Wednesday, May 15, 2013

Kemuliaan Tuhan, alam semesta dan arti hidup manusia

Pertanyaan umum : Dimana arti dan signifikansi hidup manusia ?

Pertanyaan spesifik refleksi : Siapakah saya ? Apa arti hidup saya ? Apa makna hidup saya ?
 
Ini pertanyaan yang penting. Hanya manusia satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan di dunia ini yang bisa mempertanyakan pertanyaan ini. Binatang tidak bisa mempertanyakan apa makna hidupnya. Binatang hanya lahir, makan, istirahat, kawin mengawin, beranak cucu dan mati. Bila hidup kita hanya untuk makan minum, kawin mengawin dan beranak cucu tanpa memikirkan arti hidup maka kita hidup remeh karena hanya menyerupai binatang. Tetapi manusia di dalam dirinya sendiri adalah mahluk yang mencari nilai. Karena manusia di dalam dirinya ada sense of divinity. Sensus divinitas.

Seharusnya manusia diciptakan untuk kemuliaan Tuhan. Tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakanNya dan menikmatiNya.  Namun setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia mencari nilai dan signifikansinya diluar Tuhan. Manusia berdosa menggantikan kemuliaan Tuhan dengan berhala. Bahkan secara esensial, manusia menjadikan dirinya berhala dimana mereka ingin menjadi seperti Allah.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia didesain untuk memuliakan Allah sebagai wakil Allah di dalam dunia ini. Sebetulnya pengertian gambar dan rupa Allah ini adalah manusia memang diciptakan mirip dengan Allah. Manusia diberikan kemuliaan dan hormat ( Maz 8:5 ) dimana mereka berkuasa atas alam semesta. Tetapi ketika manusia ingin menjadi seperti Allah di dalam pengertian ingin menentukan apa yang baik dan benar, ingin otonomi, ingin bebas dari pimpinan Tuhan maka manusia menjadi berdosa, hina dan malang. Hal yang ironis adalah ketika kita mencari makna di luar kemuliaan Tuhan maka kita masuk ke dalam kesia-siaan dan menjadi kehilangan makna. Ketika manusia mencari nilai diri, manusia kehilangan diri. Ketika manusia mati bagi diri dan hidup bagi Kristus, manusia menemukan hidup.

Kita dapat melihat satu fenomena di dalam dunia ini bahwa manusia seringkali mencari pengenalan dan nilai diri di dalam dirinya sendiri. Kita melihat buku-buku pengembangan diri, seminar-seminar sukses. Manusia hendak menggali dan mencari potensial di dalam diri dan itulah pengenalan, nilai dan signifikansinya bagi dirinya sendiri. Ini berbeda dengan sikap pemazmur di dalam mazmur 8. Mazmur 8 dimulai dengan pengakuan betapa mulianya nama Tuhan. Kemudian pemazmur melihat alam semesta yang begitu indah dan luar biasa besar. Langit, bulan dan bintang yang Tuhan ciptakan. Semua ini menceritakan kemuliaan Tuhan. Dan kita pemazmur membandingkan semua kemuliaan Tuhan di dalam diri Tuhan dan sendiri dan ciptaanNya maka pemazmur merefleksi : apa sebenarnya saya ini sehingga Tuhan begitu mengingatnya dan mengindahkannya ? Siapakah saya ini ?

Respon pemazmur berbeda dengan orang-orang modern di dalam psikologi pop bahkan di dalam gerakan jaman baru. Mereka semua hendak mencari pengenalan dan nilai di dalam diri. Tetapi pemazmur merefleksikan kemuliaan Tuhan. Di dalam hal ini pemazmur mengenal dirinya dengan benar. Dia tahu bahwa dia hanya manusia yang kecil dibandingkan kemuliaan Tuhan baik di dalam dirinya maupun dalam alam semesta yang begitu luas dan lebar dan megah ini. Tetapi dia juga tahu Tuhan mengasihi dia. Dan mazmur 8 dibuka dan ditutup dengan perkataan ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya namamu diseluruh bumi !. Kemuliaan Tuhan menjadi fokus pemazmur. Kemuliaan Tuhan menjadi yang terutama. Pemazmur siapa mengenal siapa dirinya untuk memuliakan Tuhan. Dan ini adalah pengenalan diri yang benar.

John Calvin di dalam pembukaan bab pertama dari buku Institute of Christian Religion mengatakan bahwa bijaksana adalah mengenal Allah dan mengenal diri. Ketika kita mengenal Allah, kita mengenal diri. Dan ketika kita mengenal diri, kita mengenal Allah. Maka ketika kita melihat kemuliaan Allah, kita melihat diri kita yang kecil dan lemah tetapi dikasihi Allah.

Di dalam kuliah oleh Professor Michael Horton mengenai teologi dari John Calvin diajarkan bahwa keselamatan adalah mengenal Allah Tritunggal. Manusia diselamatkan karena mengenal Allah bukan Allah yang generic tetapi Allah Tritunggal. Bukan setiap kata Allah sama tetapi pengertian Allah orang Kristen adalah Allah Tritunggal. Tetapi mengenal Allah Tritunggal tidak cukup untuk keselamatan. Keselamatan adalah mengenal Allah Tritunggal di dalam Yesus Kristus. Tetapi lebih jauh keselamatan adalah mengenal Yesus Kristus yang diwahyukan di dalam Injil.

Bila saya merefleksikan pola ini maka manusia di dalam mengenal diri dan makna hidupnya yang sesungguhnya harus mengenal di dalam diri Allah Tritunggal. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tritunggal. Di dalam Kitab Kejadian 1 dikatakan marilah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita. Kita ini jamak karena Allah Tritunggal yaitu Allah yang satu tetapi mempunyai tiga pribadi. Namun mengenal diri haruslah lebih dalam kita harus mengenal diri dalam mengenal Kristus Yesus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan. Dia adalah gambar dan cahaya kemuliaan Allah. Kita hanya dapat mengenal diri, makna hidup dan keselamatan bila kita melihat kemuliaan Kristus sebagai Anak Allah yang Tunggal yang dikasihi Bapa.

( Sela – Pause – untuk merenungkan Kristus sejenak )

Marilah kita terus belajar mengenal kemuliaan Kristus karena dengan melihat kemuliaan Kristus kita diubahkan dari kemuliaan menuju kemuliaan.

Jeffrey Lim
24-4-2013
www.iccccty.com

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG