Tuesday, February 15, 2011

Refleksi tentang Berpikir

Refleksi tentang berpikir : : Tahu dari mana kita mengenal dan mengerti orang lain, diri sendiri dan sekitar kita dan ternyata pengertian itu benar ?

                Orang yang mengalami schizophrenia atau psychotic mengalami delusi dan halusinasi dimana pikiran, perasaan dan realitas yang dia alami dengan dunia luar ternyata tidak benar dan tidak real. Dari kasus ini ingin saya ambil waktu sejenak  untuk refleksi dan berpikir : bagaimana kita tahu bahwa pikiran kita itu benar sesuai dengan realitas ? Bagaimana kita yakin pikiran kita itu sinkron dengan realitas ?
Kalau kita pernah menonton film Matrix, disana ada satu pandangan kita mengenal realitas. Bagaimana kita tahu pikiran kita di dalam mengenal dunia luar ini benar ? Jangan-jangan kita otak kita sedang di plug in dengan computer dan semua pengenalan kita itu semua tidak real ? Sejauh mana pikiran kita itu benar-benar sesuai dengan realitas ?
                Ambil contoh sederhana lagi : ada sepasang orang suami istri yang berasal dari 2 kebudayaan yang berbeda sedang berkomunikasi. Istri berasal dari China dan suami berasal dari Amerika. Di dalam budaya china, minum teh adalah ada cangkir dan ada teko dari tanah liat dan ada tehnya di dalamnya. Di dalam budaya amerika, minum teh mungkin minum ice lemon tea. Ketika suami berbicara kepada istri untuk meminta minum teh, tahu dari mana pengertian tehnya itu benar ? Bila ternyata mereka akhirnya berkomunikasi dengan bahasa dan akhirnya mengerti pengertian mereka tentang minum teh itu akhirnya sama lalu apa yang menjadi kepastian bahwa pengertiannya benar ?
                Kemudian lebih lanjut : Waktu suami dan istri saling komunikasi dan saling mengenal. Tahu dari mana pengenalan di pikiran suami itu sama dengan realitas sebenarnya tentang istrinya. Dan tahu dari mana kata-kata dari istri itu pengertiannya sama dengan pengertian di dalam pikiran suaminya ? Apa dasar common ground untuk pengetahuan supaya komunikasi antar manusia bisa saling dimengerti ?
                Bagaimana bila ternyata waktu kita mengenal diri kita atau orang lain ternyata itu tidak sesuai dengan realitas fakta sebenarnya ?
                Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, coba pikirkan hal ini. Sebenarnya sesuatu itu indah karena itu pemahaman orang yang memandangnya atau itu ada di dalam benda itu sendiri. Itu objektif atau subjektif ? Waktu kita mengatakan perempuan itu cantik , itu cantik ada dimana ? Di pikiran kita atau di benda itu sendiri ? Bagaimana kalau ternyata kita bilang itu cantik dan ternyata pikiran kita tidak sinkron dengan realitas dan ternyata realitasnya tidak cantik ? Apakah pikiran kita benar ? Apa dasarnya ?
                Mungkin kita pikir buat apa perenungan seperti ini ? Bikin pusing saja. Bikin sakit kepala. Buat apa mikir-mikir, jalani aja. Tapi masalahnya ini serius kepada kehidupan. Bila ternyata pengertian kita tidak sinkron dengan realitas. Bila ternyata pengertian kita waktu kita komunikasi dengan pasangan kita ternyata interpretasinya tidak tepat maka kita sebenarnya teralienasi dengan realitas. Ini mengerikan !
                Misalnya kedua suami istri terus menerus ingin saling mengenal satu sama lain dan mereka saling mengasihi. Alangkah mengerikannya bila ternyata mereka merasa tidak mengenal pasangannya karena tidak ada kepastian bagaimana mereka bisa yakin pemahaman mereka itu sesuai dengan realitas.
                Juga ketika kita mengenal diri kita dengan kesadaran kita dan ternyata kita tidak mengenal diri kita. Itu mengerikan ! Kita teralienasi dengan pikiran kita. Realitas mengenai diri kita tidak sama dengan apa yang kita pikirkan atau rasakan.
                Tetapi bersyukur kepada Tuhan !
                Ternyata jawaban terhadap pergumulan ini ada !
                Kita bisa mengerti diri kita, orang lain, dunia di luar kita dan pengertian itu benar karena ada dasarnya. Dunia ini dunia ciptaan Tuhan. Dan Tuhan menciptakan dunia ini dengan FirmanNya.  Ciptaan Tuhan ini ada hukumnya. Hukum yang bersifat aspektual ini bersifat menyeluruh  dan multiaspektual. Bila kita mau mengerti apa yang indah di dalam sebuah benda, ada yang menjembatani keindahan yang ada di dalam benda itu dan keindahan di dalam pikiran kita. Yaitu hukum aspek keindahan. Hukum aspek keindahan ini ada di dalam benda itu dan ada di dalam pikiran kita. Dan ini hukum di alam semesta yang Tuhan ciptakan. Jadi hukum ini yang memediasi.
                Bila kita dan pasangan kita sedang berkomunikasi dan saling berbicara maka kita bisa saling mengerti satu sama lain karena hukum kategori pengertian di dalam pikiran kita dan hukum di dalam perkataan kita dan hukum kategori pengertian di dalam pikiran pasangan itu hukum yang sama. Baik dunia luar ini dengan dunia pikiran kita, hukum yang memediasinya sama. Karena dunia eksternal dan dunia internal kita ini sama-sama diciptakan oleh Firman Tuhan.
                Bersyukur untuk Firman Tuhan yang membuat kita bisa mengenal realitas dengan benar. Melalui Firman Tuhan kita bisa berpikir benar. Walaupun itu tidak sepenuhnya lengkap tetapi itu benar dan tepat. Jadi kita tidak usah jatuh ke dalam skeptisme atau jatuh ke dalam nihilism.

Puji Tuhan !
Jeffrey Lim
Selasa, 15 Februari 2011

No comments:

LIMPINGEN BLOG