Saturday, March 22, 2008

Bersyukur karena boleh melayani Tuhan, terutama karena sudah diselamatkan

Bersyukur karena boleh melayani Tuhan, terutama karena sudah diselamatkan
Jeffrey Lim

Nats : Lukas 10:17-24

Ayat kunci : “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”

Nats Lukas 10:17-24 ini adalah sebenarnya satu bagian dengan seluruh pasal 10. Ini masih cerita yang satu dan menyambung. Kalau kita lihat sekilas bahwa pengajaran di akhir pasal 9 adalah mengenai harga yang harus dibayar untuk mengikut Kristus. Harga yang harus dibayar untuk melayani di dalam kerajaan Allah Kemudian setelah Yesus Kristus menyatakan harga yang harus dibayar untuk mengikut Kristus dan melayani di dalam Kerajaan Allah maka di pasal 10, Yesus mulai mengutus ketujuh puluh murid. Yesus pernah mengutus 12 murid dan kali ini Dia mengutus 70 murid.
Setelah murid-murid siap untuk mengikut Yesus dan siap membayar harga maka Yesus memanggil mereka untuk memberitakan kerajaan Allah. Yesus mengutus mereka dua-dua pergi mengabarkan Injil Kerajaan Allah. Dua-dua ini berarti di dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan maka prinsipnya team work dan bersama-sama saling mendukung. Pekerjaan Allah bukan single fighter atau ada satu HERO yang super. Tetapi team work. Semua tubuh bekerja. Semua kelompok-kelompok kecil ini adalah satu bagian dari keseluruhan pasukan kerajaan Allah untuk menghancurkan pekerjaan si jahat. Senjata murid-murid adalah Firman Kebenaran di dalam Injil Yesus Kristus.

Yesus mengatakan bahwa Dia mengutus mereka seperti domba di tengah serigala. Ini berarti orang percaya yang melakukan pekerjaan Tuhan menghadapi banyak pergumulan karena itu harus bertindak cerdik. Di bagian yang lain Yesus mengajarkan supaya cerdik seperti ular namun tulus seperti merpati.
Sewaktu murid-murid memasuki sebuah rumah maka katakan pertama kali “Shalom buat rumah ini”. Shalom berarti bahwa ada damai bagi rumah ini. Shalom terjadi ketika orang berdosa percaya kepada berita Injil. Shalom terjadi ketika orang berdosa berdamai dengan Allah. Jikalau orang yang diinjili menerima Injil maka damai itu diberikan kepadanya.
Inilah konteks di dalam Lukas 17.

Lukas 10:17-24 dimulai ketika murid-murid sudah pulang dari pelayanan mereka. Dikatakan bahwa mereka kembali dengan bersukacita. Tentunya murid-murid bersukacita karena mereka boleh melayani Tuhan dan mengabarkan berita sukacita kepada orang berdosa.
Sambil bergembira para murid mengatakan kepada Yesus : “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.”. “Juga, setan-setan takluk kepada kami”. Juga berarti ada tambahan. Selain bersyukur buat pelayanan, mereka sungguh bersukacita karena setan juga takluk kepada mereka demi nama Yesus. Mereka boleh dikatakan bangga karena boleh diberikan kuasa menaklukan setan.
Kebanggaan murid-murid ini bukan main-main. Bukankah setan itu mahluk yang berkuasa. Setan itu adalah penguasa angkasa. Bahkan semenjak dunia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini berada di dalam kerajaan setan. Setan juga ketika mencobai Yesus menawarkan dunia beserta dengan kemewahannya tetapi Yesus menolak. Setan itu penguasa dunia ini. Dia sudah mencobai orang selama beribu-ribu tahun dan sangat lihai. Setan sendiri adalah malaikat yang jatuh. Dan kalau kita lihat bahwa malaikat itu mahluk ciptaan Tuhan yang luar biasa. Tetapi sekarang murid-murid yang baru di dalam beberapa saat mengikut Yesus, penuh dengan kelemahan dan masih tidak berpengalaman. Namun di dalam keterbatasan mereka, mereka bisa menaklukan setan, mereka bisa mengusir setan dan menyembuhkan orang sakit. Tentunya mereka bangga dan bersukacita akan hal ini.
Yesus menjawab “Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.”. Jawaban Yesus ini menjelaskan bahwa dengan pelayanan para murid maka setan menderita kekalahan. Dengan Injil maka setan dikalahkan. Dengan Injil maka tawanan dibebaskan. Ketika Injil diberitakan mungkin sebenarnya seperti pemberitaan kata-kata saja. Tetapi dibalik semua itu ada peperangan rohani. Dengan Injil maka pekerjaan si jahat dikalahkan.
Di dalam dunia sekarang ini, di film-film di Indonesia suka disiarkan film setan. Bahkan di budaya barat yang sudah terkena New Age movement menyiarkan film-film setan dan mistik. Di bioskop yang biasanya hanya terdaapat film-film yang modern tetapi sekarang sudah ada film-film mistik bahkan bioskop besar. Anak-anak di jaman sekarang ini diberikan konsep bahwa setan itu berkuasa. Tetapi kalau kita membaca Injil maka kita sadar bahwa setan dikalahkan Yesus dan murid-muridnya. Kalau orang membaca buku mengenai setan menyadari bahwa setan hebat dan konsep pikirannya makin dikuasai setan. Tetapi kalau orang membaca Firman Tuhan maka orang sadar bahwa setan itu begitu kecil kuasanya dan dikalahkan Yesus beserta dengan murid-muridnya. Baca buku setan dan mistik membuat takut, baca Firman membuat beriman. Kalau kita mengenal Firman maka Firman itu akan memerdekakan kita. Firman Tuhan itu berkuasa. Yesus Kristus itu berkuasa. Dengan kuasa Injil maka setan dikalahkan.
Yesus melanjutkan perkataannya di dalam meresponi murid-muridnya “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.”. Bahasa kiasan ini menunjukkan bahwa Yesuslah yang memberikan murid-murid kuasa sehingga mereka sanggup menaklukan setan. Kuasa ada di dalam Yesus Kristus.
Implikasinya murid-murid harus sadar bahwa mereka diberikan kuasa itu bukan karena mereka sendiri tetapi karena pemberian Tuhan. Mereka diberikan. Mereka dianugerahkan. Mereka diperlengkapi. Mereka disertai. Mereka dilindungi. Maka murid-murid harus sadar bahwa Allahlah yang berperang bagi mereka. Murid-murid harus sadar bahwa semua keberhasilan pelayanan adalah karena pekerjaan Tuhan semata-mata.
Kemudian perkataan Yesus yang berikutnya sungguh luar biasa !
“Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”. Ini kalimat yang luar biasa ! Di dalam Alkitab diberitahukan prinsip supaya bersukacitalah senantiasa. Bersukacita dan mengucap syukur adalah yang dikehendaki Tuhan. Ini adalah emosi yang kudus. Di dalam jaman yang banyak menekankan perasaan maka kita harus mengetahui bagaimana seharusnya kita beremosi. Kita harus tahu bagaimana kita harus sukacita. Apa yang harus kita syukuri dan apa yang harus kita sukacitakan. Sukacita yang benar adalah sukacita yang kudus.
Yesus memberitahukan bagaimana seharusnya murid-murid bersukacita. Yaitu jangan bersukacita karena roh-roh takluk kepada mereka. Jangan bersukacita kalau mereka seakan-akan hebat di dalam pelayanan. Ini hanya anugerah. Tetapi marilah bersukacita karena nama mereka ada disurga. Bersukacita karena murid-murid sudah diselamatkan Tuhan.
Sekali lagi Tuhan Yesus hendak membawa murid-murid kepada prinsip nilai yang benar. Yang mana yang harus mereka sukacitakan : Pelayanan berhasil atau keselamatan itu sendiri ? Yang mana yang harus difokuskan : Saya yang mengerjakan pelayanan atau Bapa di surga yang menyelamatkan ? Fokus kepada kehebatan saya atau melihat semua itu hanya anugerah Tuhan ? Intinya mana yang lebih prioritas dan lebih penting : Kuasa terhadap roh atau keselamatan ?
Jawabannya tentu keselamatan lebih penting daripada kuasa pelayanan mengalahkan roh.
Yesus bukan membuat murid-murid tidak bersukacita sebaliknya hendak membuat mereka bersukacita dan dengan sukacita yang benar. Kalau kita merenungkan dengan lebih dalam : Ketika murid-murid mengenal Injil maka itu adalah berkat yang sangat luar biasa. Ketika murid-murid kenal Yesus maka itu anugerah yang luar biasa.
Mengapa seharusnya murid-murid bersukacita ? Mengapa seharusnya mereka bergembira ? Karena melalui Injil mereka dibenarkan dan disucikan. Karena melalui Injil mereka mengenal keselamatan.
Mari kita bayangkan. Murid-murid adalah orang Yahudi dan pada saat itu pengajaran agama Yahudi menekankan melakukan hukum Taurat untuk menyelamatkan mereka. Mereka harus berusaha mendapatkan kebenaran diri mereka sendiri dengan perbuatan agamawi. Ini adalah motivasi dari agama. Mereka harus saleh dengan kesalehan mereka sendiri supaya diselamatkan. Supaya dibenarkan Allah mereka harus bertindak benar. Tetapi sejujurnya hati mereka sadar bahwa mereka tidak bisa mencapai hukum Allah. Hati mereka sadar bahwa mereka lemah. Maka mereka dituduh dan dihukum oleh karena hukum Taurat. Mereka sadar mereka tidak benar. Mereka mau melakukan perbuatan keagamaan tetapi mereka sadar mereka berdosa. Mereka tidak bisa menyelamatkan diri mereka. Taurat menyadarkan mereka akan dosa dan kebutuhan akan Injil. Karena itu mereka butuh Injil.
Dan murid-murid bersyukur karena mereka menemukan keselamatan di dalam Injil. Mereka diselamatkan bukan oleh perbuatan mereka tetapi oleh kasih karunia. Mereka diselamatkan bukan oleh kebenaran mereka tetapi karena pemberian Allah. Mereka menerima pengampunan Tuhan. Mereka menerima anugerah yang besar yaitu keselamatan. Mereka menerima Injil. Mereka dibenarkan. Justify. Bukan hanya dibenarkan tetapi juga dikuduskan. Sanctify Mereka menerima keselamatan.
Saudara-saudari, seharusnya kita bersyukur karena Injil yang menyelamatkan kita. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Kita harusnya bersyukur karena kita diselamatkan karena Injil. Kita dibenarkan karena jasa Kristus dan kita menerima Injil ini melalui iman. Hidup kita dari kita lahir baru sampai kita mati, kita membutuhkan Injil. Injil bukan hanya ketika kita percaya Yesus dan kemudian kita tidak perlu Injil lagi. Kita memerlukan Injil setiap hari. Kita memerlukan anugerah Tuhan setiap hari. Kita membutuhkan pengampunan setiap hari.
Keselamatan memang sekali untuk selamanya tetapi di dalam proses keselamatan itu kita terus memerlukan Injil. Kenapa kita memerlukan Injil terus walaupun sudah diselamatkan ? Karena kita memerlukan pengampunan setiap hari. Kemudian juga walaupun kita sudah dibenarkan dihadapan Allah karena jasa Kristus, kita harus merealisasikan pembenaran itu di dalam hidup kita dengan iman terhadap Injil. Dengan memperhitunkan jasa Kristus.
Di dalam banyak bercakap-cakap dengan teman-teman dan juga dengan merefleksi terhadap diri sendiri, maka saya mendapatkan satu pengertian bahwa kita perlu Injil setiap hari. Mengapa ? Banyak orang dan juga termasuk saya yang saya jumpai bahwa mendasarkan hidup mereka dengan performance. Live by performance. Mereka mendapatkan kepuasan kalau mereka sudah melakukan ini dan itu. Ditambah pikiran modern yang merasuki banyak manusia sehingga mereka melihat nilai diri berdasarkan kehebatan, kepintaran, produktivitas, kesehatan, kecakapan, keindahan rupa. Dan mereka berusaha mendapatkan pembenaran diri dihadapan Tuhan dan manusia dengan semua itu. Ketika tidak mencapai semua itu maka mereka minder, mereka down, mereka iri hati kepada orang lain, kompetisi dengan orang lain, membandingkan diri dengan orang lain, benci orang lain dan mereka dapat mengalami depresi.
Kita diselamatkan oleh Injil tetapi juga hidup oleh Injil. We live not by performance but by grace. Kita bukan dibenarkan oleh performance kita tetapi oleh anugerah Tuhan. Kalau saudara-saudari menyadari berita ini maka di dalam hidup pasti akan ada sukacita yang luar biasa. Ada kebebasan yang luar biasa. Karena kita tidak mendasarkan pembenaran diri, nilai diri berdasarkan performance tetapi berdasarkan anugerah. Bukan berdasarkan kegiatan keagamaan tetapi berdasarkan anugerah. Yaitu berdasarkan jasa Kristus di kayu salib.
Namun setelah kita mendapatkan anugerah yang luar biasa maka kita juga ingin terus mengalami perubahan hidup dan pengudusan. Tetapi semangatnya lain. Bukan membenarkan diri berdasarkan performance tetapi berdasarkan anugerah dan dengan anugerah terus bergumul di dalam proses pengudusan. Inilah sanctification. Performance ada tempatnya di dalam hidup kita tetapi performance itu bukan untuk pembenaran hidup kita tetapi pergumulan kita untuk mengasihi Tuhan. Kita hidup bukan dengan law tetapi dengan grace tetapi setelah mendapatkan grace kita mau melaksanakan law karena mengasihi Tuhan. Pengertian ini bagi saya adalah satu terobosan besar yang bisa membuat kita bersukacita. Kita diselamatkan karena Injil. Kita dibenarkan. Disucikan. Maka seharusnya kita bersukacita atas hidup kita karena keselamatan yang Tuhan berikan.
Kembali kepada cerita murid-murid dan Yesus. Yesus mengatakan bahwa “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”
Kemudian Alkitab mencatat bahwa Yesus bergembira pada saat itu. Emosi Kristus adalah emosi yang kudus maka marilah kita renungkan apa kegembiraan Yesus saat itu.
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."
Yesus bergembira dalam Roh Kudus dan bersyukur kepada Bapa. Semua pribadi Allah Tritunggal ada di dalam ucapan syukur ini. Yesus bersyukur kepada Bapa karena Bapa menyatakan keselamatan kepada orang kecil yang dikasihiNya. Yesus bersyukur buat keselamatan murid-murid. Yesus juga bersukacita karena keselamatan dari orang-orang yang diinjili oleh murid-muridNya. Yesus bergembira karena keselamatan orang percaya. Di dalam semua itu Yesus mengakui bahwa semua keselamatan itu karena kasih dan hikmat Bapa. Semua keselamatan ini karena kehendak Bapa. Orang bisa percaya kepada Kristus karena diserahkan oleh Bapa kepada Kristus. Orang bisa mengenal Kristus karena Kristus berkenan menyatakan diriNya.
Sungguh indah sekali bahwa Tuhan Yesus ikut bersyukur atas keselamatan dari orang percaya. Alkitab mengatakan bahwa kalau ada orang yang percaya maka malaikat di surga pun turut bersukacita. Lebih daripada itu maka Allah pun bersukacita. Tuhan Yesus bersukacita.
Sesudah berdoa dan bersyukur kepada Bapa maka Tuhan Yesus berpaling kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."
Murid-murid Tuhan Yesus dikaruniakan anugerah Tuhan untuk melihat kerajaan Allah di dalam diri Yesus Kristus. Kitapun sebagai murid-murid Tuhan bersyukur boleh mendengar berita ini dan melihat dengan mata iman. Dan kita adalah orang-orang yang berbahagia. Yang diberkati. Yang menerima anugerah. Yang dikasihi Allah.

Aplikasi bagi kita
Kita bersyukur bahwa kita boleh hidup oleh anugerah Tuhan. Kita boleh mengenal Yesus Kristus dan hidup melalui Injil. What a blessing life.

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Jakarta, Institut Reformed
22 Maret 2008


No comments:

LIMPINGEN BLOG