Thursday, April 05, 2007

Hamba Tuhan yang menderita dan dimuliakan

Hamba Tuhan yang menderita dan dimuliakan
Renungan dari Yesaya 52:13-53:12

Kitab Yesaya dibagi menjadi 2 bagian yaitu Yesaya 1-39 dan 40-66. Yesaya 1-39 lebih banyak berisi mengenai penghukuman tetapi Yesaya 40-66 berisi berita penghiburan. Dibuka dengan Yesaya 40 dengan kalimat hiburkanlah, hiburkanlah. Di dalam Yesaya ini ada 4 servants songs. 4 Servant songs ini adalah nyanyian hamba. Hamba Tuhan ini unik dan akan melaksanakan misinya di dalam konteks penghiburan bagi umat berdosa dan yang kita hendak bahas adalah servants songs yang terakhir.


Hamba Tuhan yang akan kita bahas adalah hamba Tuhan yang menderita. Hamba Tuhan ini berbeda dengan Israel yang tidak setia. Hamba ini adalah hamba yang setia. Ternyata hamba Tuhan ini adalah hamba Tuhan yang menderita.
Tetapi hamba ini adalah hamba yang akan berhasil ( act wisely ). Di dalam istilah Ibrani, hamba ini akan berhasil dan dihadiahi karena memiliki pengertian dan melakukan kehendak Allah. Permulaan dari servant songs ini adalah positif bahwa hamba Tuhan akan berhasil dan juga akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan ( will be raised, and lifted up and highly exalted ) . Di dalam bahasa Ibraninya adalah merupakan peristiwa peninggian hamba tersebut yaitu : kebangkitan, kenaikan dan pemuliaan. Dibangkitkan berarti bangkit dari mati. Ini Hamba Tuhan yang bangkit akan naik dan dimuliakan. Hamba Tuhan ini adalah figur yang dimuliakan.
Tetapi sebelum peristiwa pemuliaan ini ada tragedy bahwa hamba Tuhan ini mengalami penderitaan yang sangat berat. Dikatakan banyak orang akan tertegun melihat dia, begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi dan tampaknya bukan seperti anak manusia. Penderitaan dari hamba Tuhan ini membuatnya tidak dikenali sebagai manusia. Penderitaan macam apa yang begitu berat sampai tidak dikenali sebagai manusia ?
Hamba ini akan mebuat tercengang banyak bangsa. Raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia. Ini adalah tanda kagum. Karena apa yang tidak diceritakan kepada mereka yaitu yang akan kita lihat di dalam Yes 53 akan mereka lihat dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. Mereka memahami hikmat Allah melalui hamba Tuhan yang akan membenarkan banyak orang ini.
Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar ? Jawabannya sedikit pasti ! Kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan ? Pertanyaan retorik ini mengharapkan jawaban negatif. Walaupun banyak bangsa akan percaya, kebanyakan tidak. Kami disini adalah referensi kepada orang pilihan Israel.
Sebagai taruk hamba Tuhan tumbuh dihadapan Tuhan. Taruk keluar dari tanaman atau akar dari tumbuhan utama. Yesaya mengatakan bahwa hamba Tuhan ini akan keluar dari tunas Isai. Isai adalah bapanya Daud. Metafora ini mengindikasikan bahwa hamba akan keluar dari Israel dan akan lahir dari kerendahan hati.
Sebagai tunas dari tanah kering. Ini berarti tidak menjanjikan. Dia juga tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak sehingga kita menginginkannya. Di dalam pengertian manusia, hamba ini bukan figur yang mengesankan. Dia hanyalah seorang manusia biasa yang tidak mengesankan bahkan datang dengan kerendahan. Dia bukan seorang yang high profile tetapi low profile.
Hamba Tuhan ini dihina dan dihindari orang. Hamba Tuhan ditolak oleh manusia. Dia seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Hamba Tuhan mengalami kesakitan dan penderitaan dari manusia. Dia sangat dihina sehingga orang menutup mukanya. Dia dibenci banyak orang. Padahal dia berbuat baik. Menyembuhkan orang banyak. Mengajarkan mengenai kasih. Tetapi dibenci orang. Bagaimana rasanya kalau dibenci banyak orang ?
Tetapi Alkitab mengatakan bahwa sesungguhnya hamba Tuhan ini menanggung kelemahan kita dan kesengsaraan kita. Hamba Tuhan menderita dihukum untuk dosa kita dan menghilangkan konsekuensi dosa dari kita.
Orang mengira hamba Tuhan ini dikutuk Tuhan dan kena tulah. Karena ada tertulis terkutuklah orang yang tergantung di kayu salib. Dikayu salib adalah ditolak oleh Allah dan manusia. Dikayu salib berarti dikutuk. Namun Hamba Tuhan mati untuk dosa orang lain bukan karena dosanya. Hamba Tuhan ini ditikam oleh karena pemberontakan kita umat manusia kepada Allah. Dia yang kena penghukuman karena kita. Dia diremukkan oleh karena kesalahan kita. Dia menderita karena dosa orang pilihan.
Untuk siapakah Dia mati ? Untuk kita yang seperti domba sesat yang mengambil jalannya sendiri. Kita semua seperti domba yang mengambil jalan sendiri. Domba itu punya kebiasaan tidak bisa menentukan arah. Ini melukiskan umat manusia yang sesat. Tetapi Yahweh sudah menimpakan kepadanya kesalahan dan kejahatan kita semua.
Hamba Tuhan ini dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian, seperti induk domba yang kelu didepan orang-orang yang menggunting mulutnya, ia tidak membuka mulutnya. Ada beberapa pelajaran disini. Hamba Tuhan tidak membuka mulut dan Dia berdiam ketika menderita. Dia menahan sakit. Hamba Tuhan juga adalah domba Allah yang dikorbankan untuk pengampunan dosa. Dia taat dan taat dengan berdiam diri menanggun penderitaan. Ketaatan pasif menderita dan menerima penderitaan dan ketaatan aktif menjalankan hukum Allah.
Dengan penghukuman maka hamba Tuhan ini mati. Dia terputus dari negeri orang-orang hidup dan Alkitab mencatat karena pemberontakan umat Tuhan yaitu kita maka hamba Tuhan ini menderita kena tulah.
Walaupun hamba Tuhan ini baik dan orang yang saleh tetapi dia mati dan disangka seorang kriminal. Dia bahkan mati diantara para penjahat. Padahal Dia tidak salah dan tipu tidak ada dalam mulutnya.
Yahweh berkehendak untuk meremukkan hamba Tuhan ini dengan kesakitan dan Yahweh menjadikan Dia kotban penebus salah. Korban penebus salah adalah untuk membuat pengembalian untuk kerusakan yang dilakukan melawan Tuhan.
Tetapi hamba Tuhan ini akan melihat keturunannya umurnya akan lanjut. Berarti Hamba Tuhan ini akan hidup kembali. Mengapa kalau Dia sudah mati bisa melihat ? Berarti Dia hidup. Hamba Tuhan ini tidak punya keturunan jasmani. Tetapi keturunannya ini adalah keturunanya secara rohani yang dilahirkan dari kematian hamba Tuhan ini. Dan hamba Tuhan ini melaksakan kehendak Yahweh.
Sesudah penderitaan jiwanya maka hamba Tuhan ini akan melihat terang hidup. Dia akan bangkit dan hamba Tuhan ini akan puas. Dan hamba Tuhan ini sebagai orang benar akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya. Kita orang berdosa adalah orang yang bersalah dihadapan Allah. Kita tidak melaksanakan hukum Allah. Kita seharusnya dihukum Allah. Tetapi hamba Tuhan ini mati bagi kita dan oleh karena hamba Tuhan ini benar maka Dia membenarkan kita. Kita tidak lagi berdosa dihadapan Allah melainkan benar dihadapan Allah. Semua ini karena karya hamba Tuhan ini. Hamba Tuhan ini memikul kejahatan kita dan membenarkan kita.
Sesudah itu Yahweh akan memberikan hamba Tuhan ini orang-orang besar sebagai rampasan dan hamba Tuhan ini akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan. Sebagai seorang Raja besar, Yahweh membagi hasil kemenangan dari hambaNya. Hamba Tuhan ini akan menang dan dikontraskan dengan kerendahan hatinya di dalam kematian.
Semua rampasan ini diberikan sebagai ganti karena hamba Tuhan ini telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung diantara pemberontak-pemberontak.
Satu hal yang indah bahwa hamba Tuhan ini menanggung dosa orang banyak dan berdosa untuk para pemberontak-pemberontak. Di kayu salib, Hamba Tuhan ini pernah berdoa “Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.
Hamba Tuhan ini adalah Yesus Kristus. Hamba Tuhan ini adalah hamba Tuhan yang menderita. Penderitaan Dia terbesar dilukiskan di dalam kalimat “Allahku Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku ?” ( Lihat Maz 22 )
Mari kita renungkan kalimat ini
Kristus bergumul dengan masalah ditinggalkan oleh Allah Bapa. Perasaan kesendirian muncul di dalam diri-Nya. Tidak ada yang menemaninya, termasuk Allah Bapa. Bapa pun sampai meninggalkan-Nya sendirian di kayu salib. Singkatnya, sangat-sangat kesepian. Timbul satu perasaan kesendirian yang tiada taranya. Biasakah engkau turut merasakannya ? Bagaimana tidak, sepanjang hidup-Nya Yesus menjalankan tugas agung dan mulia? Dia mengajarkan kebenaran dan keadilan. Dia mempraktekkan kebenaran dan keadilan. Tak sekalipun dalam hidup-Nya Dia berbuat yg tak benar dan tak adil. Kini, apa hasilnya? Air susu dibalas air tuba! Yesus harus mati begitu tragis, yakni dengan penyaliban. Tidak adakah cara kematian lain yang lebih wajar dan manusiawi? Dia harus mati dengan terhitung sebagai seorang penjahat besar padahal tak satu kesalahan kecil pun yang pernah diperbuat-Nya. Mengapa Allah Bapa sendiri tidak peduli pada-Nya? Mengapa Bapa meninggalkan-Nya seorang diri?
Jangan lupa pula bahwa seruan itu diteriakan-Nya dengan suara nyaring. Di satu pihak memang penyaliban itu sangat menyakitkan tubuh jasmani-Nya. Terpaku, kehausan, darah sedikit demi sedikit mengalir sebelum akhirnya habis. Akan tetapi, hati batiniah-Nyalah yang lebih sakit, ditinggalkan seorang diri bahkan juga termasuk oleh Allah Bapa. Betapa memilukan hati! Kesendirian yang tiada tara!

Kristus ditinggalkan satu demi satu
Setelah memulai karya-Nya mengajar berkeliling, banyak orang mulai mengikuti-Nya. Kelemahlembutan-Nya menyegarkan jiwa banyak orang yang sedang merana. Penyembuhan penyakit, pengusiran setan, mujizat demi mujizat membuat khalayak ramai berbondong-bondong mengikuti-Nya. Namun, perlahan-lahan satu per satu mulai meninggalkan-Nya.
Manakala Dia mengingatkan banyak orang akan segala resiko mengikuti-Nya maka orang-orang mulai mengundurkan diri. Di taman Getsemani, Dia bergumul seorang diri. Pada saat keringat-Nya mengalir seperti darah, Petrus, Yakobus dan Yohanes, tiga orang yang menemani di Getsemani, tidur terlelap. Justru di saat-saat hati-Nya amat sedih, seperti mau mati rasanya, ketiga murid-Nya tidak mampu berjaga-jaga. Yesus dibiarkan bergumul sendirian.
Sepanjang pelayanan sekitar tiga setengah tahun, Dia disertai dua belas orang murid. Kedua belas orang murid itu selalu mengiringi-Nya ke mana pun Dia pergi. Akan tetapi, salah seorang di antara murid-Nya itu akhirnya mengkhianati-Nya. Yudas begitu tega menjual Yesus dengan harga dua ratus keping uang perak. Seorang guru dikhianati oleh muridnya sendiri. Betapa pedih hati-Nya!
Salah seorang murid-Nya pernah bersumpah setia untuk berbela-Nya sampai mati. Sumpah itu dibuktikan oleh sang murid, yakni Petrus, dengan memotong telinga Malkhus, seorang perwira yang menangkap-Nya. Namun, tidak lama berselang, sang murid menyangkal dan mengutuk bahwa dia tidak pernah mengenal Yesus. Tidak tanggung-tanggung, penyangkalan itu sampai dilontarkan tiga kali. Baru tatkala ayam berkokok, Petrus menyadari dan menyesal atas kepengecutannya. Pil pahit berupa penyangkalan dari Simon Petrus harus ditelan-Nya. Bagaimana mungkin hati-Nya tidak hancur?
Sewaktu memasuki Yerusalem dengan menunggangi keledai, Dia disambut meriah. Banyak orang menghamparkan pakaian mereka di jalan dan melambai-lambaikan daun. Salam kebesaran dipersembahkan pada-Nya: Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Sambutan hangat itu begitu membesarkan hati-Nya. Akan tetapi, hampir dapat dipastikan, sebagian orang itu kemudian berbalik menentang-Nya. Kali ini mereka mengganti sambutan kehormatan itu dengan sumpah serapah. Maka terdengarlah teriakan penghinaan: Salibkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia! Awalnya Dia diterima tapi akhirnya ditolak. Kembali Yesus ditinggalkan seorang diri.
Satu demi satu meninggalkan Yesus. Kesendirian-Nya mencapai titik kulminasi pada saat Dia berseru: «Eli, Eli, lama sabakhtani?” Allah Bapa di Surga pun meninggalkan-Nya. Dan jangan lupa, seruan itu diucapkan dengan suara nyaring. Betapa sepi kesendirian-Nya kala itu! Kesendirian yang tiada tara. Kesendirian itu sudah tak tertahankan. Di kayu salib, menjelang kematian-Nya, Yesus merasakan sunyi…, sepi…, sendiri ….
Hamba Tuhan Yesus Kristus ini mengalami perendahan dan diremukkan tetapi setelah itu diangkat dan menang. Setelah mengalami penderitaan maka hamba TUhan ini dimuliakan. Ini seperti di dalam Filipi 2:6-11
Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama seperti manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati bahkan sampai mati dikayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada dibawah bumi, dan segala lidah mengaku “Yesus Kristus adlaah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa !.

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Guang Zhou, 5 April 2007






No comments:

LIMPINGEN BLOG