Roma 8:1–5
Perenungan pagi hari ini.
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.
Pembacaan saya dari surat Roma sudah sampai pada pasal 8.
Di pasal 7, Paulus melukiskan pergumulan yang juga dialami orang percaya, seperti teman-teman dan saya. Walaupun sudah mengenal Kristus, kita tetap bergumul melawan dosa. Pergumulan ini tidak berarti kita belum mengenal Tuhan. Justru kita bisa merasakan pergumulan itu karena kita mulai mengasihi kehendak-Nya.
Ada beberapa hal yang saya lihat dalam Roma 7 yang menyatakan bahwa ini pergumulan orang yang sudah percaya Tuhan dan bukan orang yang belum percaya:
Pertama: Kita menyukai hukum Allah. Paulus berkata bahwa di dalam batinnya ia suka akan hukum Allah (Roma 7:22).
Kedua: Kita kadang melakukan apa yang tidak kita inginkan, lalu kita berduka karenanya. “Aku, manusia celaka!” seru Paulus (Roma 7:24). Kita tidak menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa saja.
Ketiga: Paulus berkata bahwa ketika ia melakukan apa yang tidak ia kehendaki, dosa yang tinggal di dalam dirinya sedang bekerja (Roma 7:20). Ini menunjukkan betapa nyata pergumulannya, meskipun bukan berarti ia melepaskan tanggung jawab atas tindakannya.
Kadang, sebagai seorang GKM, mungkin kita juga bergumul dengan cara memandang diri sendiri. Ada pendeta yang pernah menggambarkan pergumulan antara manusia lama dan manusia baru seperti pergumulan dua pribadi yang *split*. Dahulu, istilah skizofrenia pun kerap dijelaskan sebagai “terbelahnya pikiran atau jiwa”. Gambaran seperti ini bisa membingungkan. Skizofrenia bukan kepribadian ganda, dan pergumulan rohani dalam Roma 7 bukan berarti ada dua pribadi di dalam diri kita.
Kalau kita mau merefleksikannya, sebenarnya pribadi kita tetap satu. Di dalam Kristus, kita adalah manusia baru (2 Korintus 5:17). Kita rindu menyukai hukum Allah, walaupun masih bergumul dengan dosa dan kebiasaan lama. Jadi, pergumulan itu tidak harus membuat kita terus mendefinisikan diri dari kegagalan kita.
Roma 7 diakhiri dengan pertanyaan: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Lalu Paulus menjawab, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Roma 7:24–25).
Kemudian kita masuk ke Roma 8. Pasal ini sangat memberikan pengharapan.
Kita yang ada di dalam Kristus tidak lagi berada di bawah penghukuman. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”
Karena itu, kita boleh dibebaskan dari rasa bersalah yang terus-menerus menghukum diri. Kalau kita berdosa, kita tetap perlu mengakuinya dan bertobat (1 Yohanes 1:9). Namun, kita tidak perlu hidup seolah-olah kasih karunia Kristus tidak cukup bagi kita.
Tetapi tidak hanya itu. Kita juga sedang dibebaskan dari perbudakan dosa melalui pekerjaan Roh Kudus. Allah telah melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan hukum Taurat: Ia mengutus Anak-Nya dan menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging (Roma 8:3–4).
Lalu, bagaimana kita belajar hidup semakin lepas dari perbudakan dosa?
Salah satu hal yang ditekankan Paulus ada di ayat 5: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.”
*Pikiran!* Kita perlu menjaga arah hati dan pikiran kita. Apa yang terus-menerus kita pikirkan akan memengaruhi cara kita hidup. Karena itu, mari belajar memikirkan hal-hal yang dari Roh, membawa pikiran kita kembali kepada Kristus, dan mengisinya dengan apa yang benar dan baik (Filipi 4:8; Kolose 3:1–2). Kita melakukannya bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan pertolongan Roh Kudus.
Semoga perenungan pagi ini memberkati. Terus pikirkan pikiran yang membangun sesuai dengan Roh Kudus !
Jeffrey Lim


















