Wednesday, February 21, 2007

Kesaksianku di Sydney

Kesaksianku di Sydney
Seri Kesaksian

Saya bersyukur kepada Tuhan boleh pergi sekolah ke Sydney. Dia mengisi hidupku sehingga saya boleh belajar bahasa Inggris, Komputer dan juga teologi. Puji syukur kepada Tuhan ketika saya kembali merenungkan apa yang Tuhan sudah lakukan dengan hidup saya selama di Sydney. Banyak suka duka, pergumulan, sukacita yang saya alami di negeri kanguru itu.
Saya bersyukur bahwa saya boleh sekolah ke luar negeri. Siapakah saya ini yang boleh mendapat kasih karunia Tuhan untuk sekolah ke Australia ? Pertama-tama saya hendak menceritakan latar belakang saya bisa sekolah di Australia. Saya akan menceritakan pergumulan saya sewaktu SMA sampai ke sekolah teologi dan sampai ke Sydney.

Di Indonesia

Dulu sewaktu SMA, saya memang pernah berharap satu saat boleh sekolah ke Amerika. Saya berharap bila saya sekolah ke Amerika saya boleh diisi kepandaiannya dan hidup menjadi lebih kaya dan limpah. Saya berpikir waktu dulu itu bahwa bila belajar ilmu pengetahuan akan memuaskan jiwa dan juga mengisi kelimpahan hidup. Maka sejak SMA saya punya pengharapan untuk sekolah ke luar negeri satu saat. Hanya saya belum tahu mau masuk bidang apa sebab saya belum tahu visi hidup saya.
Ternyata Tuhan punya jalan lain untuk hidup saya. Hati saya sewaktu SMA itu saya bergumul mencari identitas. Saya merasa hidup saya ini kosong dan saya rindu mencari sesuatu untuk mengisi hidup ini . Saya bergumul mencari arti hidup di dunia ini. Kekosongan diri ini membuat saya banyak menghabiskan diri di dalam membaca buku-buku baik buku teologi, filsafat, psikologi, managemen. Pengertian-pengertian dalam buku-buku ini memang sepertinya memberikan arah dan jalan mengenai hidup ini tapi tidak memuaskan hidupku. Dan sebenarnya saya sudah mengalami masa-masa stress di dalam mencari arti hidup, nilai hidup, tujuan hidup. Saya berharap bisa menemukan sesuatu yang memuaskan jiwa, sesuatu yang damai, sesuatu yang mantap dan pasti. Saya merasakan sesuatu di dalam diri saya ada kekosongan yang perlu diisi dengan sesuatu yang mengisi.
Didalam kekosongan saya, Tuhan oleh kasih karuniaNya menyatakan kebenaran melalui FirmanNya baik melalui kotbah, buku-buku rohani ataupun terutama dari seminar-seminar Teologi. Kebenaran ini memberikan visi kepada saya mengenai hidup. Terutama hidup itu untuk mengenal Tuhan dan melaksanakan kehendakNya. Saya merasakan bahwa hidup tanpa kebenaran Tuhan itu sia-sia. Karena itu saya makin giat belajar teologi dan juga belajar filsafat dari sudut pandang Kristen. Seminar-seminar Iman dan pembinaan iman intensif setiap bulan membuat hati saya menggebu-gebu mencari Kebenaran Tuhan. Maka saya makin rajin baca Firman dan buku rohani. Di gereja juga saya melayani sebagai guru sekolah minggu. Di pelayanan ini Tuhan mengajarkan saya untuk berdoa untuk anak-anak dan untuk melayani anak-anak. Saya juga belajar untuk banyak baca Alkitab karena saya harus mengajar anak-anak. Bersyukur kepada Tuhan bahwa saya boleh melayani anak-anak sekolah minggu dan dapat banyak berkat dari Tuhan. Sungguh sukacita ketika boleh mengenal Tuhan dan melayaniNya. Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada ini.
Di dalam sukacita saya mencari kebenaran, saya merasakan kembali panggilan Tuhan untuk belajar teologi. Saya merasakan kehausan akan kebenaran dan melihat visi di masa depan untuk membagikan kebenaran kepada orang lain. Setelah lulus SMA, Tuhan menggerakkan hati Pdt. Hanna Tjahya untuk menawarkan saya sekolah teologi.
Dengan doa dan dukungan ibu rohani saya Pdt. Hanna Tjahya, saya kemudian memutuskan untuk sekolah teologi di Institut Reformed.
Akhirnya saya diterima di Institut Reformed sebagai mahasiswa. Namun perjalanan tidak semulus yang dibayangkan. Saya bergumul dengan stress yang saya alami sebelumnya dan juga dengan ketidak setujuan ayah saya mengenai sekolah teologi. Karena mendapat tekanan baik dari luar maupun dari dalam (diri sendiri )membuat saya menjadi depresi. Pikiran dan emosi saya mulai kacau. Namun oleh anugerah Tuhan melalui teman-teman seangkatan di Institut Reformed, saya boleh menjalani hidup dan sekolah sampai 1 tahun. Di Institut Reformed ini saya belajar banyak hal, baik secara teologi dan terutama dari persekutuan teman seiman. Saya mengalami sukacita dalam persekutuan teman seiman. Tuhan membuat teman-teman seangkatan mengasihi saya yang sedang dalam keadaan depresi.
Setelah satu tahun belajar di Institut Reformed ini, orang tua saya membawa saya untuk belajar di Australia. Sebelumnya saya bertemu dengan Pdt.Stephen Tong dan berbicara mengenai saya yang cuti sekolah teologi untuk sekolah sekular di luar negeri. Pak Stephen Tong mengatakan bahwa saya ada di dalam pencarian identitas diri. Pak Stephen Tong akhirnya menyetujui dengan memberikan nasihat bahwa di luar negeri harus berhati-hati dan menjaga hidup kudus.
Maka pergilah saya ke Australia.

Di Sydney.
Ketika tiba di Sydney ini saya mencari sekolah dengan bantuan bibi saya. Pertama-tama saya mencari sekolah filsafat karena mengerti filsafat dan kebenaran merupakan kerinduan saya. Namun akhirnya saya sekolah komputer dan mengambil diploma yang bisa diteruskan langsung ke universitas. Hati saya saat itu sangat menggebu-gebu. Saya merasa sukacita boleh sekolah di luar negeri dan ini adalah anugerah Tuhan. Maka itu saya berpetualang menjejalah tempat-tempat di Australia dan akhirnya saya menemukan gereja yaitu IPC ( Indonesian Presybiterian Church )
Saya sangat bersyukur saya boleh bertemu gereja disini dan saya bersukacita bertemu dengan saudara-saudari seiman. Saya merasa Tuhan sudah mengisi hidup saya selama 1 tahun di sekolah teologi dan saya mendapat sesuatu “pengetahuan Firman” maka saya ingin melayani. Ketika ada penataran pemimpin belajar Alkitab ( PA ), saya mendaftarkan diri dan akhirnya diterima. Hati saya sangat senang sebab kerinduan saya adalah membagikan pengertian Firman. Dan dengan menjadi pemimpin PA ini saya jadi lebih giat membaca buku rohani dan Firman.
Namun ternyata pada saat ini saya menemukan pergumulan yaitu ternyata saya ada kelemahan dalam hal bersekutu, bergaul dan sosialisasi terutama di dalam membagikan hidup. Di dalam kejiwaan saya terdapat rasa takut, kuatir, minder yang berlebihan. Tanpa disadari saya kembali stress karena saya menuntut diri saya sempurna namun saya tidak bisa secara natural membagikan diri saya kepada saudara-saudari yang mengikuti PA. Ditambah dengan ketidak bijaksanaan saya memberhentikan obat yang saya konsumsikan untuk menenangkan pikiran dengan sekaligus berhenti. Pada saat itu saya terus menuntut diri saya secara berlebihan dan mengambil banyak sekali pelajaran di luar pelajaran sekolah. Semua ketidak bijaksanaan saya dalam menuntut diri, bersekutu dan memberhentikan obat sekaligus mengakibatkan saya semakin lama semakin stress dan depresi saya kembali muncul sedikit demi sedikit dan akhirnya menjadi berat. Akhirnya kondisi mental saya menjadi tidak terkontrol dan saya terpaksa menjalani pengobatan psikiatrik.
Saya terpaksa harus cuti akademis selama 4 bulan. Disaat ini saya benar-benar merasa tidak bisa apa-apa. Saya merasa lemas, letih lesu. Obat yang dimakan membuat saya menjadi lemas dan banyak tidur, keinginan menjadi lemah dan tidak banyak aktivitas. Hidup merasa tidak berguna. Kerinduan untuk menjadi hamba Tuhan menjadi sirna. Semuanya jadi gelap. Di dalam kondisi jiwa yang tertekan dan terafliksi, saya tidak pergi ke gereja. Iman menjadi lemah dan jatuh. Tetapi Tuhan menopang hidup saya. “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadanya. Apabila ia jatuh tak sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangannya”
Puji syukur kepada Tuhan setelah melewati perawatan 4 bulan dan terutama oleh karena dukungan spiritual dari teman-teman, saya mulai sedikit-sedikit bangkit. Ada saudari yang mendoakan saya. Teman yang tidak bisa saya lupakan adalah Paul Wirjawan. Dia banyak bersekutu dengan saya dan mendoakan serta berbagi Firman. Paul Wirjawan adalah saudara seiman yang membentuk hidup saya. Sekolahpun dijalani kembali. Disini saya mulai melayani di perpustakaan gereja sebagai anggota dan setia disana. Di dalam masa ini saya sering baca buku rohani dan mengisi diri kembali. Kekuatan demi kekuatan saya alami. Dan dalam semester ini ternyata hasil nilai pelajaran saya baik sekali. Seiring dengan pulihnya kesehatan saya maka saya makin giat melayani di perpustakaan.
Kemudian ketua perpustakaan pergi meninggalkan Sydney dan kerja di Singapura. Dan sebagai gantinya saya diangkat menjadi ketua perpustakaan. Pada saat itu saya merasa sukacita luarbiasa. Siapakah saya ini yang boleh melayani sebagai ketua perpustakaan ? Saya seorang yang lemah secara mental namun diipercaya dan diberi tanggung jawab sebagai ketua perpustakan. Karena kepercayaan ini maka semangat pelayanan saya semakin bangkit. Saya mensortir buku-buku yang ada dan membuat program komputer untuk perpustakaan. Saya membuat website perpustakaan. Dan terutama buku-buku lama yang sudah jelek dan tidak menarik boleh diganti dengan buku yang bermutu dan baru. Saya bersama dengan anggota perpustakaan yang lain sama-sama membangun perpustakaan ini. Buku-buku baru disampulkan dan diberi kode baru sesuai dengan kategori buku.
Saya merasakan Tuhan membentuk saya melalui pelayanan perpustakaan ini. Saya mengkonsentrasikan diri saya di pelayanan ini. Bahkan banyak uang saya yang saya persembahkan kepada Tuhan untuk mendukung pelayanan ini : Untuk membeli buku-buku dan keperluannya. Buku-buku yang bermutu dari Indonesia dikirimkan ke sini. Kaset-kaset kotbah dari Indonesia yang bermutu juga dikirimkan. Selain itu CD-CD rohani baru ditambahkan. Jadi isi perpustakaan kita menjadi baru dan menarik.
Dengan giatnya saya melayani sebagai ketua perpustakaan makin dan makin mendorong saya untuk banyak baca buku. Dan kerinduan saya untuk membagi-bagikan kebenaran semakin besar. Hampir setiap minggu saya presentasi isi buku dan memberikan reviewnya dengan print komputer. Kemudian saya juga mempresentasikan di depan gereja lagi-lagu klasik yang baik seperti Handel’Messiah dan juga Vivaldi’ Gloria. Lagu-lagu ini agung ini boleh dikumandangkan dan ada beberapa orang yang membeli lagu-lagu ini yang juga tersedia di perpustakaan kami. Karena Tuhan memberkati pelayanan ini maka makin lama perpustakaan kami semakin maju dan menarik banyak orang untuk meminjam buku, kaset kotbah dan membaca. Statistik peminjaman terus meningkat. Banyak teman yang mensharingkan boleh mendapat berkat rohani dari perpustakaan ini. Kemudian perpustakaan ini akhirnya bekerja sama dengan toko buku rohani yang besar dan akhirnya menjual buku-buku rohani dengan tidak mengambil laba.
Disamping pelayanan perpustakaan gereja, saya mulai juga menulis tulisan-tulisan rohani yang dimuat di buku majalah gereja. Pertamanya karena saya didorong oleh penatua yang mendukung saya. Dan setiap bulan didalam buku majalah gereja memuat artikel-artikel singkat yang saya tulis. Dengan adanya dorongan dan pujian membuat saya lebih serius untuk menulis. Disini Tuhan membentuk saya untuk belajar mengajarkan kebenaran melalui karya tulisan.
Karena kemajuan serta giatnya saya melayani maka saya semakin dipercaya oleh Pendeta dan penatua. Dan akhirnya saya diberikan tugas menjabat sebagai ketua camp. Saya membuat tema dan isi kamp ini yang berjudul “Reformation and Revival”. Namun di pelayanan ini saya kembali mengalami stress. Di dalam pelayanan ini saya semakin menyadari keterbatasan saya di dalam berhubungan langsung dengan orang lain. Terutama di dalam pelayanan ini yang sifatnya banyak berupa tim, saya harus banyak berkomunikasi. Dan saya menyadari kelemahan saya di dalam menyampaikan ide. Saya cenderung bersifat memaksakan ide dan bukan diskusi dan kerja tim. Sekarang saya menyadari kesombongan saya di dalam pelayanan Tuhan. Di dalam pelayanan Tuhan itu seharusnya kita saling melayani dengan rendah hati bukan memaksakan ide dengan keras. Memang Tuhan memberikan saya pengertian Firman tetapi saya harus bisa memasukkan pengertian ini dengan kasih kepada sesama pekerja lainnya. Akhirnya kamp boleh berjalan dengan baik walaupun demikian saya merasa saya tidak bekerja dengan baik secara tim yang saling mengasihi. Namun pengalaman kegagalan ini adalah pengalaman yang Tuhan berikan supaya saya belajar untuk melayani orang dan bukan memimpin. Saya harus belajar peka kepada orang lain.
Ada juga pengalaman-pengalaman rohani yang mendalam yang saya alami di Sydney. Pertama-tama adalah persahabatan saya dengan saudara angkat saya yang bernama Alfred. Kami berdua saling memgasihi dan saling mendoakan. Kami berdua mempunyai kelemahan mental. Alfred, saudara angkat saya menderita Attention Deficit Hyperactive Disorder ( ADHD ) yang membuat dia kurang fokus dalam konsentrasi. Dia bergumul di dalam dirinya. Saya bersyukur boleh bersama-sama dengan dia saling melayani dan mengasihi. Kami sering bersekutu bersama, mincing bersama, makan bersama, berdoa bersama, sharing hidup bersama. Alfred sering tinggal di rumah saya pada waktu itu dan juga sering membawa makanan atau memasak di tempat saya. Dan juga yang sangat mengesankan adalah kita kadang-kadang memberitakan injil sama-sama. Inilah pengalaman rohani yang sangat membangun. Permulaan saya sering membuat traktat atau tulisan yang berisi pesan rohani singkat yang dibagi-bagikan di jalan di kota Sydney. Sehari kita dapat membagikan ratusan tulisan itu dan kita sama-sama berdoa supaya Tuhan bekerja melalui tulisan itu. Sebab Firman yang Allah tidak akan kembali sia-sia.
Kerinduan saya untuk membagikan Firman dan menginjili makin terus membakar di dalam hati saya. Saya sering mendoakan hal ini di dalam doa-doa. Dan Tuhan menggerakkan saya untuk menginjili gembel-gembel. Alfred juga banyak membantu dalam hal ini. Doa kami Tuhan jawab dan Tuhan memberikan kami kerinduan lebih untuk memberitakan injil. Kami setiap hari minggu turun ke jalan dan memberitakan injil. Kami membeli makan ( biasanya berupa roti ) dan minum untuk dibagikan ke gembel-gembel dan disana membawakan Firman Tuhan. Kemudian saya mengajak mereka terima Tuhan dan berdoa. Puji Syukur ada orang yang percaya dan ada juga orang-orang yang dikuatkan. Walaupun jumlahnya sangat sedikit tapi pengalaman ini membentuk rohani saya. Dikemudian hari saya lebih berani membawakan Firman di penjara-penjara karena pengalaman rohani ini. Sungguh sukacita rasanya memberitakan kabar baik ini. Kemudian ada saudari seiman yang mendukung di dalam doa pelayanan ini dan dia yang membuatkan makanan untuk para gembel. Setiap minggu saudari ini membuatkan makanan yang kita bagikan kepada gembel.
Saya pertama-tama bersyukur karena saya boleh pergi ke Australia dan saya sekolah di sana. Saya berterima kasih buat mamah saya yang mendukung saya baik secara material maupun spiritual. Mamah saya bekerja keras supaya boleh sekolah sampai selesai dan mamah giat rajin mendoakan saya. Saya juga berterima kasih buat Pdt. Hanna Tjahya yang terus mendukung serta mendoakan saya. Saya mendapatkan kekuatan rohani melalui beliau. Ibu Hanna ini seperti ibu rohani di mata saya yang memberi makanan rohani supaya saya bertumbuh. Saya bersyukur untuk semua pengalaman yang saya boleh alami di Sydney ini. Untuk setiap kesulitan, pergumulan, depresi yang dialami dan juga kekuatan, Firman, dukungan doa, kasih dari Tuhan dan saudara-saudari seiman. Semua ini mendatangkan kebaikan bagi saya.seperti janji Firman Tuhan “Sebab kita tahu bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan.”. Saya mau bersaksi bahwa Tuhan itu baik. Tuhan itu setia dan Tuhan itu menyertai kita semua. Terpujilah Allah Immanuel Allah beserta kita semua.

Soli Deo Gloria – Jeffrey Lim, 06- Agustus-2005

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG