Tuesday, February 15, 2011

Percakapan Yesus menerobos konsep wawasan yang dualisme ( Baik Platonisme Yunani maupun Gnostik )

Hari ini ketika saya sedang membaca Injil Yohanes 4-6, saya kembali dikagumkan oleh pengertian Firman Tuhan. Firman Tuhan benar-benar luar biasa, menyegarkan jiwa dan memberikan hikmat kepada yang tidak perpengalaman. Percakapan Yesus kepada orang-orang itu luar biasa. Mengapa ? Sebab Dia bukan saja manusia tetapi Dia adalah Allah. Marilah kita menyaksikan apa yang Dia katakan di dalam Yohanes 4-6.

Di mulai dengan Yohanes 4 dimana ada perempuan Samaria yang sedang menimba air. Saya coba mengutip Alkitab dimana Yesus berkata kepada perempuan Samaria : “Berilah Aku minum”. Perempuan Samaria itu heran karena orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi. Yesus berkata “jikalah engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu : Berilah Aku minum ! niscaya engkay telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Kata Perempuan itu kepadaNya : “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu ?” Apakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan suur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya ?. Jawab Yesus kepadanya : “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal”.

Sampai sini, seringkali di dalam membaca perikop ini, pikiran kita dipengaruhi konsep dualisme. Konsep dualisme itu beragam baik dari filsafat Yunani maupun juga dari Gnostik. Intinya membagi realitas menjadi 2 bagian yaitu unsur materi dan non materi dimana materi dipandang lebih rendah dan bahkan jahat daripada unsur non materi. Dan seringkali dengan memakai pola pikir dualisme kita mengerti bahwa unsur rohani itu adalah unsur non materi. Bagaimana bila pola pikir ini kita terapkan di dalam menafsirkan Alkitab. Pengertiannya  menjadi : Orang dunia pada umumnya mencari hal-hal materi seperti perempuan Samaria itu haus. Namun materi itu tidak memuaskan jiwa. Karena itu carilah hal-hal yang non materi sebab materi itu lebih jahat. Kepuasan ada di dalam hal-hal rohaniah ( dan seringkali konsepnya mistik ). Yesus menawarkan kepada perempuan Samaria hal-hal yang non materi yaitu air hidup. Yaitu kerohanian. Dan kemudian perempuan Samaria itu meninggalkan tempayannya yang materi dan hidup untuk yang non materi.

Kelihatannya seperti bagus juga bukan penafsirannya ? Tetapi penafsiran ini dualisme dan fragmentasi. Yesus sendiri mengajarkan bahwa manusia bukan hidup dari roti saja ( berarti perlu ) tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.  Problematis bila kita mengganggap materi itu jahat maka ada beberapa konsekuensi :
1. Realitas ciptaan Tuhan ada wilayah yang jahat. Secara doktrin penciptaan ada masalah.
2. Firman menjadi daging ( materi ). Allah menjadi manusia. Secara kristologi ada masalah
3. Bekerja menghasilkan materi menjadi problematis. Secara praktis kehidupan Kristen
4. Pekerjaan yang kelihatannya agamawi lebih rohani daripada pekerjaan yang sekular. Ini menimbulkan dualisme yang lain.
5. Dll.
Lanjut !

Nah kemudian bila kita melanjutkan pembacaan dari Yohanes 4. Setelah perempuan Samaria pergi,  murid-murid Yesus datang dan mengajak Dia, katanya : “Rabi, makanlah !”. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka : “PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal”. Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepadaNya untuk dimakan”. Kata Yesus kepada mereka : “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya”.

Sampai disini bila kita memakai pola pikir dualisme materi dan non materi. Maka penafsirannya berarti makanan yang bersifat materi itu lebih rendah. Dan Yesus mempunyai makanan yang lebih tinggi yaitu hal-hal kerohanian ( dalam arti non materi ). Benarkah penafsirannya tepat seperti itu ?

Mari kita lanjut !

Menariknya di dalam Injil Yesus peduli kepada hal-hal yang bersifat badaniah di dalam orang-orang yang ditemuinya. Yesus mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang sakit dll. Dan yang di dalam Yohanes 6 dicatat satu peristiwa dimana Yesus memberi makan 5000 orang. Ketika masa berbondong-bondong mengikuti Dia dan mereka perlu diberi makan maka Yesuspun memberikan mereka makan. Di dalam Injil lain kalimatnya begitu jelas yaitu “beri mereka makan !”. Di dalam semua ini tidak ada nuansa bahwa yang bersifat materi lebih rendah daripada  yang bersifat non materi. Agama Kristen adalah agama yang dipengaruhi Alkitab dan oleh hidup Yesus adalah agama yang sangat memperhatikan hal-hal jasmani. Kekristenan mempengaruhi bidang kedokteran , hak asasi manusia seperti kebebasan hak budak, melarang aborsi, melawan praktik ketidakmanusiaan seperti suami mati istri harus ikut mati, dll. Hal ini karena Kekristenan memandang bahwa tubuh manusia yang materi itu bernilai karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Materi tidak jahat. Karena materi adalah ciptaan Tuhan.

Pertanyaannya bagaimana kita bisa menerobos pemahaman dualisme materi dan non materi di dalam memandang realitas ? Titik puncak nanti ada di pengakuan Petrus.

Untuk itu mari kita lanjutkan.

Di dalam Yohanes 6 setelah Yesus memberi makan 5000 orang maka banyak orang mencari Yesus. Kemudian Yesus berkata : “sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu;  Sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa , Allah, dengan materaiNya. Sampai sini kita bisa terjebak pada pemikiran dualisme yang sama yaitu materi atau roti itu lebih rendah dan sementara dan karena itu mencari roti bersifat lebih rendah / jahat. Lebih baik mencari hal-hal rohani daripada roti yang sementara. Kelihatannya seperti masuk akal bukan penafsiran seperti ini ?
Di dalam perdebatan antara orang banyak dengan Yesus mengenai makanan dan juga manna di padang gurun, Yesus berkata di dalam pasal 6 ayat 32 : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan BapaKu yang memberikan kamu roti yang benar dari surga.

Sampai sini kita ada sedikit titik terang yaitu : Sumber roti itu Bapa. Sumber materi itu dari Allah. Karena itu tentunya baik. Sumber berkat adalah Allah. Di dalam Doa Bapa kami diajarkan “Give us our daily bread”. Sebenarnya berarti roti materi adalah sesuatu yang baik. Jujurnya kita juga setiap hari perlu materi baik makanan maupun pakaian dll. Itu semua baik adanya. Tetapi lebih dari itu Yesus di Matius 6:33 mengatakan Cari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua akan ditambahkan kepadaMu. Di perikop itu dikatakan bahwa Bapamu yang disurga tahu kebutuhanmu. Berarti memang materi dibutuhkan oleh manusia dan tidak jahat adanya. Roti itu perlu. Pakaian itu perlu. Namun ada sesuatu yang lebih dari hanya sekedar itu yaitu Yesus berkata : “Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepadaNya : “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.”.

 Kalau kita melihat perkataan Yesus disini sebenarnya ada pengertian yang luar biasa dalam. Perhatikan kata “hidup”. Roti hidup. Dan perhatikan perkataan selanjutnya mengenai hidup yang kekal Respon mereka bersungut-sungut karena Yesus telah mengatakan :”Akulah roti yang turun dari surga”. Kata mereka : “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal ? Bagaimana Ia dapat berkata : Aku telah turun dari surga ?”. Perdebatan mereka terus berlanjut sampai Yesus mengatakan perkataan yang keras yang sulit dimengerti secara hariah : “Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir jaman. Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu benar-benar minuman.” Ini perkataan yang keras yang mengakibatkan orang Kristen di abad-abad awal dituduh sebagai kanibalisme. Namun jangan diartikan harafiah. Perhatikan perkataan Yesus : “Barang siapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal did alam Aku dan Aku di dalam Dia.” Arti perkataan ini akan jelas di dalam peristiwa perjamuan terakhir ( The Last Supper ). 

Kemudian setelah mendengar perkataan keras yang sulit dimengerti itu maka banyak orang meninggalkan Yesus. Yesus berkata kepada kedua belas muridNya : “Apakah kamu tidak mau pergi juga ?” Jawab Simon Petrus : “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi ? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang Kudus dari Allah”. Mari saya ulangi penekanan jawaban Petrus :”PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal !”

Bagaimana supaya kita bisa memahami perikop ini keluar dari pola pikir dualisme yang memandang materi yang lebih rendah dan non materi yang lebih tinggi ? Jawabannya adalah perkataan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Apa maksudnya ?

Ada 2 hal yang perlu kita renungkan yaitu soal perkataan dan soal hidup. Sejak awal di atas ketika kita membahas mengenai roti itu semua dikaitkan dengan hidup. Tentunya orang makan roti supaya hidup. Dan apa hubungannya dengan perkataan ? Alkitab memberi jawaban bahwa perkataan Allah yang memberi hidup. Ini mengingatkan kita kepada Kitab Kejadian dimana ketika Allah berfirman maka jadilah langit dan bumi. Perkataan Allah yang menjadikan materi ini. Perkataan Allah yang menjadikan semua dunia dengan segala keindahannya ini baik dari  benda mati dan benda hidup : tumbuhan, hewan, dan manusia. Realitas tidak dibagi menjadi 2 bagian yaitu yang materi jahat dan yang batiniah baik. Di dalam Kitab Kejadian jelas bahwa realitas ini diciptakaan Tuhan dan semua baik adanya. Perkataan Allah yang membuat semuanya hidup. Perkataan Allah yang menopang alam semesta ini. Dan perkataan Allah itu adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah pencipta dan Yesus Kristus adalah yang menopang alam semesta ini dengan FirmanNya. Karena itu sumber kehidupan itu berasal dari Tuhan Allah adanya. Roti berasal dari Allah adanya.

Manusia hidup mencari roti tetapi jangan lupa bahwa kehidupan ini berasal dari Sang Pemberi hidup. Ketika kita makan roti kita jangan lupa bahwa kehidupan ini berasal dari Tuhan Allah dan kita harus hidup untuk Tuhan Allah. Yang hendak Tuhan Yesus ajarkan adalah supaya kita hidup untuk Tuhan Allah dan soal roti itu Yesus berkata : “Jangan kamu kuatir apa yang kamu makan, kamu pakai”. Bapa di surga tahu kamu membutuhkan roti dan itu tidak salah. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua akan ditambahkan kepadamu. Carilah pemberi hidup itu jangan pada roti yang nanti kamu lapar lagi. Roti itu sendiripun dari Sang Pemberi hidup.

Dari sini kita bisa simpulkan 2 macam hidup : hidup yang bertahan hanya karena roti. Tetapi hidup yang karena Roti hidup. Hidup yang hanya karena roti satu saat akan binasa bila tidak mempunyai Roti Hidup. Tetapi hidup yang karena Roti hidup adalah hidup yang kekal.  Seringkali kita mengerti bahwa hidup yang kekal adalah hidup setelah kematian. Tetapi yang lebih tepat adalah hidup yang kekal adalah hidup di dalam persekutuan dengan sumber hidup baik sekarang maupun yang akan datang setelah kita dibangkitkan. Hidup yang kekal dimulai dari sekarang. Dan supaya mendapatkan hidup yang kekal itu kita membutuhkan Roti Hidup yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Amin !
Jeffrey Lim
21 Januari 2011.

No comments:

LIMPINGEN BLOG