Saturday, March 22, 2008

Iman dan Perjuangan dalam hidup

Iman dan Perjuangan di dalam hidup
Jeffrey Lim

Kalau kita membaca kitab Kejadian, ada pasal-pasal penting yaitu Kej 1,2,3, 4, 6, 9, 11, 12, 15, 17. Kali ini kita akan membaca pasal-pasal penting mengenai Abraham. Terutama mengenai perjanjian Tuhan dengan Abraham.

Perkenalan
Perkenalkan nama saya Jeffrey Lim. Saya mahasiswa dari Reformed Institute dan pernah praktek pelayanan di Taiwan dan China selama 1 tahun. Saya bersyukur boleh diberikan kesempatan boleh membagikan berkat di tempat ini.
Adapun seperti ayat yang barusan kita baca adalah mengenai Abraham sebagai Bapa orang beriman. Abraham menjadi tokoh yang sangat penting di dalam dunia ini. Karena ada 3 agama besar monoteisme yang mengakui Abraham yaitu Yahudi, Islam dan Kristen. Tetapi hal yang lebih signifikan bagi kita sebagai orang percaya adalah bahwa di dalam Alkitab di dalam Roma 4:16 mengatakan bahwa kita mengikuti iman Abraham. Abraham menjadi pola atau contoh atau model dimana kita orang beriman juga mengikuti imannya.
Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- (Rom 4:16)
Saudara-saudari di dalam Kristus, dari ayat yang kita baca mengenai Abraham ini mempunyai beberapa makna bagi hidup kita.


1. Hidup adalah panggilan
Abraham dipanggil Tuhan keluar dari negerinya dan pergi ke tanah yang akan Tuhan tunjukkan. Abraham dipanggil Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Kalau kita melihat konteks dari Kitab Kejadian, kita akan mengerti bahwa setelah Kej 3 maka manusia jatuh di dalam dosa. Pada saat itu kata kutuk muncul 6x dan berkat hanya 2x. Tetapi di dalam Kej 12:1-3 ada perubahan nuansa yaitu kata berkat muncul 5x hanya dalam 3 ayat. Ini menunjukkan Tuhan ingin memberkati umatNya.
Abraham dipanggil oleh Tuhan keluar dari negerinya untuk menjadi berkat. Dia dipanggil untuk menjalankan misi Tuhan. Ketika dipanggil ini maka Abraham meninggalkan segalanya. Dulu dia hidup sebagai orang yang berkecukupan, mapan, ada rumah, dekat dengan sanak saudara, ada sekuritas, ada jaminan hidup. Tetapi sekarang dia dipanggil Tuhan ke negeri yang akan dituju. Dia harus mengembara, hidup di tenda, meninggalkan kemapanan, dan mengikut Tuhan. Seakan-akan secara manusia dia orang yang bodoh. Meninggalkan kenikmatan dunia. Meninggalkan kemapaman. Meninggalkan sekuritas hidup. Tetapi dimata Allah, Abraham adalah seorang yang berhikmat. Dia mengikut Allah. Dia menemukan sumber kebahagian, sumber sekuritas, dan juga hidup yang berlimpah yang dipimpin Allah. Tetapi proses yang dialaminya tidak mudah.
Yesus berfirman bahwa barangsiapa mau mengikut Aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku. Dalam hal ini Abraham sebagai contoh iman kita sudah menjalankannya dan mengikuti Allah Yahweh. Dia dipanggil untuk menjadi berkat. Oleh dia seluruh bangsa mendapatkan berkat. Berkat ini akan terealisasi di dalam keturunan Abraham yang bernama Yesus Kristus. Oleh Yesus Kristus maka seluruh bangsa di dunia mendapatkan berkat yaitu keselamatan. Abraham dipanggil untuk menjadi berkat.
Setiap orang percaya yang mengikuti iman Abraham ini mempunyai panggilan hidup. Panggilan hidup kita sebagai orang beriman adalah mengikuti Tuhan. Tuhan memilih kita dan memanggil kita menjadi anakNya. Dia memanggil kita menjalani misiNya.
Calling ini sesuatu yang powerful saudara-saudara. Karena calling dari Tuhan itu pasti efektif. Calling dari Tuhan ada anugerah yang menyertainya. Dengan Calling of Life ini maka ada beberapa konsekuensi :
a. Hidup kita ada tujuannya
Kita diciptakan Tuhan ini ada tujuannya. Alkitab mengatakan bahwa Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
(Eph 2:10)
b. Hidup kita ada artinya
Hidup kita ada artinya karena ada Tuhan Allah yang memberikan arti hidup di dalam panggilan kita.
c. Hidup kita ada arahnya
Hidup kita mempunyai arah yang Tuhan sudah tetapkan.

Kalau Abraham dipanggil untuk menjadi berkat maka apa misi kita ? Kita dipanggil menjadi menjadi berkat juga. Setiap kita keturunan Abraham mempunyai misi Tuhan yaitu di dalam amanat agung Yesus Kristus. Menjadikan semua bangsa murid Tuhan. Dengan begitu maka kita akan menjadi berkat bagi sesama kita. Kita menjadi terang untuk membawa orang kepada Tuhan.
Kesimpulan poin pertama adalah bahwa hidup ini adalah panggilan untuk menjalankan misi Tuhan. Baik anda seorang mahasiswa ataupun dosen ataupun anak di dalam keluarga, kita semua mempunyai calling of life. Kita dipanggil menjadi berkat. Yaitu untuk membawa orang kepada Tuhan.
Tetapi di dalam menjalani panggilan hidup ini apakah mudah ? Tidak ! Sebab Abraham hanya menjalaninya dengan iman. Maka kita akan masuk pada bagian kedua yaitu mengenai iman.
Di dalam bagian pertama kita sudah membahas bahwa hidup adalah panggilan untuk menjadi berkat untuk menjalankan misi Tuhan. Maka pada poin kedua ini kita akan membahas bahwa

2.Hidup adalah perjuangan iman
Di dalam menjalani panggilan Tuhan harus ada perjuangan iman. Tuhan berfirman dan Abraham beriman. Alkitab mengatakan bahwa “Iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan Firman”. Ketika Tuhan berfirman kepada Abraham maka Abraham beriman. Abraham percaya akan perkataan Tuhan dan Tuhan memperhitungkannya sebagai kebenaran. Ketika Tuhan berfirman. Abraham hanya percaya saja kepada Tuhan. Mengapa ? Sebab Tuhan itu layak dipercaya. Dia mempunyai kredibilitas untuk dipercaya. Dia bisa diandalkan. Dia bisa dipercaya. Dia benar dan perkataanNya benar adanya. Janji Tuhan benar adanya. Firman Tuhan benar adanya.
Tuhan berjanji kepada Abraham yaitu :
a. Menjadikannya berkat
b. Membuat dia menjadi bangsa yang besar
c. Memberikan tanah perjanjian
Ketika mengikut Tuhan ini maka Abraham diuji imannya. Mengikut Tuhan ada ujian iman. Pertama… Sarah sudah mati haid dan tidak bisa melahirkan anak lagi. Dia sudah tua. Bagaimana mungkin dia bisa mempunyai anak lagi ? Abraham sempat di dalam dirinya goncang. Dan dia di dalam Kej 15 mengatakan bahwa mungkin yang menjadi ahli waris dirinya adalah Eliezer hambanya. Tetapi Tuhan mengatakan bahwa anak kandungnya yang menjadi ahli waris. Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abraham kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
Kalau kita perhatikan di dalam hidup Abraham. Abraham ini mengalami naik turun iman. Kehidupan iman orang percaya itu bukan statis… bukan juga selalu naik… Tetapi ada naik dan turun namun terus naik secara garis besar. Abraham pernah 2x menutupi bahwa Sarah adalah istrinya. Kemudian Abraham pernah mengikuti saran Sarah untuk mengambil Hagar untuk melanjutkan keturunannya. Seringkali kita heran mengapa bapa orang beriman ada sisi lemahnya. Tetapi justru ini adalah kehidupan beriman yang realistic. Kehidupan iman yang sesungguhnya. Yang manusiawi. Contoh-contoh orang beriman di dalam Alkitab ini memberikan kita satu pengertian bahwa mereka bukan orang sempurna sebab yang sempurna hanya Yesus Kristus. Bahkan Musa sendiripun ada salahnya. Di dalam Ibrani 11:34 dikatakan
, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan
(Heb 11:34)
Orang beriman seperti Abraham memperoleh kekuatan dalam kelemahan.
Dan pergumulan iman Abraham terus memuncak sampai pada tingkat tertinggi ketika Tuhan menguji Abraham untuk mempersembahkan anaknya Ishak. Alkitab mencatat bahwa Abraham percaya Tuhan sanggup membangkitkan Ishak kembali.
Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. (Heb 11:17-19)
Melihat Abraham di dalam menjalani panggilan hidup maka di dalam menjalani panggilan hidup maka ada perjuangan iman. Ada pergumulan. Ada perjuangan. Harus menjalaninya dengan iman.
Bahkan ketika Tuhan menjanjikan tanah maka Abraham sampai matinya tidak melihat tanah itu. Abraham hanya melihatnya dari jauh dengan mata iman. Bahkan dia melihat dengan iman bahwa itu adalah kota surgawi yang dibangun oleh Allah.
Ketika keturunan Abraham sampai pada jaman Musa, mereka juga harus memperjuangkan iman mereka untuk mendapatkan tanah kanaan yang dijanjikan. Beriman itu bukan saja diam dan berserah kepada Tuhan tetapi aktif. Tanah yang dijanjikan itu bukan diberikan begitu saja. Tetapi tanah itu harus diperjuangkan. Mereka harus melawan bangsa-bangsa Filistin, bangsa-bangsa Kanaan. Umat Israel harus berjuang. Harus melewati sungai Yordan, mengalahkan kota Yerikho. Mereka harus berperang. Mereka harus berjuang.
Iman keturunan Abraham bukan iman yang mati tetapi iman yang aktif dan iman yang berjuang.
Sekali lagi bahwa di dalam menjalani panggilan hidup ini maka kita harus berjuang. Hidup ini ada iman yang harus diperjuangkan. Kalau saya boleh sharingkan sedikit dari hidup panggilan saya.
Tahun 97 saya dipanggil menjadi hamba Tuhan di dalam SPIK Pak Tong di Bandung dan saya meresponi panggilan itu. Pada saat itu hidup saya berada di dalam kekosongan hidup yang sangat dalam. Bahkan sebenarnya sejak kecil saya sudah banyak hidup di dalam stress kehidupan. Keluarga saya dulu banyak konflik dan sering bertengkar. Sejak kecil saya sering dimarahi dan saya tumbuh menjadi seorang anak yang merasa tidak aman. Tahun 98 ketika saya hendak masuk sekolah teologi maka saya setiap hari dimarahi papah yang tidak setuju masuk sekolah teologi. Pada saat itu adalah krisis ekonomi dan papah juga tidak setuju saya sekolah Alkitab. Dia sendiri sudah beberapa tahun tidak ada pekerjaan. Dan disaat krisis ekonomi dan banyak pergumulan keluarga maka saya stress berat. Ketika saya masuk sekolah teologi maka sebetulnya sanak family dari papah beberapa agak menghina dan bilang saya tidak bisa cari uang. Kemudian saya masuk sekolah teologia dengan keadaan stress berat. Dan satu tahun setelah itu orang tua saya ingin supaya saya sekolah sekuler saja. Maka saya keluar dari sekolah teologi dan sekolah di Sydney ambil Computer Science. Tetapi saya tidak damai sejahtera dan selalu teringat untuk melayani Tuhan. Sebenarnya saya masih mengkonsumsi obat depresi sejak di sekolah teologi sampai di Sydney. Kemudian karena stop obat mendadak kondisi psikis saya kacau balau. Akhirnya setelah istirahat 4 bulan kembali pulih. Kemudian setelah lulus dari Sydney saya kerja di gereja dan mendaftar ke SAAT. Pada saat itu saya stopkan obat depresi saya lagi secara mendadak. Ketika saya ke SAAT kemudian saya mulai kacau lagi. Dan Pak Paul Gunadi bilang orang seperti saya tidak bisa melayani jadi hamba Tuhan sebagai figur publik. Akhirnya saya diistirahatkan dari SAAT karena kondisi psikis. Dan saya beristirahat di rumah selama 6 bulan. Ini hari gelap di dalam hidup saya. Tetapi Pdt. Stephen Tong memanggil di Jakarta dan bilang saya diminta Bantu di sekolah teologi disana dan kalau makin sehat boleh sekolah. Dia mendukung saya. Akhirnya saya makin sehat dan boleh melayani praktek 1 tahun di Taiwan dan China di dalam seluruh keterbatasan saya dan berhasil lulus.
Ketika saya menjalani panggilan hidup ini, mata saya terus memandang ke depan dan ingin terus melayani Tuhan. Memang sepertinya kalah dan gagal. Bahkan dikacamata pandangan keluarga sepertinya anak yang gagal. Tetapi saya menjalaninya dengan iman yang kecil yang Tuhan tidak lupakan. Saya beroleh kekuatan di dalam kelemahan.

3. Janji menuntut ketaatan
Selain iman harus adanya ketaatan. Trust and Obey. Janji Tuhan sudah diberikan kepada Abraham. Tuhan memberikan janji untuk menjadikan Abraham berkat. Tuhan memberikan janji untuk memberikan tanah

Ada janji
Tetapi menuntut Respon -> Iman dan ketaatan
Sampai tanah kanaan -> Perjuangan

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Jakarta, Institut Reformed
22 Maret 2008


No comments:

LIMPINGEN BLOG