Wednesday, May 15, 2013

Monisme, distingsi kekudusan, terang dan kesembuhan

Sebelum kita menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat maka kita ada di dalam kegelapan. Kita ada di dalam murka Allah. Dan karena kita berdosa maka kita berada di dalam kutuk hukum Taurat. Ini keadaan yang sangat mengerikan. Waktu dalam gelap kita tidak bisa melihat apapun. Kita buta dan yang kita lihat hanyalah kegelapan. Dan kita hidupnya menderita dan malang.

Tetapi ketika Roh Kudus menerangi hati kita di dalam pemberitaan Firman Tuhan dan menggerakkan kita untuk menerima anugerah untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat maka kita ada di dalam terang. Saat itu kita berpindah dari kerajaan gelap ke dalam kerajaan terang. Waktu kita mulai melihat terang maka kita mulai bisa memilah, membedakan, ada distingsi dan pemisahan antara terang dan gelap.  Analogi paling mudah adalah di tengah malam hari yang gelap yang tidak ada lampu kita tidak bisa membedakan apa-apa. Semua menjadi satu yaitu kegelapan. Namun ketika siang hari kita melihat adanya pohon, mobil, rumah, jalanan, dan lain-lain.

Waktu kita berada di dalam kegelapan maka konsep kita adalah lebih mendekati monisme. Segalanya adalah satu. Konsep ini adalah inti dari kekafiran.  Tidak ada perbedaan antara Allah dan ciptaan. Ini monisme. Tidak ada perbedaan antara berhala dan Allah. Tidak ada perbedaan menyebut nama Tuhan dengan hormat dan sembarangan. Tidak ada perbedaan hari Sabat dan hari biasa. Tidak ada perbedaan antara barang sendiri dengan barang orang lain sehingga mencuri. Tidak ada perbedaan antara istri sendiri dengan orang lain sehingga berzinah. Tidak ada perbedaan antara benar dan salah sehingga berbohong. Semuanya sama. Semuanya satu. Ini monisme.

Waktu kita makin mengenal kebenaran maka kita mulai bisa mendistingsi dan membedakan. Sebenarnya pemisahaan ini adalah aspek kekudusan yang utama. Dan ketika kita makin hidup di dalam terang dan kekudusan maka kita makin dipulihkan dan diberkati.  Proses pengudusan dari gelap ke terang berlangsung secara progresif. Ini adalah pengudusan progresif.

Apa relasi antara monisme, distingsi kekudusan, terang dengan berkat dan kesembuhan ?

Saya ambil ilustrasi dari kehidupan saya. Saya bersyukur bahwa hanya karena anugerah Tuhan maka saya boleh makin dipulihkan dalam hidup ini di dalam beberapa bidang aspek kehidupan. Dulu saya adalah seorang yang sangat jorok. Sangat kotor. Sangat tidak memperdulikan penampilan. Tidak mempedulikan higienis. Tidak mempedulikan juga pemilihan makanan. Banyak gorengan saya makan sehingga sering sakit tenggorokan. Semuanya tidak dipedulikan dan diacuhkan. Bagi saya semua sama. Tapi ketika saya mengenal istri saya yang adalah dokter yang mempunyai standard higienis dan juga kebersihan yang tinggi maka saya terdorong untuk berubah sedikit demi sedikit. Saya menjadikan istri saya sebagai partner untuk bertumbuh di dalam keterbatasan kami sebagai manusia. Dan bersyukur sekali bahwa perlahan-lahan saya belajar membedakan makanan yang baik dan makanan yang tidak membawa kesehatan. Berangsur-angsur kesehatan saya makin baik.

Saya teringat pada ayat di dalam kitab Keluaran dimana Tuhan mengatakan kalau bangsa Israel menaati perintahNya maka Tuhan Jehovah Rafa akan menyembuhkan mereka dari segala penyakit. Dan ternyata di dalam perjanjian lama begitu banyak distingsi dan pemisahan. Itu adalah kekudusan. Kekudusan adalah pemisahan. Mereka dibedakan dari bangsa lain. Bangsa Israel tidak boleh berhubungan seksual dengan sanak saudara, sesama jenis dan binatang. Karena selain salah besar secara moral maka secara biologis pun kita tahu di dalam kedokteran sekarang  itu mendatangkan banyak masalah kesehatan. Bangsa Israel pun ketika membuang kotoran harus diluar kemah pertemuan sehingga mereka sehat-sehat. Kekudusan membawa kepada berkat.

Robert Smith, M.D, seorang dokter dari Konseling Biblikla mengatakan satu prinsip bahwa semakin seseorang taat Firman dan mengasihi Tuhan akan membuat konsekuensi logis semakin sehat. Tetapi ini bukan berarti orang yang sakit selalu karena tidak taat dan dosa. Kita harus juga memilah hal ini. Ayub sakit bukan karena dosa tetapi karena ujian dari Tuhan Allah. Orang yang buta sejak lahir juga bukan buta karena dosa tetapi supaya kemuliaan Allah dinyatakan.

Intisari dari perenungan singkat ini adalah bahwa ketika kita makin berjalan ke dalam terang maka kita makin hidup di dalam kekudusan dan berkat. Yang membuat kita bisa mendistingsi, membedakan dan makin hidup dalam kekudusan adalah Firman Tuhan. Karena itu marilah kita terus merenungkan Firman Tuhan dan hidup di dalamnya.

Taurat Tuhan sempurna, menyegarkan jiwa ( Mazmur 19 )

Jeffrey Lim

www.iccccty.com

4-2-2012

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG