Sharing kehidupan di Rumah Pemulihan Efata
Jeffrey Lim
Saya baru saja berbincang dengan Pak David mengenai seorang remaja yang dalam tulisan ini saya sebut Mat. Saya bertanya, “Mengapa Mat sering bertingkah seperti itu?” Sebab, beberapa kali saya melihat perilakunya yang tidak biasa. Ia terkadang membuka pakaiannya, mengibas-ngibaskan baju hingga jatuh ke tanah dan kotor, serta kurang menjaga kebersihan dirinya. Saya juga mendengar bahwa ia kadang berteriak dan perilakunya sulit dikendalikan.
Pak David bercerita bahwa Mat memiliki kebutuhan khusus, termasuk autisme dan ADHD. Mat masih remaja, dan Rumah Pemulihan Efata secara khusus menyediakan pendampingan untuk membantunya belajar bahasa dan membaca. Di tengah pergumulannya, saya melihat bahwa ia masih membutuhkan banyak perhatian, kesabaran, dan pendampingan.
Saya sempat bertanya-tanya, “Bagaimana Mat bisa terus berkembang?” Dari Pak David, saya mengetahui bahwa sebelumnya perilakunya bahkan lebih sulit. Ia pernah meludah di berbagai tempat, termasuk ruang makan dan dinding. Ia juga pernah membuka pakaiannya hingga telanjang.
Namun, ada satu pengalaman yang sangat membekas bagi saya. Saya mendengar dari Pak David bahwa sesuatu yang merubah Mat lebih baik adalah Ketika Pak David memeluk Mat, lalu Mat membalas pelukan itu dengan erat. Dari cerita yang saya dengar bahwa Mat tidak pernah dipeluk ortunya sekalipun aja. Dan Mat kelihatan banyak berubah setelah ada momen dipeluk pak David. Saya tidak dapat mengatakan bahwa satu pelukan menjadi satu-satunya penyebab perubahan Mat. Proses pertumbuhan tentu melibatkan banyak hal: pendampingan, perhatian, kesabaran, dan waktu. Tetapi pengalaman itu mengingatkan saya bahwa penerimaan dan sentuhan yang penuh kasih dapat menjadi sangat berarti bagi seseorang.
Pada kebaktian hari Minggu ini, saya melihat momen serupa. Mat memeluk Pak David, dan Pak David membalas pelukannya. Terus terang, pakaian Pak David tampak rapi, sedangkan Mat saat itu terlihat sangat kotor. Namun, Pak David tetap menyambutnya dengan kasih.
Saya terharu melihatnya. Saya merasa bahwa banyak orang membutuhkan kehadiran yang menerima mereka—seseorang yang mau mendekat, mendengarkan, dan menunjukkan kasih dengan tulus. Ada orang-orang yang tumbuh tanpa merasakan kasih dan kehangatan dari ayah mereka. Ada pula yang mengalami kekerasan atau merasa tidak memiliki figur ayah dalam hidupnya. Alkitab menggambarkan Allah sebagai “Bapa bagi anak yatim” dan Pelindung bagi mereka yang lemah (Mazmur 68:6).
Pengalaman ini juga mengingatkan saya pada PA yang saya bawakan hari Rabu lalu tentang Yesus yang menyembuhkan seorang penderita kusta (Markus 1:40–45). Mengapa Yesus menjamah orang itu? Ia tentu dapat menyembuhkannya hanya dengan berfirman dari kejauhan. Namun, Yesus mengulurkan tangan dan menjamahnya.
Pada masa itu, penyakit kulit tertentu dapat membuat seseorang dinyatakan najis secara ritual dan harus hidup terpisah dari masyarakat (Imamat 13:45–46). Karena itu, penderita kusta bukan hanya mengalami penderitaan fisik, tetapi juga keterasingan sosial. Dalam kisah Markus, Yesus tidak hanya menyatakan, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Ia juga menjamah orang tersebut (Markus 1:41–42). Markus mencatat bahwa Yesus tergerak oleh belas kasihan.
Saya tidak menyamakan pergumulan Mat dengan keadaan orang kusta dalam kisah itu. Namun, kisah tersebut menolong saya melihat bahwa kasih Yesus tidak menjaga jarak dari orang yang disisihkan. Yesus mendekat kepada orang yang membutuhkan belas kasihan dan pemulihan. Ia melihat manusia yang berharga, bukan sekadar penyakit atau keadaan yang membuat orang lain menjauh.
Kiranya refleksi ini mendorong kita untuk lebih memperhatikan sesama. Ada orang yang membutuhkan kata-kata penguatan, pendampingan yang sabar, atau kehadiran yang menerima mereka. Bagi sebagian orang, pelukan yang tulus dapat menjadi ungkapan kasih—tentu dengan memperhatikan kenyamanan, persetujuan, dan batasan pribadi masing-masing.
Kasih yang konsisten dan relasi yang aman dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan pemulihan. Seperti nasihat Paulus, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!” (Galatia 6:2). Dan ketika kita berdukacita bersama orang yang berdukacita, kita sedang belajar mengasihi dengan hadir di sisi mereka (Roma 12:15).
Soli Deo Gloria — Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.
Jeffrey Lim
Wednesday, September 30, 2026
Pelukan Kasih yang Mengubahkan Kehidupan
Friday, September 25, 2026
Roma 8:1–5 : Perenungan pagi hari ini.
Roma 8:1–5
Perenungan pagi hari ini.
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.
Pembacaan saya dari surat Roma sudah sampai pada pasal 8.
Di pasal 7, Paulus melukiskan pergumulan yang juga dialami orang percaya, seperti teman-teman dan saya. Walaupun sudah mengenal Kristus, kita tetap bergumul melawan dosa. Pergumulan ini tidak berarti kita belum mengenal Tuhan. Justru kita bisa merasakan pergumulan itu karena kita mulai mengasihi kehendak-Nya.
Ada beberapa hal yang saya lihat dalam Roma 7 yang menyatakan bahwa ini pergumulan orang yang sudah percaya Tuhan dan bukan orang yang belum percaya:
Pertama: Kita menyukai hukum Allah. Paulus berkata bahwa di dalam batinnya ia suka akan hukum Allah (Roma 7:22).
Kedua: Kita kadang melakukan apa yang tidak kita inginkan, lalu kita berduka karenanya. “Aku, manusia celaka!” seru Paulus (Roma 7:24). Kita tidak menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa saja.
Ketiga: Paulus berkata bahwa ketika ia melakukan apa yang tidak ia kehendaki, dosa yang tinggal di dalam dirinya sedang bekerja (Roma 7:20). Ini menunjukkan betapa nyata pergumulannya, meskipun bukan berarti ia melepaskan tanggung jawab atas tindakannya.
Kadang, sebagai seorang GKM, mungkin kita juga bergumul dengan cara memandang diri sendiri. Ada pendeta yang pernah menggambarkan pergumulan antara manusia lama dan manusia baru seperti pergumulan dua pribadi yang *split*. Dahulu, istilah skizofrenia pun kerap dijelaskan sebagai “terbelahnya pikiran atau jiwa”. Gambaran seperti ini bisa membingungkan. Skizofrenia bukan kepribadian ganda, dan pergumulan rohani dalam Roma 7 bukan berarti ada dua pribadi di dalam diri kita.
Kalau kita mau merefleksikannya, sebenarnya pribadi kita tetap satu. Di dalam Kristus, kita adalah manusia baru (2 Korintus 5:17). Kita rindu menyukai hukum Allah, walaupun masih bergumul dengan dosa dan kebiasaan lama. Jadi, pergumulan itu tidak harus membuat kita terus mendefinisikan diri dari kegagalan kita.
Roma 7 diakhiri dengan pertanyaan: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Lalu Paulus menjawab, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Roma 7:24–25).
Kemudian kita masuk ke Roma 8. Pasal ini sangat memberikan pengharapan.
Kita yang ada di dalam Kristus tidak lagi berada di bawah penghukuman. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”
Karena itu, kita boleh dibebaskan dari rasa bersalah yang terus-menerus menghukum diri. Kalau kita berdosa, kita tetap perlu mengakuinya dan bertobat (1 Yohanes 1:9). Namun, kita tidak perlu hidup seolah-olah kasih karunia Kristus tidak cukup bagi kita.
Tetapi tidak hanya itu. Kita juga sedang dibebaskan dari perbudakan dosa melalui pekerjaan Roh Kudus. Allah telah melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan hukum Taurat: Ia mengutus Anak-Nya dan menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging (Roma 8:3–4).
Lalu, bagaimana kita belajar hidup semakin lepas dari perbudakan dosa?
Salah satu hal yang ditekankan Paulus ada di ayat 5: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.”
*Pikiran!* Kita perlu menjaga arah hati dan pikiran kita. Apa yang terus-menerus kita pikirkan akan memengaruhi cara kita hidup. Karena itu, mari belajar memikirkan hal-hal yang dari Roh, membawa pikiran kita kembali kepada Kristus, dan mengisinya dengan apa yang benar dan baik (Filipi 4:8; Kolose 3:1–2). Kita melakukannya bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan pertolongan Roh Kudus.
Semoga perenungan pagi ini memberkati. Terus pikirkan pikiran yang membangun sesuai dengan Roh Kudus !
Jeffrey Lim
Refleksi pagi : Mazmur 1
Refleksi pagi
Mazmur 1
Pagi ini di rumah pemulihan Efata, ko Jeffrey merenungkan perenungan dari Mazmur 1 untuk next PA yang akan dibawakan rabu depan yaitu Mazmur 1.
Mazmur 1 melukiskan 2 jalan hidup : Jalan hidup orang fasik dan jalan hidup orang benar.
Orang fasik adalah orang yang tidak takut Allah dan yang hidup di dalam dosa.
Bukan berarti kita orang benar tidak pernah berdosa tetapi kita punya kepekaan dan kemauan untuk tidak terus menerus hidup di dalam dosa dan sebaiknya kesukaan kita adalah Firman Tuhan.
Dan Alkitab mengatakan orang yang tidak mengikuti nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa dan duduk di Kumpulan pencemooh adalah orang-orang yang berbahagia atau diberkati.
Jika kita ingin jalan berkat maka secara negatif kita harus menjauhi jalan berdosa dan secara positif kita harus merenungkan Firman Tuhan siang dan malam.
Siang dan malam disini bukan berarti full day ga ngapa-ngapain baca Alkitab saja. Tetapi kita punya kerinduan untuk setiap saat merenungkan tentang Tuhan dan FirmanNya. Jika kita ingin punya relasi hubungan yang baik dengan Tuhan, kita harus mengenalNya melalui FirmanNYa.
Dan FirmanNya juga menjauhkan kita dari dosa.
Orang yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam dia akan diberkati, akan berbahagia dan akan bertumbuh, berakar serta berbuah. Dan kita akan mempunyai buah Roh seperti yang dicantumkan dalam Galatia 5:22-23. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Kiranya setiap teman-teman di Seeing termasuk saya juga mulai dan makin menyetel hidup kita pada jalan berkat. Mulai merenungkan Firman Tuhan setiap hari. ini kesukaan kita.
Sunday, September 20, 2026
*Slow Living dan Healing — Bagian 1*
*Jeffrey Lim* Kehidupan modern sudah menjadi kehidupan yang keras dan serba cepat. Apalagi di kota yang semakin besar dan semakin macet seperti Jakarta, waktu seakan-akan berjalan lebih cepat. Bukankah waktu di kota dan di desa sebenarnya sama saja? Namun, pengalaman kita terhadap waktu ternyata bisa berbeda. Di kota kecil, waktu terasa berjalan lebih slow, sedangkan di kota besar, waktu terasa berlalu begitu cepat. Perasaan itu tentu dipengaruhi oleh berbagai hal. Di kota besar ada kemacetan, tuntutan hidup yang lebih tinggi, serta aktivitas yang begitu padat. Kecemasan, kekhawatiran, dan berbagai tekanan kehidupan membuat “motor adrenalin” kita terus bekerja. Akibatnya, kita menjadi tegang, letih, lesu, stres, dan sebagainya. Hal seperti ini dialami oleh banyak orang. Saya tidak sedang mengatakan bahwa kondisi kota besar selalu lebih buruk daripada kota kecil, atau bahwa tinggal di kota kecil pasti lebih baik. Memang, di kota kecil atau bahkan di desa, kita masih lebih mudah menemukan alam dan pepohonan yang membuat ritme kehidupan terasa lebih tenang. Namun, sering kali orang desa merasa tidak puas dan ingin pindah ke kota, sedangkan orang kota merasa tidak puas dan ingin tinggal di desa. Rumput tetangga memang sering terlihat lebih hijau. Namun, bukan itu yang ingin saya bahas. Yang ingin saya bagikan adalah tentang *slow living* dan kaitannya dengan kehidupan kita sebagai GKM—orang dengan Gangguan Kesehatan Mental. Seperti teman-teman ketahui, saya sudah pindah ke Salatiga dan sekarang tinggal di Rumah Pemulihan Efata. Saya sungguh bersukacita dapat menjalani kehidupan di Salatiga. Dahulu, ibu rohani saya pernah berkata, “Jeffrey nggak boleh capek-capek. Kalau terlalu capek, Jeffrey akan lebih mudah sakit. Kalau bisa, Jeffrey banyak menganggur. Nanti justru akan keluar berbagai tulisan dan karya.” Dan ternyata perkataan itu memang benar. Maksudnya bukan bahwa saya pada dasarnya seorang yang malas. Sebaliknya, saya sebenarnya seorang pekerja keras. Namun, sebagai seorang GKM yang memiliki keterbatasan dan kelemahan, ketika saya harus menghadapi tuntutan hidup dengan ritme yang terlalu tinggi, saya justru tidak berkembang dengan baik. Saya teringat pada tahun 2006–2007, ketika saya berada di Institut Reformed dan menjalani kehidupan dengan ritme yang lebih stabil. Saya memperhatikan bahwa di blog saya, https://limpingen.blogspot.com terdapat 56 tulisan pada tahun 2006 dan 144 tulisan pada tahun 2007. Saat itu ritme kehidupan saya cukup pelan. Saya memiliki banyak waktu untuk membaca, merenungkan Firman Tuhan, menulis, dan berelasi dengan orang-orang. Sekarang, di Salatiga, saya kembali merasakan *vibe* yang serupa. Saya menjalani kehidupan *slow living* tanpa terlalu banyak tekanan. Ritmenya lebih pelan, tetapi tetap ada kebebasan yang dijalani dengan tanggung jawab. Saya menemukan bahwa pola hidup seperti ini justru membawa saya semakin mengalami *healing*. Mulai minggu ini, setiap pagi saya mengawali hari dengan membaca buku. Pada jam kerja, saya mengerjakan aplikasi dan website. Ketika siang tiba, saya memperlambat ritme untuk bergaul dengan orang-orang, berolahraga seperti *gym*, atau beristirahat. Kemudian, pada sore hingga malam hari, saya mulai mengajar atau mengadakan pertemuan melalui Zoom bersama Seeing. Saya menemukan beberapa hal yang memberkati dari pola hidup *slow living* seperti ini: 1. Saya bebas berkarya, tetapi tetap bertanggung jawab. 2. Saya memiliki lebih banyak waktu luang, tetapi tetap berusaha menggunakannya sebaik mungkin. 3. Saya tidak terus-menerus hidup di bawah tekanan dan tuntutan. 4. Justru dalam ritme yang lebih pelan, produktivitas, hasil karya, dan sukacita saya meningkat. Karena itu, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan yang mengizinkan saya berada di Rumah Pemulihan Efata. Saya juga bersyukur karena Tuhan menggerakkan Pak David dan Ci Shirley untuk membuka kesempatan bagi saya tinggal di tempat ini. Saya bukan hanya diterima dengan baik, tetapi juga diberi kesempatan untuk turut mengambil bagian dalam pelayanan. Oh ya, ada satu kabar baik lagi yang juga saya syukuri. Besok saya akan pergi menemui psikiater setelah cukup lama tidak melakukan kontrol. Berdasarkan arahan dalam laporan dari dr. Reyhan, ada kemungkinan dosis obat saya dapat diturunkan secara bertahap. Namun, tentu hal ini harus diperiksa dan diputuskan terlebih dahulu bersama psikiater setempat di Salatiga. Saya memiliki *excitement* tersendiri mengenai hal ini. Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, ketika dosis Depakote dikurangi, fungsi kognitif saya biasanya terasa lebih berkembang. Namun, saya juga perlu tetap berjaga-jaga dan mawas diri karena risiko munculnya gejala hipomania mungkin menjadi lebih besar. Karena itu, proses ini tetap perlu dilakukan dengan hati-hati dan di bawah pengawasan dokter. Saya belajar bahwa sudah waktunya bagi saya untuk semakin *humble* dan semakin mengandalkan anugerah Tuhan. Saya tidak ingin menjadi gegabah atau terlalu percaya diri. Saya ingin tetap mengenali keterbatasan diri, mengikuti arahan dokter, serta belajar peka terhadap kondisi tubuh dan pikiran saya. Saya merasa bahwa lingkungan dengan ritme *slow living* seperti ini merupakan tempat yang tepat bagi saya untuk terus mengalami pemulihan, bertumbuh, berkarya, dan melayani di dalam anugerah Tuhan. Kiranya Tuhan terus menolong saya. Dan kiranya Tuhan saja yang dipermuliakan di dalam proses kehidupan saya. Tuhan baik. Soli Deo Gloria *Berlanjut…*
Read More ....Friday, September 14, 2018
Depresi, Bipolar, Skizofrenia dan Kekristenan



Thursday, November 16, 2017
Gangguan Bipolar dan Manusia sebagai ciptaan Tuhan
Refleksi mengenai gangguan Bipolar
Read More ....















