*Jeffrey Lim* Kehidupan modern sudah menjadi kehidupan yang keras dan serba cepat. Apalagi di kota yang semakin besar dan semakin macet seperti Jakarta, waktu seakan-akan berjalan lebih cepat. Bukankah waktu di kota dan di desa sebenarnya sama saja? Namun, pengalaman kita terhadap waktu ternyata bisa berbeda. Di kota kecil, waktu terasa berjalan lebih slow, sedangkan di kota besar, waktu terasa berlalu begitu cepat. Perasaan itu tentu dipengaruhi oleh berbagai hal. Di kota besar ada kemacetan, tuntutan hidup yang lebih tinggi, serta aktivitas yang begitu padat. Kecemasan, kekhawatiran, dan berbagai tekanan kehidupan membuat “motor adrenalin” kita terus bekerja. Akibatnya, kita menjadi tegang, letih, lesu, stres, dan sebagainya. Hal seperti ini dialami oleh banyak orang. Saya tidak sedang mengatakan bahwa kondisi kota besar selalu lebih buruk daripada kota kecil, atau bahwa tinggal di kota kecil pasti lebih baik. Memang, di kota kecil atau bahkan di desa, kita masih lebih mudah menemukan alam dan pepohonan yang membuat ritme kehidupan terasa lebih tenang. Namun, sering kali orang desa merasa tidak puas dan ingin pindah ke kota, sedangkan orang kota merasa tidak puas dan ingin tinggal di desa. Rumput tetangga memang sering terlihat lebih hijau. Namun, bukan itu yang ingin saya bahas. Yang ingin saya bagikan adalah tentang *slow living* dan kaitannya dengan kehidupan kita sebagai GKM—orang dengan Gangguan Kesehatan Mental. Seperti teman-teman ketahui, saya sudah pindah ke Salatiga dan sekarang tinggal di Rumah Pemulihan Efata. Saya sungguh bersukacita dapat menjalani kehidupan di Salatiga. Dahulu, ibu rohani saya pernah berkata, “Jeffrey nggak boleh capek-capek. Kalau terlalu capek, Jeffrey akan lebih mudah sakit. Kalau bisa, Jeffrey banyak menganggur. Nanti justru akan keluar berbagai tulisan dan karya.” Dan ternyata perkataan itu memang benar. Maksudnya bukan bahwa saya pada dasarnya seorang yang malas. Sebaliknya, saya sebenarnya seorang pekerja keras. Namun, sebagai seorang GKM yang memiliki keterbatasan dan kelemahan, ketika saya harus menghadapi tuntutan hidup dengan ritme yang terlalu tinggi, saya justru tidak berkembang dengan baik. Saya teringat pada tahun 2006–2007, ketika saya berada di Institut Reformed dan menjalani kehidupan dengan ritme yang lebih stabil. Saya memperhatikan bahwa di blog saya, https://limpingen.blogspot.com terdapat 56 tulisan pada tahun 2006 dan 144 tulisan pada tahun 2007. Saat itu ritme kehidupan saya cukup pelan. Saya memiliki banyak waktu untuk membaca, merenungkan Firman Tuhan, menulis, dan berelasi dengan orang-orang. Sekarang, di Salatiga, saya kembali merasakan *vibe* yang serupa. Saya menjalani kehidupan *slow living* tanpa terlalu banyak tekanan. Ritmenya lebih pelan, tetapi tetap ada kebebasan yang dijalani dengan tanggung jawab. Saya menemukan bahwa pola hidup seperti ini justru membawa saya semakin mengalami *healing*. Mulai minggu ini, setiap pagi saya mengawali hari dengan membaca buku. Pada jam kerja, saya mengerjakan aplikasi dan website. Ketika siang tiba, saya memperlambat ritme untuk bergaul dengan orang-orang, berolahraga seperti *gym*, atau beristirahat. Kemudian, pada sore hingga malam hari, saya mulai mengajar atau mengadakan pertemuan melalui Zoom bersama Seeing. Saya menemukan beberapa hal yang memberkati dari pola hidup *slow living* seperti ini: 1. Saya bebas berkarya, tetapi tetap bertanggung jawab. 2. Saya memiliki lebih banyak waktu luang, tetapi tetap berusaha menggunakannya sebaik mungkin. 3. Saya tidak terus-menerus hidup di bawah tekanan dan tuntutan. 4. Justru dalam ritme yang lebih pelan, produktivitas, hasil karya, dan sukacita saya meningkat. Karena itu, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan yang mengizinkan saya berada di Rumah Pemulihan Efata. Saya juga bersyukur karena Tuhan menggerakkan Pak David dan Ci Shirley untuk membuka kesempatan bagi saya tinggal di tempat ini. Saya bukan hanya diterima dengan baik, tetapi juga diberi kesempatan untuk turut mengambil bagian dalam pelayanan. Oh ya, ada satu kabar baik lagi yang juga saya syukuri. Besok saya akan pergi menemui psikiater setelah cukup lama tidak melakukan kontrol. Berdasarkan arahan dalam laporan dari dr. Reyhan, ada kemungkinan dosis obat saya dapat diturunkan secara bertahap. Namun, tentu hal ini harus diperiksa dan diputuskan terlebih dahulu bersama psikiater setempat di Salatiga. Saya memiliki *excitement* tersendiri mengenai hal ini. Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, ketika dosis Depakote dikurangi, fungsi kognitif saya biasanya terasa lebih berkembang. Namun, saya juga perlu tetap berjaga-jaga dan mawas diri karena risiko munculnya gejala hipomania mungkin menjadi lebih besar. Karena itu, proses ini tetap perlu dilakukan dengan hati-hati dan di bawah pengawasan dokter. Saya belajar bahwa sudah waktunya bagi saya untuk semakin *humble* dan semakin mengandalkan anugerah Tuhan. Saya tidak ingin menjadi gegabah atau terlalu percaya diri. Saya ingin tetap mengenali keterbatasan diri, mengikuti arahan dokter, serta belajar peka terhadap kondisi tubuh dan pikiran saya. Saya merasa bahwa lingkungan dengan ritme *slow living* seperti ini merupakan tempat yang tepat bagi saya untuk terus mengalami pemulihan, bertumbuh, berkarya, dan melayani di dalam anugerah Tuhan. Kiranya Tuhan terus menolong saya. Dan kiranya Tuhan saja yang dipermuliakan di dalam proses kehidupan saya. Tuhan baik. Soli Deo Gloria *Berlanjut…*
Read More ....Sunday, September 20, 2026
Subscribe to:
Posts (Atom)








