Saturday, February 24, 2007

Paradigma bekerja dan menikmati hidup menurut Pengkhotbah

Paradigma bekerja dan menikmati hidup menurut Pengkhotbah
Jeffrey Lim

“Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya”
“Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hati hatinya tidak tentram. Ini pun sia-sia” ( Pengkhotbah 2:22-23 )
Di dalam hidup manusia harus bekerja. Ini adalah hukum alam yang Tuhan sudah tetapkan. Semua harus bekerja. Tetapi ada yang bekerja secara kurang karena malas namun ada juga yang bekerja secara berlebihan. Di dalam kitab Pengkotbah pasal pertama menanyakan bahwa “apa gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari ?” ( 1:3). Semuanya sia-sia. Kedengarannya ayat ini mengajarkan pesimisme dan nihilisme dan tidak ada artinya. Tetapi bila kita renungkan bahwa keadaan manusia yang di dalam dosa dimana manusia bekerja keras namun pada akhirnya dia mati dan pekerjaannya ditinggalkan kepada orang lain yang tidak berlelah-lelah ( 2:21 ). Akhirnya dia sendiri tidak memiliki apa-apa. Bahkan nama baiknya pun dari akan dilupakan (2:16 ). Ini adalah bagian dari kesia-siaan hidup.
Kemudian pada ayat pada judul diatas ditanyakan apa faedahnya berusaha dengan jerih lelah dari keinginan hati. Ini satu pengajaran hikmat yang luar biasa yaitu bahwa keinginan hati atau ambisi besar seseorang di luar Tuhan pada akhirnya pun sia-sia. Ambisi yang di luar Tuhan untuk maju, untuk bekerja, untuk memperbesar harta kekayaan, untuk meningkatkan nama, semuanya sia-sia. Bahkan banyak orang yang berambisi untuk besar namun dia tidak tentram dan sulit tidur. Ini satu ironis. Tidak bisa tidur adalah penderitaan. Dan tidur adalah anugerah.
Pengkhotbah bukan mengajarkan tidak berambisi dan tidak bekerja. Bahkan Pengkhotbah dengan jelas mengajarkan bahwa kita harus menabur benih pagi-pagi dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari ( 11:6). Ini adalah sikap yang positif. Namun Pengkhotbah hendak mengajarkan hikmat yang lebih dalam yaitu bahwa di dalam apapun yang terutama adalah takut akan Tuhan ( 12:13 ). Pengkhotbah juga mengajarkan sikap yang positif di dalam hidup dan pekerjaan yaitu menikmati hidup dan pekerjaan. “Tak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah” ( 2:23 ).
Kesimpulan mengenai pandangan untuk bekerja dari kitab Pengkhotbah adalah :
Kita harus bekerja dan menabur benih
Kita harus ada ambisi tetapi semuanya harus takut akan Tuhan dan untuk Tuhan bukan untuk diri sendiri.
Kita harus menikmati hidup dan hasil pekerjaan.
Marilah kita hidup, bekerja dan menikmati pekerjaan di dalam anugerah Tuhan ! Jerih lelah mu bersama Tuhan tidak sia-sia.

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Guang Zhou, 25 Februari 2007
Seri renungan singkat : Ketika tidak bisa tidur karena memikirkan pekerjaan dan juga disadarkan oleh Firman Tuhan.

3 comments:

Anonymous said...

Untuk lebih memahami menikmati hidup, saksikan renungan teologi kenikmatan dari Ev. Ronald Oroh

Teologi Sukses, Penderitaan dan Kenikmatan

Anonymous said...

Untuk lebih memahami menikmati hidup, saksikan renungan teologi kenikmatan dari Ev. Ronald Oroh

Teologi Sukses, Penderitaan dan Kenikmatan

Anonymous said...

Jeff, saya juga pernah beberapa kali kotbah tentang Pengkhotbah pasal 3. Jadi ingat, sesudah baca renunganmu. Tapi, nantinya bisa mirip-mirip, terpengaruh renunganmu. Good work..
Cuman memang, saya lebih tekankan dihubungkan dengan konsep waktu, kekal dan sementara, sama kenikmatannya.. Mudah-mudahan ada waktu untuk nulis itu. Thanks untuk inspirasinya.

Powered By Blogger

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG