I live in God's creation












Pages

Thursday, January 12, 2012

When Emptiness, Dreadfulness and Despair meet the Grace of God

When Emptiness, Dreadfulness and Despair
meet the Grace of God
Revisi ke-3
Jeffrey Lim

   Daftar Isi 
           A. Pengantar

      B. Isi
I.             I.          Cerita mengenai hidup di dalam keluarga
II.                Perasaan kekosongan dan hampa sejak kecil dan remaja
III.             Banyak pemikiran dan ide yang saling konflik dan bertabrakan
IV.             Kekacauan dalam pikiran dan emosi
V.                Kabur dari rasionalitas menuju ke spiritualitas
VI.             Agama dan perasaan bergantung kepada yang absolut
VII.          Obat-obatan dan perasaan
VIII.       Skeptis terhadap psikiatris dan tercerahkan oleh Konseling Biblika
IX.             Hidup yang berangsur-angsur mulai pulih
X.                Rasionalitas, emosionalitas dan spiritualitas yang berangsur-angsur dipulihkan
XI.             Refleksi Tentang Obat
XII.        Refleksi mengenai keutuhan rasionalitas, emosionalitas, naturalitas, spiritualitas dan dignitas manusia di dalam terang Firman Tuhan
C. Penutup



When Emptiness, Dreadfulness and Despair
meet the Grace of God
Jeffrey Lim

“Roh Tuhan ada pada-Ku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang”. ( Lukas 4:18-19)

A.    PENGANTAR

Bersyukur kepada Tuhan yang memberikan saya pemahaman dan pengertian sehingga saya boleh menuliskan perenungan singkat di dalam buku ini. Saya hendak menceritakan bagaimana pekerjaan Sang Kekal itu yang menyelamatkan saya dan membawa saya keluar dari malapetaka dan kehancuran hidup yang mengerikan. Saya bersyukur akan Tuhan Allah Tritunggal yang kembali membawa saya ke dalam relasi denganNya dan dengan sesama dan tubuh Kristus. Aspek yang dilalui mungkin cukup kompleks dan rumit, karena itu saya mencoba merangkum dan mencuplik ide utama secara garis besar saja. Sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa buku ini bukan satu buku akademis. Konsep-konsep filsafat dan pemikiran di dalam buku yang saya gumuli ini mungkin bukan dipahami secara penuh dalam arti sepenuhnya sejarah filsafat dan filsafat dengan konsep-konsep detilnya.
Saya memang seorang yang menggemari filsafat dan juga ada sedikit mempelajari sejarah filsafat walaupun mungkin seringkali patah dan tidak detil komprehensif. Tetapi bukankah ini satu hal yang realistik dan kebanyakan kitapun demikian ? Bukankah memang sangat nyata bahwa seringkali kitapun memahami sesuatu secara fragmentasi dan terbatas. Memang natur kita sebagai manusia pun terbatas. Tetapi  walaupun demikian saya berpendapat bahwa ketika saya mencoba menggumuli pergumulan hidup saya dan beberapa filsafat yang menawan hidup saya maka saya percaya bahwa mungkin ini ada relevansinya dengan pergumulan orang lain juga. Mengapa ? Alasannya karena kita hidup di dalam dunia metafisika yang sama dan kita hidup adalah sama-sama manusia juga.  Dan mungkin apa yang saya alami juga dapat dialami orang lain juga. Jadi tujuan saya menceritakan ini adalah untuk supaya kita sama-sama belajar dari pengalaman satu sama lain. Saya berharap buku kecil ini bisa menjadi berkat.
            Buku ini juga bukan buku cerita otobiografi pergumulan saya yang lengkap dan detil tetapi hanya cuplikan garis besar saja. Sebagian besar pengalaman memang disajikan secara linear waktu. Namun cara penyusunannya juga ada bersifat topikal. Di atas semua itu maka semua yang ditulis disini adalah kisah nyata yang saya alami sendiri baik secara fisik, psikologis, pemikiran, relasional dan juga kerohanian. Kalau cerita ini banyak nuansa kejatuhan dan penderitaan sebenarnya tujuan saya adalah untuk membukakan bahwa sebenarnya ada harapan yang real bagi saya dan orang-orang yang menderita lainnya. Ada penebusan yang dapat memberikan pengharapan. Saya sendiri mengalami ini dan rindu orang lain mengalaminya juga. Ada baiknya saya memulai cerita singkat ini.

  B. ISI

I.                   Cerita mengenai hidup di dalam keluarga

Perkenalkan saya seorang yang bernama Jeffrey Lim. Seorang anak laki-laki yang dilahirkan pada tanggal 7 Juni 1980 di dalam keluarga Taslim. Papah saya bernama Jemmy Taslim dan Ibu saya bernama Ita Sayuri. Saya mempunyai dua orang cici ( Esther dan Evelyne ) dan satu orang adik laki-laki yang usianya beda 2 tahun dengan saya yang bernama Ivan Taslim.
Cerita ini dimulai dari orang tua saya. Papah saya mempunyai latar belakang keluarga yang cukup unik. Kakek saya sendiri adalah seorang konglomerat yang pernah mempunyai pabrik, tokoh masyarakat dan lebih dari itu kakek saya adalah seorang pejuang negara. Pada saat dia meninggal dunia maka ada upacara kehormatan secara militer. Papah saya seorang yang menurut banyak orang adalah seorang yang genius. Kepintaran dia terutama adalah di dalam bidang teknis, elektro, matematis, fisika dan kimia. Dia seorang yang kuat di dalam ilmu pengetahuan alam. Walaupun sekolah hanya sampai lulus SMA namun seringkali di dalam prestasi hidupnya pengetahuannya setara dengan kelas Master atau bahkan doktoral. Papah saya yang mempunyai multitalenta sejak muda mempunyai karakter yang tangguh, keras dan militan.
Dikontraskan dengan papah saya yang lebih rumit maka ibu saya sendiri adalah seorang wanita sederhana yang rajin bekerja. Beliau lahir dari keluarga toko emas. Tingkat pendidikan ibu saya pada jamannya hanya sampai kelas 1 SMP namun beliau mempunyai hikmat bijaksana di dalam hidupnya dan yang terutama ibu saya mempunya iman kepada Tuhan.
Bila saya merefleksi ke belakang maka kesan yang saya dapatkan mengenai keluarga saya adalah penuh dengan dinamika, gelombang dan tekanan. Saya sendiri tidak mau terlalu banyak menceritakan negatif mengenai keluarga saya. Saya bukan dipanggil untuk itu. Namun secara singkat saya hanya menceritakan bahwa papah adalah seorang yang sangat keras dan seringkali ada konflik dengan mamah dan ini berakibat besar kepada pembentukan hidup saya sejak kecil sampai sekarang. Memang kalau ditelurusi banyak konteks yang bisa membuat kita mengerti. Usaha papah yang besar yaitu supermarket pernah hancur kebakaran. Usaha pabrikpun mengalami kebangkrutan dan hutang yang banyak. Konteks ekonomi, konflik dan pergumulan hidup membuat hidup kami di dalam keluarga seringkali selalu berada di titik tegang.


II.                Perasaan kekosongan dan hampa sejak kecil dan remaja

Sejak kecil saya memang seorang yang cukup hiperaktif dan nakal. Sebenarnya saya dikenal dengan seorang yang jahil dan usil. Ketika saya masuk Taman Kanak-Kanak maka hari pertama saya masuk saya sudah memecahkan kaca jendela dengan tangan saya karena saya tidak mau berpisah dengan mamah saya. Pulang dari sekolah tangan saya dibalut perban. Kemudian ketika saya masuk SD, saya seringkali lalai di dalam pelajaran dan tiap caturwulan orang tua saya selalu dipanggil. Masalah yang sering terjadi adalah lalai dan ceroboh. Tidak bawa ini dan itu dan juga seringkali main-main dan tidak memperhatikan guru mengajar di dalam kelas.
Mamah saya di dalam kesibukan hidup beliau yang juga mencari nafkah ada sisi tidak bisa sepenuhnya memperhatikan saya. Mamah melihat bahwa nilai saya cukup lumayan dan tidak merah. Karena itu dia sudah cukup puas. Memang mamah juga pernah bercerita bahwa dia sering mendoakan saya di antara anak yang lain karena dia tahu di antara semua anak, saya yang paling nakal.
Ketika masuk kelas 4 SD saya pernah hampir tidak naik kelas karena pengaruh satu teman yang negatif. Kami berdua sama-sama menjadi kompak sering mengacau di dalam kelas dan sering tidak memperhatikan pelajaran. Saat itu memang ayah saya dengan tepat bertindak keras dan memukuli saya dan memaksa saya belajar setiap hari. Waktu kelas 5 SD peringkat saya menjadi 10 besar dan kelas 6 SD peringkat saya menjadi 3 besar. Kadang ada bangganya ketika grafik hidup saya yang tadinya ada di bawah bisa naik ke atas. Orang tuapun saat itu sepertinya ada perasaan bangga akan anaknya yang cukup lumayan.
Namun di balik semua cerita ini sebenarnya saya seringkali mengalami kekosongan hidup. Saya sering mengalami stress dengan keributan yang terjadi di dalam rumah antara papah dan mamah. Saya sering merasa hampa dan sesak di dalam batin saya. Pernah saya bangun di pagi hari dengan batin sesak dan saya merasakan segenap ruangan di sekitar saya begitu mencekam. Perasaan saya sangat tertekan dan sesak. Tetapi saya tidak tahu harus berbicara dengan siapa ? Saya sering mengalami bangun di malam hari dan gelisah. Keringat dingin sering membasahi saya di saat saya terbangun di malam hari. Dari sejak dulu saya sering mengalami setiap malam ada bayangan yang menindih dan membuat saya sesak. Awalnya saya mengira itu setan. Tetapi setelah belajar psikologi maka saya tahu bahwa itu sebenarnya adalah keadaan yang stress.
Pernah saya sewaktu memasuki usia remaja, di dalam tubuh saya terjadi perubahan. Saya tidak mengerti kenapa seorang pria mengalami pertumbuhan di dalam tubuhnya. Kemudian ketika saya sedang mandi dan shower tiba-tiba saya mengalami perasaan kekosongan dan perasaan teror yang luar biasa. Salah satu cara menyadari emosi utama kita adalah dengan peka dengan emosi kita dan masa-masa mandi di shower adalah momen yang seringkali membawa kita kontak dengan emosi utama kita. Secara biologis saya merasakan bahwa tubuh saya bertumbuh dan saya tidak mengerti apa yang terjadi. Secara eksistensial saya mulai berpikir apa yang akan  terjadi di masa depan ? Saya mulai merasakan perasaan eksistensial yang dalam. Saya merasakan saya ini hidup real tetapi gelisah dan kuatir. Saya kuatir bila saya mati, hidup saya akan hilang semua. Saya bingung dengan arti hidup saya.
Sejak masuk SMP saya sudah mulai tidak memperdulikan sekolah. Tiap hari saya bawa semua buku pelajaran dan tidak pernah membereskan buku. Saya pun tidak pernah membuat PR dan belajar dalam ujian. Setiap hari hanya bertahan hidup menyalin jawaban dari orang lain mulai dari PR sampai ujian. Saya mulai merasakan pelajaran sekolah tidak ada gunanya. Mungkin saya pada saat itu mempunyai filsafat hidup yang pesimis dan nihilis. Semua tidak ada artinya.
Tetapi bila semua tidak ada artinya maka kenapa saya merasakan haus akan arti ? Saya sendiri merasakan haus akan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apa itu. Awalnya mungkin saya mengisi kehausan itu dengan tindakan yang bisa diakui oleh teman-teman. Saya seringkali menjadi pengacau di dalam kelas dan membuat lelucon yang sering ditertawakan teman-teman. Dengan tindakan yang eksistensial maka saya merasakan diri saya ada sedikit makna karena teman-teman mengakui itu dan menyenanginya. Tetapi saya tetap sesak dan kosong. Perasaan bersalah saya semakin dalam.
Inti dari masa kecil dan remaja yang saya alami adalah perasaan hampa, kosong dan eksistensial. Rasanya saya mengalami teror secara psikis yang saya sendiri tidak tahu apa itu. Sungguh sangat mengerikan.

III.             Banyak pemikiran dan ide yang saling konflik dan bertabrakan

Memasuki SMA kelas 1, saya dipilih menjadi ketua angkatan pecinta alam SAMANTA . Menjadi ketua angkatan pecinta alam adalah sesuatu yang membanggakan bagi saya saat itu. Pada saat itu saya jatuh cinta dengan seorang gadis di sekolah saya. Saya sering lari pagi bersama dia dan juga kadang kita ada jalan bersama dan kemudian makan bersama. Satu ketika saya pernah telpon dia di dalam sehari selama 7 jam. Saat itu saya menceritakan kepada dia bahwa saya ada hati sayang kepada dia. Tetapi saya tidak mengerti kenapa psikologis saya tiba-tiba menangis dan kacau. Saya merasakan satu pikiran yang aneh dimana saya tiba-tiba tidak percaya diri, minder dan sekaligus takut mencekam dan kuatir kehilangan dia.
Kemudian ada satu saat di mana gadis itu menceritakan bahwa dia hanya mau saya menjadi teman saja dan tidak lebih dari itu. Untuk usia yang cinta monyet itu saya  menganggap dunia seperti tamat dan geledek menyambar. Maka waktu SMA kelas 1 sampai  kelas 2 itu saya setiap hari menggambar muka dia berulang-ulang di dalam kertas sambil mendengarkan lagu-lagu yang bernuansa pesimis. Saya ingat dulu saya suka mendengar lagu-lagu Michael Learn to Rock yang nuansanya pesimis bahkan banyak kegagalan dalam cinta.
Waktu kelas 2 SMA saya tidak lagi fokus kepada pelajaran sekolah dan juga penampilan saya. Tiap hari saya merasakan pelajaran sekolah semakin tidak berarti. Maka saya mulai mencari banyak buku di luar. Awalnya mulai dari buku Sam Kok, buku-buku Kho Ping Hoo, kemudian masuk ke dalam buku-buku pengembangan diri dan filsafat. Ada juga buku-buku tenaga dalam, meditasi dan juga gerakan jaman baru yang saya pelajari.
Dari membaca buku saya sepertinya menemukan makna yang tidak saya dapatkan di sekolah. Saya berpendapat bahwa sekolah lebih bodoh dari saya karena mereka terpaku pada sistem pengajaran yang kolot. Saya belajar ilmu yang lebih menarik di luar. Tetapi lama-lama saya belajar sendiri saya tiba-tiba makin sesak dan makin tersesat.
Konsep-konsep di dalam buku yang satu bertentangan dengan konsep buku yang lain. Saya membaca buku bagaimana menjadi bahagia tapi saya tidak bahagia. Saya membaca buku bagaimana mempengaruhi orang lain tetapi saya walaupun banyak teman tetap merasa tersendiri. Saya membaca buku bagaimana berbicara public speaking namun ketika berbicara di depan kelas saya merasakan kosong. Ketika saya belajar meditasi untuk menenangkan jiwa ternyata jiwa saya makin tergoncang dan bergelombang. Ketika saya belajar untuk mengatur hidup saya dengan disiplin di dalam pengembangan diri ternyata hidup saya tetap berantakan.
            Makin lama saya makin kacau di dalam konsep hidup. Ada buku-buku yang mengajarkan supaya kita yang menentukan hidup kita sendiri. Kita yang menentukan makna hidup kita sendiri. Ada buku-buku juga yang menawarkan bagaimana membangunkan raksasa di dalam diri. Ada buku-buku yang mengajarkan bagaimana mengendalikan pikiran dan mental emosi. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Pikiran, mental dan emosi semakin kacau.
Kemudian saya mulai terjerumus ke dalam buku-buku psikologi. Waktu itu saya membaca buku Analisa Transaksional. Teori dalam buku itu berpendapat bahwa di dalam diri kita ada unsur orang tua, dewasa dan anak. Unsur orang tua bersifat menekan. Unsur anak bersifat liar. Dan kita harus mengatur dengan unsur yang dewasa baru kita bisa makin dewasa. Saya melihat teori ini ada kemiripan dengan teori Sigmund Freud tentang id, ego dan superego walaupun dikemas dengan bahasa yang berbeda. Maka saya mulai masuk ke dalam dunia psikoanalisa diri dan menggali ke dalam batin sendiri. Saya mulai menggali ke inner self saya.
Dan ada hal mengerikan yang saya alami ketika saya mempelajari ilmu-ilmu di dalam dunia ini untuk mencari jalan keluar akan makna hidup dan kesesakan ini. Saya mengalami pemikiran saya seperti bagaimana Hegelian memandang realitas.  Satu pemahaman tesis bertemu dengan antitesis dan kemudian menghasilkan sintesis. Ide yang satu yang saya anggap benar namun tiba-tiba saya menemukan itu salah dan saya coba tinjau ulang dan memperbaiki lagi  konsep yang salah menjadi satu pemahaman lain dan begitu seterusnya. Betapa mengerikan hal ini dan sungguh melelahkan. Mengapa ? Sebab hidup saya dari satu ketidakpastian menuju ketidakpastian lainnya. Dari satu relatif menuju ke satu relatif lainnya. Dari satu juruselamat palsu kepada juruselamat palsu lainnya. Karena fondasi selalu berubah maka hidup saya ada di dalam garis keputusasaan. Di dalam keputusasaan ini maka saya mencoba bertahan hidup. Mungkin pemahaman Jean Paul Satre saya coba hidupi dimana saya menentukan esensi hidup saya. Di dalam kekosongan hidup ini saya mengambil langkah iman buta ( blind faith ) kepada tindakan-tindakan eksistensial dan menghidupinya. Yah kehidupan ini konteksnya bertahan hidup dan hidup ini dijalani dengan tabrak sana sini dalam kegelapan.

IV.             Kekacauan dalam pikiran dan emosi

Ketika saya mulai putus asa di dalam hidup ini, pikiran dan emosi saya mulai kacau. Saya sering mengalami halusinasi suara. Kehidupan saya sendiri saya sadar makin lama makin disintegrasi. Saya suka bingung mengapa saya suka lupa jadwal ini dan itu. Saya juga makin bingung kenapa saya sering letih lesu dan kemudian bangun dan lupa apa yang saya pikirkan sebelumnya. Saya mulai masuk ke dalam depresi yang makin dalam. Saya tidak mau terlalu detil menceritakan semua ini namun di dalam hidup saya ada beberapa fase di mana saya mengalami kekacauan mental. Perasaan teror dan paranoid sering saya alami. Saya merasakan sepertinya orang-orang mau menjahati saya. Padahal semua itu bohong belaka. Saya mengalami kekacauan. Mungkin saya mengalami seperti yang Friedrich Nietzche alami. Tetapi kalau refleksi balik sekarang ini saya bersyukur bahwa dalam anugerah-Nya saya tetap bisa balik.

V.                Kabur dari rasionalitas menuju ke spiritualitas

Di saat mengalami putus asa dengan rasionalitas saya mencoba melakukan praktek-praktek spiritualitas timur. Bukankah ajaran-ajaran gerakan jaman baru menjanjikan satu kedamaian bagi mereka yang mengikuti meditasi mengosongkan pikiran dan menyatu dengan alam. Maka saya ingat dulu di saat tekanan-tekanan batin makin banyak maka malam-malam saya berendam di air dingin dan mencoba melatih meditasi. Saat itu saya merasa tersendiri. Ketika saya mau masuk ke dalam suasana yang void saya tetap merasakan keberadaan diri saya yang sendiri. Bagaimana mungkin saya yang ada ini harus menjadi tidak ada dan menikmati kedamaian di dalam ketidakadaan ? Bukankah keberadaan saya ini tetap ada dan ada di dalam kekosongan, teror dan tekanan ? Mungkin saya harus belajar ilmu yang lebih tinggi supaya saya lebih bisa menyatu dengan alam ! Sebab pikiran dan rasio saya adalah musuh saya ! Ketika saya berpikir maka keberadaan saya makin terasa maka saya harus belajar tidak berpikir dan tenggelam ke dalam alam semesta. Maka saya coba mempraktikkan bagaimana untuk melebur dengan alam ini. Tetapi tetap saya tidak bisa. Saya tetap merasakan pikiran dan rasio saya berputar. Mengapa ? Apakah saya masih kurang hebat ilmunya ? Ataukah sebenarnya ini adalah anugerah yang Mahakuasa mencegah saya terlibat lebih dalam dengan kebatinan ? Kalau refleksi balik maka sekarang saya percaya bahwa tangan Yang Mahakuasa tetap menahan saya supaya saya tidak masuk ke dalam ilmu yang lebih dalam.
Adalah satu berkat di mana saya boleh merasakan keberadaan jiwa yang sesak dan menyakitkan ini supaya saya dibawa ke satu posisi di mana saya harus menyadari bahwa saya membutuhkan Sumber Air yang Hidup.


VI.             Agama dan perasaan bergantung kepada yang absolut

Karena jiwa saya begitu haus akan kerohanian dan hal-hal batiniah maka saya terus mengkonsumsi spiritualitas Gerakan Jaman Baru. Memang saya sejak kecil tumbuh di dalam Gereja Injili dan saya juga ada belajar beberapa teologi dari Reformed. Tetapi karena memang pikiran saya sudah campur aduk maka pengajaran Firman yang kuat itu tidak menjadi fondasi hidup saya. Malahan spiritualitas dari Gerakan Karismatik pada saat itu menarik hati saya. Memang benar sangat sulit untuk berpikir tenang rasional dengan doktrin yang kuat pada saat jiwa sedang galau. Menyanyikan lagu “Seperti rusa merindukan air, jiwaku merindukan Engkau” adalah lebih sensible bagi jiwa saya pada saat itu. Menyanyi sambil angkat tangan lagu-lagu yang bernuansa emosional kelihatannya lebih masuk akal bagi saya. Mengapa ? Sebab pada saat itu perasaan saya tersentuh. Perasaan keagamaan saya tersentuh. Dan juga sepertinya ada sedikit infusan perasaan damai ke dalam jiwa saya yang perasaannya sudah kacau. Saya seakan-akan mengalami perasaan bergantung kepada yang absolut. Saya tidak usah berpikir akan rasionalitas karena paling penting secara mistik saya merasakan kehadiran Tuhan dan damai sejahteranya. Pemikiran ini ada miripnya dengan pemikiran dari Schleiermacher sebagai bapak dari teologi modern.
Sepertinya spiritualitas seperti ini adalah jawaban bagi hidup saya. Namun sejujurnya spiritualitas seperti ini tidak mempunyai dasar rasionalitas yang kuat. Ketika saya sedang kacau pikirannya maka mereka hanya mengatakan bahwa di dalam diri saya ada setan dan mereka mengusir setan. Kemudian mereka mengatakan bahwa setannya sudah pergi tetapi saya bertanya-tanya mengapa perasaan kacau saya masih ada ? Mereka mencoba membaptis ulang saya. Saya pernah dibaptis waktu kecil dan di-sidi juga di GII Hok Im Tong Mengapa saya masih perlu dibaptis selam lagi bila saya sudah pernah dibaptis dalam nama Allah Tritunggal ? Tetapi karena pertimbangan saya adalah praktis sembuh maka apa peduli saya terhadap problem doktrinal pada saat itu ? Yang saya pedulikan adalah bagaimana sakit saya secara mental bisa pulih. Maka saya pernah dibaptis kembali di gereja Bethany Sydney dan juga di satu gereja karismatik lainnya. Saya benar-benar rindu apabila benar-benar ada baptisan Roh Kudus seperti konsep mereka maka saya akan mengalami kuasa Tuhan dan sembuh. Tetapi yang saya alami adalah tetap sama. Saya juga mempelajari bahasa lidah. Saya ingin bersekutu dengan Roh Kudus. Saya tahu bahwa Tuhan itu berkuasa. Maka saya ingin bersekutu dengan Dia. Saya diajari kata-kata yang diulang-ulang seperti mantera dan mereka semua mengucapkan kata-kata yang berbeda-beda. Saya pun mencoba apa saja yang keluar dari pikiran saya maka saya keluarkan di mulut saya dengan pikiran yang dikosongkan. Tetapi tetap saja perasaan kacau itu ada dan gelisah itu menguasai jiwa.


VII.          Obat-obatan dan perasaan

Berapa lama seseorang dapat bertahan secara normal bila semua fakultas pikiran dan emosinya dibombardir dengan pikiran dan perasaan yang kacau ? Berapa lama seseorang dapat bertahan dan hidup waras bila mengalami disintegrasi di dalam pemikirannya ? Berapa lama kekuatan fisik seseorang mampu menopang pikiran yang kacau ?
Maka pada saat itu ketika seseorang tidak dapat mengendalikan diri maka lingkungan akan mencoba mengendalikan dia. Solusi yang ditawarkan adalah obat penenang. Saya diberi obat antipsychotic untuk menenangkan jiwa saya. Diagnosa yang diberi adalah Schizo Affective Disorder dan belakangan ada yang mengatakan Manic Depressive. Saya mulai mempelajari istilah baru. Apa yang dimaksud dengan Schizo Affective Disorder ? Maka saya mulai googling ( cari di internet ) dan menemukan banyak pengalaman orang-orang yang mengaku didiagnosa Schizo Affective Disorder. Kemudian saya menemukan banyak yang mengatakan bahwa pengalaman itu seperti Hell on Earth (neraka dalam dunia). Ketika saya tenang karena makan obat penenang, maka pemahaman ini kembali bikin tidak tenang.
Saya coba pelajari lebih jauh. Ternyata Schizo Affective Disorder itu ada kaitan dengan Schizophrenia dan mood disorder : lebih ringan dari Schizophrenia tetapi lebih parah dari Mood Disorder. Saya mengkonsumsi obat Zyprexa dari Lily dan saya coba pelajari bahwa itu obat Schizophrenia. Schizophrenia mempunyai gejala positif dan negatif. Gejala positifnya adalah halusinasi dan delusi. Gejala negatifnya adalah kekurangan energi dan motivasi. Sepertinya saya sedikit menemukan pengertian mengenai kondisi yang saya alami. Pengertian ini lebih baik dibandingkan saya didiagnosa kerasukan setan. Saya rasa ini lebih manusiawi karena seakan-akan ada penjelasannya.  Tetapi ketika kembali menyelidiki perihal mengenai penyakit ini maka saya menemukan dari banyak artikel ilmiah mengatakan bahwa penyakit ini tidak bisa sembuh. Maka perasaan putus asa pun terus melanda walaupun fisik lebih tenang. Memang fisik saya sepertinya dilumpuhkan. Saya banyak sekali tidur dan teler. Fisik terasa lemas dan tidak bergairah. Tetapi hal itu lebih baik daripada pikiran saya terlalu aktif dan liar. Namun pertanyaannya adalah apa sesungguhnya yang saya alami ? Dapatkah saya pulih ?
Sebenarnya ketika saya kembali refleksi mengenai diagnosa dunia psikiatris, saya kembali menyadari bahwa di dalam sana tidak ada harapan kalau tanpa Tuhan Allah. Manusia dikotak-kotakkan ke dalam label dan kategori masalah-masalah. Sebenarnya kembali saya menyadari bahwa penamaan label ini juga akhirnya mereduksi manusia ke dalam label-label dan tipe-tipenya. Ketika hendak berlaku lebih manusiawi tanpa kebenaran Firman Tuhan maka akhirnya manusia dianggap menjadi impersonal dan kehilangan dignitasnya. Problematis dari labeling adalah sekali dilabel sulit untuk lepas dari label itu. Dan setiap label sudah ada cara penanganannya. Dalam kasus Schizo Affective Disorder adalah permanen makan obat dan terapi-terapi lainnya yang membantu.
Apakah labeling itu berbahaya dan tidak ada gunanya ? Ketika kembali merefleksi mengenai diagnosa psikiatris maka dengan adanya pemahaman teologi maka sebenarnya label-label ini berguna untuk mendiagnosa dan memetakan deskripsi pengalaman pikiran dan emosional apa yang kita hadapi. Labeling satu gejala bukan berarti esensi diri kita adalah labeling itu sendiri. Labeling itu hanya untuk menunjukan bahwa apa yang kita alami berbeda dengan apa yang orang lain alami. Labeling berguna dan ada tempatnya. Namun tidak boleh mereduksi manusia hanya menjadi kategori-kategori impersonal. Jangan takut dengan labeling. Tetapi jangan stop sampai dengan labeling.

VIII.       Skeptis terhadap psikiatris dan tercerahkan oleh Konseling Biblika

Satu saat saya membaca buku Competent to Counsel yang ditulis oleh Jay Adams. Beliau seorang yang mengajarkan konsep Konseling Biblika ( Biblical Counseling ). Di dalam bukunya beliau mengatakan bahwa cara menangani problema Psikis dengan cara Medical Model secara statistik tidak mempunyai dampak yang signifikan. Mengapa ? Karena pasien hanya dimengerti dan hanya dianggap sakit. Pasien tidak dibawa ke dalam satu wilayah tanggung jawab moral dan hidup. Karena itu Moral Model lebih baik. Dengan Moral Model maka pasien dibawa bertanggung jawab kepada sesamanya. Pasien harus menghadapi hidupnya dan bertanggung jawab dan harus meminta pengampunan dan  mengalami pengampunan dari sesamanya. Dengan demikian hati nurani pasien akan lebih baik dan akibatnya hidupnya menjadi tidak lumpuh.
Tetapi Jay Adams mengembangkan lebih jauh Konseling Biblika yang dengan tajam dan jelas membukakan satu konsep bahwa masalah utama pasien adalah dengan Tuhan Allah. Perasaan hampa, kosong, gelisah dan teror itu karena murka Allah, karena kita sedang bermusuhan dengan Tuhan Allah. Mengapa kita mengalami kegelisahan bahkan paranoid ? Karena di dalam setiap titik partikular alam semesta maka kita berhadapan dengan murka Allah. Dan manusia berdosa berusaha menekan kebenaran dengan kelaliman dan tidak mau menghadapi dosanya dengan Tuhan Allah. Akibat keterpisahan dengan Allah maka kitapun terpisah dengan sesama sehingga terjadi isolasi, kesendirian, kekosongan, curiga dan paranoid.
Pandangan  Jay Adams ini kemudian dilengkapi dengan generasi kedua dan ketiga dari Biblical Counseling yang lebih seimbang di dalam memandang medis dan dunia psikiatri. Di dalam generasi kedua dan ketiga dari Biblical Counseling maka apa yang dicapai di dalam dunia sekular di dalam psikologi dan psikiatri tidak dibuang namun ditata di dalam wawasan dunia Kristen. Ada wahyu umum dan anugerah umum di dalam dunia ini.
Selain dari pandangan Biblical Counseling maka pandangan Beautiful Risk dari Jim Olthuis membukakan pengertian yang lebih utuh tentang manusia dan masalahnya. Seringkali ketika kita memahami manusia dan masalahnya adalah hanya melihat masalah tubuh dan jiwa. Ini sebenarnya reduksi. Manusia jangan dipandang hanya sebagai individu yang punya tubuh dan jiwa. Siapakah saya bukan saja apa yang saya pikirkan, rasakan. Tetapi siapakah saya adalah bagaimana saya mengasihi dan bagaimana saya dikasihi. Jadi kita harus melihat manusia sebagai pribadi yang relasional satu sama lain. Pribadi saya adalah bukan saja apa yang saya pikirkan tentang saya tetapi apa yang Tuhan dan orang lain berelasi dengan saya.
Saya dibukakan satu pengertian bahwa bila melihat masalah psikis hanya fokus kepada masalah moral-spiritual maka itu satu reduksi. Saya menemukan pemahaman diri yang makin utuh bahwa masalah hidup kita bukan saja di dalam masalah moral-spiritual tetapi juga di dalam relasional dan psikososial. Saya menyadari bahwa yang dibutuhkan untuk pemulihan adalah hidup kasih di dalam Kristus Yesus dan di dalam relasi dengan sesama. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk mamah saya yang mengasihi saya. Terlebih itu saya bersyukur kepada karunia Tuhan yaitu istri saya yang mendampingi saya sehingga saya mempunyai relasi mengenal diri bukan saja dari diri saya sendiri tetapi dari dia yang menjadi bagian dari hidup saya. Istri saya Laura adalah pemberian Tuhan. Dia adalah dokter sehingga lebih mengerti kondisi saya secara medis dan lebih dari itu Laura seorang yang pengertian dan mau mendengar. Memah benar Alkitab mengatakan bahwa manusia tidak baik hidup seorang diri. Kehidupan personal yang sehat adalah berada di dalam relasi satu sama lain yang interdependen di dalam kasih. Bila hidup menyendiri maka hanya ada isolasi, kesepian dan juga paranoid.

IX.             Hidup yang berangsur-angsur mulai pulih

Dengan kembali menghadapi realitas bahwa saya seorang yang berdosa dan ada di dalam keterpisahan dengan Tuhan Allah dan keterpisahan dengan sesama maka justru saya menemukan satu jalan keluar. Ketika saya disadarkan bahwa saya seorang yang meninggalkan Tuhan Allah maka justru saya dibukakan akar masalahnya. Tetapi lebih dari itu bersyukur karena anugerah Tuhan bukan saja menginsafkan saya akan dosa dan kebenaran namun juga menuntun saya pulang kepada Bapa dan ke dalam relasi dengan sesama.
Saya kemudian mengaku dosa kepada Tuhan dan meminta anugerah-Nya. Saya menerima karya Kristus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia dan saya juga menerima kebangkitan Kristus yang membangkitkan rohani saya. Dengan iman saya menerima kasih-Nya, kebenaran-Nya dan damai sejahtera-Nya. Ketika saya merenungkan saya sadar bahwa ini adalah anugerah pemberian semata-mata dan bukan karya saya. Saya tidak layak dan seharusnya binasa tetapi Tuhan Yesus mengasihi saya dan mati untuk menggantikan dosa saya. Dosa saya ditimpakan kepada Tuhan Yesus dan kebenaran-Nya diberikan kepada saya. Kuasa darah-Nya menyucikan saya dari dosa dan kuasa dosa. Karena karya kematian Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya maka saya dibenarkan. Kristus menjadi kebenaran dan pengudusan saya. Saya mempunyai hidup yang baru. Masa lalu saya boleh gelap tetapi di dalam Kristus saya adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu tetapi sesungguhnya yang baru itu sudah datang.
            Oleh anugerah Tuhan, saya bukan saja dibawa dengan relasi vertikal namun akhirnya saya dibawa ke dalam relasi horizontal dengan sesama. Anugerah Tuhan memulihkan hubungan vertikal dan horizontal. Itu adalah salib Kristus.


X.                Rasionalitas, emosionalitas dan spiritualitas yang berangsur-angsur dipulihkan

Proses dari saya benar-benar mengenal Kristus secara pribadi, hidup dalam kasih dan relasi sesama membuat saya berangsur-angsur pulih. Tuhan Allah dengan Firman-Nya membukakan banyak hal ketidak konsistenan di dalam hati dan pikiran saya. Saya ada tertawan dengan dualisme Nature-Grace dimana saya memandang dunia “anugerah” lebih tinggi daripada dunia “natural”. Ini membuat saya tidak bisa menikmati bekerja dan hanya menikmati bila melakukan hal-hal “rohani”. Pikiran antitesis dualisme ini membuat hidup saya seringkali berada di kutub pendulum yang tegang-tegangan. Dalam anugerah Tuhan, saya menemukan Dialectical Behaviour Therapy yang memberikan wawasan kepada saya untuk menyelesaikan ketegangan ini yaitu dengan sintesis dan integrasi di dalam terang Firman Tuhan yang absolut. Ketika berhasil mengintegrasikan pemahaman yang bertegangan akhirnya terjadi satu kebebasan hati dan pikiran. Jika kita mengetahui kebenaran maka kebenaran itu akan memerdekakan kita.
Saya juga ada tertawan di dalam spiritualitas monisme dan Gerakan Jaman Baru untuk mengatasi perasaan saya yang impulsif dan bergejolak. Saya kembali menolak dan membuang itu semua. Saya disadarkan Roh Tuhan bahwa hidup saya bukan bergantung pada perasaan tetapi bergantung dengan iman kepada Tuhan dan Firman-Nya. Hari demi hari saya mengalami pembaharuan. Sebenarnya wawasan dari Cognitive Behavioural Therapy membantu saya untuk menata ulang emosi saya. Pikiran kita sebenarnya mempengaruhi emosi kita sehingga untuk merubah emosi adalah dengan merubah pikiran. Hanya di dalam terang Firman Tuhan dan Biblical Counseling saya menyadari bahwa perbedaan Cognitive Behavioural Therapy dengan Meditasi Alkitab adalah yang pertama referensinya adalah diri dan sifatnya tidak relasional dengan Tuhan sedangkan yang kedua adalah referensinya adalah Tuhan dan relasional dengan Dia. Di dalam proses menghadapi pergumulan pikiran dan emosi ini bukan berarti tidak ada jatuh bangun. Namun satu hal yaitu bahwa Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Apalabila Ia jatuh tidak sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangannya ( Maz 37 ). 

XI.             Refleksi tentang obat 

            Refleksi bagian ini adalah tidak mudah. Dahulu saya berpikir bahwa mengkonsumsi obat-obatan adalah sesuatu yang salah. It is an evil. Mengapa kalau kita sakit secara pikiran kita harus memakan obat-obatan yang biologis ? Saya ada di dalam ketegangan dualisme antara obat dan iman. Sebenarnya dalam hal ini kita harus mengerti bahwa tubuh dan jiwa adalah dua sisi mata koin dari satu keutuhan manusia. Ada psycho-somatic union. Tubuh yang sakit akan mempengaruhi pikiran. Demikian sebaliknya pikiran yang tidak benar akan mempengaruhi tubuh. Semua ini dapat mempengaruhi emosi.
            Bagaimana kita menilai di dalam memakai obat ? Dulu saya terus ingin menstop obat karena bagi saya itu satu hal yang kurang baik. Sebenarnya saya pernah beberapa kali mengalami gejala yang balik kembali ( relapse ) ketika saya stop obat secara mendadak. Dari teori dan pengalaman maka saya belajar bahwa obat penenang adalah obat yang keras yang harus diturunkan secara perlahan. Kemudian bagaimana kita boleh menurunkan dosis obat penenang adalah harus ditunjang oleh kebiasaan hidup yang makin diperbaharui. Ketika hidup kita makin diperbaharui dan hidup sesuai dengan hukum Tuhan maka secara natural perasaan kita berangsur-angsur akan mengalami sukacita dan damai sejahtera. Setelah itu baru secara bertahap obat dapat diturunkan dosisnya. Tetapi apakah betul bahwa kita tidak butuh obat sama sekali ?
            Setelah mengalami beberapa tragedi karena stop obat secara mendadak maka saya mempunyai pemahaman bahwa obat itu tidak boleh diturunkan secara mendadak. Fungsi obat adalah membantu tubuh supaya perasaan siksaan emosi itu tidak terlalu berat sehingga kita dapat memperbaharui hati pikiran kita sehingga sistem psikologis kita akan menjadi baikan. Setelah itu baru obat boleh diturunkan. Tentunya ini harus dipantau dengan rekan yang dekat dan professional yang mengerti. Jadi kita juga harus menghargai anugerah umum yang diberikan Tuhan melalui obat dan juga psikiater Kristen. Ada kalanya memang kita perlu mengkonsumsi obat dan tidak boleh mempunyai spiritualitas super hero. Kita harus menyadari kelemahan kita.
            Saya ingin mensharingkan keseimbangan pemahaman yang Alkitabiah mengenai obat yang saya dapat dari CCEF. Saya percaya ini adalah integrasi, sintesis yang bisa menerobos dualisme obat dan iman. Ini adalah kutipan-kutipannya.
It is a kingdom agenda to relieve our suffering and It is a kingdom agenda to redeem us through suffering.
Medications are a gift of God’s common grace and Medications can be used idolatrously.
A person may have a wrong motives for wanting to take medication. And a person may have wrong motives for not wanting to take medication.
Using medications may make it more difficult to address moral-spiritual issues and not using medications may make it more difficult to address moral-spiritual issues.
            Di dalam semua pemahaman ini maka saya berpendapat pandangan yang Biblikal adalah seimbang dan yang terutama kita harus mewaspadai hati kita yang adalah pancaran kehidupan kita.      

XII.          Refleksi mengenai keutuhan rasionalitas, emosionalitas, naturalitas, spiritualitas dan dignitas manusia di dalam terang Firman Tuhan

Ketika pemikiran Aquinas membagi wilayah realitas menjadi Natur dan Anugerah maka hal ini mengakibatkan dualisme di antara iman dan rasio. Kemudian ketika pemikiran Immanuel Kant membagi wilayah realitas menjadi nomena dan fenomena mengakibatkan dunia yang bisa diketahui hanya dunia fenomena yang natural. Realitas itu sendiri tidak dapat dimengerti. Dan untuk memberi ruang pada iman dan agama maka Schleiermacher memberikan satu pemikiran untuk masuk ke dalam pengetahuan akan Allah maka jalannya adalah perasaan dan bukan rasio. Dengan semua dualisme ini maka dunia kita mempunyai pemikiran yang terpecah antara dunia natural dan dunia iman, rasionalitas dan emosionalitas. Akibatnya ketika beriman tidak ada rasional dan ketika menggunakan rasional maka membuang emosi dan iman. Semua pemikiran ini membuat kita memahami hidup dengan tidak utuh dan fragmentasi.
Di dalam pengalaman dan ketegangan saya menggumuli iman, rasio, emosi dan rohani maka saya menemukan Alkitab dan juga teologi Reformed memberikan jawaban atas semua ini. Teologi Reformed dimulai dengan konsep Allah Tritunggal sebagai realitas ultimat yang menciptakan dunia ini beserta segala isinya sebagai ciptaan-Nya. Allah Tritunggal yang adalah pribadi menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya di dalam konteks relasional. Karena Allah Tritunggal adalah pribadi maka ketika Ia menciptakan dunia ini, Ia menggunakan prinsip representatif pribadi secara relasional. Manusia adalah representatifnya Tuhan Allah dan dunia materi ini juga merepresentasikan kemuliaan Allah. Kemudian konsep pribadi berkaitan dengan aspek rasionalitas, aspek karakter, aspek kehendak dan juga aspek emosi. Semuanya ini terintegrasi di dalam diri Allah Tritunggal sebagai The Absolute Personality. Karena itu maka Allah Tritunggal menjadi dasar fondasi akan realitas dunia ciptaan. Semua dunia ciptaan mempunyai struktur pola rencana representasi dari Allah Tritunggal. Realitas ini utuh di dalam rasional, natural, supranatural, emosional, spiritual, relasional, dll. Semuanya adalah satu realitas di dalam ciptaan Tuhan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
Implikasi dari konsep Tritunggal ini maka di dalam pergumulan hidup mengembara di dalam menggumuli kebenaran di dunia ini maka kita mempunyai dasar fondasi rasionalitas yang kokoh tanpa membuang spiritualitas, emosionalitas dan juga dignitas manusia.

C. PENUTUP

            Saya berharap pengalaman buku kecil ini boleh menjadi berkat bagi kemuliaan nama Tuhan. Sekali lagi pengalaman saya bukan berarti pengalaman yang mutlak. Sebab setiap individu mempunyai pergumulan dan konteks yang berbeda-beda. Tetapi saya percaya ada prinsip-prinsip universal di mana kita bisa belajar satu sama lain.
Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim ( Edisi pertama 24-10-2011 )
Revisi kedua - Edited 8-11-2011
Revisi ketiga – Edited 2-12-2011

Read More ....

Indonesian Christian Counselling and Community Care for Teenagers and Youths

Read More ....

Tuesday, February 15, 2011

Refleksi tentang Berpikir

Refleksi tentang berpikir : : Tahu dari mana kita mengenal dan mengerti orang lain, diri sendiri dan sekitar kita dan ternyata pengertian itu benar ?

                Orang yang mengalami schizophrenia atau psychotic mengalami delusi dan halusinasi dimana pikiran, perasaan dan realitas yang dia alami dengan dunia luar ternyata tidak benar dan tidak real. Dari kasus ini ingin saya ambil waktu sejenak  untuk refleksi dan berpikir : bagaimana kita tahu bahwa pikiran kita itu benar sesuai dengan realitas ? Bagaimana kita yakin pikiran kita itu sinkron dengan realitas ?
Kalau kita pernah menonton film Matrix, disana ada satu pandangan kita mengenal realitas. Bagaimana kita tahu pikiran kita di dalam mengenal dunia luar ini benar ? Jangan-jangan kita otak kita sedang di plug in dengan computer dan semua pengenalan kita itu semua tidak real ? Sejauh mana pikiran kita itu benar-benar sesuai dengan realitas ?
                Ambil contoh sederhana lagi : ada sepasang orang suami istri yang berasal dari 2 kebudayaan yang berbeda sedang berkomunikasi. Istri berasal dari China dan suami berasal dari Amerika. Di dalam budaya china, minum teh adalah ada cangkir dan ada teko dari tanah liat dan ada tehnya di dalamnya. Di dalam budaya amerika, minum teh mungkin minum ice lemon tea. Ketika suami berbicara kepada istri untuk meminta minum teh, tahu dari mana pengertian tehnya itu benar ? Bila ternyata mereka akhirnya berkomunikasi dengan bahasa dan akhirnya mengerti pengertian mereka tentang minum teh itu akhirnya sama lalu apa yang menjadi kepastian bahwa pengertiannya benar ?
                Kemudian lebih lanjut : Waktu suami dan istri saling komunikasi dan saling mengenal. Tahu dari mana pengenalan di pikiran suami itu sama dengan realitas sebenarnya tentang istrinya. Dan tahu dari mana kata-kata dari istri itu pengertiannya sama dengan pengertian di dalam pikiran suaminya ? Apa dasar common ground untuk pengetahuan supaya komunikasi antar manusia bisa saling dimengerti ?
                Bagaimana bila ternyata waktu kita mengenal diri kita atau orang lain ternyata itu tidak sesuai dengan realitas fakta sebenarnya ?
                Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, coba pikirkan hal ini. Sebenarnya sesuatu itu indah karena itu pemahaman orang yang memandangnya atau itu ada di dalam benda itu sendiri. Itu objektif atau subjektif ? Waktu kita mengatakan perempuan itu cantik , itu cantik ada dimana ? Di pikiran kita atau di benda itu sendiri ? Bagaimana kalau ternyata kita bilang itu cantik dan ternyata pikiran kita tidak sinkron dengan realitas dan ternyata realitasnya tidak cantik ? Apakah pikiran kita benar ? Apa dasarnya ?
                Mungkin kita pikir buat apa perenungan seperti ini ? Bikin pusing saja. Bikin sakit kepala. Buat apa mikir-mikir, jalani aja. Tapi masalahnya ini serius kepada kehidupan. Bila ternyata pengertian kita tidak sinkron dengan realitas. Bila ternyata pengertian kita waktu kita komunikasi dengan pasangan kita ternyata interpretasinya tidak tepat maka kita sebenarnya teralienasi dengan realitas. Ini mengerikan !
                Misalnya kedua suami istri terus menerus ingin saling mengenal satu sama lain dan mereka saling mengasihi. Alangkah mengerikannya bila ternyata mereka merasa tidak mengenal pasangannya karena tidak ada kepastian bagaimana mereka bisa yakin pemahaman mereka itu sesuai dengan realitas.
                Juga ketika kita mengenal diri kita dengan kesadaran kita dan ternyata kita tidak mengenal diri kita. Itu mengerikan ! Kita teralienasi dengan pikiran kita. Realitas mengenai diri kita tidak sama dengan apa yang kita pikirkan atau rasakan.
                Tetapi bersyukur kepada Tuhan !
                Ternyata jawaban terhadap pergumulan ini ada !
                Kita bisa mengerti diri kita, orang lain, dunia di luar kita dan pengertian itu benar karena ada dasarnya. Dunia ini dunia ciptaan Tuhan. Dan Tuhan menciptakan dunia ini dengan FirmanNya.  Ciptaan Tuhan ini ada hukumnya. Hukum yang bersifat aspektual ini bersifat menyeluruh  dan multiaspektual. Bila kita mau mengerti apa yang indah di dalam sebuah benda, ada yang menjembatani keindahan yang ada di dalam benda itu dan keindahan di dalam pikiran kita. Yaitu hukum aspek keindahan. Hukum aspek keindahan ini ada di dalam benda itu dan ada di dalam pikiran kita. Dan ini hukum di alam semesta yang Tuhan ciptakan. Jadi hukum ini yang memediasi.
                Bila kita dan pasangan kita sedang berkomunikasi dan saling berbicara maka kita bisa saling mengerti satu sama lain karena hukum kategori pengertian di dalam pikiran kita dan hukum di dalam perkataan kita dan hukum kategori pengertian di dalam pikiran pasangan itu hukum yang sama. Baik dunia luar ini dengan dunia pikiran kita, hukum yang memediasinya sama. Karena dunia eksternal dan dunia internal kita ini sama-sama diciptakan oleh Firman Tuhan.
                Bersyukur untuk Firman Tuhan yang membuat kita bisa mengenal realitas dengan benar. Melalui Firman Tuhan kita bisa berpikir benar. Walaupun itu tidak sepenuhnya lengkap tetapi itu benar dan tepat. Jadi kita tidak usah jatuh ke dalam skeptisme atau jatuh ke dalam nihilism.

Puji Tuhan !
Jeffrey Lim
Selasa, 15 Februari 2011

Read More ....

Aplikasi dari Pengertian yang menerobos konsep wawasan dualisme

( Kelanjutan dari artikel selanjutnya mengenai “Percakapan Yesus menerobos konsep wawasan yang dualisme”. )
* Notes : Ada baiknya sebelum membaca artikel ini membaca artikel sebelumnya supaya konteksnya dimengerti

 Jeffrey Lim

Dengan wawasan Kristen yang benar maka kita memandang semua bagian realitas ciptaan Tuhan baik adanya dan tidak terjadi dualisme di dalam berpikir dan hidup. Dualisme gnostik dan Platonism menganggap bahwa dunia non materi lebih tinggi dan dunia materi lebih rendah bahkan ada nuansa jahat.  Pemikiran ini tidak sesuai dengan pemikiran Alkitab. Saya teringat akan lagu “All things are bright and beautiful”. Lagu ini melukiskan bahwa Tuhan menciptakan dunia ini dan segala sesuatunya indah adanya. Baik aspek ciptaan yang berupa materi : pohon, burung, laut, langit, dan aspek ciptaan yang berupa non materi : bentuk, matematik, logika, konsep, semua ini indah adanya. Sungguh bersyukur kita hidup di dalam dunia ciptaan Tuhan yang indah ini. Dunia ini indah karena Penciptanya maha bijaksana dan maha baik adanya.

Di dalam refleksi kali ini, saya ingin membagikan luar biasanya pengertian integratif ini di dalam memandang kehidupan dan menerobos konsep yang dualisme. Sebab dengan konsep yang dualisme sebenarnya membuat hidup menjadi sempit dan sesak. Namun kebenaran Tuhan itu membebaskan. Kebenaran Tuhan itu memerdekakan. Dan kebenaran  Tuhan itu membuat hidup menjadi limpah. Yang saya ingin bagikan di dalam refleksi ini adalah mengenai panggilan Tuhan.
Ketika kita mendengar seseorang mengikut Kristus dan kemudian meninggalkan kepercayaan berhalanya dan percaya Tuhan maka kita bersukacita. Ketika orang itu mengalami penganiayaan dan kesulitan dan pergumulan memikul salib  di dalam mengikut Tuhan maka kita bersyukur dan mengatakan orang itu diberkati. Kita berpikir karena ini sesuai dengan ucapan bahagia kotbah di bukit bahwa yang dianiaya karena kebenaran adalah diberkati. Kita juga menganggap bahwa orang ini bijaksana karena memilih sesuatu yang mulia yaitu mengikut Kristus.

Kemudian ada satu kasus lagi dimana seseorang tadinya seorang pedagang dan kemudian dipanggil Tuhan menjadi hamba Tuhan yang memberitakan Injil. Ketika orang itu tadinya kaya punya banyak materi dan kemudian orang itu sekarang memikul salib menjadi penginjil atau pendeta maka kita pun mempunyai pemikiran yang serupa dengan analogi di atas.

Kehidupan yang evil atau lebih evil           ->   Kehidupan yang lebih mulia / diberkati

Tetapi sebenarnya kedua perbandingan di atas itu tidak sama analoginya. Dan mari kita balikkan pengertiannya yaitu bila seseorang tadinya terjun di dalam pelayanan namun sekarang masuk ke dunia usaha, apa yang terjadi di dalam pemikiran orang percaya ? Orang yang menempuh jalan di bidang usaha dan tidak jadi di bidang “rohani” menempuh kehidupan yang lebih sekular, lebih tidak suci.

Ini adalah dualisme.

Mengapa saya berani berkata demikian ? Karena itu ada prinsip kebenarannya ? Sebenarnya saya pribadi juga bergumul banyak di dalam wilayah dualisme ini. Ini pergumulan real hidup saya. Dahulu saya masuk di sekolah teologi dan berbagian banyak di dunia pelayanan gerejawi. Mengapa saya mau melayani di pelayanan gerejawi ? Saya harus berkata jujur  satu hal yaitu : Dulu saya di dalam kekosongan hidup dan kehampaan serta pencarian makna hidup mengerti kebenaran secara salah. Saya menanggap dunia pelayanan gerejawi lebih suci dan lebih mulia di bandingkan dengan dunia pekerjaan. Dan saya menganggap hal-hal usaha itu lebih kotor adanya daripada pelayanan gerejawi. Kemudian saya masuk di sekolah teologi. Tetapi di dalam saya menjalani bidang ini banyak naik turun. Dan pergumulan hidup saya selama 10 tahun ini berada di dalam ketegangan pemikiran antara pelayanan gerejawi dan pekerjaan di dalam makna keberartiannya. Orang yang mengenal hidup saya mengetahui bahwa saya ada masuk sekolah teologi kemudian cuti, kemudian sekolah kemudian masuk lagi namun keluar, kemudian masuk lagi dan cuti lagi dan sekarang kerja. Ada pendulum bulak balik di dalam pergumulan ini. Sewaktu saya memasuki dunia kerja, saya mengalami kesulitan real di dalamnya. Pergumulan akan makna. Saya sering ingin meninggalkan pekerjaan saya dan masuk ke dunia pelayanan lagi.
Saya anggap itu lebih mulia. Namun ternyata banyak hal sulit dan kurang memungkinkan.

Tetapi puji syukur kepada Tuhan ! saya dibukakan pengertian dari FirmanNya. Semua aspek realitas baik adanya. Semua ciptaan Tuhan baik adanya. Kalau kita mau pereteli lebih jauh seringkali di dalam pemahaman dualisme ( misalnya Gnostik atau Platonisme Yunani ) memandang bahwa aspek batiniah, aspek non materi lebih tinggi dan lebih baik daripada aspek tubuh, aspek materi yang dipandang lebih jahat. Ini pola pikir dasarnya. Dan bagaimana jika kita memakai framework yang salah ini di dalam menginterpretasikan Firman Tuhan ?
Ambil contoh : Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Seringkali penafsiran mencari kerajaan Allah ini dikaitkan dengan panggilan menjadi pelayan gerejawi full timer dimana itu lebih tinggi daripada panggilan usaha.  Pekerjaan di dalam aspek non materi lebih tinggi daripada pekerjaan di dalam aspek materi.

Ambil contoh : Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.
Di dalam Alkitab ini sudah jelas bahwa manusia butuh roti dan roti itu baik. Di bagian ini ditekankan bukan dari roti “saja”. Berarti roti perlu. Tetapi bukan roti saja yang diperlukan untuk hidup namun Firman yang keluar dari mulut Allah diperlukan untuk hidup.   Kemudian ditegangkan antara hidup jasmani yang perlu roti dan hidup rohani yang perlu Firman. Dan mari mencari hidup yang rohani mencari Firman yang nilainya lebih tinggi daripada mencari roti. Penafsiran pembagian hidup rohani dan jasmani bukan tidak benar. Namun frameworknya harus benar.

Bagian ini lebih sulit dan perlu konsentrasi.

Nah, waktu kita mengatakan Firman itu aspek non materi dan roti ini aspek materi. Hati-hati di dalam pembagian ini. Sebab kita sedang mengkacaukan aspek Creator dan aspek creation. Sudah jelas aspek Creator itu lebih tinggi dan kudus ( maksudnya dipisahkan ) daripada aspek ciptaan. Allah adalah kudus sebab Ia berbeda dengan ciptaan. Dia dipisahkan dan berbeda dengan ciptaan. Tetapi hati-hati dengan pembagian kategori seperti ini dan di dalam pengkategorian yang analoginya seakan-akan sama.
-          Materi vs Non Materi
-          Roti vs Firman
-          Usaha vs Pelayanan
-          Tubuh vs Jiwa
-          Sementara vs Kekal
-          Biasa vs Kudus

Pembagian seperti ini kelihatan seperti benar namun ada problematisnya. Daftar kategori di atas tidak sama analoginya. Sebelum kita membagi kategori seperti ini marilah kita membagi kategorinya seperti :
-          Creator dan creation.
-          Di dalam creation ada aspek materi dan ada aspek non materi. Ada aspek usaha dan pelayananan. Ada tubuh dan jiwa.  Semuanya baik adanya.

Ada perbedaan kualitatif yang besar antara Creator dan creation. Sewaktu kita mengatakan bahwa carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua itu akan ditambahkan kepadamu. Maka pengertiannya adalah carilah Creator, kemuliaan Creator, kerajaanNya, dan kehendakNya daripada mencari creation ( roti ). Pengertian ini bukan mengajarkan bahwa kita mencari dahulu pekerjaan pelayanan gerejawi lebih daripada pekerjaan seakan-akan pekerjaan usaha itu lebih evil. Pengertian yang lebih tepat adalah : hidup kita dibawah kedaulatan Allah dan apapun yang kita lakukan marilah kita lakukan untuk kemuliaan nama Tuhan. Carilah kemuliaanNya, kerajaanNya, dan kehendakNya.
Jadi apa yang membuat panggilan seseorang itu mulia adanya ? Nilainya bukan terletak pada pelayanan gerejawi yang bersifat non materi yang lebih tinggi daripada pekerjaan yang bersifat materi lebih rendah. Nilai mulianya panggilan seseorang memikul salib adalah kalau dia menjalankan panggilan yang Tuhan mau di dalam hidupnya. Panggilan itu unik dan sesuai dengan kedaulatanNya. Dan ini tidak berarti panggilan di pelayanan lebih tinggi nilainya daripada panggilan di dunia bisnis. Mulia atau tidaknya dinilai dari ketaatan akan panggilan Tuhan di bidangnya yang Tuhan sudah tetapkan. ( Untuk pengertian panggilan diperlukan pemahaman khusus lagi yang tidak dibahas disini )

Nah ada satu problematis bila kita memandang hidup dengan dualisme. Seharusnya semua pekerjaan adalah mulia bila itu panggilanmu. Namun ada beberapa contoh perkataan yang bisa membuat kita merasa bidang pekerjaan lebih rendah daripada bidang pelayanan :
-          Mencari nafkah tidak habis-habis. Itu sementara. Namun mencari jiwa itu kekal dan nilainya kekal. Sering mendengar perkataan seperti ini bukan ? ( saya tidak mengatakan itu salah namun frameworknya harus benar )
-          Hidup ini fokusnya untuk menginjili. Injil lebih berharga daripada materi.

Sewaktu seseorang mengatakan bahwa Injil itu berharga dan mulia. Saya setuju 100%. Amin ! Injil itu sangat bernilai dimana Anak Allah mengorbankan diriNya untuk supaya kita diselamatkan. Namun satu hal kita musti mengerti bahwa Injil bukan hanya Injil Keselamatan ( Soteriologi ). Tetapi Injil Kerajaan Allah. Apabila anda membaca Kitab Injil di dalam Alkitab maka kalimat yang muncul bukan Injil Keselamatan tetapi Injil Kerajaan Allah.

Apa bedanya Injil keselamatan dan Injil kerajaan Allah ? Berbeda wawasannya.

Seringkali ketika seseorang menginjili maka dia berpikir adalah membawa orang berdosa kembali kepada PenciptaNya. Berdamai melalui pengorbanan Sang Penebus, Yesus Kristus anak Allah. Ini betul tetapi ini hanya bagian keselamatan. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa penebusan itu bukan hanya keselamatan pribadi. Kristus bukan hanya Juruselamat Pribadi. Tetapi Dia adalah Juruselamat Cosmic. Dia adalah Juruselamat Dunia. Semua aspek realitas yang sudah menyeleweng harus ditebus dan dikembalikan kepada Tuhan.

Jadi fokus Injil bukan hanya keselamatan ( walaupun itu penting sekali ). Tetapi supaya ciptaan ini semuanya dibawa kembali kepada Tuhan Allah. Inti Tuhan Allah menciptakan manusia dan dunia ini adalah supaya semuanya boleh memuliakan Tuhan.
Tuhan menciptakan ilmu matematik untuk memuliakan DIa
Tuhan menciptakan ilmu bahasa untuk memuliakan DIa
Tuhan menciptakan ilmu ekonomi untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan ilmu kedokteran untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan ilmu logika untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan ilmu kimiawi untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan ilmu fisika untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan semua pengetahuan untuk memuliakan Dia.

Jadi semua harus dibawa untuk kemuliaan nama Tuhan. Bahkan bisnis, ekonomi, Teknologi Informasi, dll, semua ini ada tujuan yang Tuhan tetapkan. Yaitu untuk memuliakan nama Tuhan. Maka melakukan pekerjaan apapun yang halal sesuai panggilan Tuhan di dunia ini adalah mulia adanya. Semua pekerjaan yang baik adalah ibadah kepada Tuhan. Luther mengatakan bahwa dunia adalah biaraku. Tempat kita melakukan ibadah ini bukan hanya di gereja namun di dunia.
Sebelum menutup perenungan ini, Saya harus menyeimbangkan kembali bukan berarti ketika kita terus bekerja di dunia ini kita melupakan pelayanan gerejawi. Tidak boleh saling mereduksi dan saling mengecilkan. Jangan kembali kepada pendulum yang saling bertegangan. Sebenarnya antara pelayanan gerejawi dan usaha bisnis bisa diharmoniskan dan sama-sama ada panggilannya. Tidak ada yang lebih mulia dan kudus. Yang mulia itu bila kita berpadanan dengan panggilan yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita.
Frameworknya lebih baik kita lihat bukan seperti
Usaha vs Pelayanan gerejawi

Tetapi
Creator dan creation
Dimana creation harus memenuhi panggilannya untuk memuliakan Tuhan baik dalam bidang apapun.
Kiranya dengan perenungan artikel ini membuat kita bisa menghargai semua pekerjaan yang Tuhan berikan. Segala sesuatu indah adanya. Dan hidup kita menjadi indah bila berjalan sesuai dengan panggilanNya.

Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim
Di dalam refleksi ingin membagikan pengertiannya dan menyadari pengertiannya masih perlu terus diperbaharui
23 Januari 2011.

Read More ....

Percakapan Yesus menerobos konsep wawasan yang dualisme ( Baik Platonisme Yunani maupun Gnostik )

Hari ini ketika saya sedang membaca Injil Yohanes 4-6, saya kembali dikagumkan oleh pengertian Firman Tuhan. Firman Tuhan benar-benar luar biasa, menyegarkan jiwa dan memberikan hikmat kepada yang tidak perpengalaman. Percakapan Yesus kepada orang-orang itu luar biasa. Mengapa ? Sebab Dia bukan saja manusia tetapi Dia adalah Allah. Marilah kita menyaksikan apa yang Dia katakan di dalam Yohanes 4-6.

Di mulai dengan Yohanes 4 dimana ada perempuan Samaria yang sedang menimba air. Saya coba mengutip Alkitab dimana Yesus berkata kepada perempuan Samaria : “Berilah Aku minum”. Perempuan Samaria itu heran karena orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi. Yesus berkata “jikalah engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu : Berilah Aku minum ! niscaya engkay telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Kata Perempuan itu kepadaNya : “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu ?” Apakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan suur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya ?. Jawab Yesus kepadanya : “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal”.

Sampai sini, seringkali di dalam membaca perikop ini, pikiran kita dipengaruhi konsep dualisme. Konsep dualisme itu beragam baik dari filsafat Yunani maupun juga dari Gnostik. Intinya membagi realitas menjadi 2 bagian yaitu unsur materi dan non materi dimana materi dipandang lebih rendah dan bahkan jahat daripada unsur non materi. Dan seringkali dengan memakai pola pikir dualisme kita mengerti bahwa unsur rohani itu adalah unsur non materi. Bagaimana bila pola pikir ini kita terapkan di dalam menafsirkan Alkitab. Pengertiannya  menjadi : Orang dunia pada umumnya mencari hal-hal materi seperti perempuan Samaria itu haus. Namun materi itu tidak memuaskan jiwa. Karena itu carilah hal-hal yang non materi sebab materi itu lebih jahat. Kepuasan ada di dalam hal-hal rohaniah ( dan seringkali konsepnya mistik ). Yesus menawarkan kepada perempuan Samaria hal-hal yang non materi yaitu air hidup. Yaitu kerohanian. Dan kemudian perempuan Samaria itu meninggalkan tempayannya yang materi dan hidup untuk yang non materi.

Kelihatannya seperti bagus juga bukan penafsirannya ? Tetapi penafsiran ini dualisme dan fragmentasi. Yesus sendiri mengajarkan bahwa manusia bukan hidup dari roti saja ( berarti perlu ) tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.  Problematis bila kita mengganggap materi itu jahat maka ada beberapa konsekuensi :
1. Realitas ciptaan Tuhan ada wilayah yang jahat. Secara doktrin penciptaan ada masalah.
2. Firman menjadi daging ( materi ). Allah menjadi manusia. Secara kristologi ada masalah
3. Bekerja menghasilkan materi menjadi problematis. Secara praktis kehidupan Kristen
4. Pekerjaan yang kelihatannya agamawi lebih rohani daripada pekerjaan yang sekular. Ini menimbulkan dualisme yang lain.
5. Dll.
Lanjut !

Nah kemudian bila kita melanjutkan pembacaan dari Yohanes 4. Setelah perempuan Samaria pergi,  murid-murid Yesus datang dan mengajak Dia, katanya : “Rabi, makanlah !”. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka : “PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal”. Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepadaNya untuk dimakan”. Kata Yesus kepada mereka : “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya”.

Sampai disini bila kita memakai pola pikir dualisme materi dan non materi. Maka penafsirannya berarti makanan yang bersifat materi itu lebih rendah. Dan Yesus mempunyai makanan yang lebih tinggi yaitu hal-hal kerohanian ( dalam arti non materi ). Benarkah penafsirannya tepat seperti itu ?

Mari kita lanjut !

Menariknya di dalam Injil Yesus peduli kepada hal-hal yang bersifat badaniah di dalam orang-orang yang ditemuinya. Yesus mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang sakit dll. Dan yang di dalam Yohanes 6 dicatat satu peristiwa dimana Yesus memberi makan 5000 orang. Ketika masa berbondong-bondong mengikuti Dia dan mereka perlu diberi makan maka Yesuspun memberikan mereka makan. Di dalam Injil lain kalimatnya begitu jelas yaitu “beri mereka makan !”. Di dalam semua ini tidak ada nuansa bahwa yang bersifat materi lebih rendah daripada  yang bersifat non materi. Agama Kristen adalah agama yang dipengaruhi Alkitab dan oleh hidup Yesus adalah agama yang sangat memperhatikan hal-hal jasmani. Kekristenan mempengaruhi bidang kedokteran , hak asasi manusia seperti kebebasan hak budak, melarang aborsi, melawan praktik ketidakmanusiaan seperti suami mati istri harus ikut mati, dll. Hal ini karena Kekristenan memandang bahwa tubuh manusia yang materi itu bernilai karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Materi tidak jahat. Karena materi adalah ciptaan Tuhan.

Pertanyaannya bagaimana kita bisa menerobos pemahaman dualisme materi dan non materi di dalam memandang realitas ? Titik puncak nanti ada di pengakuan Petrus.

Untuk itu mari kita lanjutkan.

Di dalam Yohanes 6 setelah Yesus memberi makan 5000 orang maka banyak orang mencari Yesus. Kemudian Yesus berkata : “sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu;  Sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa , Allah, dengan materaiNya. Sampai sini kita bisa terjebak pada pemikiran dualisme yang sama yaitu materi atau roti itu lebih rendah dan sementara dan karena itu mencari roti bersifat lebih rendah / jahat. Lebih baik mencari hal-hal rohani daripada roti yang sementara. Kelihatannya seperti masuk akal bukan penafsiran seperti ini ?
Di dalam perdebatan antara orang banyak dengan Yesus mengenai makanan dan juga manna di padang gurun, Yesus berkata di dalam pasal 6 ayat 32 : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan BapaKu yang memberikan kamu roti yang benar dari surga.

Sampai sini kita ada sedikit titik terang yaitu : Sumber roti itu Bapa. Sumber materi itu dari Allah. Karena itu tentunya baik. Sumber berkat adalah Allah. Di dalam Doa Bapa kami diajarkan “Give us our daily bread”. Sebenarnya berarti roti materi adalah sesuatu yang baik. Jujurnya kita juga setiap hari perlu materi baik makanan maupun pakaian dll. Itu semua baik adanya. Tetapi lebih dari itu Yesus di Matius 6:33 mengatakan Cari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua akan ditambahkan kepadaMu. Di perikop itu dikatakan bahwa Bapamu yang disurga tahu kebutuhanmu. Berarti memang materi dibutuhkan oleh manusia dan tidak jahat adanya. Roti itu perlu. Pakaian itu perlu. Namun ada sesuatu yang lebih dari hanya sekedar itu yaitu Yesus berkata : “Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepadaNya : “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.”.

 Kalau kita melihat perkataan Yesus disini sebenarnya ada pengertian yang luar biasa dalam. Perhatikan kata “hidup”. Roti hidup. Dan perhatikan perkataan selanjutnya mengenai hidup yang kekal Respon mereka bersungut-sungut karena Yesus telah mengatakan :”Akulah roti yang turun dari surga”. Kata mereka : “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal ? Bagaimana Ia dapat berkata : Aku telah turun dari surga ?”. Perdebatan mereka terus berlanjut sampai Yesus mengatakan perkataan yang keras yang sulit dimengerti secara hariah : “Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir jaman. Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu benar-benar minuman.” Ini perkataan yang keras yang mengakibatkan orang Kristen di abad-abad awal dituduh sebagai kanibalisme. Namun jangan diartikan harafiah. Perhatikan perkataan Yesus : “Barang siapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal did alam Aku dan Aku di dalam Dia.” Arti perkataan ini akan jelas di dalam peristiwa perjamuan terakhir ( The Last Supper ). 

Kemudian setelah mendengar perkataan keras yang sulit dimengerti itu maka banyak orang meninggalkan Yesus. Yesus berkata kepada kedua belas muridNya : “Apakah kamu tidak mau pergi juga ?” Jawab Simon Petrus : “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi ? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang Kudus dari Allah”. Mari saya ulangi penekanan jawaban Petrus :”PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal !”

Bagaimana supaya kita bisa memahami perikop ini keluar dari pola pikir dualisme yang memandang materi yang lebih rendah dan non materi yang lebih tinggi ? Jawabannya adalah perkataan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Apa maksudnya ?

Ada 2 hal yang perlu kita renungkan yaitu soal perkataan dan soal hidup. Sejak awal di atas ketika kita membahas mengenai roti itu semua dikaitkan dengan hidup. Tentunya orang makan roti supaya hidup. Dan apa hubungannya dengan perkataan ? Alkitab memberi jawaban bahwa perkataan Allah yang memberi hidup. Ini mengingatkan kita kepada Kitab Kejadian dimana ketika Allah berfirman maka jadilah langit dan bumi. Perkataan Allah yang menjadikan materi ini. Perkataan Allah yang menjadikan semua dunia dengan segala keindahannya ini baik dari  benda mati dan benda hidup : tumbuhan, hewan, dan manusia. Realitas tidak dibagi menjadi 2 bagian yaitu yang materi jahat dan yang batiniah baik. Di dalam Kitab Kejadian jelas bahwa realitas ini diciptakaan Tuhan dan semua baik adanya. Perkataan Allah yang membuat semuanya hidup. Perkataan Allah yang menopang alam semesta ini. Dan perkataan Allah itu adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah pencipta dan Yesus Kristus adalah yang menopang alam semesta ini dengan FirmanNya. Karena itu sumber kehidupan itu berasal dari Tuhan Allah adanya. Roti berasal dari Allah adanya.

Manusia hidup mencari roti tetapi jangan lupa bahwa kehidupan ini berasal dari Sang Pemberi hidup. Ketika kita makan roti kita jangan lupa bahwa kehidupan ini berasal dari Tuhan Allah dan kita harus hidup untuk Tuhan Allah. Yang hendak Tuhan Yesus ajarkan adalah supaya kita hidup untuk Tuhan Allah dan soal roti itu Yesus berkata : “Jangan kamu kuatir apa yang kamu makan, kamu pakai”. Bapa di surga tahu kamu membutuhkan roti dan itu tidak salah. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua akan ditambahkan kepadamu. Carilah pemberi hidup itu jangan pada roti yang nanti kamu lapar lagi. Roti itu sendiripun dari Sang Pemberi hidup.

Dari sini kita bisa simpulkan 2 macam hidup : hidup yang bertahan hanya karena roti. Tetapi hidup yang karena Roti hidup. Hidup yang hanya karena roti satu saat akan binasa bila tidak mempunyai Roti Hidup. Tetapi hidup yang karena Roti hidup adalah hidup yang kekal.  Seringkali kita mengerti bahwa hidup yang kekal adalah hidup setelah kematian. Tetapi yang lebih tepat adalah hidup yang kekal adalah hidup di dalam persekutuan dengan sumber hidup baik sekarang maupun yang akan datang setelah kita dibangkitkan. Hidup yang kekal dimulai dari sekarang. Dan supaya mendapatkan hidup yang kekal itu kita membutuhkan Roti Hidup yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Amin !
Jeffrey Lim
21 Januari 2011.

Read More ....

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG