Thursday, November 01, 2007

Puisi kasih di dalam Kidung Agung 4

Puisi kasih di dalam Kidung Agung 4
Jeffrey Lim

Pengantar

Kalau kita menanyakan kitab apakah yang paling sulit diterima banyak orang sebagai kitab yang rohani di dalam Alkitab ? Mungkin secara umum orang menjawab : Pengkotbah dan Kidung Agung. Pengkotbah sekilas pesannya seperti mengajarkan pesimisme dan nihilisme walaupun sesungguhnya sama sekali bukan demikian. Sedangkah Kidung Agung dianggap sebagai kitab yang melukiskan hubungan kasih dan seksual yang mungkin terkesan kurang rohani bagi sebagian orang. Tetapi sesungguhnya kalau kita sungguh-sungguh menyelidiki bahwa orang Yahudi memandang kitab ini sebagai kitab yang sakral bahkan lagu dari segala lagu. Kidung Agung merupakan ruang yang maha kudus karena kitab ini melukiskan selain hubungan perjanjian di antara suami dan istri juga adalah melukiskan hubungan Allah dengan umatNya dan Kristus engan jemaat.

Pertama-tama kitab Kidung Agung membuat kita merenungkan apakah sesuatu yang bersifat intim dan seksual itu sesuatu yang berdosa ? Kemudian apakah seks itu berdosa ? Apakah berbicara mengenai seks itu tidak rohani ?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat bahwa kalau sesuatu itu di dalam prosedur yang benar sesuai dengan Firman Tuhan adalah tidak apa-apa. Sesuatu yang bersifat intim dan seksual itu hanya diperbolehkan di dalam pernikahan. Kitab Kejadian 2 sudah memberikan dasar untuk hubungan suami-istri. Allah sendiri mengatakan bahwa tidak baik manusia seorang diri maka Allah menciptakan penolong yang sepadan bagi Adam. Kemudian Alkitab mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan akan bersatu dan meninggalkan ayah dan ibunya. Ini satu pengajaran bahwa bila kedua pasang laki-laki dan perempuan menikah maka mereka harus mandiri dan tidak bergantung lagi kepada orang tuanya. Mereka sudah membentuk keluarga yang baru dimana orang tua tidak boleh mengganggu keluarga baru ini. Mereka berpisah dengan orang tua mereka.
Ketika Hawa diberikan kepada Adam maka Adam pun berpuisi memuji Hawa. Sesuatu pujian di antara suami dan istri adalah satu sikap yang saling menghargai dan bersyukur buat anugerah yang Tuhan berikan kepada mereka. Amsal mengatakan “Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.” (Amsal 19:14). Mendapatkan isteri adalah anugerah Tuhan. Amsal juga memberikan pujian kepada isteri yang cakap. “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” (Amsal 31:10). Nilai seorang isteri adalah lebih daripada permata.
Laki-laki dan perempuan yang menikah akan bersatu dan keduanya akan menjadi satu keluarga, satu visi dan satu daging. Ini melukiskan adanya kesatuan di dalam pernikahan. Hubungan dua menjadi satu adalah hubungan yang paling intim di mana ini dianalogikan dengan hubungan diantara pribadi Allah Tritunggal dan juga hubungan Kristus dengan jemaat. Hubungan kovenan antara Allah dan umatNya dilukiskan dengan hubungan pernikahan.
Alkitab mengajarkan bahwa di dalam Kej 4 dituliskan “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."” (Kej 4:1). Kata bersetubuh adalah kata yang diterjemahakan oleh LAI dan kata itu artinya tepat terjemahannya namun di dalam bahasa asli lebih jelas bahwa kata yang digunakan adalah “yada” yang artinya mengenal. Ini melukiskan bahwa di dalam hubungan suami istri ada saling mengenal dan saling telanjang satu sama lain baik secara fisik maupun secara pikiran dimana mereka saling mengenal.
Kesimpulan dari pemaparan Firman Tuhan ini adalah bahwa hubungan intim di antara laki-laki dan perempuan adalah tidak berdosa bahkan suci di dalam pernikahan. Tetapi ada pandangan filsafat kafir yang mengajarkan bahwa seksualitas itu sesuatu yang berdosa. Ini juga pandangan yang dianut oleh Bapak Gereja Agustinus dimana dia pada masa mudanya banyak hidup tidak beres di dalam hal seksualitas. Namun sebenarnya Alkitab mengajarkan bahwa seks itu suci di dalam pernikahan.
Kemudian timbul pertanyaan bahwa apakah berbicara mengenai seks itu kurang rohani ? Kalau kita selidiki bahwa di dalam dunia sekarang salah satu hal yang paling digemari manusia berdosa adalah hal-hal yang berbau seksualitas. Di dalam majalah remaja, majalah wanita, majalah pria, film-film, holywood semua mengekspos hal-hal yang berbau seksualitas. Bahkan majalah-majalah banyak menawarkan tip-tip bagaimana supaya bisa berhubungan seks dengan lebih memuaskan. Budaya dunia kita yang berdosa ini sering berbicara mengenai seks secara pemuasan nafsu. Nafsu ( lust ) adalah sesuatu yang berdosa dan literatur seksual yang mengekpos nafsu adalah tidak rohani. Tetapi bagaimana dengan kitab Kidung Agung yang sepertinya membicarakan hal-hal seksualitas ? Apakah ini tidak rohani ?
Satu hal yaitu jika kitab ini tidak rohani maka kitab ini tidak akan dimasukkan ke dalam kanon perjanjian lama oleh orang Yahudi. Tetapi orang Yahudi sendiri mengakui bahwa kitab ini adalah kitab yang suci. Kitab Kidung Agung adalah buku yang suci dimana sebenarnya di dalam kidung agung adalah dijelaskan hubungan seksual dengan prinsip-prinsip yang seharusnya. Alkitab begitu terbuka dengan transparan memaparkan hal-hal seksualitas. Tetapi hal ini bukan untuk mengumbar nafsu namun untuk melukiskan keindahan seksualitas yang suci adanya di dalam hubungan suami istri. Ini adalah natural alamiah yang Tuhan sudah ciptakan. Tuhan Allah bahkan memberikan tempat untuk membicarakan hal-hal seksualitas dengan prinsip yang benar.

Dan sekarang marilah kita masuk untuk memaparkan prinsip-prinsip pernikahan di dalam kitab Kidung Agung 4 ini !

Mempelai laki-laki memuji mempelai perempuan

Lihatlah, cantik engkau, manisku,
sungguh cantik engkau!

Di dalam hal ini pengantin laki-laki memuji pengantin perempuan. Pujian ini adalah pujian yang tulus dari dalam hatinya. Ini bukan bicara sembarangan untuk menyenangkan hati sang mempelai perempuan belaka. Ini adalah satu penghargaan dari pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuan. Pengantin laki-laki bersyukur dan menikmati keberadaan pengantin perempuan dan menemukan arti yang indah di dalam diri pengantin perempuan. Ini baik keindahan secara fisik maupun keindahan secara rohani. Prinsip Alkitab secara keseluruhan memandang keindahan di dalam diri perempuan terutama adalah karakter dan rohaninya. Amsal mengajarkan bahwa “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. “ (Amsal 31:30).

Pengantin laki-laki melanjutkan memuji keindahan pengantin perempuan di dalam ayat-ayat berikutnya :

Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu.
Rambutmu bagaikan kawanan kambing
yang bergelombang turun
dari pegunungan Gilead.
Gigimu bagaikan kawanan domba
yang baru saja dicukur,
yang keluar dari tempat pembasuhan,
yang beranak kembar semuanya,
yang tak beranak tak ada.
Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu,
dan elok mulutmu.
Bagaikan belahan buah delima pelipismu
di balik telekungmu.

Di bagian ini pengantin laki-laki melukiskan wajah pengantin perempuan di dalam puisi yang indah. Rambut bagaikan kawanan kambing yang bergelombang berarti rambut perempuan itu panjang dan seperti bulu kambing yang lembut ini membuat pengantin laki-laki ingin membelai rambut itu.

Lehermu seperti menara Daud,
dibangun untuk menyimpan senjata.
Seribu perisai tergantung padanya
Dan gada para pahlawan semuanya.

Pada bagian ini nuansa yang bersifat feminin berganti menjadi nuansa yang bersifat maskulin. Leher gadis yang indah koq dilukiskan dengan menara. Ini mengajarkan bahwa gadis ini bukan gadis yang biasa tetapi seseorang yang mempunyai prinsip. Bahkan gadis ini adalah gadis yang mandiri. Dia sebenarnya seorang yang bisa menghidupi dirinya sendiri dan bukan seorang yang menumpang hidup pada laki-lakinya. Dan kalau gadis ini hendak menikah dengan sang laki-laki adalah bukan karena sekedar berlindung karena gadis ini adalah gadis yang mandiri. Gadis ini menikah karena mengasihi sang lakinya. Kasih lah yang mendasari pernikahan mereka. Bukan ekonomi ataupun kebergantungan.

Seperti dua anak rusa buah dadamu,
seperti anak kembar kijang
yang tengah makan rumput di
tengah-tengah bunga bakung.
Sebelum angin senja berembus
dan bayang-bayang menghilang,
aku ingin pergi ke gunung mur
dan ke bukit kemenyan.
Kali ini masuk ke pelukisan yang mungkin kedengarannya seperti hal yang kurang rohani. Melukiskan buah dada dimana sang laki-laki ingin pergi ke gunung mur dan ke bukit kemenyan. Sebenarnya Alkitab melukiskan hal ini dengan sangat halus dan sangat sopan. Satu hal yang kita ketahui bahwa buah dada seorang wanita adalah sesuatu yang dimana seorang laki-laki yang menjadi suami akan senang untuk membelainya. Hal ini kedengarannya seperti kotor bagi beberapa telinga. Tetapi ini adalah sejujurnya dan adalah natur yang Allah sudah ciptakan pada laki-laki. Namun hal ini hanya boleh ada di dalam pernikahan suci yang Tuhan tetapkan.

Engkau cantik sekali, manisku,
tak ada cacat cela padamu.
Turunlah kepadaku dari gunung
Libanon, pengantinku,
datanglah kepadaku dari gunung Libanon,
turunlah dari puncak Amana,
dari puncak Senir dan Hermon,
dari liang-liang singa,
dari pegunungan tempat macan tutul!

Pengantin laki-laki disaat ini mengajak pengantin perempuan untuk mendekat kepadanya. Ini bukan sesuatu pemaksaan. Pernikahan adalah bukan pemaksaan tetapi kerelaan kedua belah pihak. Pengantin laki-laki memuji pengantin perempuan dan dengan hal yang gentle dan aman mengajak pengantin perempuan untuk lebih intim.

Engkau mendebarkan hatiku,
dinda, pengantinku,
engkau mendebarkan hati dengan
satu kejapan mata,
dengan seuntai kalung
dari perhiasan lehermu.
Betapa nikmat kasihmu, dinda,
pengantinku!
Jauh lebih nikmat cintamu dari pada anggur,
dan lebih harum bau minyakmu
dari pada segala macam rempah.
Bibirmu meneteskan madu murni, pengantinku,
madu dan susu ada di bawah lidahmu,
dan bau pakaianmu
seperti bau gunung Libanon.

Selanjutnya di bagian ini adalah dimana pengantin laki-laki melanjutkan mengutarakan isi hatinya. Pengantin laki-laki mengatakan bahwa kasih mempelai perempuan adalah lebih nikmat dari pada anggur. Sulit sekali bagaimana melukiskan dengan kata-kata bagaimana pengantin laki-laki sangat berdebar-debar dan menikmati semua keindahan anugerah yang Tuhan berikan di dalam pengantin perempuan. Bahkan bibir meneteskan madu ini sesuatu yang manis yang tentunya menjelaskan kecupan. Rasanya lebih jelas membaca langsung dari puisi ini daripada sekedar dijelaskan.

Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau,
kebun tertutup dan mata air termeterai.
Tunas-tunasmu merupakan kebun
pohon-pohon delima
dengan buah-buahnya yang lezat,
bunga pacar dan narwastu,
narwastu dan kunyit, tebu dan kayu manis
dengan segala macam pohon kemenyan,
mur dan gaharu,
beserta pelbagai rempah yang terpilih.
O, mata air di kebun,
sumber air hidup,
yang mengalir dari gunung Libanon! –

Pada bagian ini, pengantin laki-laki memuji keperawanan pengantin perempuan yang dilukiskan dengan kebun yang tertutup dan mata air yang termeterai yang tidak dibuka dan tercurah pada orang lain. Keperawanan adalah sesuatu yang sangat penting di dalam pernikahan. Keperawanan hanya boleh diberikan kepada orang yang menjadi pasangan hidup. Demikian juga keperjakaan.
Di dalam dunia yang banyak dosa ini, apalagi kalau melihat konteks amerika, keperawanan dan keperjakaan mulai merupakan hal yang langka. Budaya berdosa di amerika mengajarkan bahwa bila seseorang berumur 19 tahun dan masih perawan ini sesuatu yang memalukan karena tidak laku. Tetapi betapa terbaliknya konsep dunia yang berdosa ini. Keperawanan dan keperjakaan adalaah sesuatu yang harus dijunjung tinggi karena ini adalah kesucian hidup.

Kedua mempelai saling menyapa

Bangunlah, hai angin utara, dan
marilah, hai angin selatan,
bertiuplah dalam kebunku,
supaya semerbaklah
bau rempah-rempahnya!
Semoga kekasihku datang ke kebunnya
dan makan buah-buahnya yang lezat. ( Kid 4:1-16)

Pada saat ini adalah bagian dialog dari pengantin perempuan dimana dia sendiri dengan rela hati membuka dirinya untuk berhubungan intim dan dalam. Pengantin perempuan rela karena dia sadar kekasihnya adalah orang yang dikasihinya yang adalah suaminya. Ini bukan pemaksaan. Tetapi kerelaan karena orang yang dikasihinya.

Kesimpulan
Dari kitab Kidung Agung pasal 4 ini, kita dapat belajar banyak hal mengenai seksualitas :
Seksualitas itu hal yang suci dan tidak berdosa
Berbicara mengenai seksualitas Alkitab memberikan tempatnya
Seksualitas hanya boleh di dalam pernikahan
Adanya relasi yang saling menghargai di antara laki-laki dan perempuan
Hubungan intim antara suami dan istri demikian terbuka dan suci
Hubungan intim ini didasari oleh kasih
Hubungan intim ini bukan didasari oleh pemaksaan dan tetapi kerelaan karena kasih


Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Jakarta, 23 Oktober 2007
Di saat merenungkan dan merefleksikan dari kotbah chapel
:) Bukan Sharing Pribadi :) Tapi hasil refleksi imaginasi :)


1 comment:

Arie said...

Very SHARP! :)

LIMPINGEN BLOG