Tuesday, November 07, 2006

Hikmat di dalam bergaul

Hikmat di dalam bergaul
- By Jeffrey Lim –

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” ( Amsal 27:17 )

Kitab Amsal berisikan mengenai bagaimana supaya kita mempunyai hikmat di dalam hidup ini. Pada permulaan kitab Amsal ditulis tujuan kitab ini yaitu untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan, dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda ( Amsal 1:1-4 ).
Kitab hikmat ini menulis satu kata-kata yang indah mengenai hubungan manusia dengan manusia yaitu :”besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Kata-kata ini mempunyai makna yang penting yaitu bahwa di dalam pergaulan seseorang akan saling membentuk pribadi satu sama lain. Jadi dengan siapa kita bergaul akan mempengaruhi pribadi kita dan karakter kita. Alkitab mengatakan “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” ( Amsal 13:20 ).
Dengan bergaul dengan seseorang, kita akan saling membagikan hidup. Kata-kata teman kita itu akan mempengaruhi pikiran kita. Kata-kata adalah sesuatu yang sangat penting dimana Alkitab mengatakan bahwa “hidup mati dikuasai lidah, siapa yang suka menggemakannya akan memakan buahnya” ( Amsal 18:21 ). Kitab Amsal memperbandingkan mulut orang bijak dan orang bodoh yaitu “Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan”. ( Amsal 15:2 ). Kata-kata yang sering kita dengar akan mempengaruhi hidup kita. Karena itu bila kita bergaul dengan seorang yang bodoh kita akan menjadi bodoh.
Ketika Tuhan menjanjikan bangsa Israel untuk masuk tanah Kanaan, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menghabisi seluruh orang Kanaan. Mengapa Tuhan menyuruh hal demikian ? Karena Tuhan tidak ingin bangsa Israel yang dikuduskan oleh Tuhan menjadi tercemar oleh dosa-dosa bangsa lain terutama dengan penyembahan berhala. Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel tidak membunuh seluruh orang Kanaan dan mereka saling bergaul satu sama lain. Akibatnya terjadi saling bergaul dan kawin campur namun yang lebih parah adalah orang-orang Kanaan membawa bangsa Israel menyembah ilah-ilah lain sehingga ini merupakan kekejian bagi Tuhan.
Raja Salomo adalah seorang raja yang paling bijaksana di seluruh Israel. Sewaktu Tuhan menanyakan kepada Salomo apa yang dia inginkan, Salomo meminta hikmat kepada Tuhan dan itu menyenangkan hati Tuhan. Pada masa pemerintahannya, Israel mengalami puncak kejayaan dan semua bangsa sekitar merasa segan dan hormat pada Raja Salomo. Namun karena bangsa-bangsa sekitar ingin damai dengan Raja Salomo mereka mengirimkan puteri-puteri mereka untuk menjadi istri dan selir Raja Salomo. Sebelumnya Tuhan telah berfirman kepada orang Israel supaya mereka jangan bergaul dengan dengan bangsa lain dan bangsa lain jangan bergaul dengan mereka, sebab sesungguhnya bangsa lain akan mencondongkan hati kepada allah-allah mereka. Sayang sekali, Hati Salomo telah terpaut kepada para istri dan gundik asing dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain. ( 1 Raja-raja 11:1-4 ). Raja Salomo yang menulis Amsal mengenai pergaulan juga dapat jatuh ke dalam pergaulan yang salah. Akibat pergaulan dengan orang yang kafir mengakibatkan hubungan dengan Allah menjadi terganggu. Alkitab juga mengajarkan supaya kita mencari pasangan hidup yang ada didalam Tuhan. “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Korintus 6:14 ). Alasan pernikahan dengan orang percaya adalah karena ketika menikah seseorang menjadi satu. Pada saat itu suami dan istri saling mempengaruhi satu sama lain. Pasangan yang tidak percaya dapat membawa pasangannya jauh dari Tuhan seperti contoh Raja Salomo.
Sebagai orang percaya, kita harus berhikmat di dalam bergaul dan berkawan. Paulus menasihatkan kepada jemaat di Korintus “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” ( 1 Korintus 15:33 ). Pergaulan dengan orang-orang yang tidak benar mengakibatkan karakter kita menjadi tidak benar. Pergaulan dengan orang fasik bisa mengakibatkan kita menjadi fasik Ada pepatah China yang mengatakan untuk belajar hal yang baik perlu waktu yang lama namun untuk belajar hal yang buruk Karena itu sebagai orang percaya, kita lebih berbijaksana untuk bergaul dengan orang yang baik. Banyak bergaul dengan orang bijak membuat kita menjadi bijak. Pepatah China mengatakan bahwa berbicara dengan orang bijak lebih daripada membaca ratusan buku. Dari orang bijak yang berpengalaman kita mendapatkan kristalisasi pengalaman yang berharga untuk menjadi mutiara dalam hidup kita.
Marilah kita berbijaksana dalam bergaul sesuai dengan prinsip Firman Tuhan. Dan yang paling terutama bergaullah erat dengan Tuhan sendiri. Yesus Kristus mengatakan bahwa Dia adalah sahabat kita. Bergaul dengan Tuhan membuat hidup dikuduskan sebab Tuhan adalah kudus. Bergaul dengan Tuhan membuat kita diberkati Tuhan. Alkitab mengatakan “Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14)

Soli Deo Gloria

Jakarta, 03 September 2005

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG