Thursday, January 18, 2007

Pada mulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi - Seri A

Pada eksposisi pertama ini kita akan membahas mengenai problema filsafat yang dijawab di dalam kalimat "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi"
I. Problema Filsafat 1 : Dari mana asal alam semesta ini ?
Para filsuf di dunia yang tidak mengenal Tuhan tidak mengetahui misteri besar. Misteri besar ini adalah Asal mula alam semesta. Misteri ini terus digumuli mereka dan dicari tahu. Mengapa harus dicari tahu ? Mengapa harus dimengerti asal mula alam semesta ini ? Sebab ini sangat penting ! Sebab asal mula alam semesta ini akan menentukan makna kita hidup di dalam alam semesta ini. Manusia memerlukan makna di dalam hidup. Manusia hidup harus mempunyai makna. Hidup yang tanpa makna adalah hidup yang tidak berarti. Hidup yang meaningless dan tanpa tujuan serta arah.
Para filsuf presokrates mulai memikirkan dari mana asalnya alam semesta ini. Mereka memikirkan mengenai kosmologi yaitu ilmu mengenai alam semesta. Filsuf yang pertama adalah Thales. Dia mengemukakan bahwa alam semesta ini semuanya berasal dari air. Air adalah zat dasar yang membentuk alam semesta ini. Mengapa dia sampai berpikir demikian ? Sebab dia menemukan bahwa air ada di mana-mana. Di dalam udara ada air. Di dalam zat padat ada air. Di dalam tanah ada air. Di dalam tubuh manusia dan hewan ada air. Di dalam tumbuhan ada air. Jadi air ada dimana-mana karena itu semua benda pasti ada air. Kita tentunya tidak mengerti hal ini di dalam pengertian modern dimana ada partikel-partikel yang tidak ada partikel air. Tetapi pada jaman Thales orang berpikir secara sederhana bahwa air ada dimana-mana. Jadi air adalah zat yang membentuk alam semesta.
Dari mana alam semesta ini berasal ? Thales menjawab dari air…. Tetapi air dari mana ? Air merupakan zat dasar. Ini jawaban Thales.
Kemudian setelah Thales ada filsuf-filsuf alam pre-sokrates yang membantah hal ini. Heraklitus yang mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari api. Api adalah zat dasar dari alam semesta. Dan alam semesta ini adalah dinamis seperti api. Selalu berubah. Selalu berubah bentuk. Tidak pernah tetap. Alam semesta ini adalah selalu becoming. Selalu menjadi. Seperti kayu yang dibakar, berubah menjadi arang dan asap demikian juga alam semesta selalu berubah bentuk. Heraklitus memberikan ilustrasi demikian. Tidak ada orang yang dapat menginjak tanah di air sungai dua kali dengan sama. Ketika kita menginjak sungai yang pertama pasti beda dengan yang kedua. Sebab ada kondisi yang berbeda dan berubah. Posisi berubah, airnya berubah, tanahnya berubah. Jadi tidak sama. Demikian juga alam semesta selalu ada di dalam posisi yang berubah. Always Changing and Always Becoming.
Di China, kita juga melihat di dalam buku I Ching ( Buku Perubahan-perubahan ) bahwa alam semesta adalah berubah.
Dan ada filsuf-filsuf lain yang membantah bahwa zat dasar dari alam semesta adalah udara. Sebab udara dimana-mana. Udara ada di dalam setiap zat.
Kemudian ada yang mengatakan sebenarnya ada 4 elemen dasar yang membentuk alam semesta yaitu : Air, Api, Udara dan Tanah. Di dalam filsafat China kuno, seperti juga di dalam mistik China, kita menemukan bahwa ada 5 elemen dasar yang membentuk alam semesta ini yaitu api, air, udara, tanah dan logam.
Di atas semua ini, manusia terus bergumul dengan problema asal mula alam semesta. Para filsuf memikirkan hal ini tetapi menemui jalan buntu. Orang modern mempunyai pikiran yang berbeda dengan para filsuf pre-modern. Mereka mengatakan bahwa alam semesta ini adalah materi dan materi alam semesta ini ada dari kekal sampai kekal. Materi ini ada dari dulu sampai sekarang. Dan semua yang ada di dalam alam semesta ini hanya materi belaka. Tidak ada dunia supra materi. Tidak ada Allah. Tidak ada pencipta. Yang ada hanya materi saja dari kekal sampai kekal. Tetapi orang modern di dalam hidupnya kehilangan makna hidup. Apakah ada makna bila alam semesta ini hanya materi ? Dan apa makna hidup manusia ? Manusia akhirnya kembali menjadi materi dan kehilangan eksistensinya. Manusia hanyalah partikel alam semesta yang tidak ada arti. Adakah arti bila manusia hanya materi ?
II. Pada mulanya
Tetapi puji Tuhan ! Ternyata hidup ini ada artinya. Karena ada in the beginning. Alam semesta ini ada permulaannya. Alam semesta ini ada awalnya. Alam semesta ini ada maksudnya. Alam semesta ini ada starting pointnya. Karena itu sejarah ini menjadi ada artinya. Sejarah hidup manusia ini mempunyai makna karena ada permulaan sejarah dan akhir sejarah.
Tanpa awal dan akhir sejarah, sejarah tidak ada artinya. Dan manusia berdosa tidak dapat memahami makna sejarah ini. Ini dicatat di dalam kitab Pengkotbah bahwa Allah memberikan kita kekekalan di dalam hati manusia tetapi mereka tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir. Dan ini adalah hidup yang sia-sia. Hidup yang tanpa makna.
Bila kita menonton bioskop dari tengah-tengah dan kemudian tidak menonton dari awal dan kemudian meninggalkan sebelum film itu selesai maka film itu hanya cerita tidak jelas yang tidak ada awal dan tidak ada akhir. Karena tidak ada awal maka makna semuanya tidak jelas. Dan juga karena tidak menyelesaikan akhirnya maka arti cerita juga tidak ada maknanya sebab maknanya akan terbuka secara jelas di dalam seluruhan cerita dari awal sampai akhir.
Kita ambil contoh film Star War yang terkenal yang terdiri dari 6 episode. Yang menarik yaitu StarWar 4-6 diciptakan dulu baru StarWar 1-3. Ambil contoh bila kita hanya menonton cerita StarWar ke 4. Kemudian sisanya tidak menonton. Maka kita tidak dapat memperoleh seluruh gambaran cerita. Dan cerita itu maknanya jadi terfragmen dan tidak jelas. Yang jelas yaitu jagoan selalu menang. Hanya itu toh. Tetapi makna ceritanya tidak dimengerti. Dan ketidak jelasan dan ketidak mengertian adalah tidak bermakna penuh. Tetapi bila kita menonton StarWar dari 1-6 maka kita mengerti cerita keseluruhan dari awal sampai akhir. Kita mengerti mengapa adanya kejahatan oleh Anakin SkyWalker sang Jedi dan bagaimana Kejahatan itu berakhir oleh anaknya Luke SkyWalkter.
Begitu juga dengan sejarah manusia. Tanpa awal maka sejarah menjadi meaningless. Tetapi puji Tuhan !. Dengan adanya in the beginning maka hidup manusia ada artinya. Sejarah ada artinya. Hidup saya tidak meaningless. Maka di dalam hidup yang saya alami bahkan penderitaan hidup yang saya alami juga ada artinya sebab ada permulaan sejarah. Ada permulaan berarti ada arti. Hidup tidak random dan terjadi begitu saja. Hidup ada yang memulai dan hidup ada yang mengakhiri. Sejarah ada awal dan ada akhir.
Jadi pembukaan kitab Kejadian ini adalah perkataan yang sudah menghancurkan pikiran filsafat manusia yang mencari makna di dalam asal mula alam semesta. Perkataan "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" adalah perkataan yang sangat besar. Banyak perkataan di dalam Kitab suci yang menghantam perkataan dan pergumulan filsafat yang dipikirkan manusia berdosa.
Hanya kekristenan yang memulai Kitab Sucinya dengan "pada mulanya" dan menutupinya dengan kitab Wahyu dengan bumi yang baru. Hanya Alkitab yang menjawab dan memberi arti dengan tuntas bahwa cerita hidup manusia ini benar-benar ada artinya.
Hidup ini suatu cerita besar dimana kita seluruh umat manusia berada di dalamnya. Dan kita semua ada di dalam cerita besar ini. Ini adalah HISTORY yang berarti HIS Story. Kita ada di dalam Cerita Tuhan dan Tuhan memberikan kita kisahNya di dalam Alkitab. KisahNya dimulai dengan "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi"
III. Problema filsafat 2 : Apakah ada Allah ?
Problema dan salah satu pertanyaan terbesar di dalam pemikiran manusia adalah : Apakah ada Allah ? Pertanyaan ini begitu penting bagi kehidupan manusia. Sebab jawaban terhadap pertanyaan ini adalah menentukan meaning hidup manusia. Keberadaan Allah menentukan arti hidup manusia. Kalau ada Allah maka hidup ada meaningnya karena keberadaan Allah itu. Tetapi kalau tidak ada Allah, dimana meaning manusia ?
Seorang Filsuf bernama Fredrich Nietzche mengatakan bahwa Allah sudah mati. Karena Allah sudah mati maka hidup manusia bebas. Allah sudah dibunuh dan manusia tidak perlu kuatir hidup ini. Sang Hakim sudah tidak ada. Karena itu saya bebas. Kalau ada Allah bukankah saya menjadi terikat dan harus bertanggung jawab. Ini teriakan manusia berdosa di hadapan Allah Sang Hakim dimana manusia tidak mau menerima keberadaan Allah yang menuntut pertanggung jawaban manusia. Jadi Nietzche mengatakan bahwa Allah sudah mati. Dan dia mau menentukan makna hidupnya di atas kematian Allah. Ini benar-benar gila. Sebab tanpa Allah hidup manusia meaningless.
Pertanyaan adanya Allah ini muncul karena manusia memikirkan apakah ada Allah atau sebaliknya karena Allah ada maka manusia memikirkan pertanyaan ini ? Saya percaya yang kedua adalah jawaban yang benar. Karena Allah ada maka manusia memikirkan keberadaan Allah.
Manusia adalah mahluk religius dan banyak manusia yang mengaku percaya adanya Allah. Sebaliknya ada sebagian kecil manusia yang tidak percaya adanya Allah. Tetapi di dalam diri manusia yang paling dalam manusia mengakui adanya Sang Pencipta pemberi hidup dan Sang Hakim yang besar. Ini adalah perkataan dari Kitab suci bahwa Allah sudah menyatakan dirinya sehingga manusia tidak dapat berdalih ( Kitab Roma 1 ). Keberadaan Allah ini sudah dinyatakan di dalam alam semesta maka sebenarnya setiap orang tahu di dalam dirinya bahwa ada Allah. Tetapi manusia menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena itu sebenarnya tidak ada manusia yang ateis. Semua manusia tahu ada Allah tetapi tidak mau Allah lebih tepatnya. Seperti Nietzche lebih baik berbicara Allah itu mati supaya saya bebas.
"Pada mulanya Allah menciptakan…. "
Alkitab mempresaposisikan adanya Allah. Seluruh Alkitab mempresuposisikan bahwa Allah itu ada dan mewahyukan diri dan terlibat di dalam kehidupan manusia. Jadi perkataan "pada mulanya Allah…" adalah mempresuposisikan adanya Allah. Tetapi Allah macam manakah yang Alkitab nyatakan ? Siapakah Dia ? Apa yang Dia lakukan ? Dari mana Dia berasal ?
Pada mulanya Allah menciptakan. Pada mulanya ini kapan ? Apa yang terjadi sebelum ciptaan ? Ada pertanyaan tradisional yang dijawab dengan kurang sopan yaitu : "Apa yang Allah lakukan sebelum menciptakan dunia ?" Jawabannya adalah : "Menciptakan neraka bagi orang yang mempertanyakan pertanyaan itu !". Apa yang terjadi sebelum ciptaan ? Di dalam banyak dokumen Timur Tengah, hidup para dewa ada permulaannya dan diceritakan bagaimana mereka menjadi ada. Kita hendak melihat konteks dimana Alkitab ditulis karena Alkitab ditulis di timur dekat kuno. Athrasis mempunyai parallel dengan kejadian 1-11. Dan di dalam Enuma Elish diceritakan bagaimana Marduk menjadi dewa utama di dalam Babilon. Tetapi apakah Allah Israel ada proses menjadi Allah ?
Alkitab tidak menjelaskan mengenai asal mula Allah. Allah tidak mempunyai asal mula sebab dia ada dari kekal sampai kekal. Seorang filsuf ateis di abad 20 bernama Bernard Russel yang menulis buku why I am not a Christian memberikan serangan tajam kepada Kekristenan. Orang ini orang yang menulis history of philosophy. Dia bilang bahwa orang Kristen itu pada akhirnya akan self-defeating. Tanyakan kepada mereka dari mana alam semesta ini berada. Dan mereka akan menjawab diciptakan Allah. Dan tanyakan kepada mereka dari mana Allah berada. Dan mereka pasti tidak bisa menjawab. Jadi Bernard Russel mengatakan bahwa Kekristenan tidak usah diserang sebab pada akhirnya akan hancur sendiri. Sungguh statemen yang luar biasa tapi goblok. Sebab siapakah yang dapat menghancurkan apa yang Allah bangun ?
"Dari mana Allah berada ?"
Ini saja sudah pertanyaan salah. Bukan dari mana Allah berada tetapi seharusnya ada adalah dari Allah. Sedangkan Allah sendiri tidak diciptakan. Dia adalah Allah dari kekal sampai kekal. Dia ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Ini adalah di dalam nama Yahweh ketika Dia menyatakan diri kepada Musa yaitu "I am that I am" "I will be what I will be".
"Bagaimana yang ada sebelum penciptaan ?"
Alkitab juga mengatakan bahwa pada mulanya adalah Firman ( Yoh 1:1 ). Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Pada mulanya di dalam Kitab Yohanes ini berbeda dengan pada mulanya di dalam Kitab Kej 1:1. Di dalam Kitab Yohanes pada mulanya adalah kekekalan sedangkan pada kej 1:1, pada mulanya alam semesta ini berada.
Sekarang kita simpulkan dari perkataan Kej 1:1 bahwa pertama adalah ada pada mulanya alam semesta ini, kedua adalah adanya Allah. Adanya Allah dan asal mula ciptaan ini memberikan arti kepada kita manusia. Namun ada problema filsafat lagi yang muncul yaitu : hubungan antara Allah dan ciptaan. Problema ini dijawab oleh Kej 1:1 dan menghancurkan banyak wawasan dunia yang salah.
IV. Problema filsafat 3 : Apakah relasi antara Allah dengan alam semesta.
Apakah relasi antara Allah dengan alam semesta. Ini adalah pertanyaan metafisika dan berkaitan dengan realitas. Apa itu realitas ? Seringkali kita mendengar pertanyaan apa itu realitas ? Sebenarnya pertanyaan ini adalah pertanyaan filsafat.
Banyak wawasan dunia di luar Kekristenan yang mencoba menjawab mengenai realitas yaitu hubungan antara alam semesta dengan Allah. Kejelasan antara Pencipta dan yang dicipta ini banyak menjadi kabur.
Yang pertama adalah
1. Monisme
Monisme mengatakan bahwa semua realitas adalah satu. Semua adalah satu. Alam semesta ini adalah makrokosmos dan manusia adalah mikrokosmos. Allah adalah alam semesta yang adalah kosmos. Dan manusia adalah mikrokosmos. Manusia harus kembali menyatu dengan kosmos. Ajaran ini sering kita lihat di dalam gerakan jaman baru dan juga di dalam gerakan menyatu dengan alam. Prinsip meditasi-meditasi mistik adalah ingin menyatu dengan kosmos. Tidak ada perbedaan antara Allah dan ciptaan. Semua adalah satu. Ajaran mistik Timur ini harus hati-hati. Seperti beberapa ajaran Kekristenan yang mengatakan Tuhan dan manusia menjadi satu ini harus hati-hati sebab manusia adalah manusia dan Allah adalah Allah. Ketika Yesus mengatakan bahwa Akulah pokok anggur dan kamu adalah rantingnya. Ini kesatuan organis bukan kesatuan esensi.
2. Pantheisme
Panteisme adalah bentuk dari monisme. Ajaran ini yang mengatakan semua adalah Allah. Alam semesta adalah Allah. Manusia adalah Allah. Jadi semua adalah Allah. Semua mengandung keilahian. Ajaran ini juga mengajarkan untuk menyatu dengan Allah dan menjadi satu. Ini bukan ajaran Alkitab
3. Yang terakhir adalah panentheism yang mengatakan bahwa di dalam segala sesuatu ada Allah. Allah ada di bunga, ada di alam semesta, ada di dalam manusia. Jadi keberadaan Allah itu tersebar dimana-mana. Ini juga bukan ajaran Alkitab.
Tetapi Kej 1:1 menghancurkan konsep yang salah mengenai Monisme dan Pantheisme serta Panentheism. Kej 1:1 mengajarkan pemisahan antara Pencipta dan yang dicipta. Pencipta adalah Allah dan yang dicipta adalah alam semesta ini. Jadi ada batasan yang jelas antara Allah dengan ciptaan. Ini ada qualitative difference. Betapa bodohnya manusia yang hendak menyatu dengan alam dan tidak menyadari bahwa dirinya lebih tinggi dari alam dan betapa kurang ajarnya manusia yang ingin menyatu dengan Allah bahkan merasa dirinya adalah Allah. Kej 1:1 memberikan batasan yang jelas.
Let God be God
Let Man be man
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…..merupakan pembukaan Alkitab yang luar biasa. Mari kita bersyukur buat Alkitab yang memberi kita meaning dari "pada mulanya".

No comments:

LIMPINGEN BLOG