Wednesday, May 15, 2013

Kejujuran dan pengudusan

Pada malam hari ini, saya mendapatkan satu berkat dari mendengar mp3 seminar keluarga oleh Pdt. Joshua Lie. Perenungan yang saya dapatkan ( walaupun mungkin berupa pengembangan dari isi seminar )  adalah bahwa ada kaitan antara kejujuran dengan pengudusan. Ada kaitan juga antara dosa dan ketersembunyian.

Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia berasa malu dan manusia bersembunyi. Manusia takut dan bersembunyi (hiding). Realita manusia dalam dosa di sepanjang sejarah manusia adalah manusia terus bersembunyi. Manusia sudah tidak bisa berdiri tegak tidak malu dan tidak bersalah di hadapan pribadi lain baik itu Tuhan maupun sesamanya. Isu bersembunyi ini adalah isu yang besar baik secara teologis maupun juga secara psikologis. Bapak psikologi modern Sigmund Freud juga membahas bahwa manusia mempunyai defense mechanism / mekanisme pertahanan. Manusia menuduh orang lain. Manusia berbohong. Manusia berpura-pura. Manusia menekan perasaannya. Manusia mengalihkan. Manusia merasionalisasi. Semua ini upaya manusia untuk bersembunyi.

Saya merenungkan bahwa menurut saya sebenarnya yang membuat manusia bersembunyi intinya adalah karena tidak ada lagi kebenaran, kekudusan, damai sejahtera dan juga kasih. Alkitab mengatakan bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan. Tetapi di dalam dosa manusia penuh dengan ketakutan, kemunafikan, penipuan, dan kenajisan. Ketika tidak ada kebenaran maka yang ada hanya kebohongan. Ketika tidak ada kekudusan maka yang ada hanya kenajisan. Ketika tidak ada damai sejahtera maka yang ada hanyalah ketakutan dan terror. Karena itu manusia harus bersembunyi.
Manusia sebenarnya menipu dirinya sendiri ketika berpikir bahwa ketika dia bersembunyi terhadap Allah dan sesamanya maka dia aman. Sesungguhnya ketika seseorang bersembunyi dan memakai topeng maka dia paling gelisah dan tidak damai sejahtera. Seseorang yang berani belajar hidup berintegritas dan jujur terhadap Tuhan, orang lain dan diri sendiri adalah orang yang berbahagia dan diberkati.

Merenungkan mengenai bersembunyi, satu hal yang menarik bahwa di dalam kitab Imamat perihal mengenai covering dan uncovering ini berkaitan dengan pengampunan dosa. Ketika dosa diampuni maka harus ada uncovering yaitu keterbukaan mengaku dosa. Di dalam prinsip Alkitab hal ini juga berkaitan bahwa jika kita mengaku dosa maka Ia setia dan adil dan akan mengampuni dosa kita dan menyucikan diri kita dari setiap kejahatan ( 1 Yoh 1:9 ). Lawan dari bersembunyi adalah mengakui dosa dan meninggalkannya. Sebenarnya inti pengakuan dosa berarti mengaku kepada Tuhan bahwa kita melakukan dosa itu, kita mengakui bahwa kita bersalah dan kita berhak menerima penghukuman Tuhan. Kemudian kita meminta anugerah pengampunan dosa berdasarkan karya Kristus di kayu salib. Ketika kita menerima pengampunanNya melalui iman, kita juga sekaligus menerima pembenaranNya melalui iman. Kita dibebaskan dari malu dan bersalah. Dibebaskan dari bersalah bersalah karena kita dibenarkan secara hukum. Dibebaskan dari malu karena kita ditutupi dan ditanggung dosanya oleh Kristus di kayu salib. Ini anugerah Tuhan.

Ketika seseorang menjadi orang percaya maka di dalam hidupnya harus ada momen dia mengaku dosa dan menerima Kristus menjadi juru selamat serta hidup baru meninggalkan dosa dan hidup untuk Tuhan. Kemudian tidak berhenti sampai disitu, di dalam pergumulan proses pengudusan, orang percaya terus bergumul di dalam proses hidup makin apa adanya dan makin hidup jujur integritas dihadapan Tuhan dan sesama.

Ada satu teori psikologi yang mengatakan ada wilayah di dalam hidup kita. Pertama yang kita tahu dan orang lain tahu. Itu adalah wilayah terbuka. Kedua, ada wilayah yang kita tahu dan orang lain tidak tahu. Itu adalah wilayah persembunyian. Ketiga, ada wilayah yang kita tidak tahu dan orang lain tahu. Itu adalah wilayah kebutaan. Dan keempat adalah wilayah yang kita tidak tahu dan orang lain tidak tahu.

Wilayah yang pertama yang terbuka adalah wilayah yang transparan dan terang. Makin banyak wilayah ini makin jujur dan integritas hidup seseorang. Tetapi ada wilayah persembunyian dimana kita memakai topeng. Ini wilayah yang perlu kita hadapi.  Wilayah ini adalah wilayah pura-pura kita, wilayah agenda tersembunyi kita dan wilayah kemunafikan kita. Wilayah kebutaan ketika diberi tahu orang lain adalah berkat bagi kita untuk mengenal diri. Dan ada wilayah yang hanya Tuhan sendiri yang tahu dimana kita dan orang lain tidak tahu. Wilayah unknown ini perlu kita minta Tuhan singkapkan seperti doa pemazmur : bebaskan aku daripada yang tidak aku sadari. Kita juga perlu berdoa satu baris dari doa Bapa kami yang singkat yaitu lepaskan kami dari yang jahat. Mengapa ? Sebab yang jahat itu sebenarnya dosa dan kedagingan yang berdiam di dalam diri kita semua. Tentunya iblis dan rencananya termasuk juga dalam wilayah ini. Tetapi kejahatan juga ada secara nyata di dalam diri kita.

Karena ada kaitan antara kejujuran, keterbukaan dan pengudusan maka kita harus terus berusaha hidup di dalam terang. Alkitab mengatakan bahwa jika kita hidup dalam terang, kita beroleh persekutuan satu sama lain dan darah Yesus Kristus akan mengucikan kita dari segala dosa. Ini janji Firman Tuhan. Maka itu pada perenungan singkat ini saya hendak mengajak kita semua merenungkan dan belajar mengambil komitmen untuk hidup makin jujur terhadap Tuhan, sesama dan terhadap diri.

Kebalikan dari berbohong dan bersembunyi di dalam dosa adalah dengan pengakuan dan penyingkapan kebenaran. Dengan ini maka kita boleh hidup benar sebagai anak-anak Tuhan bukan saja secara status tetapi juga secara hati, perkataan dan tingkah laku. Orang benar secara status sudah dibenarkan dan pengakuan mulutnya harus benar karena di dalam hatinya dia integritas dihadapan Tuhan, sesama dan dirinya sendiri.

Kiranya perenungan ini boleh menjadi berkat.

Jeffrey Lim
10 April 2013
Setelah merenungkan mp3 seminar keluarga
www.iccccty.com

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG