Thursday, November 16, 2017

Gangguan Bipolar dan Manusia sebagai ciptaan Tuhan

Refleksi mengenai gangguan Bipolar

               Lebih dari separuh usiaku ( 20 tahun ) bergumul naik turun dengan satu penyakit yang namanya Gangguan Bipolar. Penyakit apa sih ini ? Mungkin terminologi gangguan bipolar ini mulai tersingkap di negeri Indonesia semenjak kejadian artis Marshanda yang terkena gangguan bipolar II yang sempat sedikit menghebohkan dunia sosial media.  Apa itu gangguan Bipolar ?  Mengapa disebut penyakit ? Karena memang gangguan Bipolar itu betul-betul sebuah penyakit di kimiawi otak penderita gangguan Bipolar. Gangguan kimiawi di otak dalam gangguan bipolar ini mempengaruhi suasana perasaan dan pikiran. Ada 2 kutub di dalam bipolar yaitu ketika sedang fase mania dan ketika sedang fase depresi. Ketika sedang depresi, alam perasaan terasa down, malas ngapa-ngapain, letih, lesu, moody dan juga kurang bisa konsentrasi. Dan ketika sedang mania, diri penuh dengan ide, energi, berbicara cepat dan perasaan menggelora senang. Di dalam tahap mania ini penderita dapat melakukan hal-hal yang merugikan baik diri sendiri maupun orang lain seperti boros, melanggar aturan, mencoba hal-hal yang berbahaya, dll. 


Ketika saya berbicara bahwa gangguan Bipolar itu satu penyakit, saya tentu tidak menghilangkan bahwa ada dimensi-dimensi lain di dalam gangguan Bipolar seperti psiko sosial dan spiritual disamping fisik ( biologis ).  Melihat gangguan Bipolar dari multidimensi adalah satu hal yang holistik dan menyeluruh. Manusia diciptakan Tuhan ada dimensi fisik (tubuh) ada dimensi rohani (jiwa). Ada dimensi sosial dan relasional juga. Tetapi tidak menghilangkan bahwa salah satu dimensi yang paling kuat di dalam gangguan Bipolar adalah dimensi fisik ( biologis ). Karena gangguan bipolar ini  adalah benar-benar satu penyakit fisik maka  memerlukan pengobatan medis. Dan bersyukur bahwa penyakit ini adalah treatable ( dapat diobati ). Penyakit ini ibarat penyakit darah tinggi yang memerlukan pengobatan terus menerus untuk menstabilkan.


               Ketika saya merenungkan saudara-saudari sependeritaan yang mengalami gangguan bipolar, saya menyadari bahwa Tuhan Allah memberikan anugerahNya baik secara anugerah umum maupun anugerah khusus. Anugerah umum adalah anugerah bagi semua manusia. Di dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan penemuan medis yang adalah anugerah umum, saya melihat bahwa obat-obatan dipakai untuk menjadi berkat bagi penderita gangguan Bipolar. Ketika gangguan bipolar sendiri adalah satu penyakit di kimiawi otak maka obat-obatan yang tepat berkhasiat menstabilkan suasana perasaan dan pikiran penderita gangguan bipolar. Bagi saya sendiri sebagai penderita gangguan bipolar, medis adalah satu hal yang esensial dan fundamental dimana pikiran dan perasaan dipersiapkan stabil terlebih dahulu untuk selanjutnya dikonseling. Setelah diobati maka langkah selanjutnya, penderita gangguan bipolar di konseling. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa selain aspek fisik manusia mempunyai aspek batiniah. Selain tubuh ada jiwa. Selain sekedar unsur biologis ada unsur eksistensial dan makna. Semua ini adalah bagian dimensi dari manusia.



Kalau saya merefleksi dari pergumulan penderita gangguan bipolar, banyak di antara mereka yang kemudian bisa berdamai dengan gangguan yang mereka hadapi ini dan kemudian bisa berjuang bahkan akhirnya berprestasi serta diakui. Memang dari kenyataan kehidupan kita melihat bahwa ada seniman-seniman yang berprestasi namun sebenarnya mereka bergumul dengan kesehatan mental mereka. Kita sebut salah satu diantara mereka adalah Vincent Van Gogh, seorang pelukis terkenal. Ada dari mereka yang mengalami depresi berat dan juga ada yang mengalami gangguan bipolar juga. Walaupun kalau diselidiki banyak kasus bunuh diri di dalam gangguan bipolar tetapi juga ada kisah-kisah perjuangan dimana akhirnya penderita gangguan ini boleh mendapatkan satu pencapaian di dalam hidup mereka.



Waktu saya merenungkan mengenai bagaimana diri menghadapi gangguan bipolar maka muncul banyaknya aspek-aspek pemikiran di dalam diri saya. Ada orang yang mengkaitkan gangguan bipolar ini di dalam kelemahan penyakitnya namun mempunyai kelebihan yaitu kreativitas yang harus disalurkan. Ada penderita yang mengatasi gangguan bipolar dengan terapi seni. Saya beberapa kali mengamati bahwa di Indonesia sudah muncul adanya grup Bipolar Care Indonesia yang dipelopori oleh beberapa wanita seperti Igi dan Vindy. Saya tidak pernah terlibat langung dengan mereka dan hanya join Facebook grup ini. Namun saya menemukan beberapa kali bahwa di antara mereka mengadakan acara terapi di dalam seni. Saya mengamati bahwa Vindy sendiri sebagai pendiri BCI sering menggambar. Dan mungkin adalah benar bagi beberapa orang bahwa menggambar adalah salah satu menyalurkan pikiran dan perasaan dimana ini adalah salah satu terapi yang baik. 



Saya sendiri menemukan cara mengatasi pergumulan gangguan perasaan ini dengan  dengar musik, main keyboard dan menyanyi. Warisan lagu-lagu hymne di gereja maupun lagu-lagu kontemporer yang kuat nuansa perasaannya ( yang tentunya saya pilih yang kata-katanya solid ) merupakan satu terapi bagi saya. Saya sempat merenung bahwa di dalam menghadapi gangguan bipolar ini kita harus memperkuat latihan baik di otak kiri maupun kanan. Otak kiri biasa berkaitan dengan logika sedangkan otak kanan berkaitan dengan kreativitas dan seni. Saya menemukan satu solusi bagi diriku sendiri bahwa ketika saya sedang ekstrim di dalam satu fase misalnya terlalu konsentrasi di dalam programming dan coding ( berkaitan dengan otak kiri ) maka waktu saya pada akhirnya kecapean dan stres adalah baik dan membantu untuk menstabilkannya dengan fokus kepada kegiatan yang menggunakan otak kanan seperti main musik, dengar musik, menyanyi atau bersosialisasi. Hal ini akan menstabilkan diri saya. Terapi dialektik ini bagi saya sangat berguna. Ketika saya terlalu banyak ekstrovert dan bergaul dengan banyak orang maka ada kalanya saya perlu tenang berdiam diri untuk mengisi energi. Dan ketika saya sedang terlalu banyak sendiri introvert adalah baiknya saya mulai bersosialisasi. Bagi saya menjadi manusia yang utuh harus seimbang. 



               Kemudian dari beberapa pengamatan yang saya lihat dan juga dari pengalaman saya sendiri, salah satu terapi yang baik di dalam menghadapi gangguan bipolar adalah terapi kerja. Waktu kita bisa bekerja dan menghasilkan sesuatu yang berguna baik itu besar atau kecil, kita akan merasa puas. Dari sini saya merenungkan bahwa Tuhan menciptakan manusia itu untuk bekerja. Dan ketika manusia bekerja, mereka menemukan satu makna. Seperti halnya Tuhan bekerja maka manusia yang diciptakan menurut gambarNya juga harus bekerja menghasilkan buah dimana dari sana baru merasa dirinya berguna. Di dalam pencapaian ada kepuasan. Bahkan lebih dari pencapaian bagi orang yang percaya ada penggenapan rencanaNya. Sewaktu saya bisa mengerjakan sesuatu yang berguna bagi keluarga, atau bagi perusahaan atau bagi pelayanan atau bagi orang banyak, maka perasaan damai sejahtera akan mengkonfirmasi bahwa kita melakukan sesuatu yang benar. Bagi saya sendiri ini adalah setelan yang sudah ditetapkan dan satu sistem takaran yang standar yang sudah ditanamkan di dalam natur kita sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Yaitu kita harus bekerja dan menghasilkan buah. Dan menariknya, saya percaya bahwa kerja disini bukan dinilai dari hasil materinya dan hasil efisiensinya. Namun lebih dinilai dari apakah ini sesuai dengan takaran talenta yang sudah ditanamkan di dalam diri kita yang unik. 



Akhir kata, bagi setiap penderita Bipolar atau bagi caregivers, tetaplah semangat di dalam menghadapi penyakit ini ! Di dalam air mata dan perjuangan kita tetap berharap adanya makna. Dan kiranya Tuhan memberkati perjuangan kita semua !

Jeffrey Lim
16 November 2017
 

Read More ....

Thursday, December 10, 2015

JL Ministry

Read More ....

Pengobatan Medis dan Iman Kepercayaan bagi ODS dan ODB

Apa itu ODS ? Dan apa pula itu ODB ? Bagi mereka mengenal Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) mungkin sudah biasa familiar dan mengetahui bahwa ODS adalah singkatan dari orang dengan skizofrenia dan ODB adalah singkatan dari orang dengan bipolar. KPSI tidak menyebut orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) dengan istilah awam gila. Istilah gila adalah istilah yang mempunyai kesan kurang baik, penuh stigma dan berkonotasi negatif  terhadap penderita gangguan kejiwaan.

Sebenarnya orang-orang dengan gangguan kejiwaan adalah orang-orang yang dapat berfungsi dengan baik di masyarakat dan pekerjaan bila mereka diobati. Apakah anda  ingat cerita seorang bernama John Nash di dalam film Beautiful Mind ? Ini adalah kisah nyata dimana John Nash adalah seorang penderita skizofrenia yang memenangkan Nobel. Bahkan John Nash di dalam pergumulan skizofrenianya masih dapat mengajar sebagai professor di Princeton University sampai usia tuanya. Jangan menganggap orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan penuh masalah. Mereka adalah bagian dari masyarakat namun mereka mempunyai pergumulan dengan kejiwaan mereka yang mungkin kita tidak mengerti. Dan saya sebagai orang dengan bipolar (ODB) hendak menjelaskan apa natur dari gangguan kejiwaan sehingga ini lebih memberikan wawasan kepada keluarga, teman dan penderita untuk mengerti bagaimana mengobati orang dengan gangguan kejiwaan seperti skizofrenia dan bipolar.

Saya mulai menjelaskan apa natur orang dengan gangguan kejiwaan seperti skizofrenia dan bipolar dengan cara via negativa terlebih dahulu yaitu mengenai apa yang bukan gangguan kejiwaan.

Pertama-tama, gangguan kejiwaan bukan orang yang kerasukan setan. Kasus kerasukan setan berbeda dengan kasus gangguan kejiwaan. Walaupun sama-sama dapat tampak secara fenomena tidak waras tetapi orang dengan gangguan kejiwaan seperti ODS dan ODB akan menjadi baikan dan waras bila diberikan obat-obatan medis.  Banyak kaum agamawi dan juga pengobatan alternatif yang melihat orang-orang dengan gangguan kejiwaan sebagai problema kerasukan atau diganggu setan. Karena itu mereka didoakan, dicoba diusir setannya dan dianggap ada isinya. Dan tentunya penderita gangguan kejiwaan ini tidak akan baik-baik bila ditangani seperti ini.

Kedua, jangan menganggap bahwa orang dengan gangguan kejiwaan seperti skizofrenia dan bipolar adalah orang yang berdosa besar sehingga mereka sakit. Saya mengerti bahwa tentunya setiap manusia secara universal adalah manusia yang berdosa.  Tidak ada manusia yang luput dari dosa dan salah. Tetapi kita jangan mengambil kesimpulan secara umum bahwa penderitaan mereka karena dosa. Hal ini bukan saja menurut saya tidak tepat, bersifat menghakimi namun juga memperberat beban batin penderita gangguan kejiwaan. ODS dan ODB yang mengalami gejala psikotik mungkin dapat melakukan kesalahan besar dan kekacauan yang mengganggu sekitar karena sakitnya mereka. Ketika mereka sadar hal ini sudah menjadi pukulan batin bagi mereka.  Dan kita tidak boleh menghakimi mengatakan bahwa karena mereka sudah bersalah (dan tentunya tidak luput dari dosa) maka sebenarnya penyakit jiwa mereka juga karena dosa mereka. Ini penalaran pengambilan kesimpulan secara umum yang tidak tepat.

Nah, kemudian saya hendak memberikan apa natur masalah dari penyakit kejiwaan dalam diri ODS dan ODB.

Kita tidak bisa melihat manusia secara terpecah dan reduksi. Ilmu psikologi melihat natur manusia sebagai mahluk biologis, psikologis dan sosial. Dan agama melihat sisi tambahan yaitu melihat manusia sebagai mahluk spiritual. Ketika ODS dan ODB mengalami gangguan kejiwaan tentunya keseluruhan aspek ini (bio,psiko,sosial,spiritual) terpengaruh. Tetapi saya hendak mengajak kita untuk melihat aspek mana yang lebih esensial yang menjadi penyebab penyakit kejiwaan. Tentunya sekali lagi semua aspek ini saling mempengaruhi tetapi kita harus melihat mana yang lebih utama dan esensial.
Saya mengambil analogi misalnya pada seseorang yang mengalami penyakit psikosomatik (ini berbeda dengan gangguan kejiwaan) sehingga mengalami gangguan fisik seperti sakit kepala atau mual-mual, hal yang lebih esensial mengakibatkan gangguan fisiknya adalah dari gangguan pikiran / psikologis (karena itu disebut penyakit psikosomatik). Mengambil analogi mana yang lebih esensial maka saya hendak menjelaskan aspek apa yang lebih utama dan esensial dari gangguan kejiwaan pada ODS dan ODB.

Kita bersyukur bahwa dari ilmu pengetahuan dan dunia psikiatri sekarang ini kita dapat memahami apa penyebab utama dari orang yang benar-benar mengalami gangguan kejiwaan seperti ODS dan ODB. Penyebab utamanya adalah unsur fisik (biologis). ODS dan ODB mempunyai kelebihan kadar neurotransmitter dopamine di dalam otaknya yang membuat pikiran mereka menjadi kacau dan sampai psikotik. Penemuan ilmu ini sangat penting di dalam kita menangani ODS dan ODB. Tentu kita harus mengobati ODS dan ODB secara holistik dalam aspek bio-psiko-sosial-spiritual. Tanpa dukungan keluarga, teman dan support group, tanpa berpikir positif dan mempunyai iman kepercayaan maka ODS dan ODB juga tidak bisa berfungsi secara penuh di dalam hidupnya. Tetapi karena natur yang esensialnya adalah aspek fisik (biologis) yang mempengaruhi keseluruhan aspek maka kita harus terlebih dahulu mengobati aspek fisiknya. Jadi ODS dan ODB pertama-tama harus makan obat.

Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa seseorang dengan pikiran yang belum waras tentunya belum bisa dikonseling dan dikuatkan. Pikiran ODS dan ODB harus pulih menjadi waras dulu baru bisa dikonseling dan dikuatkan. Dan tentunya disinilah peran medis sebagai yang pertama. Yang lain-lain selanjutnya. Dan tentunya bila seseorang hanya diberikan medis belaka tanpa dukungan sosial dan iman kepercayaan maka dia lemah dan merasa hidupnya terasing dan tidak bermakna. Semua aspek harus ditangani tetapi kali ini saya hendak menekankan bahwa karena natur esensialnya adalah masalah fisik (biologis) maka aspek medis adalah esensial dan penting. Ini tidak dapat ditoleransi. ODS dan ODB harus makan obat karena mereka sakit. ODS dan ODB tanpa obat-obatan sudah jelas akan mengakibatkan mereka relaps lagi ( kambuh lagi).

Ada kecenderungan ekstrim orang-orang agamawi misalnya dalam agama Kristen adalah pendeta karismatik yang menasihati ODS dan ODB supaya mereka stop obat dan beriman kepada Tuhan saja. Mengkonsumi obat dianggap sebagai lemah atau kurang iman. Iman dianggap hal yang dapat menyembuhkan dan kurang iman mengakibatkan tidak sembuh. Orang-orang agamawi seperti ini yang tidak mengerti natur penyakit kejiwaan akan membuat kondisi mereka menjadi lebih buruk.

 Dari tulisan singkat ini saya hanya hendak menyimpulkan bahwa iman dan ilmu harus berjalan bersama-sama dan tidak saling meniadakan. Iman tidak bisa membuang ilmu dan ilmu tidak bisa takabur membuang iman. Saya sendiri bukan orang yang tidak beriman dan tidak percaya mujizat serta kesembuhan dari Tuhan. Saya percaya Tuhan dan saya percaya Tuhan dapat menyembuhkan penyakit kita. Tetapi bila kita sakit kemudian berdoa dan beriman namun tidak ke dokter hal ini adalah konyol. Bila kita kena kanker tetapi hanya berdoa dan beriman bukankah itu tidak bijaksana. Iman dan rasio tidak bertentangan. Tuhan dapat bekerja secara supranatural tetapi juga sering bekerja secara natural. Tuhan juga memakai dokter dan psikiater untuk menolong dan menyembuhkan.

Ketika ODS dan ODB pergi dokter dan psikiater bukan berarti maka melupakan doa dan iman. Doa dan iman adalah bagian dari batiniah kita sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Bagi ODS dan ODB, ketika doa dan iman penting bagi batin mereka namun jangan tidak makan obat. Pikiran positif dan iman kepercayaan dapat memerangi cemas, gelisah, takut dan depresi ringan bagi kebanyakan orang. Tetapi bagi kategori ODS dan ODB yang bukan kategori  biasa, tetaplah minum obat sekaligus beriman. Stop obat dapat mengakibatkan gangguan kejiwaannya kambuh lagi.

Pada akhirnya, semua aspek harus holistik dan menyeluruh di dalam menangai ODS dan ODB (aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual). Jangan stop medis dan jangan tidak berdoa dan membuang iman kepercayaan.

Jeffrey Lim ( Seorang ODB yang sedang pengobatan dan dalam pemulihan )
www.jlministry.org

Read More ....

Monday, June 10, 2013

Aku tidak malu akan Injil - Sebuah Refleksi mengenai Rasa Malu dan Injil

Rasul Paulus mengatakan, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil,  karena Injil adalah kekuatan Allah  yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,  pertama-tama orang Yahudi,  tetapi juga orang Yunani.” ( Roma 1:16 ). Terjemahan lainnya mengatakan bahwa “Sebab aku tidak malu akan Injil”.

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia mempunyai rasa “malu” akan dirinya. Ed Welch mengatakan bahwa di dalam rasa malu ini mengandung beberapa nuansa.  Pertama-tama, yaitu kita merasa diri kita “terekspos” ( terbuka telanjang ) baik di hadapan Allah maupun di hadapan umum (sesama manusia).  Kedua, di dalam rasa malu juga mengandung nuansa bahwa kita merasa diri kita najis, kotor, dan terkontaminasi. Kita merasa jijik dengan diri kita dan berpandangan mungkin orang lain juga mengetahui dan jijik terhadap diri kita. Dan terakhir malu bernuansa bahwa kita ditolak dan tidak diterima oleh orang lain. Kita merasa tidak dimiliki. Kita merasa terbuang dan dibuang.

Perasaan malu adalah perasaan yang dasyat. Perasaan ini masuk ke dalam hati kita dan dapat membuat kita gelisah, kuatir, takut dan bersalah. Malu dapat terjadi karena dosa kita atau juga dapat terjadi karena tindakan dosa orang lain terhadap kita. Malu ini mengandung asosiasi. Ketika kita diasosiasikan dengan dosa, kenajisan dan pelanggaran maka secara otomatis ini menimbulkan rasa malu.

Tetapi bersyukur kepada Tuhan sebab oleh karena Injil kita tidak perlu merasa malu. Mengapa ?
Sebab di dalam Injil kita ditutupi oleh kebenaran Kristus. KebenaranNya menjubahi ketelanjangan kita karena dosa. KekudusanNya menghiasi batin kita. Berita Injil adalah berita sukacita bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib untuk mengampuni, menghapus dan membersihkan dosa kita. Dan karena Injil kita diterima menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus Yesus.

Orang-orang yang datang kepada Yesus Kristus tidak akan dipermalukan. Pemazmur mengatakan bahwa “kepadaMu Tuhan aku berlindung, jangan aku mendapat malu”. Karena Yesus Kristus adalah Tuhan maka orang yang datang kepadaNya tidak akan dipermalukan. Tidak dipermalukan oleh siapa ? Tidak dipermalukan oleh Allah sendiri. Tidak dipermalukan oleh Yesus Kristus sendiri.

Ketika Yesus Kristus tidak mempermalukan orang yang berlindung padaNya, tetapi mungkin orang yang datang kepada Tuhan masih dipermalukan oleh orang lain dan sekitar. Misalnya sebelum anda percaya Tuhan anda adalah seorang yang dipenjara dan jahat. Ketika anda percaya Tuhan mungkin orang lain masih mempermalukan anda bahwa anda orang berdosa. Contoh lain adalah anda mungkin seorang yang di mata masyarakat memalukan. Kemudian anda percaya kepada Tuhan Yesus. Orang mungkin masih memandang anda orang yang memalukan. Tetapi Tuhan tidak mempermalukan orang yang datang kepadaNya. Dan pertanyaannya : penilaian siapa yang kita pandang ? Penilaian Tuhan atau manusia ? Ketika Tuhan mendeklarasikan dan mengampuni dosa manusia, siapakah manusia yang berhak merasa bersalah dan malu terus menerus ? Kalau Allah membenarkan seorang manusia siapakah yang menghukum dia ?

Kisah-kisah Tuhan Yesus menerima dan mengampuni serta membenarkan orang berdosa seperti ini banyak di dalam Alkitab. Ingat kisah Zakheus si pemungut cukai yang dibenci oleh masyarakat ? Ingat kisah perempuan Samaria yang dianggap perempuan berdosa ? Ingat peristiwa orang yang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus Kristus ? Ingat kisah perempuan berdosa yang menggunakan rambut dan air matanya untuk mengurapi Tuhan Yesus ?

Atau mari kita melihat kisah murid Yesus sendiri yaitu Simon Petrus. Rasul Petrus pernah menyangkal Yesus Kristus sebanyak 3x. Dia merasa malu dan bersalah. Tetapi Tuhan Yesus memulihkannya dengan 3 pertanyaan “Simon, apakah engkau mengasihi Aku ?” Ketika Petrus menjawab pertanyaan Yesus, Yesus Kristus mengatakan kembali :”gembalakanlah domba-dombaKu”

Atau marilah kita juga melihat Rasul Paulus yang sebelumnya menganiaya jemaat Tuhan. Kemudian dia dipanggil Tuhan menjadi rasul bagi jemaat Tuhan. Tentunya bukan hal yang mudah bagi rasul Paulus di dalam batinnya ketika berhadapan dengan jemaat Tuhan. Dia tentu ada perasaan bersalah dan malu. Tetapi Paulus menyadari satu hal bahwa dia tidak malu akan Injil. Injil yang menyelamatkan dia. Injil yang memulihkan dia.

Mungkin saudara adalah orang yang di mata dunia bukan seorang yang terhormat. Kemudian saudara hendak datang kepada Tuhan Yesus dan mungkin dunia mentertawakan anda. Jangan malu karena Injil ! Karena Tuhan Yesus mengasihi dan menerima anda. Injil yang anda percayai adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Mungkin anda di mata dunia bukan seorang yang mulia. Seorang yang pernah berdosa. Seorang yang dinilai memalukan. Tetapi Tuhan memanggil anda menjadi hamba Tuhan dan dunia mungkin mengolok-ngolok anda. Tetapi janganlah malu karena Injil ! Layanilah Tuhan !

Mungkin anda di dalam penilaian dunia bukan seorang yang kaya, berpengaruh, berkuasa, hebat dan seorang yang dipandang dalam nilai-nilai dunia. Tetapi Tuhan memanggil kita kawanan kecil yang lemah dan miskin untuk menjadi saksi-saksiNya. Janganlah malu karena Injil ! Bersaksilah bagi Dia !

Bila dunia masih mentertawakan anda dan mempermalukan anda, janganlah malu tetapi marilah menanggung semua itu. Yesus Kristus sendiri adalah teladan dalam hal ini. Dia Allah yang menjadi manusia. Lahir di palungan. Lahir sebagai orang miskin. Orang-orang menghina dia adalah anak haram. Tetapi sesungguhnya Dia dikandung dari Roh Kudus dalam rahim Maria dan bukan dari hasil persetubuhan laki-laki dan perempuan. Dia hidup sebagai anak tukang kayu. Berasal dari kota kecil kota nazaret. Dia tidak berpendidikan tinggi. Dia bahkan di dalam matinya harus dipermalukan di kayu salib. Di hina, diolok-olok dan ditelanjangi. Tetapi salib yang dipandang dunia sebagai lambang hina menjadi lambang mulia.

Janganlah malu akan salib Tuhan ! Salib yang sepertinya kekalahan dan kebodohan sesungguhnya adalah kekuatan Allah. Salib adalah hikmat Allah.

Jangan malu di dalam mengikut Tuhan ! Mengikut Tuhan adalah jalan berkat !

Marilah kita tidak malu akan Injil dan bersaksi akan Injil !

Jeffrey Lim
www.jlministry.org
10-6-2013

Read More ....

LIMPINGEN BLOG