Friday, March 16, 2007

Merenungkan apa arti hidup ini ?

Merenungkan apa arti hidup ini ?
Dari Mazmur 90
Jeffrey Lim

Hidup ini singkat. Biasanya paling panjang orang jaman sekarang tidak lebih dari 90 tahun. Dan kita merasakan waktu-waktu ini begitu cepat. Waktu itu melesat seperti anak panah. Tidak terasa umur kita sudah bertambah tahun demi tahun. Tetapi ketika waktu itu berjalan dengan cepat, pernahkah kita merenungkan apa artinya hidup kita ini ? Pernahkah kita merenungkan hidup kita ? Satu yang penting di dalam hidup adalah refleksi dan merenung. Sebab hidup yang tanpa refleksi dan merenung adalah hidup yang dangkal. Dengan refleksi dan merenung kita makin mengenal diri kita dan mengenal hidup ini dan artinya. Satu hal yaitu bagaimana kita merefleksi adalah dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah cermin bagi jiwa kita dan Firman Tuhan adalah arah dan pedoman hidup kita.

Mari kita merenung satu bagian dari Firman Tuhan yaitu Mazmur 90.
Ini adalah doa Musa. Tulisan Musa biasanya dimasukkan di dalam 5 kitab Musa yaitu Kejadian Keluaran Imamat Bilangan dan Ulangan. Tetapi kali ini ada doa Musa yaitu di dalam Mazmur. Bila kita menyelidiki Alkitab maka Mazmur termasuk di dalam kitab Puisi dan juga Mazmur 90 itu termasuk di dalam kategori Kitab hikmat. Apa yang dimaksud dengan kategori hikmat adalah puisi ini mengajarkan bagaimana untuk hidup berbijaksana di dalam hidup ini. Hikmat itu adalah bagaimana kita bisa mempunyai keahlian di dalam hidup sehari-hari dan mengatasi setiap permasalahan hidup sehari-hari.
Siapakah Musa ?
Musa adalah seorang Abdi Allah yang ikut Tuhan dan hidupnya banyak mengalami pergumulan bersama dengan Tuhan. Musa diangkat Tuhan untuk menjadi pemimpin bangsa Israel untuk menyelamatkan mereka dari Mesir. Hidup Musa banyak mengalami pergumulan dan kesulitan. Sejak kecil saja dia sudah mau dibunuh oleh Firaun. Musa tetapi dilindungi Tuhan dan dia diselamatkan oleh putri Firaun sendiri yang mengambilnya dari air sungai dimana dia dilepaskan oleh ibunya ke sungai.
Hidup Musa sudah enak dan dia besar di tengah lingkungan kafir. Dia dididik di dalam pendidikan yang tinggi dan menjadi orang yang intelektual. Tetapi Musa mempunyai takut akan Tuhan dan dia melihat bagaimana bangsanya ditindas oleh orang Mesir. Dia ingin menyelamatkan mereka. Visinya baik. Visinya juga adalah sama seperti apa yang Tuhan kehendaki. Tetapi waktu Tuhan belum tiba saatnya. Musa mendahului waktu Tuhan. Musa juga begitu konfiden dengan dirinya. Dia merasa dia bisa melakukan sesuatu untuk umat Tuhan. Dia merasa dirinya adalah orang hebat dan bisa berbuat banyak.
Ketika Musa melihat orang Israel dan orang Mesir sedang berkelahi, dia membunuh orang Mesir itu dan ketahuan. Akhirnya dia melarikan diri. Musa harus mengembara dan hidup sulit di padang. Pada saat ini usianya adalah 40. Pengalaman hidup dan kepandaiannya yang di Mesir dan keahlian yang dipelajari sebagai anak putri Firaun semuanya menjadi sia-sia dan kosong. Dia hidup menggembalakan ternak. Tetapi sebenarnya Tuhan sedang mengajarkan Musa sesuatu yaitu untuk bergantung kepadanya. Selama 40 tahun berikutnya Musa diajarkan bagaimana untuk bergantung kepada Tuhan dan merasa diri tidak ada apa-apanya.
Kemudian setelah usia 80, Musa dipanggil Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel. Musa yang sudah tua itu merasa tidak mampu dan sudah merasa minder dengan kemampuannya. Siapa dia ? Dia hanya seorang pengembala ternak. Apa kepandaian dia ? 40 Tahun mengembala saja. Apa kualifikasi dia ? Hanya menggembala domba. Tetapi dia dipanggil untuk menggembalakan domba Israel dibawah Allah. Namun Alkitab mencatat 5 kali dia menolak panggilan itu karena minder dan tidak yakin.
Akhirnya Tuhan sendiri yang ambil tindakan. Tuhan bekerja melalui Musa untuk menyelamatkan bangsa Israel dari Mesir. Dengan tangannya yang penuh keajaiban Tuhan mengadakan mujizat-mujizat. Tuhan berkuasa dan melakukan mujizat. Kemudian sampai 10 tulah akhirnya bangsa Israel keluar dari Mesir dan sampai peristiwa laut merah. Ini semua dicatat di dalam kitab Keluaran. Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Musa adalah orang besar yang mengalami proses.. Dia menyadari kali ini setelah menyadari dirinya tidak apa-apa sekarang dia sadar bahwa Tuhan adalah segala sesuatu. Pertama dia merasa I am something, kemudian I am nothing dan kemudian God is everything.
Tetapi Musa sendiri mengalami banyak pergumulan sebagai seorang pemimpin rohani dan pemimpin politik militer. Dia banyak kali mengalami kesulitan dengan kebebalan bangsa Israel. Mereka sering bersungut-sungut dan tidak beriman. Mereka banyak kali melawan Tuhan dan menyembah berhala. Musa harus memimpin bangsa Israel yang tegar tengkuk. Ini tidak mudah. Pergumulan hidup demi pergumulan hidup menghasilkan kristalisasi hidup dan Musa disaat tuanya menulis Mazmur 90 yang merupakan kristalisasi makna hidup.
Perkataan di dalam Mazmur 90 ada beberapa yang kita hendak pelajari.
Ay 3-6 : Manusia itu sementara. Hidup manusia itu sebentar saja. Apa sih kebanggaan manusia ? Apa sih arti hidup manusia ? Pada akhirnya manusia akan tua dan mati. Dan kematian adalah akhir hidup.
Setelah banyak merenungkan mengenai hidup, Musa mengerti bahwa akhirnya akan menjadi debu. Sungguh manusia itu lemah.
Ay 12 : Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sehingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Karena hidup manusia itu terbatas maka kita harus menghitung hari-hari kita dan mengisinya dengan bijaksana.
Setelah banyak merenungkan hidup, Musa juga mempunyai kepekaan terhadap waktu.
Sudah umur berapakah engkau ? Dan apakah yang sudah engkau capai dihadapan Tuhan ? Apakah yang selama ini kita lakukan sehari-hari ? Apakah untuk hal-hal yang bernilai kekal ? Ataukah hal-hal yang bernilai sementara ? Mengumpulkan harta diduniakah engkau ? Atau mengumpulkan harta disurga ? Selama ini kita hidup untuk Tuhan atau untuk diri ? Selama ini kita hidup untuk siapa ? Selama ini apa yang kita cari ? Tuhan atau diri ?
Kalau kita belajar dari Musa. Dia pernah merasa dirinya muda dan hebat.. Dia berpendidikan tinggi dan juga sebagai anak putri Firaun. Dia konfiden dengan dirinya. Mungkin kita pernah merasa diri kita sesuatu dan merasa diri kita paling hebat. Tetapi ada kalanya di dalam hidup kita, kita merasa diri tidak ada apa-apa. Kita merasa diri kosong. Kita merasa diri tidak berguna. Kita merasa diri kita lemah.
Dan pada saat kita merasa lemah dan membutuhkan pertolongan Tuhan, pada saat itu Tuhan Allah menolong kita. Tuhan Allah mau memakai kita yang merasa tidak bisa apa-apa sebab kita bergantung kepadaNya.
Ingat satu peristiwa di dalam hidup Musa. Musa belajar bahwa dia tidak ada apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Dia tanpa pertolongan Tuhan tidak bisa apa-apa. Dia sendiri sampai minder untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Tetapi Tuhan yang memberikan kekuatan. Hidup kita tanpa Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa.
Kita belajar selain dari Musa juga dari tongkat Musa. Tongkat Musa adalah tongkat biasa yang tidak ada banyak gunanya. Tongkat itu hanya bisa digunakan untuk menopang seseorang untuk jalan. Mungkin selama beberapa ratus tahun tongkat itu akan menjadi lapuk dan menjadi hancur. Begitu juga hidup kita seperti tongkat Musa yang tidak bisa berbuat banyak dan akan menjadi hancur adanya. Hidup kita hanyalah sesuatu yang biasa.
Tetapi di tangan Allah yang hidup, tongkat Musa menjadi tongkat Allah. Tongkat itu diisikan oleh kuasa Allah. Tongkat itu dipakai untuk membelah laut merah. Tongkat itu dipakai untuk memberi minum bangsa Israel.
Hidup tanpa Tuhan adalah hidup yang tidak ada artinya. Hidup tanpa Tuhan adalah hidup yang sia-sia. Tongkat Musa yang tidak dipakai Tuhan adalah tongkat biasa. Tongkat yang tidak bisa berbuat banyak. Demikian juga Musa seandainya tidak dipanggil Tuhan, hidupnya hanyalah seorang penggembala saja dan akhirnya akan mati. Tetapi Tuhan memanggil dan Tuhan hendak memakai Musa dan Tuhan juga memakai tongkat Musa menjadi alat di tangan Musa.
Tuhan juga hendak memakai kita yang sederhana ini. Maukah kita dipakai seperti Musa ? Dan maukah kita dipakai seperti tongkat Musa ? Maukah kita menyerahkan hidup kita yang sementara ini ke dalam tangan Tuhan ?

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Guang Zhou, 10 Maret 2007
Untuk renungan pembukaan di Chung Da

No comments:

LIMPINGEN BLOG