Wednesday, February 21, 2007

Kerja itu Suci

Kerja itu Suci adanya, Kerja itu rohani adanya
Seri kesaksian
By Jeffrey Lim

Tuhan Yesus berkata bahwa “Dia datang supaya orang boleh mendapat hidup, Hidup yang berkelimpahan”. Kedatangan Yesus adalah supaya orang percaya boleh mendapatkan hidup yang limpah. Hidup yang limpah adalah hidup yang berbuah. Firman Tuhan juga menjanjikan bahwa orang yang merenungkan Firman akan berbuah ( Maz 1 ). Firman Tuhan juga menjanjikan bahwa jika kita tetap dalam FirmanNya maka kita benar-benar murid Tuhan, kita akan mengetahui kebenaran dan kebenaran akan memerderkakan kita. Jadi hidup yang limpah adalah hidup yang berbuah, hidup yang dimerdekakan dan hidup yang berarti. Hidup yang bermakna. Hidup yang bisa puas adanya. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan.
Saya pribadi mulai senang merenungkan apa makna, apa arti, apa nilai dari sesuatu. Semua ini karena saya pernah mengalami apa yang dinamakan kekosongan makna di dalam hidup. Semua seperti hampa, semua seperti kosong, semua seperti sia-sia. Tetapi sekarang oleh anugerah Tuhan, banyak hal menjadi indah. Sebelumnya ada pikiran dan ide-ide yang membuat saya tidak bebas dan tidak bermakna tetapi Firman Tuhan membebaskannya. Dan di dalam renungan pada hari ini saya ingin kita merenungkan sedikit bagian dari Firman Tuhan dari Kitab Kejadian 1:26-30 yang mempunyai makna besar bagi hidup kita.
Di dalam bagian ini dijelaskan bahwa kita sebagai manusia adalah gambar dan rupa Allah. Arti gambar dan rupa Allah itu begitu luas dan kita hanya membahas satu aspek yaitu manusia sebagai mahluk yang bekerja. Manusia sebagai working being. Tuhan Allah setelah menciptakan manusia, Dia memerintahkan manusia untuk beranak-cucu dan penuhi bumi dan taklukankah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Di dalam Kejadian 2 dikatakan Tuhan menempatkan manusia dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Perintah ini adalah mandat dari Tuhan. Dan Mandat dari Tuhan itu berotoritas. Mandat ini adalah mandat penciptaan. Dan mandat ini bersifat universal dan masih berlaku sampai sekarang ini. Mandat ini sering disebut mandat budaya.
Kita mungkin sering mendengar kata mandat budaya. Tetapi artinya apakah kita sungguh-sungguh menyadarinya dengan bahasa sehari-hari. Bahasa sehari-harinya adalah kita harus bekerja dan mengembangkan budaya. Karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia adalah mahluk sosial, mahluk religius, mahluk berbudaya, mahluk berkomunitas, mahluk berpikir, mahluk kreatif, mahluk berpribadi. Manusia sebagai gambar Allah adalah yang mengakibatkan manusia berbudaya. Lebih singkatnya kita sebagai manusia adalah harus bekerja dan mengembangkan dunia ini. Bukan saja untuk mencari uang untuk hidup tetapi untuk mengelola dunia ini. Ini adalah makna sesungguhnya dari ekonomi yaitu rumah tangga. Untuk mengelola alam semesta.
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa Firman Tuhan itu membebaskan dan Firman Tuhan itu membuat hidup menjadi limpah. Apakah kita sadar kelimpahan akan Firman Tuhan di dalam ayat ini ? Mungkin kita anggap biasa. Tetapi marilah kita merenungkan sesuatu yang pernah menjadi pergumulan saya yang ingin saya sharingkan dan semoga menjadi berkat. Saya ingin mencoba menjelaskan pergumulan ide yang sulit dengan sesuatu yang sederhana yaitu pengalaman hidup sehari-hari. Ingat bahwa ide mempunyai konsekuensi. Ide yang salah mengakibatkan aplikasi yang salah. Ide komunis mengakibatkan Negara hancur. Ide Darwinis mengakibatkan manusia jadi ateis. Ide Sigmund Freud bisa mengakibatkan orang yang sakit mental tidak bertanggung jawab. Ide mempunyai konsekuensi dan ide Firman Tuhan mengakibatkan kelimpahan hidup.
Saya dulu tidak sempat menganalisa pikiran saya dan saya di sekolah di sekolah Katolik. Saya tidak tahu ide apa yang pernah masuk di dalam hidup saya. Satu hal ini adalah belajar dari kesalahan saya. Yang jelas setelah saya besar saya mempunyai pandangan bahwa kehidupan pelayanan gerejawi adalah lebih suci daripada pekerjaan di dunia sekular. Bahkan di dalam ekstrimnya saya menganggap bahwa pekerjaan di dunia sekular, cari uang dan berdagang dan bekerja adalah kurang suci. Ingat kata suci ini digunakan untuk pemisahan antara yang suci dengan yang najis seperti pemisahan di dalam Imamat yaitu binatang yang haram dan suci, orang yang dikuduskan seperti imam dan orang biasa, dll. Saya terbelenggu oleh ide seperti ini. Jadi pedagang tidak suci, yang suci adalah yang hamba Tuhan atau jadi guru atau pekerja sosial atau dokter. Tetapi yang cari uang itu saya dengar di dalam dunia itu banyak tipu-tipu. Sejak kelas 1 SMA, setiap hari pulang sekolah suka bantu kerja di toko mamah dan bawa mobil juga antar-antar mamah dalam pekerjaan dagang. Tetapi tetap punya pikiran bahwa pedagang kurang suci.
Ini mengakibatkan saya mempunyai pikiran yang selalu mau bekerja di gereja. Contohnya adalah 3 hal. Sewaktu di Australia, teman-teman biasanya sambil sekolah sambil bekerja sampingan. Tetapi saya tidak. Tetapi apakah saya bekerja. Saya bekerja dalam pengertian tidak bekerja di dunia sekular. Saya saat itu sebagai coordinator utama perpustakaan. Dan saya yang membuatkan program perpustakaan, memesan buku2 momentum dari Indonesia, menyumbangkan banyak buku dari indo, dan juga membuat website untuk perpustakaan dimana orang bisa lihat buku apa yang ada diperpustakaan dan bisa lihat rangkumannya di internet. Setiap minggu saya pasti promosikan review 1 buku di depan mimbar dan kadang buat ringkasannya dan dibagikan. Dan yang kemudian sampai menjual buku di gereja bekerja sama dengan toko buku Koorong dan menjualnya di gereja. Bila penjualan sampai AUD $10.000 maka setiap pembelian buku akan mendapat diskon 10%. Dan puji Tuhan pada jaman saya, penjualan sudah sampai AUD $6.000.
Kemudian setelah pulang dari Indonesia, saya sudah lulus dari Sarjana Ilmu Komputer dan ketika berpikir untuk bekerja, saya bekerja di gereja. Jadi gereja adalah rumah Bapaku dan tempat kerjaku. Saya masih anti bekerja di sekular. Beberapa kali selama hidup saya selalu bekerja dan hidup di gereja. Dan pikiran seperti ini adalah dualisme yang mengakibatkan hidup menjadi sempit. Ide seperti ini adalah ide yang berasal dari Teologi Abad pertengahan yang dianut oleh orang Katolik yang membagi antara imam dan orang awam. Imam adalah orang yang suci dan awam adalah orang biasa. Pekerjaan imam adalah suci tetapi pekerjaan awam adalah lebih kotor.
Tetapi puji Tuhan, saudara-saudari bahwa Luther mendobrak dan mengajarkan “Keimaman semua orang percaya”. Luther mengajarkan bahwa semua orang percaya adalah imam dan pekerjaan mereka adalah suci adanya. Para reformator dengan semangat mau kembali ke Firman Tuhan sudah menemukan kebenaran Firman Tuhan yang membebaskan. Terutama sumbangsih dari Kekristenan dari para reformator terhadap dunia ini adalah salah satunya memandang pekerjaan sebagai panggilan. Ini sesuatu yang powerful dan meaningful.
Pekerjaan adalah panggilan. Pekerjaan adalah satu vocation. Panggilan hidup bagi orang percaya bukan saja hanya jadi panggilan hamba Tuhan secara full timer tetapi juga adalah pekerjaan sehari-hari. Panggilan untuk menjadi dokter, guru, pedagang, pekerja, restoran seperti ko Yongsun yang memberi makan banyak orang, dll. Kehidupan pekerjaan adalah suci adanya. Pekerjaan tidak adanya yang lebih suci atau lebih sekular. Semua baik adanya. Kecuali yang berhubungan dengan dosa seperti menjual obat, prostitusi, teroris, bajak laut, perampok. Ini pekerjaan jahat. Tetapi semua pekerjaan yang halal adalah baik adanya dan suci adanya. Dan bekerja adalah panggilan hidup.
Di dalam buku 8 habits dari Stephen Covey dikatakan bahwa yang penting di dalam pekerjaan adalah menemukan pemenuhan diri. Di jaman industri, pekerja dianggap menjadi cost dan pekerja dipandang sebagai sesuatu yang menghabiskan biaya. Maka pekerja tidak menemukan pemenuhan dirinya. Tetapi Stephen Covey mengganggap setelah abad industri adalah abad informasi kemudian abad kebijaksanaan dimana orang dianggap sebagai asset. Pekerja dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Pekerja diharapkan menemukan pemenuhan dirinya. Wah ini suatu pengajaran humanis yang menganggap manusia itu berharga. Tetapi pengajaran menganggap pekerja sebagai orang yang berharga adalah ada dengan Kekristenan. Bahkan kekristenan adalah humanisme yang sejati yang berpusat bukan kepada manusia tetapi kepada Allah. Karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah dan sebagai mahluk yang bekerja, maka manusia itu berharga dan di dalam bekerja itu orang menemukan pemenuhan dirinya.
Mengapa di dalam bekerja orang menemukan pemenuhan dirinya ? Karena ini sudah ditetapkan Allah di dalam mandat penciptaan. Coba saja kalau anda tidak bekerja, anda merasa diri anda kosong dan tidak berarti. Tetapi di dalam bekerja manusia menemukan meaningnya. Karena manusia diciptakan untuk bekerja dan bekerja adalah mulia adanya.
Marilah bekerja untuk Tuhan. Karena itu apapun yang perbuat, perbuatlah untuk nama Tuhan dipermuliakan.

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Jumat, 9 Februari 2007
Taipei

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG