Tuesday, April 07, 2009

Hati-hati dengan kemungkinan pelanggaran perintah kedua dengan foto yang ditinggikan

Hati-hati dengan kemungkinan pelanggaran perintah kedua dengan foto yang ditinggikan
Jeffrey Limpingen

"You shall not make for yourself an idol in the form of anything in heaven above or on the earth beneath or in the waters below. You shall not bow down to them or worship them; for I, the LORD your God, am a jealous God, punishing the children for the sin of the fathers to the third and fourth generation of those who hate me, but showing love to a thousand generations of those who love me and keep my commandments. ( Keluaran 20:4-6 )

Biasanya kita menganggap pelanggaran perintah kedua ini bila kita membuat gambar atau patung-patung berhala dan menyembah mereka sebagai ilah. Tentunya penafsiran langsung seperti itu benar dan Alkitab pun mengajarkan hal itu. Namun ada aplikasi lain di jaman sekarang ini untuk melihat perintah kedua.
Di jaman dahulu kala, kita melihat bahwa seringkali orang-orang hebat dijadikan gambar atau patung dan disembah. Kita bisa lihat itu pada Kwan Kong seorang Jendral dari kerajaan Shu di jaman Tiga Kerajaan. Atau bisa saja figur-figur dari mitos dijadikan dewa dan disembah seperti Kwan Im, Ji lai hud, dll. Fenomena ini sudah kita saksikan sepanjang sejarah. Tetapi dijaman ini dimana manusia semakin mencintai diri sendiri maka ada fenomena manusia dapat menjadikan dirinya berhala.
Bila kita melihat ke dunia bintang film atau artis maka mereka disebut idola. Dan idola itu asal katanya adalah idol ( berhala ). Para bintang film dan artis itu dipandang oleh masyarakat umum sebagai penghibur masyarakat. Biasanya gambar dan foto mereka itu dipajang dan mereka dipuji-puji entah cakep, cantik, lucu, kuat atau apa saja karakteristik yang menarik dari mereka dipuji. Dan menariknya fenomena menyatakan bahwa kebanyakan hidup para artis berantakan dan kacau balau. Karena memang ketika manusia menjadikan dirinya berhala maka disana segala pelanggaran dosa masuk.
Ketika manusia menjadikan sesuatu menjadi idolanya maka idola itu akan membuat manusia itu ingin menyerupainya. Dan yang gawat adalah bahwa di dalam dunia sekarang di jaman multimedia ini banyak orang yang sedikit banyak walaupun tidak ada kesempatan menjadi artis secara umum tetapi mau mengangkat dirinya menjadi berhala dan pusat perhatian.
Bagaimana hal ini terjadi ?
Sekarang ini dunia digital dan foto dan webcam itu relatif jauh lebih murah dan lebih terjangkau di bandingkan jaman dahulu. Sebetulnya foto-foto yang kita pajang baik di facebook, di friendster, di web photo album atau di rumah itu pada dasarnya bersifat netral. Dan foto-foto itupun bisa digunakan untuk banyak nilai positif seperti mempersatukan, sebuah kenangan indah, sebuah persekutuan. Tetapi bisa dipakai negatif dan motivasi apa yang terdapat di dalam hati pribadi itulah yang di mata Tuhan dinilai. Memang betul apa yang dikatakan John Calvin bahwa hati kita adalah pabrik berhala dan seringkali ada satu fenomena di jaman sekarang bahwa orang sering ingin menonjolkan diri ( baik dia mengakui atau tidak ) dengan foto-foto yang ada. Ini memang menyatakan bahwa manusia di dalam dosa sering menjadikan dirinya pusat dan bukan Allah yang menjadi pusat. Ini adalah dosa kesombongan dari 7 dosa maut dan juga bisa di katakan sebagai vain glory.
Tujuan dari refleksi ini simple yaitu bukan untuk menurunkan setiap foto yang ada. Foto-fotopun banyak nilai positif tetapi untuk kembali memeriksa hati kita apakah motivasi kita memajang foto kita. Tentunya bila itu digunakan untuk persekutuan, untuk persahabatan, untuk persatuan, untuk kenangan itu adalah tindakan yang positif. Dan saya percaya foto itu bisa berarti indah tetapi kita harus berhati-hati jangan ada motivasi yang tersembunyi di balik pemasangan foto itu.

Kiranya renungan ini boleh menjadi berkat.

Jeffrey Limpingen
Selasa, 7 April 2009
Bandung

No comments:

LIMPINGEN BLOG