Thursday, January 18, 2007

Siapakah Saya ? ( Remaja )

Judul : Siapakah anda ? Siapakah saya ? Siapakah kita ?

Nats : Kej 1:26-27, Maz 8

Tujuan Instruksi Umum :

Pengetahuan :
Supaya para remaja mengerti kuasa identitas di dalam hidup mereka.
Supaya para remaja mengerti identitas mereka di dalam Tuhan
( dalam kerangka penciptaan )
Supaya para remaja mengerti arti hidup mereka di dalam Tuhan
( dalam kerangka penciptaan )

Emosi :
Supaya para remaja merasakan tidak benarnya pandangan mengenai identitas diri yang mereka pahami dari dunia dan merasakan pentingnya identitas dalam Tuhan.
( dalam kerangka penciptaan )

Kehendak :
Supaya para remaja hidup sesuai dengan identitasnya di dalam Tuhan

Tujuan Instruksi Khusus :

Dalam jangka 3 bulan para remaja mengerti identitas di dalam Kristus dan hidup mereka semakin kokoh dalam identitas ini.
Remaja akan mengerti identitas diri dari penciptaan, kejatuhan, penebusan dan penggenapan. ( Creation – Fall –Redemption – Consumation )
Ketika menghadapi tantangan dunia secular yang menawarkan nilai diri, para remaja kembali kepada nilai di dalam identitasnya dalam dunia

Took : Siapakah identitas saya ?

Adik-adik, salah satu pertanyaan penting di dalam kehidupan manusia adalah : Siapakah saya ? selain pertanyaan Siapakah Allah. Mungkin pertanyaan ini sepertinya pertanyaan yang sederhana yang membutuhkan jawaban yang sederhana. Tetapi sesungguhnya pertanyaan ini tidak sederhana dan mengandung makna yang dalam yang perlu kita renungkan. Coba pikirkan kalau seorang penting bertanya kepada kakak “Siapakah anda ?”Kakak mungkin menjawab “Saya Jeffrey Lim”
“Bukan itu nama saya.” Siapakah anda ?
“Saya seorang mahasiswa teologi”
“Bukan itu status anda”
“Saya orang Indonesia”
“Itu Negara tempat tinggal anda”
“Saya orang Kristen”
“Itu agama anda”
“Saya 80 kg”
“Itu berat anda”
Adik-adik, saya dapat mengatakan mengenai diri saya dari segi fisik misalnya dari tinggi badan, berat badan, dan ciri-ciri fisik. Tetapi segi-segi fisik itu bukanlah saya. Seandainya amit-amit saya menjadi tidak berlengan apakah saya masih tetap saya. Tentu saja. Jadi siapa saya ini lebih daripada sekedar apa yang saya lihat.

Book

Masalah : Pengertian identitas yang salah

Adik-adik, di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, kita manusia mengerti identitas mereka yang tidak benar. Kita cenderung menilai dari pada yang terlihat seperti:
- Fisik : Tinggi, pendek, gemuk, kurus, cantik, jelek
- Pekerjaan : Supir, Pembantu, Pegawai negeri, Pegawai kantor, pelajar.
- Status sosial : Kaya, miskin
Tetapi siapakah kita itu tidak tergantung kepada fisik kita atau pekerjaan kita atau status sosial kita. Semua itu yang diluar. Semua itu predikat. Ingat tidak di dalam pelajaran bahasa Indonesia dibedakan antara
Subjek Predikat
Nah seringkali manusia menilai dirinya, sesamanya melalui predikat dan bukan subjeknya. Tetapi yang lebih penting adalah subjeknya. Jadi siapakah saya ?
Siapa saya itu tidak ditentukan apa yang saya lakukan. Tetapi siapa saya yang menentukan apa yang saya lakukan.

Masalah : Mencari identitas dan arti hidup yang salah

Adik-adik, di dalam dunia ini, kebanyakan manusia mencari identitas kita dari dunia. Di televisi dan iklan-iklan ditawarkan banyak gaya hidup dan identitas. Misalnya gaya berpakaian tertentu menentukan siapa saya. Ada yang berpakaiannya mini, robek-robek, ataupun serba wah. Gaya rambut juga menentukan siapa saya. Ada yang rambutnya di cat warna-warni, di potong gaya seperti punk, dll. Accessories juga menentukan siapa saya. Merek Hand Phone saya, mobil saya, anting-anting saya. Penampilan fisik juga menenukan siapa saya. Orang yang gemuk merasa minder dan ingin terus diet, orang yang kurang menarik terus dandan dan ingin lebih cantik supaya lebih berarti.
Nah adik-adik, Tetapi sesungguhnya banyak manusia kehilangan identitas. Banyak remaja kehilangan identitas dan hidupnya kosong. Mungkin kita pernah mendengar seorang artis yang kaya, cantik, banyak digemari orang, terkenal namun ternyata mati bunuh diri. Mengapa begitu ? Adik-adik, dulu saya menggemari serial silat “Pendekar Pemanah Rajawali” dengan jagoannya “Kwee ceng”. Di dalam film itu, pemeran sebagai istrinya Kwee Ceng yang bernama Oey Yong adalah seorang wanita muda yang cantik jelita, lincah dan menarik hati. Nama aslinya Ung Mei Ling. Sekilas orang dunia memandang bahwa bila seseorang cantik, lincah, menarik, kaya , terkenal maka hidupnya sukacita dan berarti. Tetapi saya mendengar kabar buruk bahwa artis ini bunuh diri karena pacarnya suka sama orang lain. Mengapa dia bunuh diri ? Sebab rasa arti diri itu bukan dari talenta, kepintaran, kecantikan/rupa. Rasa harga diri ini adalah masalah identitas diri.


Solusi : Siapakah saya sesungguhnya ?
Marilah kita baca Kej 1:26-27, Kej 2:7 dan Maz 8

Untuk mengerti siapa saya sesungguhnya, kita harus mengerti terlebih dahulu mengenai identitas yang kita warisi dari nenek moyang kita yaitu Adam. Alkitab di dalam kitab Kejadian 1:26-27 mengajarkan bahwa Tuhan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Gambar dan rupa Allah merupakan sesuatu yang mulia. Manusia diciptakankan sebagai mahluk mulia yaitu mirip dengan Allah. Penciptaan ini adalah asal-usul umat manusia.
Apa arti manusia sebagai gambar dan rupa Allah ?
Di dalam gambar dan rupa Allah inilah identitas manusia yang menentukan arti hidup manusia. Sebagai gambar dan rupa Allah ini manusia mempunyai sifat-sifat yang mirip dengan Allah. Manusia bisa berpikir dan ini bisa membedakan manusia dengan binatang ( dalam hal ini teori evolusi tidak benar karena manusia berbeda secara kualitatif dengan monyet ). Manusia juga bertanggung jawab secara moral kepada penciptaNya. Manusia diberikan mandat untuk menaklukan alam semesta ini. Dalam hal ini manusia sungguh mulia karena berfungsi sebagai raja untuk menaklukan alam semesta di bawah Raja atas segala Raja yaitu Tuhan. Manusia diberikan sifat budaya sehingga manusia dapat berbudaya. Judul Maz 8 mengatakan manusia mahluk hina sebagai mahluk mulia.
Kemudian dalam kisah Kej 2:7 dituliskan “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup”. Adik-adik, ketika Adam dihembusi nafas maka Adam menjadi mahluk hidup. Manusia menjadi hidup secara jasmani yaitu mempunyai tubuh. Di dalam tubuh ini kita mempunyai ciri-ciri fisik tetapi sesungguhnya identitas manusia lebih daripada sekedar jasmani. Manusia membutuhkan bagian yang bersifat bukan materi yaitu rohani. Selain hidup secara jasmani, manusia juga hidup secara rohani yaitu ada di dalam persatuan dengan Allah. Keadaan Adam pada waktu diciptakan hidup secara jasmani dan hidup secara rohani dalam persatuan yang sempurna dengan Allah.
Manusia sebagai gambar dan rupa Allah juga mempunyai arti hidup.
“Berfirmanlah Allah : Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi. Maka Allah menciptakan mansuai itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” ( Kej 1:26-27 )
Allah menciptakan Adam dan memberi dia tujuan yang berarti, yang ilahi, dari keberadaannya : untuk memerintah atas segala mahluk ciptaan Allah. Manusia memiliki kekuasan yang berarti. Ini adalah nilai hidup manusia yaitu di dalam apa yang Tuhan firmankan. Ini adalah signifikansi identitas manusia.
Secara rohani dan psikologis, Adam juga aman dan terjamin. Adam tidak hanya diberi peranan yang berarti dan penuh kuasa, tetapi juga menikmati perasaan aman dan terjamin. Segala kebutuhannya sudah tersedia ( Kej 1:29,30 ). Di taman Eden, Adam sepenuhnya terpelihara dan ia mempunyai makanan. Keamanan dan jaminan merupakan identitas manusia pada mulanya.
Di dalam taman yang sempurna itu Adam dan Hawa juga mengalami perasaan dimiliki. Adam menikmati persekutuan pribadi yang sangat akrab dengan Allah sebelum Hawa ada. Kemudian Allah memberikan Adam seorang wanita yaitu Hawa untuk memperkaya pengalaman dimiliki.

Refleksi :

Secara singkat bisa kita simpulkan dari pengajaran Alkitab yaitu bahwa identitas diri kita manusia berasal dari Tuhan. Di dalam identitas ini mengandung makna yaitu arti hidup, tujuan hidup, keamanan diri, jaminan hidup dan juga mengenai hal memiliki dan dimiliki. Semua kebutuhan manusia ada di dalam Tuhan baik secara jasmani maupun secara rohani. Ini arti identitas kita manusia. Jadi adik-adik, kita mencari identitas diri kita bukan dari penampilan fisik, kekayaan, accessories, kepandaian, talenta, status sosial, jabatan. Tetapi kita harus mencari identitas dan arti hidup di dalam Tuhan.

Minggu depan kita akan melihat bagaimana dosa mengakibatkan manusia mati secara rohani dan juga kehilangan identitas, arti hidup dari apa yang sudah Tuhan tetapkan. Dan nanti beberapa minggu lagi, kita akan membahas identitas di dalam Kristus.

No comments:

LIMPINGEN BLOG