Monday, February 18, 2008

Aesthetic Aspect and Shalom Theory

Aesthetic Aspect and Shalom Theory
A Theory developed from Dooyeweerd Cosmonomic Philosophy

==============================================

A. Metodologi
B. Introduksi kepada Filsafat Kristen
C. Isi ( Dalam format Kiasmus )

I. God of Beauty and Shalom as Creator

II. Aspects of Creation

III. Aesthetic Aspect and Harmony

IV. Harmony and Theory of Shalom

V. Relations of Aspects with Shalom Theory

VI. Application for Men and Doxology for God of
Beauty and Shalom

D. Penutup / Refleksi Spiritualitas
E. Bibliography



Aesthetic Aspect and Shalom Theory
A Theory developed from Dooyeweerd Cosmonomic Philosophy

A. Metodologi pembuatan
Paper analitis dan integratif yang berjudul Shalom Theory ini dibuat dengan cara mengkonstruksi sebuah teori mengenai ide damai sejahtera dengan merelasikan dengan filsafat keindahan dari Herman Dooyeweerd. Inti utama dari filsafat Herman Dooyeweerd adalah filsafat mengenai aspek-aspek di dalam realitas. Dan di dalam paper ini akan dibahas mengenai aspek-aspek realitas yang difokuskan pada satu bagian aspek di dalam realita yaitu aspek keindahan ( estetik ). Kemudian dibangun teori Shalom dengan refleksi imaginasi dan analisa pribadi dari aspek keindahan. Cara membangun teori ini adalah dengan merenungkan ide mengenai damai sejahtera dan kemudian mengkait-kaitkan aspek-aspek di realitas serta memikirkannya bagaimana supaya terjadi keindahan dan keharmonisan di dalam setiap aspek-aspek realitas. Teori Shalom di dalam paper ini mengkaitkan teori keindahan dengan banyak aspek dan terutama kerohanian.

B. Introduksi kepada Filsafat Kristen
Filsafat Kristen berbeda dengan sistematik teologi. Kalau Sistematik Teologi berusaha mengajarkan wahyu khusus dengan bahasa wahyu umum, sebaliknya Filsafat Kristen berusaha mengajarkan wahyu umum dengan pengertian dan kategori dari wahyu khusus. Baik filsafat Kristen dan sistematik teologi saling mempengaruhi. Di dalam paper ini akan dibahas mengenai Teori Shalom yang merupakan pengembangan dari filsafat Kristen yang pengertiannya dipengaruhi oleh kategori dari Alkitab


I. God of Beauty and Shalom as Creator
Bila kita ingin memulai teori Shalom dalam kaitan dengan filsafat keindahan dari perpektif Kristen, fondasinya adalah Tuhan Allah sendiri. Tuhan Allah Yahweh adalah Tuhan yang kudus. Karena itu Dia adalah indah. Dan dari kekudusanNya memancar kemuliaanNya yang berarti keindahanNya dimanifestasikan keluar dari dalam naturNya.
Tuhan Allah juga menciptakan alam semesta dari tidak ada menjadi ada. Alkitab mengajarkan bahwa ketika Allah menciptakan terang maka Allah melihat terang itu baik ( atau indah )
Di dalam penciptaan ini, Tuhan Allah mengubah sesuatu yang formless dan disorder menjadi order, harmony dan shalom, sesuatu yang empty menjadi filled and sesuatu yang darkness menjadi light. Ini kuasa Allah yang kreatif. Ini adalah teologi penciptaan. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
Di dalam Mazmur 19 dikatakan bahwa alam semesta menyatakan kemuliaan Allah. Dari mana alam semesta ini menyatakan kemuliaan Allah ? Apakah dari emanasi Tuhan Allah ? Bukan ! Tetapi dari Allah sendiri yang memberi makna kepada ciptaan bahwa Ciptaan itu indah. Dalam hal ini ciptaan indah bukan karena ciptaan indah pada dirinya sendiri ( Aristoteles ) ataupun ciptaan itu indah karena ciptaan itu emanasi dari Allah ( NeoPlatonis ), melainkan karena Allah yang memberikan meaning kepada ciptaan itu. Tuhan memberi meaning bahwa terang itu baik. Realita ciptaan itu indah korespondensi dengan Firman Allah.
Ketika Allah menciptakan manusia Allah melihat bahwa hal itu sungguh amat baik. Karena itu manusia berbeda dengan semua ciptaan lain karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Manusia indah karena merefleksikan keindahan dari penciptaNya sebagai sesuatu yang aslinya.
Sampai sini kita simpulkan bahwa Allah yang indah menciptakan ciptaan yang indah dan yang paling indah di dalam ciptaan adalah manusia sendiri karena segambar denganNya. Kemudian kita akan melihat Tuhan ketika menciptakan ciptaan mengandung entitas dan aspek-aspek yang indah dan multidimensi

II. Aspects of Creation.
Dooyeweerd membagi aspek dari ciptaan menjadi 15 aspek yaitu : Angka, Ruang, Gerak, Fisik, Kehidupan, Jiwa, Analitik, Formatif, Bahasa, Sosial, Ekonomi, Keindahan, Hukum, Etika dan Iman[1].
Kalau disusun secara hirarki bertingkat adalah
15. Iman
14. Etika
13. Hukum
12. Keindahan
11. Ekonomi
10. Sosial
9. Bahasa
8. Formatif
7. Analitik
6. Jiwa
5. Kehidupan
4. Fisik
3. Gerak
2. Ruang
1. Angka
Manusia, hewan, tumbuhan dan benda-benda mempunyai fungsi aspek-aspek ini tetapi manusia lebih limpah kemudian baru hewan lalu tumbuhan dan terakhir benda-benda. Benda-benda sebagai subjek[2] mempunyai fungsi di dalam aspek realitas dari no. 1-4. Tumbuhan sebagai subjek mempunyai fungsi di dalam aspek realitas dari no. 1-5. Hewan dari no. 1-6. Sedangkan manusia berfungsi sebagai subjek mempunyai aspek realitas dari no. 1-15. Semua inilah struktur alam ciptaan Tuhan. Kalau secara fungsi objek[3] maka semua entitas di dalam ciptaan mempunyai fungsi di dalam keseluruhan aspek.
Mengenai aspek keindahan maka aspek keindahan ini berada di dalam aspek ke 12 dimana secara subjek hanya manusia saja secara subjek yang bisa memiliki aspek ini. Secara fungsi objek, materi, tumbuhan dan hewan mempunyai fungsi estetik Namun bukan secara fungsi subjek. Aspek keindahan ( estetis ) adalah satu bentuk dari kesadaran kita[4].
Mengapa hanya manusia yang berfungsi sebagai subjek? Karena manusia mempunyai aspek psikis dan analitik. Tetapi Bukankah binatang mempunyai indera dan mempunyai aspek psikis ? Memang bahwa binatang memiliki aspek jiwa ( dalam pengertian dooyeweerd ) yaitu sensory motor, tetapi binatang tidak bisa beranalisa dan mereflektifkan keindahan yang memerlukan aspek diatasnya yaitu analitik.
Setiap aspek di dalam realitas mempunyai inti atau core aspek. Ketika kita mengerti inti dari aspek maka kita akan semakin mengerti apa maksudnya. Inti Aspek-aspek atau core atau kernelnya yaitu
15. Iman : Visi, iman, komitmen
14. Etika : Kasih
13. Hukum : Keadilan
12. Keindahan : Harmoni
11. Ekonomi : Ekonomis
10. Sosial : Interaksi sosial
9. Bahasa : Representasi simbolik
8. Formatif : Kekuatan formatif
7. Analitik : Pembedaan
6. Jiwa : Indera dan Perasaan
5. Kehidupan : Kehidupan dan Vitalitas
4. Fisik : Energi dan Materi
3. Gerak : Gerakan
2. Ruang : Ekstensi yang berlanjut
1. Angka : Kuantitas yang tepat

III.Aesthetic Aspect and Harmony
Ide filsafat Dooyeweerd adalah setiap aspek saling berelasi[5].
Di dalam filsafat Cosmonomic dari Herman Dooyeweerd, yang paling penting adalah filsafat mengenai aspek. Setiap aspek mempunyai kernel dari aspek yang merupakan inti dan core dari aspek itu. Di dalam aspek Aesthetic, kernel aspek ini adalah harmoni.
“The nuclear moment of the aesthetic aspect is harmony in its original sense, a mobal meaning-moment found in all other law-spheres only in an unoriginal, retripatory or anticipatory function.”[6]
Harmoni ini memerlukan sebuah kesatuan diantara keragamaan yang indah[7].
Harmoni adalah sesuatu yang termasuk atau memimpin kepada :
a. Koherensi ( bertentangan dengan fragmentasi )
b.Kontras ( Mengejutkan bahwa harmoni yang sesungguhnya bukan hanya keseragaman belaka tetapi harus ada beberapa “ketidakharmonisan” namun dilihat dari pola besar semuanya indah )
c. Humor
d.Kenikmatan
e. Menyenangkan dan adanya rest
f. Menarik
g. Nuansa
Harmoni ini bisa terdapat di dalam musik yaitu : Melodi, harmoni, ritme, nada dan gerakan keseluruhan kepingan..
Harmoni di dalam hidup adalah integritas hidup yang berlawanan dengan kemunafikan, keseimbangan dan integrasi, beristirahat dan bermain, bermain dan fun, kenikmatan di dalam menciptakan atau mencapai sesuatu.
Hal-hal berikut adalah berkaitan dengan aspek keindahan namun juga berkaitan dengan aspek lain yaitu : Kreatifitas, Keindahan, Seni.
Ketika kita bicara mengenai aspek-aspek di dalam realitas, mereka adalah saling berkaitan. Demikian juga aspek keindahan berkaitan dengan aspek-aspek lain. Kita bisa mengambil contoh relasi antara aspek keindahan dengan aspek lain di dalam seni yaitu[8] :
15. Keindahan & Iman -> Cara seni pengakuan dari ibadah
14. Keindahan & Etika -> Cara seni etika dari relasi etika
13. Keindahan & Hukum -> Cara hukum melakukan keadilan
12. Keindahan
11. Keindahan & Ekonomi -> Cara seni berekonomi menghadapi kekurangan
10. Keindahan & Sosial -> Cara seni berelasi di dalam relasi sosial
9. Keindahan & Bahasa -> Cara bahasa menyimboliskan
8. Keindahan & Formatif -> Cara pembentukan (form) yang bernuansa
7. Keindahan & Analitik -> Ide yang kaya dan berbuah, ide yang bernuansa
6. Keindahan & Jiwa -> Relasi afektif yang bernuansa
5. Keindahan & Kehidupan -> Vitalitas kehidupan yang bernuansa
4. Keindahan & Fisik -> Energi fisik yang mengagumkan
3. Keindahan & Gerak -> Gerakan yang bernuansa
2. Keindahan & Ruang -> Pola tempat yang bernuansa
1. Keindahan & Angka -> Harmoni, kesatuan dan perbedaan angka yang bernuansa

Kita bisa mengambil contoh seni dari gabungan aspek keindahan dengan 15 aspek yaitu :
Keindahan & Iman -> Kesucian
Keindahan & Etika -> Sopan santun
Keindahan & Bahasa -> Puisi, Pantun, Kata-kata humor
Keindahan & Formatif -> Budaya Kristen
Keindahan & Fisik -> Seni pahat, Seni gambar, Guci, makanan enak, Suara air terjun, Penglihatan yang indah
- Keindahan gambar dapat dilukiskan dalam sebuah lukisan atau pahatan.
Keindahan & Gerak -> Balet, Tari, Seni bela diri
Keindahan & Ruang -> Seni pahat, Seni gambar, Arsitektur
Keindahan & Angka & Waktu -> Musik

IV. Harmony and Theory of Shalom
Di bagian ini mulai merupakan analisa mengenai shalom dalam kaitan dengan filsafat aspek dari Dooyeweerd terutama aspek estetik. Mengapa mengkaitkan Shalom dengan Aspek Estetik ? Karena kernel dari Aspek Estetik adalah harmoni dan shalom berkaitan dengan harmoni di dalam alam semesta ini. Shalom bukan sekedar harmoni tetapi ada unsur harmoni. Karena itu antara keindahan dan Shalom ada kaitannya.
Shalom berasal dari bahasa Ibrani yang berarti damai sejahtera. Shalom ini berarti segala sesuatu berjalan sesuai dengan fungsinya. Segala sesuatu relasi berjalan dengan baik. Shalom yang terutama adalah dimana manusia berdamai dengan Allah, tetapi juga bukan hanya aspek itu saja, melainkan berdamai dengan alam semesta dengan diri dan dengan sesama. Shalom itu sangat luas pengertiannya. Berkaitan dengan berkat Tuhan juga.

Hukum lingkungan kedaulatan ( Law of Sphere Sovereignty )
Sebelum memasuki lebih jauh mengenai shalom di dalam realitas maka kita harus mempelajari mengenai Hukum lingkungan kedaulatan[9] ( Law of Sphere Sovereignty ).
Law of Sphere Sovereignty adalah bahwa di dalam setiap aspek ada hukum-hukum yang mengatur aspek itu supaya berjalan dengan baik. Hukum ini seperti hukum Gravitasi di dalam aspek fisika. Hukum emas ( golden rule ) di dalam etika.
Hukum ini ada logika dan sebab akibatnya. Hukum-hukum ini bukan mengikat kebebasan pribadi ( pengertian mengikat adalah karena cara pandangan yang ateistik ) tetapi lebih merupakan hukum yang memampukan segala sesuatu bisa berjalan dengan baik. Hukum yang memampukan realitas untuk berfungsi.
Ada relasi sebab akibat bahwa jika hukum-hukum ini ditaati atau berfungsi sebagaimana mestinya maka mengakibatkan shalom sedangkan bila tidak ditaati atau tidak berfungsi sebagai mestinya akan mengakibatkan ketidakharmonisan.



V. Relation of Aspects with Shalom Theory
Shalom itu harmonis dan di dalam harmoni itu ada shalom. Shalom ini bukan hanya di aspek jiwa ( psikis ) tetapi di banyak aspek di realitas. Di dalam analisa mengenai aspek-aspek di dalam realitas dan hukum-hukum lingkungan kedaulatan, ada beberapa hal yang dipikir penulis supaya terjadinya shalom di dalam hidup manusia.
15. Iman -> Visi berkesesuaian, Adanya iman, komitmen dan doktrin yang benar, Motivasi
14. Etika -> Adanya kasih dan kebajikan, adanya cara etika yang baik
13. Hukum -> Menaati hukum dan norma
12. Keindahan -> Harmoni, Simetris
11. Ekonomi -> Penggunaan resource yang bijaksana
10. Sosial -> Relasi yang baik, covenant yang didasari kasih, Pergaulan yang baik
9. Bahasa -> Komunikasi yang baik
8. Formatif -> Kebudayaan yang baik
7. Analitik -> Pikiran yang terstruktur dan order
6. Jiwa -> Damai sejahtera dalam batin, Kesukaan yang positif
5. Kehidupan -> Sehat
4. Fisik -> Struktur fisik yang baik
3. Gerak -> Keseimbangan gerak dan diam
2. Ruang -> Memberikan wadah pada kebenaran
1. Angka -> Ketepatan di dalam angka

Sebaliknya ketidakharmonisan dan kekacauan terjadi kalau semua aspek-aspek tidak sesuai dengan prinsip harmoni.
15. Iman -> Tidak ada visi, kurang iman, komitmen dan doktrin yang salah
14. Etika -> Kebencian, tidak adanya sopan santun
13. Hukum -> Menganggar hukum
12. Keindahan -> Kekacauan, kekotoran, kejelekan
11. Ekonomi -> Penggunaan resource yang sembarangan, kemiskinan
10. Sosial -> Relasi yang konflik, melanggar covenant , Pergaulan yang buruk
9. Bahasa -> Komunikasi yang melukai
8. Formatif -> Kebudayaan yang rusak
7. Analitik -> Pikiran yang kacau
6. Jiwa -> Stress, perasaan kuatir, takut, malu
5. Kehidupan -> Sakit
4. Fisik -> Struktur fisik yang rusak, dll
3. Gerak -> Terlalu banyak gerak atau diam
2. Ruang -> Tidak ada tempat bagi kebenaran, tidak ada ruang bagi kasih
1. Angka -> Ketidaktepatan
Bila dikaitkan dengan Alkitab maka kita akan menemukan bahwa semua ini berkesesuaian :

Bila tidak ada wahyu ( visi, aspek iman ), menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah ( aspek jiwa, shalom ) orang yang berpegang pada hukum ( aspek hukum ). (Amsal 29:18)

Hati yang gembira ( aspek jiwa, Shalom ) adalah obat yang manjur , tetapi semangat yang patah ( aspek jiwa ) mengeringkan tulang ( aspek fisik dan biologis ). (Amsal 17:22)

Berbahagialah ( aspek jiwa, Shalom ) orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik ( aspek bahasa, sosial ) , yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh ( aspek sosial, etika ), tetapi yang kesukaannya ( aspek jiwa ) ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam ( aspek analitik ).(Mazmur 1:1-2)

Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan ( aspek ekonomi ). Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku ( aspek fisik, Shalom ) . Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku ( aspek etika ). (Amsal 30:8-9)

Rancangan ( aspek formatif ) orang rajin ( aspek etika ) semata-mata mendatangkan kelimpahan ( aspek fisik, Shalom ), tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan. (Amsal 21:5)

Taurat TUHAN ( aspek hukum, aspek iman ) itu sempurna ( aspek keindahan ), menyegarkan jiwa ( aspek jiwa, Shalom ); peraturan TUHAN ( aspek hukum ) itu teguh ( aspek fisik ), memberikan hikmat ( pengaplikasikan semua aspek dengan benar, Shalom ) kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN ( aspek lingula & aspek Hukum ) itu tepat, menyukakan hati ( aspek jiwa, shalom ) ; perintah TUHAN ( aspek lingual, aspek hukum ) itu murni, membuat mata bercahaya ( aspek kehidupan, shalom ). Takut akan TUHAN ( aspek perasaan ) itu suci ( aspek moral ) , tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN ( aspek hukum ) itu benar ( aspek hukum ) , adil semuanya, lebih indah dari pada emas ( aspek keindahan ), bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu ( aspek inderawi ), bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. (Mazmur 19:8-11)

Ia ( Allah ) membuat segala sesuatu indah ( Shalom ) pada waktunya ( Aspek waktu ) (Peng 3:11)

Tetapi buah Roh ( aspek jiwa, aspek rohani ) ialah: ( Shalom -> ) kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum ( aspek hukum ) yang menentang hal-hal itu. (Gal 5:22-23)

Saudara-saudaraku ( aspek sosial ) , anggaplah sebagai suatu kebahagiaan (aspek jiwa ) , apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan ( aspek tidak harmonis ), sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu ( aspek iman ) itu menghasilkan ketekunan( Shalom ). Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang ( Shalom ), supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun ( Shalom ). (Yak 1:2-4)

Shalom VS Dikotomi Modern
Namun untuk mengerti lebih dalam kita harus membandingkan bahwa teori shalom ini berbeda dengan dikotomi modern. Dikotomi modern membandingkan bahwa menjadi 2 kutub. Yang kutub kiri adalah yang tidak baik dan kutub kanan itu baik.

Tidak baik
Baik
Jelek
Cantik
Miskin
Kaya
Bodoh
Pintar
Sakit
Sehat
Lambat
Cepat

Kita tidak melihat teori Shalom dengan dikotomi seperti ini. Apa yang disebelah kiri adalah yang berkaitan dengan harmoni dan apa yang disebelah kanan adalah yang kurang harmoni. Pengertian ini bukan demikian.

Shalom dengan harmoni yang ada unsur tidak harmonis
Harmoni bukan berarti tidak ada unsur tidak harmonis. Tetapi di dalam seluruh kerangka koheren yang lebih besar maka semuanya sesuai pada tempatnya dan harmoni adanya. Demikian juga Shalom di dunia ini bukan berarti tidak ada unsur tidak harmoninya. Di dalam Alkitab terdapat contoh-contoh yang akhirnya mendatangkan kebaikan walaupun ada unsur tidak harmonis. Misalnya :
- Kisah Ayub yang menderita tetapi dipulihkan beberapa kali lipat
- Kisah Daud and Barsyeba yang merupakan kejahatan tetapi melahirkan keturunan raja yang menjadi nenek moyang Kristus
- Kisah Keributan yang antara istri-istri Yakub yaitu Rahel dan Lea yang menghasilkan 12 bangsa Israel
- Kisah Yusuf. Di dalam Alkitab prinsip ini terdapat pada ayat.
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku ( tidak harmonis ), tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan ( Shalom ) , dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. ( Kej 50:20)

Shalom, ideologi-ideologi dan reduksi
Sebenarnya banyak ideologi-ideologi yang berusaha memaparkan konsepnya supaya mencapai Shalom. Tetapi dalam hal ini ideologi-ideologi tersebut berusaha mereduksi satu aspek di dalam realitas dan melihat Shalom dari perpektif aspek itu. Ketika satu aspek direduksi dan dielevasi maka aspek itu menjadi berhala. Aspek itu menjadi pusat yang mengatur aspek lainnya. Untuk lebih konkritnya mari kita lihat beberapa ideologi :
a. Komunisme
Komunisme berusaha mencapai Shalom dunia dengan kesamaan rataan di bidang ekonomi. Aspek yang ditonjolkan adalah aspek sosial dan aspek ekonomi
b.Mistik alam
Ideologi mistik alam berusaha mencapai Shalom dengan menyatu dengan alam. Disini terlihat bahwa aspek fisik dan biologis menjadi berhala.
c. Logical Positivisme
Ideologi ini berusaha mencapai Shalom dengan kemajuan di dalam bidang formatif yaitu melalui teknologi.
d.Eksitensialisme
Ideologi ini berusaha mencapai Shalom dengan menemukan arti di dalam diri. Diri menjadi direduksi.
e. Penyembahan terhadap alam
Ideoogi ini berusaha menjadikan aspek-aspek materi menjadi ilahi untuk mendapatkan Shalom
f. Feminisme
Ideologi ini berusaha mencapai Shalom dengan meninggikan peran wanita terhadap pria di dalam bidang sosial.
g. Humanisme
Ideologi ini berusaha mencapai Shalom dengan mempedulikan kehidupan manusia. Manusia menjadi pusat. Aspek sosial dan jiwa manusia menjadi diutamakan.
h. Sosialisme
Ideologi ini berusaha mencapai Shalom dengan mempusatkan pada aspek sosial.
i. Kedokteran modern
Ideologi ini berusaha mencapai Shalom dengan fokus pada bidang biologis dan fisik
j. Ideologi psikologi modern
Ideologi ini berusaha mencapai Shalom dengan fokus pada bidang jiwa manusia.
k.Rasionalisme
Ideologi ini berusaha mencapai Shalom dengan fokus pada rasio sebagai cara mencapai Shalom.
VI. Application for Men and Doxology for God of Beauty and Shalom
Ada beberapa implikasi dan aplikasi dari teori aspek, teori keindahan dan teori shalom bagi kita manusia sebagai ciptaan Tuhan yaitu :
1. Hidup itu multiaspek
Ketika melihat hidup itu kita tidak bisa melihat hanya dari satu aspek tetapi ada multidimensi aspek di dalam hidup. Ada keindahan di dalam aspek-aspek ciptaan Tuhan yang harus kita gali dan lihat. Kita harus belajar melihat hidup dari banyak aspek. Lensa kita memandang harus diperluas. Hidup tidak sesederhana yang dibayangkan secara pengalaman sehari-hari yang naïve.
2. Hidup itu limpah
Kehidupan manusia diciptakan Tuhan itu limpah adanya. Ini dikarenakan adanya multidimensi di dalam kehidupan. Tetapi satu hal yang penting adalah hati kita harus beres supaya hidup menjadi limpah.
3. Hukum-hukum di dalam kehidupan itu beragam
Adanya banyak hukum yang mengatur kehidupan alam semesta. Karena itu untuk mencapai shalom kita harus melihat bukan hanya dari aspek jiwa ( psikis ) tetapi juga dari aspek seluruh kekayaan realitas.
4. Keindahan, harmoni dan shalom terjadi kalau hukum-hukum di dalam ciptaan berjalan sebagaimana mestinya. Manusia dan mahluk dan alam semesta harus menjalani hukum-hukum ini. Di dalam kaitannya dengan manusia maka supaya mendapatkan shalom bukan dengan kekuatan sendiri dan performance sendiri, melainkan dengan anugerah Tuhan.
5. Ada kaitan antara Estetika dengan kerohanian
Aspek-aspek di dalam realitas itu saling berkaitan. Karena itu ada hubungan antara estetika dengan kerohanian. Bahkan menurut Kuyper, seni tertinggi dilukiskan di dalam agama. Juga ada kaitan antara estetika dengan etika.

Doxology to God of Beauty and Shalom
Karena hidup itu multidimensi dan penuh dengan banyak dimensi semua ini harusnya membawa kita memuji Tuhan pencipta kita yang kaya akan hikmat dan bijaksananya. Dia adalah Allah yang menciptakan dunia ini dengan hikmat. Dan hasil dari ciptaan ini adalah indah dan baik adanya. Maka respon kita adalah memuji kehebatan, keajaiban, keagungan, kedasyatan dari Tuhan Pencipta kita. Ini adalah aspek penciptaan.
Setelah jatuh ke dalam dosa maka alam semesta ini banyak kekacauan tetapi puji Tuhan adanya penebusan yang memungkinkan terjadinya shalom. Bila semua ciptaan kembali kepada fungsi yang Allah tetapkan maka akan terjadi shalom. Dan puji Tuhan bahwa Tuhan sendiri yang berinisiatif mendamaikan dunia ini dengan kematian AnakNya di kayu salib. Karena itu respon kita adalah memuji untuk karya penebusan Kristus dikayu salib yang menghasilkan shalom bagi manusia.

D. Penutup / Refleksi Spiritualitas
Paper ini berisi mengenai filsafat keindahan yang berkaitan dengan konsep harmonis dan Shalom. Di dalam paper ini penulis merefleksikan dan merenungkan ada makna spiritualitas yang bisa dipelajari dan hal ini menolong untuk bertumbuh di dalam spiritualitas.
1. Mengenai pengudusan di dalam segala bidang dan dimensi
Karena aspek-aspek di dalam realitas itu begitu banyak maka pengudusan progresif ( progressif sanctification ) yang dialami oleh setiap orang percaya adalah meliputi segala bidang. Tuhan Allah menguduskan kita di dalam segala hal. Dan kita juga bertanggung jawab untuk bertumbuh di dalam segala hal. Penulis menyadari pepatah Abraham Kuyper bahwa tidak ada seinci di dalam hidupnya yang bukan milik Kristus. Semua hidup kita milik Kristus.
2. Semua aspek-aspek realitas adalah rohani
Semua aspek-aspek di dalam realitas adalah rohani dan tidak ada dikotomi antara yang suci dan sekular. Karena itu kita harus melihat hidup ini secara rohani dan integratif. Filsafat ini membantu melihat hidup secara integratif, holistik. Penulis merasakan filsafat ini membantu untuk bertumbuh dan berharap pembaca dapat bertumbuh
3. Keindahan di dalam berbagai bidang
Dengan menyadari keragaman aspek-aspek di dalam realitas maka kita juga bisa melihat keindahan ciptaan Tuhan di dalam banyak bidang. Ini membuat kita harus kagum, bersyukur dan juga menyadari betapa kayanya hidup ini, betapa hebatnya hikmat dan kuasaNya, dan betapa kecilnya kita. Penulis makin merasa Tuhan besar dan diri kecil.
4. Shalom di dalam segala bidang
Di dalam hidup ini kita merindukan adanya Shalom. Tetapi ternyata Shalom ini bukan saja aspek fisik ( kelimpahan materi ) dan aspek jiwa ( kedamaian batin ). Shalom ini adalah multiaspek. Karena itu kita harus memikirkan dan berusaha melakukan kehendak Tuhan di dalam segala bidang. Kita percaya bahwa Tuhan akan memberikan Shalom pada kita di dalam anugerahNya. Ada anugerah Tuhan dan ada tanggung jawab manusia. Penulis menyadari multidimensi dari hidup dan berjuang di dalam segala hal.
5. Hukum-hukum aspek yang beragam
Hidup ini penuh dengan hukum-hukum aspek realitas. Bila ingin mencapai Shalom maka harus mengikuti hukum-hukum realitas yang Tuhan sudah tetapkan. Dengan menyadari keragamam hukum-hukum maka membantu kita tidak reduksi di dalam satu bidang ketika merindukan Shalom.
Contoh mengenai reduksi di dalam mencapai Shalom ditemukan di dalam psikiatri. Ilmu psikiatri melihat permasalahan hidup secara reduksi di dalam aspek kehidupan biologis. Bila seseorang mengalami Depresi maka itu karena ada Chemical Imbalance ( ketidak seimbangan kimiawi ) di dalam otaknya. Maka penyelesaiannya adalah menurut hukum biologis yaitu dengan menambah obat. Tetapi hidup itu seharusnya lebih limpah. Maka untuk mencapai Shalom kita harus mempertimbangkan bukan hanya aspek kehidupan biologis tetapi juga adalah 15 aspek yang lain. Contohnya adalah :
- Iman mengalahkan ketakutan dan kekuatiran ( Aspek iman )
- Takut akan Allah mendatangkan Shalom ( Aspek etika )
- Dikasihi dan dimiliki menimbulkan rasa aman ( Aspek etika )
- Di dalam kasih tidak ada ketakutan ( Aspek etika )
- Menaati hukum Allah akan mendatangkan damai sejahtera dari Tuhan ( Aspek hukum )
- Hidup yang indah menghasilkan keanggunan hidup dan berpengaruh dengan rasa nyaman ( Aspek keindahan )
- Pengaturan ekonomi dan juga hidup yang bekerja membuat orang merasa berharga dan juga merasa bisa berfungsi ( Aspek Ekonomi )
- Relasi sosial yang baik akan membentuk karakter kita ( Aspek Sosial )
- Relasi sosial yang baik membuat hidup menjadi limpah (Aspek Sosial )
- Komunikasi menciptakan kepercayaan dan mengenal diri serta orang lain ( Aspek lingual )
- Membangun budaya yang membangun membuat hidup menjadi lebih terbangun ( Aspek formatif )
- Mengubah pikiran membuat hidup menjadi Shalom ( Rom 12:2 - Aspek analitik )
- Memikirkan yang baik membuat hidup menjadi Shalom ( Fil 4:8 – Aspek analitik )
- Hati yang gembira adalah obat ( Aspek jiwa )
- Buah roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera ( Aspek rohani dan jiwa )
- Tubuh yang sehat mempengaruhi jiwa yang sehat ( Aspek kehidupan )
- Olah raga membuat tubuh dan jiwa sehat ( Aspek fisik, gerak )
Karena itu penulis merasakan pentingnya bertumbuh di dalam segala hal dengan menyadari hukum-hukum aspek di dalam banyak hal.

Penutup
Marilah kita bertumbuh di dalam segala hal untuk kemuliaan nama Tuhan !

Soli Deo Gloria

E. Bibliography

Books 1. Herman Dooyeweerd, A New Critique of Theoritical Thought, Paideia Press, 1984
2. J. M. Spier, Introduction to Christian Philosophy, Pennsylvania : The Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1954
Artikel
3. Dooyeweerd’s Philosophy of Aesthetics : A response to Zuidervaart’s critique by Dr. J. Glenn Friesen
4. The Reformational Contribution to Aesthetic Theory by Duncan Roper



[1] J.M, Spier, An Introduction to Christian Philosophy ( Pennsylvania : The Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1954 ) , hal 63-98
[2] pengertian subjek ini bukan personal tetapi lebih merupakan sebuah fungsi entitas secara subjek di dalam aspek-aspek realitas
[3] pengertian objek adalah merupakan fungsi entitas secara objek di dalam aspek-aspek realitas
[4] Artikel : Dooyeweerd’s Philosohy of Aesthetics : A Response to Zuidervaart’s Critique by Dr. J. Glenn Friesen
[5] Artikel : Dooyeweerd’s Philosohy of Aesthetics : A Response to Zuidervaart’s Critique by Dr. J. Glenn Friesen
[6] Dooyeweerd, A New Critique of Theoritical Thought by Dooyeweerd, Book II, ( Paideia Press, 1984) ,hal 128
[7] Ibid
[8] Artikel : The Reformational Contribution to Aesthetic Theory by Duncan Roper, pg 16
[9] Dooyeweerd, A New Critique of Theoritical Thought, book II, ( Paideia Press, 1984 ), hal 3

No comments:

LIMPINGEN BLOG