Saturday, February 10, 2007

Arti di dalam Kesia-siaan

Arti di dalam Kesia-siaan 

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 1:2)

Salah satu kitab yang paling aneh di dalam Alkitab adalah Kitab Pengkotbah. Dan yang kedua adalah Kidung Agung. Mengapa Kitab Pengkotbah begitu aneh ? Karena isinya sepertinya pesimis dan berisi hal yang bersifat sia-sia. Bukankah Alkitab seharusnya optimis ? Bukankah Alkitab seharusnya memberikan pengharapan ? Bukankah iman itu didasarkan kepada pengharapan ? Bukankah Alkitab seharusnya juga memberikan arti ? Tetapi Kitab Pengkotbah mengatakan sia-sia. Bukankah hal ini aneh ?

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang menulis kitab Pengkotbah ? Dikatakan di dalam ayat 1 bahwa “Inilah perkataan Pengkotbah, anak Daud, raja di Yerusalem” ( Pengkhotbah 1:1 ). Berarti Pengkotbah adalah anak Daud. Siapakah dia ? Anak Daud begitu banyak. Pengkotbah sendiri tidak menyebutkan namanya. Dia menyembunyikan namanya. Di dalam tradisi mengatakan dia adalah Raja Solomo. Dan saya juga berpendapat bahwa dia adalah Raja Salomo. Mengapa ?
1. Dikatakan bahwa Raja ini adalah anak Daud.
2. Dikatakan bahwa Raja ini adalah Raja yang berhikmat. Di dalam ayat 16 dikatakan bahwa “Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari semua orang yang memerintah Yerusalem sebelum aku, dan hatiku telah banyak memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan.” Bila kita mengingat mengenai hikmat maka kita mengkaitkan hal ini dengan Raja Salomo yang pernah meminta hikmat kepada Tuhan. Salomo juga diberi anugerah hikmat karena dia mampu menulis Amsal dengan begitu limpah, mengerti hewan, tumbuhan, etika, sosial, kerajaan, pemerintahan, hubungan dengan Allah, hukum di dalam kehidupan, dan sebagainya.
3. Dikatakan bahwa Raja ini adalah Anak Daud dan Raja di Yerusalem dan Raja Israel. “Inilah perkataan pengkotbah, anak Daud di Yerusalem” ( Pengkhotbah 1:1 ) “Aku , Pengkotbah adalah raja atas Israel” ( Pengkhotbah 1:12 ) . Ini petunjuk yang menentukan. Mengapa ? Sebab setelah Raja Rehabeam, Israel pecah menjadi kerajaan utara dan kerajaan selatan. Kerajaan Utara disebut kerajaan Israel dan Selatan disebut Yehuda. Ibu kota Yehuda adalah Yerusalem sedangkan Ibukota Israel adalah Samaria. Tetapi dikatakan bahwa Raja ini adalah Anak Daud, Raja di Yerusalem, dan Raja Israel. Bila kita melihat bahwa periode ketika ibukota  Israel adalah Yerusalem adalah periode di zaman Saul, Daud dan Salomo dan Rehabeam. Saul tidak mungkin dan Rehabeam tidak mungkin. Apalagi Daud. Maka hal yang paling pasti adalah Raja Salomo.
4. Raja Solomo dilukiskan di dalam Kitab ini bahwa dia sudah pernah mencoba banyak hal di dalam dunia ini. Dia sudah memperdalam hikmat bahkan sampai tingkat yang tinggi sekali. Dia mencoba kesenangan dan kegirangan di dalam hidup ini. Dia melakukan pekerjaan yang besar dan mendirikan rumah-rumah, menanami kebun-kebun anggur dan taman-taman. Dia menjadi terkenal dan menjadi tuan atas budak-budak. Dia mengumpulkan banyak harta . Dia ditemani oleh banyak perempuan. Bila kita merenungkan hidup Salomo, dia pernah masuk ke dalam hedonisme, ke dalam cinta filsafat dan hikmat, ke dalam kemewahan, ke dalam materialisme, dan ke dalam banyak filsafat dan ide. Dia benar-benar bukan saja mengetahui secara teori tetapi mempraktekkannya. Dia orang yang berpikir dan melakukan. Kuasanya begitu besar.

Tetapi akhirnya Salomo menyimpulkan bahwa semuanya adalah sia-sia. Semua ini tidak berarti. Semua yang dia kejar adalah kosong adanya. Ini sungguh mengejutkan. Dan Kitab Pengkhotbah ini berisi hikmat yang luar biasa  tinggi. Ini menjelaskan bahwa usaha manusia di dalam dunia ini untuk mencari sesuatu apapun yang hebat, mewah dan luar biasa, namun di luar Tuhan Allah adalah kesia-siaan belaka. Ini menjelaskan bahwa setelah manusia jatuh di dalam dosa maka kehidupan manusia ada di dalam kesia-siaan. Semua kosong, tidak berarti, sia-sia. Sungguh pesimis, sungguh nihilis, zero dan void.

Jadi, apakah hikmat, materi, nama baik, kekayaan, kenikmatan, semuanya sia-sia? Apakah Pengkhotbah mau mengajarkan demikian ? Bila Pengkhotbah mengatakan semua sia-sia dan tidak berarti atau kosong, mengapa Pengkhotbah mengatakan semua itu sia-sia? Bukankah kalau semua sia-sia maka sia-siapun adalah sia-sia ? Bukankah Pengkhotbah sedang berkontradiksi dengan pernyataannya sendiri ? Bukankah kalau semuanya kosong, mengapa berbicara mengenai kekosongan seolah-olah kekosongan itu ada ? Bukankah kalau kosong, tidak dapat dibicarakan ? Bukankah kalau sia-sia maka tidak bisa mengatakan sia-sia ? Karena ketika seseorang mengatakan sesuatu sia-sia maka sebenarnya ada makna bahwa segala sesuatu sia-sia. Maka masih ada makna. Masih ada arti.

Pengkhotbah tidak berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Pengkhotbah tidak berkontradiksi dengan pernyataannya. Bahkan di dalam pernyataannya terkandung paradoks yang dalam. Sia-sia ! Itu adalah arti. Tetapi kalau membicarakan mengenai arti, arti ini harus dikaitkan pada sumber arti. Di dalam hal ini, Pengkhotbah hendak mengkaitkan arti dengan Tuhan sendiri. Arti adalah di dalam Tuhan. Segala sesuatu ada artinya. Ini adalah pernyataan yang saya mau tekankan. Bahkan kesia-siaan pun ada artinya. Tetapi arti ini ada karena dikaitkan dengan Tuhan Allah. Mengapa semuanya ada arti ? Saya berpendapat semuanya ada arti karena sejarah hidup manusia ada di dalam Sejarahnya Tuhan. History adalah HIS Story. Semua sejarah ini ada maknanya karena Tuhan Allah adalah sumber makna. Karena itu sejarah ada artinya. Apakah penderitaan ada artinya ? Ada artinya ! Apakah sakit penyakit ada artinya ? Ada artinya ! Apakah kematian ada artinya ? Ada artinya ! Apakah bahkan dosapun ada artinya ? Ada artinya ! Lebih ekstrim lagi adalah apakah orang tidak percaya dan berdosa yang berada di dalam kesia-siaan ini ada artinya ? Mungkin kita berpikir tidak ada artinya. Tetapi bukankah semua ini ditulis ? Bukankah kalau begitu ada artinya ? Paling sedikit adalah mengajarkan orang untuk takut akan Tuhan. Mengajarkan orang untuk gentar terhadap hidup dan mencari arti di dalam Tuhan. Lebih jauh apakah Kitab Pengkhotbah ada maknanya ? Kalau Kitab Pengkhotbah yang berbicara mengenai kesia-siaan tidak ada maknanya, mengapa kitab ini ditulis dan bahkan ada di dalam Alkitab ?

Jadi kesimpulannya adalah segala sesuatu ada maknanya dan semuanya dikaitkan dengan sumber makna yaitu Tuhan Allah sendiri. Renungan ini sampai disini dan marilah kita mencoba merenungkan banyak makna di dalam banyak hal. Ada baiknya anda pernah mengalami kekosongan makna supaya menyadari bahwa ketika mengalami kekosongan makna, berarti anda sedang mengalami arti hidup. Tetapi yang lebih penting, ada baiknya anda yang mengalami kekosongan makna, bertemu dengan Kristus yang adalah sumber hidup yang akan membawamu kepada hidup yang berkelimpahan.

Pergumulan dari nihilisme → eksistensialisme → Meaning in Christ Jesus
Taipei, 11 Februari 2007
Jeffrey Lim
email: limpingen@gmail.com

No comments:

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG