Wednesday, February 21, 2007

Kesaksian panggilanku

Kesaksian panggilan menjadi hamba Tuhan
Seri Kesaksian
Jeffrey Lim

Saya bersyukur boleh menyaksikan panggilan dan anugerah Tuhan dalam hidup saya. Saya perkenalkan nama saya : Jeffrey Lim. Pergumulan saya menjawab panggilan Tuhan sungguh tidak gampang dan mengalami banyak pergumulan. Latar belakangnya Sewaktu aku belum lahir, ibuku belum punya anak laki-laki dan meminta anak kepada Tuhan serta menyerahkannya kepada Tuhan. Maka lahirlah saya dan diberi nama “En” yang artinya anugerah.
Saya mengikuti KKR anak-anak oleh Pdt. Stephen Tong dan disana saya menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat pribadi. Kembali sewaktu remaja, di retreat oleh Pak Benny Solihin saya menangis akan dosa saya dan berdoa untuk mau menyenangkan hati Tuhan seumur hidup saya. Setelah disidi dewasa, saya melayani di sekolah minggu.
Panggilan Tuhan dimulai dari saat :
Sewaktu mendengar SPIK pendeta Stephen Tong tahun 1996, saya tergerak hatinya dan terpanggil menjadi hamba Tuhan. Namun saya belum tahu bagaimana dan saya masih kecil saat itu. Sebenarnya saya bergumul berat dalam diri saya. Saya haus akan kebenaran dan merasa diri krisis. Saya juga menghadapi stress di dalam diri saya yang mulai menghantui kehidupan saya dengan segala cara. Depresi dalam ada di dalam hati pikiran saya yang tidak pernah saya kemukakan kepada siapapun. Saya cari jalan keluar dengan banyak baca buku dari teologi, filsafat, psikologi, dll. Saya merasa diri saya kosong dan juga ingin mengisi diri dengan banyak hal.
Di dalam satu pembinaan intensif oleh Pdt. Joshua Lie saya merasakan panggilan Tuhan kembali dan melihat visi menjadi hamba Tuhan secara samar-samar. Saya mulai menginjili teman-teman untuk percaya Tuhan.
Saya bergumul untuk masuk sekolah teologi dan Pdt. Hanna Tjahja mengarahkan saya untuk sekolah. Maka saya menyerahkan diri saya untuk menjadi hamba Tuhan. Ayah saya tidak setuju saya masuk sekolah teologi dan setiap hari beliau memarahi saya dan membuat saya begitu tertekan. Saya adalah seorang yang tidak begitu kuat untuk menerima tekanan dan juga saya mengalami trauma masa kecil. Jiwa saya merasa tidak aman. Akibatnya saya makin depresi berat.
Saya masuk sekolah teologi di Institut Reformed dengan kondisi depresi namun Tuhan memakai teman-teman dan saudara-saudara seiman untuk mengasihi saya sehingga saya merasa aman di dalam persekutuan. Dengan depresi saya menjalani 1 tahun sekolah teologi.
Kemudian saya diarahkan orang tua saya untuk sekolah ke Sydney dan cuti akademis . Di Sydney saya sekolah komputer dan 1 semester berjalan dengan baik. Namun karena berhenti pengobatan saya depresi dan terganggu mentalnya sehingga harus istirahat dan makan obat. Saya merasa tertekan dan kehilangan arah dan penuh ketakutan. Saya berdoa kepada Tuhan dan berjanji kalau saya sembuh saya mau menjadi hamba Tuhan. Kemudian setelah 4 bulan menjalani terapi dan makan obat, saya kembali melanjutkan sekolah. Di Sydney saya haus untuk mengenal lebih jauh kebenaran dan saya mengisi diri saya dengan membaca banyak buku teologi dan filsafat.
Di Sydney, seiring dengan kerinduan untuk mengenal Tuhan, saya tergerak untuk menginjili orang. Saya dan Alfred adik angkat saya sering menginjili ke gembel-gembel dan orang-orang dibus. Kami sering membagikan traktat dan juga selembaran-selembaran injil.
Akhirnya masa tiba saya selesai sekolah dan saya kembali ingin masuk sekolah teologi. Saya merasa hidup ini kosong dan kembali panggilan itu ada di dalam hati. Saya kembali ke indo. Di Indonesia, saya melayani di gereja di bidang komputer. Saya tergerak untuk kembali penginjilan dan saya menginjili di penjara-penjara selama 2-3 bulan.
Kemudian karena stop obat secara mendadak, di dalam 6 bulan pikiran saya kembali terganggu. Karena itu saya diistirahatkan dari sekolah teologi SAAT.
Pada saat ini di rumah saya mengalami masa-masa paling gelap dalam kehidupan saya. Pikiran dan emosi saya tidak terkontrol dan merasa tertekan sekali di dalam batin. Saya merasa jauh dari Tuhan. Saya berdoa jika Tuhan menyembuhkan saya maka saya akan melayani Tuhan dan menjadi hamba Tuhan.
Kemudian saya dipanggil Pdt. Stephen Tong ke Jakarta. Disini saya melayani di bidang komputer. Setelah kondisi saya baikan saya mengajukan permohonan untuk sekolah teologi kembali dan akhirnya saya diterima. Saya kembali mengingat doa saya untuk menjadi hamba Tuhan bila saya sembuh. Saya beriman mengenai hal ini.
Dari kesaksian ini saya ingin menceritakan anugerah Tuhan dalam hidup saya. Memang banyak kelemahan dan kesulitan yang saya hadapi tetapi anugerah Tuhan cukup. Adapun beban pelayanan di masa depan adalah menyaksikan kepada orang-orang bahwa Firman Tuhan sanggup merubah hidup manusia dan merupakan jalan keluar bagi pergumulan manusia. Saya terbeban mempelajari Firman dan juga filsafat untuk mengerti pergumulan manusia dan membawa orang mengerti kebenaran. Saya belum tahu jelasnya bagaimana tetapi saya akan berjalan ke arah sana. Baik dengan menulis maupun pemberitaan lisan.
Sekian kesaksian saya.
Soli Deo Gloria

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG