Thursday, May 24, 2007

Pelajaran dari hidup Gideon

Pelajaran dari Hidup Gideon
Refleksi dari Hakim-hakim 6-7
Jeffrey Lim

Ada satu hal yang bisa kita pelajari dari hidup Gideon yaitu mengenai mengenal diri. Cerita dari hakim-hakim ini ada konteksnya yaitu
Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya, dan selama itu orang Midian berkuasa atas orang Israel. Karena takutnya kepada orang Midian itu, maka orang Israel membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu. Setiap kali orang Israel selesai menabur, datanglah orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur, lalu maju mendatangi mereka; berkemahlah orang-orang itu di daerah mereka, dan memusnahkan hasil tanah itu sampai ke dekat Gaza, dan tidak meninggalkan bahan makanan apapun di Israel, juga domba, atau lembu atau keledaipun tidak. Sebab orang-orang itu datang maju dengan ternaknya dan kemahnya, dan datangnya itu berbanyak-banyak seperti belalang. Orang-orangnya dan unta-untanya tidak terhitung banyaknya, sekaliannya datang ke negeri itu untuk memusnahkannya, sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu. Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN. Jdg 6:1-6

Kemudian malaikat Tuhan mendatangi seorang bernama Gideon dan berfirman kepadaNya “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani”. Di dalam hal ini Tuhan sendiri mengenal Gideon sebagai seorang pahlawan yang gagah berani. Pengenalan dari Tuhan ini tidak mungkin salah. Tuhan mengenai seseorang seutuhnya dan sedalamnya. Tetapi belum tentu orang yang Tuhan kenal itu mengenal dirinya sendiri.
Dalam hal ini Gideon mengenal dirinya dengan minder tidak seperti apa yang Tuhan kenal. Gideon mengenal dirinya begitu kecil. Ketika Tuhan memerintahkan Gideon untuk pergi berperang melawan orang Midian. Gideon berkata
“Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.” (15)
Gideon tidak mengenal dirinya seperti Allah mengenal dirinya. Sekilas fenomena kita melihat bahwa Gideon seorang yang minder dan juga kurang percaya diri. Bahkan Gideon adalah seorang yang kurang beriman karena dia meminta tanda.
Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku.(17)
Gideon kurang yakin. Dia memerlukan peneguhan.
Cerita terus berlanjut dimana Berfirmanlah Malaikat Allah kepadanya: "Ambillah daging dan roti yang tidak beragi itu, letakkanlah ke atas batu ini, dan curahkan kuahnya." Maka diperbuatnya demikian. Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya. Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat TUHAN, lalu katanya: "Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka." Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati." Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer. Pada malam itu juga TUHAN berfirman kepadanya: "Ambillah seekor lembu jantan kepunyaan ayahmu, yakni lembu jantan yang kedua, berumur tujuh tahun, runtuhkanlah mezbah Baal kepunyaan ayahmu dan tebanglah tiang berhala yang di dekatnya. Kemudian dirikanlah mezbah bagi TUHAN, Allahmu, di atas kubu pertahanan ini dengan disusun baik, lalu ambillah lembu jantan yang kedua dan persembahkanlah korban bakaran dengan kayu tiang berhala yang akan kautebang itu." Jdg 6:20-26
Alkitab kemudian mencatat bahwa Gideon melakukan Firman Tuhan tetapi dikatakan bahwa dia takut terhadap keluarganya dan dia melakukannya pada malam hari. Sebenarnya Alkitab mencatat dia takut. Dia sepertinya kurang beriman. Dia sepertinya memerlukan peneguhan Tuhan. Tetapi ingat bahwa Tuhan sudah berfirman mengenai diri Gideon bahwa dia adalah seorang pahlawan yang gagah berani. Pengenalan Tuhan tidak pernah salah.
Ada satu hal yang membuat Gideon menjadi berani. Dan hal ini sangat penting yaitu Roh Tuhan menguasai Gideon. Dikuasai Roh Tuhan adalah membuat seseorang menjadi berani. Tetapi natur lamanya masih timbul yaitu Gideon kurang yakin akan Firman Tuhan dan meminta tanda lagi sebanyak 2x. Gideon kelihatan seperti kurang beriman.
Dimana pengenalan Tuhan akan diri Gideon itu terlihat lebih jelas ? Tentunya Gideon menjadi seorang yang gagah berani memerlukan proses. Tuhan sudah melihat itu dari jauh. Tuhan sudah melihat bahwa Gideon akan menjadi seorang pahlawan yang gagah berani. Tetapi Dia sedang memproses Gideon.
Alkitab mencatat bahwa ketika Gideon bersama 30.000 rakyat hendak berperang maka Tuhan berkata bahwa jumlah mereka terlalu banyak. Maka diperintahkannya 20.000 untuk pulang dan tinggal 10.000. Ini sebenarnya bisa melatih mental Gideon. Tetapi kemudian Tuhan menguji dari 10.000 orang ini hanya 300 orang yang bisa ikut berperang. Tujuan dari Tuhan memerintahkan hal ini supaya apabila mereka menang mereka tidak meninggikan diri. Tetapi apabila mereka menang mereka sadar bahwa ini adalah karena Tuhan sendiri.
Tetapi bagaimana dengan Gideon ? Apakah dia takut ? Sebenarnya hal ini bisa membuatnya takut ! Hanya dengan 300 orang harus melawan musuh. Alkitab mencatat :
Adapun orang Midian dan orang Amalek dan semua orang dari sebelah timur itu bergelimpangan di lembah itu, seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung, seperti pasir di tepi laut banyaknya. Jdg 7:12
Ini seharusnya membuat Gideon ciut. Tetapi Tuhan memerintahkan Gideon supaya tidak takut. Dan Tuhan membuat Gideon mendengar mimpi dan interpretasi mimpi bahwa Gideon akan menang. Gideon mempercayai hal itu dan dia beriman. Dia maju berperang dan akhirnya menang.
Dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa :
Pengenalan diri harus melalui kacamata Tuhan memandang kita
Tuhan mengenal diri kita dan kita harus mengenal diri melalui kacamata ini
Tuhan memproses kita sesuai dengan apa yang Dia pandang mengenai kita
Tuhan mengajari Gideon untuk berani. Dan akhirnya Gideon menjadi berani sesuai dengan kehendak Tuhan
Tuhan berdaulat akan hidup kita
Tuhan berdaulat atas hidup Gideon dan mengarahkannya. Tuhan juga berdaulat dan mengarahkan hidup kita.


Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Taipei, 24 Mei 2007


No comments:

LIMPINGEN BLOG