Tuesday, April 10, 2007

Kehidupan Petrus

Kehidupan Petrus
Jeffrey Lim

Kehidupan mengikuti Yesus itu ada banyak dinamikanya. Kehidupan mengikuti Yesus itu ada harga salib yang harus dibayar. Kehidupan mengikuti Yesus ada suka dukanya. Tetapi mengikut Yesus itu sangat berharga. Ini merupakan panggilan yang sangat mulia untuk mengikut Tuhan dan menjadi muridNya.

Renungan hari ini hendak membawa kita merenungkan satu tokoh yang mengikut Yesus. Harapan dari renungan ini kita bisa belajar dari karakter tokoh ini, cerita hidupnya dan juga bagaimana tokoh ini bergumul hidup sebagai murid Kristus. Harapan dari renungan ini adalah supaya kita bisa mempelajari hidupnya dan mengikuti teladannya yang baik dan menjauhi teladannya yang salah. Tokoh ini adalah salah satu murid Yesus terdekat. Tokoh ini adalah Simon Petrus.
Pertemuan Simon dengan Yesus adalah sangat mengesankan. Ketika Yesus sedang menyusuri danau Galilea, dilihatnya Simon Petrus dan adiknya Andreas sedang menjala ikan. Hidup Simon Petrus mungkin biasa-biasa saja. Dia hanya seorang nelayan. Kehidupannya mungkin hanya seorang biasa saja yang tidak bisa berbuat banyak bagi kehidupan manusia. Tetapi Simon Petrus bertemu dengan Yesus Kristus yang merubah hidupnya. Di dalam Matius 4:18 dikatakan bahwa Yesus memanggil Simon Petrus dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Ini panggilan ilahi. Panggilan yang mulia. Yang merubah hidup seseorang dari seorang yang biasa dan berdosa menjadi murid Tuhan dan dipakai untuk kerajaanNya. Tugasnya yang hanya menangkap ikan untuk sekedar mengisi perutnya sekarang tugasnya adalah membawa manusia kepada Kristus dan memberi mereka makan rohani. Sebab manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Simon Petrus akhirnya hidupnya ada satu perubahan arah setelah mengikuti panggilan Yesus yag berotoritas.
Di dalam kitab Lukas, pertemuan Yesus dengan Simon Petrus lebih dramatis lagi. Yesus menaik perahu dan memintanya untuk pergi sedikit lebih jauh daripada pantai. Kemudian Yesus memerintahkan Simon Petrus untuk menjala ikan. Tetapi Simon Petrus berkata bahwa “Tuan, kita sudah bekerja sepanjang malam dan belum menangkap apapun tetapi karena Engkau mengatakannya maka saya akan melakukannya.”. Tiba-tiba ikan yang ditangkapnya adalah sangat banyak sekali. Bahkan sampai memenuhi perahu. Ini adalah mujizat bahwa Yesus sanggup berkuasa atas alam. Ketika itu kesadaran rohani Simon Petrus terbangun. Dia sadar bahwa dirinya orang berdosa. Dia sadar dirinya tidak layak ketika bertemu dengan TUhan yang kudus. Ini adalah pertemuan Simon Petrus dengan Yesus. Tetapi pertemuan ini mengubah hidup Simon Petrus dan dia dijadikan penjala manusia. Bahkan Di dalam kitab Yohanes dikatakan bahwa Simon akan disebut Cephas yang berarti batu karang.
Sampai disini marilah kita merenung. Pertemuan kita dengan Yesus berbeda dengan Simon Petrus. Tetapi ada kesamaannya. Kita bertemu dengan Yesus setelah kita menyadari bahwa kita orang berdosa. Kita orang yang tidak layak. Kita orang yang najis. Tetapi Tuhan dengan anugerahNya memanggil kita untuk menjadi muridNya. Tuhan memanggil kita untuk melaksanakan misi kerajaan Allah. Yaitu untuk membawa orang kepada Tuhan. Ini adalah panggilan yang mulia. Tetapi marilah kita melihat perjalanan hidup kita sebagai orang yang bertemu dengan Yesus ke depan. Marilah kita merefleksikan dari hidup Petrus yang mengikut Kristus dan belajar dari pengalamannya.
Kalau kita mempelajari hidup Petrus. Dia adalah seorang yang berkarakter Sanguine. Dia adalah orang yang cepat bertindak, gesit, berjiwa mau didepan, dan juga cepat berbicara tanpa berpikir. Memang pembagian karakter Sanguine, Kolerik, Melankolik dan Plegmatik itu tidak mutlak. Tetapi kita bisa belajar sesuatu dari pembagian ini untuk mengenal diri orang lain dan diri kita pribadi tanpa harus terkotakkan dan terfragmen dengan polanya.
Petrus adalah seorang yang cepat bertindak dan bersemangat. Dia juga adalah murid Yesus yang unik karena salah satu murid lingkaran terdekat. Murid-murid lingkaran terdekat adalah Petrus kemudian Yohanes dan Yakobus. Ini adalah murid-murid yang spesial karena lebih dekat dengan Yesus daripada murid-murid lainnya. Kemudian Petrus juga seorang yang paling cepat berbicara ketika Yesus menanyakan siapakah Dia ? Maka Petrus diantara murid-murid yang menjawab dengan cepat dan juga tepat “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Ini adalah jawaban yang benar dan tepat. Yesus sendiri memujinya dan mengatakan bahwa Bapa yang menyatakannya. Kemudian setelah itu Yesus mulai menjelaskan bahwa dirinya akan menderita sengsara bahkan mati di kayu salib. Pada saat itu Petrus langsung dengan cepat menegur Yesus, Kiranya hal itu dijauhkan daripada Yesus. Tetapi Yesus berkata “Enyahlah engkau iblis, karena engkau memikirkan apa yang dipikirkan manusia bukan apa yang dipikirkan Allah”.
Koq Petrus yang barusan menjawab dengan benar mengenai Yesus, sekarang mempunyai pengertian yang salah bahkan satanic. Karena Petrus ingin menghalangi Yesus ke kayu salib. Petrus berpikirkan bahwa Mesias adalah raja yang akan meraja di bumi. Dan dia mungkin berpikir kalau dia sekarang dekat dengan Yesus maka kalau Yesus jadi raja maka dia akan jadi orang penting. Dia memikirkan pikiran duniawi. Karena itu Yesus menegurnya.
Seringkali kita mengikut Yesus, kita memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia dan bukan yang dipikirkan Allah. Kalau kita mengikuti pikiran kita dan tidak sesuai dengan kehendak Allah maka sebenarnya kita sedang bukan mengikut Kristus. Kita harus berpusat pada kerajaan Allah di dalam mengikut Yesus.
Petrus terus mengikuti Yesus selama 3 ½ tahun. Di perjamuan malam ketika Yesus mengatakan bahwa semua orang akan meninggalkan Dia. Tetapi Petrus mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkan Yesus. Dia bersemangat dan ingin tetap terus setia pada Yesus. Tekadnya membara-bara tetapi tidak stabil ketika masalah datang. Yesus sudah memperingatinya bahwa dia akan menyangkalnya bahkan sampai 3x. Tetapi Petrus tetap bersikeras pada pendiriannya bahwa dia akan tetap setia. Namun dia tidak mau hati-hati terhadap peringatan Yesus. Petrus memang seorang yang ceroboh.
Akhirnya ketika Yesus ditangkap di Getsemani, Petrus mau menunjukkan kesetiaannya dengan memotong telinga Malkus. Namun Petrus ternyata mulai ketakutan dan melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Dia pengecut. Kemudian ketika dia mengikuti Yesus yang sedang diadili. Dia ditanyakan identitasnya sebagai murid Yesus dan dia menyangkal 3x. Kemudian ayam berkokok dan Alkitab mengatakan Yesus melihatnya dengan kasih. Seakan-akan Yesus memaklumi pelanggaran Petrus. Aku sudah bilang Petrus ! Kamu harus berjaga-jaga ! Tetapi pandangan Yesus penuh dengan kasih dan pengampunan. Maka Petrus pergi keluar dengan menangis sejadi-jadinya.
Dari sini kita belajar bahwa kesetiaan mengikut Yesus itu tidak mudah. Bukan hanya dikatakan di mulut tetapi ketika bencana datang, kita harus tetap berpegang teguh setia mengikut Yesus. Jangan membara-bara tetapi tidak stabil. Lebih baik stabil dan tidak terlalu berapi-api. Yang penting adalah kestabilan. Bukan hanya memulai tetapi panas-panas tahi ayam. Pelajaran lain adalah kita harus mendengar perkataan Tuhan mengenai diri kita dan merendahkan diri dikoreksi oleh Tuhan. Jangan sombong dan mengandalkan kekuatan sendiri. Sebab bila mengandalkan kekuatan sendiri pasti jatuh.
Akhirnya Yesus mati di kayu salib. Dan Petrus bersama-sama murid-murid yang lain bersembunyi karena takut. Mereka sedih akan kematian Kristus. Mereka kecewa akan pengharapan di dalam diri Yesus menjadi sirna.
Yesus akhirnya bangkit dan kuburnya kosong. Petrus adalah orang yang cepat datang mengunjungi kubur Yesus yang kosong namun masih tidak mengerti hal ini. Tetapi Yesus menyatakan dirinya kepada murid-muridNya. Dia menampakkan diri kepada mereka. Dan mereka sudah sadar bahwa Tuhan sungguh bangkit. Bahkan Tomas pun mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah setelah melihat bekas luka Yesus. Kemudian semua yang sukacita dicampur haru akan guru mereka. Mereka semua sukacita tetapi juga merasa sedih bahwa dulu mereka pernah meninggalkan Yesus.
Di dalam kehidupan kita pun ada saatnya kita pernah meninggalkan Tuhan dan kita tidak setia mengikutinya. Kita mungkin pernah seperti Petrus yang meninggalkan Tuhan kita dan tidak setia kepadaNya. Tetapi Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh dengan belas kasihan dan rahmat. Tuhan Yesus adalah penuh anugerah dan kasih karunia. Dia mau memaafkan pelanggaran kita.

Renungan penutup

Di dalam Yoh bagian terakhir dicatat kisah yang mengharukan mengenai Petrus. Petrus sudah kembali kepada profesinya menjadi penjala ikan. Dia sudah sedih mengenai hidupnya dan kembali ke masa lalunya. Lalu Yesus menampakkan diri kembali kepada murid-muridnya. Tetapi mereka tidak menyadarinya. Yesus bertanya apakah mereka ada ikan ? Mereka menjawab tidak ada. Yesus menyuruh mereka menebarkan jala. Ingat peristiwa masa lalu ketika Yesus memerintahkan hal ini kepada Petrus. Maka jala pun berisi ikan penuh. Akhirnya mereka sadar itu adalah Tuhan . Kemudian mereka makan bersama dan Tuhan kembali memulihkan Petrus saat ini. Dia mengajarkan pelajaran berharga untuk mengikuti dia dan mengasihinya. Yesus bertanya kepada Petrus : Kali ini Yesus menanyakan menggunakan nama Simon bukan Petrus. Ini untuk menunjukkan bahwa dia adalah simon sebelum Yesus memberi nama Petrus. Ini adalah masa lalunya. Yesus mau mengingatkan dia akan masa lalunya. Kemudian Yesus bertanya : “Simon apakah engkau mengasihi aku lebih daripada semua ini ?
Lebih dari semua ini bisa berarti lebih daripada murid-muridNya yang lain atau juga bisa lebih daripada jala dan ikan yang berarti kekayaan dunia. Petrus menjawab bahwa Engkau tahu bahwa aku mengasihimu. Maka Yesus berkata “Beri makan domba-domab ku”. Kemudian Yesus menanya lagi “Simon apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi aku ?”. Kali ini adalah ada kata sungguh-sungguh. Petrus mengatakan “Ya Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi engkau”. Yesus berkata :”Peliharalah kawanan ternakku”. Ketiga kali Yesus menanyakan “Simon anak Yohanes apakah engkau mengasihi aku ?”. Kali ini Petrus sedih karena Yesus menanyakan dia ketika kali. Ini mengingatkan dia bahwa dia sudah menyangkal Yesus tiga kali. Kali ini Yesus menanyakannya tiga kali. Dia sadar bahwa dulu dia tidak mengasihi Yesus. Tetapi dengan suara hati dan kesedihan dia berkata “Tuhan engkau mengetahui segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihimu”. Dalam hal ini Petrus jujur mengakui semuanya dan rendah hati di hadapan Yesus. Dia mengakui bahwa Yesus lebih tahu semuanya. Dia sadar dan bergantung kepada Tuhan. Dia tidak lagi mengandalkan diri sendiri. Kemudian Yesus berkata “Beri makan domba-dombaku”.
Yesus memberi tahu kehidupan Petrus bahwa sewaktu muda dia berpakaian dan pergi ke tempat yang dia mau tetapi waktu tuanya dia akan diseret ke tempat yang dia tidak ingin.
Yesus kembali memulihkan Petrus. Benarkah dia sungguh-sungguh mengasihi Tuhan ? Yesus juga kembali ingin memulihkan kita kalau pernah jauh dari Tuhan. Yesus juga ingin mengajarkan kepada kita benarkah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan ? Jangan sombong dan berkata ya terlebih dahulu. Nanti kita seperti Petrus. Tetapi baiklah kita berkata “Tuhan engkau mengetahui segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihimu”. Maka Yesus memberi kita perintah. Kalau kamu benar-benar mengasihi aku maka beri makan domba-dombaku, pelihara mereka, gembalakan mereka.
Benarkah saudara-saudara mengasihi Tuhan? Bagaimana saudara ketika melihat orang yang jauh dari Tuhan. Mereka letih lesu seperti domba yang tidak bergembala. Bagaimana saudara melihat orang yang berdosa. Mereka sesat seperti domba yang mengambil jalannya sendiri. Maukah saudara mengasihi Tuhan dengan melayani sesama kita ?
Sebelum kita menutup renungan ini. Marilah kita saksikan hidup Petrus selanjutnya. Setelah dipulihkan oleh Yesus. Petrus kembali melayani Tuhan. Ketika pada hari Pentakosta maka Petrus berkotbah dan 3000 orang bertobat. Petrus kembali dengan temperamennya yang Sanguine tetapi yang diubahkan oleh Roh Kudus. Dia tetap dengan karakter dia tetapi yang diubahkan. Dia terus menginjili. Dan sejarah mencatat dia mati disalib terbalik. Perkataan Tuhan Yesus kembali terjadi kepada dirinya. Tetapi dia sudah melakukan perbuatan baik yang Tuhan sudah tetapkan di dalam dirinya. Simon Petrus akhirnya menjadi seorang pengikut Kristus sampai mati.
Kalau kita mengingat Simon Petrus. Maukah kita dipakai oleh Tuhan dan melayaninya dengan setia sampai mati. Marilah kita berespon dan berdoa kepada Tuhan.

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Guang Zhou, 9 April 2007
Renungan di Zhong Da setelah Paskah




No comments:

LIMPINGEN BLOG