Wednesday, May 15, 2013

Ketika tubuh jiwamu lemah dan tidak dapat pulih seperti semula ( bahkan terus degenerasi )

Ketika dunia jatuh dalam dosa maka ada realitas sakit penyakit di dalam dunia ini. Penyakit-penyakit ini dapat mempengaruhi fisik dan jiwa seseorang menjadi tidak berfungsi normal seperti semula.  Dan tentunya ini adalah satu penderitaan. Seringkali penderitaan ini mengganggu, menggelisahkan dan membuat kita mempunyai keinginan besar untuk sembuh. Ada yang mencari obat-obatan, mencari dokter hebat, mencari orang pintar, doa terus menerus kepada Tuhan bahkan hadir di dalam kebaktikan yang menawarkan mujizat kesembuhan. Namun seringkali di dalam pengalaman beberapa orang bukan saja tidak sembuh seperti semula maka semakin degenerasi. Di dalam kasus seperti ini bagaimana kita memaknai pengalaman tidak sembuh seperti ini ?

1.    Realita dunia ini fana dan sementara
Dunia ini adalah pancaran kemuliaan, kekuatan dan kebaikan Tuhan namun bukan Tuhan itu sendiri. Dunia ini ibarat bulan yang memantulkan sinar matahari tetapi bukan matahari ini sendiri. Apalagi dunia ini sudah jatuh dalam dosa sehingga makin jauh dari pancaran kemuliaan. Kekuatan dan kebaikan Tuhan. Manusia yang jatuh dalam dosa ingin menikmati dunia ini dan tidak ingin menikmati Tuhan sebagai sumber sukacita sesungguhnya. Manusia mencari kenikmatan di dalam kesehatan, kekayaan, seksualitas, keluarga, makan minum, kekuasaan, dsb. Tetapi semua ini tidak memuaskan hati manusia yang sedalam-dalamnya sebab kepuasan sejati hanya dapat dipenuhi di dalam Tuhan. Dengan adanya realita sakit penyakit yang tidak dapat sembuh baik secara tubuh maupun psikis membuat kita menyadari bahwa dunia ini fana dan sementara. Kesehatan ini sementara. Fisik dan jiwa kita akan terus degenerasi dan akhirnya kita mati.

2.    Berharap kepada tubuh kebangkitan
Dengan adanya penyakit yang tidak dapat sembuh seharusnya membuat kita berharap akan tubuh kebangkitan di masa depan. Di dalam dunia ini ada realita kerusakan bahkan sampai kematian. Tetapi kita orang percaya punya pengharapan bahwa di masa depan ada tubuh kebangkitan dimana tubuh ini tidak dapat rusak untuk selama-lamanya. Pengharapan  dunia yang akan datang bersama dengan Yesus Kristus seharusnya menjadi sukacita dan pengharapan kita ketika menghadapi degenerasi tubuh jiwa di dalam dunia yang fana ini. Ada hidup yang kekal di sana.

3.    Mengkaitkan penderitaan tubuh jiwa kita dengan persekutuan penderitaan bersama dengan Kristus
Penderitaan tubuh jiwa kita menjadi hal yang terasa sia-sia bila kita tidak mengerti makna rohaninya. Ketika kita berbicara mengenai penderitaan kita harus sadar bahwa Yesus Kristus Anak Allah datang ke dunia ini untuk menderita bagi umatNya. Yesus Kristus menderita bahkan sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa umat pilihanNya. Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus imam besar agung turut merasakan penderitaan kita. Dia sendiri seorang yang biasa menderita dan menanggung kesakitan.  Ketika tubuh jiwa kita menderita, seharusnya kita merefleksikan bahwa Kristus pun pernah menderita. Ketika kita menderita karena dosa kita maka Kristus menderita bagi dosa kita. Penderitaan kita membuat kita lebih dapat mengerti kasih Allah kepada kita karena Yesus Kristus pun menderita bagi kita.

4.    Fokus pada hal-hal yang di atas
Ketika dunia ini fana dan tubuh jiwa kita mengalami degenerasi maka seharusnya membuat kita fokus kepada hal-hal yang diatas yang kekal. Penderitaan sakit penyakit seharusnya membuat kita lebih dekat dengan Tuhan.

Jeffrey Lim
12-12-2012
www.iccccty.com

Read More ....

Melihat permasalahan dan problema tubuh dan jiwa manusia dari doktrin dosa

Mengapa ada ADHD ? Mengapa ada anxiety disorder? Mengapa ada social phobia ? Mengapa ada Schizophrenia ? Mengapa ada bipolar disorder ( dahulu dikenal sebagai manic depression ) ? Mengapa ada Multiple Personality Disorder ? Mengapa ada halusinasi ? Mengapa ada delusi ?  Mengapa ada Obsessive Compulsive Disorder ? Mengapa ada Sexual Addiction ? Mengapa ada homoseksual ? Mengapa ada penyakit baik secara fisik, psikis, emosional, spiritual ini dan itu ?

Jawaban sederhana ini adalah karena manusia sudah jatuh dalam dosa. Segala ketidaksempurnaan dan penyelewengan manusia dari aspek fisik, emosional, rasionalitas, moralitas, spiritualitas adalah semua karena dosa. Sakit penyakit secara fisik, emosional, moral-spiritual semua karena fakta kejatuhan. Di dalam teologi disebutkan bahwa manusia sudah rusak total ( total depravity ). Rusak total berarti seluruh aspek manusia sudah tercemar oleh dosa baik secara tubuh dan jiwa dan di dalam semua elemennya dari rasio, emosi, kehendak, tingkah laku, dsb. Rusak total bukan berarti manusia seburuk-buruknya dan sejahat-jahatnya. Rusak total secara sederhana adalah manusia di dalam seluruh keberadaan dan aspeknya tercemar oleh dosa dan tidak ada bagian yang steril dimana bagian itu tidak tersentuh oleh dosa. Permasalahan tubuh dan jiwa manusia terjadi karena akibat kejatuhan manusia secara umum atau dapat juga karena dosa aktif secara individu.

Ketika kita sedang berbicara bahwa masalah tubuh jiwa manusia karena akibat kejatuhan doa secara umum maka kita akan dibawa ke dalam pemahaman realita bahwa  seluruh penderitaan manusia di dalam dunia ini karena kejatuhan manusia dalam dosa. Dan ketika kita berbicara bahwa masalah tubuh jiwa seseorang karena akibat dosanya aktif secara individu maka manusia tidak bisa berdalih dan melarikan tanggung jawab pribadinya. Seseorang homoseksual tidak bisa mengatakan bahwa dia mempunyai gen homoseksual dan menyalahkan gen-nya yang membuat dia berdosa. Seseorang pembunuh dan pezinah tidak dapat mengatakan bahwa masalah moral spiritual dia karena ketidakseimbangan kimiawinya di otak dan sama sekali bukan tanggung jawabnya. Manusia memang mahluk kompleks yang terdiri aspek tubuh dan aspek jiwa. Tubuh adalah aspek fisik yang kelihatan dan jiwa adalah aspek yang bukan materi. Tubuh manusia dapat rusak karena kejatuhan manusia dalam dosa. Dan tubuh yang rusak ini dapat merangsang perbuatan dosa dengan lebih kuat. Tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa tindakan perbuatan yang bermasalah secara moral spiritual karena masalah tubuh belaka. Kita harus melihat bahwa tindakan berdosa yang aktif manusia adalah karena keingingan hatinya yang berdosa yang dijalankan. Doktrin dosa membuat kita melihat perspektif masalah manusia dengan akurat dan benar.

Permasalahannya adalah ketika kita mengatakan bahwa seluruh masalah manusia ini akibat dosa apakah kita sedang pesimis dan tidak mempunyai pengharapan ? Justru tidak ! Sebaliknya ada harapan sebab anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus mengatasi permasalahan dosa. Dosa tidak bisa menyebar serusak-rusaknya karena anugerah umum. Manusia dapat dipulihkan dari akibat dosa karena anugerah khusus. Anugerah Tuhan selain menahan dosa ( common grace ) juga menyelamatkan manusia dari dosa ( special grace ). Karya Kristus di kayu salib mengalahkan kuasa maut. Upah dosa ialah maut. Karena dosa maka manusia akan mati secara tubuh fisik. Namun lebih dari itu yang mengerikan adalah akibat dosa manusia mati secara rohani yaitu terpisah dengan  Tuhan Allah sebagai sumber hidup. Tetapi anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus mengalahkan kuasa maut dan mendamaikan kita dengan Tuhan Allah. Kematian Kristus di kayu salib mematikan dan mematahkan kuasa dosa. Karena itu orang yang percaya pada Kristus satu saat akan mengalami kematian fisik tetapi tidak akan mengalami kematian rohani. Mengapa ? sebab  maut sudah dikalahkan dan orang percaya yang berada di dalam Kristus Yesus diampuni dan dibenarkan di hadapan Allah. Mereka sudah diselamatkan dari murka Allah dan satu saat pada kedatangan Yesus kedua akan masuk ke dalam surga bersama Tuhan Allah.

Ketika kita sedang berbicara tentang keselamatan di masa depan maka bagaimana dengan masa kini ? Pengampunan dosa dari Tuhan Allah di dalam Kristus menyelamatkan kita dari dosa masa lalu, masa kini dan masa depan. Tetapi bagaimana dengan hidup kita di dalam dunia ini ? Ketika dosa merusak segala aspek kehidupan manusia bagaimana di dalam hidup ini dapat terjadi pemulihan dari dosa? Jawaban dari pertanyaan ini ada di dalam doktrin pengudusan.  Anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus selain mengampuni dosa dan membenarkan manusia dihadapan Allah maka juga menguduskan anak-anak Allah untuk semakin serupa dengan Tuhan Yesus. Roh Kudus sebagai materai keselamatan orang percaya, tinggal diam di dalam diri orang percaya ketika mereka lahir baru. Tidak hanya tinggal diam untuk selama-lamanya tetapi Roh Kudus terus bekerja untuk menguduskan orang percaya. Pengudusan ini melalui sarana anugerah yaitu Firman Tuhan, doa, persekutuan orang kudus dan sakramen. Saya percaya sarana anugerah ini bukan hanya hanya di bagian yang bersifat rohaniah tetapi juga diperluas di bagian yang bersifat jasmaniah seperti obat, nutrisi, vitamin, olah raga, dsb.

Orang-orang yang mengalami permasalahan psikis seperti bipolar disorder, ADHD, Obsessive Compulsive Disorder, Anxiety Disorder, dsb bukan tanpa harapan. Pengudusan di dalam anugerah Tuhan dapat terjadi. Roh Kudus mampu menguduskan penderita. Ini bukan berarti satu hal yang mudah dan bukan berarti akan sempurna total. Kesempurnaan hanya ada di dalam kemuliaan ketika kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Di dalam dunia ini penderita tidak bisa mencapai sempurna. Penderita dapat jatuh bangun. Tetapi seperti kata Alkitab bahwa orang benar jatuh tujuh kali dan bangun kembali. Anugerah Tuhan selain menahan dosa juga menguduskan karakter anak-anak Tuhan untuk semakin lebih menyerupai Kristus.

Jeffrey Lim
11-12-2012
www.iccccty.com

Read More ....

Jangan bergantung pada perasaan tetapi gantungkan iman anda kepada Firman Tuhan

Perasaan kita bisa berubah. Kadang bisa senang. Kadang bisa sedih. Kadang bersemangat. Kadang letih lesu. Kadang sukacita. Tetapi bisa juga depresi. Perasaan kita bisa bergelombang dan berubah-rubah. Karena itu relasi kita dengan Tuhan janganlah bergantung pada perasaan tetapi dengan iman terhadap Firman Tuhan. Apalagi kalau kita berbicara mengenai depresi. Depresi yang berat dapat membuat suasana hati menjadi galau dan gelap. Pikiran dan perasaan dapat menjadi kacau.

Kita coba melihat pergumulan seorang penulis Hymne William Cowper yang mengalami depresi di dalam hidupnya. Beliau ada empat kali mental breakdown. Di dalam hidupnya beliau ada mengalami perasaan ditinggalkan Tuhan. Perasaan depresi itu begitu dalam. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan orang pilihanNya. Rancangan Allah tidak berubah. Dia tidak menyesali kasih karunia dan panggilanNya. Ada kalanya bila engkau mengalami depresi engkau dapat merasa Tuhan begitu jauh. Engkau dapat merasakan sepertinya Tuhan tidak mendengar doa. Engkau berpikir mungkin Tuhan sudah tidak mengasihimu. Tetapi hal itu tidak benar. Perasaan kita berbicara terlalu jauh dari realita. 

Seorang hamba Tuhan bernama Martin Lloyd Jones di dalam bukunya Spiritual Depression ( buku dalam bahasa Indonesia berjudul buluh yang terkulai ) mengajarkan supaya kita jangan mendengarkan pikiran dan perasaan kita yang dalam ( inner ) yang berkata-kata kepada kita. Sebaliknya kita perlu berkata-kata dan berkotbah kepada diri kita.  Semakin kita mendengarkan pikiran dan perasaan inner kita yang depresi maka kita akan semakin depresi. Karena itu kita harus aktif mengkotbahkan Firman Tuhan kepada diri kita. Jangan biarkan gundah gulana jiwa itu terus menerus menguasai hati pikiran kita. Tetapi mulai ingatkan diri kita akan kasih Tuhan, kesetiaan Tuhan, perlindungan Tuhan, pengampunan Tuhan, dan segala berkat anugerahNya. Saya mengerti bahwa ketika seseorang mengalami depresi berat maka bukan hal yang mudah untuk menang atas perasaan mood yang dalam, galau dan gelap. Ada kalanya kita juga harus mengecek apakah fisik kita ( bukan batiniah ) apakah ada sakit ? Karena depresi adalah gejala psikosomatic ( relasi tubuh jiwa yang saling berkaitan ). Tetapi saya ingin memberikan satu wawasan bahwa kita musti memerangi depresi dan jangan bersandar kepada perasaan kita. Biarlah semoga renungan singkat ini boleh menjadi berkat bagi saudara-saudari yang mengalami pergumulan iman di dalam depresi

Jeffrey Lim
9 Oktober 2012
www.iccccty.com

Read More ....

Saran-saran dan masukan di dalam menghadapi kekacauan psikologis

Mengerti kekacauan psikologis bisa beragam dari yang ringan sampai berat. Misalnya kecemasan, kekuatiran, perasaan takut dan terror, kegalauan jiwa, paranoid, waham ( delusi ), halusinasi, dll. Ketika seseorang menghadapi pergumulan psikologis, perlu hikmat dan pengertian untuk menghadapinya. Ada beberapa saran nasihat yang hendak saya paparkan untuk menghadapi kekacauan psikologis. Saran ini adalah saran yang saya sendiri gumuli dan hendak saya bagikan.
1.    Doa
Doa adalah berkomunikasi dengan Tuhan. Dengan doa kita bergantung pada Tuhan dan menyerahkan segala kekuatiran kita. Kita tahu bahwa Allah berdaulat ada segala sesuatu termasuk hidup kita dan kita tahu bahwa Allah itu baik. Alkitab mengajarkan kita untuk menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan sebab Dia memelihara kita. Doa juga seruan minta tolong kepada Tuhan. Dengan doa, kita mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih.

2.    Merenungkan Firman Tuhan dan mengatakan Firman dalam hati untuk menguatkan
Firman Tuhan adalah benar dan tidak bersalah. Firman Tuhan menjadi sandaran kita. Melalui Firman kita diberikan hikmat dan pengertian. Melalui terang Firman juga kita makin mengenal Allah, mengenal diri dan mengenal realitas yang sesungguhnya. Firman Tuhan menguatkan iman kepercayaan kita dan memberikan kita pengharapan baru.

3.    Memperhatikan alam semesta yang teratur
Tuhan menciptakan dunia ini dan juga memelihara alam semesta ini. Di dalam alam semesta ini ada keteraturan sebab dunia ditopang oleh Firman. Keteraturan ini juga karena kesetiaan Tuhan yang terus mengatur dunia ini dengan hukum alam. Tiap pagi kita melihat matahari dan pada sore hari matahari terbenam. Semua berjalan menurut ketetapan Tuhan. Di dalam pergumulan jiwa kita maka kita perlu memperhatikan adanya anugerah umum Tuhan di dalam keteraturan alam semesta ini. Kita perlu belajar untuk memperhatikan hikmat yang berseru-seru di dalam alam semesta ini. Lihat burung yang dipelihara Tuhan! lihat bunga yang indah yang dihiasi Tuhan ! Ketika alam pikiran kita kacau, kita perlu sadar bahwa semua ditopang oleh Tuhan dengan teratur

4.    Merenungkan kasih Tuhan.
Bagi orang percaya, tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Kristus. Baik ancaman apapun dan kekacauan apapun, Tuhan Yesus tetap mengasihi kita. Kalau kita berdosa, kita punya imam besar agung yang memberikan diri-Nya menjadi korban tebusan untuk pengampunan dosa kita. Kasih Tuhan lebih tinggi dari langit dan lebih dalam dari samudra. Bagi kita yang percaya dan mengasihi Tuhan, segala sesuatu yang terjadi mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita mengasihi Tuhan karena Tuhan lebih dulu mengasihi kita dan memberikan hidup-Nya bagi kita

5.    Mendapatkan rasa aman dari Tuhan
Seseorang untuk bisa tenang dan stabil perlu rasa aman. Di dalam dunia ini orang mencari rasa aman dari banyak hal  seperti : materi, kekayaan, teman, pasangan, kepandaian, penerimaan orang lain. Ketika kita mendasarkan rasa aman kita kepada sesuatu yang berubah maka satu saat kita dapat tergoncang karena kita menggantungkan diri kepada sesuatu yang tidak pasti. Rasa aman yang seharusnya adalah karena Tuhan melindungi kita dan berdaulat atas hidup kita. Kemanapun kita berada, Tuhan ada disana dan Tuhan menjaga hidup kita.

6.    Perlu mengerti Identitas kita dengan jelas
Kita perlu mengenal diri kita dengan tepat. Bila kita minder maka kita menilai diri kita begitu rendah dan tidak ada artinya. Bila kita sombong maka kita menilai diri kita lebih tinggi dari seharusnya. Kita perlu sadar siapa diri kita. Satu hal yang penting adalah ketika kita percaya Tuhan Yesus maka Tuhan Yesus menjadi hikmat kita, kebenaran kita, kesucian kita, dan penebusan kita. Bagi orang yang percaya, kebenaran Kristus diberikan kepada kita. Bila kita memperhatikan hidup Tuhan Yesus, kita melihat bahwa Tuhan Yesus begitu stabil di dalam identitasnya. Dia tidak membutuhkan orang Farisi dan imam-imam untuk mengakui Dia. Sebab Dia punya Bapa disurga yang berkata kepada-Nya : inilah Anak-Ku yang kukasihi, kepada-Nya lah aku berkenan. Identitas Tuhan Yesus ada didalam kasih dan perkenanan dari Bapa. Bersyukur kepada Tuhan bahwa bagi kita yang ada di dalam Kristus, kebenaranNya ini diberikan kepada kita. Allah Bapa puas kepada kita karena karya Anak-Nya yang taat sempurna di dalam menjalankan hukum Allah. Semua ini karena anugerah keselamatan dari Tuhan.

7.    Perlu terus mengucap syukur dan berpikir positif
Anugerah Tuhan diberikan dengan limpah kepada umatNya yang percaya .  Selain anugerah keselamatan, Tuhan juga memberikan kita banyak anugerah umum. Sebagai orang percaya, kita perlu mengakui berkat Tuhan atas kita dan bersyukur. Dengan menghitung berkat Tuhan satu persatu, kita melihat banyak kebaikan Tuhan. Bersyukur itu baik. Bersyukur membuat hati lapang. Bersyukur membuat kita puas. Bersyukur mengindikasikan adanya sukacita. Bersyukur membuat muka berseri-seri.

Jeffrey Lim
18-9-2012
www.iccccty.com

Read More ....

Perubahan pikiran, emosi dan tingkah laku itu berkaitan dengan perenungan kata-kata

Kemarin malam saya dan istri saya menonton film DVD mengenai pikiran manusia dan pengaruhnya terhadap kepribadian. Judulnya The Human Mind : Personality. Di dalam satu bagian diceritakan bahwa ada 2 pribadi yang identik kembar dan mempunyai sifat yang mirip sekali. Kemudian kedua pribadi ini mengkonsumsi pikirannya dengan 2 hal yang nuansanya berbeda dalam beberapa periode. Yang pertama mendengarkan  dan berbicara hal-hal yang cerita, mendengar musik yang ceria. Yang kedua mendengarkan dan berbicara hal-hal yang lebih nuansa moody dan mendengarkan musik yang lebih melankolik. Ternyata setelah beberapa periode, kepribadian 2 orang ini menjadi berbeda. Yang seorang lebih ceria dan yang lain lebih kurang ceria. Apa yang mereka dengarkan di dalam satu kata-kata dan musik membuat struktur otak dan kepribadian mereka berubah. Di dalam film ini mungkin ini hanya bagian cerita untuk membuat film. Tetapi saya kembali dibukakan satu pandangan bahwa kepribadian kita dapat berubah dari hal-hal yang kita konsumsi dari pikiran. Di dalam film Human Mind itu, kami juga dibukakan pengertian bahwa dorongan hasrat misalnya kemarahan yang berasal dari bagian otak amigdala dapat ditekan oleh bagian otak cortex frontalis. Pribadi yang pemarah dapat berubah bila dia belajar mengendalikan dirinya melalui pengertian dari kata-kata. Pengendalian diri akan membuat bagian otak cortex frontalis sehingga dapat meredam bagian amydala. Namun bagaimana seseorang dapat berubah hati pikiran, emosi dan tingka lakunya ?

Ketika manusia hidup di dalam dosa dan kegelapan maka hati, pikiran, emosi dan tingkah laku pribadi itu berada di dalam kegelapan. Pikiran menjadi sia-sia dan penuh dengan hal yang tidak bermakna. Persepsi menjadi tidak sesuai dengan realitas ciptaan Tuhan. Emosi yang menguasai emosi negatif seperti takut, kuatir, marah, cemas, malu, rasa bersalah. Tingkah laku yang dominan adalah pembangkang, pemberontak, tidak taat, dan segala kelakuan yang buruk. Semua faset dimensi manusia menjadi rusak dan terdistorsi. Pada saat itu hidup manusia berada di dalam jalan gelap yang menuju kepada maut.

Bersyukur ada solusi mengenai masalah kegelapan jiwa manusia di dalam dosa yaitu Injil. Injil berisi isinya mengenai pengenalan akan Tuhan Yesus yang mati dan bangkit untuk dosa manusia. Injil ini tersimpan di dalam Alkitab, Firman Allah. Firman Tuhan berkuasa menyegarkan dan merubah jiwa seseorang. Kata-kata di dalam Firman Tuhan dapat merubah kepribadian seseorang. Firman Tuhan dapat merubah karena Firman Tuhan ada kuasa Injil yang menyelamatkan orang yang percaya. Karena itu bagaimana rusaknya pribadi seseorang oleh dosa dapat dipulihkan oleh kata-kata Firman Tuhan. Pikiran yang berdosa perlu ditransformasi oleh Firman Tuhan. Emosi yang berdosa harus dikuduskan. Tingkah laku yang berdosa harus disalibkan.

Di dalam masalah kejiwaan manusia yang kompleks seperti masalah psikiatrik misalnya schizophrenia, bipolar disorder, dll, saya percaya bahwa jawaban masalah ini ada di dalam kata-kata Allah. Ketika dunia psikiatrik berpusat kepada obat-obatan medis untuk menahan gejala sakit mental maka itu bukan solusi yang permanen. Walaupun obat-obatan dapat dipakai sebagai anugerah umum menahan dosa dan meringankan penderitaan, namun bukan solusi yang lebih panjang dan seterusnya. Ketika seseorang mendapat label di dalam dunia psikiatrik misalnya depresi klinis, label itu bukan satu hal yang memberikan pengharapan masa depan bila seseorang yang diberi label itu tidak mau menanggalkan tingkah lakunya yang buruk dan mengenakan tingkah laku yang baru. Masa depan pribadi yang bermasalah akan tetap gelap bila orang tersebut tidak mau bertobat dan ditransformasi oleh Firman Tuhan. 

Bersyukur bahwa Firman Tuhan itu seperti pedang bermata dua yang dapat memilah pikiran kita sehingga melaluinya pikiran kita bisa diterangi Tanpa Firman Tuhan dan dengan mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, kita akan tetap berada di dalam kegelapan. Orang berdosa perlu kata-kata dari Firman Tuhan yang akan merubah kepribadiannya menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus.

Marilah kita merenungkan kata-kata Firman Tuhan sehingga kata-kata itu merubah hidup kita di dalam anugerahNya !
 

Taurat Tuhan itu sempurna menyegarkan jiwa ( Mazmur 19:8 )



Jeffrey Lim
www.iccccty.com
11-5-2012

Read More ....

Kalahkan teror ketakutan dengan iman, pengharapan dan kasih

Dari kecil, bayi menangis karena ketakutan. Dan ketika manusia makin besar maka ketakutannya,  jenis sumber ketakutannya dan takarannya menjadi berbeda. Ketakutan bisa diakibatkan karena sesuatu yang lebih besar dari kita dan tidak bisa kita kendalikan dan juga mungkin berbahaya bagi kita. Kita menjadi merasa tidak aman dan kuatir. Ketakutan dalam kadar tertentu adalah hal yang positif karena dengan ketakutan membuat kita menjadi waspada dan hati-hati. Tetapi ada ketakutan yang perlu kita lawan dan hadapi yaitu ketakutan yang menghantui kita. Yaitu teror ketakutan yang bukan berasal dari Tuhan Allah. Ketakutan yang menghantui ini ada beberapa macam :


a.    Ketakutan akan dosa dan penghukumannya dan yang sifatnya bukan membawa kepada pertobatan tetapi pada keputusasaan, pesimis, depresif dan tidak ada pengharapan.
Setan adalah pribadi yang disebut penuduh. Siang malam dia terus menerus menuduh anak-anak Tuhan dan hamba-hamba Tuhan. Dia menuduh bahwa kita berdosa, dosa kita begitu besar dan juga kutuk penghukuman ada pada kita. Semua tuduhan ini semua sebenarnya kebohongan besar bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Alkitab di dalam Rom 8:1 mengatakan bahwa tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Yesus Kristus.

b.    Ketakutan kegagalan masa depan. Dunia menuntut seseorang untuk maju menjadi pemenang dan bahkan mungkin bersaing dan menjatuhkan yang lain. Di dalam dunia ini manusia terbiasa harus berpacu untuk bertahan hidup. Dan dunia yang jatuh dalam dosa ini iklim cuacanya tidak bersahabat. Di dalam setiap peristiwa hidup, kita manusia sering menghadapi kegagalan. Tetapi setan ingin menggunakan kegagalan masa lalu untuk menjadi bayang-bayang kegagalan masa depan. Akhirnya kita dicobai untuk takut gagal di masa depan.

c.    Ketakutan dan kekuatiran akan hidup. Tuhan Yesus di dalam Matius 6 mengajarkan kita supaya kita jangan kuatir akan hidup ini, apa yang kita makan dan apa yang kita pakai. Mengapa ? Sebab kita begitu berharga di mata Tuhan dan Tuhan aktif memelihara dunia ini. Tetapi seringkali ilah jaman membutakan manusia sehingga mereka tidak melihat bahwa Tuhan ini memegang kendali sejarah hidup manusia dan Dia hidup. Manusia kuatir akan hidup, kuatir akan kemiskinan, kuatir akan kekurangan dan mereka berusaha dengan kekuatan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tetapi mereka melupakan bahwa Tuhan mengajarkan kita untuk mencari kerajaan  Allah dan kebenarannya maka semua akan ditambahkan kepada kita.

d.    Ketakutan akan kesendirian dan kesepian. Manusia diciptakan Tuhan untuk bersosialisasi dan pada dasarnya perlu mempunyai penolong. Tuhan mengatakan bahwa tidak baik manusia seorang diri. Karena itu manusia perlu  sesamanya. Relasi paling dekat adalah di dalam pernikahan. Ketika manusia ada di dalam kesendirian maka manusia dapat merasakan kesepian dan kekosongan. Di dalam kesepian hidup menjadi seperti hampa. Mengapa ? Sebab pada dasarnya manusia diciptakan Tuhan untuk saling mengasihi dan dikasihi. Kasih mutlak dibutuhkan manusia untuk hidup dan bertumbuh berbuah. Ketika kita sedang sendiri dan tidak ada yang mendampingi kita maka kita perlu benar-benar punya mata iman bahwa ada yang Maha kuasa yang sedang mendampingi kita dan memegang tangan kita. Dia hidup dan menyertai kita. Dia Allah Immanuel. Allah Tritunggal di dalam Tuhan Yesus Kristus melalui Roh KudusNya.

Bagaimana kita mengalahkan ketakutan kita ?

Ketakutan dapat dikalahkan kalau kita mengerti bahwa tidak ada apapun yang menakutkan yang lebih besar daripada Tuhan Allah. Takut akan Tuhan seharusnya melenyapkan ketakutan. Manusia seringkali hendak menyembah berhala karena mengira berhala dapat dikuasai dan dibeli dengan persembahan sehingga berkat dan kutuk kepada manusia dapat dikuasai. Tetapi ketika manusia menyembah berhala maka manusia jatuh ke dalam ketakutan oleh berhala itu. Berhala itu akan mengikat dan menjadi yang menghantuinya. Maka itu orang-orang yang percaya kepada Tuhan menerima Roh yang bukan membuat mereka menjadi takut lagi tetapi menerima Roh Allah yang membuat mereka dapat memanggil  Ya Abba , Ya Bapa. Dan di dalam kasih tidak ada ketakutan karena kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.

Ketakutan dapat dikalahkan 3 hal yaitu : Iman, Pengharapan dam kasih. Iman akan janji Allah membuat kita teguh. Pengharapan akan kasih karunia membuat hati kita bersauh. Kasih Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita menjadi sandaran kita.

Marilah kita belajar mengalahkan ketakutan kita. Janganlah takut akan apapun selain takut kepada Tuhan !

Jeffrey Lim
www.iccccty.com
8-4-2012

Read More ....

Segala dosa diampuni, asalkan kita bertobat dan mengaku salah

Di dalam kehidupan yang sudah jatuh dalam kutuk dosa ini maka seperti halnya natur orang berdosa adalah berdosa, kita tidak pernah luput dari kelemahan dan dosa. Sekudus-kudusnya orang percaya tetap ada cacat dan dosanya. Dan puji Tuhan bahwa Dia tidak memperhitungkan kesalahan orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dosa yang diakui adalah dosa yang diampuni.

Hukum di dalam dunia ini adalah hukum keadilan dan hukum balas dendam. Sebenarnya ini adalah hukum alamiah yaitu hukum tabur tuai. Di dalam agama Hindu kita bisa bilang ini adalah hukum karma. Bila seseorang menabur kebaikan maka dia akan menuai kebaikan. Bila seseorang menabur kejahatan maka dia akan menuai malapetaka. Semua ini adalah hukum sama dengan ( = ). Kita menerima sesuatu sesuai dengan apa yang kita perbuat di dalam dunia ini.

Tetapi bersyukur ada hukum yang lebih tinggi. Hukum ini adalah hukum anugerah. Bila kita hendak berpegang pada hukum taurat, hukum tabur tuai maka kita akan terus menerus tidak pernah sempurna. Sebagai manusia yang berdosa kita tidak pernah akan sempurna. Sebagaimana kita menutupi diri dengan kebaikan, amal, kesalehan agamawi maka semuanya itu hanyalah pakaian compang camping. Tetapi bersyukur ada hukum yang lebih tinggi. Hukum ini adalah hukum kasih karunia.

Di dalam hukum kasih karunia ini bukan berdasarkan perbuatan baik kita. Tetapi berdasarkan perbuatan baik Tuhan sendiri yang sempurna yang diberikan kepada kita. Mari kita renungkan satu pribadi yang mati disalib di sebelah Tuhan Yesus. Dia adalah seorang yang jahat. Tetapi pada akhir hidupnya dia seorang yang bisa melihat kemuliaan Kristus yang tidak berdosa. Kristus yang benar. Kristus yang mulia. Juruselamat yang mati dikayu salib. Semuanya itu tersingkapkan di dalam mata rohani si penjahat ini. Dan puji Tuhan ! Dia diselamatkan !

    Coba renungkan !

    Apa yang pantas bagi penjahat itu ? Kayu salib dan neraka. Tetapi apa yang Tuhan berikan bagi dia ? Pengampunan dan surga !

    Sungguh amazing grace ! How sweet the sound !

    Kadang kala hal ini sepertinya tidak adil. Tetapi inilah kasih karunia. Bukan berdasarkan kelayakan kita. Tetapi berdasarkan pemberian anugerah cuma-Cuma.

Di dalam perenungan singkat ini saya hendak mengajak kita merenungkan bahwa sebesar-besarnya dosamu terhadap Tuhan dan sesama, Tuhan akan mengampuni bila kita bertobat dan mengaku salah.

Jeffrey Lim
www.iccccty.com
28-3-2012

Read More ....

Mungkinkah saya sebagai murid Kristus mengalahkan dosa dan kedagingan ?

Ketika kita memikirkan hidup ini yang penuh dengan pergumulan, penderitaan, kesulitan dan air mata ini maka kita mempunyai satu harapan akan kebebasan secara rohani. Kedamaian dimana kita lepas dari segala hal yang menekan dan menindas. Memang ini apa yang Alkitab katakan bahwa kita semua sebagai anak-anak Tuhan dan segenap ciptaan Tuhan mengeluh dan menanti penebusan dan kemuliaan masa depan ( Rom 8:18-21 ). Kita semua anak-anak Tuhan punya satu keinginan untuk lepas dari derita dan dari kesia-siaan hidup ini dan masuk ke dalam kemuliaan.

Ketika kita merenungkan apa yang menjadi masalah di dalam dunia ini ? Mengapa adanya penderitaan dan kesulitan ? Mengapa adanya perang ? Mengapa adanya konflik ? Mengapa adanya kerusakan-kerusakan dan penyakit ? Maka kita mulai merenung apa yang terjadi pada manusia ? Apa yang terjadi ?

Orang Budhis menyadari secara praktis bahwa manusia menderita karena keinginan duniawi dan banyak orang yang beragama menyadari bahwa musuh terbesar umat manusia bukan orang lain, bukan lingkungan tetapi diri kita sendiri. Ada kejahatan yang merupakan sisi gelap dari diri kita sendiri. Tetapi sayang sekali orang Budhis pun tidak menyadari bahwa ketika mereka melihat sesuatu serpihan kebenaran maka mereka sendiri masih diselubungi oleh kabut kegelapan yang menipu. Betapa liciknya hati ! Lebih licik dari sesuatu !. Tidak cukup kita mengenal diri kita mempunyai sisi gelap dan diri kita adalah musuh terbesar. Kita perlu Firman Wahyu Allah untuk mengenal diri kita sesungguhnya.

Firman Tuhan menceritakan bahwa kutuk dan penderitaan di dalam dunia ini adalah karena dosa. Firman Tuhan menjelaskan semua ini karena manusia berdosa ingin mengambil jalan sendiri. Manusia ingin menjadi seperti Allah. Manusia ingin hidup otonomi. Manusia tidak mau diatur oleh Tuhan Allah. Manusia tidak mau menjadi hamba Tuhan tetapi ingin menjadi tuan atas dirinya sendiri dan orang lain. Manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.

Ketika manusia jatuh dalam dosa maka mereka ada di dalam perbudakan dosa. Alkitab mengatakan bahwa barangsiapa berdosa ialah hamba dosa. Seseorang yang mau bebas di luar kehendak Tuhan menjadi terikat oleh kehendak kedagingannya sendiri. Seseorang yang mengatakan dia bebas untuk makan narkoba menjadi hancur terikat oleh narkoba. Seorang yang ingin bebas melampiaskan nafsu seksnya menjadi terikat oleh hawa nafsunya sendiri. Seorang yang merasa bebas untuk berjudi akhirnya habis bangkrut oleh keserakahannya sendiri.

    Tragedi ! Tragedi ! Inilah realitas hidup kita. Adanya kejatuhan !

    Alkitab mencatat bahwa dunia dengan segala nafsunya akan lenyap.

    Tragedi ! Dan tragis !

Ketika sebelum mengenal Kristus kita terbiasa untuk hidup di dalam perbudakan dosa dan hawa kematian. Kita sudah terbiasa hidup di dalam kegelapan. Dan kita sudah terbiasa hidup mengikuti hawa nafsu kita. Pertanyaannya : Bisakah kita lepas dari semua itu ?

Saya ambil contoh konkret mengenai Agustinus. Dia adalah seorang Bapa gereja. Dia hidup masa remaja dan mudanya hancur. Dia suka hidup sembarangan. Dia suka main perempuan. Dan kita tahu dari pengalaman kita sendiri bahwa orang yang hidupnya diikat hawa nafsu akan sulit keluar. Bisakah Agustinus hidup suci dan kudus berkenan kepada Tuhan ? Misalnya kita tahu bahwa pergumulan laki-laki salah satunya adalah di dalam aspek kekudusan. Mungkin ada pertanyaan di dalam hati kita apakah kita bisa lepas dari dosa seksual dari tahap yang ringan seperti masturbasi sampai tahap yang lebih berat ?     Saya sendiri pernah bergumul dengan pertanyaan ini. Jujur bicara ini adalah pemikiran saya yang murni. Apakah mungkin Agustinus lepas dari dosa seksual seperti masturbasi dalam bentuk yang paling ringan ? Apakah dia mungkin mengalami kemenangan di dalam pergumulan nafsunya ? Dia menulis buku berjudul the confessions. Saya percaya bisa !

Tetapi di hari minggu di subuh hari ini saya dibukakan satu pengertian oleh Tuhan Allah. Ketika Yesus mati dan bangkit untuk kita maka saya percaya hal itu mungkin ! Bagaimana mungkin untuk menaklukkan diri kita yang penuh dengan segala nafsu dan keinginan ? Semua itu mungkin karena karya Kristus yang sempurna di kayu salib.

Di dalam pergumulan hidup saya sendiri saya dibukakan beberapa pengertian dari mengenal Firman Tuhan. Saya makin menyadari bahwa mempunyai keinginan itu sebenarnya bukan hal yang salah. Keinginan adalah satu hal yang netral. Namun yang jadi masalah adalah keingingan yang berlawanan dengan kehendak Allah atau kita sebut keinginan daging. Semua keinginan yang sinkron dengan Firman Tuhan dan kehendak Allah itu adalah baik. Tetapi pertanyaannya mengapa kita terus mengingini ? Mengapa kita terus mengingini kesenangan ? Mengapa kita terus mengingini kekuasaan ? Mengapa kita terus mengingini uang ? Mengapa kita terus mengingini hal-hal duniawi ?

Akhirnya saya menemukan jawabannya dari perenungan Firman Tuhan ! Oh betapa Firman Tuhan menjadi penasihat-penasihatku. Betapa Firman Tuhan menjadi terangku.

Kita terus mengingini karena kita haus ! Kita mengingini karena jiwa kita miskin ! Kita mengingini karena jiwa kita gersang dan mengharapkan air ! Kita mengingini karena kita kosong dan mengharapkan makna dari semua itu ! Dan kita ingin memenuhi dahaga jiwa kita dengan hal yang sia-sia. Kita ingin hidup kita dipenuhi dan kita tidak menyadari bahwa tempat kosong itu hanya bisa diisi oleh Allah ( Blaise Pascal ).

Kitab Pengkotbah mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Solomo sendiri adalah seseorang yang begitu berhikmat dan dia mencobai dirinya untuk menyelidiki segala sesuatu dengan hikmatnya mengenai rahasia hidup. Dia menyelidiki semua arti kesenangan duniawi. Dia mencoba dari hal kekuasaan, uang, seks, kemewahan, nama baik dan segala yang dipandang baik bagi dunia ini. Tetapi di dalam kitab Pengkotbah Salomo mengatakan bahwa semua itu sia-sia dan usaha menjaring angin. Semua itu tidak bisa dipegang.

Kitab Yeremia 17 mengatakan bahwa terkutuklah yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri. Ketika kita tidak menjadikan Tuhan sebagai Tuhan dan kita menjadikan berhala baik itu orang lain atau diri kita maka kita ada di dalam kutuk. Dengan mengandalkan sesuatu yang bukan Tuhan membuat hidup kita malang. Karena itu Amsal mengatakan percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu. Jangan mengandalkan pengertianmu sendiri.

Ternyata Tuhan mendesain manusia sedemikian rupa dimana natur dia harus bergantung kepada Tuhan Allah sebagai sumber segalanya : sumber bahagia, sumber damai, sumber kecukupan, sumber rohani, sumber segala-galanya. Dari sanalah mereka akan memperoleh makna, kepuasan, sukacita, dan damai sejahtera.

Kemudian saya merenung lebih dalam mengenai perenungan saya mengenai Bapa gereja Agustinus. Mungkinkah orang seperti dia benar-benar menang melawan pergumulan dosanya ?

Memang kita harus menyadari bahwa kita harus memiliki pola pikir penebusan yang already but not yet. Namun ketegangan paradoks ini seharusnya bukan membuat kita berpikir kita tidak akan pernah akan sampai di dalam kekudusan sebab kita berpikir semua hanya terjadi di dalam hidup yang akan datang. Ataupun juga kita jangan berpikir bahwa kita dapat kudus sempurna di dalam dunia ini. Kita harus melihat bahwa keselamatan sudah kita peroleh sejak kita menerima Yesus Kristus dan akan digenapi sepenuhnya pada akhir jaman. Dan di dalam masa itu kita berada di dalam pengudusan yang progresif.

Kembali pertanyaan : Mungkinkah orang seperti Agustinus benar-benar makin menang melawan pergumulan dosanya ? Dari pengajaran Agustinus sendiri saya menemukan satu pemahaman yang menyejukkan jiwa saya. Yaitu pengajaran mengenai frui dan uti. Di dalam ajaran Agustinus ini saya menemukan penerobosan dan saya percaya konsep ini sesuai dengan firman Tuhan.

Alkitab tidak pernah melarang kesenangan. Alkitab tidak melarang manusia menikmati dunia ciptaan Tuhan. Tetapi yang Alkitab larang adalah kesenangan yang berdosa melawan Tuhan. Keinginan berdosa yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Tetapi bagaimana bila kesenangan itu bersifat netral seperti makan, minum, olahraga, menikmati alam, musik, seni, dsb ? Dalam hal ini ketika kita mempunyai keinginan untuk menikmati dunia ciptaan Tuhan maka Agustinus mengajarkan bahwa itu semua jangan berakhir pada dirinya sendiri. Semua kenikmatan dalam dunia ini yang baik-baik ini semua hanya merupakan uti ( alat ) dimana kenikmatan sejatinya ( frui )  hanya berasal dari Tuhan.

Saya mencoba untuk mengelaborasi pemikiran Agustinus dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Semua hal di dalam ciptaan Tuhan ini yang baik dan membangun  seperti makanan yang sehat, olahraga, musik yang ritmenya sesuai dengan irama alam semesta ciptaan Tuhan, hubungan relasi manusia dengan manusia di dalam kasih, hubungan suami istri sampai pada hubungan seksualitas yang kudus, seni , dsb, semua ini boleh manusia nikmati. Tetapi kita harus sadar bahwa mereka ini semua bersifat analogi dimana kita sadar bahwa sesungguhnya yang bersifat fisik ini adalah analogi dari kenikmatan dari Tuhan Allah itu sendiri. Kecap dan lihatlah betapa baiknya Tuhan !
Ada lagu yang mengatakan I rather have Jesus than silver and gold. Kemudian di dalam lagu itu dikatakan bahwa Yesus lebih manis dari madu. Bukankah semua hal keindahan di dalam dunia, semua yang baik itu berasal dari Sang Baik yaitu Tuhan itu sendiri ? Maka ketika kita melihat kebaikan di dalam dunia ciptaan yang sementara ini dan kemudian hendak kita pegang, itu adalah usaha menjaring angin. Semua itu tidak bisa dipegang. Hanya Allah yang tidak berubah yang bisa menjadi andalan kita.

Di subuh hari ini saya kembali merenungkan satu hal bahwa bila kita mengingini Tuhan Allah sebagai porsi kenikmatan kita maka kita akan dipuaskan. Pada saat itu kita bisa berkata. Tuhan adalah gembalaku, aku puas dan tidak butuh apapun lagi.

Jawaban terhadap apakah kita bisa di dalam hidup ini makin mengalahkan dosa dan kedagingan ? Bisa dengan anugerah Tuhan ! Karena Tuhan Yesus sudah menang mengalahkan kuasa dosa. Tuhan Yesus yang memampukan kita dengan kuasa kebangkitanNya supaya kita hidup kudus. Dan Tuhan Yesus memberikan diriNya sebagai makanan rohani yang menjadi kenikmatan segala-galanya bagi kita.

Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim
www.iccccty.com
26-2-2012

Read More ....

Blind spot jiwa kita

Mata manusia yang diciptakan Tuhan itu begitu unik. Mata bisa melihat yang dihadapannya. Tetapi ternyata ketika diselidiki secara ilmiah ada titik buta di mana mata kita kabur samar samar tidak melihat dengan jelas. Ini berbeda dengan kamera ataupun juga mata gurita yang tidak mempunyai titik buta. Dan sebenarnya titik buta ini dapat menjadi satu ilustrasi untuk mengerti titik buta di dalam jiwa kita.

Bila kita makin dewasa kita makin sadar bahwa banyak hal di dalam hidup kita baik itu perkataan dan tingkah laku berasal dari kedalaman diri kita. Alkitab menyebut itu hati. Amsal mengatakan “ Awasilah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan”. Dan Yeremia mengatakan bahwa hati itu begitu licik dan sangat licik. Segala apa yang terpancar keluar secara eksternal adalah pancaran dari hati kita. Karena itu ketika kita bisa mengenali isi hati kita yang sesungguhnya itu adalah anugerah Tuhan. John Calvin mengatakan bahwa ketika kita mengenal Allah maka kita mengenal diri. Ketika kita mengenal diri maka kita mengenal Allah.  Dan uniknya Tuhan membawa kita mengenalNya di dalam konteks relasi dengan Tuhan sendiri, sesama manusia dan dengan alam semesta. Semuanya bersifat relasional dalam kasih. 

Di dalam kita hendak mengenal diri kita dan kedalaman hati kita maka tidak bisa lepas dari komunitas. Tidak ada seorangpun bisa mengenal dirinya sendiri tanpa kehidupan sosial. Orang yang menyendiri akan berada di dalam kegelapan. Dan adalah satu hal yang unik juga bahwa ketika di dalam satu relasi dengan sesama maka sebenarnya sesama kita menjadi cermin mengenai siapakah kita. Tentunya Firman Tuhan adalah cermin dan standard yang sempurna namun ketika kita hendak mengaplikasi Firman Tuhan maka harus di dalam relasi dengan sesama. Tidak mungkin seseorang mengasihi Allah yang tidak kelihatan tanpa mengasihi sesama yang kelihatan. Semua ini bersifat relasional dan perwakilan. Sungguh luar biasa desain yang Tuhan ciptakan di dalam ciptaanNya ini.

Di dalam relasi dengan sesama maka sebenarnya seringkali sesama kita dapat melihat satu sisi dari diri kita yang mungkin tidak sadari. Dan ketika orang lain menegur kita maka sebenarnya itu kesempatan bagi kita untuk intropeksi dan mengenal diri lebih dalam. Mungkin teguran itu kurang tepat tetapi mungkin juga ada nilai kebenarannya yang perlu kita coba selidiki. Dan adalah satu hal yang menarik di dalam relasi manusia. Di dalam relasi dengan orang yang dekat dengan kita maka kita dapat melihat blind spot orang tersebut dari perspektif kita. Dan kemudian kita memberikan masukan bagi orang tersebut. Dan pada saat yang sama maka kitapun sedang dinilai dan orang tersebut sedang melihat blind spot diri kita. Karena itu di dalam hidup kita tidak bisa hanya mengandalkan mata rohani kita sendiri. Kita perlu telinga rohani untuk mendengar apa yang dikatakan Tuhan melalui orang lain. Pendengaran rohani inipun didasarkan pada mata rohani orang lain yang melihat diri kita.

Tuhan Yesus memberikan satu perintah supaya kita jangan menghakimi. Mengapa kita melihat selumbar di mata saudara kita padahal di depan mata kita ada balok ? Pengajaran Tuhan Yesus ini saya mencoba mengerti sebenarnya kita harus hidup di dalam kasihNya. Kita harus saling mengasihi dan saling coba mengasah satu sama lain supaya kita makin bertumbuh untuk memuliakan nama Tuhan. Dengan saling mengasihi dan saling mengasah maka kita makin bertumbuh di dalam kekudusan dan kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Dengan renungan ini saya hendak menguatkan kita supaya kita sama-sama bisa hidup terus di dalam komunitas tubuh Kristus. Walaupun secara lahiriah tubuh Kristus adalah terdiri dari manusia-manusia yang tidak sempurna namun sesungguhnya tubuh Kristus tidak pernah terlepas dari kedaulatan kasih karunia Kristus sendiri. Di dalam Kristus ada kasih, penghiburan, pengertian sehingga kita bisa makin bertumbuh. Janganlah meninggalkan persekutuan karena dengan bersekutu dengan orang yang hidupnya tidak mengenal Tuhan secara terus menerus dan dengan meninggalkan persekutuan orang kudus maka rohani kita akan mulai merosot. Karena itu marilah kita mempunyai pandangan adalah satu kesempatan dan anugerah bagi kita untuk bertumbuh bila Tuhan letakkan kita di dalam tubuh Kristus.

Kiranya renungan ini boleh menjadi berkat

Jeffrey Lim
www.iccccty.com
18-2-2012

Read More ....

Kunci bahagia dan diberkati : Mengandalkan Tuhan dan bukan mengandalkan manusia

Yeremia 17 mengatakan bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari Tuhan. Sebaliknya Yeremia mengatakan bahwa diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Kutuk yang Yeremia katakan bila orang mengandalkan manusia adalah ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di negeri angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduku. Sebaliknya berkat yang Yeremia katakan bila orang mengadalkan Tuhan mirip dengan kalimat di dalam Mazmur 1 bagi mereka yang merenungkan Firman Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Di dalam kehidupan ini kita memerlukan satu sosok pribadi untuk kita bergantung. Mengapa kita memerlukan sosok pribadi untuk bergantung karena kita manusia lemah dan terbatas. Ini adalah natur kita. Sosok yang kita bergantung itu tentunya harus sosok yang kuat. Sosok itu mungkin bisa orang tua, pasangan, ataupun orang yang dianggap dan dikagumi kita. Ini adalah sifat kebergantungan. Dan mengapa manusia mempunyai sifat ini ? Yaitu karena manusia diciptakan untuk bergantung kepada Penciptanya. Manusia adalah mahluk sosial relasional yang harus bergantung kepada Tuhan Allah. Semua ini adalah desain yang sudah Tuhan tetapkan bagi manusia sebagai gambar dan rupaNya.

Ketika kita menggantungkan hidup kita pada satu pribadi maka sebenarnya pilihannya hanya dua yaitu bergantung kepada Tuhan Allah atau bergantung kepada berhala. Dan ketika kita menggantungkan diri kita sepenuhnya pada satu pribadi maka sebenarnya pribadi itu yang sedang kita sembah. Ini juga adalah satu karakteristik manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang mempunyai sifat agama. Manusia diciptakan untuk menyembah. Dan pilihannya hanya dua yaitu menyembah Tuhan Allah atau tidak menyembahNya alias menyembah berhala atau diri atau setan.

Ketika manusia menyembah Tuhan Allah dan mengandalkan Dia maka manusia akan bertumbuh dan berbuah dan hidupnya ada di dalam hawa kehidupan. Tetapi ketika manusia menyembah berhala dan mengandalkan berhala maka manusia akan terkutuk dan malang hidupnya. Hawa kematian akan mengejar dia. Mengapa demikian ? Karena dengan menyembah berhala sebagai sesuatu yang dipercaya dapat memberikan berkat dan kutuk maka manusia hidup dalam kebohongan dan tidak hidup di dalam kasih. Manusia yang menyembah berhala hidup di dalam kesombongan dan juga sekaligus hidup di dalam ketakutan. Mereka hidup di dalam kedagingan yang bertentangan dengan roh. Dan dengan demikian sesuai dengan Firman Tuhan maka upah dosa ialah maut. Dengan berdosa maka manusia adalah hamba dosa dan dosa ini membawa kepada hawa kematian.

Bukankah banyak orang begitu kuatir orang lain menilai dirinya ? Bukankah banyak orang takut kepada manusia lebih daripada takut kepada Allah ? Bukankah banyak orang selalu ingin dipandang baik oleh orang lain ? Mengapa ? Sebab mereka lebih mementingkan apa yang dipikirkan manusia daripada apa yang dipandang Tuhan. Apa yang dipandang manusia itulah yang dibenci Tuhan Allah.

Akibat dari memandang manusia begitu tinggi dan tidak mengindahkan Tuhan Allah mengakibatkan rohani menjadi mati dan psikologis manusia pun hidup di dalam emosi-emosi yang mematikan : kemarahan, ketakutan, kekuatiran, kebencian, hawa nafsu, dsb.

Tetapi bersyukur kepada Tuhan Yesus bahwa Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini. Dan Tuhan Yesus mengatakan tentang diriNya bahwa Dia datang supaya orang memperoleh hidup bahkan hidup di dalam kelimpahan. Tuhan Yesus datang ke dunia ini supaya orang yang percaya kepadaNya boleh dilepaskan dari berhala-berhala untuk beribadah kepada Allah yang hidup. Tuhan Yesus datang supaya orang yang menerimaNya diberkati dan bahagia di dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Dan Tuhan Yesus dengan kematianNya memampukan kita untuk hidup mengandalkan Tuhan Allah.

Marilah kita sebagai orang percaya makin menyadari bahwa kita harus hidup mengandalkan Tuhan dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Kiranya renungan singkat ini boleh menjadi berkat.

Jeffrey Lim
17-2-2012
www.iccccty.com

Read More ....

Monisme, distingsi kekudusan, terang dan kesembuhan

Sebelum kita menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat maka kita ada di dalam kegelapan. Kita ada di dalam murka Allah. Dan karena kita berdosa maka kita berada di dalam kutuk hukum Taurat. Ini keadaan yang sangat mengerikan. Waktu dalam gelap kita tidak bisa melihat apapun. Kita buta dan yang kita lihat hanyalah kegelapan. Dan kita hidupnya menderita dan malang.

Tetapi ketika Roh Kudus menerangi hati kita di dalam pemberitaan Firman Tuhan dan menggerakkan kita untuk menerima anugerah untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat maka kita ada di dalam terang. Saat itu kita berpindah dari kerajaan gelap ke dalam kerajaan terang. Waktu kita mulai melihat terang maka kita mulai bisa memilah, membedakan, ada distingsi dan pemisahan antara terang dan gelap.  Analogi paling mudah adalah di tengah malam hari yang gelap yang tidak ada lampu kita tidak bisa membedakan apa-apa. Semua menjadi satu yaitu kegelapan. Namun ketika siang hari kita melihat adanya pohon, mobil, rumah, jalanan, dan lain-lain.

Waktu kita berada di dalam kegelapan maka konsep kita adalah lebih mendekati monisme. Segalanya adalah satu. Konsep ini adalah inti dari kekafiran.  Tidak ada perbedaan antara Allah dan ciptaan. Ini monisme. Tidak ada perbedaan antara berhala dan Allah. Tidak ada perbedaan menyebut nama Tuhan dengan hormat dan sembarangan. Tidak ada perbedaan hari Sabat dan hari biasa. Tidak ada perbedaan antara barang sendiri dengan barang orang lain sehingga mencuri. Tidak ada perbedaan antara istri sendiri dengan orang lain sehingga berzinah. Tidak ada perbedaan antara benar dan salah sehingga berbohong. Semuanya sama. Semuanya satu. Ini monisme.

Waktu kita makin mengenal kebenaran maka kita mulai bisa mendistingsi dan membedakan. Sebenarnya pemisahaan ini adalah aspek kekudusan yang utama. Dan ketika kita makin hidup di dalam terang dan kekudusan maka kita makin dipulihkan dan diberkati.  Proses pengudusan dari gelap ke terang berlangsung secara progresif. Ini adalah pengudusan progresif.

Apa relasi antara monisme, distingsi kekudusan, terang dengan berkat dan kesembuhan ?

Saya ambil ilustrasi dari kehidupan saya. Saya bersyukur bahwa hanya karena anugerah Tuhan maka saya boleh makin dipulihkan dalam hidup ini di dalam beberapa bidang aspek kehidupan. Dulu saya adalah seorang yang sangat jorok. Sangat kotor. Sangat tidak memperdulikan penampilan. Tidak mempedulikan higienis. Tidak mempedulikan juga pemilihan makanan. Banyak gorengan saya makan sehingga sering sakit tenggorokan. Semuanya tidak dipedulikan dan diacuhkan. Bagi saya semua sama. Tapi ketika saya mengenal istri saya yang adalah dokter yang mempunyai standard higienis dan juga kebersihan yang tinggi maka saya terdorong untuk berubah sedikit demi sedikit. Saya menjadikan istri saya sebagai partner untuk bertumbuh di dalam keterbatasan kami sebagai manusia. Dan bersyukur sekali bahwa perlahan-lahan saya belajar membedakan makanan yang baik dan makanan yang tidak membawa kesehatan. Berangsur-angsur kesehatan saya makin baik.

Saya teringat pada ayat di dalam kitab Keluaran dimana Tuhan mengatakan kalau bangsa Israel menaati perintahNya maka Tuhan Jehovah Rafa akan menyembuhkan mereka dari segala penyakit. Dan ternyata di dalam perjanjian lama begitu banyak distingsi dan pemisahan. Itu adalah kekudusan. Kekudusan adalah pemisahan. Mereka dibedakan dari bangsa lain. Bangsa Israel tidak boleh berhubungan seksual dengan sanak saudara, sesama jenis dan binatang. Karena selain salah besar secara moral maka secara biologis pun kita tahu di dalam kedokteran sekarang  itu mendatangkan banyak masalah kesehatan. Bangsa Israel pun ketika membuang kotoran harus diluar kemah pertemuan sehingga mereka sehat-sehat. Kekudusan membawa kepada berkat.

Robert Smith, M.D, seorang dokter dari Konseling Biblikla mengatakan satu prinsip bahwa semakin seseorang taat Firman dan mengasihi Tuhan akan membuat konsekuensi logis semakin sehat. Tetapi ini bukan berarti orang yang sakit selalu karena tidak taat dan dosa. Kita harus juga memilah hal ini. Ayub sakit bukan karena dosa tetapi karena ujian dari Tuhan Allah. Orang yang buta sejak lahir juga bukan buta karena dosa tetapi supaya kemuliaan Allah dinyatakan.

Intisari dari perenungan singkat ini adalah bahwa ketika kita makin berjalan ke dalam terang maka kita makin hidup di dalam kekudusan dan berkat. Yang membuat kita bisa mendistingsi, membedakan dan makin hidup dalam kekudusan adalah Firman Tuhan. Karena itu marilah kita terus merenungkan Firman Tuhan dan hidup di dalamnya.

Taurat Tuhan sempurna, menyegarkan jiwa ( Mazmur 19 )

Jeffrey Lim

www.iccccty.com

4-2-2012

Read More ....

I have a voice to speak : Christ is the solution for troubled soul

Saya bukan orang yang sempurna. Di dalam banyak hal saya banyak kekurangan. Di dalam banyak segi kehidupan saya tidak sempurna. Untuk menyimpulkan semua ini cukup dengan satu kata. Saya seorang yang berdosa. Saya tidak menaati hukum Taurat dan tuntutan kehidupan. Saya bersalah. Dan saya tidak membela diri saya. Tetapi bersyukur bahwa saya punya suara dan diberikan suara untuk bicara. Otoritas suara ini bukan dari saya. Otoritas bersuara ini adalah saya sebagai manusia yang adalah gambar dan rupa Allah yang mempunyai dignitas. Dan saya hendak menyuarakan suara hati dan iman saya.

Saya sadar bahwa saya bukan orang akademis. Saya tidak mempelajari dunia psikologi dari keluasan sampai kedalamannya. Banyak hal saya tidak mengerti. Saya bukan juga pelajar yang komprehensif. Tetapi saya diberikan anugerah besar mengenal Firman Tuhan melalui mata iman. Iman saya ini mengenai apa yang disaksikan Wahyu Allah di dalam Alkitab. Saya punya iman bahwa solusi terhadap dosa di dalam jiwa manusia adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan ini adalah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Firman Tuhan ini bersaksi mengenai satu pribadi yaitu Yesus Kristus yang adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Kristus Yesus, Anak Allah adalah Allah sejati dan manusia sejati. Bagaimana menjelaskan hal ini saya tidak mengerti. Saya tahu ini misteri dan satu keindahan yang membuat saya makin kagum dan terus terdorong untuk menyembah Allah Tritunggal.  Kristus Yesus ini adalah satu-satunya jawaban terhadap problema jiwa manusia. Saya hendak bersaksi bahwa ini adalah sungguh-sungguh jawaban. Mengapa ? Saya sendiri sudah menyalami hal itu. Tetapi apakah ini valid ?  Satu data minor diri saya tidak cukup untuk dijadikan data empiris. Secara standar riset dunia : Mana mungkin satu data empiris bisa menjadi prinsip universal ? Tetapi kita punya metode yang berbeda dengan orang dunia. Metode orang dunia di dalam mengenal apa kitu kebenaran selalu berubah. Baik rasionalisme ataupun empirisime bukanlah metode mengenal kebenaran yang saya pegang.  Sesungguhnya saya percaya bahwa wahyu Allah yang menjadi standar mutlak. Saya hendak menyuarakan hal itu. Mungkin hal itu kedengarannya satu hal yang bias agama Kristen. Tetapi saya percaya bahwa perspektif Alkitab ini adalah satu-satunya cara kita memandang yang benar. Dan saya hendak menyuarakan suara hati saya sesuai dengan ini. Ada baiknya anda menyimak penguraian saya.

Psikologi sekular mempunyai otoritasnya di dalam menyelidiki manusia dan masalahnya. Dunia psikiatri mempunyai laboratorium dan belajar secara empiris. Mereka dapat menyimpulkan problema masalah jiwa manusia di dalam DSM ( Diagnostic Statistic of Mental Health ). Versi yang sekarang adalah versi yang ke IV. Versi ini mungkin nanti bisa meningkat di dalam tahun-tahun dimana manusia terus bergumul di dalam mengenal masalah kejiwaan. Semua ini adalah hasil budaya manusia di dalam mengenal manusia. Tentunya semua ini bukan hal yang sepenuhnya salah dan kita buang. Manusia yang adalah gambar dan rupa Allah dapat berespon terhadap wahyu umum Allah. Manusia yang walaupun sudah jatuh dalam dosa tidak mungkin konsisten di dalam dosa sehingga seluruh pemikirannya salah. Manusia tetap hidup di dunia Allah. Manusia tetap berelasi dengan wahyu umum Allah setiap hari. Hanya manusia yang di neraka yang bisa konsisten di dalam dosa. Karena itu saya tidak menolak pembelajaran ilmu pengetahuan dan juga dunia psikologis.

Dunia psikologi klinis mempunyai berbagai pandangan mengenai manusia dan masalahnya. Pandangan itu bisa dilihat dari perspektif biologis. Hal itu memang kita dapat terima sebab manusia mempunyai tubuh. Manusia mempunyai unsur biologis. Di dalam tubuh manusia ada unsur kimiawi dan juga tubuh manusia mempunyai organ-organnya. Dalam hal biologis maka struktur tubuh manusia ada miripnya dengan binatang. Tetapi apakah kita sederajat dengan binatang ? Tetapi penjelasan manusia secara biologis tentunya tidak cukup. Sebab manusia lebih daripada biologis. Kita bukan cuma mempunyai tubuh tapi juga mempunyai jiwa. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Penyelesaian masalah manusia dengan hanya cara pandang medis tidak memuaskan. Manusia lebih daripada sedekar kimia dan biologi. Mungkin mudah untuk menyalahkan otak untuk tingkah laku yang salah. Tetapi masalah manusia tidak bisa direduksi hanya ke aspek biologis. Sisi biologis manusia memang ada namun ada perspektif lain yang perlu kita lihat.

Pandangan lain dari psikologi melihat manusia dari segi psikodinamika. Hal ini juga tidak sepenuhnya salah. Manusia mempunyai dorongan dan hasrat di dalam jiwanya.  Manusia ada dorongan naluri yang hendak disalurkan namun ada kontrol sosial dan hati nurani. Dorongan di dalam naluri jiwa manusia ini bila ditekan akan menghasilkan masalah. Represi hanya akan menghasilkan neurosis ataupun juga bisa menghasilkan bom atom di satu saat. Namun alternatif dari menekan dorongan itu adalah menyalurkan. Dan bila dorongan disalurkan ke hal yang negatifpun akan mengalami masalah juga. Dan psikodinamika tidak bisa menjawab apa standar yang benar di dalam menyalurkan dorongan hasrat.  Pertanyaan Mengapa hati nurani manusia menegur dia juga sulit dijawab. Pertanyaan mengapa manusia menjadi musuh dengan dirinya sendiri adalah susah untuk dimengerti.

Psikologi sekular juga dapat melihat manusia dari sisi cognitive ataupun emotive. Tentu kitapun tidak menolak hal ini. Manusia memang mempunyai sisi kognitif. Manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah adalah satu pribadi yang berbeda dengan mahluk ciptaan lainnya. Manusia dibekali akal budi untuk berpikir. Manusia dapat menganalisa alam semesta. Manusia adalah mahluk yang rasional. Dan ternyata pembelajaran dari unsur kognitif manusia membukakan satu dimensi dimana unsur rasional manusia menentukan unsur emosi dan tingkah lakunya. Para ahli belajar mengembangkan satu metoda untuk menyelesaikan permasalahan jiwa manusia dengan merubah pola berpikirnya. Dengan demikian maka diharapkan akan mengubah emosi dan tingkah lakunya. Tetapi para ahli tentunya tidak sepakat mengenai pola berpikir apa yang baik, pandangan dunia apa yang menyehatkan, dan juga mengapa saya harus memilih berpikir seperti ini dan bukan itu. Pandangan mengenai apa yang baik, yang benar itu relatif dan juga setiap orang mempunyai definisinya masing-masing. Maka menyelesaikan masalah manusia dengan otonomi rasio manusia tidak menemui jalan keluarnya.

Psikologi behaviourism dapat melihat manusia dari sisi tingkah laku. Manusia dalam tingkat tertentu mempunyai tingkah laku yang seperti mekanis. Tingkah laku ini adalah respon manusia terhadap lingkungan. Dan ini respon ini akan membentuk pola dan akan menjadi kebiasaan dan karakter. Hal ini juga bukan tidak ada benarnya walaupun apa yang mendorong manusia berespon terhadap lingkungan yang adalah hati tidak bisa dimengerti oleh manusia itu sendiri. Mengapa manusia yang diajari baik bisa belajar sendiri hal yang jahat ?

Psikologi humanis pun bisa melihat manusia dari unsur nilai dan makna. Pandangan ini ingin melihat manusia seutuhnya sebagai manusia. Manusia adalah mahluk yang bukan saya perlu makanan dan minuman. Manusia membutuhkan satu nilai. Manusia butuh aktualisasi diri dan berada. Hal ini juga bukan tidak ada benarnya. Manusia  memang mahluk yang membutuhkan satu arti hidup. Manusia tidak puas hanya dengan makan dan minum dan Yesus Kristus mengatakan bahwa manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.

Ketika saya coba merenungkan aspek-aspek pembelajaran mengenai manusia maka kita tidak menolak semua hal itu. Masih ada hal yang benar yang bisa dipelajari. Semua itu fakta yang perlu dilihat dari satu presuposisi yang benar. Tetapi saya harus mengatakan sesuatu bahwa semua fakta itu tidak cukup untuk mengenal masalah manusia esensial mendasar dan menyembuhkannya. Semua pandangan mengenai psikologi sekular sangat terbatas dan kurang. Kita membutuhkan yang lebih dari itu. Kita membutuhkan satu pandangan yang melihat manusia dari kacamata Penciptanya. Kita harus melihat manusia dari kacamata Firman Tuhan.

Ketika saya hendak masuk ke titik ini mungkin ada orang yang menolak. Ini tidak adil. Anda merubah permainan. Karena hal ini adalah pembelajaran agama dan bukan ilmu pengetahuan. Ini adalah pembelajaran agama kristen dan bukan pembelajaran manusia secara ilmu pengetahuan. Maka saya tidak membantah tuduhan anda. Ini memang dari perspektif Kekristenan dan Alkitab. Dan malahan lebih dari itu saya mengatakan bahwa ini adalah satu perspektif yang benar. Saya tidak akan membuat argumen-argumen filosofis yang panjang baik secara rasionalis ataupun empiris. Ataupun bahkan pengalaman hidup saya yang pernah di diagnosis schizo affective disorder dan bipolar diorder dan kemudian dalam anugerah Tuhan menjadi  baikan maka hal inipun  tidak saya jadikan satu fakta empiris minor yang menjadi dasar universal. Yang hendak saya suarakan adalah pemahaman iman yang saya dapatkan dari Firman Tuhan. Sebelum anda tidak setuju maka ada baiknya anda menyimak pemaparan saya. Siapa tahu walaupun anda tidak setuju paling sedikit anda belajar sesuatu.

Mengapa adalah satu fakta manusia mempunyai masalah di dalam jiwanya ? Mengapa manusia mengalami depresi ? Mengapa manusia takut ? Mengapa manusia lari dari realitas ? Mengapa manusia mempunyai mekanisme pertahanan ?

Dari pemahaman Firman Tuhan di dalam Roma 1 maka dikatakan :
“Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” ( Roma 1:18 )

Inti masalah manusia yang esensial mendasar menurut FirmanTuhan adalah dosa. Dosa itu adalah manusia tidak taat dan melawan Tuhan. Dosa adalah manusia tidak hidup sesuai dengan keinginan Tuhan Allah. Manusia ingin bebas dan hidup otonomi sesuai dengan keinginannya. Manusia ingin menjadi seperti Allah. Manusia ingin menentukan masa depannya. Ini adalah dosa.

Alkitab menyatakan bahwa ketika manusia pertama Adam jatuh dalam dosa maka dia takut dan malu. Lalu Adam bersembunyi dan mengenakan daun-daun untuk menutupi kemaluannya. Ini adalah akibat manusia dalam dosa.
    Mengapa manusia takut ? Mengapa manusia malu ? Karena manusia jatuh dalam dosa !
    Mengapa manusia lari dari realita ? Mengapa manusia mempunyai mekanisme pertahanan ? Karena manusia sudah jatuh dalam dosa !
    Mengapa manusia mencoba menutupi kesalahannya dengan melakukan kebaikan tertentu ? Mengapa manusia beramal ? Mengapa manusia melakukan kegiatan agamawi ? Karena manusia sudah berdosa dan berusaha mencari jalan keluarnya sendiri.
    Mengapa manusia merasa bersalah ? Mengapa hati nurani manusia menuduh dia ? Karena manusia sudah berdosa dan hati nurani yang adalah wakil Allah menegur dia !
    Mengapa manusia saling menyalahkan satu sama lain ? Mengapa ada konflik di dalam kehidupan manusia ? Mengapa ada perang ? Mengapa filsuf eksistensial dengan jujur mengatakan bahwa keberadaan orang lain dan tuntutan dari lingkungan adalah satu hal yang neraka ? Karena manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah !

Ini adalah satu pernyataan dari Firman Tuhan. Bahwa manusia berdosa. Semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah ( Rom 3:23 ). Mungkin anda merasa bahwa pemaparan ini terlalu keras dan kejam. Pandangan ini mungkin terasa menusuk di dalam batin anda. Tetapi justru realitas ini adalah realitas yang harus kita terima. Pahit tapi nyata.

Tetapi puji syukur kepada Tuhan  ! Bahwa kalau masalahnya manusia adalah dosa maka sesungguhnya puji Tuhan  ada jalan keluarnya. Mengapa ? Karena Alkitab justru ingin memaparkan jalan keluar bagi masalah umat manusia. Alkitab Firman Tuhan adalah buku yang dari Allah hendak menyatakan anugerah Allah. Ada berita sukacita dari Alkitab.  Berita sukacita itu adalah Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini untuk menjadi Juruselamat umat manusia. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berinkarnasi menjadi manusia dan taat kehendak Bapa untuk mati di kayu salib. Dia tidak berdosa. Dia adalah Allah yang sempurna. Dia juga adalah manusia sempurna yang menjalankan semua tuntutan Taurat Allah dengan sempurna. Dia adalah jalan keluar untuk permasalahan dosa manusia.
    Bagaimana cara Dia menyelesaikan dosa manusia ?
    Dia datang untuk melaksanakan tuntutan Taurat yang sempurna bagi kita
    Dia mati untuk menggantikan hukuman dosa yang seharusnya kita terima
    Dia memberikan kebenaranNya kepada kita
    Dia adalah penebusan kita
    Dia adalah kebenaran kita
    Dan Dia bangkit dari kematian supaya kita dapat bangkit dari hidup lama kita.

Kristus adalah kebenaran kita dan juga pengudusan kita. Dia merubah natur orang yang percaya kepadaNya untuk menjadi manusia baru. Barangsiapa yang di dalam Kristus Yesus adalah manusia baru. Dia datang untuk kita yang miskin, yang cacat, yang hina, yang papa, dan yang buta rohani. Dan dialah jalan keluar untuk dosa kita.

Sekarang, saya ingin menantang anda ! Bila anda mempunyai masalah di dalam jiwa anda. Anda mungkin dapat datang ke psikolog atau psikiater. Tetapi saya harus katakan. Anda pasti tidak akan puas ! Karena saya percaya bahwa kepuasan itu hanya di dapatkan bila anda berdamai dengan Tuhan Allah. Manusia mempunyai satu kutub magnet yang bila tidak menuju arah berdamai dengan Tuhan Allah maka akan selalu dalam keadaan gelisah. Saya sendiri sudah mengalami hal itu. Saya pernah didiagnosa Schizo Affective Disorder dan Bipolar Depression. Jiwa saya banyak mengalami masalah dan juga pikiran dan emosi ini kacau balau. Hidup ada di dalam bayang-bayang maut. Ketakutan, teror dan kegelisahan menguasai hidup saya. Dan karena Firman Tuhan maka saya menemukan jalan keluarnya.  Dan saya percaya bahwa orang yang mengalami masalah kejiwaanpun dapat mengalami apa yang saya alami bila mengenal Tuhan Yesus Kristus melalui FirmanNya.

Proses yang saya alami untuk bertumbuh bukan instan dan seketika. Proses ini adalah berangsur-angsur dan panjang. Proses itu ada di dalam gereja Tuhan. Proses itu ada melalui kasih saudara-saudari seiman. Melalui doa dari saudara-saudari seiman saya di dalam Kristus. Mungkin ada sebagian yang menyerah melihat saya sulit bertumbuh. Mungkin ada yang kecewa. Tetapi Tuhan Allah tidak pernah menyerah di dalam anugerahNya dan Tuhan Allah tidak pernah menyesal akan pilihanNya. Karena itu Tuhan Allah tetap menggerakkan gerejaNya untuk terus melayani saya dalam kebenaran dan kasih. Satu hal saya bersyukur kepada Tuhan yang mengasihi saya dan juga saya berterima kasih untuk orang-orang yang mendoakan dan mendukung saya. Untuk mamah saya, untuk ibu rohani saya Ibu Pdt. Hanna Tjahja, untuk istri saya Laura Lie, untuk cici rohani Ev. Yun Siang, untuk Pdt. Nico Ong dan Ibu Susana Cahyadi di Taiwan China, untuk Pdt. Dr. Stephen Tong, untuk Pdt. Ivan Kristiono sebagai pembimbing tesis saya dan juga untuk teman-teman saya yang mendukung saya yang tidak saya sebutkan satu persatu. Dalam anugerah Tuhan saya boleh terus semakin baikan dan maju.

Saya percaya bahwa jalan keluar dari masalah kejiwaan hanya di dalam pertobatan menerima Yesus Kristus dan hidup di dalam FirmanNya.  Bila kita memandang kemuliaan dan keindahan dari Kristus Yesus saya punya iman bahwa manusia berdosa dapat sembuh dari sakit jiwanya. Dan walaupun kita tidak diijinkan pulih sepenuhnya dalam jiwa kita maka marilah kita terus menerus melihat kemuliaan dan keindahan dari Tuhan Yesus Kristus. Karena dengan melihat kemuliaan Tuhan Yesus maka jiwa kita mendapatkan sukacita dan kedamaian dari persekutuan dengan Tuhan. Bila anda menyelidiki alam semesta ini dan menyelidiki manusia maka bila presuposisi anda benar anda akan menemukan kemuliaan Allah. Tetapi bila anda mengenal Yesus Kristus secara pribadi maka anda mengenal kepenuhan kemuliaan Allah yang memuaskan jiwa anda. Yesus Kristus mengetuk dipintu hati anda yang sadar akan dosa dan menanti anda membuka hati untuk Dia. Maukah anda ?

Ini adalah suara yang hendak saya paparkan dan yang kiranya boleh menjadi satu masukan bagi saudara-saudara.
Semoga suara hati saya boleh menjadi berkat bagi saudara-saudari sekalian

Jeffrey Lim
www.iccccty.com
27-1-2012   

Read More ....

Fighting Spirit

Sewaktu saya hendak menulis mengenai fighting spirit sejenak ada pergumulan batin dimana ada satu suara hati yang mau melemahkan. Hai, Siapa kamu yang boleh menulis perenungan mengenai fighting spirit ? Apakah kamu sudah menang di dalam hidup kamu ? Apakah kamu kompeten untuk menulis ini ? Apakah kamu layak memberitakan hal ini ? Apakah kamu punya kualifikasi menceritakan mengenai fighting spirit ? Tetapi bersyukur ada suara hati lain lagi yang dengan stabil mengatakan kita harus fight dalam hidup kita. Untuk Tuhan. Untuk Kerajaan Allah. Untuk hal-hal yang memuliakan Tuhan. Untuk hal-hal yang benar. Untuk hal-hal yang kudus. Untuk hal-hal yang mulia. Karena itu saya memberanikan diri untuk fight dan membuat perenungan mengenai fighting spirit. Ini juga satu bentuk latihan fighting spirit melawan diri sendiri. Musuh terbesar kita adalah diri sendiri.

Di dalam menghidupi hidup kita sebagai manusia, Tuhan Allah memberikan energi dan dorongan kuat di dalam batin kita. Dorongan itu di dalam hati, motivasi maupun emosi adalah energi hidup. Energi ini harus diarahkan kepada hal yang baik. Bila dorongan itu ditekan maka akan membuat kita sakit dan tertekan. Bila dorongan itu disalurkan ke hal yang negatif maka akan merusak kita. Energi dorongan itu harus disalurkan kepada banyak hal yang positif seperti : beribadah, membaca buku, berolah raga, berkawan, humor, menulis, dan banyak hal baik lainnya. Bila kita ingin memilah sebenarnya di dalam dunia ini ada 2 kekuatan yaitu kekuatan kasih dan kekuatan benci. Kekuatan kasih itu ingin menjadi berkat dan memberikan kesegaran kepada sekitarnya. Sedangkan kekuatan benci itu membenci lingkungan dan merusak. Bila di dalam diri kita ada kekuatan kasih yang disalurkan dengan baik maka hidup kita akan berkelimpahan. Sewaktu kita ingin menyalurkan kekuatan kasih ini maka kita akan menemui hambatan yaitu kekuatan benci. Dan kita harus mengalahkannya. Sebab kasih lebih besar daripada benci. Dan kita harus mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Mengalahkan kutuk dengan berkat.

Kalau di dunia ini ada dua kekuatan yaitu kekuatan kasih dan benci dimana kekuatan kasih lebih besar maka ada juga dua perkataan yaitu perkataan yang baik dan perkataan yang jahat. Perkataan yang membangun dan perkataan yang menjatuhkan. Perkataan yang membawa kepada kehidupan dan perkataan yang membawa kepada hawa kematian. Bagi saya perkataan Firman Tuhan adalah kekuatan kita untuk fighting spirit. Mazmur 1 menceritakan bahwa orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam akan bertumbuh dan berbuah. Apapun yang mereka kerjakan akan berhasil.

Perkataan si jahat bersifat menggoda, menipu, bohong, manipulasi dan intimidasi. Tetapi perkataan Firman Tuhan bersifat membersihkan, membebaskan, memberikan semangat, menyembuhkan, menyucikan, dsb.  Seberapa banyak kita mendengar dan mengimani perkataan Firman Tuhan maka semakin kuat kita di dalam kerohanian kita.

Panggilan untuk fighting di dalam pengudusan adalah panggilan yang mulia.  Setiap orang yang ingin bertumbuh di dalam Tuhan harus punya fighting spirit.  Tuhan Allah menguji kita seperti rajawali melatih anak rajawali untuk terbang. Latihan yang keras ! Anak rajawali harus diterjunkan dari tempat tinggi ketika belum bisa terbang. Dan dengan kekuatan sayap yang kecil anak rajawali berusaha untuk terbang tapi makin jatuh. Dan induk rajawali akan menolong pada waktunya. Ini salah satu ilustrasi untuk fighting spirit. Tuhan Allah melatih kita untuk maju di dalam peperangan rohani. Untuk kita semakin kuat di dalam kerohanian dan semakin kudus.

Di dalam kita berjuang bertumbuh untuk semakin kuat maka kita harus menyadari identitas kita. Ada cerita lain dimana ada satu induk ayam yang mengerami telur-telur dan salah satu telurnya adalah telur rajawali. Ketika semua menetas maka ada 1 anak rajawali. Dan ketika satu hari mereka melihat rajawali yang terbang tinggi dengan suaranya yang lantang. Maka si anak rajawali itu berkata aku ingin seperti rajawali itu. Namun semua anak-anak ayam mentertawakan mereka semua. Hahahaha… jangan mimpi. Kita ayam dan bukan rajawali. Akankah anak rajawali ini bisa terbang kalau dia tidak sadar dirinya ? Ilustrasi sederhana yang terbatas ini melambangkan bahwa kita harus menyadari identitas kita untuk maju dan berjuang.

Bagaimana supaya kita bisa mempunyai fighting spirit untuk mengejar kebenaran dan kasih ?

Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Diluar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun di dalam Kristus dan dengan pertolongan Roh Kudus maka kita dapat terus maju dan bertumbuh ke arah kehidupan. Alkitab mengatakan bahwa  buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. ( Gal 5 ). Kita harus mengejar hal ini. Dan kitapun harus menjauhi segala keinginan daging.

Puji syukur kepada Tuhan bahwa Tuhan Yesus sudah maju terlebih dahulu di depan kita untuk menang supaya kita yang berada di dalamNya dapat menang. Kristus Yesus adalah Christ the Victor. Kristus sang pemenang. Kita yang berada di dalam Dia dengan iman kita akan mengalahkan dunia. Kemenangan ini adalah pasti karena ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib maka Dia mengalahkan kuasa kegelapan. KebangkitanNya memberikan kekuatan kita untuk bangkit dari kehidupan lama kepada kehidupan baru. Pekerjaan Kristus di kayu salib yang sempurna adalah kekuatan untuk kita menang. Siapa yang percaya kepada karya Kristus di kayu salib dan maju memikul salib diberikan kuasa untuk menang di dalam pertempuran rohani.

Marilah kita menghadap tahta anugerahNya dan dengan iman memandang salib Kristus.

Saya menutup perenungan mengenai fighting spirit dengan Doa dari St. Francis Asisi



Tuhan …
jadikan saya instrumen pendamaian-Mu.

Di mana ada kebencian,
mampukan saya untuk menanam cinta.

Di mana ada sakit hati,
mampukan saya untuk mengampuni.

Di mana ada keraguan,
mampukan saya untuk menumbuhkan iman.

Di mana ada ketidakberdayaan,
mampukan saya untuk menumbuhkan harapan.

Di mana ada kegelapan,
mampukan saya untuk menjadi terang.

Dan di mana ada kesedihan,
mampukan saya untuk menjadi sumber sukacita.

Oo Tuhan Pencipta

Beri saya kemampuan untuk tidak mencari terlalu banyak penghiburan,
tetapi memberikan penghiburan.

Untuk memahami,
sama seperti saya ingin dipahami.

Bahwa dengan memberi
kami menerima.

Bahwa dengan mengampuni
kami diampuni.

Dan bahwa dengan mati
kami dilahirkan dalam kehidupan kekal.


Jeffrey Lim
www.iccccty.com
26-1-2012

Read More ....

Perspektif Baru melihat diri, sesama dan realitas

Pengenalan akan diri dan realitas adalah satu hal yang sangat penting. Bagaimana kita melihat diri kita, sesama kita dan bagaimana kita melihat realitas akan membawa kepada berkat atau kepada kutuk, membawa kepada kehidupan atau kepada hawa kematian. Bagaimana kita mengenal diri ? Apakah mungkin kita mengenal diri kita dengan benar ? Apakah kita mengenal sesama dengan benar ? Apakah kita melihat realitas dengen tepat ?

Adalah satu realitas bahwa seringkali ketika kita ingin mengenal diri maka kita menemukan kejahatan di dalam diri kita.  Hati nurani kita menegur dan menghakimi kita. Dan adalah satu kenyataan bahwa di dalam hidup ini kita berhadapan dengan realitas yang tidak bersahabat dengan kita.  Segala sesuatu menjadi menakutkan. Bagaikan teror.  Ini fakta sesudah manusia jatuh dalam dosa. Ketika kita di dalam dosa maka pikiran kita menjadi gelap dan buta. Ini keadaan yang sangat mengerikan. Dan ketika kita berhadapan dengan kebenaran Tuhan Allah maka kita lari dan ingin menyembunyikan diri. Kita menekan kebenaran dengan kebohongan. Mengapa ? Karena di dalam setiap titik realitas kita melihat Allah yang murka. Sungguh sangat mengerikan dan mengenaskan keberadaan manusia yang jatuh dalam dosa. Dan akibat logis dari hal ini di dalam memandang sesama adalah seperti yang pernah dipikirkan oleh Jean Paul Satre bahwa keberadaan orang lain di sekitar kita adalah neraka. Mengapa ? Karena orang lain di sekitar kita membawa kepada tuntutan dan tuntutan. Kita tidak bisa lari dari tuntutan dan standar moral kehidupan. Karena itu keberadaan sesama menjadi bahaya bagi kita.

Tetapi puji Tuhan ! Karena Yesus Kristus maka ada jalan keluar. Tuhan Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini untuk mati di kayu salib untuk menanggung dosa manusia. Tuhan Yesus sebagai Adam Kedua mewakili orang yang percaya sehingga orang percaya boleh dibenarkan di hadapan Allah. KematianNya menggantikan dosa kita dan kebangkitanNya memberikan kita hidup baru. Dia memuaskan murka Allah dan keadilan Allah di kayu salib.

Apa akibat dari kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita yang percaya ?

Kita berdamai dengan Allah, dengan sesama dan dengan diri kita. Kita melihat hidup ini dari perspektif yang baru. Kita bisa melihat sesama kita dari perspektif kasih dan pengampunan. Dan kita dapat melihat diri kita sebagai seseorang yang dikasihi. Apapun yang terjadi di dalam diri kita baik itu penganiayaan, baik itu penderitaan, baik itu mara bahaya dapat kita lihat dari perspektif kasih. Luar biasa bukan ? Roma 8:28 mengatakan bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan. Jadi kita tidak perlu takut apapun lagi ? Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Baik kuasa apapun itu. Dan semua hal penderitaan dapat kita lihat dari perspektif Allah yang mengasihi sedang memurnikan kita.  Karena itu kita akan mengalami sukacita dan damai sejahtera. Damai sejahtera yang melampaui akal dan pikiran.  Bagaimana indahnya ketika kita memandang diri kita dan sesama kita sebagai objek kasih Allah ? Ini adalah perspektif baru yang membawa kepada hidup yang kekal.

Marilah kita melihat hidup kita dari perspektif yang baru yang memberkati

Jeffrey Lim
www.iccccty.com
23-1-2012

Read More ....

Kasih Ruang

Manusia adalah manusia yang unik. Karena manusia adalah mahluk yang mengerti kesadaran ruang dan waktu baik secara fisik maupun secara rohani. Manusia juga adalah manusia yang diberi kebebasan oleh Tuhan Allah. Kebebasan yang sangat luas yaitu untuk menaklukan alam semesta ini dan untuk membawa semua ini untuk kemuliaan nama Tuhan. Tuhan Allah mempunyai hati yang luas dan ketika di Taman Eden, Tuhan Allah memberikan kebebasan manusia untuk makan semua buah dari pohon. Namun di dalam kebebasannya maka manusia diberi hanya satu limitasi. Hanya satu limitasi yang tidak pernah dijinkan yaitu menjadi Tuhan Allah bagi dirinya sendiri. Ini adalah ujian manusia di dalam pohon pengetahuan baik dan jahat. Dan limitasi ini adalah kasih Allah.

Ketika kita merenungkan mengenai kebebasan maka kita juga merenungkan hal yang sebaliknya yaitu perbudakan. Alkitab mengajarkan bahwa dimana ada Roh Allah disana ada kebebasan. Dan juga kuasa setan, kuasa dosa sering diumpamakan sebagai kuasa yang memperbudak. Bagaimana kita mengetahui bahwa kita dipimpin oleh Roh Tuhan atau dikuasai oleh roh jahat. Yaitu adakah kebebasan untuk melakukan kebenaran  ? ataukah adakah kebebasan liar yang menandakan diri terikat di dalam dosa ?

Dari Alkitab kita tahu bahwa Allah menghendaki manusia bebas di dalam kebenaran dan kasih. Ini adalah kebebasan sejati. Yaitu kebebasan dipimpin oleh Roh Allah untuk melakukan FirmanNya. Ini bertentangan dengan kebebasan berbuat dosa yang membawa manusia terikat di dalam dosa dan maut.

Mengenai kebebasan, manusia diberikan Tuhan fungsi sebagai raja. Dan sebagai raja ini manusia diberikan ruang kebebasan untuk mengatur bawahan di dalam kasih dan kebenaran. Dalam budaya Israel seorang raja adalah juga seorang gembala. Raja Gembala ini menandakan bahwa sebagai seorang raja maka seharusnya seseorang itu menggembalakan orang yang berada di bawah kekuasaannya. Tuhan sendiri sebagai Raja Gembala menggembalakan umatNya Israel. Kalau kita meneliti karakteristik dari Mazmur 23 maka kita akan mengetahui bahwa Allah sebagai Raja adalah Gembala yang baik.

Karena itu marilah kita menggunakan kebebasan kita untuk melakukan perbuatan baik karena anugerahNya !

Sebelum saya tutup renungan sangat singkat ini. Saya ingin kita merenungkan untuk tahun Yobel. Pada tahun Yobel maka semua budak dibebaskan. Dan kemudian ada budak menggunakan kebebasannya dan ada budak yang ingin kembali untuk terikat dengan tuannya seumur hidup. Ini melambangkan bahwa Tuhan memberikan kita kebebasan dan karena kita tahu Tuhan kita itu Tuhan yang sangat baik maka kita ingin terikat dengan Dia. Terikat dengan Dia adalah bebas di dalam kebenaran dan kasih.

Jeffrey Lim ( www.iccccty.com )
12-1-2012

Read More ....

Injil : Dia melakukannya bagi kita supaya kita dapat melakukannya

Semua manusia di dunia ini punya standard kesempurnaan. Baik dalam bidang ekonomi, bidang etika, baik bidang keindahan ataupun bidang moral, baik bidang agama maupun bidang kedokteran, semua manusia punya standard apa itu sempurna. Dan itu adalah wajar karena memang manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Allah adalah sempurna sehingga manusia di dalam dunia ini ada standard kesempurnaan.

Ketika manusia sadar dirinya tidak mampu melakukan standard kesempurnaan maka manusia merasa dirinya kurang dan bersalah. Dan seringkali manusia berpura-pura melakukan kesempurnaan di satu bidang untuk menutupi ketidaksempurnaan di bidang lain.

Kitab Pengkotbah mengatakan bahwa membuat banyak buku melelahkan badan. Untuk banyak membuat buku maka orang harus belajar dan juga banyak membaca buku. Dan ini adalah sesuatu kegiatan yang melelahkan badan. Mengapa ? Karena ketika kita belajar sesuatu ilmu ( logy ) maka kita sadar bahwa kita jauh dari standard kesempurnaan.

Bersyukur kepada Tuhan yaitu Kristus Yesus datang ke dalam dunia ini dan Dia adalah manusia yang sempurna. Dia juga adalah Allah pribadi kedua yang berinkarnasi menjadi daging. Dalam dirinya tidak ada dosa. Dan ketika Ia menderita sengsara mati di kayu salib maka Dia memberikan kebenaranNya kepada kita supaya kita yang di dalam Dia beroleh kebenaran. Dia yang sempurna menjalankan semua tuntutan Taurat.  Dia melakukanNya bagi kita.

Dan lebih bersyukur untuk kebangkitanNya dari kubur itu memampukan kita untuk kembali melakukan tuntutan Taurat. Namun kali ini nuansanya berbeda. Kita yang berada di dalam Kristus hidup dalam kasih karunia.

Soli Deo Gloria
4-1-2012
Jeffrey Lim
www.iccccty.com

Read More ....

Bahaya dari kata-kata pujian

Kita mengetahui bahwa kata-kata mempunyai konsekuensi. Kata-kata mempunyai kuasa. Amsal mengatakan bahwa hidup mati dikuasai lidah. Kata-kata bila digemakan akan mendatangkan buahnya. Biasanya kita tahu bahwa kata-kata mengolok-ngolok dan menghina adalah mengakibatkan manusia menjadi terikat dalam kata-kata ini. Ambil contoh coba katakan kepada satu anak setiap hari bahwa dia itu orang yang bodoh. Maka ada kemungkinan anak itu menjadi bodoh. Jadi satu masukan bagi kita bahwa jangan berkata-kata yang menghina kepada orang. Karena itu menjadikan manusia subhuman dan akan membuat dia terikat oleh kata-kata ini.

Sebaliknya di dalam bagian perenungan sangat singkat ini maka saya ingin mengungkapkan satu bahaya dari pujian. Pujian tentu menyenangkan hati. Tapi makan madu itu jangan kebanyakan. Sebab pujian yang terlalu banyak membuat kita terlena dan terbuai oleh pujian itu. Dan bila attribut pujian kita sudah makin banyak maka akanlah sangat sukar bagi kita untuk lepas dari attribut itu. Dan akhirnya kita mulai ingin terus menjadi seperti Allah dan sombong.

Karena itu seperti halnya perkataan yang buruk itu tidak baik maka perkataan yang terlalu manispun tidak baik.

Jika ya katakana ya. Jika tidak katakan tidak.
Selebihnya dari si jahat.

Jeffrey Lim
www.iccccty.com

Read More ....

Inti kesembuhan : Bukan hanya menghadapi realitas tapi menghadapinya di dalam kasih dan pengampunan

Judul perenungan ini cukup panjang. Dan di dalam judul ini saya ingin membukakan satu kebenaran Firman Tuhan yang sungguh indah luar biasa. Yaitu bahwa kalau kita mau sembuh secara rohani maka kita harus menghadapi realitas dan menghadapinya di dalam kasih dan pengampunan. Apa maksudnya ?

Sebelum kita berbicara mengenai apa itu realitas maka kita harus terbuka bahwa realitas itu adalah Allah, Firman dan Roh Kudus dengan dunia ciptaanNya. Realitas adalah Allah Tritunggal yang menyatakan diriNya kepada manusia melalui FirmanNya. Di dalam kehidupan ini waktu seseorang mengatakan bahwa seseorang harus menghadapi realitas maka seringkali mereka hanya berbicara soal prinsip impersonal. Kamu harus menghadapi realitas bahwa kamu sakit karena kamu hujan-hujanan. Kamu harus menghadapi realitas bahwa kamu itu dihukum guru karena kamu tidak buat PR. Kamu harus menghadapi realitas bahwa kamu itu dihina orang karena kamu hidup sembarangan. Kamu harus menghadapi realitas bahwa kamu sakit karena itu kamu perlu makan obat. Semua yang manusia pikirkan mengenai realitas adalah prinsip impersonal yang sifatnya good / evil.

Tetapi sebenarnya realitas adalah Allah Tritunggal yang adalah kasih. Realitas juga adalah Allah Tritunggal yang adalah adil. Di dalam hidup ini sebenarnya Alkitab mengatakan bahwa kita semua orang-orang berdosa melarikan diri dari realitas yaitu melarikan diri dari Allah dan penghakimanNya. Kita semua memakai baju-baju buatan kita masing-masing. Kita rajin mencari nafkah supaya kita bisa dapat uang dan mempunyai kuasa. Kita beragama dan mengatakan kita religius supaya kita bisa berkata bahwa kita orang baik. Kita sekolah tinggi-tinggi supaya kita bisa ada penghargaan dari masyarakat. Semua dari kita mengejar nilai dunia. Dan waktu kita melihat orang yang miskin, orang yang bodoh, orang yang hidupnya rusak, kita mengatakan bahwa mereka orang-orang yang hina dan bersalah. Tetapi marilah kita menyadari satu hal bahwa “Semua manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah”.

Baik orang yang religius ataupun rusak kafir. Kita semua berdosa. Dan kita melarikan diri dari realita. Dengan giat beragama atau dengan hidup seenaknya. Kita lari dari Tuhan dan FirmanNya. Baik orang yang kaya atau miskin. Kita semua berdosa. Dan kita melarikan diri dengan sibuk dalam pekerjaan kita dan ataupun sibuk meminta-minta.

Dan ada satu prinsip unik di dalam hidup ini yaitu ukuran dan takaran. Waktu kita melihat orang lain ada yang tidak sesuai dengan standard tertentu dan kemudian kita melihat orang itu lari tidak menghadapi standard itu. Maka kita menuntut orang itu. Hai teman, hadapilah realita ! Anehnya waktu kita menuntut orang lain untuk melakukan standard ideal tertentu maka sebenarnya kita sekaligus dituntut untuk memenuhi standard yang sama. Ini adalah hidup di dalam Taurat. Hidup di dalam Taurat berarti adalah kita hidup supaya ok dan cukup baik serta dipandang manusia kita perlu memenuhi standard tertentu. Waktu kita menuntut orang lain dengan taurat maka kita pun dituntut oleh Taurat. Jadi lain kali waktu kita mengatakan kepada orang lain untuk menghadapi realita maka kitapun harus intropeksi diri kita apakah benar-benar menghadapi realitas yaitu Tuhan dan FirmanNya.

Dan sebenarnya inti dari supaya kita sembuh dari penyakit dosa itu adalah hidup menghadapi Tuhan bukan dengan pemenuhan kinerja di dalam standard apapun. Namun hidup menghadapi Tuhan dengan mengandalkan anugerah Tuhan. Apabila kita hidup mengandalkan anugerah Tuhan maka kita sadar kita tidak ada apa-apa. Kita miskin, papa, hina namun kita dikasihi Tuhan. Karena itu kitapun harus menghadapi orang lain dengan anugerah. Orang yang tidak sampai pada standard yang kita anggap baik harus kita ampuni. Mengapa ? Sebab kita sendiri diampuni. Kalau kita saling mengampuni maka berkat kesembuhan Allah itu nyata di dalam diri kita. Bagaimana bila kita tidak mengampuni ? Maka kita akan munafik dan menganggap orang lain lebih buruk dari kita. Kita sendiri akan tidak diampuni.

Ingat bahwa Tuhan memanggil bukan orang benar tapi orang berdosa. Kristus datang ke dunia ini untuk menderita dan mati di kayu salib. Dia melakukannya karena kasihNya kepada kita. Dan Dia mau kita hidup dalam kasihNya dan saling mengasihi.

    Marilah menghadapi realitas bukan dengan Taurat tapi dengan Injil Kasih KaruniaNya.

Jeffrey Lim
www.iccccty.com
24-12-2011

Read More ....

Tidak ada yang dapat memuaskanmu

Beginilah firman TUHAN: ''Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!   Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.   Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!   Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.   Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?  Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.''

Di dalam dunia yang serba kehausan dan kekeringan rohani ini maka setiap orang secara naturnya akan menuntut dirinya dipuaskan. Mereka semua bahkan menuntut orang lain untuk memuaskan mereka. Misalnya seorang anak menuntut orang tuanya sesuai dengan keinginan mereka, orang tua menuntut anak-anak mereka sesuai dengan kemauan dan cita-cita mereka. Suami menuntut istri taat. Istri menuntut suami mengasihi. Semua saling tuntut. Dan anehnya ketika masing-masing menuntut orang lain dengan standard tertentu. Maka standard itu akan balik menuntut kita. Dengan ukuran kita mengukur orang lain maka ukuran itu akan diukurkan kepada kita. Inilah dunia kita dalam dosa. Ketika kita mengandalkan manusia maka kita akan terkutuk. Mereka akan menjadi tandus.

Tetapi bersyukur ada jalan keluar. Orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Mereka akan seperti pohon yang ditepi aliran air. Mereka akan bertumbuh dan berbuah. Hanya satu yang bisa memuaskan kita yaitu Tuhan saja. Hanya satu yang bisa menyegarkan jiwa kita.
Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. ( Maz 103:5 )

Jeffrey Lim
www.iccccty.com

Read More ....

Bapa yang dari dunia yang berpikir duniawi tidak pernah bisa memuaskan engkau

Kedengarannya judul ini satu judul yang aneh. Bahkan mungkin agak vokal ataupun bernuansa radikal. Tetapi hal yang kedengaran tidak enak ini coba direnungkan maknanya. Sebab seringkali kalimat yang manis bisa menipu dan kadangkala juga kalimat yang keras ada benarnya.

Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati orang tua. Perintah ini dicatat sebagai perintah ke 4 dari sepuluh perintah Allah.  Menghormati orang tua dikaitkan dengan berkat. Apa itu menghormati orang tua ? Yaitu sebenarnya intinya kita mengasihi orang tua kita. Inti dari seluruh pengajaran hukum Tuhan adalah kasih.

Seringkali orang menafsirkan perintah menghormati orang tua itu ada nuansa menyembahnya dan menaati apapun auan mereka. Perkataan orang tua itu sepertinya sakral seperti perkaataan Tuhan dan harus ditaati semuanya. Bila kita tidak menaati orang tua maka kita anak durhaka. Dalam hal ini kita harus sadarbahwa kita sebagai orang tua menaati orang tua bukan karena permintaan orang tua tetapi karena kita mengasihi orang tua kita di dalam Tuhan. Menaati orang tua bukan berarti kita selalu mengikuti keinginan dan dambaan orang tua kita. Perintah orang tua yang harus kita taati ialah perintah orang tua yang sesuai dengan Firman Tuhan. Bila keinginan orang tua kita tidak sesuai dengan Firman Tuhan maka kita harus lebih menaati Firman Tuhan. Perintah Tuhan adalah yang tertinggi dan ultimat.

Di dalam budaya Chinese dan yang juga dipengaruhi oleh Kong Hu Cu maka hormat kepada orang tua itu dijunjung tinggi. Alkitab tidak berlawanan dengan hormat ke orang tua tetapi ada yang lebih dari sekedar itu yaitu menyembah Tuhan lebih dari apapun. Penghormatan kepada orang tua bisa menjadi satu berhala bila kita menganggap orang tua kita lebih besar daripada Tuhan dan rencananya.

Banyak kejadian di dalam dunia ini dimana banyak anak muda merasa tertekan dan stress dan depresi karena orang tua mereka seringkali mempunyai keinginan dambaan dimana mereka ingin anaknya jadi sesuai dengan cita-cita mereka. Dan mungkin orang tua mereka sendiri mengalami hal itu dari orang tua mereka juga. Jadi ini adalah siklus yang terus menerus di sepanjang umat manusia.

Bila keinginan orang tua itu sesuai dengan keinginan Tuhan maka itu satu berkat dan anugerah Tuhan. Namun bila keinginan orang tua itu adalah satu keduniawian maka itu akan menjadi kutuk, jerat dan yang mematikan.

Satu realita yang harus dijelaskan bahwa keinginan orang tua yang adalah cita-cita duniawi ini tidak pernah bisa memuaskan kita. Mungkin ayah kita ingin kita sukses di ekonomi, jadi ahli computer, jadi pengusaha, jadi guru, jadi dokter atau jadi apa saja yang mereka inginkan. Tetapi di balik semua itu mungkin sesungguhnya motivasi dibalik itu jauh lebih penting. Dan kedua panggilan Tuhan lebih penting.

Bagaimana bila orang tua kita yang mempunyai keinginan duniawi tidak bisa pernah pernah memuaskan kita ? Sebab nafsu dunia tidak pernah akan memuaskan. Sebab kita hanya bisa mengalami kepuasan secara rohani bila kita ada di dalam Kristus. Bila kita berada di dalam Kristus maka Bapa surgawi puas terhadap kita. Mengapa ? Sebab kebenaran Kristus diberikan kepada kita dan itu bukan hasil usaha kita. Di dalam Alkitab, Allah Bapa berkata tentang Yesus Kristus : “Inilah AnakKu yang kukasihi. KepadaNya lah Aku berkenan”. Jadi bila kita berada di dalam persekutuan dengan Kristus. Allah Bapa puas terhadap kita. Ini adalah kepuasan yang lebih dari apapun. Ini adalah berkat yaitu persekutuan dengan Bapa dan AnakNya dan RohNya yang Kudus.

Ketidakpuasan karena cita-cita orang tua yang duniawi bisa membawa kita kepada hidup yang sesak dan sebenarnya hidup yang penuh hawa kematian. Tetapi bila kita taat kepada Bapa dan mengasihi FirmanNya maka kita ada di dalam hidup dan hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus

Marilah kita mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Dan marilah kita mengasihi orang tua kita dengan kasih Kristus.
Semoga perenungan ini boleh menjadi berkat bagi kita semua

Jeffrey Lim
23-12-2011
www.iccccty.com

Read More ....
Powered By Blogger

LIMPINGEN BLOG