Monday, February 26, 2007

Berperang mengalahkan Goliat-goliat besar di dalam hidup kita

Berperang mengalahkan Goliat-goliat besar di dalam hidup kita
Jeffrey Lim

Lihat dan Baca 1 Sam 17

Latar belakang
Daud adalah seorang yang dinamakan “a man after God’s heart”. Daud adalah seorang yang dekat dengan Tuhan. Tuhan sendiri menyebut nama Daud. Pribadi Daud adalah seorang yang pemberani dimana sewaktu kecil dia sudah mengalahkan singa. Hidup Daud berada di konteks peperangan dan penuh pergumulan kekerasan. Sewaktu muda Daud sudah berperang melawan Goliat yang raksasa ( 1 Sam 17 ). Akibat keberhasilannya Saul membenci Daud dan ingin membunuhnya ( 1 Sam 18:11 ). Saul menyerang Daud beberapa kali sehingga Daud melarikan diri ( 1 Sam 19 ). Betapa mengerikan dan menakutkan seorang muda dikejar-kejar oleh pasukan kerajaan. Daud sampai berpura-pura gila karena takut dibunuh ( 1 Sam 21:10 ). Dia terus melarikan diri bersembunyi ke gua, padang gurun yaitu di tempat-tempat sulit. Hidup Daud penuh dengan peperangan dengan orang Gesur, Girzi dan Amalek ( 1 Sam 27 ). Setelah Daud jadi raja juga hidupnya masih dalam peperangan. Peperangan dengan Isyboset ( 2 Sam 2 ), dengan orang Yebus (2 Sam 5 ), dengan orang Filistin ( 2 Sam 5 ), dengan banyak suku ( 2 Sam 8 ), dan dengan bani Amon dan orang Aram ( 2 Sam 10 ). Singkatnya hidup Daud adalah hidup yang berjuang, berperang dan hidup yang keras bahkan sampai anaknya sendiri Absalom ingin membunuhnya dan mengejar Daud.
Karena banyak pengalaman pergumulan maka Daud banyak menulis Mazmur. Dia adalah seorang yang berbijaksana dan banyak merenung. Kita melihat bahwa Daud dipakai Tuhan luar biasa walaupun ada cacatnya. Dan pada saat ini kita hendak merenungkan peperangan Daud melawan goliat dan prinsip-prinsip yang bisa kita pelajari di dalam peperangan rohani di dalam hidup kita, yaitu melawan Goliat-goliat besar di dalam hidup kita

Latar belakang Cerita
Setelah bangsa Israel memasuki tanah perjanjian dipimpin oleh Yosua maka tibalah jaman hakim-hakim. Di jaman hakim-hakim, bangsa Israel berbuat sesuai dengan apa yang diinginkannya dan jaman ini jaman yang kacau. Jaman ini kacau karena tidak ada pemimpin rohani. Dan jaman ini kacau karena bangsa Israel sudah besar dan tidak ada yang mengaturnya. Maka hakim demi hakim memimpin tetapi hakim demi hakim juga karakter moralnya banyak yang tidak baik.
Kemudian sampai pada hakim terakhir Samuel, bangsa Israel disini meminta raja kepada Tuhan supaya sama seperti bangsa-bangsa lain. Tuhan berduka karena mereka menolak Dia. Sebenarnya bukan permintaan raja menyedihkan hati Tuhan karena Tuhan juga mempunyai rencana untuk membangun kerajaan. Tetapi yang salah adalah motivasi dan juga waktunya dan juga orang pilihan Tuhan. Motivasinya adalah mau menjadi seperti bangsa-bangsa lain dan Tuhan ingin Israel berbeda dengan bangsa lain. Kedua adalah waktu Tuhan belum saatnya. Dan ketiga adalah orang pilihan Tuhan adalah bukan Saul tetapi Daud.
Pada masa Pemerintahan Saul bangsa Israel sedang berperang melawan orang Filistin. Saul pada saat itu tidak taat dan dia menjadi ditinggalkan Tuhan. Dan Daud yang kecil diurapi menjadi Raja.

Isi cerita dan pelajarannya

Kemudian tiba saat orang Filistin mengumpulkan tentaranya untuk berperang. Sewaktu berperang, dari orang Filistin keluar satu pendekar yang bernama Goliat. Pendekar ini bertubuh raksasa dan bersenjata serta pakaian perang yang lengkap. Dia menantang Israel. Mungkin Goliat ini bisa dibandingkan dengan Zhang Fei di dalam cerita Sam Kok tetapi dengan badan yang lebih besar. Yang jelas menakutkan.

Pelajaran pertama : Hidup kita menghadapi Goliat-goliat besar yang menakutkan
Di dalam hidup yang penuh dengan pergumulan ini, kita juga menghadapi Goliat-Goliat yang menakutkan. Dia menantang kita berperang dan menindas kita. Dia berteriak-teriak dan membuat kita ketakutan. Goliat itu adalah iblis. Dan Goliat itu juga mengambil banyak bentuk : Goliat ketakutan, Goliat kecemasan, Goliat kedagingan kita yaitu bagian dari natur kita yang berdosa seperti kecongkakan, hawa nafsu, egoisme, ketamakan, dll.
Alkitab mengajarkan bahwa peperangan kita adalah bukan melawan darah dan daging tetapi melawan penguasa angkasa yaitu roh-roh jahat. Hidup kita adalah dalam konteks peperangan. Hidup ini berperang demi Allah melawan diri, dunia dan setan.
Goliat ini menantang perang satu lawan satu untuk mewakili Israel dan Filistin berperang. Jika seseorang dari Israel mengalahkan Goliat maka orang Filistin akan menjadi hamba Israel. Demikian sebaliknya.
Dicatat respon Saul dan segenap Israel adalah cemas dan ketakutan.

Pelajaran kedua : Tidak mengenal kebenaran. Tidak mengenal sejarah. Tidak mengenal diri dan mengenal lawan... Terutama tidak mengenal Tuhan.
Sun Tzu mengatakan bahwa di dalam peperangan harus mengenal diri dan mengenal lawan. Bila mengenal diri tidak mengenal lawan maka kemungkinan menang 50%. Jika mengenal lawan tetapi tidak mengenal diri maka kemungkinan menang 50%. Jika mengenal diri dan lawan maka seratus kali peperangan, seratus kali menang.
Saul sedang ditinggalkan Tuhan. Dia sendiri tidak mempunyai konsep diri yang benar. Seharusnya dia sadar bahwa dia Raja Israel dan Israel adalah bangsa pilihan Allah dan Israel adalah membawa nama Allah. Allah sendiri menyertai Israel. Seperti Dia sudah berperang bagi bangsa Israel ketika melawan Mesir, Tuhan akan berperang melawan musuh Israel. Tetapi Saul tidak menyadari kebenaran Firman ini. Dia tidak menyadari sejarah. Dia tidak merenungkan Firman Tuhan. Dia juga tidak mengenal dirinya sebagai yang diurapi Tuhan. Dia tidak mengenal bahwa lawannya begitu kecil dimata Tuhan yang besar. Semua ini karena dia tidak mengenal Tuhan.
Di dalam hidup kita ketika kita sedang berperang melawan Goliat-Goliat besar, kita perlu menyadari kebenaran Firman Tuhan dan mengenal diri dan lawan serta mengenal Tuhan yang berperang buat kita.

Pada saat yang lain, Daud yang masih kecil itu sedang menggembalakan domba. Sampai satu saat dia diminta Isai ayahnya untuk membawa gandum ke perkemahan. Dan pada saat dia bangun pagi-pagi dan pergi sampailah ia ke perkemahan ketika tentara keluar untuk mengatur barisannya dan mengangkat sorak perang.
Saat itu Goliat menantang dengan kata-kata tadi dan Daud mendengarnya. Ketika Tetapi respon orang Israel menggemaskan Daud yang percaya Tuhan. Mereka lari dengan sangat ketakutan. Akhirnya Daud panas dan berani untuk melawan Goliat. Karena siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup ? Ketika Daud dipanggil Saul, Daud mengatakan supaya mereka jangan tawar hati dan dia akan pergi melawan orang Filistin. Tetapi Saul mengatakan bahwa Daud tidak mungkin menghadapi orang Filistin itu sebab dia masih muda dan Goliat sejak mudanya telah menjadi prajurit. Tetapi Daud berkata sudah terbiasa mengalahkan singa atau beruang yang menerkam dombanya.

Pelajaran ketiga :
Daud sebagai seorang gembala yang memelihara dombanya berkuasa dan Dia juga sadar bahwa Yahweh adalah gembala yang berkuasa yang akan melindungi dombanya.
Daud sendiri menulis mazmur 23 Tuhan adalah gembalaku. Dia mengerti bahwa tugas gembala adalah menjaga kawanan dombaNya. Gembala itu bersenjatakan gada untuk menghalau musuh. Daud sendiri memperhatikan domba-dombanya. Dia adalah gembala yang baik. Karena itu dia mengerti bahwa Yahweh adalah gembala yang baik yang akan memelihara domba-dombaNya, menjaga mereka bahwa ketika mereka menghadapi musuh dan menghadapi bayang-bayang maut.
Pelajaran keempat :
Daud mempunyai pengalaman hidup dilatih berperang di dalam kehidupan sehari-harinya.
Juga Daud mempunyai pengalaman bersama dengan Tuhan Allah mengalahkan binatang buas. Sebelum berperang sebenarnya Allah sudah melatih dia di dalam pre training untuk berperang. Daud sudah mahir berperang. Dia bukan anak hijau di dalam berperang. Hanya latihannya adalah kehidupannnya yang natural yaitu kehidupan sebagai gembala yang melindungi kawanan domba dari binatang buas.
Daud melihat konteks hidupnya dilatih oleh Tuhan Allah untuk berperang. Dia sadar dirinya dilindungi Tuhan di dalam berperang. Dia berkata „Tija muamh telah melepaskan aku dari cakar singa dan beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu“. Setelah Daud sudah sering berperang dia pun menulis Mazmur 18 dimana dia merefleksi sadar dia dilatih perang oleh Tuhan Allah.
“Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita ? Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukitl yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga“ ( Maz 18:32-35 )
Pelajaran bagi kita adalah Tuhan melatih diri kita juga untuk berperang. Tetapi kehidupan perang kita itu dilatih dari kehidupan kita yang natural setiap hari. Yang setiap hari melawan kesulitan-kesulitan kita. Karena itu pengalaman sehari-hari di dalam hidup kita mengatasi singa-singa dan beruang-beruang adalah pengalaman untuk melawan Goliat-Goliat di dalam hidup kita.
Training untuk menjadi tangguh di dalam hidup adalah bukan biara tetapi hidup kita sehari-hari yang penuh dengan pergumulan dan tantangan. Jangan mengharapkan peperangan yang besar-besar dan kita menang. Setiap hari adalah peperangan yang dibawa ke dalam peperangan yang lebih besar. Kemenangan peperangan besar adalah karena pengalaman natural yang sudah kita alami bersama Tuhan.

Saul lalu mengenakan baju perangnya kepada Daud. Tetapi semuanya itu tidak bisa dipakai karena Daud terlalu kecil. Dia kemudian menanggalkannya. Lalu Daud mengambil tongkatnya ditangan, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantungnya. Demikian Daud mendekati Goliat.

Pelajaran kelima : keberanian berperang disaat melawan musuh yang bersenjata lengkap

Kalau kita membaca cerita silat, salah satu yang membuat kita terkesan adalah oleh satu nilai yang disebut keberanian. Di dalam Filsafat Yunani, keberanian adalah salah satu nilai kebajikan atau virtue yaitu Courage.
Kalau kita membawa cerita pahlawan, cerita yang berkesan bagi kita adalah keberaniannya untuk berperang dan rela berkorban demi bangsa negara. Di dalam patriotisme, di dalam dunia yang penuh dengan peperangan, nilai keberanian yang disertai dengan kebenaran di junjung tinggi.
Daud dalam hal ini berani menghadapi lawannya. Dia adalah seorang berjiwa pendekar yang berani berperang sampai nyawa mati. Dia adalah seorang yang berjiwa pahlawan, seorang yang rela berkorban demi bangsa dan negaranya yaitu Israel walaupun mungkin bisa mati.
Di dalam hidup kita juga kita harus mempunyai kebenarian untuk menghadapi lawan kita. Kita tidak boleh menyerah dan pengecut. Hidup ini bukan untuk lari. Hidup adalah untuk menghadapi peperangan. Hidup harus berani. Harus berjiwa pendekar dan berjiwa pahlawan.
Tetapi bagaimana Daud sampai mempunyai keberanian ketika melawan musuh yang jauh lebih besar ? Bagaimana Daud sampai mempunyai kebenarian menghadapi musuh yang bersenjata lengkap ? Sebelum membahas lebih jauh mari kita saksikan cerita berikutnya

Goliat kian dekat menghampiri Daud dan ketika Dia menujukan pandangannya ke arah Daud serta melihat dia, maka dihinanya Daud karena masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Goliat menyindir bahwa apakah Daud mau mengusir anjing dengan menggunakan tongkat. Mereka mengkuti Daud. Tetapi Daud berkata “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN Semesta alam. Allah segala barisan yang kau tantang itu.“

Pelajaran keenam :
Daud mengenal kebenaran, mengenal Firman, mengenal sejarah, mengenal dirinya, mengenal musuhnya dan diatas semuanya itu mengenal TUHAN ALLAH.
Mengapa Daud sampai berani melawan Goliat ?
Karena dia mengenal kebenaran Firman Tuhan
Darimana kita tahu hal ini ? Daud adalah seorang yang dekat dengan Tuhan Allah. Dia bisa dekat dengan Tuhan Allah karena dia merenungkan Firman Tuhan tentunya. Hidupnya terus merenungkan Firman sehingga berbuah dan menghasilkan banyak mazmur. Karena dia merenungkan Firman Tuhan dia sadar bahwa dari sejarah Israel Tuhan berperang melawan musuh umatNya. Dia juga sadar bahwa Tuhan adalah warrior. Lebih dari itu di dalam ayat ini dikatakan dia mengenal Tuhan sebagai semesta alam. Di dalam terjemahan Inggrisnya lebih tepat yaitu God of the armies of Israel. Dia sadar bahwa Tuhan adalah Allah pasukan Israel.
Daud juga menyadari akan kemenangan itu bergantung kepada Allah bukan kepada senjata.
Amsal mengatakan bahwa “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan Tuhan“ ( Amsal 21:31 ). Walaupun senjata musuh begitu lengkap tetapi Daud mengingat bahwa kemenangan adalah di tangan Tuhan Allah. Goliat boleh bersenjata lengkap, pedang dan lembing tetapi Daud beriman bahwa Allah akan membawa kemenangan di dalam peperangan yang dia hadapi. Karena Daud menyadari dia berperang atas nama Allah maka ia berani.
Di dalam hidup kita, kita menghadapi musuh yang lebih berpengalaman dari kita. Dia sudah berpengalaman berabad-abad dan biasa menipu manusia dengan kebohongannya. Kita menghadapi musuh yang bersenjata lengkap. Kita sendiri hanya seorang yang tidak berpengalaman seperti musuh kita. Kita juga menghadapi diri sendiri yang begitu rumit dan licik. Tetapi kita mempunyai Tuhan yang berdaulat atas kemenangan atas peperangan. Kita harus berani melawan musuh kita.
Daud menyadari bahwa Goliat kecil
Daud memang lebih kecil daripada Goliat, tetapi Tuhan Allah lebih besar daripada Goliat. Siapakah yang kecil ? Yaitu Goliat.
Musuh kita mungkin besar tetapi Allah kita jauh lebih besar. Dia adalah Allah pencipta langit dan bumi. Dia adalah pencipta sedangkan musuh kita adalah ciptaan. Allah adalah berdaulat penuh atas dunia ini sedangkan musuh kita begitu kecil di mata Allah. Daud menyadari kebesaran Allah maka dia berani. Kita juga harus menyadari kebesaran Allah dan berani.

Daud kemudian berkata “Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu. Hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar supaya seluruh bumi tahu bahwa Israel mempunyai Allah

Pelajaran ketujuh : Daud mempunyai kepercayaan diri yang kuat di dalam peperangan bahwa dia pasti menang.
Daud mempunyai kepastian yang begitu besar akan kemenangan karena dia beriman pada Tuhan Allah. Orang yang dekat dengan Tuhan Allah mempunyai kepercayaan diri yang besar di dalam peperangan melawan musuh Allah karena sadar Tuhan begitu dekat dengannya. Daud punya percaya diri dalam berperang karena Daud menyadari bahwa dia benar dihadapan Allah dan Allah berkenan serta menyertai dia.
Iman terhadap Allah dan FirmanNya membuat orang percaya mempunyai percaya diri di dalam peperangan. Iman bahwa kita sudah dibenarkan dihadapan Allah karena pengorbanan Yesus Kristus mempunyai kekuatan bagi kita untuk percaya diri. Kita bukan lagi orang berdosa dihadapan Allah tetapi orang benar. Semua kebenaran ini karena Yesus Kristus mati bagi dosa kita dan memberikan kebenarannya kepada kita. Karena kebenaran Yesus diberikan kepada kita yaitu karena ketaatanNya yang menanggung dosa dan menjalankan hukum Taurat dengan sempurna maka kita adalah orang benar. Sebagai orang benar kita sadar bahwa kita diposisi Allah. Bila Allah di pihak kita siapakah lawan kita ? Karena itu tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah sebab Allah beserta dengan orang pilihannya.

Daud berkata “Dan supaya segenap jemaah tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami“

Pelajaran kedelapan : Tujuan dari peperangan rohani adalah supaya nama Tuhan dimuliakan
Daud mengerti bahwa kemenangan yang ia raih adalah bukan untuk dirinya tetapi untuk kemuliaan nama Tuhan. Nama Tuhan harus dimuliakan di dalam segala hal dan situasi. Demikian juga di dalam kemenangan atas peperangan rohani. Dengan kemenangan, maka orang-orang akan tahu bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan.
Di dalam hidup kita melawan Goliat-goliat besar, kita harus sadar bahwa kita akan menang untuk kemuliaan nama Tuhan. Kita harus menyatakan bahwa Tuhan adalah juruselamat yang menyelamatkan di dalam peperangan dan harus menyatakan bahwa The Battle belong to the LORD. Perang itu milik Tuhan. Jadi ketika perang itu menang maka Tuhan yang dimuliakan sebab Tuhan berperang. Dan Dia berperang untuk kita. Namanya akan dimuliakan.

Kemudian Goliat maju untuk menemui Daud dan Daud berlari ke barisan musuh menemui Goliat. Pertempuran pun terjadi ! Daud mengambil batu dari kantungnya dan melempar batu dan GOAL. Kena ! Dahi Goliat tertanam batu dari Daud dan dia terjerumus dengan mukanya ke tanah. Dengan demikian, Daud mengalahkan orang Goliat itu dengan batu. Ia mengalahkan dan membunuhnya, tanpa pedang ditangan.

Pelajaran kesembilan : Kemenangan Daud adalah hasil iman dan perbuatan sebagai buah iman.
Dengan semua iman dan kepercayaan yang Daud miliki, selanjutnya adalah tindakan. Mempunyai iman tetapi tidak ada perbuatan sama saja mati. Iman yang hidup adalah iman yang dilakukan. Iman bukan saja mengetahui, dan menyetujui kebenaran Firman Tuhan tetapi juga bersandar kepada Firman Tuhan.
Di dalam hidup yang penuh dengan peperangan rohani ini, kita perlu mempunyai iman untuk mengalahkan musuh kita.




Kesimpulan

Di dalam hidup ini, kita menghadapi Goliat-goliat besar yaitu musuh-musuh kita. Entah itu ketakutan, kekuatiran, dosa, hawa nafsu, godaan, kecongkakan, kesombongan, cinta materi, egoisme. Kita harus berperang melawannya. Kita harus mempunyai iman.
Puji Tuhan ! Bahwa Tuhan kita Yesus Kristus mengatakan bahwa “tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia“ ( Yoh 16:33 ). Kristus sendiri sudah berperang untuk kita dan kemenangan itu telah berada di tangan kita. Karena itu kita harus mengklaim bahwa kemenangan itu sudah ada dipihak kita. Kita harus mempunyai iman dan iman yang dihidupi. Majulah berperang dan jangan takut melawan musuh kita yang besar. Sadarilah bahwa Roh yang ada di dalam diri kita lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia ini.
Satu saat kita akan bersama-sama dengan Kristus di dalam kemenangannya yang total. Dia akan mengalahkan musuh kita dengan tuntas yaitu iblis yang akan dibuangnya ke neraka. Pada saat itu kita akan menikmati surga yang kekal bersama Dia untuk selama-lamanya. Dan disana tidak lagi ada peperangan tetapi damai sejahtera Allah untuk selama-lamanya.
Marilah maju sebab penderitaan di jaman sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan di masa depan !

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Guang Zhou,27 Februari 2007
Di saat bergumul melawan Goliat di dalam diri dan mempunyai iman kepada Tuhan Allah dan ingin membagikan iman itu
Seri kotbah

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG