik, psikis, emosional, spiritual ini dan itu ?

Jawaban sederhana ini adalah karena manusia sudah jatuh dalam dosa. Segala ketidaksempurnaan dan penyelewengan manusia dari aspek fisik, emosional, rasionalitas, moralitas, spiritualitas adalah semua karena dosa. Sakit penyakit secara fisik, emosional, moral-spiritual semua karena fakta kejatuhan. Di dalam teologi disebutkan bahwa manusia sudah rusak total ( total depravity ). Rusak total berarti seluruh aspek manusia sudah tercemar oleh dosa baik secara tubuh dan jiwa dan di dalam semua elemennya dari rasio, emosi, kehendak, tingkah laku, dsb. Rusak total bukan berarti manusia seburuk-buruknya dan sejahat-jahatnya. Rusak total secara sederhana adalah manusia di dalam seluruh keberadaan dan aspeknya tercemar oleh dosa dan tidak ada bagian yang steril dimana bagian itu tidak tersentuh oleh dosa. Permasalahan tubuh dan jiwa manusia terjadi karena akibat kejatuhan manusia secara umum atau dapat juga karena dosa aktif secara individu.

Ketika kita sedang berbicara bahwa masalah tubuh jiwa manusia karena akibat kejatuhan doa secara umum maka kita akan dibawa ke dalam pemahaman realita bahwa  seluruh penderitaan manusia di dalam dunia ini karena kejatuhan manusia dalam dosa. Dan ketika kita berbicara bahwa masalah tubuh jiwa seseorang karena akibat dosanya aktif secara individu maka manusia tidak bisa berdalih dan melarikan tanggung jawab pribadinya. Seseorang homoseksual tidak bisa mengatakan bahwa dia mempunyai gen homoseksual dan menyalahkan gen-nya yang membuat dia berdosa. Seseorang pembunuh dan pezinah tidak dapat mengatakan bahwa masalah moral spiritual dia karena ketidakseimbangan kimiawinya di otak dan sama sekali bukan tanggung jawabnya. Manusia memang mahluk kompleks yang terdiri aspek tubuh dan aspek jiwa. Tubuh adalah aspek fisik yang kelihatan dan jiwa adalah aspek yang bukan materi. Tubuh manusia dapat rusak karena kejatuhan manusia dalam dosa. Dan tubuh yang rusak ini dapat merangsang perbuatan dosa dengan lebih kuat. Tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa tindakan perbuatan yang bermasalah secara moral spiritual karena masalah tubuh belaka. Kita harus melihat bahwa tindakan berdosa yang aktif manusia adalah karena keingingan hatinya yang berdosa yang dijalankan. Doktrin dosa membuat kita melihat perspektif masalah manusia dengan akurat dan benar.

Permasalahannya adalah ketika kita mengatakan bahwa seluruh masalah manusia ini akibat dosa apakah kita sedang pesimis dan tidak mempunyai pengharapan ? Justru tidak ! Sebaliknya ada harapan sebab anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus mengatasi permasalahan dosa. Dosa tidak bisa menyebar serusak-rusaknya karena anugerah umum. Manusia dapat dipulihkan dari akibat dosa karena anugerah khusus. Anugerah Tuhan selain menahan dosa ( common grace ) juga menyelamatkan manusia dari dosa ( special grace ). Karya Kristus di kayu salib mengalahkan kuasa maut. Upah dosa ialah maut. Karena dosa maka manusia akan mati secara tubuh fisik. Namun lebih dari itu yang mengerikan adalah akibat dosa manusia mati secara rohani yaitu terpisah dengan  Tuhan Allah sebagai sumber hidup. Tetapi anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus mengalahkan kuasa maut dan mendamaikan kita dengan Tuhan Allah. Kematian Kristus di kayu salib mematikan dan mematahkan kuasa dosa. Karena itu orang yang percaya pada Kristus satu saat akan mengalami kematian fisik tetapi tidak akan mengalami kematian rohani. Mengapa ? sebab  maut sudah dikalahkan dan orang percaya yang berada di dalam Kristus Yesus diampuni dan dibenarkan di hadapan Allah. Mereka sudah diselamatkan dari murka Allah dan satu saat pada kedatangan Yesus kedua akan masuk ke dalam surga bersama Tuhan Allah.

Ketika kita sedang berbicara tentang keselamatan di masa depan maka bagaimana dengan masa kini ? Pengampunan dosa dari Tuhan Allah di dalam Kristus menyelamatkan kita dari dosa masa lalu, masa kini dan masa depan. Tetapi bagaimana dengan hidup kita di dalam dunia ini ? Ketika dosa merusak segala aspek kehidupan manusia bagaimana di dalam hidup ini dapat terjadi pemulihan dari dosa? Jawaban dari pertanyaan ini ada di dalam doktrin pengudusan.  Anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus selain mengampuni dosa dan membenarkan manusia dihadapan Allah maka juga menguduskan anak-anak Allah untuk semakin serupa dengan Tuhan Yesus. Roh Kudus sebagai materai keselamatan orang percaya, tinggal diam di dalam diri orang percaya ketika mereka lahir baru. Tidak hanya tinggal diam untuk selama-lamanya tetapi Roh Kudus terus bekerja untuk menguduskan orang percaya. Pengudusan ini melalui sarana anugerah yaitu Firman Tuhan, doa, persekutuan orang kudus dan sakramen. Saya percaya sarana anugerah ini bukan hanya hanya di bagian yang bersifat rohaniah tetapi juga diperluas di bagian yang bersifat jasmaniah seperti obat, nutrisi, vitamin, olah raga, dsb.

Orang-orang yang mengalami permasalahan psikis seperti bipolar disorder, ADHD, Obsessive Compulsive Disorder, Anxiety Disorder, dsb bukan tanpa harapan. Pengudusan di dalam anugerah Tuhan dapat terjadi. Roh Kudus mampu menguduskan penderita. Ini bukan berarti satu hal yang mudah dan bukan berarti akan sempurna total. Kesempurnaan hanya ada di dalam kemuliaan ketika kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Di dalam dunia ini penderita tidak bisa mencapai sempurna. Penderita dapat jatuh bangun. Tetapi seperti kata Alkitab bahwa orang benar jatuh tujuh kali dan bangun kembali. Anugerah Tuhan selain menahan dosa juga menguduskan karakter anak-anak Tuhan untuk semakin lebih menyerupai Kristus.

Jeffrey Lim
11-12-2012
www.iccccty.com

Read More ....
Powered By Blogger

LIMPINGEN BLOG