Wednesday, May 15, 2013

Bapa yang dari dunia yang berpikir duniawi tidak pernah bisa memuaskan engkau

Kedengarannya judul ini satu judul yang aneh. Bahkan mungkin agak vokal ataupun bernuansa radikal. Tetapi hal yang kedengaran tidak enak ini coba direnungkan maknanya. Sebab seringkali kalimat yang manis bisa menipu dan kadangkala juga kalimat yang keras ada benarnya.

Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati orang tua. Perintah ini dicatat sebagai perintah ke 4 dari sepuluh perintah Allah.  Menghormati orang tua dikaitkan dengan berkat. Apa itu menghormati orang tua ? Yaitu sebenarnya intinya kita mengasihi orang tua kita. Inti dari seluruh pengajaran hukum Tuhan adalah kasih.

Seringkali orang menafsirkan perintah menghormati orang tua itu ada nuansa menyembahnya dan menaati apapun auan mereka. Perkataan orang tua itu sepertinya sakral seperti perkaataan Tuhan dan harus ditaati semuanya. Bila kita tidak menaati orang tua maka kita anak durhaka. Dalam hal ini kita harus sadarbahwa kita sebagai orang tua menaati orang tua bukan karena permintaan orang tua tetapi karena kita mengasihi orang tua kita di dalam Tuhan. Menaati orang tua bukan berarti kita selalu mengikuti keinginan dan dambaan orang tua kita. Perintah orang tua yang harus kita taati ialah perintah orang tua yang sesuai dengan Firman Tuhan. Bila keinginan orang tua kita tidak sesuai dengan Firman Tuhan maka kita harus lebih menaati Firman Tuhan. Perintah Tuhan adalah yang tertinggi dan ultimat.

Di dalam budaya Chinese dan yang juga dipengaruhi oleh Kong Hu Cu maka hormat kepada orang tua itu dijunjung tinggi. Alkitab tidak berlawanan dengan hormat ke orang tua tetapi ada yang lebih dari sekedar itu yaitu menyembah Tuhan lebih dari apapun. Penghormatan kepada orang tua bisa menjadi satu berhala bila kita menganggap orang tua kita lebih besar daripada Tuhan dan rencananya.

Banyak kejadian di dalam dunia ini dimana banyak anak muda merasa tertekan dan stress dan depresi karena orang tua mereka seringkali mempunyai keinginan dambaan dimana mereka ingin anaknya jadi sesuai dengan cita-cita mereka. Dan mungkin orang tua mereka sendiri mengalami hal itu dari orang tua mereka juga. Jadi ini adalah siklus yang terus menerus di sepanjang umat manusia.

Bila keinginan orang tua itu sesuai dengan keinginan Tuhan maka itu satu berkat dan anugerah Tuhan. Namun bila keinginan orang tua itu adalah satu keduniawian maka itu akan menjadi kutuk, jerat dan yang mematikan.

Satu realita yang harus dijelaskan bahwa keinginan orang tua yang adalah cita-cita duniawi ini tidak pernah bisa memuaskan kita. Mungkin ayah kita ingin kita sukses di ekonomi, jadi ahli computer, jadi pengusaha, jadi guru, jadi dokter atau jadi apa saja yang mereka inginkan. Tetapi di balik semua itu mungkin sesungguhnya motivasi dibalik itu jauh lebih penting. Dan kedua panggilan Tuhan lebih penting.

Bagaimana bila orang tua kita yang mempunyai keinginan duniawi tidak bisa pernah pernah memuaskan kita ? Sebab nafsu dunia tidak pernah akan memuaskan. Sebab kita hanya bisa mengalami kepuasan secara rohani bila kita ada di dalam Kristus. Bila kita berada di dalam Kristus maka Bapa surgawi puas terhadap kita. Mengapa ? Sebab kebenaran Kristus diberikan kepada kita dan itu bukan hasil usaha kita. Di dalam Alkitab, Allah Bapa berkata tentang Yesus Kristus : “Inilah AnakKu yang kukasihi. KepadaNya lah Aku berkenan”. Jadi bila kita berada di dalam persekutuan dengan Kristus. Allah Bapa puas terhadap kita. Ini adalah kepuasan yang lebih dari apapun. Ini adalah berkat yaitu persekutuan dengan Bapa dan AnakNya dan RohNya yang Kudus.

Ketidakpuasan karena cita-cita orang tua yang duniawi bisa membawa kita kepada hidup yang sesak dan sebenarnya hidup yang penuh hawa kematian. Tetapi bila kita taat kepada Bapa dan mengasihi FirmanNya maka kita ada di dalam hidup dan hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus

Marilah kita mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Dan marilah kita mengasihi orang tua kita dengan kasih Kristus.
Semoga perenungan ini boleh menjadi berkat bagi kita semua

Jeffrey Lim
23-12-2011
www.iccccty.com

Read More ....

Pengampunan, Hal Kerajaan Allah, Kejadian 3 dan Kayu Salib

"Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35)

Di dalam perspektif Alkitab, dosa itu adalah satu pelanggaran terhadap hukum Allah. Di lain pihak dosa adalah satu hutang. Perikop yang kita baca di atas mungkin sudah kita seringkali dengar bahwa orang percaya harus hidup terus menerus mengampuni. Dan pengampunan ini dikaitkan dengan hal kerajaan Sorga. Apa pengertian semua ini ? Apa relasi antara pengampunan dengan hutang dan juga dengan hal kerajaan Sorga ?

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa maka manusia berada di dalam murka Allah. Mengapa Allah yang maha kasih namun Dia murka terhadap manusia yang berdosa ? Sebab sifat Allah yang adil mengharuskan manusia dihukum. Keadilan berarti satu keadaan yang menuntut seseorang dengan setimpal dengan perbuatannya. Bila seorang bersalah namun tidak dihukum dan seorang tidak bersalah namun dihukum itu tidak adil. Keadilan berkaitan dengan Allah sebagai Hakim dan Sang Kebenaran. Selain itu sifat Allah yang sempurna menuntut kesempurnaan di dalam ketaatan manusia terhadap kebenaran. Taurat Tuhan menjadi standard manusia untuk mengenal kesempurnaan hukum Allah.  Manusia yang jatuh dalam dosa tidak mampu menjalankan hukum Allah yang sempurna. Karena kesalahan terhadap satu hukum akan mengakibatkan kita bersalah di dalam keseluruhan hukum.

Ketika manusia jatuh dalam dosa maka manusia tidak bisa menebus dirinya supaya mereka diselamatkan. Ketika manusia berusaha menebus dirinya dengan perbuatan baik dan dengan berbagai hal untuk menutupi semua realitas dosanya itu maka manusia sebenarnya sedang menipu diri dan menekan kebenaran dengan kelaliman. Ini adalah gambaran manusia di dalam dosa.

Mengapa manusia tidak mampu membayar tebusan atas bersalahnya dia terhadap hukum Allah ?

Sebab Allah adalah tidak terbatas. Dan sebab Allah adalah sempurna. Maka pelanggaran terhadap hukum Allah adalah satu hal pelanggaran yang tidak terbatas dan penebusan yang hendak kita coba lakukan hanyalah satu hal yang terbatas dan tidak sempurna.

Karena itu maka kita perlu satu penebusan sempurna. Dan inilah yang menjelaskan mengapa Yesus harus seorang manusia dan juga harus juga Allah. Yesus sebagai manusia karena Yesus bisa mewakili manusia dan mengerti kesulitannya. Yesus sebagai Allah karena hanya kesempurnaanNya yang mampu membayar semua hutang dosa.

Maka inti berita Injil sebenarnya adalah Allah mengampuni kita orang berdosa di dalam karya AnakNya Yesus Kristus yang mati untuk menggantikan dosa kita. Korban yang sempurna itu menutupi dosa dan pelanggaran kita. Inti dari Kekristenan sebenarnya adalah kasih dan pengampunan dari Allah yang akibatnya membuat kita berdamai dengan Tuhan dan sesama. Pengampunan Allah mengharuskan orang percaya untuk mengampuni juga. Mengapa ? Sebab orang percaya sudah menerima anugerah Allah yaitu pemberian keselamatan dari karya Kristus Yesus yang mati di kayu salib. Itu bukan upaya kita. Itu bukan kinerja kita. Itu bukan kekuatan kita. Itu bukan kekudusan kita. Itu adalah pemberian cuma-cuma dari Allah kepada kita orang percaya.

Akibat dari kita menerima anugerah Allah maka kita harus hidup di dalam kasih karunia dan bukan di bawah Taurat lagi. Apa yang dimaksud di bawah Taurat yaitu berusaha untuk mencapai kebenaran diri dengan upaya diri sendiri yang tidak sempurna. Di bawah taurat berarti berusaha menebus kesalahan diri dengan perbuatan baik dan upaya apapun baik yang agamawi maupun sosial maupun apa yang kelihatannya bermakna di mata dunia. Orang percaya harus hidup mengandalkan anugerah dan hidup beranugerah juga. Keharusan ini berbeda dengan tuntutan Taurat sebab keharusan ini adalah satu penerimaan yang didasarkan bukan pada kita namun pada karya Kristus yang sempurna. Kita hanya menerimanya dengan Iman.

Setelah penjelasan panjang lebar mengenai semua ini, maka apa artinya sebenarnya pengampunan terhadap sesama itu ? Mengapa harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali ? Berarti orang percaya harus terus menerus mengampuni. Mengapa ? Sebab dia sendiri sudah diampuni.

Di dalam perikop ini kita melihat seorang hamba yang berhutang kepada raja. Dia berhutang sangat besar sekali dan harus membayar itu semua. Mari kita perhatikan apa yang dimaksud dengan hutang yang sangat besar sekali. Ini berarti ada standard perhitungan. Di dalam perumpaan ini memakai perbandingan sepuluh ribu talenta yang merupakan hal yang sangat besar. Nilai standard ekonomis ini dianalogikan sebenarnya dengan standard tuntutan Hukum Taurat yang begitu besar dan sempurna. Raja itu melukiskan Allah yang mengampuni hamba itu. Kemudian hamba itu setelah diampuni dia keluar dan dia melihat orang yang berhutang jauh lebih kecil daripada pelanggaran dia. Dia terus tidak mengampuni dan bertindak dengan standard keadilan ekonomis. Dia tidak bertindak menggunakan standard anugerah yaitu pengampunan. Dia menuntut.

Adalah satu ironis ketika dosa kita yang begitu besar diampuni Allah namun kita tidak mau mengampuni sesama kita. Maka di dalam perikop ini dikatakan bahwa Raja itu marah dan menyerahkan kepada algojo-algojonya. Karena orang itu tidak mau mengampuni sesamanya dan memperhitungkan sesamanya dengan ukuran keadilan dan Taurat maka Allah marah dan memperhitung sesamanya dengan ukuran keadilan dan standardNya juga.

Inti pengajaran ini maka Yesus mengajarkan bahwa secara negatif bahwa Allah akan tidak berkenan dan marah apabila kita tidak mengampuni saudara-saudara kita. Secara positif Yesus mengajarkan supaya murid-murid terus hidup di dalam pengampunan. Semua ini dasarnya karena mereka sudah diampuni.

Saya mau mengkaitkan pengajaran pengampunan yang beranugerah dan penghukuman dengan tuntutannya  di perikop ini dengan Kejadian 3.

Di dalam kejadian 3 setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa maka Adam mulai menyalahkan Hawa dan melihat Hawa di dalam tuntutan keadilan dan penghakiman. Begitu juga dengan Hawa mulai menyalahkan ular. Ini adalah keadaan dunia kita. Ini adalah realitas dunia orang berdosa.

Bukankah adalah satu realitas bahwa konflik di dalam keluarga dan masyarakat adalah karena kita tidak saling mengampuni dan saling menuntut keadilan seorang dengan yang lain ?

Kemudian setelah manusia jatuh dalam dosa maka manusia masing-masing ingin menutupi dosanya. Manusia bersalah dan malu. Bersalah karena sudah melanggar hukum Tuhan. Malu karena kehilangan kemuliaan Allah. Maka manusia memakai baju untuk menutupi malunya mereka. Semua upaya yang manusia lakukan untuk menebus dirinya adalah cara upaya manusia melarikan diri dari murka Allah. Manusia menyalahkan sesamanya supaya dirinya tidak terbuka dan ditelanjangi. Manusia takut penghukuman Allah. Dan manusia menekan kebenaran dengan kelaliman.

Tetapi ada satu manusia yang berbeda. Dia adalah Yesus Kristus.  Dia tidak berdosa. Dia tidak bersalah. Dia benar. Tetapi dia harus menderita bahkan mati di kayu salib. Semua ini karena kasihNya kepada kita orang berdosa. Kemungkinan Yesus mati ditelanjangi dan benar-benar dipermalukan. Tetapi sebenarnya Dialah yang menanggung kesalahan kita dan penyakit rohani kitalah yang ditanggungNya. Orang menyangka Dia kena tulah, kena kutuk tetapi Dia sebenarnya mati untuk kita orang berdosa. Dia rela mati di kayu salib seperti domba yang dituntun untuk dipotong. Dia adalah Anak Domba Allah yaitu korban penebusan bagi dosa kita.

Begitu besar kasih Tuhan kepada kita ! Kita yang menerimanya benar-benar real diampuniNya. Dan masakah kita tidak mau mengampuni sesama kita ?

Tuhan kita yang mati dikayu salib mengajarkan satu doa yaitu “Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Maka di dalam renungan singkat ini saya hendak mengajar kita untuk saling mengampuni. Mengapa ? Sebab kita sudah diampuni !

Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim
20-12-2011
www.iccccty.com

Read More ....

Kosong di tengah-tengah kepenuhan ( Refleksi tentang Social Networking )

Hari ini ketika sedang sharing bersama teman-teman di dunia Internet maka saya dapat satu pemahaman dari perenungan teman saya. Tema itu adalah kosong di tengah-tengah kepenuhan. Awalnya kelihatan seperti kata yang nuansanya filosofis. Tetapi ternyata ini simple dan real di dalam hidup kita jaman sekarang.

Di jaman online sekarang, orang suka bersosialisasi di Social Networking seperti facebook dll. Seseorang bisa punya teman sampai ribuan bahkan posting foto2 banyak dan bikin status2 di wall fb. Seseorang bisa saja menampilkan satu image tertentu tentang dirinya. Di dalam foto2 yang ditampilkan biasanya banyaknya foto-foto bahagia dan foto2 senang. Hidup seakan-akan di dunia yang indah. Tetapi benarkah realitas yang dihidupi seperti itu ?

Ribuan teman di facebook bukan berarti anda seseorang yang berelasi sosial dan seseorang yang banyak teman. Mungkin di tengah angka ribuan itu berapa banyak yang pernah chat dengan anda dan juga angka ribuan itu tidak bisa menunjukkan kepenuhan kehidupan sosialmu. Bahkan mungkin saja kita sebenarnya kesepian di tengah-tengah ribuan teman yang maya.

Status-status di wall facebook seringkali mencoba untuk menarik perhatian orang lain. Dan ternyata mungkin sekali kita tidak puas dengan hanya beberapa komentar yang ada. Bahkan bila komentarnya pun sampai ratusan ada kemungkinan kita pun masih belum puas. Ini menandakan manusia ditengah keramaian sosial media dan di dalam kesepian jiwanya. Dan kita semua berlagak kita happy, punya banyak teman dan menyembunyikan keresahan, kesepian, dan kekosongan jiwanya. Bukankah ini satu hal yang real ?

Satu fakta bahwa manusia adalah mahluk sosial dan manusia menemukan makna dirinya di dalam relasi dengan orang lain. Kita menemukan arti hidup ketika kita berada di dalam relasi kasih. Manusia tanpa kasih dan makna adalah manusia yang kehilangan arti hidup dan lepas seperti layang-layang.

Alkitab mengajarkan satu realita bahwa semua manusia adalah pembohong. Kita memang secara daging naturnya pembohong. We all are liars. Kita biasa memakai topeng. Kita biasa berpura-pura. Kita biasa ingin menampilkan apa yang bukan diri kita. Sebab kita takut ditolak dan tidak diterima orang lain.

Di dalam perenungan ini bukan berarti semua dunia online : website, facebook, YM, email, dll semuanya adalah tidak berguna dan jahat adanya. Ini semua ada tempatnya. Kita tidak bisa ekstrim berkata bahwa semua buah-buah teknologi adalah kejahatan adanya. Kita juga tidak bisa mengatakan kita mau hidup tanpa dunia teknologi. Tetapi yang harus kita waspadai adalah bahwa kita tidak boleh terjebak hanya hidup di dunia maya tanpa menjadi real apa adanya.

Untuk menyeimbangkan antara social media yang bisa memiskinkan rohani maka kami di dalam ICCCCTY ( Indonesian Christian Counseling and Care Community for Teenagers and Youth – www.iccccty.com ) menyadari bahwa pelayanan di dunia online tidak bisa hanya terbatas di dunia online. Memang secara jujur kamipun menyadari bahwa satu pelayanan bila hanya secara online maka ada kekurangan yang besar yaitu kekurangan hadir bersama-sama secara fisik ( embodiment ). Ini satu kelemahan yang kita harus akui. Tetapi memang satu hal yang kami harus jujur akui juga bahwa bukan berarti website, materi-materi rohani, Tanya jawab, forum, dan komunitas online adalah tidak ada gunanya sama sekali. Kami percaya bahwa mungkin ada banyak orang yang terjebak di dalam dunia online dan hidupnya kosong serta tidak ada jalan keluar paling sedikit bisa mengenal Firman melalui media online. Dan juga mungkin ada orang-orang yang belum berani menyatakan pergumulannya di dalam dunia nyata paling sedikit berani mensharingkan pergumulannya dengan nama anynomous. Ini bukan satu hal yang tidak berguna sama sekali karena ketika seseorang menyuarakan hatinya paling sedikit sesak di dalam jiwa itu boleh dituangkan di atas tulisan dan bisa menjadi refleksi bagi dirinya sendiri. Kedua ketika seseorang menyuarakan hatinya dan masalahnya kami belajar berkomitmen untuk mendoakan mereka. Kami percaya bahwa media online bila digunakan secara tepat bisa ada tempatnya untuk menjadi berkat.

Kiranya dari perenungan yang sangat singkat dan terbatas dan tidak sempurna ini boleh sedikit membuat kita merenung supaya kita jangan terjatuh kepada hidup hanya secara maya. Kedua supaya kita pun tahu bahwa dunia internet ini ada tempat yang harus diletakkan pada posisinya di dalam dunia ciptaan Tuhan yang bukan segala-galanya tapi juga bukan nothing.

Tuhan berkati
Jeffrey Lim
19-12-2011
www.iccccty.com

Read More ....

Bila kau pernah cinta Yesus

Saya hendak memberikan perenungan singkat mengenai satu tema yaitu “Bila kau pernah Yesus”. Perenungan tulisanku ini saya dedikasikan pada teman-temanku dan saudara-saudaraku yang mungkin di dalam hidup mengikut Kristus pernah sadar dirinya mendukakan hati Tuhan. Tetapi saya percaya satu hal yaitu kasihNya melebihi pelanggaran kita. Sebelumnya mari kita renungkan satu nats Alkitab yaitu :

Yohanes 21:15-19 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."  

Seringkali kita begitu antusias mengikuti Yesus. Seringkali kita begitu benar-benar semangat dan menggebu-gebu di dalam menjalani panggilan kita sebagai seorang murid. Kita mengalami sukacita dan damai sejahtera di dalam Kristus Yesus yang melebihi apapun. Kita mungkin bisa mengatakan “I rather have Jesus than silver or gold !”. Kita benar-benar euphoria mengenai keberadaan kita. Kita berada di dalam pengalaman emosi menikmati yang high. Kita sudah tinggalkan semuanya untuk ikut Yesus. Kita sadar bahwa kita dekat dengan Dia adalah satu berkat yang melebihi berkat apapun.

Namun ternyata pada satu titik di dalam hidup kita. Kita di dalam keterbatasan dan kelemahan kita sebagai seorang manusia. Kita jatuh dan mendukakan hati Tuhan. Kadang yang kita perbuat itu mungkin satu hal kecil yang menyakitkan Tuhan. Namun ada kalanya kita kaget karena kita tidak menyangka bahwa kita yang mengatakan mengasihi Tuhan ini kita melakukan hal besar yang menyakitkan hati Tuhan. Satu tragedi yang mengenaskan bagi diri kita, bukan ?

Kalau saya memakai analogi dari penyakit yang saya derita. Ini cuma  satu metafora yang bukan berarti setiap orang yang bertindak demikian adalah sakit bipolar disorder. Ini cuma gaya bahasa perbandingan. Orang-orang yang mempunyai penyakit bipolar disorder atau dulu disebuh manic disorder maka mereka bisa sangat antuias melakukan sesuatu dan sangat percaya diri dan sangat energik. Sampai satu titik mereka mengalami kegagalan maka mereka kaget dan tidak sanggup menghadapi dan mengatasinya. Mereka menjadi depresi. Mereka mengurung diri. Mereka tidak berani menghadapi realita.

Bukankah hal seperti ini mungkin terjadi pada kita ?

Ketika saya merenungkan mengenai Simon Petrus. Pengalaman dia mungkin bisa ada mirip dengan anda dan saya. Begitu komitmen dan menggebu-gebu mengikut Tuhan. Tetapi jatuh dalam dosa. Dan ketika Simon Petrus mengetahui bahwa Yesus Kristus mati di salibkan, Simon Petrus kembali kepada kehidupannya yang lama yaitu menjadi nelayan. Simon Petrus yang sudah meninggalkan pekerjaan nelayannya untuk mengikut Tuhan maka kembali kepada pekerjaannya.

Di dalam realitas ini memang seringkali tidak mudah bagi kita untuk menghadapi kegagalan. Tidak semua orang mempunyai kekuatan untuk langsung berani menghadapi kegagalan. Raja Daud di dalam hidupnya ketika jatuh dalam dosa dan ditegur oleh Nathan maka dia dapat dengan cepat menyesal dan bertobat. Namun seringkali pengalaman ini bukan pengalaman kita. Seringkali kita terperosok dan terikat serta terisolasi di dalam pengalaman kesalahan kita. Dan kita menjadi depresi, tidak menghadapi realitas dan juga menghukum diri kita terus menerus.

Tetapi bersyukur kepada Tuhan !  Injil kabar berita baik itu bukan saja bagi masa lalu kita. Bahkan Injil Kerajaan itu juga untuk masa sekarang dan masa depan kita. Berita kabar baik itu adalah bahwa Yesus Kristus bukan saja mati di kayu salib untuk menebus dosa kita namun Dia bangkit kembali untuk supaya kita bisa hidup di dalam kebenaran. Dan Yesus yang bangkit adalah Yesus yang sama yang mengasihi dan melawat umatNya. Dia bangkit dan kembali melawat Simon Petrus.

Seringkali kita mempunyai satu pandangan bahwa Injil itu adalah satu berita kabar baik. Kemudian kita menerimanya dan kita punya pengharapan akan masa depan karena di masa lampau kita sudah menerima Injil. Tetapi sesungguhnya kita bukan saja diselamatkan karena percaya Injil di masa lampau. Namun kita harus hidup oleh Injil dan terus menerus bergantung pada Injil. Menerima Injil bukan cuma satu momen di dalam awal hidup percaya kita. Menerima Injil adalah terus menerus hidup di dalam Injil dan terus menerus hidup di dalam kasih karunia dan pengampunanNya. Kita bukan saja percaya Injil namun harus hidup oleh Injil.

Ketika mungkin saudara/saudari sedang mengalami masa pahit dan mengenaskan di dalam hidup. Saya bukan bicara muluk-muluk. Kita harus sadar bahwa kita bukan superhero. Kita tidak bisa dengan cara diri kita untuk bangkit baik dengan cara psikoterapi ataupun cara-cara yang lain. Kita hanya perlu sadar memang kita sudah bersalah. Kita harus real jujur. Kita harus menyadari bahwa kita memang orang yang miskin itu, orang yang papa itu, orang yang hina itu dan orang yang membutuhkan anugerah Tuhan. Dan berbahagialah orang-orang seperti demikian yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah.

Salah satu cara untuk pulih adalah dengan jujur mengakui kesalahan kita dan real menghadapinya dengan Tuhan yang maha kasih. Kita perlu datang kepada Tuhan dengan segala keberadaan diri kita. Dan mengaku kita membutuhkan anugerahNya.

Saya percaya anugerah pemulihan dan penyembuhan rohani itu Tuhan akan karuniakan kepada kita yang sungguh-sungguh kembali kepadaNya. Sebab itu adalah perkataan JanjiNya yang tidak pernah bersalah.  Yoh 1:9 Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Marilah kita yang mungkin pernah mendukakan hati Tuhan, kembali kepada tangan kasih karuniaNya. Tuhan Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar namun untuk yang berdosa.

Puji Tuhan !
Amin !

Jeffrey Lim
19-12-2011
www.iccccty.com

Read More ....

Manusia takut kalau dia salah ( atau ketahuan bersalah )

Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa respon pertama setelah manusia  pertama jatuh dalam dosa adalah takut. Mengapa mereka takut ? Mereka takut karena merasa bersalah dan juga karena ketahuan mereka bersalah. Kalau kita merenungkan apa itu takut ? What is fear ? Alkitab di bagian lain mengatakan barangsiapa takut dia tidak sempurna dalam kasih. Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Namun di dalam takut ada penghukuman.
Mengapa manusia menjadi takut ? Ini pertanyaan eksitensial yang sangat mendalam ! Mengapa kita seringkali merasa takut ?

Jawabannya karena kita bersalah dan sudah kehilangan kasih dan sumber kasih. Kita sudah kehilangan relasi dengan sang kasih. Kita hidup terputus dari relasi dan kita menjadi individu yang otonomi.

Setelah manusia jatuh dalam dosa, kemudian di dalam Kejadian 3 dilukiskan bahwa Adam dan Hawa menjadi takut dan mereka bersembunyi. Ini respon mereka. Pada umumnya manusia kalau ketahuan bersalah maka akan bersembunyi. Mengapa demikian ? Sebab bersalah mengandung hukuman dan hukuman itu harus dijalankan. Maka manusia menghindari penghukuman dan ingin selamat dari penghukuman. Mereka hendak melarikan diri dari penghukuman.

Di dalam realitas dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini maka kita melihat bahwa manusia yang berdosa itu melakukan banyak cara untuk menyembunyikan diri dari takut dan penghukuman. Roma 1 menggambarkan hal ini dengan mengatakan bahwa manusia menekan kebenaran dengan kelaliman. Suppress the truth. Kalau kita melihat dunia psikologi sekuler kita dapat menemukan cara-cara manusia untuk bersembunyi yang disebut defense mechanism.

Manusia bisa bersembunyi dengan berbohong, dengan represi, dengan projeksi, dengan penolakan, dan banyak cara lain yang dilakukan manusia untuk bersembunyi. Ada banyak cara bahwa sampai mencapai problema mekanisme yang lebih kompleks. Misalnya obssesive compulsif disorder ( OCD ) adalah salah satu cara yang dilakukan manusia berdosa untuk menebus dirinya. Orang-orang seperti ini seringkali melakukan ritual misalnya membersihkan diri terus menerus supaya dirinya merasa diri baik padahal sebenarnya sedang menutupi bagian lain yang salah. Selain OCD, ada bentuk-bentuk mekanisme pertahanan lain dari manusia untuk melarikan diri dari realitas bahwa dia ada di dalam penghukuman. Ada satu jenis sakit kejiwaan yang disebut multiple personality disorder dimana seseorang berubah menjadi personalitas yang lain. Dalam kasus yang lebih ringan bisa dikategorikan sebagai borderline personality disorder. Mekanisme ini adalah mekanisme bertahan hidup terhadap trauma. Dan harus diakui bahwa manusia yang bersembunyi adalah manusia yang hidup dalam kebohongan dan ketidakjujuran baik terhadap Tuhan, sesama dan diri sendiri.

Kalau kita kembali kepada Kejadian 3.  Disana kita melihat ketika Tuhan Allah berjalan-jalan di taman Eden. Coba perhatikan bagian itu. Drama itu semua itu dilukiskan dengan sangat tenang dan wajar. Allah tidak terburu-buru ritmenya dan berjalan di kedinginan pagi. Dan Allah sangat anggun. Allah tidak tergesa-gesa.

Sebaliknya manusia yang berdosa ritme detak di dalam hatinya sudah cepat dan ketakutan dan merasa mungkinaAllah akan menghakimi dan menteror mereka. Alkitab jelas memaparkan bahwa tujuan Allah berjalan di dalam taman itu adalah untuk memberikan satu pengampunan. Dan Allah memulai dengan dialog dengan manusia.Tujuan dialog itu adalah untuk membawa keselamatan.

Tetapi respon Adam yang berdosa dan ketakutan langsung menuduh hawa. Hawa yang sebelumnya di dalam Kejadian 2 dipuji-puji sekarang dituduh. Kemudian Hawa langsung menuduh ular. Intinya mereka semua hendak membenarkan diri. Mereka memakai baju mereka sendiri untuk menebus salah mereka. Mereka kehilangan pandangan yang benar akan realitas.

Satu realitas di dalam dunia ini bahwa kita sangat takut untuk diketahui masalah kita. Kita  sangat takut untuk dihukum. Kita sangat takut untuk ditelanjangi. Kita sangat takut untuk dikenal siapa diri kita yang sangat rentan. Karena itu sudahlah lazim bahwa mekanisme yang biasa adalah dengan berpura-pura. Tetapi ketika manusia memakai topeng untuk menutupi kesalahan dirinya maka mungkin dia bisa aman sementara. Tetapi satu hal yang jelas bahwa manusia akan terpenjara jiwanya di dalam ketidak benaran dan kebohongan.

Kalau kita bandingkan dengan Daud maka sungguh sangat unik Daud ini. Ketika Nabi Nathan menegur dosa Daud maka respon Daud adalah langsung bertobat.  Mazmur 32 dan Mazmur 51 melukiskan bahwa pertobatan Daud. Daud mengaku dosa. Ini sangat unik. Mengapa ? Daud tidak mempersalahkan Barsheba yang mandi terbuka. Daud juga tidak mempersalahkan dia yang mungkin kebawa hawa nafsu insting dia. Tetapi Daud sadar dia berdosa dihadapan Allah.

Kejujuran dan mengaku dosa. Dan inilah respon yang Tuhan ingin ketika kita ada di dalam dosa. Jujur dan mengaku bahwa saya berdosa dan menerima pertolonganNya.  Tidak perlu memakai baju-baju buatan sendiri. Tetapi di dalam telanjang memakai jubah yang Allah sediakan yaitu pengampunan di dalam AnakNya Tuhan Yesus Kristus.

Dari renungan singkat ini saya mengajak kita semua untuk sama-sama belajar di dalam keterbatasan manusia kita untuk mengaku dosa dan menerima pengampunanNya.

Jika kita mengaku dosa kita, maka Dia adalah setia dan adil, sehingga Dia akan mengampunkan segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan ( 1 Yoh 1:9 )

Tuhan berkati
Jeffrey Lim
www.iccccty.com

Read More ....

Thursday, January 12, 2012

Tuesday, February 15, 2011

Refleksi tentang Berpikir

Refleksi tentang berpikir : : Tahu dari mana kita mengenal dan mengerti orang lain, diri sendiri dan sekitar kita dan ternyata pengertian itu benar ?

                Orang yang mengalami schizophrenia atau psychotic mengalami delusi dan halusinasi dimana pikiran, perasaan dan realitas yang dia alami dengan dunia luar ternyata tidak benar dan tidak real. Dari kasus ini ingin saya ambil waktu sejenak  untuk refleksi dan berpikir : bagaimana kita tahu bahwa pikiran kita itu benar sesuai dengan realitas ? Bagaimana kita yakin pikiran kita itu sinkron dengan realitas ?
Kalau kita pernah menonton film Matrix, disana ada satu pandangan kita mengenal realitas. Bagaimana kita tahu pikiran kita di dalam mengenal dunia luar ini benar ? Jangan-jangan kita otak kita sedang di plug in dengan computer dan semua pengenalan kita itu semua tidak real ? Sejauh mana pikiran kita itu benar-benar sesuai dengan realitas ?
                Ambil contoh sederhana lagi : ada sepasang orang suami istri yang berasal dari 2 kebudayaan yang berbeda sedang berkomunikasi. Istri berasal dari China dan suami berasal dari Amerika. Di dalam budaya china, minum teh adalah ada cangkir dan ada teko dari tanah liat dan ada tehnya di dalamnya. Di dalam budaya amerika, minum teh mungkin minum ice lemon tea. Ketika suami berbicara kepada istri untuk meminta minum teh, tahu dari mana pengertian tehnya itu benar ? Bila ternyata mereka akhirnya berkomunikasi dengan bahasa dan akhirnya mengerti pengertian mereka tentang minum teh itu akhirnya sama lalu apa yang menjadi kepastian bahwa pengertiannya benar ?
                Kemudian lebih lanjut : Waktu suami dan istri saling komunikasi dan saling mengenal. Tahu dari mana pengenalan di pikiran suami itu sama dengan realitas sebenarnya tentang istrinya. Dan tahu dari mana kata-kata dari istri itu pengertiannya sama dengan pengertian di dalam pikiran suaminya ? Apa dasar common ground untuk pengetahuan supaya komunikasi antar manusia bisa saling dimengerti ?
                Bagaimana bila ternyata waktu kita mengenal diri kita atau orang lain ternyata itu tidak sesuai dengan realitas fakta sebenarnya ?
                Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, coba pikirkan hal ini. Sebenarnya sesuatu itu indah karena itu pemahaman orang yang memandangnya atau itu ada di dalam benda itu sendiri. Itu objektif atau subjektif ? Waktu kita mengatakan perempuan itu cantik , itu cantik ada dimana ? Di pikiran kita atau di benda itu sendiri ? Bagaimana kalau ternyata kita bilang itu cantik dan ternyata pikiran kita tidak sinkron dengan realitas dan ternyata realitasnya tidak cantik ? Apakah pikiran kita benar ? Apa dasarnya ?
                Mungkin kita pikir buat apa perenungan seperti ini ? Bikin pusing saja. Bikin sakit kepala. Buat apa mikir-mikir, jalani aja. Tapi masalahnya ini serius kepada kehidupan. Bila ternyata pengertian kita tidak sinkron dengan realitas. Bila ternyata pengertian kita waktu kita komunikasi dengan pasangan kita ternyata interpretasinya tidak tepat maka kita sebenarnya teralienasi dengan realitas. Ini mengerikan !
                Misalnya kedua suami istri terus menerus ingin saling mengenal satu sama lain dan mereka saling mengasihi. Alangkah mengerikannya bila ternyata mereka merasa tidak mengenal pasangannya karena tidak ada kepastian bagaimana mereka bisa yakin pemahaman mereka itu sesuai dengan realitas.
                Juga ketika kita mengenal diri kita dengan kesadaran kita dan ternyata kita tidak mengenal diri kita. Itu mengerikan ! Kita teralienasi dengan pikiran kita. Realitas mengenai diri kita tidak sama dengan apa yang kita pikirkan atau rasakan.
                Tetapi bersyukur kepada Tuhan !
                Ternyata jawaban terhadap pergumulan ini ada !
                Kita bisa mengerti diri kita, orang lain, dunia di luar kita dan pengertian itu benar karena ada dasarnya. Dunia ini dunia ciptaan Tuhan. Dan Tuhan menciptakan dunia ini dengan FirmanNya.  Ciptaan Tuhan ini ada hukumnya. Hukum yang bersifat aspektual ini bersifat menyeluruh  dan multiaspektual. Bila kita mau mengerti apa yang indah di dalam sebuah benda, ada yang menjembatani keindahan yang ada di dalam benda itu dan keindahan di dalam pikiran kita. Yaitu hukum aspek keindahan. Hukum aspek keindahan ini ada di dalam benda itu dan ada di dalam pikiran kita. Dan ini hukum di alam semesta yang Tuhan ciptakan. Jadi hukum ini yang memediasi.
                Bila kita dan pasangan kita sedang berkomunikasi dan saling berbicara maka kita bisa saling mengerti satu sama lain karena hukum kategori pengertian di dalam pikiran kita dan hukum di dalam perkataan kita dan hukum kategori pengertian di dalam pikiran pasangan itu hukum yang sama. Baik dunia luar ini dengan dunia pikiran kita, hukum yang memediasinya sama. Karena dunia eksternal dan dunia internal kita ini sama-sama diciptakan oleh Firman Tuhan.
                Bersyukur untuk Firman Tuhan yang membuat kita bisa mengenal realitas dengan benar. Melalui Firman Tuhan kita bisa berpikir benar. Walaupun itu tidak sepenuhnya lengkap tetapi itu benar dan tepat. Jadi kita tidak usah jatuh ke dalam skeptisme atau jatuh ke dalam nihilism.

Puji Tuhan !
Jeffrey Lim
Selasa, 15 Februari 2011

Read More ....

Aplikasi dari Pengertian yang menerobos konsep wawasan dualisme

( Kelanjutan dari artikel selanjutnya mengenai “Percakapan Yesus menerobos konsep wawasan yang dualisme”. )
* Notes : Ada baiknya sebelum membaca artikel ini membaca artikel sebelumnya supaya konteksnya dimengerti

 Jeffrey Lim

Dengan wawasan Kristen yang benar maka kita memandang semua bagian realitas ciptaan Tuhan baik adanya dan tidak terjadi dualisme di dalam berpikir dan hidup. Dualisme gnostik dan Platonism menganggap bahwa dunia non materi lebih tinggi dan dunia materi lebih rendah bahkan ada nuansa jahat.  Pemikiran ini tidak sesuai dengan pemikiran Alkitab. Saya teringat akan lagu “All things are bright and beautiful”. Lagu ini melukiskan bahwa Tuhan menciptakan dunia ini dan segala sesuatunya indah adanya. Baik aspek ciptaan yang berupa materi : pohon, burung, laut, langit, dan aspek ciptaan yang berupa non materi : bentuk, matematik, logika, konsep, semua ini indah adanya. Sungguh bersyukur kita hidup di dalam dunia ciptaan Tuhan yang indah ini. Dunia ini indah karena Penciptanya maha bijaksana dan maha baik adanya.

Di dalam refleksi kali ini, saya ingin membagikan luar biasanya pengertian integratif ini di dalam memandang kehidupan dan menerobos konsep yang dualisme. Sebab dengan konsep yang dualisme sebenarnya membuat hidup menjadi sempit dan sesak. Namun kebenaran Tuhan itu membebaskan. Kebenaran Tuhan itu memerdekakan. Dan kebenaran  Tuhan itu membuat hidup menjadi limpah. Yang saya ingin bagikan di dalam refleksi ini adalah mengenai panggilan Tuhan.
Ketika kita mendengar seseorang mengikut Kristus dan kemudian meninggalkan kepercayaan berhalanya dan percaya Tuhan maka kita bersukacita. Ketika orang itu mengalami penganiayaan dan kesulitan dan pergumulan memikul salib  di dalam mengikut Tuhan maka kita bersyukur dan mengatakan orang itu diberkati. Kita berpikir karena ini sesuai dengan ucapan bahagia kotbah di bukit bahwa yang dianiaya karena kebenaran adalah diberkati. Kita juga menganggap bahwa orang ini bijaksana karena memilih sesuatu yang mulia yaitu mengikut Kristus.

Kemudian ada satu kasus lagi dimana seseorang tadinya seorang pedagang dan kemudian dipanggil Tuhan menjadi hamba Tuhan yang memberitakan Injil. Ketika orang itu tadinya kaya punya banyak materi dan kemudian orang itu sekarang memikul salib menjadi penginjil atau pendeta maka kita pun mempunyai pemikiran yang serupa dengan analogi di atas.

Kehidupan yang evil atau lebih evil           ->   Kehidupan yang lebih mulia / diberkati

Tetapi sebenarnya kedua perbandingan di atas itu tidak sama analoginya. Dan mari kita balikkan pengertiannya yaitu bila seseorang tadinya terjun di dalam pelayanan namun sekarang masuk ke dunia usaha, apa yang terjadi di dalam pemikiran orang percaya ? Orang yang menempuh jalan di bidang usaha dan tidak jadi di bidang “rohani” menempuh kehidupan yang lebih sekular, lebih tidak suci.

Ini adalah dualisme.

Mengapa saya berani berkata demikian ? Karena itu ada prinsip kebenarannya ? Sebenarnya saya pribadi juga bergumul banyak di dalam wilayah dualisme ini. Ini pergumulan real hidup saya. Dahulu saya masuk di sekolah teologi dan berbagian banyak di dunia pelayanan gerejawi. Mengapa saya mau melayani di pelayanan gerejawi ? Saya harus berkata jujur  satu hal yaitu : Dulu saya di dalam kekosongan hidup dan kehampaan serta pencarian makna hidup mengerti kebenaran secara salah. Saya menanggap dunia pelayanan gerejawi lebih suci dan lebih mulia di bandingkan dengan dunia pekerjaan. Dan saya menganggap hal-hal usaha itu lebih kotor adanya daripada pelayanan gerejawi. Kemudian saya masuk di sekolah teologi. Tetapi di dalam saya menjalani bidang ini banyak naik turun. Dan pergumulan hidup saya selama 10 tahun ini berada di dalam ketegangan pemikiran antara pelayanan gerejawi dan pekerjaan di dalam makna keberartiannya. Orang yang mengenal hidup saya mengetahui bahwa saya ada masuk sekolah teologi kemudian cuti, kemudian sekolah kemudian masuk lagi namun keluar, kemudian masuk lagi dan cuti lagi dan sekarang kerja. Ada pendulum bulak balik di dalam pergumulan ini. Sewaktu saya memasuki dunia kerja, saya mengalami kesulitan real di dalamnya. Pergumulan akan makna. Saya sering ingin meninggalkan pekerjaan saya dan masuk ke dunia pelayanan lagi.
Saya anggap itu lebih mulia. Namun ternyata banyak hal sulit dan kurang memungkinkan.

Tetapi puji syukur kepada Tuhan ! saya dibukakan pengertian dari FirmanNya. Semua aspek realitas baik adanya. Semua ciptaan Tuhan baik adanya. Kalau kita mau pereteli lebih jauh seringkali di dalam pemahaman dualisme ( misalnya Gnostik atau Platonisme Yunani ) memandang bahwa aspek batiniah, aspek non materi lebih tinggi dan lebih baik daripada aspek tubuh, aspek materi yang dipandang lebih jahat. Ini pola pikir dasarnya. Dan bagaimana jika kita memakai framework yang salah ini di dalam menginterpretasikan Firman Tuhan ?
Ambil contoh : Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Seringkali penafsiran mencari kerajaan Allah ini dikaitkan dengan panggilan menjadi pelayan gerejawi full timer dimana itu lebih tinggi daripada panggilan usaha.  Pekerjaan di dalam aspek non materi lebih tinggi daripada pekerjaan di dalam aspek materi.

Ambil contoh : Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.
Di dalam Alkitab ini sudah jelas bahwa manusia butuh roti dan roti itu baik. Di bagian ini ditekankan bukan dari roti “saja”. Berarti roti perlu. Tetapi bukan roti saja yang diperlukan untuk hidup namun Firman yang keluar dari mulut Allah diperlukan untuk hidup.   Kemudian ditegangkan antara hidup jasmani yang perlu roti dan hidup rohani yang perlu Firman. Dan mari mencari hidup yang rohani mencari Firman yang nilainya lebih tinggi daripada mencari roti. Penafsiran pembagian hidup rohani dan jasmani bukan tidak benar. Namun frameworknya harus benar.

Bagian ini lebih sulit dan perlu konsentrasi.

Nah, waktu kita mengatakan Firman itu aspek non materi dan roti ini aspek materi. Hati-hati di dalam pembagian ini. Sebab kita sedang mengkacaukan aspek Creator dan aspek creation. Sudah jelas aspek Creator itu lebih tinggi dan kudus ( maksudnya dipisahkan ) daripada aspek ciptaan. Allah adalah kudus sebab Ia berbeda dengan ciptaan. Dia dipisahkan dan berbeda dengan ciptaan. Tetapi hati-hati dengan pembagian kategori seperti ini dan di dalam pengkategorian yang analoginya seakan-akan sama.
-          Materi vs Non Materi
-          Roti vs Firman
-          Usaha vs Pelayanan
-          Tubuh vs Jiwa
-          Sementara vs Kekal
-          Biasa vs Kudus

Pembagian seperti ini kelihatan seperti benar namun ada problematisnya. Daftar kategori di atas tidak sama analoginya. Sebelum kita membagi kategori seperti ini marilah kita membagi kategorinya seperti :
-          Creator dan creation.
-          Di dalam creation ada aspek materi dan ada aspek non materi. Ada aspek usaha dan pelayananan. Ada tubuh dan jiwa.  Semuanya baik adanya.

Ada perbedaan kualitatif yang besar antara Creator dan creation. Sewaktu kita mengatakan bahwa carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua itu akan ditambahkan kepadamu. Maka pengertiannya adalah carilah Creator, kemuliaan Creator, kerajaanNya, dan kehendakNya daripada mencari creation ( roti ). Pengertian ini bukan mengajarkan bahwa kita mencari dahulu pekerjaan pelayanan gerejawi lebih daripada pekerjaan seakan-akan pekerjaan usaha itu lebih evil. Pengertian yang lebih tepat adalah : hidup kita dibawah kedaulatan Allah dan apapun yang kita lakukan marilah kita lakukan untuk kemuliaan nama Tuhan. Carilah kemuliaanNya, kerajaanNya, dan kehendakNya.
Jadi apa yang membuat panggilan seseorang itu mulia adanya ? Nilainya bukan terletak pada pelayanan gerejawi yang bersifat non materi yang lebih tinggi daripada pekerjaan yang bersifat materi lebih rendah. Nilai mulianya panggilan seseorang memikul salib adalah kalau dia menjalankan panggilan yang Tuhan mau di dalam hidupnya. Panggilan itu unik dan sesuai dengan kedaulatanNya. Dan ini tidak berarti panggilan di pelayanan lebih tinggi nilainya daripada panggilan di dunia bisnis. Mulia atau tidaknya dinilai dari ketaatan akan panggilan Tuhan di bidangnya yang Tuhan sudah tetapkan. ( Untuk pengertian panggilan diperlukan pemahaman khusus lagi yang tidak dibahas disini )

Nah ada satu problematis bila kita memandang hidup dengan dualisme. Seharusnya semua pekerjaan adalah mulia bila itu panggilanmu. Namun ada beberapa contoh perkataan yang bisa membuat kita merasa bidang pekerjaan lebih rendah daripada bidang pelayanan :
-          Mencari nafkah tidak habis-habis. Itu sementara. Namun mencari jiwa itu kekal dan nilainya kekal. Sering mendengar perkataan seperti ini bukan ? ( saya tidak mengatakan itu salah namun frameworknya harus benar )
-          Hidup ini fokusnya untuk menginjili. Injil lebih berharga daripada materi.

Sewaktu seseorang mengatakan bahwa Injil itu berharga dan mulia. Saya setuju 100%. Amin ! Injil itu sangat bernilai dimana Anak Allah mengorbankan diriNya untuk supaya kita diselamatkan. Namun satu hal kita musti mengerti bahwa Injil bukan hanya Injil Keselamatan ( Soteriologi ). Tetapi Injil Kerajaan Allah. Apabila anda membaca Kitab Injil di dalam Alkitab maka kalimat yang muncul bukan Injil Keselamatan tetapi Injil Kerajaan Allah.

Apa bedanya Injil keselamatan dan Injil kerajaan Allah ? Berbeda wawasannya.

Seringkali ketika seseorang menginjili maka dia berpikir adalah membawa orang berdosa kembali kepada PenciptaNya. Berdamai melalui pengorbanan Sang Penebus, Yesus Kristus anak Allah. Ini betul tetapi ini hanya bagian keselamatan. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa penebusan itu bukan hanya keselamatan pribadi. Kristus bukan hanya Juruselamat Pribadi. Tetapi Dia adalah Juruselamat Cosmic. Dia adalah Juruselamat Dunia. Semua aspek realitas yang sudah menyeleweng harus ditebus dan dikembalikan kepada Tuhan.

Jadi fokus Injil bukan hanya keselamatan ( walaupun itu penting sekali ). Tetapi supaya ciptaan ini semuanya dibawa kembali kepada Tuhan Allah. Inti Tuhan Allah menciptakan manusia dan dunia ini adalah supaya semuanya boleh memuliakan Tuhan.
Tuhan menciptakan ilmu matematik untuk memuliakan DIa
Tuhan menciptakan ilmu bahasa untuk memuliakan DIa
Tuhan menciptakan ilmu ekonomi untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan ilmu kedokteran untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan ilmu logika untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan ilmu kimiawi untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan ilmu fisika untuk memuliakan Dia.
Tuhan menciptakan semua pengetahuan untuk memuliakan Dia.

Jadi semua harus dibawa untuk kemuliaan nama Tuhan. Bahkan bisnis, ekonomi, Teknologi Informasi, dll, semua ini ada tujuan yang Tuhan tetapkan. Yaitu untuk memuliakan nama Tuhan. Maka melakukan pekerjaan apapun yang halal sesuai panggilan Tuhan di dunia ini adalah mulia adanya. Semua pekerjaan yang baik adalah ibadah kepada Tuhan. Luther mengatakan bahwa dunia adalah biaraku. Tempat kita melakukan ibadah ini bukan hanya di gereja namun di dunia.
Sebelum menutup perenungan ini, Saya harus menyeimbangkan kembali bukan berarti ketika kita terus bekerja di dunia ini kita melupakan pelayanan gerejawi. Tidak boleh saling mereduksi dan saling mengecilkan. Jangan kembali kepada pendulum yang saling bertegangan. Sebenarnya antara pelayanan gerejawi dan usaha bisnis bisa diharmoniskan dan sama-sama ada panggilannya. Tidak ada yang lebih mulia dan kudus. Yang mulia itu bila kita berpadanan dengan panggilan yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita.
Frameworknya lebih baik kita lihat bukan seperti
Usaha vs Pelayanan gerejawi

Tetapi
Creator dan creation
Dimana creation harus memenuhi panggilannya untuk memuliakan Tuhan baik dalam bidang apapun.
Kiranya dengan perenungan artikel ini membuat kita bisa menghargai semua pekerjaan yang Tuhan berikan. Segala sesuatu indah adanya. Dan hidup kita menjadi indah bila berjalan sesuai dengan panggilanNya.

Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim
Di dalam refleksi ingin membagikan pengertiannya dan menyadari pengertiannya masih perlu terus diperbaharui
23 Januari 2011.

Read More ....

Percakapan Yesus menerobos konsep wawasan yang dualisme ( Baik Platonisme Yunani maupun Gnostik )

Hari ini ketika saya sedang membaca Injil Yohanes 4-6, saya kembali dikagumkan oleh pengertian Firman Tuhan. Firman Tuhan benar-benar luar biasa, menyegarkan jiwa dan memberikan hikmat kepada yang tidak perpengalaman. Percakapan Yesus kepada orang-orang itu luar biasa. Mengapa ? Sebab Dia bukan saja manusia tetapi Dia adalah Allah. Marilah kita menyaksikan apa yang Dia katakan di dalam Yohanes 4-6.

Di mulai dengan Yohanes 4 dimana ada perempuan Samaria yang sedang menimba air. Saya coba mengutip Alkitab dimana Yesus berkata kepada perempuan Samaria : “Berilah Aku minum”. Perempuan Samaria itu heran karena orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi. Yesus berkata “jikalah engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu : Berilah Aku minum ! niscaya engkay telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Kata Perempuan itu kepadaNya : “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu ?” Apakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan suur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya ?. Jawab Yesus kepadanya : “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal”.

Sampai sini, seringkali di dalam membaca perikop ini, pikiran kita dipengaruhi konsep dualisme. Konsep dualisme itu beragam baik dari filsafat Yunani maupun juga dari Gnostik. Intinya membagi realitas menjadi 2 bagian yaitu unsur materi dan non materi dimana materi dipandang lebih rendah dan bahkan jahat daripada unsur non materi. Dan seringkali dengan memakai pola pikir dualisme kita mengerti bahwa unsur rohani itu adalah unsur non materi. Bagaimana bila pola pikir ini kita terapkan di dalam menafsirkan Alkitab. Pengertiannya  menjadi : Orang dunia pada umumnya mencari hal-hal materi seperti perempuan Samaria itu haus. Namun materi itu tidak memuaskan jiwa. Karena itu carilah hal-hal yang non materi sebab materi itu lebih jahat. Kepuasan ada di dalam hal-hal rohaniah ( dan seringkali konsepnya mistik ). Yesus menawarkan kepada perempuan Samaria hal-hal yang non materi yaitu air hidup. Yaitu kerohanian. Dan kemudian perempuan Samaria itu meninggalkan tempayannya yang materi dan hidup untuk yang non materi.

Kelihatannya seperti bagus juga bukan penafsirannya ? Tetapi penafsiran ini dualisme dan fragmentasi. Yesus sendiri mengajarkan bahwa manusia bukan hidup dari roti saja ( berarti perlu ) tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.  Problematis bila kita mengganggap materi itu jahat maka ada beberapa konsekuensi :
1. Realitas ciptaan Tuhan ada wilayah yang jahat. Secara doktrin penciptaan ada masalah.
2. Firman menjadi daging ( materi ). Allah menjadi manusia. Secara kristologi ada masalah
3. Bekerja menghasilkan materi menjadi problematis. Secara praktis kehidupan Kristen
4. Pekerjaan yang kelihatannya agamawi lebih rohani daripada pekerjaan yang sekular. Ini menimbulkan dualisme yang lain.
5. Dll.
Lanjut !

Nah kemudian bila kita melanjutkan pembacaan dari Yohanes 4. Setelah perempuan Samaria pergi,  murid-murid Yesus datang dan mengajak Dia, katanya : “Rabi, makanlah !”. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka : “PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal”. Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepadaNya untuk dimakan”. Kata Yesus kepada mereka : “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya”.

Sampai disini bila kita memakai pola pikir dualisme materi dan non materi. Maka penafsirannya berarti makanan yang bersifat materi itu lebih rendah. Dan Yesus mempunyai makanan yang lebih tinggi yaitu hal-hal kerohanian ( dalam arti non materi ). Benarkah penafsirannya tepat seperti itu ?

Mari kita lanjut !

Menariknya di dalam Injil Yesus peduli kepada hal-hal yang bersifat badaniah di dalam orang-orang yang ditemuinya. Yesus mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang sakit dll. Dan yang di dalam Yohanes 6 dicatat satu peristiwa dimana Yesus memberi makan 5000 orang. Ketika masa berbondong-bondong mengikuti Dia dan mereka perlu diberi makan maka Yesuspun memberikan mereka makan. Di dalam Injil lain kalimatnya begitu jelas yaitu “beri mereka makan !”. Di dalam semua ini tidak ada nuansa bahwa yang bersifat materi lebih rendah daripada  yang bersifat non materi. Agama Kristen adalah agama yang dipengaruhi Alkitab dan oleh hidup Yesus adalah agama yang sangat memperhatikan hal-hal jasmani. Kekristenan mempengaruhi bidang kedokteran , hak asasi manusia seperti kebebasan hak budak, melarang aborsi, melawan praktik ketidakmanusiaan seperti suami mati istri harus ikut mati, dll. Hal ini karena Kekristenan memandang bahwa tubuh manusia yang materi itu bernilai karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Materi tidak jahat. Karena materi adalah ciptaan Tuhan.

Pertanyaannya bagaimana kita bisa menerobos pemahaman dualisme materi dan non materi di dalam memandang realitas ? Titik puncak nanti ada di pengakuan Petrus.

Untuk itu mari kita lanjutkan.

Di dalam Yohanes 6 setelah Yesus memberi makan 5000 orang maka banyak orang mencari Yesus. Kemudian Yesus berkata : “sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu;  Sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa , Allah, dengan materaiNya. Sampai sini kita bisa terjebak pada pemikiran dualisme yang sama yaitu materi atau roti itu lebih rendah dan sementara dan karena itu mencari roti bersifat lebih rendah / jahat. Lebih baik mencari hal-hal rohani daripada roti yang sementara. Kelihatannya seperti masuk akal bukan penafsiran seperti ini ?
Di dalam perdebatan antara orang banyak dengan Yesus mengenai makanan dan juga manna di padang gurun, Yesus berkata di dalam pasal 6 ayat 32 : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan BapaKu yang memberikan kamu roti yang benar dari surga.

Sampai sini kita ada sedikit titik terang yaitu : Sumber roti itu Bapa. Sumber materi itu dari Allah. Karena itu tentunya baik. Sumber berkat adalah Allah. Di dalam Doa Bapa kami diajarkan “Give us our daily bread”. Sebenarnya berarti roti materi adalah sesuatu yang baik. Jujurnya kita juga setiap hari perlu materi baik makanan maupun pakaian dll. Itu semua baik adanya. Tetapi lebih dari itu Yesus di Matius 6:33 mengatakan Cari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua akan ditambahkan kepadaMu. Di perikop itu dikatakan bahwa Bapamu yang disurga tahu kebutuhanmu. Berarti memang materi dibutuhkan oleh manusia dan tidak jahat adanya. Roti itu perlu. Pakaian itu perlu. Namun ada sesuatu yang lebih dari hanya sekedar itu yaitu Yesus berkata : “Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepadaNya : “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.”.

 Kalau kita melihat perkataan Yesus disini sebenarnya ada pengertian yang luar biasa dalam. Perhatikan kata “hidup”. Roti hidup. Dan perhatikan perkataan selanjutnya mengenai hidup yang kekal Respon mereka bersungut-sungut karena Yesus telah mengatakan :”Akulah roti yang turun dari surga”. Kata mereka : “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal ? Bagaimana Ia dapat berkata : Aku telah turun dari surga ?”. Perdebatan mereka terus berlanjut sampai Yesus mengatakan perkataan yang keras yang sulit dimengerti secara hariah : “Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir jaman. Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu benar-benar minuman.” Ini perkataan yang keras yang mengakibatkan orang Kristen di abad-abad awal dituduh sebagai kanibalisme. Namun jangan diartikan harafiah. Perhatikan perkataan Yesus : “Barang siapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal did alam Aku dan Aku di dalam Dia.” Arti perkataan ini akan jelas di dalam peristiwa perjamuan terakhir ( The Last Supper ). 

Kemudian setelah mendengar perkataan keras yang sulit dimengerti itu maka banyak orang meninggalkan Yesus. Yesus berkata kepada kedua belas muridNya : “Apakah kamu tidak mau pergi juga ?” Jawab Simon Petrus : “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi ? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang Kudus dari Allah”. Mari saya ulangi penekanan jawaban Petrus :”PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal !”

Bagaimana supaya kita bisa memahami perikop ini keluar dari pola pikir dualisme yang memandang materi yang lebih rendah dan non materi yang lebih tinggi ? Jawabannya adalah perkataan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Apa maksudnya ?

Ada 2 hal yang perlu kita renungkan yaitu soal perkataan dan soal hidup. Sejak awal di atas ketika kita membahas mengenai roti itu semua dikaitkan dengan hidup. Tentunya orang makan roti supaya hidup. Dan apa hubungannya dengan perkataan ? Alkitab memberi jawaban bahwa perkataan Allah yang memberi hidup. Ini mengingatkan kita kepada Kitab Kejadian dimana ketika Allah berfirman maka jadilah langit dan bumi. Perkataan Allah yang menjadikan materi ini. Perkataan Allah yang menjadikan semua dunia dengan segala keindahannya ini baik dari  benda mati dan benda hidup : tumbuhan, hewan, dan manusia. Realitas tidak dibagi menjadi 2 bagian yaitu yang materi jahat dan yang batiniah baik. Di dalam Kitab Kejadian jelas bahwa realitas ini diciptakaan Tuhan dan semua baik adanya. Perkataan Allah yang membuat semuanya hidup. Perkataan Allah yang menopang alam semesta ini. Dan perkataan Allah itu adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah pencipta dan Yesus Kristus adalah yang menopang alam semesta ini dengan FirmanNya. Karena itu sumber kehidupan itu berasal dari Tuhan Allah adanya. Roti berasal dari Allah adanya.

Manusia hidup mencari roti tetapi jangan lupa bahwa kehidupan ini berasal dari Sang Pemberi hidup. Ketika kita makan roti kita jangan lupa bahwa kehidupan ini berasal dari Tuhan Allah dan kita harus hidup untuk Tuhan Allah. Yang hendak Tuhan Yesus ajarkan adalah supaya kita hidup untuk Tuhan Allah dan soal roti itu Yesus berkata : “Jangan kamu kuatir apa yang kamu makan, kamu pakai”. Bapa di surga tahu kamu membutuhkan roti dan itu tidak salah. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua akan ditambahkan kepadamu. Carilah pemberi hidup itu jangan pada roti yang nanti kamu lapar lagi. Roti itu sendiripun dari Sang Pemberi hidup.

Dari sini kita bisa simpulkan 2 macam hidup : hidup yang bertahan hanya karena roti. Tetapi hidup yang karena Roti hidup. Hidup yang hanya karena roti satu saat akan binasa bila tidak mempunyai Roti Hidup. Tetapi hidup yang karena Roti hidup adalah hidup yang kekal.  Seringkali kita mengerti bahwa hidup yang kekal adalah hidup setelah kematian. Tetapi yang lebih tepat adalah hidup yang kekal adalah hidup di dalam persekutuan dengan sumber hidup baik sekarang maupun yang akan datang setelah kita dibangkitkan. Hidup yang kekal dimulai dari sekarang. Dan supaya mendapatkan hidup yang kekal itu kita membutuhkan Roti Hidup yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Amin !
Jeffrey Lim
21 Januari 2011.

Read More ....

Monday, December 06, 2010

Tenanglah jiwaku dan percayalah

Tenanglah jiwaku dan percayalah
Jeffrey Lim

Bila kita tenang dan damai jiwanya maka hidup kita pun berjalan lebih baik. Bila jiwa kita dalam keadaan istirahat sabat maka banyak hal lebih mudah terselesaikan. Dengan ketenangan maka pikiran lebih tajam dan konsentrasi. Dengan kestabilan jiwa maka kita tidak mudah tergoncangkan dengan badai-badai kehidupan ini. Tetapi pertanyaannya bagaimana kita bisa mempunyai jiwa dan pikiran yang tenang ? Di jaman yang sibuk dan penuh dengan tantangan ini bagaimana mempunyai kestabilan jiwa ?
Di dalam menulis perenungan ini, penulis sendiri bergumul dengan hal ini. Penulis sendiri adalah seorang yang seringkali kalut di dalam pikiran dan kurang stabil di dalam pikiran emosi. Tetapi secara prinsip penulis sudah mengerti bagaimana cara supaya hati pikiran bisa damai dan tenang dan penulis pun sedang mengaplikasikan hal ini. Bersyukur kepada Tuhan bahwa ada perubahan-perubahan yang terjadi. Di dalam tulisan singkat ini penulis hanya ingin memaparkan bahwa untuk mencapai kedamaian di dalam hati dan pikiran maka semuanya itu bersifat multiaspektual dan multidimensi. Bila kita membahas soal kedamaian dan ketenangan maka ada beberapa kaitan yang musti kita renungkan.
1. Berdamai dengan Allah yaitu diampuni dosa dan hidup dalam relasi dengan Allah mempengaruhi kedamaian dan ketenangan di dalam hidup. Hidup yang diampuni Tuhan adalah hidup yang berbahagia.
2. Iman percaya mempengaruhi kedamaian dan ketenangan. Iman menghapuskan kekuatiran. Dengan Iman kita mempunyai pengharapan di dalam badai
3. Tubuh yang sehat berkaitan dengan kedamaian dan ketenangan. Fisik yang letih dan kimiawi yang tidak seimbang dapat mengakibatkan kekalutan. Ada relasi antara tubuh dan jiwa. Makanan yang dikonsumsi pun bisa ada pengaruh terhadap kesehatan. Mengkonsumi Alkohol bukan pilihan yang bijaksana contohnya.
4. Konsep dan wawasan yang benar mempengaruhi kedamaian dan ketenangan. Bila kita mempunyai wawasan yang benar maka itu seperti Peta kehidupan yang menjadi petunjuk hidup kita. Dengan adanya petunjuk dan arah maka membuat hidup lebih aman rasanya.
Bila kita mengetahui konsep Kasih Allah, Pemeliharaan Allah, Kesetiaan Allah, Anugerah, Jaminan Keselamatan, Kedaulatan Allah, dll, maka semua konsep teologis ini mempengaruhi iman kita dan ini mempengaruhi kedamaian. Belajar teologi adalah belajar hidup berbijaksana.
5. Kerohanian mempengaruhi kedamaian. Hidup dalam dosa dan kejahatan membuat hati nurani tidak damai. Karena itu penting memelihara hati dengan segala kewaspadaan
6. Pengendalian diri dan emosi mempengaruhi kedamaian. Kemarahan dapat mengakibatkan kekacauan dan konflik. Penguasaan diri itu penting. Orang yang sabar melebihi pahlawan.
7. Kebiasaan hidup kita juga mempengaruhi kedamaian dan ketenangan. Kebiasaan buruk membawa suasana yang kacau. Kebiasaaan yang baik lebih membuat nuansa damai.
8. Musik yang dikonsumsi mempengaruhi kedamaian dan ketenangan. Musik yang kacau mengakibatkan hati pikiran bisa kacau. Sebab ada kuasa di dalam music.
9. Komunikasi yang sehat mempengaruhi kedamaian dan ketenangan. Orang yang tidak terbuka dan menyimpan masalah sendiri akan lebih mudah kalut. Manusia diciptakan untuk saling berbagi dan saling tolong menolong. Karena itu keterbukaan dan komunikasi itu penting bagi kesehatan jiwa.
10. Jujur terhadap diri dan pikiran perasaan diri kita sendiri. Banyak orang di dalam hidup mempunyai mekanisme pertahanan untuk bertahan hidup dengan cara tidak jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini boleh dinamakan topeng dan semakin banyak topeng akan membuat hidup kita lebih kacau.
11. Sikap positif terhadap hidup mempengaruhi kedamaian dan ketenangan. Sikap yang negatif dan pesimis mengakibatkan kita lebih depresi di dalam menghadapi hidup.
12. Pandangan terhadap waktu. Untuk poin ini perlu pembahasan yang lebih banyak.
Singkatnya : Aspek yang mempengaruhi jiwa yang tenang dan damai itu multidimensi. Karena itu perlu untuk menebus setiap aspek kehidupan kita supaya berjalan dengan baik. Penulis percaya bahwa perubahan hidup ini bukan Cuma seperti pengembangan diri tetapi lebih dalam konteks pengudusan di dalam multi aspek kehidupan.
Kiranya dengan perenungan singkat ini membuat kita sadar bahwa banyak aspek kehidupan kita yang perlu ditebus supaya hidup lebih limpah dan damai

Jeffrey Lim
14 Juni 2010
Di bandung

Read More ....

Ia menyegarkan jiwaku

Ia menyegarkan jiwaku
Jeffrey Lim

Kehidupan di dunia modern ini sungguh melelahkan. Seringkali orang merasa stress dan tertekan karena tuntutan hidup. Banyak manusia yang diliputi kekuatiran hidup untuk apa yang mereka makan dan pakai. Ada juga yang mengejar kelimpahan tetapi selalu berkekurangan di dalam hatinya. Karena kesenangan sejati tidak pernah di dapatkan dari materi belaka tetapi dari pemberi dan pemelihara hidup yaitu Tuhan Allah sendiri.
Mazmur 23 memberikan satu perenungan yang menjadi jawaban bagi keletihan manusia modern ini. Di tengah-tengah jaman yang restless maka Tuhan Allah gembala kita menawarkan spiritual rest. Di tengah keberadaan yang tegang, Tuhan Allah menawarkan damai sejahtera. Di tengah keadaan yang kekurangan dan kekuatiran, Tuhan Allah menyediakan. Karena itu kita sebagai domba-domba Allah bisa merasa rest di dalam Tuhan. Jiwa kita bisa tenang karena Tuhan memelihara hidup kita. Tetapi bukan hanya memelihara tetapi Tuhan Allah beserta kita. Oh sungguh luar biasa bahwa Tuhan Allah pencipta langit dan bumi boleh dipanggil Tuhan adalah gembalaku. “ku” adalah kepemilikan. Ini berarti Tuhan Allah milik kita dan kita milik Tuhan.
Oh betapa indah kalau kita bisa beristirahat rohani di dalam Tuhan. Memang semenjak kejatuhan di dalam dosa maka manusia tidak pernah beristirahat dan harus terus restless di dalam perjuangan hidupnya. Tetapi bersyukur bahwa Tuhan Allah sudah menjanjikan adanya perhentian Sabat. Setiap hari minggu, orang percaya boleh beristirahat dan ini sebenarnya melambangkan Sabat rohani yang Tuhan sudah sediakan di dalam Yesus Kristus dan ini juga adalah lambang bayang-bayang Sabat di masa depan dimana disana tidak ada air mata dan kesusahan lagi. Yang ada hanyalah memuji Tuhan senantiasa sampai selama-lamanya di dalam kasih karunia dan damai sejahtera.
Mazmur 23 memberikan kita satu undangan untuk datang kepada gembala jiwa kita. Undangan untuk beristirahat dan untuk menikmati anugerahNya. Yang letih lesu dan berbeban berat, datanglah kepada gembala jiwamu. Dia akan menyegarkan jiwamu. Dia baik, rendah hati dan lemah lembut. Dia pengertian. Dia teman sejati. Dia adalah Tuhanmu dan Juruselamatmu. Dia adalah Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang datang ke dunia ini untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Datanglah kepadaNya dan Engkau akan merasakan kasihNya.

Amin
Jeffrey Lim
21 May 2010
Sedang beristirahat walaupun sedang bekerja

Read More ....

Sunday, June 21, 2009

Dengan Anugerah Tuhan maka kita menang

Dengan Anugerah Tuhan maka kita menang
Jeffrey Limpingen

Hidup kita orang percaya ada tantangan
Hidup kita anak Tuhan ada perjuangan
Hidup kita orang benar penuh peperangan
Hidup kita semua tentu bukan gampangan

Untuk mundur memang mudah
Tetapi untuk maju tidak mudah
Ketika kita mundur kita kalah
Maka tidak ada kata menyerah

Peperangan dan perjuangan kita ini
Bukan melawan sesama kita
Tetapi menaklukan diri sendiri
Dan melawan penguasa angkasa

Hidup kita untuk bersatu
Melawan musuh bersama
Hidup kita untuk bersekutu
Mengatasi lawan bersama

Sendiri kita lemah sekali
Berdua atau bertiga lebih baik
Tidak ada kawan itu sulit sekali
Ada rekan itu anugerah ilahi

Mengandalkan diri kita lemah
Mengandalkan orang lain akan kalah
Mengandalkan Tuhan tak terkalah
Karena itu kita harus berserah

Kekuatan kita bukan pada diri
Kekuatan kita dari sang Pencipta
Karena itu kita jangan andalkan diri
Tetapi andalkan Sang Panglima

Dengan kekuatan diri tanpa anugerah
Maka kita semua akan kalah
Hanya mengandalkan anugerah
Dosa kejahatan yang akan kalah

Senjata kita bukan dari dunia
Senjata kita pemberian Tuhan
Firman Tuhan pedang roh kita
Pelindung kita adalah iman

Tanggalkan semua kegelapan
Bongkar semua penipuan
Singkapkan semua kebohongan
Gantikan dengan kebenaran

Senjata musuh adalah kebohongan
Kekuatan musuh adalah penipuan
Dengan sinar terang penyataan
Maka kejahatan dosa dipatahkan

Firman Tuhan
Darah Tuhan
Roh Tuhan
Semua sarana pengudusan

Pengakuan dan keterbukaan
Pertobatan dan perubahan
Pengudusan dan kemenangan
Ini adalah anugerah Tuhan

Hai kawanku terkasih di dalam Tuhan
Janganlah kau lesu letih dan lelah
Teruslah berjuang dengan anugerah Tuhan
Dan janganlah kalah ataupun mengalah

Sesuai dengan Janji Firman Tuhan
Sang Panglima sudah menang
Karena itu kita ada pengharapan
Dan di masa depan kita akan menang

Jia You !

Jeffrey Limpingen
21 Juni 2009
Bandung

Read More ....

Sunday, June 14, 2009

Perumpamaan tentang Penabur

Perumpamaan tentang Penabur
Jeffrey Limpingen

Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" ( Matius 13:3-9 )

Tuhan Yesus banyak mengajar murid-muridnya tentang Kerajaan Allah melalui perumpamaan. Perumpamaan ini memang unik karena mengandung makna yang dalam yang melebihi sekedar kata-kata deskriptif. Perumpamaan membuat orang menjadi berpikir dan merenung karena maknanya lebih kaya daripada sekedar pengajaran proposional dalam bentuk kata-kata. Tuhan Yesus sebagai Mesias yang diurapi itu mempunyai misi mengajarkan perihal tentang kerajaan Allah. Apa itu kerajaan Allah ? Yaitu ketika Tuhan Allah meraja di dunia ini melalui umatNya. Dan bagaimana Allah meraja di dalam umatNya adalah dengan meraja di dalam hati mereka dan memimpin kehidupan mereka untuk memuliakan nama Tuhan. Uniknya perumpamaan kali ini mengajarkan kita mengenai perihal Allah yang meraja di hati.
Di dalam perumpamaan ini kita dapat menarik satu pandangan bahwa hati manusia adalah seperti tanah. Tanah ini ada yang subur dan ada yang gersang. Dan tanah yang subur akan memungkinkan kehidupan bagi tanaman sehingga tanaman hidup, bertumbuh dan berbuah. Inti dari pelajaran perumpamaan ini adalah bahwa perlu tanah yang subur supaya boleh terjadi kehidupan. Dan dikaitkan dengan kehidupan manusia adalah bahwa perlu hati yang lembut untuk menerima Firman Allah sehingga manusia yang mati rohani menjadi hidup rohaninya.
Pertanyaannya bagaimana membuat hati yang keras seperti tanah yang gersang menjadi hati yang lembut seperti tanah yang subur ? Sungguh ini adalah teka-teki ! Sungguh ini adalah satu rahasia ! Tetapi Alkitab menjelaskan bagaimana hal ini terjadi.
Hati manusia yang berdosa itu keras seperti tanah yang gersang. Hati manusia yang berdosa melawan Allah, tidak taat, tegar tengkuk dan bebal. Hati ini adalah hati yang mati dan hati yang berada di dalam kegelapan. Hati yang seperti ini dialami semua umat manusia. Sebab semua manusia sudah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Betapa malangnya manusia yang mati rohani ini.
Tetapi bersyukur kepada Tuhan bahwa di dalam nubuat nabi-nabi di dalam PL ada nubuat mengenai perjanjian Baru dimana Tuhan Allah akan memberikan hati yang baru kepada umatNya. Tuhan Allah akan memberikan hati yang lembut sehingga umatNya akan menaati Dia. Tuhan Allah akan memberikan RohNya dan TauratNya di dalam hati umatNya. Dan semua nubuat ini digenapi di dalam Yesus Kristus.
Yesus Kristus ketika mati di kayu salib maka kuasa kematian dan kebangkitanNya menyanggupkan merubah hati orang berdosa menjadi orang benar. Kuasa salib sanggup merubah manusia berdosa menjadi manusia rohani. Tuhan Allah melalui pekerjaan Anak Allah dan RohNya yang kudus memampukan keselamatan ini terjadi di dalam umatNya. Dengan kelahiran baru oleh Roh Kudus melalui pemberitaan Injil Kristus maka hati orang berdosa dapat kembali kepada Tuhan Allah dan diperdamaikan denganNya. Hati orang berdosa dapat dilembutkan dan menjadi seperti tanah yang subur. Setelah itu maka ada Firman Allah yang ditabur akan menghasilkan kehidupan rohani di dalam diri anak-anak Tuhan. Mereka akan berbuah. Mereka akan bertumbuh. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. ( Gal 5:23-24 ).
Tetapi ada hal yang menarik. Proses Tuhan menyiapkan hati seseorang menjadi subur dan bisa ditabur Firman dan berbuah itu unik. Ada manusia yang cepat disiapkan hatinya dan mereka dapat segera menerima Firman dengan sukacita dan bertumbuh. Tetapi ada sebagian manusia yang sulit bertumbuh dan kehidupan mereka harus dikikis terlebih dahulu sebelum hati mereka lembut. Hal ini bisa melalui penderitaan ataupun bisa melalui ujian kesulitan hidup. Tetapi satu hal bahwa proses pelembutan hati itu adalah proses yang indah luar biasa. Roh Kudus melembutkan seseorang dengan anugerah yang tidak dapat ditolak sehingga manusia boleh lembut hatinya. Ini adalah anugerah Tuhan.
Bila kita belum merasakan kelembutan hati marilah kita terus berdoa dan meminta Tuhan merubah hati kita dan terus memproses hati kita supaya lembut. Bukti bahwa anda berdoa sudah menyatakan bahwa hati anda mulai sedikit lebih lembut sebab orang yang hati keras tidak akan berdoa dan merendahkan diri. Tetapi ketika anda berdoa maka anda harus terus berharap dan terus mendengar Firman. Sebab sebuah proses pelembutan ini kadang perlu pergumulan. Tapi satu hal imani bahwa Allah itu setia dan mengasihi anda karena itu teruslah berharap.

Jeffrey Limpingen
Minggu, 14 Juni 2009
Di saat teriluminasi dan merasakan anugerah Tuhan yang melembutkan hati

Read More ....

Monday, June 01, 2009

Ku tak mau dosa tapi ku mau Engkau

Ku tak mau dosa tapi ku mau Engkau
Jeffrey Limpingen

Ku tak mau dosa
Dosa membelenggu
Ku tak mau dosa
Ku hanya mau Hu

Tinggalkan kedagingan
Ikuti RohMu
Tinggalkan kefanaan
Pikul salibMu

Tolongku ya Tuhan
MengikutiMu
Ku lemah sendirian
Tolong sertaiku

Ku tak mau dosa
Dosa bawa binasa
Hanya mau percaya
Hidup kekal upahnya

Jeffrey Limpingen
1 Juni 2009
Di saat Tuhan beri kekuatan

Read More ....

Pelayan Tuhan yang kecil hati

Pelayan Tuhan yang kecil hati
Jeffrey Limpingen

Refleksi dari Keluaran 1-4

I. Perbudakan di Mesir dan perbudakan dosa

Di dalam peristiwa Keluaran dimulai dengan para anak Israel yang sudah menetap di Mesir. Pada mulanya semua berjumlah tujuh puluh ( 1:5) dan kemudian meninggallah Yusuf beserta saudara-saudaranya. Alkitab mencatat bahwa orang-orang Israel beranak cucu dan bertambah banyak dan berlipat ganda sehingga negeri dipenuhi mereka. Kejadian ini mengingatkan kita kepada berkat Allah yang diberikan di dalam Kitab Kejadian kepada umat manusia untuk beranak cucu dan memenuhi bumi. Berkat Allah ada pada orang Israel sebagai umat Tuhan dan juga ada pada kita sebagai umatNya.

Tetapi ada satu tragedi malang yang dihadapi bangsa Israel. Raja Mesir yang tidak mengenal Yusuf memerintah dan dia berniat untuk menindas bangsa Israel dengan keras. Akhirnya terjadi peristiwa perbudakan bangsa Israel. Perbudakan ini adalah perbudakan yang sangat bersifat kekerasan, kejam dan menyiksa fisik dan batin bangsa Israel. Mereka diperintahkan untuk kerja rodi dan paksa untuk mendirikan kota-kota perbekalan bagi Firaun.

Perbudakan seperti ini bukan hal yang main-main dan biasa. Bangsa Israel diperintahkan apa yang mereka tidak suka bahkan menyiksa mereka. Mereka malang dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menaati para penyiksa mereka. Kekerasan dan kekejaman demi kekejaman tertimpa pada umat Tuhan.

Di dalam peristiwa perbudakan bangsa Israel kita dapat melihat bahwa ini adalah analogi perbudakan manusia oleh dosa. Perbudakan itu membuat manusia menjadi hamba dosa. Perbudakan ini membuat manusia tidak bebas. Dan perbudakan ini membuat manusia menderita. Perbudakan secara fisik begitu mengerikan apalagi perbudakan secara batiniah oleh dosa. Perbudakan secara batiniah oleh dosa mengakibatkan banyak manusia menderita dan sengsara dibawah penguasa Iblis yang terus menyuruh manusia untuk berbuat dosa. Ini adalah tragedi umat manusia.

Refleksi

Dosa memang adalah masalah utama umat manusia. Alkitab mencatat bahwa semua manusia sudah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah ( Rom 3:23 ). Tidak ada seorangpun yang bisa menghindarkan diri dari dosa. Semua sudah berdosa dan di dalam dosa ini manusia tersiksa, malang, tidak berpengharapan dan juga akan binasa selama-lamanya sebab upah dosa ialah maut ( Rom 6:23 ). Siapakah yang dapat membebaskan manusia dari perbudakan dosa ? Hanya Tuhan Yesus.

Di dalam peristiwa Keluaran ini maka Musa adalah tipologi dari Kristus Yesus. Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir adalah tipologi Kristus membebaskan kita dari perbudakan dosa.

II. Cerita seorang anak Tuhan bernama Musa

Cerita ini berlanjut di tengah-tengahnya cerita perbudakan ini, ada cerita kecil yang akan bergabung dengan cerita besar. Yaitu cerita kelahiran Musa. Musa lahir dan kita melihat satu keajaiban bahwa dia yang adalah orang ibrani bisa sampai menjadi seorang anak angkat puteri Firaun ( 2:10 ).

Musa sebagai seorang Ibrani menyadari identitasnya. Dia adalah orang Ibrani dan dia bukan orang Mesir. Sebetulnya Alkitab mencatat bahwa Musa setelah dewasa menolak disebut anak puteri Firaum ( Ibr 11:24 ). Padahal kalau kita renungkan sebetulnya posisi Musa itu sudah enak. Dia sudah menjadi bagian dari bangsa Mesir. Dia tidak menderita. Dia ada kemuliaan. Dia ada posisi. Dia ada harta. Dia ada kesenangan. Dia ada kemewahan. Dia ada nama. Dia ada segala sesuatu yang ditawarkan di Mesir. Namun Musa mempunyai mata rohani. Dia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara kenikmati kesenangan dari dosa ( Ibr 11:25 ). Dia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. Musa walaupun hidup di tengah-tengah orang-orang fasik tetapi masih mempunyai iman dan mempunyai mata rohani yang terang. Dia sadar bahwa hidup itu bukan untuk kenikmatan, bukan untuk kemewahan, bukan untuk kesenangan, bukan untuk diri tetapi untuk menjalani panggilan Tuhan. Dia menyadari panggilan yang mulia dari Tuhan. Tetapi ini baru separuh jalan.

Refleksi

Ketika kita di dalam hidup melihat bahwa hidup ini bukan untuk menikmati dunia tetapi untuk menjalani panggilan Tuhan maka kita berada di dalam jalan hidup yang benar yaitu di dalam jalan Tuhan. Tetapi perjalanan itu penuh dengan tantangan dan penuh dengan perjuangan serta kesulitan. Kita dipanggil Tuhan untuk melayani Tuhan namun dengan cara yang bagaimana ?

III. Cerita Musa menjalani pelayanan dengan caranya sendiri

Sebagai seorang Ibrani maka Musa melihat kesengsaraan umat Allah. Dia tergerak dan Musa mempunyai gerakan yang mulia untuk menyelesaikan kesengsaraan umat Allah. Tetapi Musa menjalani dengan caranya sendiri. Musa bertindak lebih cepat dari speedo Tuhan. Musa bergerak dengan keinginannya sendiri. Ketika dia melihat seorang Mesir memukul saudaranya orang Ibrani maka dia membunuh orang Mesir itu ( Kel 2:12). Ini adalah langkah awal dia melangkah dengan caranya sendiri untuk mencoba menyelesaikan masalah perbudakan yang ada.

Keesokan hari dari peristiwa ini maka Musa mencoba melerai saudara-saudaranya yang sedang bertikai. Motivasi Musa sebenarnya baik tetapi dia menjalani dengan kekuatan dan hikmatnya sendiri. Dia mencoba menyelesaikan semua masalah bangsanya dengan hikmat dan kemampuannya sendiri. Dan dia gagal.

Orang Ibrani tidak mau mendengarkan perkataan Musa dan bahkan membongkar rahasia pembunuhan yang dilakukan oleh Musa terhadap orang Mesir dan akhirnya Musa harus melarikan diri karena hendak dibunuh oleh Raja Mesir. Musa akhirnya melarikan diri ke Median ( Kel 2:16 )

Pelayan Tuhan yang kecil hati
Jeffrey Limpingen

Refleksi dari Keluaran 1-4

I. Perbudakan di Mesir dan perbudakan dosa

Di dalam peristiwa Keluaran dimulai dengan para anak Israel yang sudah menetap di Mesir. Pada mulanya semua berjumlah tujuh puluh ( 1:5) dan kemudian meninggallah Yusuf beserta saudara-saudaranya. Alkitab mencatat bahwa orang-orang Israel beranak cucu dan bertambah banyak dan berlipat ganda sehingga negeri dipenuhi mereka. Kejadian ini mengingatkan kita kepada berkat Allah yang diberikan di dalam Kitab Kejadian kepada umat manusia untuk beranak cucu dan memenuhi bumi. Berkat Allah ada pada orang Israel sebagai umat Tuhan dan juga ada pada kita sebagai umatNya.
Tetapi ada satu tragedi malang yang dihadapi bangsa Israel. Raja Mesir yang tidak mengenal Yusuf memerintah dan dia berniat untuk menindas bangsa Israel dengan keras. Akhirnya terjadi peristiwa perbudakan bangsa Israel. Perbudakan ini adalah perbudakan yang sangat bersifat kekerasan, kejam dan menyiksa fisik dan batin bangsa Israel. Mereka diperintahkan untuk kerja rodi dan paksa untuk mendirikan kota-kota perbekalan bagi Firaun.
Perbudakan seperti ini bukan hal yang main-main dan biasa. Bangsa Israel diperintahkan apa yang mereka tidak suka bahkan menyiksa mereka. Mereka malang dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menaati para penyiksa mereka. Kekerasan dan kekejaman demi kekejaman tertimpa pada umat Tuhan.
Di dalam peristiwa perbudakan bangsa Israel kita dapat melihat bahwa ini adalah analogi perbudakan manusia oleh dosa. Perbudakan itu membuat manusia menjadi hamba dosa. Perbudakan ini membuat manusia tidak bebas. Dan perbudakan ini membuat manusia menderita. Perbudakan secara fisik begitu mengerikan apalagi perbudakan secara batiniah oleh dosa. Perbudakan secara batiniah oleh dosa mengakibatkan banyak manusia menderita dan sengsara dibawah penguasa Iblis yang terus menyuruh manusia untuk berbuat dosa. Ini adalah tragedi umat manusia.
Refleksi
Dosa memang adalah masalah utama umat manusia. Alkitab mencatat bahwa semua manusia sudah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah ( Rom 3:23 ). Tidak ada seorangpun yang bisa menghindarkan diri dari dosa. Semua sudah berdosa dan di dalam dosa ini manusia tersiksa, malang, tidak berpengharapan dan juga akan binasa selama-lamanya sebab upah dosa ialah maut ( Rom 6:23 ). Siapakah yang dapat membebaskan manusia dari perbudakan dosa ? Hanya Tuhan Yesus.
Di dalam peristiwa Keluaran ini maka Musa adalah tipologi dari Kristus Yesus. Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir adalah tipologi Kristus membebaskan kita dari perbudakan dosa.





II. Cerita seorang anak Tuhan bernama Musa

Cerita ini berlanjut di tengah-tengahnya cerita perbudakan ini, ada cerita kecil yang akan bergabung dengan cerita besar. Yaitu cerita kelahiran Musa. Musa lahir dan kita melihat satu keajaiban bahwa dia yang adalah orang ibrani bisa sampai menjadi seorang anak angkat puteri Firaun ( 2:10 ).
Musa sebagai seorang Ibrani menyadari identitasnya. Dia adalah orang Ibrani dan dia bukan orang Mesir. Sebetulnya Alkitab mencatat bahwa Musa setelah dewasa menolak disebut anak puteri Firaum ( Ibr 11:24 ). Padahal kalau kita renungkan sebetulnya posisi Musa itu sudah enak. Dia sudah menjadi bagian dari bangsa Mesir. Dia tidak menderita. Dia ada kemuliaan. Dia ada posisi. Dia ada harta. Dia ada kesenangan. Dia ada kemewahan. Dia ada nama. Dia ada segala sesuatu yang ditawarkan di Mesir. Namun Musa mempunyai mata rohani. Dia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara kenikmati kesenangan dari dosa ( Ibr 11:25 ). Dia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. Musa walaupun hidup di tengah-tengah orang-orang fasik tetapi masih mempunyai iman dan mempunyai mata rohani yang terang. Dia sadar bahwa hidup itu bukan untuk kenikmatan, bukan untuk kemewahan, bukan untuk kesenangan, bukan untuk diri tetapi untuk menjalani panggilan Tuhan. Dia menyadari panggilan yang mulia dari Tuhan. Tetapi ini baru separuh jalan.
Refleksi
Ketika kita di dalam hidup melihat bahwa hidup ini bukan untuk menikmati dunia tetapi untuk menjalani panggilan Tuhan maka kita berada di dalam jalan hidup yang benar yaitu di dalam jalan Tuhan. Tetapi perjalanan itu penuh dengan tantangan dan penuh dengan perjuangan serta kesulitan. Kita dipanggil Tuhan untuk melayani Tuhan namun dengan cara yang bagaimana ?

III. Cerita Musa menjalani pelayanan dengan caranya sendiri

Sebagai seorang Ibrani maka Musa melihat kesengsaraan umat Allah. Dia tergerak dan Musa mempunyai gerakan yang mulia untuk menyelesaikan kesengsaraan umat Allah. Tetapi Musa menjalani dengan caranya sendiri. Musa bertindak lebih cepat dari speedo Tuhan. Musa bergerak dengan keinginannya sendiri. Ketika dia melihat seorang Mesir memukul saudaranya orang Ibrani maka dia membunuh orang Mesir itu ( Kel 2:12). Ini adalah langkah awal dia melangkah dengan caranya sendiri untuk mencoba menyelesaikan masalah perbudakan yang ada.
Keesokan hari dari peristiwa ini maka Musa mencoba melerai saudara-saudaranya yang sedang bertikai. Motivasi Musa sebenarnya baik tetapi dia menjalani dengan kekuatan dan hikmatnya sendiri. Dia mencoba menyelesaikan semua masalah bangsanya dengan hikmat dan kemampuannya sendiri. Dan dia gagal.
Orang Ibrani tidak mau mendengarkan perkataan Musa dan bahkan membongkar rahasia pembunuhan yang dilakukan oleh Musa terhadap orang Mesir dan akhirnya Musa harus melarikan diri karena hendak dibunuh oleh Raja Mesir. Musa akhirnya melarikan diri ke Median ( Kel 2:16 )
Refleksi
Di dalam hidup melayani Tuhan, seringkali kita menjalani pelayanan dengan cara kita sendiri dan bergantung pada hikmat kita sendiri. Kita menyangka bahwa kita adalah orang yang bisa menyelesaikan masalah tetapi sesungguhnya kita adalah orang yang sebetulnya menambah masalah yang ada Kita harus menjalani panggilan Tuhan di dalam pelayanan dengan cara Tuhan. Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bila ingin melayani maka harus dengan cara dan waktu Tuhan.

IV. Keterasingan Musa pelayan Tuhan

Ada saat dimana ketika Tuhan hendak membuat seseorang melayani maka Tuhan memasukkan dia kepada sekolah padang gurun. Musa harus menjalani masa 40 tahun di padang gurun. Ini adalah tragedi bagi hidup Musa. Cita-cita dan visi dia boleh berbagian menyelesaikan pergumulan umat Allah menjadi berantakan dan juga dia menjadi seorang asing di dalam padang. Musa harus menjalani hidup sebagai gembala sampai dia harus menamai anaknya yaitu Gersom yang artinya Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.
Musa di dalam dirinya menyadari ada cita-cita mulia. Itu seharusnya tujuan hidupnya tetapi dia merasa dia tidak menjalani tujuan hidup itu. Dan dia merasa terasing di negeri asing. Dia merasa tidak berguna dan merasa kosong. Tetapi toh dia harus hidup maka dia menjalani tugas kesehariannya di dalam sekedar mengisi hidup. Di dalam 40 tahun ini Musa belajar artinya kosong tanpa Tuhan. Dia menyadari dia tidak bisa apa-apa tanpa Tuhan.
Refleksi
Kita sebagai pelayan Tuhan seringkali di dalam hidup kita tahu bahwa tujuan hidup adalah untuk menjalani panggilan Tuhan. Tetapi karena kesalahan kita maka kita menjalani hidup yang rasanya hampa sebab tidak menjalani panggilan ini. Tetapi sesungguhnya semua panggilan Tuhan itu ada waktu Tuhan. Ada masa Tuhan. Ada speedo Tuhan. Kita tidak bisa lebih cepat atau lebih lambat. Sebab Dia Tuhan yang empunya pelayanan.

V. Tragedi umat Allah dan Allah yang mendengarkan mereka

Alkitab mencatat bahwa Raja Mesir kemudian mati. Tetapi orang Israel masih mengeluh di dalam tragedi perbudakan. agedi yang menyebabkan bangsa Israel ini mengakibatkan mereka berteriak dan berseru-seru. Teriak minta tolong mereka sampai kepada Allah ( 2:23 ).
Betapa satu hal yang luar biasa yaitu Alkitab mencatat Allah mendengar mereka mengerang. Allah kita bukan Allah yang tinggal diam ketika terjadi kejahatan. Allah kita bukan Allah yang tuli dan bisu seperti berhala Mesir. Allah kita adalah Allah yang hidup dan mendengar keluhan anak-anakNya. Dan lebih dari itu Allah kita adalah Allah yang baik. Alkitab mencatat bahwa Ia mengingat kepada perjanjianNya dengan Abraham, Ishak dan Yakub ( Kel 2:24 ). Ini menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang setia.
Karena Ia setia maka Ia akan bertindak ketika umatNya berada di dalam perbudakan dan kejahatan. Dia tidak diam. Dia mengamati dan Dia akan bertindak.


Refleksi
Di dalam kehidupan kita sebagai umat Allah dan di dalam kehidupan saudara-saudara kita yang kita kasihi seringkali kita melihat realita kejahatan yang menguasai dan memperbudak. Tentunya kita berteriak dan mengeluh. Tetapi sebetulnya Allah tidak tinggal diam. Dia mengamati. Semua ada waktunya Dia akan bertindak. Sabar dan nantikanlah Allah. Mata Tuhan ada pada orang yang berseru kepadaNya dan mengharap kasih karuniaNya.

VI. Pengutusan Musa dan kekecilan hatinya

Tuhan Allah tidak pernah terlambat bertindak. Setelah membiarkan Musa bergumul di dalam kekosongan dan ketidakberartian maka ada saatnya Dia memanggil Musa. Musa memang dipanggil Tuhan menjadi alatNya. Seperti Yeremia maka setiap pelayan Tuhan seperti Musa juga adalah dipanggil Tuhan sebelum mereka lahir. Tuhan sudah menetapkan pelayanNya di dalam kekekalan untuk melayani Dia. Dan di dalam waktu sementara ini Dia menjalankan pemanggilanNya kepada Musa dan juga kepada setiap pelayan Tuhan. Memang Tuhan adalah Tuhan yang bijaksana. Dia hendak memakai hambaNya setelah hambaNya sadar bahwa dia harus bergantung kepada Tuhan sebab dia tidak bisa apa-apa. Kadang Tuhan harus membiarkan seseorang mengalami padang gurun di dalam jiwanya sebelum Tuhan memakainya.
Alkitab mencatat bahwa di dalam diri Musa ada kekecilan hati ketika Dia memanggil Musa. Musa terus berdialog dan ingin menghindar dari panggilan Tuhan. Dia sudah merasa minder dan merasa tidak mampu melayani Tuhan. Mari kita refleksikan kekecilan hati Musa.
Musa sebagai seorang pemuda pada awalnya mempunyai idealisme tinggi dan percaya kepada dirinya sendiri. Dia tahu dia dipanggil Tuhan. Dia merasakan panggilanNya. Dia seorang yang rohani dan hidupnya diarahkan buat Tuhan dan pelayanan. Tetapi dia gegabah dan bertindak di luar waktu Tuhan dan dengan kekuatan serta hikmat sendiri. Dia pernah melakukan kesalahan. Dia bahkan tidak dipercaya oleh umat Tuhan. Ini pasti satu pukulan yang dasyat. Di tambah satu hal yaitu bahwa dia harus menggembara selama 40 tahun dan hidup seakan-akan tidak menjalani panggilan Tuhan. Pasti dia sudah merasa kosong dan kapok. Dia merasa minder dan merasa tidak berguna karena dia tahu nilai dirinya adalah panggilannya dan ketika dia tidak menjalani panggilan itu maka dia merasa dirinya tidak ada artinya.
Refleksi
Mungkin di antara kita ada saatnya kita melakukan satu kesalahan yang besar. Mungkin kita tahu kita dipanggil untuk melayani. Tetapi karena kecerobohan dan kesalahan kita maka kita sepertinya tidak bisa melayani Tuhan dan merasa terbuang serta mengalami kekosongan. Tetapi sesungguhnya kita harus sadar sesuatu bahwa pelayanan itu adalah milik Tuhan dan Tuhan ada waktunya untuk memakai seseorang. Ada saatnya Tuhan menguji dan Tuhan membentuk seseorang supaya dia sadar bahwa dia tidak bisa apa-apa dan harus bergantung kepada Tuhan. Inilah yang dialami Musa atau mungkin dialami kita. Musa harus mengalami pengalaman pahit bahkan kosong selama 40 tahun. Ini bukan pengalaman yang mudah. 40 tahun sanggup menjadikan seseorang menjadi sangat kecil hati. Bahkan ketika Tuhan Allah memberikan tanda mujizat tongkat menjadi ularpun Musa tetap kecil hati. Ini keminderan yang luar biasa dalam.
Refleksi
Kita pasti bukan seorang pelayan Tuhan sebesar Musa. Sangat sangat jauh dari itu. Dan Musa memang adalah pelayan Tuhan yang khusus dan Alkitab mengatakan juga bahwa dia sangat rendah hati tidak ada yang bisa menyamainya kecuali tentunya Tuhan Yesus. Kita harus sadar kita seorang yang kecil dan juga kita diuji bukan seperti pencobaan Musa yang harus selama 40 tahun mengalami kekosongan. Mungkin di dalam diri kita cuma satu atau dua atau sampai lima tahun mengalami kekosongan. Tetapi satu hal yaitu ada prinsip yang sama yaitu kita harus menanti Tuhan memanggil kita kembali dengan panggilanNya yang efektif. Bila Dia memanggil maka panggilan itu efektif.

VII. Rekan bagi Musa

Ketika Musa merasa dirinya tidak mampu maka Tuhan yang maha pengerti memberikan rekan kepada Musa yaitu Harun (4:14). Musa dipanggil tidak sendirian. Tuhan menyediakan penolong. Tuhan Allah tahu kebutuhan Musa. Musapun sekarang tidak bekerja sendiri tetapi di dalam team work. Dia tahu bahwa sendiri itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia perlu rekan. Dia perlu bantuan orang lain dan Tuhan Allah menyediakan rekan bagi Musa.
Refleksi
Di dalam hidup kita ketika melayani, kitapun memerlukan rekan untuk bekerja sama. Kita tidak bisa melayani seorang diri. Kita membutuhkan orang yang lebih rohani ataupun saudara seiman kita atau mungkin Tuhan juga anugerahkan penolong bagi kita. Kita semua butuh rekan apalagi di dalam gereja Tuhan kita semua adalah satu tubuh yang harus bekerja sama. Kita semua harus sama-sama berbagian di dalam membangun tubuh Kristus. Karena itu semangat kita bukan individu tetapi korporat.

VIII. Musa menaati panggilan Tuhan di dalam ketaatan

Akhirnya Musa yang kecil hati tidak bisa melarikan diri dari panggilan Tuhan. Seorang pelayan Tuhan tidak bisa melarikan diri dari panggilan Tuhan. Tuhan akan memukul dia atau akan membuang dia bila dia melarikan diri dari panggilanNya. Panggilan Tuhan itu efektif. Seperti Yunus yang tidak mampu melarikan diri dari panggilan Tuhan maka Musapun tidak mampu melarikan diri dari realita harus melayaniNya di dalam membebaskan umat Tuhan. Namun puji Tuhan Musa taat
Refleksi
Bila kita sungguh-sungguh di panggil Tuhan ada satu hal yang penghiburan besar sekaligus satu hal yang mengerikan yaitu kita tidak bisa lari dari panggilanNya yang efektif. Satu-satunya respon yang baik adalah kita menaati panggilan Tuhan.

Jeffrey limpingen
Bandung
Senin, 1 Juni 2009
Di negeri asing

Read More ....
Powered By Blogger

LIMPINGEN BLOG