Monday, February 18, 2008

A friend loves at all times

A Friend love at all times
Jeffrey Lim

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Amsal 17:17)

Baca Amsal 17:17
Dikatakan bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. Di dalam bahasa Inggris dikatakan bahwa A friend love at all times.
Kalau kita membaca mengenai Amsal, Amsal ini banyak menuliskan mengenai hikmat orang Israel. Hikmat orang Yahudi berbeda dengan hikmat orang Yunani. Hikmat orang Yunani adalah akademis abstrak tetapi hikmat orang Yahudi adalah konkrit praktis. Hikmat orang Yahudi adalah bagaimana mempunyai skill untuk hidup yaitu hidup yang berbijaksana. Bijaksana ini supaya di dalam hidup kita mempunyai pengertian dan bisa menyelesaikan pergumulan dan kehidupan dengan baik. Orang dunia pun bisa mempunyai bijaksana tetapi bijaksana di dalam Ibrani adalah dikaitkan dengan Tuhan Allah. Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat.

Amsal 17:17 membicarakan mengenai sahabat atau teman. Teman adalah satu anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Kalau kita merenungkan lebih dalam : Mengapa manusia bersahabat dan berteman ? Mengapa manusia berelasi ? Mengapa manusia berkawan ?
Karena manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah dengan pola Allah Tritunggal. Allah Tritunggal tidak sendiri dan Allah Tritunggal adalah Allah yang berkomunitas. Pola Allah Tritunggal ini adalah yang menjadikan dasar kasih di dalam dunia, menjadi dasar persekutuan di dalam kehidupan manusia, menjadi dasar relasi dan persahabatan. Allah sendiri adalah Allah yang bersahabat dan berteman. Dia adalah Allah yang berpribadi. Allah adalah Allah yang bahagia karena Dia bersekutu satu sama lain. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.
Kemudian kalau kita merenungkan lebih dalam. Maka Allah juga menciptakan manusia untuk berelasi dengan Dia. Allah menciptakan manusia untuk menjadi wakilNya di dalam dunia, untuk menjadi hambaNya dan juga untuk menjadi temanNya. Yesus juga memanggil kita sahabatNya. Ini sungguh merupakan satu privilege menjadi manusia yang adalah sahabat Allah.
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yaitu menurut pola Tritunggal. Karena Allah bersekutu maka manusia juga bersekutu. Maka Allah mengatakan tidak baik manusia seorang diri. Ini bukan saja membicarakan relasi laki-laki dan wanita di dalam suami istri tetapi juga relasi sosial antar manusia. Manusia siapapun tidak baik seorang diri sebab manusia butuh teman atau sahabat. Selain manusia butuh berelasi dengan Tuhan Allah, manusia butuh berelasi dengan sesama.
Relasi manusia dengan Allah dinyatakan di dalam perjanjian ( Covenant ) dan relasi antar umat manusia juga ada di dalam Covenant. Covenant atau perjanjian inilah yang mengikat kehidupan umat manusia. Kalau kita biasa sudah mendengar bahwa manusia berelasi dengan Tuhan Allah, berelasi dengan sesama dan berelasi dengan diri, Kalau kata relasi ini kita ganti dengan kata perjanjian maka ini artinya lebih dalam dan lebih sakral. Manusia ada di dalam perjanjian dengan Allah, dengan sesama, dengan diri dan dengan alam. Semua relasi kehidupan manusia di dalam dunia ada di dalam konteks perjanjian terutama perjanjian dengan Tuhan Allah yang menyatukan semua relasi. Tuhan Allah adalah yang mempersatukan.
Seringkali di dalam dunia ini arti persahabatan dan teman itu sudah menjadi begitu rendah. Ada orang yang berteman karena untung rugi. Paradigmanya adalah untung rugi. Ada orang yang berteman karena hendak memanfaatkan. Paradigmanya adalah politik. Kedua paradigma ini seperti perang di Sam Kok. Ada orang yang berteman karena kesepian. Paradigmanya adalah mengisi kekosongan diri. Bila dasar persahabatan itu adalah tidak benar maka arti persahabatan itu tidak dalam dan rendah.
Di dalam dunia ini banyak orang yang berteman ketika butuh kemudian melupakan ketika sudah tidak dibutuhkan. Inilah dunia berdosa. Relasi begitu mudah dilupakan. Padahal memory kebersamaan dan memory persahabatan itu adalah salah satu anugerah, kenangan, dan arti yang bermakna bagi kehidupan manusia. Persekutuan adalah hal yang indah.
Seringkali di dalam dunia globalisasi dan di mana orang sering berpindah-pindah dan hanya diam di satu tempat untuk waktu yang singkat maka perkenalan seseorang pun tidak dalam. Tetapi yang lebih kurang baik adalah orang yang sering berpindah-pindah tempat. Relasi sosial dengan teman-teman dia terus berubah dan tidak dalam. Tetapi yang lebih lebih kurang baik adalah orang yang diam di satu tempat kemudian ketika bentur dengan masalah sosial dengan satu tempat itu dia pindah dan terus kemudian setelah pindah ke tempat yang lain bentur dengan masalah relasi dan pindah lagi. Orang seperti ini tidak pernah membereskan masalah dengan orang lain dan dia tidak mengerti artinya relasi bersama ada suka duka bahkan adanya pengampunan.
Tetapi persahabatan yang sejati adalah sesuatu yang indah adanya. Persahabatan ini bisa ada di dalam orang dunia tetapi yang lebih indah dan dalam maknanya adalah persahabatan di dalam Tuhan.
Kembali kepada manusia sebagai mahluk yang berelasi dan berkomunitas maka komunitas yang sejati di dalam manusia ada di dalam gereja Tuhan. Apakah itu sama kita bersahabat dengan orang dunia dengan bersahabat dengan anak-anak Tuhan ? Ini hal yang berbeda. Sebab komunitas manusia yang paling indah adalah di dalam gereja. Gereja adalah komunitas dimana orang percaya berkumpul. Gereja adalah kumpulan orang percaya yang dipisahkan dan dipanggil keluar.
Inti dari alam semesta adalah bumi dan inti dari bumi adalah manusia dan inti dari kehidupan manusia bukan Negara, bukan organisasi, bukan Club tetapi gereja. Negara akan ada dan hilang. Organisasi akan ada dan hilang. Club akan ada dan hilang. Tetapi gereja akan tetap sampai selamanya. Gereja adalah isi hati Tuhan Allah sendiri. Ini sungguh sakral. Di dalam gereja, di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada kasih mesra, ada pengampunan, ada kesatuan.
Persahabatan sejati adalah ada di dalam gereja dan di dalam Tuhan. Gereja ini bukan denominasi tetapi kerajaan Allah di dalam tubuh Kristus. Di dalam gereja umat percaya diikat oleh perjanjian dengan Tuhan dan di dalam gereja ini kita dipersatukan di dalam Kristus.
Apa sih yang menjadi dasar persatuan di dalam persahabatan dan berteman itu ?
Dikatakan sahabat menaruh kasih setiap waktu.
Kasih adalah yang mempersatukan.
Kalau kita membaca dari septuaginta bahasa Yunaninya PL ( bahasa PL adalah Ibrani ) maka kasih disini diterjemahkan yaitu kasih filea. Mungkin diantara kita pernah ada yang mendengar bahwa kasih dibagi menjadi empat di dalam bahasa Yunani yaitu kasih agape, storge, filea dan eros. Kita biasa melihat bahwa keempat jenis kasih ini berbeda. Misalnya filea itu berbeda dengan agape. Setuju ? Sebetulnya tidak benar
Ada tafsiran mengenai kitab Yohanes mengenai Petrus. Permulaan Yesus menanyakan kepada Petrus apakah engkau mengasihi aku ( agape ). Kemudian Petrus menjawab engkau tahu bahwa aku mengasihi engkau ( filea ). Kemudian Yesus menanyakan apakah engkau mengasihi aku ( agape ). Kemudian Petrus mengatakan lagi bahwa dia mengasihi Yesus ( filea ). Kemudian akhirnya Yesus menanyakan ketiga kali apakah Engkau mengasihi aku ( filea ). Kali ini Yesus mengggunakan filea dan seakan-akan sepertinya menurunkan derajat kasihnya. Tetapi ketika saya belajar lebih dalam saya mengetahui bahwa tafsiran ini kurang tepat. Sebetulnya di dalam konteks Yohanes kasih filea dan agape itu digunakan secara bergantian. Bahkan ketika ada dikatakan bahwa Allah Bapa mengasihi Yesus dengan kasih filea. Sebetulnya baik filea maupun agape maka kasih adalah asalnya dari Allah. Jadi dalam kasih Filea mengandung kasih Allah juga. Nah kembali kepada bahasa Ibraninya yaitu Ahav maka kasih ini bisa digunakan kepada Allah juga.
Seorang sahabat menaruh kasih pada setiap waktu itu dapat kita artinya bahwa seorang sahabat di dalam Tuhan menaruh kasih Allah kepada sahabatnya. Sebab kasih adalah Allah sumbernya.
Kembali kepada pertanyaan : Apa yang menjadi dasar persatuan di dalam persahabatan dan relasi ? Yaitu kasih. Kasih itu adalah yang mempersatukan. Apa yang mempersatukan tubuh Tuhan ? Yaitu kasih ! Apa yang mempersatukan manusia ? Bukan bahasa roh ! Tetapi bahasa kasih. Ketika manusia dulu mau bersatu di dalam menara Babel maka Tuhan memecahkan mereka karena motivasi mereka bersatu melawan Tuhan. Kemudian Tuhan mempersatukan bahasa kembali di dalam pentakosta sehingga semua bangsa bisa dipersatukan bahasanya. Tetapi realita yang lebih dalam yang mempersatukan manusia bukan bahasa tetapi kasih.
Tetapi sekedar kasih tidak cukup menjadi dasar persatuan di dalam persahabatan dan relasi. Kita memerlukan kebenaran. Yang mensuply relasi di dalam gereja adalah kasih dan kebenaran. Kasih tanpa kebenaran adalah liar. Kebenaran tanpa kasih adalah dingin dan hambar. Sifat Tuhan juga selain kasih adalah benar.
Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya. (Psa 25:10)
(57-11) sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan. (Psa 57:10)
Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan. (Pro 21:21)
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Joh 1:14)
sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (Joh 1:17)
Selain itu Alkitab menuliskan bahwa yang mempersatukan dan mempertumbuhkan gereja adalah kasih dan kebenaran.
tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. (Eph 4:15)
Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. (1Pe 1:22)
Di dalam persahabatan selain kasih maka kebenaranpun penting. Bagaimana mungkin kita bisa bersahabat di dalam Tuhan dengan lebih dalam kalau tidak sehati, sepikir dan sekonsep ?
Bagaimana mungkin suami dan istri bisa sehati kalau tidak sevisi ?
Bagaimana mungkin gereja bisa bersatu kalau tidak sevisi dan tidak berdoktrin yang sama ? Apakah doktrin tidak penting ? Penting sekali ! Kalau doktrin tidak penting maka kita bisa bersekutu dengan Islam dengan agama lain. Tetapi tidak demikian sebab kita berbeda doktrin dengan mereka sehingga tidak bisa bersekutu.
Kembali kepada ayat Amsal 17:17 yaitu seorang sahabat menaruh kasih di dalam setiap waktu. Persahabatan yang sejati adalah di dalam Tuhan dan adalah baik kita bersekutu dengan orang yang takut akan Tuhan. Adalah baik kita bersekutu dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan. Dan jauhilah orang fasik. Ini sesuai dengan Mazmur 1 dan prinsip aku bergaul karib dengan orang-orang yang takut akan Tuhan.
Persahabatan yang sehat adalah di dalam terang. Alkitab mengatakan bahwa jika kita hidup dalam terang maka kita memperoleh persekutuan satu sama lain dan darah Yesus menyucikan kita dari dosa dan kejahatan. Persahabatan yang baik adalah di dalam kasih dan kebenaran.
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. Kasih ini adalah kasih yang berasal dari Tuhan. Bukan Cuma kasih persahabatan filea belaka tetapi kasih Tuhan. Dan kasih itu ada di dalam 1 Kor 13. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1Co 13:4-7)
Seorang sahabat menaruh kasih di dalam setiap waktu. Setiap waktu itu adalah setiap kairos. Di dalam septuaginta mengenai ayat ini maka waktu menggunakan kairos. Menaruh kasih di dalam setiap waktu ( kairos ). Apa beda kairos dengan kronos ? Di dalam buku waktu dan hikmat Pdt Tong sudah memberikan arti bahwa kronos itu waktu yang biasa dan kairos itu waktu yang berkaitan dengan kekekalan. Kita bisa mengambil pengertian bahwa persahabatan di dalam Tuhan di dalam kasih dan kebenaran ada nilai kekalnya. Ini adalah persekutuan di dalam Tuhan yang tidak terlepas dengan Firman dan doa. Persahabatan yang sejati adalah di dalam Tuhan. Tidak terlepas dari kasih dan kebenaran. Dan juga ada nilai kekalnya.

Jeffrey Lim
Institut Reformed
Renungan buat Reuni Guang Zhou

No comments:

LIMPINGEN BLOG