Thursday, October 22, 2026

Peran Iman, Pengharapan, dan Kasih dalam Menghadapi Kecemasan

Setiap orang tidak kebal dari rasa takut dan cemas termasuk saya. Rasa Takut adalah respons terhadap bahaya yang dirasakan sedang mengancam. Rasa Cemas lebih berkaitan dengan kemungkinan ancaman di masa depan yang belum pasti. Keduanya dapat muncul melalui jantung berdebar, tubuh tegang, pikiran sulit fokus, membayangkan hal terburuk, serta keinginan menghindar.

Dalam Kejadian 3:10, setelah jatuh dalam dosa, Adam berkata bahwa ia takut dan bersembunyi. Relasi yang semula penuh keterbukaan berubah menjadi ketakutan dan keterasingan. Dosa merusak kepercayaan kepada Allah, Sang Sumber Hidup, sehingga manusia kehilangan rasa aman.

Namun, tidak semua kecemasan merupakan akibat langsung dosa pribadi atau kurangnya iman. Gangguan kecemasan juga dipengaruhi faktor biologis, keturunan, pengalaman hidup, dan lingkungan.

Dari sisi neuroscience, prefrontal cortex atau PFC membantu kita menilai situasi dan mengatur respons emosional. Bagian ini bekerja bersama jaringan otak lain, termasuk amigdala yang berperan dalam respons terhadap ancaman. Ketidakpastian dapat meningkatkan kewaspadaan dan kecemasan; jadi, persoalannya lebih kompleks daripada sekadar kekurangan informasi.

Misalnya kita bisa cemas Ketika kita tidak bisa pasti akan hal-hal seperti ini :

Bagaimana jika saya sakit ?

Bagaimana jika Gangguan Bipolar atau Skizofrenia saya tidak sembuh ?

Bagaimana jika orang yang saya kasihi meninggalkan saya?

Dapatkah saya memiliki pasangan hidup sebagai seorang GKM ?

Bagaimana jika kebutuhan hidup tidak tercukupi?

Bagaimana jika saya gagal lagi?

Bagaimana jika saya sering jatuh bangun dalam kehidupan saya ?

Bagaimana nasib saya di masa depan jika kondisi saya seperti ini ?

Apakah saya akan diterima dan diperkenan Tuhan ?

Kalau saya masuk usia tua, bagaimana saya hidup dan bagaimana saya bisa cukup kehidupan saya ?

Bagaimana masa depan saya ?

Bagaimana mengatasi kesepian saya ?

Di tengah keadaan dan semua pertanyaan-pertanyaaan ini, kita membutuhkan pegangan untuk menjalani masa kini dan menghadapi masa depan.

Mengapa Iman Penting?

Ibrani 11:1 menyatakan:

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Iman Kristen bertumpu pada karakter Allah yang dapat dipercaya. Melalui firman-Nya, kita mengenal Allah sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Penebus. Kita mungkin belum memahami jalan yang sedang ditempuh, tetapi kita mengenal Pribadi yang menyertai perjalanan itu.

Salib Kristus memperlihatkan kasih Allah kepada manusia berdosa (Roma 5:8). Karena itu, iman menolong kita menyerahkan kekhawatiran kepada-Nya, sebagaimana diajarkan dalam 1 Petrus 5:7.

Iman tidak selalu langsung menghilangkan rasa takut, tetapi memberikan pegangan ketika kita takut. Seperti pemazmur berkata, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu” (Mazmur 56:4).

 

Mengapa Pengharapan Penting?

Pengharapan memberikan alasan untuk terus melangkah ketika kehidupan terasa berat.

Viktor Frankl, seorang psikiater yang bertahan hidup dari kamp konsentrasi Nazi, mengalami penderitaan dan kehilangan keluarganya. Dalam Man’s Search for Meaning, ia menguraikan bagaimana menemukan makna dapat menolong manusia menghadapi keadaan yang sangat sulit. Pendekatannya, logoterapi, menempatkan pencarian makna sebagai dorongan utama dalam kehidupan manusia.

Pengalaman Frankl mengingatkan kita bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang bermakna untuk diperjuangkan. Dalam iman Kristen, pengharapan berakar pada kebangkitan Kristus. Allah telah melahirkan kita kembali kepada “suatu hidup yang penuh pengharapan” melalui kebangkitan Yesus (1 Petrus 1:3).

Karena Kristus bangkit, penderitaan dan kematian tidak memiliki kata terakhir. Kita memiliki masa depan di dalam Allah, sekalipun keadaan hari ini belum berubah.

Pengharapan memberi keberanian untuk menjalani hari ini karena masa depan kita berada dalam tangan Tuhan.

Karena itu kita ingat lagu sbab Dia hidup ada hari esok. Sbab Dia hidup, ku tak gentar. Karena ku tahu Dia pegang hari esok. Hidup jadi berarti sbab Dia hidup

 

Mengapa Kasih Penting?

Manusia diciptakan untuk hidup dalam relasi. Kita membutuhkan penerimaan, kedekatan, dan kebersamaan. Dosa merusak relasi tersebut dan membuat manusia mengalami rasa bersalah, malu, serta keterasingan.

Melalui Kristus, Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya (Roma 5:1). Dari relasi yang dipulihkan ini, kita belajar mengasihi sesama dan memperlakukan diri sendiri sebagai ciptaan yang berharga di hadapan-Nya (Markus 12:30–31).

Dalam konteks kasih Allah dan keberanian menghadapi penghakiman, 1 Yohanes 4:18 menyatakan bahwa kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Kita dapat datang kepada Allah karena di dalam Kristus kita diterima dan dikasihi.

Kasih juga hadir melalui sesama: orang yang mendengarkan, menemani, dan menolong kita memikul beban (Galatia 6:2). Di dalam relasi yang penuh kasih, kita mengalami damai sejahtera atau shalom—keutuhan hidup dalam hubungan yang dipulihkan.

 

Menjalani Hidup dengan Iman, Pengharapan, dan Kasih

Iman menolong kita mempercayai Allah. Pengharapan menolong kita terus melangkah. Kasih menolong kita mengalami dan membagikan pemulihan relasi.

Ketiganya tidak membuat kita kebal terhadap kecemasan. Namun, di dalam Kristus, kita mempunyai dasar untuk menghadapinya melalui doa, firman Tuhan, dukungan sesama, dan pertolongan profesional ketika diperlukan.

Kita belum mengetahui seluruh masa depan, tetapi kita dapat menjalaninya bersama Allah yang setia.

Kesimpulan : Kejatuhan manusia dalam dosa merusak relasi dengan Allah, sesama, dan diri sendiri. Manusia mengalami keterasingan, ketakutan, dan kecemasan di tengah kehidupan yang tidak pasti. Di dalam Kristus, iman, pengharapan, dan kasih menjadi dasar untuk menghadapi kenyataan tersebut: iman memberikan pegangan, pengharapan memberikan arah, dan kasih memulihkan relasi.


Soli Deo Gloria

Jeffrey Lim

Read More ....

Friday, October 16, 2026

*Mewarnai untuk Kesehatan Mental: Belajar Berani, Belajar Menikmati*


 


Hari ini saya merenungkan sesuatu. Sejak kecil, kegiatan seperti menulis, mewarnai, menggambar, dan membuat prakarya sering terasa kacau bagi saya. Sekarang, ketika melihat kembali masa itu, saya menyadari betapa aktifnya saya dan betapa seringnya saya menerima teguran serta hukuman dari guru.

Lama-kelamaan, saya menjadi takut melakukan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tangan. Waktu SD, saya pernah dimarahi karena tulisan saya dianggap seperti ceker ayam. Saya bahkan dijuluki “ayam”. Pengalaman itu membekas, sampai sekarang saya sering merasa tidak percaya diri ketika harus menulis dengan tangan.

Saya bersyukur karena teknologi memungkinkan saya menulis dengan mengetik. Namun, saya juga merasa ada sesuatu yang terlewatkan: keindahan menulis, menggambar, dan menuangkan isi hati melalui goresan tangan sendiri. Bagi saya, teknologi dan AI memiliki banyak manfaat, tetapi ada pengalaman personal dalam berkarya dengan tangan yang tetap berharga.

Ketakutan itu juga terbawa ke kegiatan lain. Sejak SD, saya takut menggambar. Waktu SMP, saya sering meminta teman mengerjakan tugas gambar saya. Bahkan untuk tugas elektro, saya mencari tukang yang bisa membuatkannya. Saya menghindar karena takut menghadapi kemungkinan bahwa hasil pekerjaan saya akan dianggap buruk lagi.

Ternyata, pengalaman masa kecil bisa meninggalkan jejak yang panjang.

Hari ini, di Rumah Pemulihan Efata, saya mencoba mewarnai gambar abstrak. Tidak ada nilai yang harus dikejar. Tidak ada tuntutan untuk menghasilkan karya yang bagus. Saya boleh memilih warna, mencoba, dan menikmati prosesnya.

Awalnya, saya mewarnai dengan cepat dan terburu-buru. Ada rasa tidak nyaman, seolah-olah pekerjaan itu harus segera selesai. Namun, perlahan saya mencoba memberi diri sendiri ruang untuk berhenti sejenak dan memperhatikan apa yang sedang saya lakukan.

Bagi saya, mewarnai menjadi kesempatan untuk berlatih hadir pada saat ini: memperhatikan warna, mengikuti garis, dan menyadari perasaan yang muncul. Saya belajar berkonsentrasi, lebih teliti, dan tidak selalu terburu-buru.

Lebih dari itu, saya belajar bahwa saya boleh mencoba tanpa harus langsung mahir. Saya boleh menghasilkan sesuatu yang belum rapi tanpa perlu merendahkan diri sendiri.

Hari ini, saya sedang belajar berdamai dengan bagian diri saya yang dahulu takut mencoba.

Saya ingin melukiskan pengalaman ini lewat sebuah puisi sederhana:

Menggambar dan mewarnai di usia dewasa,  
Tak ada kata terlambat untuk mencobanya.
Meski goresan belum rapi, warna keluar garis,
Hati boleh senang, wajah boleh tersenyum manis.

Perlahan tangan belajar berani,
Memberi warna, mengungkapkan isi hati.
Tak harus indah di mata semua orang,
Cukup dinikmati, dengan hati yang tenang. 😊

Intinya biar jelek
Paling penting rilek :)

Jeffrey Lim
16-10-2026

Read More ....

Monday, October 12, 2026

Di tengah2 tempat asing ada RUMAH

Aku akhir2 ini merenungkan soal Yusuf...
Aku karakternya jauh banget ga mulia seperti Yusuf..
Mungkin lebih deket Yakub.. 

Tapi Yusuf ini menarik...
Dia itu dibuang sama saudara-saudaranya.
Dia hidup ke perasingan. Di Rumah Potifar.
Dan juga masuk ke penjara lagi karena ulah istri potifar.
Tapi Tuhan terus menyertainya.
Sampai ke jg jadi perdana mentri Mesir....

Yang aku refleksi : hidup Yusuf itu kehilangan kehangatan rumah. Tetapi dimana dia berada dia tetap jadi berkat.
Dan di negeri asing itu walaupun terasing dari ayah dan saudara-saudaranya... dia tetap ada kehadiran rumah..
Dan aku renung2... rumah itu sebenarnya bukan sedekar family.. tapi ketika Tuhan hadir dalam hidup kita...

WE ARE AT HOME...... 

Di rumah pemulihan Efata ini banyak orang yang pengen pulang ke rumah....... tapi mungkin gua harus ingetin mereka jg -> Rumah itu ketika Tuhan menyertai

-----------------------------------
Saya ada perasaan kesepian yang dalam ... tapi berusaha memegang anugerah terus,..... dalam keberadaan saya...
Berusaha untuk tetap di negeri asing....... ada Tuhan

Read More ....

Wednesday, September 30, 2026

Pelukan Kasih yang Mengubahkan Kehidupan

Sharing kehidupan di Rumah Pemulihan Efata
Jeffrey Lim

Saya baru saja berbincang dengan Pak David mengenai seorang remaja yang dalam tulisan ini saya sebut Mat. Saya bertanya, “Mengapa Mat sering bertingkah seperti itu?” Sebab, beberapa kali saya melihat perilakunya yang tidak biasa. Ia terkadang membuka pakaiannya, mengibas-ngibaskan baju hingga jatuh ke tanah dan kotor, serta kurang menjaga kebersihan dirinya. Saya juga mendengar bahwa ia kadang berteriak dan perilakunya sulit dikendalikan.

Pak David bercerita bahwa Mat memiliki kebutuhan khusus, termasuk autisme dan ADHD. Mat masih remaja, dan Rumah Pemulihan Efata secara khusus menyediakan pendampingan untuk membantunya belajar bahasa dan membaca. Di tengah pergumulannya, saya melihat bahwa ia masih membutuhkan banyak perhatian, kesabaran, dan pendampingan.

Saya sempat bertanya-tanya, “Bagaimana Mat bisa terus berkembang?” Dari Pak David, saya mengetahui bahwa sebelumnya perilakunya bahkan lebih sulit. Ia pernah meludah di berbagai tempat, termasuk ruang makan dan dinding. Ia juga pernah membuka pakaiannya hingga telanjang.

Namun, ada satu pengalaman yang sangat membekas bagi saya. Saya mendengar dari Pak David bahwa sesuatu yang merubah Mat lebih baik adalah Ketika Pak David memeluk Mat, lalu Mat membalas pelukan itu dengan erat. Dari cerita yang saya dengar bahwa Mat tidak pernah dipeluk ortunya sekalipun aja. Dan Mat kelihatan banyak berubah setelah ada momen dipeluk pak David. Saya tidak dapat mengatakan bahwa satu pelukan menjadi satu-satunya penyebab perubahan Mat. Proses pertumbuhan tentu melibatkan banyak hal: pendampingan, perhatian, kesabaran, dan waktu. Tetapi pengalaman itu mengingatkan saya bahwa penerimaan dan sentuhan yang penuh kasih dapat menjadi sangat berarti bagi seseorang.

Pada kebaktian hari Minggu ini, saya melihat momen serupa. Mat memeluk Pak David, dan Pak David membalas pelukannya. Terus terang, pakaian Pak David tampak rapi, sedangkan Mat saat itu terlihat sangat kotor. Namun, Pak David tetap menyambutnya dengan kasih.

Saya terharu melihatnya. Saya merasa bahwa banyak orang membutuhkan kehadiran yang menerima mereka—seseorang yang mau mendekat, mendengarkan, dan menunjukkan kasih dengan tulus. Ada orang-orang yang tumbuh tanpa merasakan kasih dan kehangatan dari ayah mereka. Ada pula yang mengalami kekerasan atau merasa tidak memiliki figur ayah dalam hidupnya. Alkitab menggambarkan Allah sebagai “Bapa bagi anak yatim” dan Pelindung bagi mereka yang lemah (Mazmur 68:6).

Pengalaman ini juga mengingatkan saya pada PA yang saya bawakan hari Rabu lalu tentang Yesus yang menyembuhkan seorang penderita kusta (Markus 1:40–45). Mengapa Yesus menjamah orang itu? Ia tentu dapat menyembuhkannya hanya dengan berfirman dari kejauhan. Namun, Yesus mengulurkan tangan dan menjamahnya.

Pada masa itu, penyakit kulit tertentu dapat membuat seseorang dinyatakan najis secara ritual dan harus hidup terpisah dari masyarakat (Imamat 13:45–46). Karena itu, penderita kusta bukan hanya mengalami penderitaan fisik, tetapi juga keterasingan sosial. Dalam kisah Markus, Yesus tidak hanya menyatakan, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Ia juga menjamah orang tersebut (Markus 1:41–42). Markus mencatat bahwa Yesus tergerak oleh belas kasihan.

Saya tidak menyamakan pergumulan Mat dengan keadaan orang kusta dalam kisah itu. Namun, kisah tersebut menolong saya melihat bahwa kasih Yesus tidak menjaga jarak dari orang yang disisihkan. Yesus mendekat kepada orang yang membutuhkan belas kasihan dan pemulihan. Ia melihat manusia yang berharga, bukan sekadar penyakit atau keadaan yang membuat orang lain menjauh.

Kiranya refleksi ini mendorong kita untuk lebih memperhatikan sesama. Ada orang yang membutuhkan kata-kata penguatan, pendampingan yang sabar, atau kehadiran yang menerima mereka. Bagi sebagian orang, pelukan yang tulus dapat menjadi ungkapan kasih—tentu dengan memperhatikan kenyamanan, persetujuan, dan batasan pribadi masing-masing.

Kasih yang konsisten dan relasi yang aman dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan pemulihan. Seperti nasihat Paulus, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!” (Galatia 6:2). Dan ketika kita berdukacita bersama orang yang berdukacita, kita sedang belajar mengasihi dengan hadir di sisi mereka (Roma 12:15).

Soli Deo Gloria — Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.
Jeffrey Lim

Read More ....

Friday, September 25, 2026

Roma 8:1–5 : Perenungan pagi hari ini.

Roma 8:1–5
Perenungan pagi hari ini.

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.

Pembacaan saya dari surat Roma sudah sampai pada pasal 8.

Di pasal 7, Paulus melukiskan pergumulan yang juga dialami orang percaya, seperti teman-teman dan saya. Walaupun sudah mengenal Kristus, kita tetap bergumul melawan dosa. Pergumulan ini tidak berarti kita belum mengenal Tuhan. Justru kita bisa merasakan pergumulan itu karena kita mulai mengasihi kehendak-Nya.

Ada beberapa hal yang saya lihat dalam Roma 7 yang menyatakan bahwa ini pergumulan orang yang sudah percaya Tuhan dan bukan orang yang belum percaya:

Pertama: Kita menyukai hukum Allah. Paulus berkata bahwa di dalam batinnya ia suka akan hukum Allah (Roma 7:22).

Kedua: Kita kadang melakukan apa yang tidak kita inginkan, lalu kita berduka karenanya. “Aku, manusia celaka!” seru Paulus (Roma 7:24). Kita tidak menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa saja.

Ketiga: Paulus berkata bahwa ketika ia melakukan apa yang tidak ia kehendaki, dosa yang tinggal di dalam dirinya sedang bekerja (Roma 7:20). Ini menunjukkan betapa nyata pergumulannya, meskipun bukan berarti ia melepaskan tanggung jawab atas tindakannya.

Kadang, sebagai seorang GKM, mungkin kita juga bergumul dengan cara memandang diri sendiri. Ada pendeta yang pernah menggambarkan pergumulan antara manusia lama dan manusia baru seperti pergumulan dua pribadi yang *split*. Dahulu, istilah skizofrenia pun kerap dijelaskan sebagai “terbelahnya pikiran atau jiwa”. Gambaran seperti ini bisa membingungkan. Skizofrenia bukan kepribadian ganda, dan pergumulan rohani dalam Roma 7 bukan berarti ada dua pribadi di dalam diri kita.

Kalau kita mau merefleksikannya, sebenarnya pribadi kita tetap satu. Di dalam Kristus, kita adalah manusia baru (2 Korintus 5:17). Kita rindu menyukai hukum Allah, walaupun masih bergumul dengan dosa dan kebiasaan lama. Jadi, pergumulan itu tidak harus membuat kita terus mendefinisikan diri dari kegagalan kita.

Roma 7 diakhiri dengan pertanyaan: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Lalu Paulus menjawab, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Roma 7:24–25).

Kemudian kita masuk ke Roma 8. Pasal ini sangat memberikan pengharapan.

Kita yang ada di dalam Kristus tidak lagi berada di bawah penghukuman. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” 

Karena itu, kita boleh dibebaskan dari rasa bersalah yang terus-menerus menghukum diri. Kalau kita berdosa, kita tetap perlu mengakuinya dan bertobat (1 Yohanes 1:9). Namun, kita tidak perlu hidup seolah-olah kasih karunia Kristus tidak cukup bagi kita.

Tetapi tidak hanya itu. Kita juga sedang dibebaskan dari perbudakan dosa melalui pekerjaan Roh Kudus. Allah telah melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan hukum Taurat: Ia mengutus Anak-Nya dan menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging (Roma 8:3–4).

Lalu, bagaimana kita belajar hidup semakin lepas dari perbudakan dosa?

Salah satu hal yang ditekankan Paulus ada di ayat 5: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.”

*Pikiran!* Kita perlu menjaga arah hati dan pikiran kita. Apa yang terus-menerus kita pikirkan akan memengaruhi cara kita hidup. Karena itu, mari belajar memikirkan hal-hal yang dari Roh, membawa pikiran kita kembali kepada Kristus, dan mengisinya dengan apa yang benar dan baik (Filipi 4:8; Kolose 3:1–2). Kita melakukannya bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan pertolongan Roh Kudus.

Semoga perenungan pagi ini memberkati. Terus pikirkan pikiran yang membangun sesuai dengan Roh Kudus !

Jeffrey Lim

Read More ....

Refleksi pagi : Mazmur 1

Refleksi pagi 
Mazmur 1

Pagi ini di rumah pemulihan Efata, ko Jeffrey merenungkan perenungan dari Mazmur 1 untuk next PA yang akan dibawakan rabu depan yaitu Mazmur 1.

Mazmur 1 melukiskan 2 jalan hidup : Jalan hidup orang fasik dan jalan hidup orang benar.
Orang fasik adalah orang yang tidak takut Allah dan yang hidup di dalam dosa.
Bukan berarti kita orang benar tidak pernah berdosa tetapi kita punya kepekaan dan kemauan untuk tidak terus menerus hidup di dalam dosa dan sebaiknya kesukaan kita adalah Firman Tuhan.

Dan Alkitab mengatakan orang yang tidak mengikuti nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa dan duduk di Kumpulan pencemooh adalah orang-orang yang berbahagia atau diberkati.

Jika kita ingin jalan berkat maka secara negatif kita harus menjauhi jalan berdosa dan secara positif kita harus merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. 
Siang dan malam disini bukan berarti full day ga ngapa-ngapain baca Alkitab saja. Tetapi kita punya kerinduan untuk setiap saat merenungkan tentang Tuhan dan FirmanNya. Jika kita ingin punya relasi hubungan yang baik dengan Tuhan, kita harus mengenalNya melalui FirmanNYa.
Dan FirmanNya juga menjauhkan kita dari dosa.

Orang yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam dia akan diberkati, akan berbahagia dan akan bertumbuh, berakar serta berbuah. Dan kita akan mempunyai buah Roh seperti yang dicantumkan dalam Galatia 5:22-23. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. 

Kiranya setiap teman-teman di Seeing termasuk saya juga mulai dan makin menyetel hidup kita pada jalan berkat. Mulai merenungkan Firman  Tuhan setiap hari. ini kesukaan kita.

Read More ....

Sunday, September 20, 2026

*Slow Living dan Healing — Bagian 1*

*Jeffrey Lim* Kehidupan modern sudah menjadi kehidupan yang keras dan serba cepat. Apalagi di kota yang semakin besar dan semakin macet seperti Jakarta, waktu seakan-akan berjalan lebih cepat. Bukankah waktu di kota dan di desa sebenarnya sama saja? Namun, pengalaman kita terhadap waktu ternyata bisa berbeda. Di kota kecil, waktu terasa berjalan lebih slow, sedangkan di kota besar, waktu terasa berlalu begitu cepat. Perasaan itu tentu dipengaruhi oleh berbagai hal. Di kota besar ada kemacetan, tuntutan hidup yang lebih tinggi, serta aktivitas yang begitu padat. Kecemasan, kekhawatiran, dan berbagai tekanan kehidupan membuat “motor adrenalin” kita terus bekerja. Akibatnya, kita menjadi tegang, letih, lesu, stres, dan sebagainya. Hal seperti ini dialami oleh banyak orang. Saya tidak sedang mengatakan bahwa kondisi kota besar selalu lebih buruk daripada kota kecil, atau bahwa tinggal di kota kecil pasti lebih baik. Memang, di kota kecil atau bahkan di desa, kita masih lebih mudah menemukan alam dan pepohonan yang membuat ritme kehidupan terasa lebih tenang. Namun, sering kali orang desa merasa tidak puas dan ingin pindah ke kota, sedangkan orang kota merasa tidak puas dan ingin tinggal di desa. Rumput tetangga memang sering terlihat lebih hijau. Namun, bukan itu yang ingin saya bahas. Yang ingin saya bagikan adalah tentang *slow living* dan kaitannya dengan kehidupan kita sebagai GKM—orang dengan Gangguan Kesehatan Mental. Seperti teman-teman ketahui, saya sudah pindah ke Salatiga dan sekarang tinggal di Rumah Pemulihan Efata. Saya sungguh bersukacita dapat menjalani kehidupan di Salatiga. Dahulu, ibu rohani saya pernah berkata, “Jeffrey nggak boleh capek-capek. Kalau terlalu capek, Jeffrey akan lebih mudah sakit. Kalau bisa, Jeffrey banyak menganggur. Nanti justru akan keluar berbagai tulisan dan karya.” Dan ternyata perkataan itu memang benar. Maksudnya bukan bahwa saya pada dasarnya seorang yang malas. Sebaliknya, saya sebenarnya seorang pekerja keras. Namun, sebagai seorang GKM yang memiliki keterbatasan dan kelemahan, ketika saya harus menghadapi tuntutan hidup dengan ritme yang terlalu tinggi, saya justru tidak berkembang dengan baik. Saya teringat pada tahun 2006–2007, ketika saya berada di Institut Reformed dan menjalani kehidupan dengan ritme yang lebih stabil. Saya memperhatikan bahwa di blog saya, https://limpingen.blogspot.com terdapat 56 tulisan pada tahun 2006 dan 144 tulisan pada tahun 2007. Saat itu ritme kehidupan saya cukup pelan. Saya memiliki banyak waktu untuk membaca, merenungkan Firman Tuhan, menulis, dan berelasi dengan orang-orang. Sekarang, di Salatiga, saya kembali merasakan *vibe* yang serupa. Saya menjalani kehidupan *slow living* tanpa terlalu banyak tekanan. Ritmenya lebih pelan, tetapi tetap ada kebebasan yang dijalani dengan tanggung jawab. Saya menemukan bahwa pola hidup seperti ini justru membawa saya semakin mengalami *healing*. Mulai minggu ini, setiap pagi saya mengawali hari dengan membaca buku. Pada jam kerja, saya mengerjakan aplikasi dan website. Ketika siang tiba, saya memperlambat ritme untuk bergaul dengan orang-orang, berolahraga seperti *gym*, atau beristirahat. Kemudian, pada sore hingga malam hari, saya mulai mengajar atau mengadakan pertemuan melalui Zoom bersama Seeing. Saya menemukan beberapa hal yang memberkati dari pola hidup *slow living* seperti ini: 1. Saya bebas berkarya, tetapi tetap bertanggung jawab. 2. Saya memiliki lebih banyak waktu luang, tetapi tetap berusaha menggunakannya sebaik mungkin. 3. Saya tidak terus-menerus hidup di bawah tekanan dan tuntutan. 4. Justru dalam ritme yang lebih pelan, produktivitas, hasil karya, dan sukacita saya meningkat. Karena itu, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan yang mengizinkan saya berada di Rumah Pemulihan Efata. Saya juga bersyukur karena Tuhan menggerakkan Pak David dan Ci Shirley untuk membuka kesempatan bagi saya tinggal di tempat ini. Saya bukan hanya diterima dengan baik, tetapi juga diberi kesempatan untuk turut mengambil bagian dalam pelayanan. Oh ya, ada satu kabar baik lagi yang juga saya syukuri. Besok saya akan pergi menemui psikiater setelah cukup lama tidak melakukan kontrol. Berdasarkan arahan dalam laporan dari dr. Reyhan, ada kemungkinan dosis obat saya dapat diturunkan secara bertahap. Namun, tentu hal ini harus diperiksa dan diputuskan terlebih dahulu bersama psikiater setempat di Salatiga. Saya memiliki *excitement* tersendiri mengenai hal ini. Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, ketika dosis Depakote dikurangi, fungsi kognitif saya biasanya terasa lebih berkembang. Namun, saya juga perlu tetap berjaga-jaga dan mawas diri karena risiko munculnya gejala hipomania mungkin menjadi lebih besar. Karena itu, proses ini tetap perlu dilakukan dengan hati-hati dan di bawah pengawasan dokter. Saya belajar bahwa sudah waktunya bagi saya untuk semakin *humble* dan semakin mengandalkan anugerah Tuhan. Saya tidak ingin menjadi gegabah atau terlalu percaya diri. Saya ingin tetap mengenali keterbatasan diri, mengikuti arahan dokter, serta belajar peka terhadap kondisi tubuh dan pikiran saya. Saya merasa bahwa lingkungan dengan ritme *slow living* seperti ini merupakan tempat yang tepat bagi saya untuk terus mengalami pemulihan, bertumbuh, berkarya, dan melayani di dalam anugerah Tuhan. Kiranya Tuhan terus menolong saya. Dan kiranya Tuhan saja yang dipermuliakan di dalam proses kehidupan saya. Tuhan baik. Soli Deo Gloria *Berlanjut…*

Read More ....
Powered By Blogger

LIMPINGEN BLOG