Tuesday, November 07, 2006

Experiential Theology and Reformed Theology

Experiential Theology and Reformed Theology
Experience and Word of God 

Kekristenan dalam menegakkan kebenaran menghadapi banyak tantangan, baik dari luar yaitu dari filsafat sekular dan kepercayaan lain dan juga dari dalam yaitu dari ajaran yang tidak sehat. Pada abad 20, di dalam Kekristenan berkembang teologi yang berdasarkan pengalaman (experiential theology) dimana cara mengenal teologi (Firman Tuhan) berbeda dengan Kekristenan ortodoks dan prinsip-prinsip dalam menafsirkan Firman Tuhan sudah diselewengkan. Ajaran ini terus berkembang sampai pada abad 21 dan kita harus waspada dan kritis menanggapi ajaran ini. Maka dari itu, tujuan penulis menulis artikel ini adalah untuk menjelaskan mengenai teologi yang berdasarkan pengalaman, mengapa ajaran ini tidak benar dan juga menjelaskan prinsip-prinsip yang kembali kepada Firman Tuhan sesuai dengan ajaran para reformator.

Pertama-tama kita harus terlebih dahulu mengetahui apa itu teologi yang berdasarkan pengalaman (experiential theology). Dalam metode (methodology) untuk mengenal kebenaran Allah atau teologi, prinsip dari experiential theology adalah mengenal kebenaran Allah berdasarkan dari pengalaman, baik secara empiris atau intuitif. Misalnya saya mendapat mimpi dan wahyu dari Tuhan dan pengalaman saya ini adalah kebenaran. Atau contoh lain misalnya saya merasa Tuhan berkata di dalam pikiran saya untuk melakukan tugas tertentu dan pengalaman ini adalah kebenaran.

Pertanyaan yang harus kita pikirkan adalah : tahu dari mana bahwa pengalaman saya itu adalah kebenaran? Dapatkah kita membenarkan (justify) pengalaman saya sebagai kebenaran? Berdasarkan dari otoritas apa pengalaman saya sebagai standar kebenaran? 
Seringkali jawaban dari pertanyaan ini adalah saya tahu pengalaman saya ini benar karena dari hubungan saya yang dekat dengan Tuhan. Dari sini muncul pertanyaan lagi, tahu dari mana hubungan saya dekat dengan Tuhan? Jawabannya seringkali circular yaitu dari pengalaman saya dengan Tuhan yang orang lain tidak bisa tahu. Tapi, benarkah anda sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan dan benarkah pengalaman anda itu kebenaran? Apakah pengalaman anda itu dapat dijadikan patokan kebenaran? Dan pertanyaan yang lebih tajam adalah adakah kemungkinan bahwa pengalaman anda tidak benar? Kalau jawabannya tidak mungkin karena pengalaman saya dengan Tuhan yang berdasarkan hubungan saya dengan Tuhan itu pasti benar, benarkah ini? Bukankah manusia tidak sempurna dan penuh kelemahan? Kalau begitu, manusia yang tidak sempurna tidak luput dari kesalahan, bukan? Kalau manusia tidak luput dari kesalahan maka pengalaman saya pasti mungkin bisa salah, bukan? Kalau pengalaman saya bisa salah, bolehkah kita menjadikan pengalaman saya sebagai standar kebenaran? Kalau boleh, bukankah standar kebenaran ini jadi bisa salah? Kalau standar kebenaran ini bisa salah maka standar kebenaran ini tidak bisa menjadi standar kebenaran, bukan? Dan berarti kita harus mencari standar kebenaran yang tidak mungkin salah.

Ada beberapa argumen mengapa teologi yang berdasarkan pengalaman tidak bisa dijadikan standar kebenaran :
1. Seperti pada argumen di atas bahwa manusia itu tidak luput dari kesalahan maka pengalaman manusia mungkin salah.
2. Indera manusia mungkin salah dalam melihat fenomena alam seperti melihat tongkat yang bengkok di dalam air yang sebenarnya tongkat itu adalah lurus. Jadi pengalaman indera manusia bisa salah. Demikian juga dengan pengalaman intuitif manusia dapat juga salah yang dibuktikan dengan pengalaman sehari-hari dimana pengalaman intuitif kita kadang salah.
3. Kondisi fisik dan mental dapat mempengaruhi seseorang dalam pengalamannya.
4.Setan dan iblis dapat juga mempengaruhi pengalaman seseorang. Dan setan dan iblis dapat memalsukan pengalaman.
5. Pengalaman itu subjektif dan dapat berbeda-beda bagi setiap orang.
Pengalaman seseorang tentang "kebenaran" mengenai hal A kadang tidak sesuai dengan pengalaman orang lain tentang "kebenaran" mengenai hal A. Mungkinkah kebenaran mengenai satu hal itu berbeda? Bukankah ini tidak sesuai dengan hukum logika (law non contradiction) yang mengatakan bahwa A tidak mungkin A dan Non A pada saat yang bersamaan.

Jika pengalaman dijadikan standar kebenaran, ini sulit untuk diuji karena ini berarti dirinya sendiri yang menjadi standar kebenaran. Padahal pengalaman itu subjektif dan perlu diuji bukan? Namun bagaimana bisa diuji kalau dirinya adalah standar untuk menguji? Bukankah kalau standar kebenaran adalah dirinya yang menguji kebenaran lain? Problemnya yaitu pengalaman yang dijadikan standar kebenaran itu sendiri bisa salah.

Kesimpulannya yang ditarik dari argumen-argumen diatas ialah: bahwa dalam mengenal teologi, teologi berdasarkan pengalaman (experiential theology) tidak dapat dijadikan standar kebenaran karena pengalaman bisa salah.

Kalau begitu, bagaimana metode (methodology) untuk mengenal teologi yang benar? Reformed Theology yaitu teologi yang setia kepada prinsip-prinsip Firman Tuhan memberi jawaban mengenai bagaimana metode untuk mengenal teologi dengan benar. Reformed Theology mengajarkan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya melalui alam yang disebut general revelation atau wahyu umum (Mazmur 19:1-4) dan Allah juga mewahyukan diri-Nya melalui Yesus Kristus dan Kitab Suci yang disebut special revelation atau wahyu khusus (Mazmur 19 : 7-8). Kunci mengenal teologi adalah wahyu Allah dimana Allah mewahyukan diriNya kepada manusia.

Reformed Theology berpresuposisi (beranggapan dasar) bahwa :
1.  Allah ada (exist)
2. Allah mewahyukan diri-Nya melalui general revelation/wahyu umum (nature, conscience) dan special revelation/wahyu khusus (Jesus Christ , The Scripture)
3.  Roh Allah memimpin umatnya dalam memahami wahyu Allah (Yohanes 16:13)

Karena ada wahyu dari Tuhan maka kita bisa mengenal Allah dan kehendak-Nya. Reformed Theology mengajarkan prinsip-prinsip dalam mengenal teologi, yaitu :
- Firman Tuhan (Alkitab) adalah standard kebenaran
- Pengalaman harus diuji oleh Firman Tuhan (Alkitab).
- Pengalaman harus dihakimi oleh Firman Tuhan.
- Firman Tuhan lebih tinggi dari pengalaman.
- Firman Tuhan adalah otoritas tertinggi dan mutlak, pengalaman itu subjektif dan tidak mutlak.

Dan Reformed Theology berprinsip The Scriptures of the Old and New Testaments, Having Been Given By Inspiration of God, Are the All-Sufficient and Only Rule of Faith and Practice, and Judge of Controversies. Ini adalah prinsip sola scriptura dari Reformed Theology. Dan juga prinsip untuk menafsirkan Alkitab dari Reformed Theology adalah Scripture explain scripture. Alkitab menjelaskan Alkitab. Bagian yang tidak jelas dari Alkitab dijelaskan oleh bagian yang jelas.

Kesimpulan dari tulisan ini ialah mengenal teologi yang benar adalah dari wahyu Allah (scripture), wahyu Allah yang adalah standar kebenaran yang ditafsirkan dengan benar dan oleh kesaksian dari Roh Kudus. Semua pengalaman harus diuji oleh standar Firman ini. Kiranya hidup kita dapat terus berpegang pada prinsip Firman Tuhan. Berbahagialah orang yang senantiasa merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam. (Mazmur 1)

Sola Scriptura (Only Scripture)
Jeffrey Lim
email : limpingen@gmail.com

Bibliography :
Charismatic Chaos by John Macarthur
Outline of Theology by A A Hodge
Systematic Theology by Louis Berkhoff
Westminster Confession of Faith

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG