Friday, September 14, 2018

Depresi, Bipolar, Skizofrenia dan Kekristenan

Untuk saudara-saudaraku dalam Tuhan yang bergumul dengan masalah gangguan mental
Iman dan Ilmu
Kalau kita menelurusi sejarah pemikiran, ada jejak permusuhan, ketegangan dikotomis antara iman dan ilmu. Iman seringkali didefinisikan oleh kebanyakan orang sebagai respon pribadi privat kepada Tuhan di dalam agama dan ilmu pengetahuan itu adalah yang adalah pengetahuan yang ilmiah. Iman seringkali dicurigai sebagai wilayah privat dan bukan wilayah publik. Saya pribadi tidak membenarkan definisi iman dan ilmu yang dipengaruhi modernisme ini dan filsafat Kant, bahkan dengan pengertian iman dan ilmu yang seperti ini mengakibatkan ekses dan masalah di dalam pergumulan-pergumulan manusia dengan gangguan mental. Agama dianggap sebagai masalah kepercayaan yang kuno dan ilmu pengetahuan itu dianggap sesuatu yang ilmiah. Di satu sisi tidak dapat dipungkiri bahwa ketika ada beberapa gereja yang boleh kita katakan bodoh (terutama sebagian pemahaman yang tidak tepat di dalam teologi karismatik- bukan berarti setiap orang karismatik begitu) yang kurang mengerti dunia psikiatri dan dunia gangguan kejiwaan, mereka dapat dengan mudah menganggap itu adalah masalah iman, masalah dosa atau masalah diganggu setan. Ini fatal akibatnya. Ketika agama dianggap tidak ilmiah maka solusi nya adalah ilmu pengetahuan. Ini dihasilkan dari pemikiran dikotomis diatas.
 
Ketika diagnosa terhadap masalah itu tidak tepat maka penanganan masalah itupun menjadi tidak akurat. Kalau seseorang yang mengalami skizofrenia itu disangka dia adalah seorang pendosa atau orang yang diganggu setan dan orang yang tidak beriman. Tuduhan ini berat ketika ternyata faktor biologis, faktor kimiawi, faktor neurotransmitter sangat memainkan peranan penting. Intinya memang ada sakit di dalam otak kok ! Ada gangguan di otak yang perlu dibantu dengan obat. Dan ketika ada terjadi ekses pemahaman yang tidak tepat dengan memandang gangguan mental itu masalah dosa pribadi secara langsung, masalah iman dan masalah diganggu setan, hal-hal ini akan dapat membuat orang percaya merasa pahit dengan kekristenan. Karena mereka berpikir bahwa wawasan dunia kekristenan yang seperti itu tidak akurat, terlalu keras, tidak manusiawi, tidak dapat dihidupi dan dapat membuat mereka secara tidak langsung menjadi anti dengan iman kepercayaan agama. Saya banyak menemukan gejala ini di dalam diri beberapa orang di grup Facebook. Sungguh ironis ! Teologi yang salah menghasilkan praktis yang salah !
 
Sebenarnya ekses dari pemikiran yang salah menghasilkan pemikiran yang ekstrim lagi. Kekristenan yang sesungguhnya tidak seperti yang banyak dikarikaturkan oleh beberapa saudara kita yang karismatik dalam menghadapi masalah gangguan mental.
Kekristenan yang sejati membawa pengharapan seperti Yesus waktu datang ke dalam dunia memberikan pengharapan bagi yang tertindas. Buluh yang terkulai tidak dipatahkannya. Sumbu yang pudar tidak dipadamkannya. Tuhan Yesus lemah lembut dan rendah hati. Dia sering tergerak oleh belas kasihan dan menolong orang yang malang dan tidak layak. Tangan Tuhan begitu murah hati. Dia membebaskan orang yang dalam ikatan dosa, ikatan kuasa gelap, dan juga sakit penyakit. Dia memperhatikan kebutuhan orang banyak, selain jasmani terutama yang kekal yaitu supaya mereka dapat mengenal Allah Bapa dan berelasi denganNya melalui karya pengorbananNya.
 
Di tengahnya polemik ini, saya pribadi sebagai seorang penderita bipolar Kristen yang derajat sakitnya cukup parah ingin mengsharingkan iman saya bahwa ketika banyak gereja (terutama saudara kita yang karismatik) kurang memahami natur penyakit mental, bukan berarti fondasi iman kepercayaan kita roboh. Sebab fondasi iman kita dibangun di dalam Tuhan Yesus Kristus yang adalah fondasi tidak tergoyangkan. 
 
Dan lagian sebenarnya ada pemahaman kepercayaan kekristenan yang lebih dewasa di dalam memahami pergumulan gangguan mental. Pemahaman yang lebih komprehensif yang lebih mewakili apa itu iman Kristen. CS Lewis mengatakan bahwa saya percaya di dalam Kekristenan seperti saya percaya matahari sudah terbit. Bukan hanya karena saya melihat hal itu tetapi karena dengan itu saya melihat segala sesautu yang lain. Satu kutipan yang bagus.
 
Di dalam iman kepercayaan kekristenan sendiri kita mengenal tentang Allah adalah kasih. Dia mengasihi kita bahkan di dalam kondisi kita yang paling malang sekalipun. Dan dari pemahaman dari wawasan dunia Kristen, kita sadar bahwa Tuhan itu sendiri beserta kita di dalam segala kondisi kita. Tuhan beranugerah. Dia mencukupi. Dia menghibur. Dia memberikan iman. Dia memberikan pengharapan. Tuhan sendiri setia terhadap kita ketika kita seringkali tidak setia kepadaNya.
 
Bagi saya iman kepercayaan Kekristenanku jutru memberikan banyak sekali terobosan dan menjadi kekuatan di dalam hidupku. Bagi saya, Tuhan adalah kenikmatanku, kekuatanku, bahkan hidupku. Dia adalah bagianku.Dia adalah pemelihara hidupku. Saya berada di dalam Kristus. Hidup saya di luar Tuhan Yesus Kristus tidak bisa berbuat apa-apa. Segala kelimpahan pemahaman mengenai ketuhanan di dalam Alkitab itu memperkuat iman kita. Memperkuat pengharapan kita. Tuhan seringkali memberikan perintah : “jangan takut”. Dan juga Tuhan seringkali memberikan perintah untuk “percaya”. Ketika saya menjalani kehidupan di dalam segala tantangan dan penderitaannya, saya makin sadar bahwa kalau saya tidak ada Tuhan, saya sudah jauh-jauh hari sudah hancur.
 
Tanpa Tuhan di dalam hidup saya hidup saya makin terasa hampa dan tidak bermakna. Seperti ilmuwan Blaise Pascal mengatakan bahwa ketika kita berusaha di dalam kesia-siaan untuk memenuhi diri dengan segala sesuatu, mencari di dalam hal-hal pertolongan dimana tidak ada yang dapat menolong, kita tidak menemukan semua itu. Sebab ruang tidak terbatas ini hanya dapat disini oleh sesuatu yang tidak terbatas yaitu Allah itu sendiri. Bapa gereja Agustinus mengatakan bahwa jiwa kita resah sampai kita bertemu dengan Tuhan sendiri.
 
Tetapi ketika iman kekristenan yang ku percaya itu memberikan aku sauh dan jangkar pengharapan dalam jiwa. Lebih jauh iman kekristenan yang ku percaya itu tidak menolak medis. Di dalam kerangka teologi anugerah umum dan anugerah khusus. Medis itu dapat dikategorikan sebagai anugerah umum. Yaitu pemberian Tuhan kepada manusia untuk menolong manusia. Hasil riset psikologi dan psikiatri juga ada ruang dan tempat pemetaannya yaitu di dalam kerangka teologi wahyu umum. Tuhan Allah menyatakan diriNya melalui alam semesta dan segala kebenaran di dalam alam semesta adalah kebenaran Allah.
 
Sebelum saya menutup perenungan ini, saya ingin memberikan 1 pernyataan bahwa ketika mungkin banyak gereja ( kebanyakan saudara kita yang karismatik ) yang mungkin belum mengerti kekayaan kekristenan yang limpah serta mempunyai pandangan yang ekstrim dalam cara dan metoda untuk menangani orang-orang gangguan mental, respon kita pun tidak perlu menjadi pendulum ekstrim ke satu sisi lain yaitu menjadi pahit, kesal bahkan menjadi liberal atau ateis. Tidak perlu demikian.
 
Kita harus bisa belajar mensintesa antara tesis dan antithesis. Pemikiran dunia kekristenan tidak sesempit yang dibayangkan. Justru memberikan banyak sekali terobosan dan nilai hidup dan kelimpahan hidup.
Tuhan menyembuhkan tubuh dan jiwa melalui dokter dan medis juga
Marilah kita orang kristen yang bergumul dengan masalah gangguan mental seperti depresi, bipolar, skizofrenia, dll boleh melihat diri dari kacamata yang lebih luas. Gangguan yang kita hadapi adalah gangguan bio psiko sosial dan spiritual. Unsur fisik memainkan peranan penting. Karena itu perlu konsumsi medis tentunya bahkan dalam banyak kasus harus seumur hidup. Tuhan juga memakai dokter dan medis juga untuk menyembuhkan masalah pergumulaan sakit mental. Namun Unsur batiniah dan rohani berperan penting dan ada. Jadi jangan jadikan semua solusi hanyalah medis belaka ( walaupun tentunya ini sangat fundamental ). Tetapi bukan solusi ultimat satu-satunya. Jangan pernah stop obat! Dan juga tetap kuatkan iman anda ! Tetaplah menantikan Tuhan ! Ada kebaikanNya yang sangat besar kepada kita yang mungkin kita perlu minta mata rohani kita untuk dibukakan. Ada keindahan di balik penderitaan dan memikul salib. Dan kita juga diberikan janji adanya satu hari negeri yang tidak ada penderitaan dan air mata lagi. Hidup sementara ini mari kita gunakan untuk menjadi berkat. Marilah nantikan Tuhan !
 
Orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru ! ( Yesaya 40:31 )
 
Masih ada anugerah Tuhan yang selalu baru setiap pagi !
 
Mari kita belajar mengucap syukur !
 
Jeffrey Lim, M.C.S

Read More ....

Thursday, November 16, 2017

Gangguan Bipolar dan Manusia sebagai ciptaan Tuhan

Refleksi mengenai gangguan Bipolar

               Lebih dari separuh usiaku ( 20 tahun ) bergumul naik turun dengan satu penyakit yang namanya Gangguan Bipolar. Penyakit apa sih ini ? Mungkin terminologi gangguan bipolar ini mulai tersingkap di negeri Indonesia semenjak kejadian artis Marshanda yang terkena gangguan bipolar II yang sempat sedikit menghebohkan dunia sosial media.  Apa itu gangguan Bipolar ?  Mengapa disebut penyakit ? Karena memang gangguan Bipolar itu betul-betul sebuah penyakit di kimiawi otak penderita gangguan Bipolar. Gangguan kimiawi di otak dalam gangguan bipolar ini mempengaruhi suasana perasaan dan pikiran. Ada 2 kutub di dalam bipolar yaitu ketika sedang fase mania dan ketika sedang fase depresi. Ketika sedang depresi, alam perasaan terasa down, malas ngapa-ngapain, letih, lesu, moody dan juga kurang bisa konsentrasi. Dan ketika sedang mania, diri penuh dengan ide, energi, berbicara cepat dan perasaan menggelora senang. Di dalam tahap mania ini penderita dapat melakukan hal-hal yang merugikan baik diri sendiri maupun orang lain seperti boros, melanggar aturan, mencoba hal-hal yang berbahaya, dll. 


Ketika saya berbicara bahwa gangguan Bipolar itu satu penyakit, saya tentu tidak menghilangkan bahwa ada dimensi-dimensi lain di dalam gangguan Bipolar seperti psiko sosial dan spiritual disamping fisik ( biologis ).  Melihat gangguan Bipolar dari multidimensi adalah satu hal yang holistik dan menyeluruh. Manusia diciptakan Tuhan ada dimensi fisik (tubuh) ada dimensi rohani (jiwa). Ada dimensi sosial dan relasional juga. Tetapi tidak menghilangkan bahwa salah satu dimensi yang paling kuat di dalam gangguan Bipolar adalah dimensi fisik ( biologis ). Karena gangguan bipolar ini  adalah benar-benar satu penyakit fisik maka  memerlukan pengobatan medis. Dan bersyukur bahwa penyakit ini adalah treatable ( dapat diobati ). Penyakit ini ibarat penyakit darah tinggi yang memerlukan pengobatan terus menerus untuk menstabilkan.


               Ketika saya merenungkan saudara-saudari sependeritaan yang mengalami gangguan bipolar, saya menyadari bahwa Tuhan Allah memberikan anugerahNya baik secara anugerah umum maupun anugerah khusus. Anugerah umum adalah anugerah bagi semua manusia. Di dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan penemuan medis yang adalah anugerah umum, saya melihat bahwa obat-obatan dipakai untuk menjadi berkat bagi penderita gangguan Bipolar. Ketika gangguan bipolar sendiri adalah satu penyakit di kimiawi otak maka obat-obatan yang tepat berkhasiat menstabilkan suasana perasaan dan pikiran penderita gangguan bipolar. Bagi saya sendiri sebagai penderita gangguan bipolar, medis adalah satu hal yang esensial dan fundamental dimana pikiran dan perasaan dipersiapkan stabil terlebih dahulu untuk selanjutnya dikonseling. Setelah diobati maka langkah selanjutnya, penderita gangguan bipolar di konseling. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa selain aspek fisik manusia mempunyai aspek batiniah. Selain tubuh ada jiwa. Selain sekedar unsur biologis ada unsur eksistensial dan makna. Semua ini adalah bagian dimensi dari manusia.



Kalau saya merefleksi dari pergumulan penderita gangguan bipolar, banyak di antara mereka yang kemudian bisa berdamai dengan gangguan yang mereka hadapi ini dan kemudian bisa berjuang bahkan akhirnya berprestasi serta diakui. Memang dari kenyataan kehidupan kita melihat bahwa ada seniman-seniman yang berprestasi namun sebenarnya mereka bergumul dengan kesehatan mental mereka. Kita sebut salah satu diantara mereka adalah Vincent Van Gogh, seorang pelukis terkenal. Ada dari mereka yang mengalami depresi berat dan juga ada yang mengalami gangguan bipolar juga. Walaupun kalau diselidiki banyak kasus bunuh diri di dalam gangguan bipolar tetapi juga ada kisah-kisah perjuangan dimana akhirnya penderita gangguan ini boleh mendapatkan satu pencapaian di dalam hidup mereka.



Waktu saya merenungkan mengenai bagaimana diri menghadapi gangguan bipolar maka muncul banyaknya aspek-aspek pemikiran di dalam diri saya. Ada orang yang mengkaitkan gangguan bipolar ini di dalam kelemahan penyakitnya namun mempunyai kelebihan yaitu kreativitas yang harus disalurkan. Ada penderita yang mengatasi gangguan bipolar dengan terapi seni. Saya beberapa kali mengamati bahwa di Indonesia sudah muncul adanya grup Bipolar Care Indonesia yang dipelopori oleh beberapa wanita seperti Igi dan Vindy. Saya tidak pernah terlibat langung dengan mereka dan hanya join Facebook grup ini. Namun saya menemukan beberapa kali bahwa di antara mereka mengadakan acara terapi di dalam seni. Saya mengamati bahwa Vindy sendiri sebagai pendiri BCI sering menggambar. Dan mungkin adalah benar bagi beberapa orang bahwa menggambar adalah salah satu menyalurkan pikiran dan perasaan dimana ini adalah salah satu terapi yang baik. 



Saya sendiri menemukan cara mengatasi pergumulan gangguan perasaan ini dengan  dengar musik, main keyboard dan menyanyi. Warisan lagu-lagu hymne di gereja maupun lagu-lagu kontemporer yang kuat nuansa perasaannya ( yang tentunya saya pilih yang kata-katanya solid ) merupakan satu terapi bagi saya. Saya sempat merenung bahwa di dalam menghadapi gangguan bipolar ini kita harus memperkuat latihan baik di otak kiri maupun kanan. Otak kiri biasa berkaitan dengan logika sedangkan otak kanan berkaitan dengan kreativitas dan seni. Saya menemukan satu solusi bagi diriku sendiri bahwa ketika saya sedang ekstrim di dalam satu fase misalnya terlalu konsentrasi di dalam programming dan coding ( berkaitan dengan otak kiri ) maka waktu saya pada akhirnya kecapean dan stres adalah baik dan membantu untuk menstabilkannya dengan fokus kepada kegiatan yang menggunakan otak kanan seperti main musik, dengar musik, menyanyi atau bersosialisasi. Hal ini akan menstabilkan diri saya. Terapi dialektik ini bagi saya sangat berguna. Ketika saya terlalu banyak ekstrovert dan bergaul dengan banyak orang maka ada kalanya saya perlu tenang berdiam diri untuk mengisi energi. Dan ketika saya sedang terlalu banyak sendiri introvert adalah baiknya saya mulai bersosialisasi. Bagi saya menjadi manusia yang utuh harus seimbang. 



               Kemudian dari beberapa pengamatan yang saya lihat dan juga dari pengalaman saya sendiri, salah satu terapi yang baik di dalam menghadapi gangguan bipolar adalah terapi kerja. Waktu kita bisa bekerja dan menghasilkan sesuatu yang berguna baik itu besar atau kecil, kita akan merasa puas. Dari sini saya merenungkan bahwa Tuhan menciptakan manusia itu untuk bekerja. Dan ketika manusia bekerja, mereka menemukan satu makna. Seperti halnya Tuhan bekerja maka manusia yang diciptakan menurut gambarNya juga harus bekerja menghasilkan buah dimana dari sana baru merasa dirinya berguna. Di dalam pencapaian ada kepuasan. Bahkan lebih dari pencapaian bagi orang yang percaya ada penggenapan rencanaNya. Sewaktu saya bisa mengerjakan sesuatu yang berguna bagi keluarga, atau bagi perusahaan atau bagi pelayanan atau bagi orang banyak, maka perasaan damai sejahtera akan mengkonfirmasi bahwa kita melakukan sesuatu yang benar. Bagi saya sendiri ini adalah setelan yang sudah ditetapkan dan satu sistem takaran yang standar yang sudah ditanamkan di dalam natur kita sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Yaitu kita harus bekerja dan menghasilkan buah. Dan menariknya, saya percaya bahwa kerja disini bukan dinilai dari hasil materinya dan hasil efisiensinya. Namun lebih dinilai dari apakah ini sesuai dengan takaran talenta yang sudah ditanamkan di dalam diri kita yang unik. 



Akhir kata, bagi setiap penderita Bipolar atau bagi caregivers, tetaplah semangat di dalam menghadapi penyakit ini ! Di dalam air mata dan perjuangan kita tetap berharap adanya makna. Dan kiranya Tuhan memberkati perjuangan kita semua !

Jeffrey Lim
16 November 2017
 

Read More ....

Thursday, December 10, 2015

JL Ministry

Read More ....

Pengobatan Medis dan Iman Kepercayaan bagi ODS dan ODB

Apa itu ODS ? Dan apa pula itu ODB ? Bagi mereka mengenal Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) mungkin sudah biasa familiar dan mengetahui bahwa ODS adalah singkatan dari orang dengan skizofrenia dan ODB adalah singkatan dari orang dengan bipolar. KPSI tidak menyebut orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) dengan istilah awam gila. Istilah gila adalah istilah yang mempunyai kesan kurang baik, penuh stigma dan berkonotasi negatif  terhadap penderita gangguan kejiwaan.

Sebenarnya orang-orang dengan gangguan kejiwaan adalah orang-orang yang dapat berfungsi dengan baik di masyarakat dan pekerjaan bila mereka diobati. Apakah anda  ingat cerita seorang bernama John Nash di dalam film Beautiful Mind ? Ini adalah kisah nyata dimana John Nash adalah seorang penderita skizofrenia yang memenangkan Nobel. Bahkan John Nash di dalam pergumulan skizofrenianya masih dapat mengajar sebagai professor di Princeton University sampai usia tuanya. Jangan menganggap orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan penuh masalah. Mereka adalah bagian dari masyarakat namun mereka mempunyai pergumulan dengan kejiwaan mereka yang mungkin kita tidak mengerti. Dan saya sebagai orang dengan bipolar (ODB) hendak menjelaskan apa natur dari gangguan kejiwaan sehingga ini lebih memberikan wawasan kepada keluarga, teman dan penderita untuk mengerti bagaimana mengobati orang dengan gangguan kejiwaan seperti skizofrenia dan bipolar.

Saya mulai menjelaskan apa natur orang dengan gangguan kejiwaan seperti skizofrenia dan bipolar dengan cara via negativa terlebih dahulu yaitu mengenai apa yang bukan gangguan kejiwaan.

Pertama-tama, gangguan kejiwaan bukan orang yang kerasukan setan. Kasus kerasukan setan berbeda dengan kasus gangguan kejiwaan. Walaupun sama-sama dapat tampak secara fenomena tidak waras tetapi orang dengan gangguan kejiwaan seperti ODS dan ODB akan menjadi baikan dan waras bila diberikan obat-obatan medis.  Banyak kaum agamawi dan juga pengobatan alternatif yang melihat orang-orang dengan gangguan kejiwaan sebagai problema kerasukan atau diganggu setan. Karena itu mereka didoakan, dicoba diusir setannya dan dianggap ada isinya. Dan tentunya penderita gangguan kejiwaan ini tidak akan baik-baik bila ditangani seperti ini.

Kedua, jangan menganggap bahwa orang dengan gangguan kejiwaan seperti skizofrenia dan bipolar adalah orang yang berdosa besar sehingga mereka sakit. Saya mengerti bahwa tentunya setiap manusia secara universal adalah manusia yang berdosa.  Tidak ada manusia yang luput dari dosa dan salah. Tetapi kita jangan mengambil kesimpulan secara umum bahwa penderitaan mereka karena dosa. Hal ini bukan saja menurut saya tidak tepat, bersifat menghakimi namun juga memperberat beban batin penderita gangguan kejiwaan. ODS dan ODB yang mengalami gejala psikotik mungkin dapat melakukan kesalahan besar dan kekacauan yang mengganggu sekitar karena sakitnya mereka. Ketika mereka sadar hal ini sudah menjadi pukulan batin bagi mereka.  Dan kita tidak boleh menghakimi mengatakan bahwa karena mereka sudah bersalah (dan tentunya tidak luput dari dosa) maka sebenarnya penyakit jiwa mereka juga karena dosa mereka. Ini penalaran pengambilan kesimpulan secara umum yang tidak tepat.

Nah, kemudian saya hendak memberikan apa natur masalah dari penyakit kejiwaan dalam diri ODS dan ODB.

Kita tidak bisa melihat manusia secara terpecah dan reduksi. Ilmu psikologi melihat natur manusia sebagai mahluk biologis, psikologis dan sosial. Dan agama melihat sisi tambahan yaitu melihat manusia sebagai mahluk spiritual. Ketika ODS dan ODB mengalami gangguan kejiwaan tentunya keseluruhan aspek ini (bio,psiko,sosial,spiritual) terpengaruh. Tetapi saya hendak mengajak kita untuk melihat aspek mana yang lebih esensial yang menjadi penyebab penyakit kejiwaan. Tentunya sekali lagi semua aspek ini saling mempengaruhi tetapi kita harus melihat mana yang lebih utama dan esensial.
Saya mengambil analogi misalnya pada seseorang yang mengalami penyakit psikosomatik (ini berbeda dengan gangguan kejiwaan) sehingga mengalami gangguan fisik seperti sakit kepala atau mual-mual, hal yang lebih esensial mengakibatkan gangguan fisiknya adalah dari gangguan pikiran / psikologis (karena itu disebut penyakit psikosomatik). Mengambil analogi mana yang lebih esensial maka saya hendak menjelaskan aspek apa yang lebih utama dan esensial dari gangguan kejiwaan pada ODS dan ODB.

Kita bersyukur bahwa dari ilmu pengetahuan dan dunia psikiatri sekarang ini kita dapat memahami apa penyebab utama dari orang yang benar-benar mengalami gangguan kejiwaan seperti ODS dan ODB. Penyebab utamanya adalah unsur fisik (biologis). ODS dan ODB mempunyai kelebihan kadar neurotransmitter dopamine di dalam otaknya yang membuat pikiran mereka menjadi kacau dan sampai psikotik. Penemuan ilmu ini sangat penting di dalam kita menangani ODS dan ODB. Tentu kita harus mengobati ODS dan ODB secara holistik dalam aspek bio-psiko-sosial-spiritual. Tanpa dukungan keluarga, teman dan support group, tanpa berpikir positif dan mempunyai iman kepercayaan maka ODS dan ODB juga tidak bisa berfungsi secara penuh di dalam hidupnya. Tetapi karena natur yang esensialnya adalah aspek fisik (biologis) yang mempengaruhi keseluruhan aspek maka kita harus terlebih dahulu mengobati aspek fisiknya. Jadi ODS dan ODB pertama-tama harus makan obat.

Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa seseorang dengan pikiran yang belum waras tentunya belum bisa dikonseling dan dikuatkan. Pikiran ODS dan ODB harus pulih menjadi waras dulu baru bisa dikonseling dan dikuatkan. Dan tentunya disinilah peran medis sebagai yang pertama. Yang lain-lain selanjutnya. Dan tentunya bila seseorang hanya diberikan medis belaka tanpa dukungan sosial dan iman kepercayaan maka dia lemah dan merasa hidupnya terasing dan tidak bermakna. Semua aspek harus ditangani tetapi kali ini saya hendak menekankan bahwa karena natur esensialnya adalah masalah fisik (biologis) maka aspek medis adalah esensial dan penting. Ini tidak dapat ditoleransi. ODS dan ODB harus makan obat karena mereka sakit. ODS dan ODB tanpa obat-obatan sudah jelas akan mengakibatkan mereka relaps lagi ( kambuh lagi).

Ada kecenderungan ekstrim orang-orang agamawi misalnya dalam agama Kristen adalah pendeta karismatik yang menasihati ODS dan ODB supaya mereka stop obat dan beriman kepada Tuhan saja. Mengkonsumi obat dianggap sebagai lemah atau kurang iman. Iman dianggap hal yang dapat menyembuhkan dan kurang iman mengakibatkan tidak sembuh. Orang-orang agamawi seperti ini yang tidak mengerti natur penyakit kejiwaan akan membuat kondisi mereka menjadi lebih buruk.

 Dari tulisan singkat ini saya hanya hendak menyimpulkan bahwa iman dan ilmu harus berjalan bersama-sama dan tidak saling meniadakan. Iman tidak bisa membuang ilmu dan ilmu tidak bisa takabur membuang iman. Saya sendiri bukan orang yang tidak beriman dan tidak percaya mujizat serta kesembuhan dari Tuhan. Saya percaya Tuhan dan saya percaya Tuhan dapat menyembuhkan penyakit kita. Tetapi bila kita sakit kemudian berdoa dan beriman namun tidak ke dokter hal ini adalah konyol. Bila kita kena kanker tetapi hanya berdoa dan beriman bukankah itu tidak bijaksana. Iman dan rasio tidak bertentangan. Tuhan dapat bekerja secara supranatural tetapi juga sering bekerja secara natural. Tuhan juga memakai dokter dan psikiater untuk menolong dan menyembuhkan.

Ketika ODS dan ODB pergi dokter dan psikiater bukan berarti maka melupakan doa dan iman. Doa dan iman adalah bagian dari batiniah kita sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Bagi ODS dan ODB, ketika doa dan iman penting bagi batin mereka namun jangan tidak makan obat. Pikiran positif dan iman kepercayaan dapat memerangi cemas, gelisah, takut dan depresi ringan bagi kebanyakan orang. Tetapi bagi kategori ODS dan ODB yang bukan kategori  biasa, tetaplah minum obat sekaligus beriman. Stop obat dapat mengakibatkan gangguan kejiwaannya kambuh lagi.

Pada akhirnya, semua aspek harus holistik dan menyeluruh di dalam menangai ODS dan ODB (aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual). Jangan stop medis dan jangan tidak berdoa dan membuang iman kepercayaan.

Jeffrey Lim ( Seorang ODB yang sedang pengobatan dan dalam pemulihan )
www.jlministry.org

Read More ....

LIMPINGEN BLOG