Wednesday, March 07, 2007

Behind the Story

Behind the story
Jeffrey Lim

Pada kesaksian kali ini saya mau menyaksikan anugerah Tuhan yang sungguh sangat besar. Kesaksian ini adalah meneruskan kesaksian setelah masuk Institut Reformed untuk kedua kali.

Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang maha baik. Banyak anugerah Tuhan dan pengalaman hidup yang dilalui bersama Dia melewati lembah bayang-bayang maut. Di Institut Reformed setelah selama 1 tahun sekolah sejak tahun 2005-2006, tiba akhirnya saya akan praktek 2 bulan. Sebenarnya bagaimana saya bisa praktek selama 2 bulan sebagai mahasiswa teologi. Mengapa ? Sebab kondisi mental saya betul-betul payah. Saya suka merasa takut dan halusinasi serta merasa tidak tenang dicampur dengan perasaan-perasaan paranoid dan curiga kepada orang. Kondisi mental tidak stabil dan membutuhkan istirahat banyak. Sehari-hari di Institut Reformed selama 1 tahun adalah saya bangun, kuliah, belajar dan istirahat. Saya memerlukan banyak istirahat bahkan seringkali tidak bisa bangun pagi. Sewaktu pelayanan siswa saya pernah akhirnya sampai berhenti pelayanan siswa karena saya stress dan merasa banyak gangguan di pikiran. Performance saya sangat kurang dan begitu tidak produktif dan saya adalah orang yang terlemah di Institut Reformed. Tetapi saya bersyukur bahwa Institut Reformed sudah boleh menerima keberadaan yang lemah ini.

Tetapi ada satu hal yang merubah plot hidup saya yang saya percaya Tuhan bekerja melalui ini yaitu pertemuan saya dengan Pdt. Nico Ong. Pertemuan pertama adalah di kelas sewaktu kuliah intensif “Reformed Evangelism and Discipleship”. Pada mulanya saya mengambil kuliah Rev. Andrew MacArferty tetapi saya menemukan bahwa pembahasannya terlalu banyak teknis jadi akhirnya saya memilih mengganti pelajaran untuk pindah ke mata kuliah Pdt. Nico. Dan akhirnya saya mengikuti kuliah ini dan di kuliah ini saya merasa terbakar dengan semangat dari Pdt. Nico sehingga saya memfokuskan membikin paper dengan usaha saya yang baik. Sekilas mengikuti pelajaran Pak Nico, saya belajar bahwa beliau adalah seseorang yang berjuang keras demi kerajaan Allah. Tetapi saya tidak pernah berharap bertemu dengan beliau lagi.

Tetapi ternyata plot hidup seseorang itu di tangan Tuhan. Saya tidak pernah berfikir saya akan bertemu dengan Pak Nico lagi. Saya juga tidak berpikir saya akan sembuh dari penyakit mental saya. Saya juga pernah divonis oleh Pdt. Paul Gunadi bahwa saya tidak bisa melayani sebagai hamba Tuhan dan saya tidak mungkin bisa didepan banyak orang dan juga saya lebih baik melayani di belakang layar. Ini sudah terbukti ketika pelayanan siswa saya gagal.

Namun puji Tuhan, ketika tiba waktunya praktek 2 bulan, saya mendengar kabar “buruk” yaitu saya praktek di Taiwan. Mengapa kabar buruk ? Karena Pdt. Nico sudah terkenal sebagai pendeta yang keras dan tuntutannya keras. Dan saya adalah orang yang paling lemah. Tetapi saya sejujurnya melihat adanya satu titik terang di dalam hidup saya. Pertama kali saya berpikir bahwa toh saya memang lemah, kalau sampai gagal seperti waktu di SAAT yang lalu yah memang ngak apa. Yang penting belajar dan berjuang dan berusaha memberikan yang terbaik. Makanya walaupun dihadapan teman-teman seperti bingung dicampur dengan prihatinan dari teman-teman tapi di dalam hati ada perasaan girang dan perasaan cuek nanti bagaimana. Saya hanya berpikir sebelumnya memang saya belum bisa jadi hamba Tuhan yang didepan publik. Saya mungkin hanya jadi seorang penulis. Saya dalam hal ini memang senang menulis. Saya hanya berpikir bahwa menulis saya akan semakin kaya kalau saya mengalami banyak pengalaman. Gagal atau tidak praktek 2 bulan saya akan jalani.

Dan tibalah saya di Taiwan ini. Jujur bicara agak-agak tegang dan agak kuatir juga ketika berjumpa dengan Pak Nico. Ketika diantar oleh Ko Daniel, Ko Daniel banyak memberikan masukan. Kemudian saya pertama kali bertemu dengan Pak Nico dan makan malam bersama. Disana saya banyak diam. Tetapi pak nico memberikan masukan bahwa yang terutama dan terpenting adalah keterbukaan di antara rekan kerja.

Pada hari minggu saya langsung disuruh bawakan kesaksian. Dan itu mendadak. Pak Nico ternyata menyuruh saya kesaksian bahkan sampai 3x dalam satu hari. Itu hal yang tidak mungkin saya lakukan sebelumnya dengan kondisi mental saya. Saya bisa gubrak karena harus menghadapi pikiran yang mengganggu dihadapan banyak orang. Tetapi akhirnya lewat. Dan selama praktek 2 bulan saya terus banyak dibawa melakukan banyak hal. Setiap hari jumat bawakan renungan di Persekutuan Doa, hari Sabtu bawakan progsif dan hari minggu kotbah di Taichung atau kadang2 di Taipei.
Ini semua hal yang tidak mungkin bisa saya lakukan sebelumnya. Karena pengalaman sejarah bahwa ketika saya kotbah sudah teler dan butuh istirahat banyak. Tetapi kali ini bukan saja kotbah tetapi disuruh membawakan progsif.
Puji Tuhan bahwa sebenarnya semangat saya tambah menyala-nyala dan maka saya merasa bertumbuh sekali. Karena itu dengan kerendahan hati , saya memohon kepada Pdt. Nico kalau diijinkan boleh meneruskan pelayanan disini. Dan akhirnya setelah berdiskusi dengan Pdt. Stephen Tong akhirnya disetujui.

Setelah 2 bulan akhirnya saya pulang indo. Dan keluarga saya sendiri bilang setelah 2 bulan saya berubah. Dan setelah siap-siap dan bertemu dengan keluarga dan teman-teman di Institut maka saya pergi ke Taiwan lagi untuk kedua kalinya.

Kali ini pergumulan menjadi lebih tidak mudah. Karena kali ini bisa jangka panjang. Saya kadang pikir pak nico melatih saya selama 2 bulan bisa sabar. Kalau 1 tahun bagaimana ? Saya sebenarnya sedikit terpengaruh oleh perkataan isu-isu yang negatif yang akhirnya saya tahu tidak benar bahwa pak nico itu seorang yang keras dan tidak sabar. Sebenarnya saya belajar bahwa di dalam kekerasan ada kelembutan yang tersembunyi.
Saya kembali melayani di MRII Taipei selama beberapa saat. Tetapi tentunya saya menghadapi pergumulan mental yang tidak mudah. Saya masih mengalami halusinasi dan juga paranoid. Tetapi anehya pak nico malahan menyuruh saya mengajarkan pelajaran mengenai depression dan schizophrenia. Koq orang sakit malahan disuruh mengajar mengenai penyakitnya. Masak orang yang sakit mental disuruh mengajar bagaimana menyembuhkan sakit mental. Hei orang sakit, sembuhkan dulu penyakitmu baru mengajar. Namun saya tidak sadar bahwa sebenarnya pak nico dengan cara yang cukup “aneh” sedang melatih saya dan sedang membimbing saya bahkan sedang menyembuhkan saya.
Hari demi hari saya hidup bersama dengan Pak Nico. Dicampur berbagai macam rasa antara segan, hormat, takut dan juga kagum. Saya belajar bagaimana beliau sedang berusaha menyembuhkan saya yaitu dengan berbicara setiap hari. Saya sendiri adalah orang yang tidak terbuka bahkan cenderung tertutup. Ketika ada masalah datang, pak nico minta saya mensharingkan ada yang ada di kepala saya. Jujurnya kadang malu sebab perasaan dan pikiran itu aneh-aneh. Pikiran orang sedang bicarain saya. Pikiran negatif seakan-akan dijauhi orang. Dan pikiran-pikiran negatif lainnya.
Jujur bicara bila anda seorang pimpinan dan hamba Tuhan dan melihat saya seperti ini, adakah harapan bagi saya untuk menjadi hamba Tuhan ? Masak hamba Tuhan paranoid ? Mana bisa dia melayani jemaat ? Masa hamba Tuhan yang harusnya melayani jemaat mengalami curiga dengan jemaat ? Ini sungguh tidak mungkin.
Tetapi yang saya aneh adalah Pak Nico mempunyai mata yang tidak dimiliki orang. Boleh dibilang unik dan sedikit radikal ( dalam arti bukan negatif ) tetapi bisa melihat sampai kedalaman masalah.
Pak Nico terus meminta saya sharing dan terbuka. Maka saya belajar percaya dengan dia dan belajar untuk membuka diri. Tetapi sesungguhnya ini sakit, saudara-saudari. Ini menyakitkan sekali. Tetapi operasi kadang harus sakit.
Kemudian saya sendiri kadang merasa kuatir dan gelisah apakah pak nico bisa sabar terus dengan diri saya. Jujur bicara saya ingin maju. Tetapi performance saya kurang bagus. Kelihatan seperti malas ( walaupun ini efek penyakit dan obat ). Tetapi pak nico tidak perduli yang penting adalah ketika sehat melayani ketika lemah istirahat dulu.
Pak Nico mengajarkan saya satu prinsip yaitu lebih baik mati di medan perang daripada kalah secara memalukan. Wah saya yang suka semangat berjuang ini menjadi terbakar. Mendingan saya maju dan babak belur daripada diam dan tidak berjuang. Hidup musti berjuang. Hidup musti bergumul. Hidup musti berani menghadapi peperangan rohani.

Sebenarnya keadaan melayani di Taipei ini bukan mulus-mulus saja. Pak Nico tidak memanjakan saya. Kalau saya salah, saya ditegur. Dan pernah saya hampir tidak diberi kesempatan karena saya pernah tidak kotbah satu kali berhubung saya sedang mengalami tidak enak dengan kondisi saya. Tetapi saya benar-benar sedih kali itu dan saya sadar bahwa kesempatan itu kadang tidak terulang dan saya menanamkan pada diri saya sendiri didikan yang keras waktu itu. Saya belajar untuk lebih tangguh.

Setelah beberapa di Taiwan, saya diutus ke China yaitu Guang Zhou untuk melayani. Sebenarnya saya gentar karena lingkungan baru. Tetapi Ko Daniel permulaan menemani saya dan memperkenalkan saya kepada jemaat dan pengurus dengan ramah. Dan saya melayani selama 3 minggu disana. Berkotbah, mengajar progsif dan mengajar katekisasi.

Setelah kembali ke Taiwan lagi, disana saya masih terus digembleng. Dan akhirnya tiba saya diutus kembali ke Guang Zhou untuk melayani selama 3 bulan. Jujur bicara siapa sih saya ini ? Saya adalah orang yang mengalami penderitaan mental bahkan saya sendiri membikin buku mengenai hal ini dan saya juga sudah divonis tidak bisa menjadi hamba Tuhan. Tetapi anugerah Tuhan itu lebih besar daripada pikiran manusia. Saya akhirnya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melayani di Guang Zhou.
Hari-hari disini begitu sibuk tetapi ada kekuatan demi kekuatan dan pada saat ini saya sedang merefleksikan hidup saya ke belakang.
Bagaimana seandainya saya tidak diijinkan bertemu dengan Pak Nico oleh kehendak Tuhan ? Mungkin saya bisa makin baik tetapi dengan perlahan dan saya akan tetap memandang diri saya tidak bisa berkotbah, tidak bisa di depan umum dan saya hanya bergerak di bidang administrasi dan juga bidang tulisan. Saya mungkin tetap mengalami halusinasi dan paranoid dan mungkin banyak menyendiri. Saya berpikir siapa lagi yang mau membimbing saya seperti ini ?
Tetapi puji Tuhan saya bersaksi dengan jujur dihadapan Tuhan bahwa saya sudah banyak sembuh. Saya sekarang menikmati persekutuan bersama dengan saudara seiman. Mengapa bisa terjadi demikian ? Karena dengan terapi yang dijalani saya belajar prinsip yaitu ketika kita melayani orang, kita sendiri sedang dilayani. Ketika kita sedang melayani orang, kita sendiri makin kuat. Dan karena saya sudah membiarkan diri saya dikenal orang maka adanya ikatan kasih diantara saudara seiman. Dan terlebih dari itu adalah di dalam kasih Kristus tidak ada ketakutan. Inilah yang saya pelajari.

Sekarang saya sudah banyak baikan dan bahkan jadi figur publik. Saya berharap siapa saja yang membaca tulisan kesaksian ini boleh terbangun dan boleh terinspirasi. Terutama doakan saya juga supaya Tuhan tetap memberikan kekuatan. Sebab tanpa Tuhan menopang saya tidak bisa apa-apa.
Sebelum saya menutup kesaksian ini, ada beberapa hal yang ingin saya paparkan yaitu :
1. Di dalam Kristus ada anugerah Tuhan. Anugerah ini melawan kerusakan akibat dosa. Dan seperti di dalam Kejadian , Tuhan menciptakan dari chaos menuju order, Tuhan juga dapat mengubah orang dari chaos menuju order
2. Hidup kita adalah peperangan rohani yang harus berjuang. Tetapi dengan iman ada kuasa kebangkitan yang bisa dialami oleh setiap orang percaya. Iman mengalahkan dunia
3. Di dalam hidup ini jatuh bangun sudah lumrah. Tetapi bila jatuh kita harus bangun lagi. Orang benar jatuh tujuh kali tapi bangkit lagi. Kalau anda ada di dalam hidup yang terpuruk, sandar anugerah dan bangun. Kita harus setia dan kuat dalam pelayanan, jangan takut jatuh. Tetapi yang paling menakutkan setelah jatuh tidak mau bangun lagi.
4. Musuh terbesar adalah diri sendiri. Kita harus mengalahkan diri kita.
5. Saudara-saudari seiman adalah rekan kita bukan musuh kita. Musuh kita adalah iblis
6. Gereja adalah saluran anugerah Tuhan

Terima kasih kepada Pdt. Nico Ong yang sudah banyak membimbing saya dan sabar di dalam melatih. Terima kasih untuk pengampunan atas kesalahan-kesalahan saya dan besarnya hati untuk tetap menjadikan saya murid beliau.

Terima kasih kepada Pdt. Stephen Tong yang sudah mengijinkan saya tinggal di Institut Reformed dan mengijinkan saya untuk berjuang di Taiwan.

Terima kasih kepada Ko Daniel, sebagai koko rohani yang mendukung.
Terima kasih buat Ibu Hanna Tjahja yang mendoakan saya terus dan mengasihi saya.
Terima kasih buat mamah yang mengasihi dan mendukung.

Terima kasih buat saudara-saudari seiman yang tidak bisa saya sebut satu persatu namanya.

Tuhan memberkati

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Guang Zhou, 11 Maret 2007
Ketika sedang refleksi di Hari Sabat

1 comment:

Anonymous said...

It such a wondeful life that God has created for you and me, it makes me going forward and looking forward to serve God more......

Kesaksianmu sungguh bangunkan api semangat kecil di hatiku yg sangat membara dan semakin besar membakar hati kecilku seperti api Tuhan membakar kurban bakaran di atas mezbah bakaran.... this is what I am ought to be doing when God's time for me is come........
God bless you

from me

Alfred

LIMPINGEN BLOG