Tuesday, November 07, 2006

Problem of Cloning

Problem of Cloning
From One Side of Christian Philosophy Perspectives

I praise you because I am fearfully and wonderfully made (Psalm 139 :14)

What is man that you are mindful of him, the son of man that you care for him? 
(Psalm 8:4)
You made him a little lower than God and crowned him with glory and honor 
(Psalm 8:5)
 
So God created man in his own image, in the image of God he created him; male and female He created them.
(Genesis 1 : 27)

Kelahiran domba dolly membangkitkan banyak pertanyaan-pertanyaan secara teologis, filosofis, sosial dan etika.
“Apakah ada batasan moral dan teologis terhadap teknologi?”Dan pertanyaan moral yang lebih jelas yaitu : bolehkah manusia mengkloning manusia ?”“Apakah di sini manusia sedang berperan sebagai Allah?”
Problem dan dilema yang dihadapi oleh manusia dalam hal kloning tidak sesimple yang dibayangkan. Dan thesis pertama yang dibuat di dalam artikel ini ialah,“Bila manusia mengkloning manusia maka manusia harus meredefinisi apa itu manusia?”
Apakah maksudnya? Redefinisi adalah mendefinisikan kembali. Apakah maksudnya manusia harus meredefinisi manusia?
Apakah itu manusia? Apakah natur dari manusia itu?
Filsuf dari barat, Aristoteles mengatakan bahwa manusia itu manusia karena manusia mempunyai rasio. Rasio, intelek dan kemampuan berpikir ini yang membedakan manusia dari binatang. Dan ini berarti manusia disebut manusia karena manusia bisa berpikir. Ini definisi manusia dari para filsuf.
Filsuf dari Timur, Mencius mengatakan bahwa manusia itu manusia karena manusia mempunyai hati nurani ( liang sin ). Ketika manusia melihat orang lain menderita maka hati nuraninya tersentuh. Juga filsuf dari Jerman, Immanuel Kant mengatakan bahwa di dalam manusia ada yang disebut imperative categorical yang memerintahkan manusia untuk melakukan hal yang baik dan bermoral. Ini definisi manusia dari para filsuf.
Pikiran Barat mengatakan manusia mempunyai rasio dan pikiran timur mengatakan manusia mempunyai hati nurani, namun apa kata Alkitab?
Alkitab berkata bahwa manusia itu disebut manusia karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27). Definisi manusia dalam Firman Tuhan adalah manusia diciptakan (bara ( Ibrani ), created by divine) oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Gambar dan rupa Allah berarti manusia berasal dari Allah, , diciptakan oleh Allah, ada bagian dari manusia yang mirip Allah dan manusia bertujuan untuk kemuliaan Allah. Gambar dan rupa Allah berarti manusia mempunyai bagian yang rohani, bagian yang kekal. Gambar dan rupa Allah berarti juga seperti yang telah disebutkan di atas oleh para filsuf yaitu bahwa manusia mempunyai rasio, emosi, hati nurani, intelektual, kemauan, dan lainnya. Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah.
Kata menciptakan di dalam ibrani ada beberapa yaitu : "bara" yang berarti diciptakan oleh Allah dan "asah" yang dipakai dalam buatan manusia.

Bila tidak ada cloning maka definisi mengenai manusia adalah :
“Semua manusia disebut manusia karena manusia diciptakan (bara) menurut gambar dan rupa Allah”
Bila kloning ada, maka definisi mengenai manusia adalah harus sebagai berikut :
“Semua manusia diciptakan (bara) menurut gambar dan rupa Allah”
“Ada manusia yang segambar dan rupa dengan Allah yang lahir secara natural”
“Namun sebagian manusia yang dicipta (bara) menurut gambar dan rupa Allah ( imago dei), diciptakan (asah) oleh manusia menurut gambar dan rupa manusia (imago mei)”

Akibatnya yaitu :
Apakah manusia yang dikloning itu bisa disebut manusia?
Apakah manusia yang dikloning itu sama dengan manusia normal?
Jawabannya juga tidak simple.
Bila jawabannya adalah sama, apakah ini benar? Mengapa manusia kloning ini mengalami proses yang tidak sama dengan manusia normal? Mengapa manusia kloning ini lahir dengan cara yang pada dasarnya berbeda dengan orang normal?  Mengapa orang akan memandang manusia kloning dengan berbeda?
Bila jawabannya adalah manusia kloning ini tidak sama dengan manusia normal, maka muncul banyak pertanyaan lain yaitu :
1. Kasih.
Apakah manusia kloning ini berhak mendapatkan kasih dari seperti orang normal dari keluarganya? Bukankah manusia secara naturnya perlu kasih dari orang tua? Apakah manusia kloning ini akan mendapatkan kasih? Bila ya, apakah manusia ini akan dapat kasih dengan normal? Jawabannya sulit. Namun bila manusia kloning ini tidak mendapat kasih secara normal , etiskah untuk mengkloning manusia? Bukankah kasihan bagi manusia kloning ini? Bukankah ini akan menimbulkan penderitaan bagi manusia kloning ini dan juga untuk masyarakat?
2. Hak hidup.
Apakah manusia
kloning ini mempunyai hak yang sama seperti manusia normal? Bila ya, mungkinkah manusia kloning ini mencapai dan mendapatkan hak hidup yang sama seperti manusia normal ?
3. Identitas diri dan tingkah laku.
Apakah hak manusia
kloning ini dapat hidup dan mempunyai identitas dirinya dengan sehat? Bagaimana manusia kloning ini memahami dirinya bila dia sadar bahwa dia berbeda dengan manusia normal? Apakah identitas dirinya tidak terganggu dan hidupnya tidak terganggu?
4. Aspek fisik, sosial, mental dan rohani.
Mungkinkah manusia
kloning hidup sehat secara fisik, mental, sosial dan rohani?
5. Masyarakat.
Apakah masyarakat bisa menerima manusia
kloning ini dengan baik? Apakah mungkin terjadi pengasingan? Apakah mungkin timbul problem sosial baru?

Semua pertanyaan secara filosofis ini menyatakan bahwa problem kloning ini bukanlah sekedar boleh atau tidak. Hal yang terutama adalah apakah scientist dan orang yang meng
kloning dapat menjamin kehidupan manusia kloning dan kesejahteraannya. Bila ya, apa jaminannya? Bila tidak, apakah ini berarti tidak mempedulikan kehidupan manusia kloning ini? Lebih baik hidup di dalam batas tertentu dari pada menghancurkan kemanusiaan.

Jeffrey Lim
email : limpingen@gmail.com

Bibliography
1. Kothbah Pdt Joshua Lie, M Phil
2. Systematic Theology , Louis Berkhoff
3. Peta dan Teladan Allah, Stephen Tong
4. Human Cloning, Ronald Cole Turner
5. Introduction to Philosophy, Ronald N Nash

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG