Tuesday, April 17, 2007

Refleksi detik-detik Perjamuan Kudus

Refleksi Detik-detik Yesus ketika Perjamuan Kudus
Jeffrey Lim

Kotbah dari Matius 26:17-30.

Kita akan merenungkan Firman Tuhan yaitu detik-detik ketika perjamuan kudus dilaksanakan. Firman di ambil Matius 26:17-30.
Pertama kita lihat dulu bahwa peristiwa di dalam Yoh 13:1-20 ketika Yesus membasuh kaki murid-murinya adalah peristiwa yang sama dengan Perjamuan Kudus yang ada di dalam Mat 26:17-30 yang akan kita baca. Karena di dalam kedua peristiwa ini, Yesus mengatakan bahwa ada yang akan menghianati dia dan juga setelah peristiwa ini Yesus memprediksikan akan penyangkalan Petrus. Jadi kita mengerti bahwa peristiwa kedua ini adalah peristiwa yang sama.

Kita akan refleksikan kedua bagian ini. Kita akan berefleksi mengenai hidup Yesus detik-detik Dia mau ke Getsemani. Mari kit abaca Matius 26:17-30.

Dikatakan bahwa pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak beragi datanglah murid-murid Yesus kepadaNya. Mereka menanyakan dimana mereka akan mengadakan paskah.
Perayaan roti tidak beragi dan perayaan paskah ada pada saat yang bersamaan. Yesus serta murid-muridnya hendak merayakan perayaan ini. Perayaan ini adalah perayaan orang Israel dan memperingati satu peristiwa sebelum keluaran dari Mesir. Ini adalah perayaan paskah Perjanjian Lama.
Dengan merayakan perayaan perjanjian Lama, Yesus sebenarnya sedang taat pada Firman Tuhan Perjanjian Lama dan setia melakukannya. Yesus datang bukan untuk meniadakan Taurat tetapi untuk menggenapi Taurat. Perayaan Paskah apakah yang Yesus rayakan ?
Di dalam cerita Alkitab mengenai pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Musa yang memimpin bangsa Israel. Bangsa Israel pada saat itu sedang diperbudak bangsa Mesir. Bangsa Israel berteriak kepada Tuhan dan Tuhan Allah mendengar keluhan mereka. Tuhan Allah setia dan mengingat perjanjianNya.
Maka Tuhan menyertai Musa. Musa meminta kepada Firaun supaya membebaskan bangsa Israel. Tetapi Firaun tidak mau dan keras hatinya. Tuhan memberikan tulah-tulah untuk menghukum Firaun serta bangsa Mesir supaya mereka mengetahui siapa Tuhan Allah. Tulah demi tulah diberikan tetapi Firaun tetap mengeraskan hatinya. Maka ada tulah kesepuluh. Tulah kesepuluh adalah kematian anak sulung dari bangsa Mesir. Tuhan akan membunuh anak sulung dari bangsa Mesir.
Sebelum tulah kesepuluh diberikan, umat Israel diperintahkan Tuhan Allah merayakan perayaan paskah. Tuhan memerintahkan untuk mengolesi darah domba pada kedua tiang pintu rumah mereka. Ini supaya ketika Tuhan berjalan ditengah-tengah mereka Tuhan melewati rumah-rumah mereka dan tidak ada kematian pada bangsa Israel. Di atas rumah diolesi darah domba. Pernahkah berpikir mengapa darah domba diolesi pada kedua tiang pintu rumah ? Apakah lambang dari darah itu ?
Darah domba itu berarti ada korban yang menggantikan sehingga umat Israel diselamatkan. Domba menjadi korban merupakan lambang penebusan bangsa Israel dari kematian. Domba menjadi korban dan mati supaya umat Tuhan hidup. Ini sebuah lambang.
Tulah kesepuluh membinasakan semua anak sulung dari orang Mesir tetapi bangsa Israel tidak kena sebab ada korban yang mengantikannya.
Di dalam Perjanjian Baru maka kita menjadi mengerti arti dari korban domba ini. Yohanes Pembaptis mengatakan “Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia” ( Yohanes 1:29 ) ketika ia melihat Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus adalah korban sesungguhnya yang dilambangkan Perjanjian Lama dengan domba. Tuhan Yesus Kristus mati sebagai korban supaya umat Allah boleh diselamatkan dari kematian. Domba hanya melambangkan korban sesungguhnya yaitu Tuhan Yesus sendiri
Kembali kepada Tuhan Yesus dan murid-muridnya merayakan paskah.
Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk pergi ke kota kepada seseorang. Kemudian dikatakan bahwa Yesus berpesan hendak melakukan perjamuan paskah di dalam rumahnya bersama-sama dengan murid-muridnya. Lalu murid-muridnya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan paskah.
Setelah malam hari, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas muridnya. Pesta makan dimulai sebelum perjamuan kudus dan merupakan makan malam. Perjamuan Kudus dimulai setelah peristiwa makan malam ini dan setelah Yudas pergi untuk mengkhinatinya. Jadi Yudas tidak berbagian di dalam perjamuan kudus.
Ketika mereka sedang makan, Yesus berkata bahwa diantara mereka ada seseorang yang akan menyerahkan Dia. Ini semua dicatat membuat hari mereka sedih dan mereka menanyakan bukan aku, ya Tuhan ?
Mereka sedih bahwa Yesus mengatakan bahwa ada yang menyerahkan dirinya. Tetapi kalau kita renungkan seharusnya siapa yang lebih sedih. Seharusnya yang lebih sedih adalah Yesus. Mengapa ? Dia mengetahui segala sesuatu karena Dia adalah Allah. Tetapi Dia juga manusia yang bisa menderita dan ini dilemma dan kesulitan. Tuhan Yesus mengetahui segala sesuatu itu seharusnya membuat Dia sedih, mengapa ?
Pertama adalah satu muridnya akan menghianatinya. Kedua adalah Yesus lebih sedih lagi karena murid-muridNya tidak mengerti pergumulannya. Mereka semua banyak yang tidur di taman Getsemani. Mereka kemudian semua meninggalkan Yesus Kristus dan Yesus tahu semua ini.
Ketiga adalah Allah Bapa sendiri yang paling dekat dengan Dia, Yesus tahu bahwa Bapa akan meninggalkan Dia. Dan Dia akan mengalami kesengsaraan yang paling tinggi yaitu ditinggalkan Bapa, ketika Dia berkata “Eli, Eli, Lama Sabaktani”.
Dia mengetahui semua ini sebab Dia adalah Allah. Namun Dia juga adalah manusia yang bisa menderita.
Kristus akan bergumul dengan masalah ditinggalkan oleh Allah Bapa. Dia mengetahui bahwa nanti tidak ada yang menemaninya, termasuk Allah Bapa. Bapa pun sampai meninggalkan-Nya sendirian di kayu salib. Singkatnya, dia akan sangat-sangat kesepian. Akan timbul satu perasaan kesendirian yang tiada taranya.
Yesus menjalankan tugas yang mulia dan Dia mengajarkan kebenaran dan keadilan. Dia mempraktekkan kebenaran dan keadilan. Tak sekalipun dalam hidup-Nya Dia berbuat yg tak benar dan tak adil. Dia berbuat baik. Menyembuhkan. Menolong orang. Memberikan pengharapan. Tapi Yesus tahu dia harus mati begitu tragis, yakni dengan penyaliban. Dia tahu bahwa kematiannya tidak wajar dan tidak manusiawi. Dia tahu Dia harus mati dengan terhitung sebagai seorang penjahat besar padahal tak satu kesalahan kecil pun yang pernah diperbuat-Nya. Dia tahu kemudian bahwa Allah Bapa sendiri tidak peduli pada-Nya.
Mari kita refleksi hidup Yesus dan alasan mengapa Dia seharusnya bersedih saat perjamuan malam ini ?
Setelah memulai pelayananNya Yesus mengajar berkeliling dan banyak orang mulai mengikuti-Nya. Kelemahlembutan-Nya menyegarkan jiwa banyak orang yang sedang merana. Penyembuhan penyakit, pengusiran setan, mujizat demi mujizat membuat banyak berbondong-bondong mengikuti-Nya. Namun, perlahan-lahan satu per satu mulai meninggalkan-Nya.
Ketika Dia mengingatkan banyak orang akan segala resiko mengikuti-Nya maka orang-orang mulai mengundurkan diri. Dia tahu bahwa Di taman Getsemani, Dia bergumul seorang diri. Pada saat keringat-Nya mengalir seperti darah, Petrus, Yakobus dan Yohanes, tiga orang yang menemani di Getsemani, tidur terlelap. Justru di saat-saat hati-Nya amat sedih, seperti mau mati rasanya, ketiga murid-Nya tidak mampu berjaga-jaga. Yesus dibiarkan bergumul sendirian.
Sepanjang pelayanan sekitar tiga setengah tahun, Dia disertai dua belas orang murid. Akan tetapi, salah seorang di antara murid-Nya itu akhirnya mengkhianati-Nya. Yudas begitu tega menjual Yesus dengan harga dua ratus keping uang perak. Seorang guru dikhianati oleh muridnya sendiri. Betapa pedih hati-Nya!
Salah seorang murid-Nya pernah bersumpah setia untuk membelaNya sampai mati. Sumpah itu dibuktikan oleh sang murid, yakni Petrus, dengan memotong telinga seorang perwira yang menangkap-Nya. Namun, tidak lama berselang, sang murid menyangkal dan mengutuk bahwa dia tidak pernah mengenal Yesus. Tidak tanggung-tanggung, penyangkalan itu sampai dilontarkan tiga kali. Baru tatkala ayam berkokok, Petrus menyadari dan menyesal atas kepengecutannya. Pil pahit berupa penyangkalan dari Simon Petrus harus ditelan-Nya. Bagaimana mungkin hati-Nya tidak hancur?
Sewaktu memasuki Yerusalem dengan menunggangi keledai, Dia disambut meriah. Banyak orang menghamparkan pakaian mereka di jalan dan melambai-lambaikan daun. Salam kebesaran dipersembahkan pada-Nya: Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Sambutan hangat itu begitu membesarkan hati-Nya. Akan tetapi, hampir dapat dipastikan, sebagian orang itu kemudian berbalik menentang-Nya. Kali ini mereka berteriak : Salibkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia!
Awalnya Dia diterima tapi akhirnya ditolak. Kembali Yesus ditinggalkan seorang diri. Satu demi satu meninggalkan Yesus. Kesendirian-Nya mencapai titik puncak pada saat Dia berseru: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Allah Bapa di Surga pun meninggalkan-Nya. Dan jangan lupa, seruan itu diucapkan dengan suara nyaring. Betapa sepi kesendirian-Nya kala itu! Kesendirian yang tiada tara. Kesendirian itu sudah tak tertahankan. Di kayu salib, menjelang kematian-Nya, Yesus merasakan sunyi…, sepi…, sendiri. Dan Yesus tahu Dia akan mengalami semua itu.
Kembali kepada peristiwa makan malam.
Yesus mengetahui peristiwa hidupnya. Dia tahu Dia akan mengalami tragis di masa depan. Dan jadi seharusnya Yesus sedih sekali, tetapi sebelum peristiwa makan malam ini, Yesus yang seharusnya sedih karena Dia tahu segala sesuatu tetapi Dia luar biasa. Dia melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia menunjukkan kasihNya kepada murid-muridNya. Di dalam Yoh 13 dikatakan bahwa Yesus membasuh kaki murid-muridnya. Peristiwa pembasuhan kaki murid-murid ini terjadi sebelum makan malam ini. Ini terjadi pada waktu mereka ada di rumah itu waktu merayakan paskah.
Kalau kita tahu bahwa kita akan mengalami sesuatu yang tragis dan malang, biasanya kita cenderung menutup diri dan mementingkan diri sendiri. Kita cenderung self-centered dan mengasihani diri. Tetapi Yesus Kristus terus di dalam hidupnya masih melayani murid-muridNya. Dia menunjukkan bahwa sebagai seorang pemimpin rohani, Dia adalah seorang yang melayani. Bahkan merendahkan diri membasuh kaki murid-muridNya. Kerendahan hati ini melukiskan Dia yang akan merendahkan diri mati di kayu salib.
Yesus Kristus terus melayani bahkan ketika dia tahu hidupnya sedang dalam keadaan malang. Dia menunjukkan kepenuhan kasihNya kepada murid-muridNya.
Kalau kita telurusi sikap Yesus ke depan, Dia tidak mementingkan diriNya sendiri. Bahkan ketika nanti Dia menjalani jalan salib ke Golgota dan dipaku di atas kayu salib. Dia masih mengatakan kepada Ibunya dan Yohanes. Ini anakmu dan Ini ibumu. Yesus masih memperhatikan Maria. Yesus di dalam sengsara fisik masih memperhatikan kebutuhan fisik ibunya. Yesus yang ada di dalam sengsara rohani karena di tinggalkan Allah tetapi masih memperhatikan kebutuhan rohani orang-orang. Dua perkataan salib yang ada adalah “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Yang berikutnya Yesus masih menginjili satu orang disebelahnya yaitu “Hari ini engkau bersama-sama dengan Aku di firdaus.”. Ini sikap Yesus dan karakter Yesus yang agung. Dia memperhatikan kebutuhan jasmani dan rohani dari manusia berdosa.
Kembali kepada peristiwa makan malam itu.
Yesus membasuh kaki murid-muridNya. Dia melayani mereka. Dan Dia menunjukkan kasihnya kepada mereka.
Kemudian dia makan malam bersama dan murid-murid sedang bertanya bukan aku ya Tuhan ? Murid-murid sedih dan mereka mengintropeksi diri. Mereka bertanya bukan aku ya Tuhan ?
Tetapi ada satu murid yang munafik yang berbeda dengan semua murid yang lainnya. Murid itu berbeda bertanya bukan aku ya Tuhan tetapi bukan aku ya Rabbi ? Murid itu adalah Yudas yang akan menghianati Yesus.
Kemudian setelah Yesus membongkar isi hati Yudas di bagian yang lain dicatat bahwa Yudas dimasuki setan. Dan Yesus mengatakan apa yang kamu akan lakukan, lakukan secepatnya.
Setelah Yudas pergi barulah Yesus mengadakan Perjamuan Kudus dengan murid-muridNya. Yudas tidak ikut sebab dia pergi dan menghianati Yesus. Orang yang berbagian di dalam Perjamuan Kudus adalah orang yang sudah dipilih oleh Tuhan. Yudas tidak berbagian di dalam Perjamuan Kudus. Sungguh menyedihkan dan mengenaskan.
Yesus dan murid-muridNya merayakan paskah. Tetapi ada perbedaan dengan perayaan paskah PL pada umumnya. Mereka tidak menyediakan domba dan tanaman pahit seperti di dalam perayaan Perjanjian Lama. Tetapi ada satu pengertian teologis yang lebih dalam yaitu Yesus mengubah paskah perjanjian Lama menjadi perjamuan kudus.
Walaupun yang Yesus katakan dan lakukan selama perjamuan terakhir ini menyuarakan Paskah Perjanjian Lama tetapi Yesus memberikan makna baru. Yesus mengubah Paskah Perjanjian Lama menjadi Perjamuan Kudus. Ini luar biasa dan ini menunjukkan satu kesatuan penebusan dan wahyu Allah dari PL sampai PB. Ini menjelaskan kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Baru. Ini menunjukkan arti sesungguhnya dari Paskah yaitu menunjuk kepada Yesus Kristus.
Karena Yesus mengubah Paskah menjadi perjamuan kudus maka kita sebagai muridnya tidak merayakan paskah perjanjian lama dan memotong korban dsb. Sebab Yesus memberikan makna baru kepada Paskah PL di dalam Perjamuan Kudus. Di dalam Perjamuan kudus, domba dan tanaman pahit tidak ada lagi. Tetapi sebagai gantinya adalah roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah Yesus.
Di dalam Perjanjian Baru, Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus Kristus sebagai anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Paulus merujuk Yesus sebagai domba paskah kita.

Tubuh Yesus Kristus
Ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahnya lalu memberikannya kepada murid-muridNya.
Ambillah, makanlah, inilah tubuhku. Tuhan Yesus melambangkan roti dengan tubuhnya sendiri. Memakan tubuh Kristus dan darahNya adalah berbagian secara rohani di dalam Kristus.
Yesus mengatakan bahwa “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga : Barang siapa yang makan daripadanya, ia tidak akan mati.”
Peristiwa manna bangsa Israel adalah mengajarkan mereka bahwa hidup jasmani mereka bergantung kepada Allah Yahweh. Tetapi Yesus mengajarkan bahwa kehidupan rohani bergantung pada diriNya. Dia mengatakan “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” Pelajaran makan tubuh dan darah Kristus disini adalah persatuan rohani dengan Kristus. Kita makan dari tubuhnya dan darahnya secara rohani untuk hidup. Hidup rohani kita bergantung kepada Kristus.
Tubuh Yesus yang dipecahkan. Ini berarti Yesus mengalami penganiyaan oleh orang-orang Romawi sampai mati di kayu salib. Tubuh dia diremukkan oleh manusia dan juga oleh Allah.

Darah Perjanjian
Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”
Kematian Kristus yang dilambangkan dengan darahnya sungguh-sungguh membangun relasi Allah dengan umatNya dengan menghapuskan dosa mereka. Dikatakan bahwa darah dari perjanjian, di dalam Luk 22 adalah darah dari perjanjian baru. Untuk mengerti makna dari darah perjanjian, kita harus mengerti apa makna dari perjanjian. ( covenant )
Perjanjian adalah kesepakatan antara dua pihak atau sebuah kontrak. Di dalam PL, Allah mengadakan perjanjian dengan umatNya. Dan yang menaati perjanjian ini akan diberkati dan yang melanggarnya akan dikutuk. Yang melanggar perjanjian akan mati. Di dalam Perjanjian Baru, Kristus mati karena kutuk perjanjian. Kristus mati bagi kita. Darahnya tercurah bagi kita untuk pengampunan dosa.

Kemudian Yesus mengadakan Perjamuan Kudus. Dan kitapun akan merayakan perjamuan kudus pada hari ini. Apa arti perjamuan kudus bagi kita ?

Marilah kita refleksi apa arti perjamuan Kudus bagi kita murid-muridNya ?
a. Peringatan kematian Kristus
Ketika kita berpartisipasi di dalam Perjamuan Kudus, kita menyimbolkan kematian Kristus, karena tindakan kita memberikan sebuah gambaran kematianNya bagi kita. Ketika roti dipecahkan itu menyimbolkan tubuh Kristus yang dipecahkan dan ketika cawan tercurah itu melambangkan pencurahan darah Kristus untuk kita. Ini kenapa ketika berpartisipasi di dalam perjamuan Kudus ada berita “ Sebab setiap kali kamu makan roti dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” ( 1 Kor 11:26 )

b. Partisipasi kita di dalam hasil perolehan dari kematian Kristus
Yesus memerintahkan murid-muridNya “Ambillah!, makanlah, inilah tubuhKu”( Mat 26:26 ). Ketika kita secara individu mengambil cawan untuk diri kita maka dengan tindakan ini kita memproklamasikan “saya mengambil hasil perolehan dari kematian Kristus untuk diriku”. Ketika kita melakukan ini, kita sedang memberikan sebuah simbol kenyataan bahwa kita berpartisipasi atau berbagian di dalam hasil perolehan bagi kita yaitu keselamatan dengan kematian Kristus

c. Memberikan makanan rohani
Seperti makanan biasa memberi makan tubuh fisik kita maka roti dan anggur dari Perjamuan kudus memberikan makan rohani kepada kita. Tetapi mereka juga menggambarkan kenyataan bahwa ada pemberian makan rohani dan penyegaran yang Kristus berikan kepada jiwa kita.
Pemberian makanan rohani sangat diperlukan untuk jiwa kita, disimbolkan dan dialami dengan partisipasi kita di dalam Perjamuan Kudus.



d. Persatuan orang percaya
Ketika orang percaya berbagian di dalam Perjamuan Kudus bersama-sama, ini memberikan tanda jelas persatuan satu dengan yang lain. Paulus mengatakan “Karena roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapatkan bagian dalam roti yang satu itu” ( 1 Kor 10:17 )

e. Kristus menyatakan kasihNya kepada kita
Fakta bahwa saya boleh berbagian di dalam perjamuan Kudus, sesungguhnya Yesus mengundang saya untuk datang kepadanya. Ini sebuah peringatan dan jaminan ulang secara visual bahwa Kristus mengasihi saya secara pribadi. Ketika saya berbagian di dalam perjamuan kudus saya menemukan jaminan kembali kasih Kristus buat saya.

f. Kristus menyatakan bahwa semua berkat keselamatan disediakan untuk saya.
Ketika saya dapat datang kepada undangan perjamuan kudus, fakta bahwa Dia mengundang saya ke hadiratNya meyakinkan saya bahwa Dia mempunyai berkat berlimpah bagi saya. Di dalam perjamuan ini saya makan dan minum di dalam mencicipi undangan meja Raja. Saya datang ke meja sebagai anggota dari keluarga kekal. Ketika Tuhan mengundang saya ke pesta ini, Dia meyakinkan saya bahwa Dia akan menyambut saya kepada semua berkat dari langit bumi dan terutama kepada perjamuan nikah dari domba yang sudah dipersiapkan untuk saya.
Ada perjamuan masa depan ketika umat Allah merayakan dengan juru selamat mereka sebuah kemenangan domba yang dikorbankan supaya dosa dihapuskan.

g. Saya menyatakan iman saya kepada Kristus.
Di dalam mengambil roti dan cawan untuk diri kita dan dengan tindakan kita, kita memproklamasikan bahwa saya memerlukan dan percaya kepata Tuhan Yesus, untuk mengampuni dosa dan memberikan hidup dan kesehatan kepada jiwa. Hanya dengan tubuhmu yang pecah dan darahmu yang tercurah maka saya diselamatkan. Di dalam kenyataan, ketika saya berbagian di dalam memecahkan roti ketika saya memakan itu dan menuangkan cawan ketika saya meminumnya, saya menyatakan lagi-lagi bahwa dosaku lah yang mengakibatkan penderitaan Kristus dan kematianNya. Dengan cara ini, kesedihan, sukacita, ucapan syukur dan cinta yang dalam untuk Kristus adalah secara limpah bergabung di dalam keindahan Perjamuan Kudus.

Renungan penutup

Yesus menyanyi lagu hymne menuju Getsemani. Pernahkah mendengar ayat Yesus menyanyi ?
Dalam perayaan itu, Yesus dan murid-muridnya menyanyi satu atau beberapa Mazmur Pujian (Mazmur 111-118). Dia mengakhiri perjamuan itu dengan menyanyikan nyanyian rohani dan kemudian mereka keluar menuju ke Bukit Zaitun. Di sanalah Yesus dikhianati oleh Yudas. Pada keesokan harinya Yesus disalibkan.
Lagu “hari ini hari ini harinya Tuhan, mari kita bersukaria” sering dinyanyikan oleh kita di gereja apalagi di sekolah minggu. Tetapi sadarkah maknanya sudah jauh menyeleweng dari konteks Alkitab ? Bukankah kita seringkali melihat dan mencomot ayat mazmur 118 ini dan mengartikan bahwa “Hari minggu adalah harinya Tuhan” bahkan juga lagunya diperluas “Hari senin, hari selasa, harinya Tuhan”, dsb. Tetapi apakah begitu maknanya dari ayat Mazmur 118 itu ?
Kalau kita lihat Mazmur 113-118 adalah lagu yang dinyanyikan pada waktu paskah orang Israel. Lagu ini kemungkinan yang berada di dalam benak Tuhan kita ketika Ia merayakan paskah bersama murid-muridNya dan mengubahnya menjadi perjamuan kudus. Mazmur ini adalah mengenai penderitaan dan kemuliaan dari Mesias. Yesus mengutip ayat 22-23 mengenai dirinya sendiri yaitu :”Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita”. Setelah ayat 22-23 masuklah kepada ayat 24 dimana ayat di dalam lagu yang sering kita nyanyikan :
“Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya” ( Maz 118:24 )
Mazmur 118 adalah sebuah Mazmur yang favorit bagi penulis perjanjian baru. Banyak injil mengutip mazmur ini yang dimana Yesus sedang disambut oleh banyak orang ketika ia masuk ke Yerusalem naik keledai. “Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan” ( Maz 118:26 ). Mazmur 118 sendiri adalah mazmur yang mengekspresikan ucapan syukur terhadap hidup dan kemenangan.
Tetapi marilah kita refleksikan mazmur ini ketika mazmur ini sedang dinyanyikan oleh Tuhan Yesus sewaktu menuju Getsemani. Dan tiba pada ayat 24 “Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya”. Melalui kemenanganNya Allah membuat hari ini menjadi hari yang hidup. Tetapi ingatlah bahwa kemenangan yang Mesias laksanakan adalah melalui kematianNya di kayu salib. Maka ketika Yesus menyanyikan lagu ini dengan murid-muridNya. Inilah hari keselamatan itu. The day of salvation. Yesus tahu ketika dia menyanyikan lagu ini bahwa Dia akan menderita dan mati di kayu salib. Hari keselamatan ini adalah hari ketika domba paskah akan disembelih. Hari keselamatan ini adalah ketika domba paskah mati menggantikan demi keselamatan umat Israel.
Maka seharusnya lagu ini adalah lagu yang penuh sukacita karena melukiskan kemenangan Allah tetapi juga lagu yang dimengerti dalam konteks menuju Getsemani adalah lagu yang mengharukan. Mengapa ? Karena Tuhan Yesus merayakan kemenangan Allah dan bersukacita tetapi sementara dirinya sedang menuju getsemani dan golgota. Dia seperti domba yang dibawa ke pembantaian. Yang tidak bersuara.

Jeffrey Lim
Guang Zhou, Jumat Agung 6 April 2007


No comments:

LIMPINGEN BLOG