Thursday, November 08, 2007

Teologi Kenikmatan dan Depresi

Teologi Kenikmatan dan Depresi

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” ( Maz 34:8 )

Banyak orang mencari bahagia di dalam dunia ini. Orang hidup mau senang, mau bahagia, mau sukacita. Manusia mencari ini pergi kemana-mana dan mencoba dengan banyak cara. Ada yang mencari dengan uang, dengan kedudukan, dengan nama yang terkenal, atau dengan status dalam masyarakat, atau dengan pasangan hidup, atau dengan agama, dengan pendidikan, dengan hikmat, dan masih banyak cara yang manusia cari. Aristoteles, seorang filsuf mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah supaya bahagia. Manusia ingin mencari kepenuhan hidup. Hidup yang penuh dengan arti. Hidup yang penuh dengan warna. Hidup yang penuh kelimpahan. Hidup yang penuh dengan sukacita.

Marilah kita renungkan bahwa apa itu bahagia ? Bolehkah kita orang Kristen bahagia ? Bolehkah kita mencari sukacita ? Bolehkah orang percaya mengejar kebahagiaan ? Bolehkah tujuan hidup mencari bahagia ? Kedengarannya pertanyaan ini seperti duniawi dan sekular. Pertanyaan ini sepertinya seperti filsafat dunia yang mengajarkan untuk mengejar kebahagiaan. Berkesan egois, berpusat pada diri. Bukankah ajaran orang Kristen mengajarkan teologi salib ? Bukankah Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk mengikuti Dia maka kita harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia ? Alkitab juga mengajarkan bahwa bila kita mengikut Kristus sungguh-sungguh maka kita akan menderita aniaya. Jadi bolehkah orang percaya mencari sukacita di tengah dunia ini ? Realita di dalam dunia ini adalah adanya penderitaan. Ini realita yang kita sebagai manusia hadapi karena kita sudah jatuh di dalam dosa. Di dalam dosa adanya penderitaan, kesengsaraan, sakit penyakit, konflik, permusuhan, dan kematian. Dosa mengakibatkan kemalangan di dalam hidup manusia. Bolehkah di dalam dunia yang penuh penderitaan ini orang percaya mencari kebahagiaan ?
Apa itu bahagia ? Bolehkah kita mencari bahagia ? Apakah itu bahagia sejati ? Di mana kita dapat memperolehnya ? Westminster Conffesion of faith mengatakan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmatiNya selama-lamaNya. John Piper menginterpretasikan dengan mengatakan tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Tuhan dengan bersama-sama menikmatiNya. Jadi panggilan hidup kita bukan hanya memuliakan Tuhan saja tetapi memuliakan Tuhan dengan bersama-sama menikmatiNya. Sebab memuliakan Tuhan itu menikmatiNya dan menikmati Tuhan adalah memuliakan nama Tuhan.
Tuhan adalah sumber sukacita. Alkitab juga mengajarkan “Bergembiralah di dalam Tuhan maka Ia akan memberikan apa yang diinginkan hatimu” ( Maz 37 ). Paulus menulis dalam suratnya di Filipi dan mengatakan “Bersukacitalah senantiasa”. Kondisi Paulus ketika menulis surat adalah di penjara namun isi suratnya berisi sukacita yang tidak terlukiskan. Dalam hal ini berarti Alkitab juga mengajarkan supaya anak-anak Tuhan bersukacita. Sukacita sejati hanya ada di dalam Tuhan. Jadi bolehkah kita orang percaya bersukacita ? Jawabannya adalah boleh. Namun bagaimana dengan teologi salib yang mengajarkan bahwa orang percaya harus memikul salib ? Bukankah memikul salib itu suatu dukacita ? Bukankah memikul salib itu sesuatu yang berat ?
Ingatlah satu hal para pembaca yaitu bahwa tujuan dari memikul salib itu adalah mahkota. Tujuan dari memikul salib adalah kemuliaan. Setelah orang percaya memikul salib maka ada sukacita yang jauh melampaui penderitaan ini. Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan di dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita terima di masa yang akan datang. ( Rom 8:28-36 ).
Jadi ketika kita memikul salib itu sebenarnya kita akan meraih kebahagian di masa akan datang. Dengan menyangkal diri dan memikul salib dan mengikut Tuhan Yesus maka kita akan bahagia. Kedengarannya hal ini sepertinya aneh bukan ? Tetapi justru di dalam memikul salib ini sebenarnya kita bahagia. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan. Bila kita memahami bahwa sebenarnya memikul salib itu adalah mengasihi Tuhan kita maka kita akan merasakan ringan. Perintah Tuhan itu menjadi tidak berat. Tuhan memberikan kekuatan untuk melakukannya dan bahkan kita bersukacita di dalam melakukannya. Paulus sendiri di dalam jerih payahnya mengalami sukacita dari surga di dalam hatinya.
Maka itu marilah kita bersukacita di dalam Tuhan. Sukacita yang mengalir dari hati itu akan keluar dengan memuji Tuhan. Sukacita kepada Tuhan diekspresikan dalam pujian kepada Tuhan. Mulut kita mengatakan apa yang ada di dalam hati kita. Memuji Tuhan itu indah ! Ini sukacita. Bagaimana supaya kita makin bersukacita di dalam Tuhan ? Salah satu kunci sukacita dalam Tuhan adalah dengan mengucap syukur. Mengucap syukur adalah berarti menerima kebaikan Tuhan, menikmatiNya dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Hitunglah berkat-berkat Tuhan di dalam setiap hari dan setiap peristiwa dan ucapkanlah syukur. Puji Tuhan buat semua hal baik hal yang baik atau hal yang buruk. Semua ini mendatangkan sukacita. Bagaimana juga supaya kita makin bersukacita di dalam Tuhan ? Kunci yang lain adalah dengan ketaatan. Dengan ketaatan kita kepada Tuhan dan FirmanNya maka akan mendatangkan sukacita dan damai sejahtera yang Tuhan berikan. Karena itu marilah kita menaati Firman Tuhan. Setelah orang percaya menerima Kristus dan hidup baru di dalam status dan natur yang baru maka hukum Tuhan itu bukan lagi menghukum. Tetapi sebaliknya Firman Tuhan menjadi sesuatu yang dikasihi orang percaya. Dan bahkan Tuhan sendiri memberikan kekuatan kepada orang percaya untuk melakukan Firman Tuhan. Ketika kita menaatinya maka kita akan bersukacita.
Hidup untuk Tuhan adalah cara mendapatkan mendapatkan bahagia sejati. Persekutuan dengan Allah mengakibatkan kebahagian sejati. Orang yang berbahagia adalah orang yang mengasihi Tuhan dan mengikuti perintahNya. Maukah saudara/i mendapatkan bahagia sejati ? Maukah saudara/i mendapatkan pemenuhan sejati seperti janji Tuhan Yesus bahwa Ia datang untuk memberikan hidup yang kelimpahan ? Maukah saudara/i bisa mengatakan “Aku puas” dalam hidupmu ? Datanglah kepada Tuhan kita sumber air hidup dan niscaya jiwamu akan dipuaskan ! Marilah datang kepada Tuhan dan merasakan anugerahNya.
“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” ( Maz 34:8 )
Kita mengerti bahwa mengecap adalah lidah kita merasakan rasanya sesuatu. Melihat adalah mata kita menangkap cahaya dari satu objek yang diamati. Semua ini adalah inderawi kita. Inderawi kita adalah indera untuk menangkap dunia eksternal ini. Inderawi kita adalah untuk merasakan dunia eksternal ini. Inderawi kita adalah untuk bersentuhan dengan realitas ini.
Namun satu hal yang menarik dikatakan bahwa kecap dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu. Disini alat untuk mengecap dan melihat pasti bukan sedekar jasmani. Namun alat untuk mengecap dan melihat adalah secara rohani. Ini berarti iman kita diperlukan supaya kita dapat mengecap kebaikan Tuhan dan melihat kebaikan Tuhan. Iman berkaitan dengan pengalaman. Iman berkaitan dengan melihat sesuatu yang tidak kita lihat dengan mata jasmani. Iman berkaitan dengan realitas rohani.
Di dalam ayat ini dikatakan bahwa kita diminta untuk mengecap dan melihat kebaikan Tuhan. Ini adalah perintah. Perintah untuk menikmati Tuhan. Marilah kita rasakan dan nikmati bahwa Tuhan itu baik adanya. Pemazmur mengatakan bahwa kasih setia Tuhan lebih baik daripada hidup. Tuhan adalah bagianku. Dan satu hal yang paling mengesankan adalah Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya. Kasih setia Tuhan atau biasa disebut dengan hesed adalah kasih Tuhan terhadap umat perjanjianNya. Tuhan adalah Tuhan perjanjian yang setia dengan umat perjanjianNya.
Tuhan itu baik. Tuhan itu setia. Tuhan itu kasih. Tuhan itu bijaksana. Kita harus menikmati semuanya ini. Kita harus menikmati anugerah Tuhan.
Aplikasi bagi bahagia, bersukacita, menikmati hidup dengan Depresi yaitu orang yang mengalami Depresi harus belajar untuk menikmati Tuhan. Kita dapat menikmati Tuhan di dalam doa, persekutuan denganNya dan di dalam FirmanNya. Tetapi kita juga dapat menikmati Tuhan di dalam alam semesta. Alam semesta ini diciptakan untuk kemuliaan nama Tuhan dan juga untuk dinikmati manusia. Ini hal yang sejalan dan bukan bertentangan. Kita dapat menikmati Tuhan di dalam alam semesta dan menikmati Tuhan di dalam memuliakanNya adalah panggilan hidup kita.
Dengan berfokus pada menikmati Tuhan dan anugerahNya maka penderita Depresi akan keluar dari fokus kepada depresi dan masalah. Sebaliknya Penderita Depresi akan mengalami sukacita karena Tuhan itu sumber sukacita dan memberikan sukacita dan damai sejahtera.

This is My Father’s World
( Maltbie D. Babcock, 1901, TERRA BEATA )

This is my Father’s world, and to my listning ears
All nature sings, and round me sings
The music of the spheres
This is my Father’s world : I rest me in the thought
Of rocks and trees, of skies and seas;His hand the wonders wrought


No comments:

LIMPINGEN BLOG