Tuesday, May 29, 2007

Diuji untuk berharap dan sabar

Diuji untuk berharap dan sabar
Pengalaman pribadi
Jeffrey Lim

Saya mau bersyukur kepada Tuhan Allah yang mengijinkan saya mengalami sesuatu yang ingin saya sharingkan. Pengalaman ini menguji saya bagaimana harus berharap dan sabar menghadapi hidup ini dan saya berharap bagi teman-teman saya yang membaca dan bergumul di dalam hidup boleh mendapatkan kekuatan dalam hidup.
Tidak usah diceritakan lagi bahwa sejak tahun 98 saya mengalami depresi berat dan kalau orang yang tidak mengetahui bagaimana rasanya depresi itu : yang jelas penderitaan psikis itu lebih berat daripada penderitaan fisik. Di tahun 99 saya sekolah ke Australia, dan kondisi fisik saya sering mual-mual karena pengaruh di dalam tubuh akibat depresi dan pada saat tiba di Australia saya sering muntah-muntah terutama ketika tiba yaitu pada musim Winter.

Nah yang mengganggu saya adalah bukan saja depresi tetapi ternyata saya sejak kelas 2 SMP sudah ada sinusitis ( yang akhirnya saya ketahui setelah tahun 2003 ) yang dulu saya dibuang polipnya ( seperti amandel di hidung ). Ini mengakibatkan sesak nafas dan sulit bernafas karena buntu di hidung. Ketika saya sedang di Australia, kondisi mental mengakibatkan kepala pusing dan tidak enak. Tetapi kemudian kondisi dari sinusitis mengakibatkan tidak bisa nafas. Bayangkan gimana perasaan tubuh anda dikala emosi tidak enak, kepala pusing dan nafas sesak. Ini terus saya alami sampai bertahun-tahun.
Sebenarnya saya bukan tidak berobat. Saya sudah berobat mengenai hal sinusitis ini dan dokter saya memberikan saya obat alergi untuk disemprotkan. Setiap disemprot bisa bernafas sedikit tetapi masih sesak dan kebutuhan oksigen tidak cukup. Karena itu sering saya bernafas pakai mulut dan kalau datang winter datang siksaan yang besar karena dari mulut udara yang masuk adalah dingin adanya. Setiap musim dingin, saya menderita lebih besar. Tetapi yang lebih bikin penderitaan adalah pusing di kepala ditambah sesak nafas. Dan hal ini sulit saya sharingkan kepada orang lain rasa sakitnya yang tidak mereka rasakan.
Kemudian kembali di tahun 99, saya sekolah di Insearch Institute of Commerce. Disini saya mengambil mata kuliah komputer. Ternyata nilai saya semester satu rata-ratanya 85 dan termasuk paling tinggi. Maka saya punya kesadaran bahwa saya tidak ada apa-apa secara psikis. Masa orang yang sakit psikis bisa dapat nilai yang lumayan. Maka saya tidak sabar dan mulai memberhentikan obat. Memang saya jadi lebih aktif dan lebih banyak hal yang dikerjakan. Tetapi lama-lama kondisi makin buruk tanpa saya sadari dan akhirnya di semester 2 akhir setelah liburan, kondisi saya drop banyak sehingga harus istirahat selama 1 semester untuk pemulihan psikis. Ini akibat saya tidak sabar di dalam penderitaan psikis.
Nilai saya di semester 3 juga rata-rata ada yang mencapai 89. Maka saya kembali pikir masa saya ada sakit psikis ? Tetapi saya coba sabar. Saudara-saudara, pergumulan depresi ini seringkali naik turun. Kondisi mental ini kadang bisa depresi berat dan penuh dengan pikiran yang menganggu. Sulit dijelaskan gimana rasa sakitnya. Yang jelas benar-benar meremukkan jiwa.
Pergumulan di Australia menyelesaikan kuliah sampai S1 juga bukan mudah. Sering saya tidak tahan dan ingin mau pulang ke Indonesia karena kondisi kesehatan mental. Tetapi ibu saya selalu memberikan kekuatan dan membiarkan saya berjuang. Seorang ibu yang baik dan yang mengasihi saya. Dan salah satu pengalaman tersulit di dalam menyelesaikan kuliah adalah di tahun terakhir ketika tugas kelompok tugas akhir, kondisi mental saya mengakibatkan saya sulit berkonsentrasi dan bikin tugas. Saya kelihatan tidak competence di dalam tugas kelompok dan setiap anggota kelompok dapat memberikan nilai pada saya dan saya juga pada mereka. Puji Tuhan bahwa teman-teman mereka dapat mengerti ketika saya jelaskan pergumulan saya dan saya tidak diberi nilai yang jelek. Padahal guru sudah bilang bahwa saya akan dapat 2 dari 10 karena waktu ditanya di kelas saya tidak competence sebab tidak bisa konsentrasi. Ada takut rasanya ketika memikirkan tidak bakalan lulus. Tetapi eh tahunya lulus juga. Ini semata-mata karena anugerah Tuhan.
Ketika tahun 2002 akhir saya pulang ke Indonesia, ada pengalaman lagi yang membuat saya belajar bahwa sabar itu penting. Saya ternyata salah langkah di dalam ambil keputusan. Mamah bilang saya sudah tidak ada beban kuliah. Hidup di depan sudah tidak ada beban. Karena itu lebih baik kita stop obat lagi. Lagian benar juga bahwa saya ada Tuhan dan saya tidak akan sampai parah. Maka itu saya punya iman dan melawan penyakit saya dan stop obat.
Ternyata setiap hari saya bisa muntah 9-10x. Kepala pusing dan mual-mual. Ditambah sinusitis saya yang mengganggu tidak bisa bernafas. Pengalaman yang tidak enak yang jauh lebih tidak enak daripada sebelumnya. Tetapi puji Tuhan tidak ada winter yang mengganggu pernafasan lebih dalam. Nah di dalam 6 bulan ternyata kondisi makin buruk. Padahal di dalam hati saya sudah sukacita sekali bahwa saya akan belajar untuk melayani Tuhan dan sudah diterima masuk di sekolah teologi SAAT. Tetapi ternyata ada pukulan besar di dalam hidup saya yaitu di SAAT saya depresi berat. Ini diluar pengendalian karena tidak makan obat. Dan saya diistirahatkan dan diberi tanggapan oleh Pak Paul Gunadi bahwa saya tidak bisa melayani di muka umum. Panggilan saya rasanya sirna. Ini pukulan secara fisik, mental, dan rohani. Saya seperti layang-layang putus.
Saya mengalami masa gelap di dalam hidup saya. Kondisi fisik saya juga terus mengganggu. Pusing, mual dan tidak bisa bernafas. Ditambah kondisi psikis dan emosi yang kosong. Akhirnya saya makan obat kembali dan kemudian dicoba dicari penyebab penyakitnya apa. Saya di MRI Scanning. Masuk ruangan hanya memakai celana dalam dan tidak boleh bergerak selama 30 menit. Di dalam suara berisik dan juga karena tidak boleh bergerak saya tersiksa karena saya sulit bernafas. Saya berpikir seakan-akan saya akan mati.
Hasil MRI scan keluar. Ternyata di kepala saya tidak diketemukan apa-apa yang mengakibatkan depresi tetapi puji Tuhan ada clue positif bahwa saya ketahuan bahwa saya mengidap sinusitis ( akhirnya baru ketahuan ). Dan di pipi saya sudah banyak nanah yang mengendap. Akhirnya saya dioperasi. Bukan suatu hal yang enak rasanya. Sebab hanya dibius local dan dapat merasakan nyerinya rahang yang dilubangi dari dalam. Setelah operasi juga ngilu dan sakit beberapa lama dan harus makan obat penahan sakit. Ditambah kepala pusing dan mual-mual. Tidak enak rasanya.
Tetapi beberapa bulan kemudian ternyata setelah dioperasi ternyata sinusitisnya jadi lagi dan penuh lagi. Pipi saya penuh nanah lagi. Wah gawat. Operasi kedua harus diadakan lagi. Wah lemas deh rasanya. Tetapi ternyata inti masalah sinusitisnya tidak ketemu juga. Saya ke klinik alergi. Sebab katanya semua ini karena alergi. Saya berobat jalan selama beberapa bulan tetapi tetap tidak ada kemajuan.
Namun Tuhan itu buka jalan. Segala sesuatu ada masanya. Segala sesuatu ada jalan keluar. Akhirnya kita bertemu dengan dokter THT yang baik. Disana dia mendiagnosa bahwa hidung saya bengkok dan harus dioperasi. Akhirnya dia mengoperasi hidung saya dan meluruskan tulangnya. Kemudian polipnya di laser. Dan puji Tuhan ternyata penderitaan selama tahun 99 mengalami sinusitis tidak bisa bernafas akhirnya saya bisa bernafas kembali setelah pengobatan di dokter ini yaitu tahun 2003.
Adapun saya masih bergumul dengan kondisi psikis ini. Maunya sih saya langsung kurangi obat dan jadi sehat. Tetapi ini juga harus sabar. Perlu adanya perubahan pikiran yang jangka panjang. Perlu adanya pemupukan rohani dengan membaca Firman untuk jangka panjang. Perlu iman untuk melawan kondisi psikis. Maka semua ini ada waktunya.
Hidup memang menderita ? Memang ! Tetapi harus berharap dan sabar. Semua tidak jadi instant. Tetapi ada masanya dan ada waktunya. Tuhan kita itu bekerja tepat pada waktunya. Karena itu saudara-saudari di dalam Kristus, marilah kita serahkan hidup kita pada pemeliharaan Tuhan dan terus berharap dan bersabar di dalam penderitaan. Dan bersyukur kalau kita boleh diijinkan bergumul sebab itu membuat kita bergantung dan membuat kita tahan uji. Satu kunci yaitu berharap dan sabar.
Terima kasih kalau saudara-saudari juga boleh membaca cerita saya. Semoga boleh jadi berkat buat iman saudara.

Puisiku : Berharap dan Sabar menanggung

Tuhan menetapkan segala sesuatu
Segala sesuatu ada masanya
Tetapi sering kali aku
Aku bertanya kapan masanya ?

Hidup kita penuh pergumulan diri
Siapa yang dapat mengertinya
Hidup kita ini sendiri penuh misteri
Siapa yang dapat menyingkapkannya

Tetapi marilah kita belajar
Kita menyerahkan kepada Tuhan
Berharap dan sabar
Di dalam menanggung penderitaan

Satu hal yang perlu kita ketahui
Bahwa segala sesuatu itu indah pada waktunya
Tuhan kita yang setia ini
Memimpin jalan hidup sampai pada akhirnya

Segala sesuatu mendatangkan kebaikan
Bagi mereka yang mengasihi Tuhan
Di dalam segala sesuatu ada kemurahan
Dan anugerah Tuhan

Marilah kita belajar
Untuk menyerahkan
Berharap dan sabar
Kepada Tuhan

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
30 Mei 2007
Di kala pagi hari merefleksi hidup


1 comment:

Grace Maringka said...

Allo Jeff,

Duh... yang lagi seneng bisa nulis pagi2 sambil menikmati tiap tarikan napas... =) Sampe langsung bikin puisi deh!

Frankly, selama baca aku jadi berasa rada sesak juga, terutama di paragraf2 waktu penyakit2 itu kambuh2 terus. Tanpa sadar pinginnya paragraf berikut cerita tentang kesembuhan kamu. Tapi makin lama baca, aku makin teringat kata2 Pak Yohan Cham, (+/-) "Tuhan jauh lebih berkepentingan mengubah seseorang menjadi lebih serupa Kristus termasuk melalui peristiwa2 yang menyulitkan orang tersebut, dibandingkan dengan mengabulkan permohonan orang itu agar dilepaskan segera dari masalahnya." Dan mungkin sekali banyak dari kita termasuk orang2 seperti itu. Tuhan bisa aja kasih tahu soal tulang hidung kamu lebih awal dari tahun 2003. Tapi ngga. Why? Tuhan bisa aja bebasin kamu dari depresi saat ini juga. Tapi ngga. Why?

Dijawab kamu sendiri. Semua ada waktunya. Dan seringkali saat waktunya tiba, kita udah ngga butuh lagi jawaban2 atas "Why222" kita itu. Coba bandingin diri kamu waktu dulu dan sekarang, dari belom sembuh sampe udah (sinus), karakter mana yang beda?

Kalo aku jadi kamu, kemungkinan besar aku udah jauh lebih amblas waktu "divonis" ngga akan bisa melayani di depan umum, harus keluar dari sesuatu yang udah aku yakini sebagai panggilan Tuhan untuk aku kerjain. Tapi Tuhan mungkin mau ngajarin, jangan menilai segala sesuatu berdasarkan keadaan kita saat itu. Look at you now. Tapi termasuk juga kalo sekarang lagi "sukses", semua itu cuma satu keadaan, padahal kita mesti belajar ngga bergantung sama keadaan.

Jeff, Paulus punya a thorn in his flesh. Tapi dia akhirnya bilang ngga apa Tuhan ngga cabut. Aku yakin akhirnya dia udah begitu menikmati Tuhan sehingga dicabut/ngga-nya thorn itu bukan masalah no. 1 lagi buat dia. Siapa tahu kalo ternyata Tuhan akhirnya cabut (cuma ngga dicatet aja), tapi itu karena thorn itu udah selesai dengan fungsinya mengubah Paulus makin serupa Kristus-nya... =)

May you be more like Christ, little brother with a big heart, in whatever journeys you will be facing!

LIMPINGEN BLOG