Wednesday, May 09, 2007

Kebebasan dan Sukacita

Kebebasan dan Sukacita
Jeffrey Lim

Baca Filipi 1
Kita hendak mempelajari mengenai kebebasan, sukacita dan bagaimana mendapatkannya ?
Kalau kita menyelidiki mood dari setiap surat Paulus, terdapat mood yang berbeda-beda. Kalau kita menyelidiki surat Galatia maka kita menemukan bahwa Rasul Paulus sedang marah kepada Jemaat di Galatia. Di dalam surat di Galatia, Paulus tidak memulai dengan ucapan syukur seperti yang biasa dia lakukan pada jemaat di tempat lain. Tetapi di jemaat Galatia dia memulai dengan kata “aku heran”. Ini surat kepada jemaat di Galatia. Situasi jemaat yang Paulus hadapi juga beragam-ragam. Jemaat di Korintus contohnya adalah jemaat yang paling banyak talenta tetapi banyak perpecahan dan juga banyak masalah moral dan etika. Tetapi ada satu jemaat yang Paulus sangat bersukacita yaitu Jemaat di Filipi.

Keadaan Paulus ketika sedang menulis surat kepada Jemaat Filipi adalah dia sedang berada di dalam penjara. Dia dipenjarakan karena Injil. Bagaimana seseorang yang dipenjarakan merasakannya ? Tetapi mood yang ada pada Paulus adalah sukacita. Dia sangat bersukacita dengan jemaat di Filipi. Tujuan Paulus menulis surat adalah dia ingin bersukacita karena solidaritas mereka dengan dia ketika dia masih berada di penjara. Mereka memperhatikan Paulus. Dan Paulus juga ingin jemaat bersatu dan melayani satu sama lain.
Kalau kita membaca surat Filipi, kita akan menemukan nuansa sukacita dan perhatian dari Paulus. Surat ini menyuarakan ucapan syukur untuk Allah yang sudah memulai pekerjaan baik di Filipi. Allah sudah memulai gereja Filipi dan bekerja di dalamnya. Paulus juga bersukacita karena adanya ikatan spesial antara Paulus dan pembacanya. Adanya kedekatan antara Paulus dengan jemaat di Filipi.
Jadi kalau kita hendak simpulkan salah satu tema utama di dalam kitab Filipi adalah mengekpresikan sukacita dan juga hendak mengekpresikan perhatian Paulus.

Pelajaran sukacita dari kitab Filipi :
Sukacita Paulus yang tidak terikat oleh keadaannya. Jiwanya bebas.

Kita sudah menyelidiki keadaan Paulus yang dipenjara. Di penjara itu bukan sesuatu yang enak. Tidak tahu masa depan. Tidak tahu nasib hidup berapa lama. Sesak secara fisik dan jiwa. Sulit dan menderita.
Dan kita hendak mempelajari bahwa Paulus walaupun dipenjara tetapi jiwanya bebas. Mari kita renungkan apa arti kebebasan itu ? Sebebas apakah kita merasakan ? Kita hendak merenungkan kebebasan dan sukacita.
Merupakan pengalaman yang umum bahwa kita terjebak di dalam banyak situasi hidup. Baik itu pekerjaan, relasi, rumah tangga, kesehatan, keuangan dan banyak dari kita tidak merasakan bebas melakukan apa yang kita ingin lakukan. Kita frustasi dan kita mau bebas. Beberapa situasi yang membatasi adalah karena kesalahan kita sendiri dan kita memilih pilihan yang buruk. Tetapi banyak yang diluar control kita dan ini adalah sesuatu yang mengganggu kita. Misalnya cuaca menghalangi rencana kita. Orang lain membuat kita jatuh. Bis terlambat. Tabrakan di jalan raya. Kesehatan kita memburuk. Sakit penyakit melanda. Ada kelemahan fisik. Ada sesuatu yang menghalangi kita melakukan apa yang kita ingin lakukan.
Banyak orang mendefinisikan kebebasan sebagai ketika tidak ada seseorang ataupun tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi apa yang kita ingin lakukan. Menurut definisi ini, sebebas apakah kita rasakan ?
Kalau kita selidiki bahwa Paulus di penjara dan tidak dapat melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tetapi Dia kelihatannya begitu sukacita. Dia bersyukur. Dia memuji Tuhan. Dia bebas. Dia tahu bahwa apa yang terjadi padanya mendatang kebaikan. Dia bahkan bersukacita bahwa injil diberitakan oleh orang lain dengan maksud menjatuhkan dia. Karena Injil tetap diberitakan.
Kalau kita bersama dengan Paulus hari ini dan bisa menanyakan kepada dia maka kita akan menanyakan bahwa :
Mengapa dia sangat yakin bahwa Injil akan diperluas dengan pemenjaraan dia ?
Mengapa dia sangat sukacita ?
Mengapa Paulus sangat mempunyai hati yang besar ?
Mengapa dia bisa yakin bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik ?
Mungkin kita sendiri berpikir dan mencoba menjawab pertanyaan ini !
Karena dia melakukan Firman Tuhan dan mengetahui Tuhan dengan dekat
Karena Dia bersama dengan Tuhan
Karena Tuhan memberikan dia pengertian
Karena dia percaya bahwa segala sesuatu ada di dalam pemeliharaan Allah dan ada di dalam rencana Tuhan. Dan bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan.

Mari kita renungkan ide mengenai kebebasan. Paulus mempunyai tujuan yang jelas di dalam hidupnya. Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Hidup adalah semua mengenai Yesus Kristus. Ini mengenal Kristus dan hidup untuk Kristus. Tidak ada seorangpun yang mampu menahan dia untuk hidup bagi Kristus. Tidak perduli apa yang orang lakukan kepada dia, dia masih hidup untuk Kristus. Bagaimana jika orang melemparkan dia ke penjara. Dia masih hidup untuk Kristus. Dia masih bisa mengucap syukur dan berdoa. Dia masih bisa menulis surat. Bagaimana jika yang terburuk dia dibunuh ? Perbuatan ini sekalipun akan memberikan kebaikan kepada Paulus karena dia akan bersama-sama dengan Kristus. Ini adalah situasi yang menang selalu.
Kristus sudah memberikan Paulus ide mengenai kebebasan yang baru. Paulus benar-benar bebas. Jiwanya benar-benar bebas karena hidupnya untuk Kristus. Dia menyadari baik hidup maupun matinya adalah untuk Kristus jadi tidak ada sesuatupun yang membuat dia frustasi. Sesungguhnya dia adalah bebas sejati.
Hidup bagi Kristus adalah sangat jelas di dalam pikiran Paulus yaitu hidup untuk kemajuan Injil Kristus. Kristus hidup mati dan bangkit untuk keselamatan umatNya maka hidup bagi Kristus adalah berarti hidup untuk hal yang sama. Untuk supaya Injil Kristus diberitakan dan untuk kemajuan dan sukacita di dalam iman bagi mereka yang mempercayai Injil. Dan karena ini bukan membangun kerajaan sendiri yang egois maka Paulus bersukacita ketika dia melhat Injil maju karena usaha orang lain. Meskipun bukan dari motivasi yang murni. Paulus tidak berkompetisi. Dia ingin melihat pekerjaan Injil terjadi dimana saja. Jiwanya benar luas dan bebas. Semua untuk Kristus.
Apakah kebebasan sesungguhnya ? Apakah sukacita kita yang sesungguhnya ?
Bagaimana kalau kita sekarang kehilangan kesehatan ? Apakah kita tetap bersukacita ? Bagaimana kalau kita kehilangan pekerjaan ? Apakah kita akan bersukacita ? Bagaimana kalau kita kehilangan materi ? Apakah kita akan tetap bersukacita ? Apakah sukacita kita bergantung pada keadaan kita ?
Saya ilustrasikan 2 orang tokoh dimana kita bisa belajar bahwa mereka tetap bebas walaupun mereka kehilangan sesuatu di dalam hidup mereka :
Fanny Crosby
Wanita ini adalah mencipta 9000 lagu hymne. Dia sudah buta sejak kecil karena kesalahan dari dokter yang membuat dia buta. Tetapi apakah hidupnya dibatasi oleh kebutaannya ? Apakah sukacitanya dibatasi oleh kebutaannya ? Dia tetap bersukacita dan banyak menulis lagi hymne yang baik. Mengapa saya bisa mengatakan dia bersukacita. Karena saya mempelajari hymne-hymnenya berisi banyak sekali pujian yang indah. Walaupun ada pergumulan hidup tetapi adanya kelembutan dan juga penyertaan Tuhan. Adanya kedinamisan di dalam lagu-lagunya.
Misalnya : To God be the Glory, Blessed Assurance, Safe in the arms of Jesus, Close to Thee, Jesus Keep me near the Cross.
Hidup Fanny Crosby walaupun buta tetap bebas dan ada sukacita. Sukacita dia tidak dibatasi oleh kebutaan dia. Bahkan dia dapat menjadi saluran berkat. Hidup bagi dia adalah Kristus. Dilukiskan di dalam Blessed Assurance.

Wanita kedua adalah Joni Eareckson Tada
Wanita ini adalah wanita yang pandai tetapi dia lumpuh seluruh tubuh karena dia melompat ketika diving dan akhirnya kena karang. Dia Cuma bisa menggerakkan kepalanya saja. Padahal dia seorang wanita yang lumayan cantik dan banyak bakat. Pada mulanya dia ingin bunuh diri terus. Dia diputuskan oleh pacarnya. Dia merasa hidupnya tidak berguna dan bergantung kepada orang lain. Bahkan ke toilet aja harus ditolong sama orang lain. Tetapi perempuan ini dengan pergumulan hidupnya bisa tabah. Dan dia terus bergumul dengan Tuhan. Walaupun seluruh tubuhnya lumpuh tapi dia belajar melukis dan bisa melukis dengan mulut. Akhirnya toh dia menyadari bahwa Tuhan masih memberikan banyak talenta di dalam diri dia. Dia masih bisa membuat buku. Masih bisa berpikir. Dia ada semangat hidup kembali dan dia akhirnya menjadi presiden orang-orang disable. Dia menulis buku autobiographynya. Dia juga menulis buku mengenai Suffering yaitu When God weep. Ketika Allah meratap.
Tetapi wanita ini tetap bisa antusias dan kembali menemukan semangat hidup. Dia bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan tidak dibatasi oleh limitasi fisiknya. Dia tidak dibatasi oleh kelumpuhannya. Dia tetap bisa jadi berkat. Karena dia tahu bahwa hidup adalah Kristus. Hidup untuk Tuhan. Maka dia bebas. Dia bisa sukacita. Dan hidupnya adalah hidup yang diberkati.

Sebenarnya saya masih bisa mengambil banyak contoh dari banyak orang. Misalnya pendeta gereja underground di Guang Zhou yang bernama Samuel Lamb. Dia sudah seringkali masuk penjara. Dia sudah seringkali dianiaya. Bahkan ketika dia dipenjara istrinya sudah meninggal. Dia tidak bertemu dengan isterinya. Tetapi jiwa dia tetap bebas. Dia tetap mengabarkan injil. Jiwa dia tidak dibatasi oleh kehilangan isterinya. Dan Jiwa dia tidak dibatasi andaikata dia musti dipenjara. Dia terus mengabarkan Firman Tuhan dan jemaatnya terus bertambah seiring dengan pemenjaraannya. Waktu saya dan ci Lina menjumpainya. Dia sangat sukacita dan bersaksi. Dia memberikan kita buku-buku dan ada yang menarik yaitu mengenai sukacita. Buku ini saya berikan pada kalian

Ada juga tokoh lain yang menderita yang terus keluar masuk penjara. Dia adalah John Bunyan. John Bunyan bukan seorang akademis. Tetapi dia seorang pendeta yang mengabarkan Injil. Dia terus memberitakan Injil dijalan-jalan dan ditangkap. Tetapi keluar penjara terus memberitakan Injil. Dan dia kembali dipenjarakan. Sampai beberapa kali selama hidupnya dia mengalami masa panjang di penjara. Tetapi bebannya adalah terus mengabarkan Injil. John Bunyan ini banyak mengalami penderitaan tetapi dia bersukacita. Dia menulis buku Pilgrim Progress. Buku yang sangat terkenal yang melukiskan pergumulan hidup seorang Kristen. John Bunyan diakui sebagai seorang puritan. Dia boleh menjadi berkat bagi kemuliaan nama Tuhan dan jiwanya bebas walaupun dipenjara. Dia tahu bahwa sukacitanya adalah melayani Tuhan.
Sampai sini kita sudah mempelajari mengenai sukacita dan kebebasan. Inti dari sukacita dan kebebasan adalah menyadari bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Bahkan karena hidup bagi Kristus maka penderitaan di dalam dunia ini tidak menjadi beban bahkan dengan banyaknya penderitaan menerima banyak penghiburan dari Tuhan.
Masih ada pelajaran sukacita lain dari kitab Filipi
Kunci untuk mengalami sukacita adalah mengucap syukur. Menghitung berkat-berkat Tuhan. Dalam hal ini Paulus ketika dia sedang di penjara masih terus mengucap syukur buat jemaat di Filipi. Dia terus mengucap syukur kepada Allah. Orang yang suka mengucap syukur maka akan mengalami sukacita karena dia selalu mengkaitkan hidupnya dengan berkat Allah. Dia tidak akan merasa kekurangan. Malahan berkelebihan selalu. Mengucap syukur membuat hidup limpah.
Kemudian kunci lain mengalami sukacita adalah dengan memperhatikan orang lain. Paulus mengucap syukur dan mengingat jemaat di Filipi. Dia bersukacita melihat Injil bertumbuh di dalam jemaat Filipi. Orang yang suka melihat orang lain maju akan bersukacita ketika orang yang dikasihinya menjadi maju. Demikian juga hati Paulus bukan untuk hidupnya sendiri. Dia bersukacita kalau ada kemajuan di dalam jemaat di Filipi. Dia bersukacita sekali karena dia betul-betul care dengan jemaat Filipi.
Kunci lain mengalami sukacita adalah dengan persekutuan. Hidup Paulus bukan saja memperhatikan jemaat di Filipi tetapi juga mempunyai persekutuan dengan mereka. Jadi ada ikatan kasih diantara mereka. Dia tidak hidup seorang diri. Dia ada di dalam keluarga Allah.
Bahkan Paulus di dalam surat Filipi ini menuliskan satu hal mengenai doktrin gereja dan juga mengenai persekutuan yang sangat indah yaitu :
“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra, dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku ini : hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya snediri, tetapi kepentingan orang lain juga.. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat pula dalam Kristus Yesus”

Sukacita di surat lainnya.
Di dalam surat 1 Tesalonika, Paulus menulis supaya kita bersukacitalah senantiasa. Orang Kristen adalah orang yang harus bersukacita dan menikmati anugerah Tuhan. Tujuan hidup adalah memuliakan Tuhan dan menikmatiNya. Enjoy Him forever. Ini bukan teologi kesuksesan atau prosperity gospel. Tetapi teologi yang harus kita anut adalah keseimbangan antara teologi salib dan teologi kenikmatan.
Di dalam buku Desiring God menggambarkan : “Christian Hedonism”
Di dalam surat Galatia melukiskan bahwa buah roh adalah sukacita. Jadi kita harus bersukacita dan sukacita menunjukkan buah roh.

Pelajaran hari ini :
Mari kita bersukacita dan bebas tidak tergantung kepada keadaan kita
Kita mengucap syukur
Kita mengingat orang lain
Kita bersekutu di dalam gereja
Kita menikmati sukacita di dalam Tuhan
Kita harus berbuah roh

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Guang Zhou,
30 April 2007
Pada waktu perpisahan di Zhong Da

No comments:

LIMPINGEN BLOG