Friday, October 16, 2026

*Mewarnai untuk Kesehatan Mental: Belajar Berani, Belajar Menikmati*


 


Hari ini saya merenungkan sesuatu. Sejak kecil, kegiatan seperti menulis, mewarnai, menggambar, dan membuat prakarya sering terasa kacau bagi saya. Sekarang, ketika melihat kembali masa itu, saya menyadari betapa aktifnya saya dan betapa seringnya saya menerima teguran serta hukuman dari guru.

Lama-kelamaan, saya menjadi takut melakukan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tangan. Waktu SD, saya pernah dimarahi karena tulisan saya dianggap seperti ceker ayam. Saya bahkan dijuluki “ayam”. Pengalaman itu membekas, sampai sekarang saya sering merasa tidak percaya diri ketika harus menulis dengan tangan.

Saya bersyukur karena teknologi memungkinkan saya menulis dengan mengetik. Namun, saya juga merasa ada sesuatu yang terlewatkan: keindahan menulis, menggambar, dan menuangkan isi hati melalui goresan tangan sendiri. Bagi saya, teknologi dan AI memiliki banyak manfaat, tetapi ada pengalaman personal dalam berkarya dengan tangan yang tetap berharga.

Ketakutan itu juga terbawa ke kegiatan lain. Sejak SD, saya takut menggambar. Waktu SMP, saya sering meminta teman mengerjakan tugas gambar saya. Bahkan untuk tugas elektro, saya mencari tukang yang bisa membuatkannya. Saya menghindar karena takut menghadapi kemungkinan bahwa hasil pekerjaan saya akan dianggap buruk lagi.

Ternyata, pengalaman masa kecil bisa meninggalkan jejak yang panjang.

Hari ini, di Rumah Pemulihan Efata, saya mencoba mewarnai gambar abstrak. Tidak ada nilai yang harus dikejar. Tidak ada tuntutan untuk menghasilkan karya yang bagus. Saya boleh memilih warna, mencoba, dan menikmati prosesnya.

Awalnya, saya mewarnai dengan cepat dan terburu-buru. Ada rasa tidak nyaman, seolah-olah pekerjaan itu harus segera selesai. Namun, perlahan saya mencoba memberi diri sendiri ruang untuk berhenti sejenak dan memperhatikan apa yang sedang saya lakukan.

Bagi saya, mewarnai menjadi kesempatan untuk berlatih hadir pada saat ini: memperhatikan warna, mengikuti garis, dan menyadari perasaan yang muncul. Saya belajar berkonsentrasi, lebih teliti, dan tidak selalu terburu-buru.

Lebih dari itu, saya belajar bahwa saya boleh mencoba tanpa harus langsung mahir. Saya boleh menghasilkan sesuatu yang belum rapi tanpa perlu merendahkan diri sendiri.

Hari ini, saya sedang belajar berdamai dengan bagian diri saya yang dahulu takut mencoba.

Saya ingin melukiskan pengalaman ini lewat sebuah puisi sederhana:

Menggambar dan mewarnai di usia dewasa,  
Tak ada kata terlambat untuk mencobanya.
Meski goresan belum rapi, warna keluar garis,
Hati boleh senang, wajah boleh tersenyum manis.

Perlahan tangan belajar berani,
Memberi warna, mengungkapkan isi hati.
Tak harus indah di mata semua orang,
Cukup dinikmati, dengan hati yang tenang. 😊

Intinya biar jelek
Paling penting rilek :)

Jeffrey Lim
16-10-2026

No comments:

Powered By Blogger

LIMPINGEN BLOG