Friday, May 25, 2007

Pelajaran dari hidup Gideon (2) : Kegagalan Gideon

Pelajaran dari hidup Gideon (2) : Kegagalan Gideon
Refleksi dari Hakim-hakim 8
Jeffrey Lim

Kita sudah merefleksikan hidup Gideon dimana dia menjadi begitu berani dan dipakai Tuhan Allah untuk melawan musuhnya Midian. Gideon yang kelihatannya penakut menjadi berani setelah bertemu dengan malaikat Allah. Gideon yang kurang percaya diri menjadi begitu percaya diri. Tetapi kalau kita melihat bahwa ada bahaya ketika seseorang yang minder menjadi percaya diri namun kelewatan percaya diri. Akhirnya dia tidak memuliakan Tuhan karena bergantung kepada diri, berpusat pada diri dan hidup untuk diri. Ini yang dialami Gideon.

Bila kita membaca Alkitab, seringkali seseorang yang sudah maju oleh Tuhan musti berhati-hati. Sebab seringkali banyak kegagalan ketika Tuhan sudah berkati seseorang maka seseorang itu lupa diri. Ambil contoh Salomo. Salomo sudah diberkati Tuhan dan diberikan hikmat namun karena dia begitu masyur maka dia mulai hidup untuk dirinya sendiri. Kita kalau sudah diberkati Tuhan dan maju harus jangan lupa diri. Sebab ini adalah kegagalan.
Kembali ke Gideon.
Gideon sekarang begitu antusias untuk mengejar musuhnya. Di dalam hakim-hakim 8. Dia mengejar Zebah dan Zalmuna. Ketika Gideon sampai ke sungai Yordan, Gideon dan 300 tentaranya menyeberang. Mereka lelah tetapi masih mengejar dengan mental yang tinggi untuk membasmi lawan mereka. Gideon sekarang bertindak dengan penuh percaya diri dan kemampuan. Dia mendorong tentaranya yang sudah lelah untuk maju dan menuntut dari kota sukot untuk memberi makanan. Tetapi ketika Gideon meminta roti kepada orang sukot dan pnuel dan mereka tidak memberikannya maka Gideon menaruh dendam dan ingin membalas dendam. Ingin memberikan duri kepada orang sukot dan juga menghancurkan menara pnuel
Sekarang Gideon menjadi seorang yang kejam. Dia menangkap Zebah dan Zalmuna dan hendak membunuhnya. Dia memerintahkan anaknya Yeter untuk membunuh mereka. Tetapi anaknya itu takut. Ini melukiskan dahulu ketika Gideon muda dia adalah seorang yang penakut. Hanya karena Tuhan yang membuat dia menjadi berani. Gideon sudah lupa hal ini.
Di dalam Hakim-hakim 8 ini juga Gideon tidak lagi menghadirkan Tuhan di dalam peperangannya. Sekarang dia mengandalkan dirinya sendiri. Bahkan orang Israel merasakan bahwa Gideon lah yang menyelamatkan mereka, bukan Tuhan Allah. Karena itu bangsa Israel hendak mengangkat dia menjadi pemimpin mereka. Dengan tindakannya Gideon sudah membawa umat Allah memandang bahwa keselamatannya adalah karena Gideon sendiri.
Gideon juga setelah dipakai Tuhan mempunyai agendanya sendiri di dalam menyelesaikan tugasnya. Ternyata visinya adalah balas dendam. Di dalam ayat 19 dikatakan abwha dia membalaskan dendam adik-adiknya. Program keselamatan Allah sudah diselewangkan dengan program balas dendam dari Gideon.
Gideon juga tidak mempedulikan kerohanian bangsanya. Ini adalah kegagalan dia sebagai seorang pemimpin. Dia tidak mampu mengarahkan umat Allah sehingga mereka berpusat kepada Tuhan. Sebaliknya Israel menyembah efod. Ini adalah dosa. Dan Gideon tidak bisa berbuat apa-apa.
Pelajaran dari Hakim-hakim 8 :
1.Setelah sukses jangan lupa Tuhan.
2.Tetap bergantung pada Tuhan walaupun sudah kuat.
3.Ingat anugerah Tuhan yang menjadikan kita sampai sekarang. Jadi jangan lupa diri.
4.Jangan mempunyai agenda sendiri di dalam pelayanan.
5.Berpusat pada Tuhan.

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Taipei, 25 Mei 2007


No comments:

LIMPINGEN BLOG