Thursday, November 08, 2007

Teologi Sabat dan Depresi

Teologi Sabat dan Depresi

“Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatNya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya” ( Kej 2:2-3 )

Di dalam Kej 1:26-31, dibahas bahwa Tuhan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Dan kemudian di dalam ayat 31 dikatakan Allah melihat semuanya itu sungguh amat baik. Semuanya itu sangat baik. Dengan diciptakannya alam semesta dan terakhir manusia, Allah melihat semuanya sangat baik. Maka Allah puas dan Dia menikmati hasil ciptaanNya. Seperti seorang pelukis yang selesai melukis sebuah lukisan yang sangat baik, Dia puas dan memandangi lukisan itu. Seperti seorang pemahat yang selesai memahat sebuah pahatan yang sangat indah, Dia puas memandangi pahatan itu. Inilah yang terjadi pada hari ketujuh ketika Allah berhenti pada pekerjaanNya dan Dia menikmati hasil pekerjaanNya.

Karena Allah berhenti pada hari yang ketujuh maka hari ketujuh dikuduskan sebagai hari Sabat.
Di dalam Keluaran 20:8 dikatakan bahwa “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat : enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; Itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.”
Jadi apa dasar hari Sabat ?
Jadi dasar dari hari Sabat adalah Allah sendiri berhenti dari pekerjaanNya maka kita yang adalah gambar dan rupaNya harus berhenti di dalam pekerjaan kita pada Sabat.. Kita harus mengikuti perintah Tuhan. Kita harus menaati mandat penciptaan ini. Ini adalah perintah Tuhan yang universal. Yang berlaku buat semua manusia di bumi ini.
Mengapa manusia harus istirahat ?
Marilah kita merenungkan pertanyaan ini. Kalau kita selidiki bahwa mesin saja perlu istirahat. Mesin, computer, robot, alat-alat elektronik yang jalan tidak pernah berhenti akan panas dan cepat rusak. Benda-benda yang terbuat dari materi yang kuat saja memerlukan istirahat apalagi manusia yang adalah tulang dan daging yang terbatas dan lemah, tentunya memerlukan istirahat. Dan Tuhan tahu akan hal itu maka Ia menetapkan hari untuk beristirahat. Tuhan menetapkan Sabat.
Ada beberapa alasan mengapa Dia menetapkan hal ini :
a. Pertama sudah dibahas bahwa Tuhan Allah bekerja selama 6 hari dan pada hari yang ketujuh Dia berhenti dan menikmati pekerjaanNya. Maka kita juga harus menyerupaiNya. Alasannya kita bekerja dan menikmati hasil pekerjaan kita.
Bila kita membaca kitab Pengkotbah, didalam konteks hidup yang berdosa dan sia-sia, Pengkotbah mengajarkan satu pengajaran bijaksana : “Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah kalau orang makan dan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah dibawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya” ( Pengkotbah 5:17 ).
Pengajaran disini mengajarkan yaitu kita harus menikmati hidup ini dan hasil jerih payah kita yang dilakukan di bawah matahari. Menikmati hidup itu boleh atau tidak ? Boleh bahkan Alkitab menyuruh kita menikmati hidup. Kekristenan bukan agama yang mengekang orang untuk tidak sukacita dan menikmati hasil pekerjaannya. Tetapi sebaliknya untuk menikmati segala hasil pekerjaannya karena itu adalah anugerah dan karunia dari Tuhan.
Dari kitab Pengkotbah di bagian lain yaitu di dalam Pengkotbah 4:4-8 ada beberapa tipe macam orang di dalam bekerja. Pertama adalah yang iri hati terhadap orang lain di dalam pekerjaannya. Dikatakan ini sia-sia. Kedua adalah orang yang malas. Ini dikatakan merusakkan dirinya sendiri. Ketiga adalah yang bekerja tak henti-hentinya. Akhirnya dia pun tidak menikmatinya. Dan keempat dikatakan “Segenggam ketenangan lebih baik daripada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin” ( Peng 4:6 ). Yang keempat adalah orang yang bekerja dan menikmati hasil pekerjaannya dalam ketenangan.
Jadi sikap yang benar adalah yang keempat yaitu bekerja dan bisa menikmati di dalam ketenangan. Jadi di dalam bekerja : jangan iri, jangan malas, jangan workalholic tetapi bekerja dan menikmati pekerjaan kita. Ini adalah anugerah Tuhan.

b. Alasan kedua mengapa ada Sabat adalah : untuk pemulihan vitalitas manusia dan juga hewan dan juga alam semesta.
Sudah dibahas bahwa mesin saja perlu istirahat maka manusia juga perlu istirahat. Di dalam dunia yang makin workalholic ini, banyak manusia yang terus bekerja bahkan pada hari Sabat.
Ini menunjukkan beberapa hal yaitu : manusia tidak puas, manusia menuntut dirinya, manusia haus akan kekayaan, manusia terikat dengan materi, dan terutuama manusia tidak percaya kepada Firman Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus berhenti dari bekerja pada hari Sabat. Dan manusia tidak taat. Mungkin ada orang yang kuatir kalau beristirahat pada hari Sabat tidak bisa cukup kehidupannya. Tetapi orang ini kurang percaya pada Firman. Sebab Yesus mengatakan “Jangan kamu kuatir akan apa yang kamu makan, dan apa yang kamu pakai” “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kehendakNya maka semuanya akan diberikan kepadamu”. Jangan kuatir sebab bila kita bekerja dan hidup menurut apa yang Tuhan inginkan, janji Tuhan, Dia akan mencukupi.
Di dalam dunia modern yang workalholic ini banyak manusia yang kecapean secara fisik, mental dan spiritual. Mengapa ? Karena mereka tidak taat pada perintah hari Sabat ini. Banyak manusia yang benar-benar kelelahan fisik mental dan akibatnya adalah gangguan psikologis. Mereka ingin tenang tetapi terus tidak bisa tenang karena terus memikirkan pekerjaan dan hidup. Bahkan di jaman yang penuh ketegangan ini ajaran gerakan jaman baru seakan-akan memberikan jalan keluar bagi ketenangan jiwa manusia. Ajaran Yoga, kebatinan, meditasi seakan-akan memberikan harapan di mana manusia bisa beristirahat dan relaksasi dengan meditasi. Seakan-akan menyatu dengan alam dan mengurangi beban tekanan mental.
Hal ini sebenarnya membuktikan bahwa manusia perlu beristirahat dan dipulihkan fisik mental dan rohani mereka. Sebenarnya Tuhan Allah sudah menyediakan untuk beristirahat yaitu hari Sabat.
Hari ini bukan hari yang merugikan dimana manusia tidak boleh bekerja. Tetapi justru adalah hari anugerah dimana manusia boleh berhenti di dalam pekerjaannya dan menikmati berkat Tuhan.

c. Hari Sabat juga adalah hari yang Tuhan tetapkan supaya para hamba bisa beristirahat dan juga para hewan. Ini adalah hari anugerah.
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung untuk memerintah satu sama lain dan menguasai satu sama lain. Para hamba yang bekerjapun sering mengalami pemerasan pekerjaan. Tetapi Tuhan Allah mengadakan Sabat karena anugerahNya supaya mereka boleh beristirahat.
Demikian juga dengan hewan. Dan juga dengan tumbuhan. Ini adalah alam semesta. Mengapa alam semesta perlu sabat ? Karena manusia mengekploitasi alam semesta terus menerus dan maka pohon-pohon pada gundul dsb, dan banjir dsb. Nah di dalam Kitab Imamat ada tahun Sabat yaitu enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat bagi Tuhan. Ladangmu janganlah kautaburi dam kebun anggurmu janganlah kau rantingi. ( Im 25:4-5 ).
Salah satu alasan mengapa Israel dibuang ke Babilonia adalah karena mereka tidak menaati Sabat dan terus mengekploitasi alam. Maka Tuhan membuang mereka ke babilonia supaya tanah boleh beristirahat.

d. Alasan ketiga mengapa ada hari Sabat adalah hari ini dikuduskan untuk memuliakan nama Tuhan. Hari ini dikhususkan untuk menyembah Tuhan dan mengakui bahwa Dia adalah pencipta, pemelihara hidup kita. Hari ini adalah hari ibadah.
Tuhan sendiri mengatakan bahwa hari Sabat adalah kudus dan manusia diundang untuk menikmati hari Kudus ini untuk bersekutu dengan Tuhan. Hari ini adalah hari yang penuh anugerah sebab manusia diundang untuk bergaul dengan Tuhan secara lebih khusus di hari khusus. Hari ini hari untuk memuji Tuhan, untuk beribadah, untuk memberikan persembahan kepada Tuhan Allah.

e. Hari Sabat adalah hari anugerah untuk kita bersekutu satu sama lain. Hari ini adalah hari dimana kita boleh saling bersekutu dengan sesama orang percaya. Dengan keluarga, dengan teman, dengan saudara seiman. Ini adalah hari anugerah dimana kita boleh menikmati satu perhentian dan menikmati persekutuan dengan sesama.
Maka di dalam hari Sabat ini, kita bisa menikmati, bertamasya dan juga bisa jalan-jalan bersama-sama dan menikmati kebersamaan. Hari ini bukan supaya manusia khusus di gereja, tetapi setelah pulang berbakti adalah bagi kita umat seiman untuk bersekutu dan menikmati kebersamaan dan sambil mengingat anugerah Tuhan.

f. Supaya manusia menikmati anugerah Tuhan. Menikmati pemeliharaanNya atas hidup. Menikmati berkatNya atas hidup. Menikmati segala pemberiannya. Hari ini adalah hari anugerah. Supaya manusia mengucap syukur atas segala pemberian Tuhan. Supaya manusia puas di dalam hidupnya dan bisa berkata Tuhan adalah gembalaku, aku tidak berkekurangan.

g. Belajar menggantungkan diri kepada Tuhan.
Dengan tidak bekerja pada hari Sabat sebenarnya kita juga sedang belajar pemeliharaan dari Tuhan Allah. Kita percaya bahwa Tuhan Allah memelihara hidup dan kecukupan hidup kita. Dalam hal ini kita belajar dari peristiwa bangsa Israel dimana mereka diberi makan manna oleh Tuhan Allah. Hal ini supaya bangsa Israel sadar bahwa hidup ini bukan dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Pada hari yang ketujuh mereka tidak mengambil manna karena pada hari yang keenam mereka sudah mengambil porsi untuk hari ketujuh. Dan mereka tetap cukup dan tidak berkurangan.
Mengapa kita harus menggantungkan diri kita kepada Tuhan ? Sebab kita tahu bahwa sebenarnya bahwa yang memberikan berkat adalah Tuhan Allah. Tuhan yang memberi kecukupan, Tuhan yang memberi kelimpahan, Tuhan yang memberikan kekayaan dan Tuhan yang memberikan juga kemiskinan. Tuhan yang berikan rejeki. Tangan Tuhanlah yang mengatur semuanya itu. Bahkan hidup kita bisa cukup adalah karena anugerah Tuhan semata-mata. Kita bisa berusaha karena anugerah Tuhan, kita bisa menikmati usaha adalah karena anugerah Tuhan, kita diberkati karena anugerah Tuhan. Dengan adanya Sabat maka manusia diajarkan untuk bergantung kepada Tuhan di dalam hidup sehari-hari.
Yesus sekali lagi berkata “Jangan kamu kuatir !”. “Burung udara dipelihara” “Bunga dipadang dihiasinya” “Kita lebih daripada mereka” “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kehendakNya” “Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan”

Orang Yahudi mengikuti Sabat penciptaan sedangkan orang Kristen ada Sabat penebusan. Apa maksudnya ?
Ketika Tuhan Allah menciptakan langit dan bumi dan pada hari ketujuh Dia berhenti dan kemudian Dia memerintahkan manusia untuk mengikutiNya maka ini adalah Sabat penciptaan. Di dalam Sabat ini kita mengakui Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara hidup kita ini. Ini yang dicatat di dalam Keluaran 20:
Filosofi Sabat penciptaan. Tuhan Allah bekerja selama 6 hari dan pada hari yang ketujuh Dia berhenti maka kita sebagai gambar dan rupa Allah bekerja 6 hari dan berhenti pada hati yang ketujuh.
Tetapi ada Sabat penebusan yaitu ketika Yesus Kristus bangkit dari orang mati pada hari paskah. Pada hari itu juga para pengikutNya mengubah hari Sabat hari ketujuh menjadi hari pertama yaitu Hari Tuhan. The Lord’s Days. Mengapa orang Kristen merayakan sabat pada hari minggu ? Karena Tuhan Yesus bangkit pada hari minggu. Yaitu hari pertama.
Filosofi di dalam Sabat penebusan adalah kita pertama kali diselamatkan dan sudah beristirahat di dalam Kristus. Kita sudah berada di dalam Tuhan. Baru kemudian kita diutus untuk bekerja di dunia ini. Kita sudah rest di dalam Tuhan. Jiwa kita yang menggembara sudah kembali kepada pemelihara jiwa kita. Dan baru kita bekerja melaksanakan misinya. Hari Sabat penebusan ini meneruskan hari Sabat penciptaan ke dalam pandangan yang lebih luas. Ini menggenapi Sabat penciptaan.
Selain Sabat penciptaan dan penebusan, Ada Sabat Eskatologi atau Sabat Akhir jaman. Apa maksud Sabat akhir jaman ? Sabat akhir jaman adalah yang dituliskan di dalam kitab Ibrani 4.
Untuk mengerti ini marilah kita mengerti arti Sabat di dalam keseluruhan kerangka Alkitab. Pada hari ketujuh Allah beristirahat di dalam hari berkat, hari istirahat dan kebaikan. Adam dan Hawa berbagian di dalam hal itu yaitu di dalam Taman yang Allah tetapkan bagi mereka.
Taman ini adalah taman yang penuh dengan bermacam pohon untuk dimakan dan sungai yang mengalir yang semuanya memberikan berkat kepada seluruh dunia. Disini manusia berbagian di dalam berkat dari relasi yang baik dengan Allah. Manusia bergaul karib dengan Allah. Tetapi manusia kehilangan bagian di dalam peristirahatan Allah ini ketika mereka memberontak melawan Allah dan dibuang dari taman. Mereka kehilangan sabat Allah. Mereka kehilangan peristirahatan dengan Allah. Mereka diusir keluar dari pintu sebelah timur dan malaikat Allah menjaga dengan pedang yang menyala-nyala.
Allah kemudian merencanakan untuk menyelamatkan manusia terutama melalui Abraham. Keturunan Abraham, bangsa Israel akan sekali lagi berbagian di dalam Sabat Allah ketika mereka berada di tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan. Yosua memimpin mereka masuk ke dalam tanah perjanjian melalui pintu sebelah timur yang dijaga dengan Mailaikat Allah. Ingat peristiwa Eden ? Di Tanah Kanaan adalah Tanah peristirahatan dari musuh dan disini ada berkat yang penuh dengan susu dan madu. Ini mengingatkan kepada Eden lagi. Mereka tidak lagi mengembara tetapi mempunyai rumah dan bisa beristirahat
Bahkan pada jaman Solomo adalah sesuai dengan namanya Shalom atau Damai maka Israel berada di dalam kedamaian. Mereka beristirahat dari musuh-musuhnya dan berada di dalam keadaan makmur. Tetapi bagaimanapun juga mereka kembali dikeluarkan dari tanah perjanjian karena pemberontakan mereka. Mereka kembali tidak menikmati peristirahatan Allah.
Ada tipologi mengenai Yosua dan Yesus. Tipologi adalah tipe. Jika Yosua sudah membawa bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan untuk menikmati peristirahatan, ini melambangkan Yesus Kristus yang akan membawa kita umat pilihannya masuk ke dalam Yerusalem baru. Yosua membawa bangsa Israel masuk tanah kanaan. Yosua adalah artinya Yehovah menyelamatkan. Yesus yang adalah Yosua ( nama asli Yesus di dalam Ibrani ). Dia berperang dengan kuasa kegelapan di kayu salib dan membawa umatnya masuk ke dalam perhentian sabat. Umat Allah boleh beristirahat di dalam Allah dari segala pergumulan. Ingat bahwa ketika diusir dari Taman Eden manusia keluar dari pintu Timur dan dijaga oleh malaikat Tuhan dengan pedang menyala-nyala. Kemudian pada waktu Yosua membawa bangsa Israel masuk tanah Kanaan dengan peperangan untuk mereka memasuki tanah perjanjian melalui sebelah Timur dan bertemu dengan Malaikat Panglima balatentara Allah yang berjaga di pintu Timur. Mereka akhir masuk kembali ke tempat peristirahatan. Ini juga menyimbolkan ketika Tuhan Yesus masuk ke dalam ruang yang Maha Kudus, Yesus melewati Tirai yang dijahit bergambar malaikat. Tirai itu akhirnya terbelah dua ketika kematiannya yaitu peperangan rohani besar melawan iblis. Karena itu maka jalan masuk ke Hadirat Allah kembali dibuka. Peristirahatan dengan Allah kembali melalui Yesus Kristus.
Tipologi lainnya adalah Solomo dan Yesus. Salomo adalah raja yang membawa bangsa Israel beristirahat dari musuh-musuh sesuai dengan namanya shalom atau damai. Yesus Kristus yang adalah prince of peace, Raja Damai, akan membawa kita beristirahat dari peperangan rohani dan masuk ke dalam Sabat Allah.
Sabat yang akan kita nikmati di surga adalah perhentian dan persekutuan dengan Allah selama-lamanya. Dan Sabat yang kita nikmati di hari minggu adalah bayang-bayang saat itu. Sabat yang kita adakan untuk beribadah adalah melambangkan Sabat di surga nanti. Disana kita akan memuji Tuhan untuk selama-lamanya.

Aplikasi Sabat terhadap penderita Depresi
Marilah beribadah kepada Tuhan di hari Sabat ini
Di hari Minggu kita beribadah. Alkitab mengatakan bahwa janganlah kita menjauhkan dari pertemuan ibadah seperti yang dilakukan oleh beberapa orang. Tetapi marilah kita beribadah memuji dan mendengarkan Firman Tuhan. Jangan tidak beribadah. Di dalam hari Sabat ini, penderita Depresi harus beribadah kepada Tuhan dan menikmati anugerahNya.
ii. Marilah beristiharat di hari Sabat ini. Ini adalah hari berkat dan anugerah.
Di hari sabat ini penderita Depresi dapat menemukan perhentian. Istirahat akan memulihkan vitalitas kita di hari-hari lain. Sabat merupakan perhentian bukan berarti tidak boleh bekerja sama sekali tetapi hanya bekerja sesuatu yang merupakan pekerjaan belas kasihan ( work of mercy) dan pekerjaan yang mendesak ( work of necessity )
iii. Berhenti dan beristirahat di dalam Tuhan
Lebih jauh dari sekedar hari Minggu, Sabat secara rohani tidak terbatas pada hari minggu tetapi ketika jiwa orang percaya sudah beristirahat di dalam Tuhan Yesus.
iv. Setelah bersabat, Marilah bekerja bagi Tuhan
Setelah beristirahat di hari pertama, maka di hari kedua-ketujuh, kita diutus ke dunia ini untuk melakukan misi Tuhan. Kita menjalankan 2 mandat yaitu mandat Injil dan mandat budaya.
Di dalam menjalankan mandat budaya, Kembali kepada sikap hidup di dalam bekerja adalah pertama : jangan iri hati, jangan malas, jangan workalholic tetapi bekerja dan menikmati ketenangan dan hasil usaha.
Di dalam menjalankan mandat Injil, kita ingat amanat agung Tuhan kita untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan, dan mengajarkan mereka segala sesuatu yang Tuhan ajarkan.
Marilah menantikan Sabat di akhir jaman.
Ketika itu kita akan beristirahat bersama-sama dengan Allah selama-lamanya dan memuji Dia selama-lamanya
Seperti lagu Amazing Grace :

When we’ve been there, ten thousand years
Bright shining as the sun,
We’ve no less days, to sing God’s praise
Than when we’d first begin



Read More ....

Teologi Penderitaan dan Depresi

Teologi Penderitaan dan Depresi

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah” ( 2 Korintus 1:3-5 )

Realita hidup mengajarkan bahwa hidup ini menderita. Orang Budhis mengatakan bahwa hidup ini penderitaan. Lahir menderita. Tua menderita. Sakit menderita dan mati menderita. Kenyataan memang berbicara bahwa hidup ini pahit. Hidup ini penuh dengan jerih lelah. Hidup ini penuh dengan peluh. Hidup ini penuh dengan kekerasan. Hidup manusia banyak mencucurkan air mata. Hidup ini adalah satu tragedi.
Siapa manusia yang dapat berkata hidup tidak menderita ? Siapa dapat berkata bahwa hidup ini tidak penuh dengan kepahitan ? Siapa diantara manusia yang dapat menyangkalnya ? Perhatikanlah kehidupan kita ini ! Bacalah koran dan berita di TV ! Lihatlah dengan mata ! Bukalah mata lebar-lebar ! Dengarlah dengan telinga ! Kondisi jiwa manusia modern mengalami kekuatiran, stress, depresi, kecemasan dan ketakutan. Jiwa manusia menjadi tidak tenang dan damai. Banyak kehidupan rumah tangga yang rusak. banyak anak-anak yang hidup tidak beres. Terjadi peperangan di dunia ini. Kemiskinan dimana-mana. Moral semakin merosot. Hidup menjadi tertekan. Angka bunuh diri meningkat. Orang yang mengalami depresi menjadi lebih banyak. Tingkat perceraian semakin tinggi. Kekosongan hidup semakin besar dalam hidup manusia. Kemiskinan merajalela dimana-mana. Penyakitpun banyak merongrong hidup manusia. Serangan kanker ada dimana-mana. Di dalam makanan kitapun sudah tidak aman. Inilah realita hidup ! Bila seseorang dapat menyangkal realita penderitaan hidup ini tetapi cobalah dia menyelidiki kedalaman hatinya ! Bila dia jujur maka dia harus mengakui bahwa dirinya sendiri menderita. Hati nurani walaupun sudah tercemar tetapi tidak dapat mengelabui bahwa ada realita penderitaan. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa Hidup ini tragedi. Hidup ini menderita.

Di dalam hidup yang menderita ini bagaimana orang Kristen memandang penderitaan ? Bagaimana perpektif orang Kristen terhadap penderitaan ?
Orang-orang modern menganggap penderitaan ini dengan kacamata penyelesaian. Orang modern yang rasionalis selalu memandang dunia ini dengan kacamata Subjek-Objek dimana diri sebagai subjek dan yang diluar diri sebagai objek. Pikiran ini berasal dari Rene Decartes. Filsafat rasionalisme Descartes terkenal dengan kata “I think therefore I am”. Artinya adalah karena saya berpikir maka saya ada. Apa implikasi pikiran rasionalisme ini ? Yang menjadi pusat keberadaan adalah saya. Saya yang besar I menjadi subjek untuk mengetahui segala sesuatu. Dan segala sesuatu di luar saya adalah objek.
Di dalam menghadapi masalah, orang modern menganggap masalah itu sebagai objek diluar diri saya. Objek masalah ini dianalisa, dicari penyebabnya, diteliti, dipahami, dimengerti naturnya dan dicari solusinya. Inilah cara orang modern mencari penyelesaian terhadap penderitaan. Ambil contoh ada penderitaan karena penyakit maka dicari penyebab penyakitnya dan dicari dan diselidiki obatnya di laboratorium. Ada penyakit SARS, dicari obatnya. Ada penyakit AIDS dicari obatnya. Contoh lain adanya penderitaan karena perang maka dicari penyebab perang dan dicari solusinya secara rasional. Contoh lain adalah adanya masalah di perusahaan maka dicari sumber masalahnya secara rasional dan diselesaikan masalahnya. Adanya krisis ekonomi dicari penyebabnya secara rasional dan diselesaikan masalahnya.
Orang modern mempunyai filsafat hidup problem-solving ( menyelesaikan masalah ). Manusia dianggap sebagai penyelesai masalah ( problem solver ) dan orang modern mempunyai anggapan bahwa manusia mampu ( capable ) untuk menyelesaikan masalah kehidupan ( dalam hal ini penderitaan ). Orang-orang modern mempunyai pandangan optimis terhadap kehidupan dan kepada kemampuan manusia untuk menghadapi hidup. Terutama orang modern optimis terhadap rasio manusia sebagai sumber kebenaran dan penyelesaian masalah. Tetapi ternyata orang-orang modern menemukan buntu di dalam menyelesaikan masalah kehidupan. Ternyata masalah yang satu dihilangkan ada masalah lain. Masalah satu diselesaikan ada masalah lain datang. Setelah penyakit satu disembuhkan ada realita penderitaan yang lain. Setelah perang selesai masih ada penderitaan lain. Realitanya penderitaan tidak pernah hilang. Bahkan ketika menyelesaikan satu masalah ternyata mungkin juga menimbulkan masalah lain. Teknologi, Ilmu pengetahuan, ekonomi, hukum, etika, filsafat, agama tidak bisa menghilangkan realita penderitaan. Jadi realita mengatakan bahwa hidup itu memang menderita. Dengan cara problem solving ternyata tidak bisa menghilangkan penderitaan. Penderitaan itu exist ( ada ).
Orang-orang postmodern mempunyai pandangan lain terhadap penderitaan. Bagi mereka penderitaan ini sesuatu bagian di dalam hidup. Bagi mereka penderitaan itu bukan sesuatu Objek di luar yang bisa diselesaikan seperti pandangan orang modern. Bagi mereka penderitaan ini adalah alur atau alur dari hidup manusia. Penderitaan ini bagian dari hidup manusia. Penderitaan ini ada secara subjektif di dalam setiap pribadi. Yah inilah hidup ! Hidup yang dimana ketika kita menghidupinya, kita menghidupinya di dalam penderitaan. Jadi penderitaan adalah bagian hidup dan ada di dalam hidup yang tidak terpisahkan. Ketika banyak terjadi masalah, kekacauan di dalam hidup, perang, konflik, permusuhan, sakit penyakit maka inilah hidup manusia. Inilah realita. Maka orang-orang postmodern mempunyai pandangan yang pesimis terhadap kehidupan ini. Mereka sadar bahwa hidup ini menderita. Hidup ini berada di alur atau alur penderitaan. Alur hidup adalah menderita. Arah dan alur hidup ini ditentukan oleh alur penderitaan. Kita mengenal bahwa di dalam cerita narasi ada alur, karakter dan latar belakang. Hidup manusia juga seperti sebuah cerita narasi dimana ada alurnya. Alurnya ini adalah penderitaan. Benarkah pandangan orang postmodern bahwa hidup ini diatur oleh penderitaan. Benarkah pandangan mereka bahwa hidup ini diarahkan oleh penderitaan ?
Sebenarnya bila alur penderitaan menjadi alur hidup maka penderitaan ini mempunyai kuasa seperti Tuhan yang mengarahkan hidup. Musa berdoa di dalam Mazmur 90 yaitu supaya Tuhan membuatnya bersukacita seimbang dengan hari-hari Tuhan menindasnya. Sebab bila hidup hanya diatur oleh penderitaan maka penderitaan ini menjadi Tuhan.
Sekarang bagaimana orang Kristen memandang penderitaan ini ?
Pertama memang harus diakui bahwa manusia ini menderita karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Dunia ini sudah dikutuk. Dan manusia ada di dalam permusuhan dengan Allah, dengan sesama, dengan diri dan dengan alam. Karena itu penderitaan ada di dalam dunia ini.
Tetapi satu hal yang harus dipahami dan dimengerti. Penderitaan ini memang ada selama orang percaya hidup di dalam dunia maka penderitaan ini tidak harus menjadi alur atau alur yang membentuk hidup mereka. Penderitaan tidak harus bahkan jangan menjadi alur hidup yang mengarahkan hidup orang percaya. Mengapa ? Sebab Kristus datang untuk menebus penderitaan bagi Allah ! Kristus datang supaya manusia yang menderita alur hidupnya tidak dikuasai oleh penderitaan tetapi alur atau alur hidupnya diarahkan untuk Tuhan. Perempuan samaria mempunyai 5 suami dan alur hidupnya dipenuhi penderitaan. Dia sudah dihianati dan ditolak oleh banyak laki-laki dan bahkan banyak orang menghina dia sehingga dia harus pergi mengambil air siang-siang supaya tidak bertemu orang dipagi hari. Hidupnya pahit dan menderita. Tetapi ketika bertemu dengan Kristus, hidupnya berubah dan bahkan menjadi penginjil. Orang garasa alur hidupnya dikuasai oleh kuasa kegelapan sehingga dia berada di dalam kuasa iblis. Tetapi karena bertemu dengan Tuhan Yesus maka alur hidupnya menjadi berubah. Zakheus seorang pemungut cukai alur hidupnya dibenci masyarakat dan kesepian. Tetapi ketika ia bertemu dengan Kristus maka hidupnya berubah. Orang buta yang dicelikkan, orang lumpuh yang berjalan, satu orang kusta dari 10 yang tahir berubah alurnya karena Kristus. Kristus datang untuk mengubah alur hidup manusia yang menderita.
Jadi bagi orang percaya, penderitaan tidak menjadi alur yang mengatur hidup mereka ! Karena itu orang percaya harus menerobos realita penderitaan supaya penderitaan tidak menjadi alur hidup mereka.
Fanny Crosby seorang perempuan buta yang banyak menulis lagu hymne tidak dikuasai oleh alur kebutaannya. Dia dengan efektif menjadi penulis hymn bahkan sampai 9000 hymn diperkirakan ditulisnya dan hidupnya memuliakan Tuhan. Joni Earekson Tada yang menjadi lumpuh total tidak dikuasai oleh alur penderitaan kelumpuhannya bahkan menjadi berkat dengan hidupnya menjadi pembicara dan penulis buku. Ada buku baik yang ditulisnya yaitu adalah “when God weep” Ketika Allah meratap. William Cowper menderita penyakit mental seumur hidupnya dan penuh dengan depresi serta melankolik. Tetapi hidupnya tidak dikuasai alur penderitaannya bahkan hidupnya masih menjadi berkat ketika dia menghasilkan karya-karya hymn sebanyak 64 bagi Tuhan dan juga banyak karya sastra ,puisi yang ditulisnya.. John Bunyan yang menderita dipenjara karena Injil selama 3 kali masih terus menginjili karena penjara tidak menghalangi alur hidupnya. Rasul Paulus sendiri yang menderita kekurangan, penaniayaan, kelaparan, dll tidak menganggap itu semua menjadi alur yang menguasai hidupnya tetapi rencana Allah menjadi alur hidupnya.
Jadi bagi kita orang percaya, penderitaan bukan menjadi alur hidup kita karena bagi kita orang percaya ada kuasa penebusan di dalam Kristus yang bisa mengubah hidup manusia dan mengarahkan hidup manusia untuk Allah. Kristus datang supaya manusia memperoleh hidup bahkan hidup yang berkelimpahan. Roh Kudus juga diberikan untuk tinggal di dalam diri kita orang percaya. Roh Kudus menyucikan, menghiburkan, mengajar, menasihati dan memimpin hidup kita orang percaya. Karena itu penderitaan bukan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi orang percaya. Mengapa ? Bahkan ketika kita orang percaya menderita, penderitaan itu adalah karunia Tuhan untuk membentuk kerohanian kita.
Dengan penderitaan, Tuhan Allah membikin alurNya di dalam diri kita orang percaya bukan supaya kita dikuasai penderitaan tetapi supaya kita hidup sesuai dengan jalanNya yang indah. Karakter yang diperbaharui, hidup yang bergantung kepada Tuhan ini semua rencana Tuhan yang indah. Ini semua dialami oleh orang percaya. Pemazmur mengatakan bahwa “Sebelum aku tertindas aku menyimpang tetapi sekarang aku berpegang kepada janjiMu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu.
Bagi orang percaya, kita semua hidup di dalam Alur Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sudah datang dan Allah memerintah. Allah memerintah orang percaya ini sudah terjadi ( already ) walaupun belum terrealiasi secara penuh ( not yet ). Jadi orang percaya hidup di dalam atmosfir kerajaan Allah. Kata atmosfir ini kata yang indah. Kita hidup di dalam atmosfir kerajaan Allah. Dan di dalam atmosfir kerajaan Allah, segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan. Di dalam atmosfir kerajaan Allah, Tuhan Allah berdaulat atas hidup manusia. Di dalam atmosfir kerajaan Allah, segala sesuatu indah pada waktunya.
Ada beberapa prinsip yang boleh menghibur kita orang percaya di dalam penderitaan.
Pertama kita sudah diselamatkan dari dosa yang merupakan masalah utama kehidupan manusia. Jadi kehidupan ini ada pengharapan karena pengampunan dosa. Kita sudah diselamatkan dan pemazmur mengatakan bahwa orang yang diampuni dosanya itu orang yang berbahagia dan diberkati.
Kedua kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang percaya yang mengasihiNya. Ini janji Tuhan. Dan kita percaya bahwa Tuhan Allah berdaulat dan setia pada janjiNya. Segala sesuatu akan indah pada waktunya.
Ketiga kita tahu bahwa penderitaan pada saat ini tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan di masa mendatang. Kita boleh berharap dan beriman bahwa satu saat penderitaan ini akan hilang dan di surga tidak ada lagi air mata dan tangisan. Ada salib tetapi ada kemuliaan.
Keempat, kita mempunyai Tuhan Allah yang menyertai umatNya bahkan ketika melewati lembah bayang-bayang maut. Penyertaan Tuhan adalah penghiburan terbesar bagi umat Tuhan.
Kelima, seluruh janji Tuhan berlaku bagi orang percaya yang menderita. Tuhan menguji kita tidak melebihi kekuatan bahkan memberikan jalan keluar. JanjiNya memberikan kekuatan.
Keenam Seluruh penderitaan ini tidak sia-sia tetapi ada maksudnya. Hidup di dalam Tuhan ada artinya.
Karena itu marilah kita merefleksi bersama ! Apakah penderitaan yang kita alami ? Depresikah ? Apakah Depresi ini menjadi alur atau alur dalam hidup kita ? Apakah sakit penyakit menjadi alur yang mengatur hidup kita ? Apakah kelemahan menjadi alur yang mengatur hidup kita ? Apakah kemalangan menjadi alur yang mengatur hidup kita ? Apakah dosa menjadi alur yang mengatur hidup kita ? Apakah kesalahan kita menjadi alur yang mengatur hidup kita ? Apakah masa lalu menjadi alur yang mengatur hidup kita ? Apakah lingkungan menjadi alur yang mengatur hidup kita ? Maukah hidup kita diikat oleh alur penderitaan atau maukah kita bebas dari alur penderitaan yang menguasai hidup kita ?
Maka datanglah kepada Tuhan Yesus Kristus yang sanggup mengubah alur hidup kita untuk beribadah kepada Tuhan Allah. Marilah kita hidup di dalam atmosfir Kerajaan Allah di dalam Kristus. Satu-satunya yang dapat merubah alur hidup manusia adalah Firman Tuhan.







LEAD ME TO CALVARY
( Jennie Evelyn Hussey, William J. Kirkpatrick )

King of my life, I crown Thee now
Thine shall the glory be
Lest I forget Thy thorn crowned brow
Lead me to Calvary

Ref :
Lest I forget Gethsemane
Lest I forget Thine agony
Lest I forget Thy love for me
Lead me to Calvary


Read More ....

Teologi Kenikmatan dan Depresi

Teologi Kenikmatan dan Depresi

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” ( Maz 34:8 )

Banyak orang mencari bahagia di dalam dunia ini. Orang hidup mau senang, mau bahagia, mau sukacita. Manusia mencari ini pergi kemana-mana dan mencoba dengan banyak cara. Ada yang mencari dengan uang, dengan kedudukan, dengan nama yang terkenal, atau dengan status dalam masyarakat, atau dengan pasangan hidup, atau dengan agama, dengan pendidikan, dengan hikmat, dan masih banyak cara yang manusia cari. Aristoteles, seorang filsuf mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah supaya bahagia. Manusia ingin mencari kepenuhan hidup. Hidup yang penuh dengan arti. Hidup yang penuh dengan warna. Hidup yang penuh kelimpahan. Hidup yang penuh dengan sukacita.

Marilah kita renungkan bahwa apa itu bahagia ? Bolehkah kita orang Kristen bahagia ? Bolehkah kita mencari sukacita ? Bolehkah orang percaya mengejar kebahagiaan ? Bolehkah tujuan hidup mencari bahagia ? Kedengarannya pertanyaan ini seperti duniawi dan sekular. Pertanyaan ini sepertinya seperti filsafat dunia yang mengajarkan untuk mengejar kebahagiaan. Berkesan egois, berpusat pada diri. Bukankah ajaran orang Kristen mengajarkan teologi salib ? Bukankah Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk mengikuti Dia maka kita harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia ? Alkitab juga mengajarkan bahwa bila kita mengikut Kristus sungguh-sungguh maka kita akan menderita aniaya. Jadi bolehkah orang percaya mencari sukacita di tengah dunia ini ? Realita di dalam dunia ini adalah adanya penderitaan. Ini realita yang kita sebagai manusia hadapi karena kita sudah jatuh di dalam dosa. Di dalam dosa adanya penderitaan, kesengsaraan, sakit penyakit, konflik, permusuhan, dan kematian. Dosa mengakibatkan kemalangan di dalam hidup manusia. Bolehkah di dalam dunia yang penuh penderitaan ini orang percaya mencari kebahagiaan ?
Apa itu bahagia ? Bolehkah kita mencari bahagia ? Apakah itu bahagia sejati ? Di mana kita dapat memperolehnya ? Westminster Conffesion of faith mengatakan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmatiNya selama-lamaNya. John Piper menginterpretasikan dengan mengatakan tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Tuhan dengan bersama-sama menikmatiNya. Jadi panggilan hidup kita bukan hanya memuliakan Tuhan saja tetapi memuliakan Tuhan dengan bersama-sama menikmatiNya. Sebab memuliakan Tuhan itu menikmatiNya dan menikmati Tuhan adalah memuliakan nama Tuhan.
Tuhan adalah sumber sukacita. Alkitab juga mengajarkan “Bergembiralah di dalam Tuhan maka Ia akan memberikan apa yang diinginkan hatimu” ( Maz 37 ). Paulus menulis dalam suratnya di Filipi dan mengatakan “Bersukacitalah senantiasa”. Kondisi Paulus ketika menulis surat adalah di penjara namun isi suratnya berisi sukacita yang tidak terlukiskan. Dalam hal ini berarti Alkitab juga mengajarkan supaya anak-anak Tuhan bersukacita. Sukacita sejati hanya ada di dalam Tuhan. Jadi bolehkah kita orang percaya bersukacita ? Jawabannya adalah boleh. Namun bagaimana dengan teologi salib yang mengajarkan bahwa orang percaya harus memikul salib ? Bukankah memikul salib itu suatu dukacita ? Bukankah memikul salib itu sesuatu yang berat ?
Ingatlah satu hal para pembaca yaitu bahwa tujuan dari memikul salib itu adalah mahkota. Tujuan dari memikul salib adalah kemuliaan. Setelah orang percaya memikul salib maka ada sukacita yang jauh melampaui penderitaan ini. Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan di dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita terima di masa yang akan datang. ( Rom 8:28-36 ).
Jadi ketika kita memikul salib itu sebenarnya kita akan meraih kebahagian di masa akan datang. Dengan menyangkal diri dan memikul salib dan mengikut Tuhan Yesus maka kita akan bahagia. Kedengarannya hal ini sepertinya aneh bukan ? Tetapi justru di dalam memikul salib ini sebenarnya kita bahagia. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan. Bila kita memahami bahwa sebenarnya memikul salib itu adalah mengasihi Tuhan kita maka kita akan merasakan ringan. Perintah Tuhan itu menjadi tidak berat. Tuhan memberikan kekuatan untuk melakukannya dan bahkan kita bersukacita di dalam melakukannya. Paulus sendiri di dalam jerih payahnya mengalami sukacita dari surga di dalam hatinya.
Maka itu marilah kita bersukacita di dalam Tuhan. Sukacita yang mengalir dari hati itu akan keluar dengan memuji Tuhan. Sukacita kepada Tuhan diekspresikan dalam pujian kepada Tuhan. Mulut kita mengatakan apa yang ada di dalam hati kita. Memuji Tuhan itu indah ! Ini sukacita. Bagaimana supaya kita makin bersukacita di dalam Tuhan ? Salah satu kunci sukacita dalam Tuhan adalah dengan mengucap syukur. Mengucap syukur adalah berarti menerima kebaikan Tuhan, menikmatiNya dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Hitunglah berkat-berkat Tuhan di dalam setiap hari dan setiap peristiwa dan ucapkanlah syukur. Puji Tuhan buat semua hal baik hal yang baik atau hal yang buruk. Semua ini mendatangkan sukacita. Bagaimana juga supaya kita makin bersukacita di dalam Tuhan ? Kunci yang lain adalah dengan ketaatan. Dengan ketaatan kita kepada Tuhan dan FirmanNya maka akan mendatangkan sukacita dan damai sejahtera yang Tuhan berikan. Karena itu marilah kita menaati Firman Tuhan. Setelah orang percaya menerima Kristus dan hidup baru di dalam status dan natur yang baru maka hukum Tuhan itu bukan lagi menghukum. Tetapi sebaliknya Firman Tuhan menjadi sesuatu yang dikasihi orang percaya. Dan bahkan Tuhan sendiri memberikan kekuatan kepada orang percaya untuk melakukan Firman Tuhan. Ketika kita menaatinya maka kita akan bersukacita.
Hidup untuk Tuhan adalah cara mendapatkan mendapatkan bahagia sejati. Persekutuan dengan Allah mengakibatkan kebahagian sejati. Orang yang berbahagia adalah orang yang mengasihi Tuhan dan mengikuti perintahNya. Maukah saudara/i mendapatkan bahagia sejati ? Maukah saudara/i mendapatkan pemenuhan sejati seperti janji Tuhan Yesus bahwa Ia datang untuk memberikan hidup yang kelimpahan ? Maukah saudara/i bisa mengatakan “Aku puas” dalam hidupmu ? Datanglah kepada Tuhan kita sumber air hidup dan niscaya jiwamu akan dipuaskan ! Marilah datang kepada Tuhan dan merasakan anugerahNya.
“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” ( Maz 34:8 )
Kita mengerti bahwa mengecap adalah lidah kita merasakan rasanya sesuatu. Melihat adalah mata kita menangkap cahaya dari satu objek yang diamati. Semua ini adalah inderawi kita. Inderawi kita adalah indera untuk menangkap dunia eksternal ini. Inderawi kita adalah untuk merasakan dunia eksternal ini. Inderawi kita adalah untuk bersentuhan dengan realitas ini.
Namun satu hal yang menarik dikatakan bahwa kecap dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu. Disini alat untuk mengecap dan melihat pasti bukan sedekar jasmani. Namun alat untuk mengecap dan melihat adalah secara rohani. Ini berarti iman kita diperlukan supaya kita dapat mengecap kebaikan Tuhan dan melihat kebaikan Tuhan. Iman berkaitan dengan pengalaman. Iman berkaitan dengan melihat sesuatu yang tidak kita lihat dengan mata jasmani. Iman berkaitan dengan realitas rohani.
Di dalam ayat ini dikatakan bahwa kita diminta untuk mengecap dan melihat kebaikan Tuhan. Ini adalah perintah. Perintah untuk menikmati Tuhan. Marilah kita rasakan dan nikmati bahwa Tuhan itu baik adanya. Pemazmur mengatakan bahwa kasih setia Tuhan lebih baik daripada hidup. Tuhan adalah bagianku. Dan satu hal yang paling mengesankan adalah Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya. Kasih setia Tuhan atau biasa disebut dengan hesed adalah kasih Tuhan terhadap umat perjanjianNya. Tuhan adalah Tuhan perjanjian yang setia dengan umat perjanjianNya.
Tuhan itu baik. Tuhan itu setia. Tuhan itu kasih. Tuhan itu bijaksana. Kita harus menikmati semuanya ini. Kita harus menikmati anugerah Tuhan.
Aplikasi bagi bahagia, bersukacita, menikmati hidup dengan Depresi yaitu orang yang mengalami Depresi harus belajar untuk menikmati Tuhan. Kita dapat menikmati Tuhan di dalam doa, persekutuan denganNya dan di dalam FirmanNya. Tetapi kita juga dapat menikmati Tuhan di dalam alam semesta. Alam semesta ini diciptakan untuk kemuliaan nama Tuhan dan juga untuk dinikmati manusia. Ini hal yang sejalan dan bukan bertentangan. Kita dapat menikmati Tuhan di dalam alam semesta dan menikmati Tuhan di dalam memuliakanNya adalah panggilan hidup kita.
Dengan berfokus pada menikmati Tuhan dan anugerahNya maka penderita Depresi akan keluar dari fokus kepada depresi dan masalah. Sebaliknya Penderita Depresi akan mengalami sukacita karena Tuhan itu sumber sukacita dan memberikan sukacita dan damai sejahtera.

This is My Father’s World
( Maltbie D. Babcock, 1901, TERRA BEATA )

This is my Father’s world, and to my listning ears
All nature sings, and round me sings
The music of the spheres
This is my Father’s world : I rest me in the thought
Of rocks and trees, of skies and seas;His hand the wonders wrought


Read More ....

Teologi Penciptaan dan Depresi

Teologi Penciptaan dan Depresi
Jeffrey Lim

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. ( Kej :1-5 )

Ketika Allah berfirman di dalam Kej 1:1-5 maka ada beberapa hal yang terjadi di dalam ciptaan yaitu
Sesuatu yang formless dan disorder dan disharmony -> Menjadi form and order dan harmony
Sesuatu yang empty -> Menjadi filled and content
Sesuatu yang darkness -> Menjadi terang
Ini adalah kuasa kreatif Firman Allah melalui RohNya yang kudus. Allah berfirman maka ada kuasa kreatif yang menciptakan. Firman Allah ini sungguh dasyat dan berkuasa. Alkitab menuliskan “Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan” ( Maz 62 ). Intinya Firman Allah itu berkuasa dan bersifat menciptakan.
Lalu apa kaitan kuasa Firman dengan penciptaan dan Depresi ?



Jiwa manusia yang depresi perlu Firman Allah yang menciptakan kembali. Seperti di dalam penciptaan dan kreatifitas dari Firman maka manusia perlu mengalami penciptaan baru di dalam hidupnya. Firman Allah itu berkuasa dan sanggup merubah hidup manusia yang formless dan disorder dan disharmony menjadi form and order dan harmony . Dari sesuatu yang empty menjadi filled dan content. Dari yang darkness menjadi light. Ini kuasa dari Firman Tuhan.
Firman Tuhan ini bisa dibedakan menjadi beberapa bentuk :
Firman Tuhan yang diucapkan
Firman Tuhan yang menjadi daging yaitu Yesus Kristus
Firman Tuhan yang dituliskan
Firman Tuhan pada penciptaan adalah Firman Tuhan yang diucapkan Allah. Semua ini ditulis di dalam Firman yang tertulis. Namun bukan berarti Firman yang tertulis lebih rendah kuasa dan nilainya dari Firman yang diucapkan. Firman yang tertulis ini juga adalah sesuatu yang dinafaskan Allah ( 2 Tim 3:16). Alkitab sebagai Firman Allah adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Alkitab berkuasa mengubah hidup manusia. Firman Allah di dalam Alkitab mempunyai kuasa kreatif yang mengubahkan.
Hidup manusia yang Depresi sering kali ada beberapa hal tidak harmonis, tidak disiplin, tidak teratur, kosong, dan ada di dalam kegelapan jiwa. Karena itu diperlukan Firman Allah untuk mengubah semua itu.
Puji Tuhan bahwa Firman Tuhan adalah berkuasa dan bersifat menciptakan. Firman Tuhan sanggup mengubah hati, membersihkan hati, mengarahkan, meneguhkan, menghiburkan, menyembuhkan, memberi pengharapan, menumbuhkan iman, memberikan kekuatan, mencerahkan, membuat bijaksana, menyukakan hati, dll. Di dalam Firman Tuhan ada sifat penciptaan dan kalau kita pelajari bahwa penebusan manusia adalah penciptaan manusia kembali.
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” ( 2Kor 5:17)
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Ef 2:10)
Marilah renungkan Firman Tuhan yang sanggup mengubah hidup yang tidak teratur, tidak disiplin, kacau, tidak harmonis, kosong dan gelap menjadi hidup yang berkelimpahan.

Jeffrey Lim
8 Nov 2007





Read More ....

Thursday, November 01, 2007

Puisi kasih di dalam Kidung Agung 4

Puisi kasih di dalam Kidung Agung 4
Jeffrey Lim

Pengantar

Kalau kita menanyakan kitab apakah yang paling sulit diterima banyak orang sebagai kitab yang rohani di dalam Alkitab ? Mungkin secara umum orang menjawab : Pengkotbah dan Kidung Agung. Pengkotbah sekilas pesannya seperti mengajarkan pesimisme dan nihilisme walaupun sesungguhnya sama sekali bukan demikian. Sedangkah Kidung Agung dianggap sebagai kitab yang melukiskan hubungan kasih dan seksual yang mungkin terkesan kurang rohani bagi sebagian orang. Tetapi sesungguhnya kalau kita sungguh-sungguh menyelidiki bahwa orang Yahudi memandang kitab ini sebagai kitab yang sakral bahkan lagu dari segala lagu. Kidung Agung merupakan ruang yang maha kudus karena kitab ini melukiskan selain hubungan perjanjian di antara suami dan istri juga adalah melukiskan hubungan Allah dengan umatNya dan Kristus engan jemaat.

Pertama-tama kitab Kidung Agung membuat kita merenungkan apakah sesuatu yang bersifat intim dan seksual itu sesuatu yang berdosa ? Kemudian apakah seks itu berdosa ? Apakah berbicara mengenai seks itu tidak rohani ?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat bahwa kalau sesuatu itu di dalam prosedur yang benar sesuai dengan Firman Tuhan adalah tidak apa-apa. Sesuatu yang bersifat intim dan seksual itu hanya diperbolehkan di dalam pernikahan. Kitab Kejadian 2 sudah memberikan dasar untuk hubungan suami-istri. Allah sendiri mengatakan bahwa tidak baik manusia seorang diri maka Allah menciptakan penolong yang sepadan bagi Adam. Kemudian Alkitab mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan akan bersatu dan meninggalkan ayah dan ibunya. Ini satu pengajaran bahwa bila kedua pasang laki-laki dan perempuan menikah maka mereka harus mandiri dan tidak bergantung lagi kepada orang tuanya. Mereka sudah membentuk keluarga yang baru dimana orang tua tidak boleh mengganggu keluarga baru ini. Mereka berpisah dengan orang tua mereka.
Ketika Hawa diberikan kepada Adam maka Adam pun berpuisi memuji Hawa. Sesuatu pujian di antara suami dan istri adalah satu sikap yang saling menghargai dan bersyukur buat anugerah yang Tuhan berikan kepada mereka. Amsal mengatakan “Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.” (Amsal 19:14). Mendapatkan isteri adalah anugerah Tuhan. Amsal juga memberikan pujian kepada isteri yang cakap. “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” (Amsal 31:10). Nilai seorang isteri adalah lebih daripada permata.
Laki-laki dan perempuan yang menikah akan bersatu dan keduanya akan menjadi satu keluarga, satu visi dan satu daging. Ini melukiskan adanya kesatuan di dalam pernikahan. Hubungan dua menjadi satu adalah hubungan yang paling intim di mana ini dianalogikan dengan hubungan diantara pribadi Allah Tritunggal dan juga hubungan Kristus dengan jemaat. Hubungan kovenan antara Allah dan umatNya dilukiskan dengan hubungan pernikahan.
Alkitab mengajarkan bahwa di dalam Kej 4 dituliskan “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."” (Kej 4:1). Kata bersetubuh adalah kata yang diterjemahakan oleh LAI dan kata itu artinya tepat terjemahannya namun di dalam bahasa asli lebih jelas bahwa kata yang digunakan adalah “yada” yang artinya mengenal. Ini melukiskan bahwa di dalam hubungan suami istri ada saling mengenal dan saling telanjang satu sama lain baik secara fisik maupun secara pikiran dimana mereka saling mengenal.
Kesimpulan dari pemaparan Firman Tuhan ini adalah bahwa hubungan intim di antara laki-laki dan perempuan adalah tidak berdosa bahkan suci di dalam pernikahan. Tetapi ada pandangan filsafat kafir yang mengajarkan bahwa seksualitas itu sesuatu yang berdosa. Ini juga pandangan yang dianut oleh Bapak Gereja Agustinus dimana dia pada masa mudanya banyak hidup tidak beres di dalam hal seksualitas. Namun sebenarnya Alkitab mengajarkan bahwa seks itu suci di dalam pernikahan.
Kemudian timbul pertanyaan bahwa apakah berbicara mengenai seks itu kurang rohani ? Kalau kita selidiki bahwa di dalam dunia sekarang salah satu hal yang paling digemari manusia berdosa adalah hal-hal yang berbau seksualitas. Di dalam majalah remaja, majalah wanita, majalah pria, film-film, holywood semua mengekspos hal-hal yang berbau seksualitas. Bahkan majalah-majalah banyak menawarkan tip-tip bagaimana supaya bisa berhubungan seks dengan lebih memuaskan. Budaya dunia kita yang berdosa ini sering berbicara mengenai seks secara pemuasan nafsu. Nafsu ( lust ) adalah sesuatu yang berdosa dan literatur seksual yang mengekpos nafsu adalah tidak rohani. Tetapi bagaimana dengan kitab Kidung Agung yang sepertinya membicarakan hal-hal seksualitas ? Apakah ini tidak rohani ?
Satu hal yaitu jika kitab ini tidak rohani maka kitab ini tidak akan dimasukkan ke dalam kanon perjanjian lama oleh orang Yahudi. Tetapi orang Yahudi sendiri mengakui bahwa kitab ini adalah kitab yang suci. Kitab Kidung Agung adalah buku yang suci dimana sebenarnya di dalam kidung agung adalah dijelaskan hubungan seksual dengan prinsip-prinsip yang seharusnya. Alkitab begitu terbuka dengan transparan memaparkan hal-hal seksualitas. Tetapi hal ini bukan untuk mengumbar nafsu namun untuk melukiskan keindahan seksualitas yang suci adanya di dalam hubungan suami istri. Ini adalah natural alamiah yang Tuhan sudah ciptakan. Tuhan Allah bahkan memberikan tempat untuk membicarakan hal-hal seksualitas dengan prinsip yang benar.

Dan sekarang marilah kita masuk untuk memaparkan prinsip-prinsip pernikahan di dalam kitab Kidung Agung 4 ini !

Mempelai laki-laki memuji mempelai perempuan

Lihatlah, cantik engkau, manisku,
sungguh cantik engkau!

Di dalam hal ini pengantin laki-laki memuji pengantin perempuan. Pujian ini adalah pujian yang tulus dari dalam hatinya. Ini bukan bicara sembarangan untuk menyenangkan hati sang mempelai perempuan belaka. Ini adalah satu penghargaan dari pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuan. Pengantin laki-laki bersyukur dan menikmati keberadaan pengantin perempuan dan menemukan arti yang indah di dalam diri pengantin perempuan. Ini baik keindahan secara fisik maupun keindahan secara rohani. Prinsip Alkitab secara keseluruhan memandang keindahan di dalam diri perempuan terutama adalah karakter dan rohaninya. Amsal mengajarkan bahwa “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. “ (Amsal 31:30).

Pengantin laki-laki melanjutkan memuji keindahan pengantin perempuan di dalam ayat-ayat berikutnya :

Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu.
Rambutmu bagaikan kawanan kambing
yang bergelombang turun
dari pegunungan Gilead.
Gigimu bagaikan kawanan domba
yang baru saja dicukur,
yang keluar dari tempat pembasuhan,
yang beranak kembar semuanya,
yang tak beranak tak ada.
Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu,
dan elok mulutmu.
Bagaikan belahan buah delima pelipismu
di balik telekungmu.

Di bagian ini pengantin laki-laki melukiskan wajah pengantin perempuan di dalam puisi yang indah. Rambut bagaikan kawanan kambing yang bergelombang berarti rambut perempuan itu panjang dan seperti bulu kambing yang lembut ini membuat pengantin laki-laki ingin membelai rambut itu.

Lehermu seperti menara Daud,
dibangun untuk menyimpan senjata.
Seribu perisai tergantung padanya
Dan gada para pahlawan semuanya.

Pada bagian ini nuansa yang bersifat feminin berganti menjadi nuansa yang bersifat maskulin. Leher gadis yang indah koq dilukiskan dengan menara. Ini mengajarkan bahwa gadis ini bukan gadis yang biasa tetapi seseorang yang mempunyai prinsip. Bahkan gadis ini adalah gadis yang mandiri. Dia sebenarnya seorang yang bisa menghidupi dirinya sendiri dan bukan seorang yang menumpang hidup pada laki-lakinya. Dan kalau gadis ini hendak menikah dengan sang laki-laki adalah bukan karena sekedar berlindung karena gadis ini adalah gadis yang mandiri. Gadis ini menikah karena mengasihi sang lakinya. Kasih lah yang mendasari pernikahan mereka. Bukan ekonomi ataupun kebergantungan.

Seperti dua anak rusa buah dadamu,
seperti anak kembar kijang
yang tengah makan rumput di
tengah-tengah bunga bakung.
Sebelum angin senja berembus
dan bayang-bayang menghilang,
aku ingin pergi ke gunung mur
dan ke bukit kemenyan.
Kali ini masuk ke pelukisan yang mungkin kedengarannya seperti hal yang kurang rohani. Melukiskan buah dada dimana sang laki-laki ingin pergi ke gunung mur dan ke bukit kemenyan. Sebenarnya Alkitab melukiskan hal ini dengan sangat halus dan sangat sopan. Satu hal yang kita ketahui bahwa buah dada seorang wanita adalah sesuatu yang dimana seorang laki-laki yang menjadi suami akan senang untuk membelainya. Hal ini kedengarannya seperti kotor bagi beberapa telinga. Tetapi ini adalah sejujurnya dan adalah natur yang Allah sudah ciptakan pada laki-laki. Namun hal ini hanya boleh ada di dalam pernikahan suci yang Tuhan tetapkan.

Engkau cantik sekali, manisku,
tak ada cacat cela padamu.
Turunlah kepadaku dari gunung
Libanon, pengantinku,
datanglah kepadaku dari gunung Libanon,
turunlah dari puncak Amana,
dari puncak Senir dan Hermon,
dari liang-liang singa,
dari pegunungan tempat macan tutul!

Pengantin laki-laki disaat ini mengajak pengantin perempuan untuk mendekat kepadanya. Ini bukan sesuatu pemaksaan. Pernikahan adalah bukan pemaksaan tetapi kerelaan kedua belah pihak. Pengantin laki-laki memuji pengantin perempuan dan dengan hal yang gentle dan aman mengajak pengantin perempuan untuk lebih intim.

Engkau mendebarkan hatiku,
dinda, pengantinku,
engkau mendebarkan hati dengan
satu kejapan mata,
dengan seuntai kalung
dari perhiasan lehermu.
Betapa nikmat kasihmu, dinda,
pengantinku!
Jauh lebih nikmat cintamu dari pada anggur,
dan lebih harum bau minyakmu
dari pada segala macam rempah.
Bibirmu meneteskan madu murni, pengantinku,
madu dan susu ada di bawah lidahmu,
dan bau pakaianmu
seperti bau gunung Libanon.

Selanjutnya di bagian ini adalah dimana pengantin laki-laki melanjutkan mengutarakan isi hatinya. Pengantin laki-laki mengatakan bahwa kasih mempelai perempuan adalah lebih nikmat dari pada anggur. Sulit sekali bagaimana melukiskan dengan kata-kata bagaimana pengantin laki-laki sangat berdebar-debar dan menikmati semua keindahan anugerah yang Tuhan berikan di dalam pengantin perempuan. Bahkan bibir meneteskan madu ini sesuatu yang manis yang tentunya menjelaskan kecupan. Rasanya lebih jelas membaca langsung dari puisi ini daripada sekedar dijelaskan.

Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau,
kebun tertutup dan mata air termeterai.
Tunas-tunasmu merupakan kebun
pohon-pohon delima
dengan buah-buahnya yang lezat,
bunga pacar dan narwastu,
narwastu dan kunyit, tebu dan kayu manis
dengan segala macam pohon kemenyan,
mur dan gaharu,
beserta pelbagai rempah yang terpilih.
O, mata air di kebun,
sumber air hidup,
yang mengalir dari gunung Libanon! –

Pada bagian ini, pengantin laki-laki memuji keperawanan pengantin perempuan yang dilukiskan dengan kebun yang tertutup dan mata air yang termeterai yang tidak dibuka dan tercurah pada orang lain. Keperawanan adalah sesuatu yang sangat penting di dalam pernikahan. Keperawanan hanya boleh diberikan kepada orang yang menjadi pasangan hidup. Demikian juga keperjakaan.
Di dalam dunia yang banyak dosa ini, apalagi kalau melihat konteks amerika, keperawanan dan keperjakaan mulai merupakan hal yang langka. Budaya berdosa di amerika mengajarkan bahwa bila seseorang berumur 19 tahun dan masih perawan ini sesuatu yang memalukan karena tidak laku. Tetapi betapa terbaliknya konsep dunia yang berdosa ini. Keperawanan dan keperjakaan adalaah sesuatu yang harus dijunjung tinggi karena ini adalah kesucian hidup.

Kedua mempelai saling menyapa

Bangunlah, hai angin utara, dan
marilah, hai angin selatan,
bertiuplah dalam kebunku,
supaya semerbaklah
bau rempah-rempahnya!
Semoga kekasihku datang ke kebunnya
dan makan buah-buahnya yang lezat. ( Kid 4:1-16)

Pada saat ini adalah bagian dialog dari pengantin perempuan dimana dia sendiri dengan rela hati membuka dirinya untuk berhubungan intim dan dalam. Pengantin perempuan rela karena dia sadar kekasihnya adalah orang yang dikasihinya yang adalah suaminya. Ini bukan pemaksaan. Tetapi kerelaan karena orang yang dikasihinya.

Kesimpulan
Dari kitab Kidung Agung pasal 4 ini, kita dapat belajar banyak hal mengenai seksualitas :
Seksualitas itu hal yang suci dan tidak berdosa
Berbicara mengenai seksualitas Alkitab memberikan tempatnya
Seksualitas hanya boleh di dalam pernikahan
Adanya relasi yang saling menghargai di antara laki-laki dan perempuan
Hubungan intim antara suami dan istri demikian terbuka dan suci
Hubungan intim ini didasari oleh kasih
Hubungan intim ini bukan didasari oleh pemaksaan dan tetapi kerelaan karena kasih


Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Jakarta, 23 Oktober 2007
Di saat merenungkan dan merefleksikan dari kotbah chapel
:) Bukan Sharing Pribadi :) Tapi hasil refleksi imaginasi :)


Read More ....

Saturday, October 27, 2007

Mengetahui identitas diri dengan benar itu luar biasa

Mengetahui identitas diri dengan benar itu luar biasa
Jeffrey Lim



Siapakah saya ? Coba renungkan kalimat ini ! Setiap pertanyaan yang benar memerlukan jawaban yang bukan gampangan. Respon kita terhadap pertanyaan yang benar di dalam hidup kita menandakan bijaksana kita. Pertanyaan yang baik harus dijawab dengan jawaban yang tepat. Pertanyaan siapakah saya ini sangat penting karena pertanyaan ini menanyakan pengertian mengenai identitas kita. Identitas ini sangat penting karena menentukan kemana kita akan melangkah. Identitas ini sangat penting karena menentukan seluruh jalannya hidup kita.

Misalnya jawaban siapakah saya adalah Anton. Itu adalah nama saya. Adakah makna di dalam nama saya ? Ataukah mungkinkah nama saya dirubah ? Apakah nama saya menentukan karakteristik saya ?
Misalnya pertanyaan siapakah saya dijawab bahwa saya adalah pelajar. Kita harus mengerti bahwa pelajar adalah orang yang belajar di pendidikan formal. Ini berarti melihat saya dari predikat saya. Tetapi predikat pelajar ini mungkin satu saat bisa berubah menjadi pensiunan. Jadi siapakah saya ? Ini pertanyaan yang memerlukan pemikiran yang dalam. Sebab kita memerlukan pengenalan diri yang tetap dan tidak berubah. Kita perlu kenal identitas kita yang tetap. Identitas yang berubah itu tidak akan tahan lama.
Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita renungkan ada satu orang yang mengetahui identitas dirinya dengan tepat dan tetap dan tidak berubah. Untuk mengerti itu marilah kita melihat ayat-ayat pembuka surat Paulus ! Mari kita refleksikan sebentar !

Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. (Rom 1:1)
Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, (1Kor 1:1)
Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, (Gal 1:1)
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. (Ef 1:1)
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, (1Ti 1:1)
Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (Fil 1:1)

Sekilas kita menemukan adanya kesamaan di dalam pembukaan surat Paulus yaitu
Pengirimnya bernama Paulus
Dia berjabatan sebagai rasul
Jabatannya dan otoritasnya adalah oleh kehendak Allah

Di dalam surat Paulus, kita dapat menemukan bahwa Paulus mengetahui identitas dirinya dengan benar. Dia tahu bahwa dia adalah bernama Paulus. Dia juga mengetahui cerita hidupnya dengan jelas. Dia dahulu seorang penganiaya jemaat. Sekarang dia adalah seorang rasul.
Di dalam budaya Ibrani, nama adalah sesuatu yang penting. Nama mempunyai arti yang berarti karakteristik seseorang. Jadi di dalam mengenal nama kita seharusnya kita tidak sembarangan. Dan di dalam memberi nama anak juga tidak boleh sembarangan. Di dalam Alkitab sebagai wahyu Allah, nama itu ada artinya. Adam berarti manusia. Abraham berarti bapa segala bangsa. Dan nama juga bisa dirubah sesuai dengan karakteristik seseorang di masa depan. Yakub menjadi Israel. Simon menjadi Petrus. Dll. Nama menunjukkan siapa seseorang di dalam budaya Ibrani. Walaupun mungkin budaya Ibrani berbeda dengan budaya kita, tetapi di dalam pemberian nama kita harus tetap berhati-hati dan gentar karena nama berkaitan dengan “kata” dan “kata” itu adalah berkaitan dengan kebenaran. Kita harus menyadari bahwa fungsi Adam pertama kali ketika memberikan nama kepada binatang-binatang, Adam berfungsi sebagai nabi. Sebagai nabi Adam memberikan identitas yang merupakan identitas yang sudah Allah tetapkan sebelumnya. Jadi reinterpretasinya interpretasi Tuhan.
Kemudian cerita hidup kita menentukan identitas kita. Tetapi sayangnya banyak orang salah merangkai cerita hidup mereka. Banyak orang menganalisa ceritanya tidak dikaitkan dengan kebenaran. Psikoanalisis malahan melihat bahwa problema seseorang di masa kini karena cerita dia di masa lalu . Ini sungguh pandangan yang sempit sekali. Padahal seharusnya cerita hidup itu dikaitkan bukan sedekar dengan masalah tetapi dengan kelimpahan hidup. Apalagi kalau seseorang menyadari bahwa di dalam Kristus seorang adalah ciptaan baru dimana yang lama sudah berlalu. Cerita hidup kita menjadi indah kalau dikaitkan dengan Tuhan Allah.
Kembali kepada Paulus, Paulus menyadari identitasnya. Paulus menyadari namanya. Paulus juga menyadari cerita hidupnya. Seringkali dia menyadari bahwa dia adalah orang yang begitu berdosa yang dikasihi Tuhan bahkan dipakai Tuhan. Karena itu cerita masa lalu dia membuat dia begitu giat di dalam pekerjaan Tuhan. Paulus mengenal dirinya. Pertanyaannya apakah kita mengenal diri kita ? Pengenalan diri kita yang bukan saja pengenalan secara relatif tetapi secara tetap yang sesuai dengan realitas yang sesungguhnya. Yaitu pengenalan yang sesuai dengan kacamata Tuhan. Kenalkah kita akan diri kita ?
Paulus mengenal dirinya sebagai rasul. Dia mengenal mengapa dia ada di dalam dunia ini. Salah satu pertanyaan yang penting selain siapakah saya adalah dimanakah saya ? Ini bukan pertanyaan bodoh yang menanyakan letak posisi kita secara geografis. Tetapi pertanyaan ini menanyakan dimana posisi kita dan letak kita di dalam hidup ini. Ini menentukan dimana arah hidup kita dan mau kemana kita melangkah. Paulus di dalam hal ini sangat kenal bahwa dia ada di dalam dunia ini untuk memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan kafir. Kepada orang-orang terpelajar dan tidak terpelajar. Paulus mengenal mengapa dia harus ada di dalam dunia ini. Dia menemukan arti hidupnya dan tujuan hidupnya.
Saudara-saudari, apakah engkau mengenal dimana engkau berada dan apa arti serta tujuan hidupmu ? Apakah engkau mengenal kemana engkau harus melangkah. Apakah engkau mengenal dirimu dengan tepat ? Pengenalanmu akan menentukan kemana engkau akan melangkah. Karena itu renungkanlah hal ini dengan seksama. Kita memerlukan identitas yang bukan relatif. Kita memerlukan identitas yang tetap. Tetapi pertanyaannya dimana kita menemukan identitas yang tetap ?
Paulus mengenal dirinya dengan tetap yaitu dia menjadi rasul oleh kehendak Allah. Ini adalah perpektif Teocentris. Ada perpektif ilahi dimana dia mengenal dirinya dari kacamata Tuhan. Dirinya, Identitasnya, Apa yang harus dia lakukan, tugas dia, semuanya berasal dari Tuhan Allah. Dia mengenal panggilan hidupnya. Dia mengenal calling. Ini sesuatu yang sangat penting.
Setiap orang percaya di dalam dunia ini mempunyai callingnya amasing-masing. Sudahkah engkau mengetahui calling engkau ? Ini bukan cita-cita atau ambisi pribadi. Tetapi ini merupakan visi dari Tuhan Allah. Visi berarti rencana Allah yang dinyatakan kepada manusia. Kita memerlukan visi untuk mengetahui rencana Allah di dalam hidup kita. Untuk itu kita harus bergaul karib dengan Tuhan Allah.
Kembali ke pertanyaan identitas, saya akan simpulkan beberapa poin bahwa untuk mengenal identitas diri yang sebenarnya kita harus mendapatkannya dari :
1. Firman Tuhan sebagai Wahyu Allah
2. Hubungan kita dengan Tuhan dimana Tuhan menyatakan visinya
3. Menyadari panggilan hidup
Dengan mengenal identitas yang sesungguhnya maka kita akan kokoh menghadapi segala macam rintangan di dunia ini. Kita akan kuat menghadapi hidup ini. Kita akan teguh menghadapi segala macam pencobaan. Karena identitas kita tetap dan tidak berubah. Kita ada tujuan yang kekal yang Tuhan Allah sudah tetapkan dimana kita akan mencapainya dalam anugerah Tuhan.
Mari kita berdoa dan merenungkan identitas kita di dalam Tuhan.


Jeffrey Lim
18 Oktober 2007
Jakarta di Institut Reformed
Ketika sadar pentingnya identitas diri, visi dan panggilan Tuhan di dalam hidup.

Read More ....

Monday, October 08, 2007

Manhood and Womanhood in the Bible

Manhood and Womanhood in the Bible
Jeffrey Lim
A. Masalah keluarga dan gender di dalam dunia ini
Manusia adalah mahluk sosial. Manusia adalah mahluk yang berrelasi. Manusia diciptakan oleh Tuhan Allah ada laki-laki dan ada perempuan. Ini sebenarnya sesuatu yang indah di dalam tatanan yang Tuhan ciptakan. Laki-laki sebagai kepala dan wanita sebagai penolong. Tetapi di jaman sekarang banyak problema yang timbul di dalam gender yaitu salah satunya adalah feminisme atau bisa juga masculisme sebaliknya. Ada banyak problema di dalam masyarakat dunia sekarang ini dalam kaitan dengan gender dan keluarga :
1. Ada wanita yang menjadi pemimpin keluarga dimana seharusnya laki-laki yang mengepalainya
2. Ada laki-laki yang berpoligami
3. Ada laki-laki yang mempunyai simpanan
4. Ada laki-laki yang berpandangan wanita itu lebih rendah
5. Perceraian yang semakin banyak
6. Konflik keluarga yang semakin banyak
7. Penyelewengan di dalam keluarga
8. Ada wanita yang mempunyai anak tetapi tidak ingin menikah dan single parent.
9. Homoseksualitas dan lesbian semakin banyak
10. Dll

Ini semua adalah problema yang dihadapi oleh banyak manusia di dalam dunia ini. Keluarga banyak konflik dan masyarakat di ambang kehancuran. Semua ini karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan manusia tidak kembali pada standard kebenaran. Problema Kejadian 3 mengakibatkan relasi keluarga rusak. Adam menuduh Hawa. Adam sebagai kepala menyalahkan penolongnya. Bahkan relasi antara suami istri menjadi kacau. Kej 3:16 menjelaskan
"namun engkau akan berahi ( teshookaw ) kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." ( Kej 3:16 ). Ini berarti laki-laki akan berkuasa terhadap wanita tidak dengan kasih seperti semula tetapi dengan kekuasaan dan wanita juga akan menguasai laki-laki. Berahi di dalam bagian ini kalau kita mau eksegese sebenarnya berarti menguasai. Kata berahi( teshookaw ) ini dipakai di dalam kalimat
"Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda ( teshookaw ) engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." ( Kej 4:7 ). Berahi ini sebenarnya bukan keinginan seksual tetapi keinginan untuk menguasai. Untuk lebih jelas silahkan eksegesis dengan lebih detail.
Karena dosa maka laki-laki dan perempuan akan saling menguasai. Karena dosa maka ada konflik di dalam rumah tangga. Karena dosa maka adanya permusuhan antara manusia dengan manusia. Adanya ketidak percayaan, adanya ketidaksetiaan dan adanya penyelewengan. Semua ini karena manusia sudah berdosa kepada Allah sumber hidup.
Bagaimana supaya manusia kembali kepada tatanan yang benar ? Bagaimana supaya problema keluarga diatasi ? Bagaimana problema gender diatasi ? Kita bukan sekedar menjawab problema tetapi yang penting adalah kembali kepada Tuhan dan apa yang Tuhan nyatakan di dalam FirmanNya.
Tuhan mengatakan bahwa rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Apa yang Tuhan nyatakan dalam FirmanNya adalah rancangan yang mendatangkan kebaikan bagi kita umatNya.
B. Rencana Allah di dalam Alkitab mengenai laki-laki dan perempuan
Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia diciptakan menurut gambar Allah Tritunggal. Untuk mengerti lebih jelas mengenai manusia, kita harus mengenal Allah. Calvin mengatakan bahwa ketika kita mengenal Allah maka kita mengenal diri dan ketika kita mengenal diri maka kita mengenal Allah. Jadi untuk mengenal diri kita harus mengenal Allah Tritunggal.
Allah Tritunggal adalah Allah yang esa tetapi mempunyai 3 pribadi. Ada kesatuan tetapi ada keragaman. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. KetigaNya esa. Di dalam Allah Tritunggal terdapat beberapa prinsip yaitu :
a. Ordo
Adanya ordo ( urutan kekepalaan ) yaitu Allah Bapa kemudian Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Bapa mengepalai Allah Anak. Allah Bapa dan Allah Anak mengepalai Allah Roh Kudus.
b. Kesetaraan
Baik Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus adalah setara dan sama tinggi. Tetapi ada ordonya.
c. Kasih dan pelayanan
Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah kasih. ( 1 Yohanes 4:8 ) Berarti Allah Tritunggal adalah kasih. Kasih merupakan atribut Allah yang sangat penting. Pemazmur sering berkata "Kasih setiaNya untuk selama-lamanya". Kasih Allah adalah kekal adanya. Sebelum Dia menciptakan bumi beserta isinya yang juga termasuk manusia, Dia adalah kasih adanya. Siapakah yang Dia kasihi sebelum ada manusia yang Ia kasihi ?
Allah mengasihi diriNya sendiri. Allah Tritunggal saling mengasihi satu sama lain. Allah Bapa mengasihi Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Anak mengasihi Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Allah Roh Kudus mengasihi Allah Bapa dan Allah Anak. Ketiga pribadi Allah saling mengasihi satu sama lain. Di dalam tiga pribadi ada kesatuan. Dan di dalam tiga pribadi ada satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Hubungan Allah Tritunggal merupakan hubungan yang harmonis. Benar-benar harmonis. Hubungan Allah Tritunggal yang harmonis ini dimana ada keragaman namun ada kesatuan yang harmonis merupakan dasar hidup kita sebagai orang Kristen.
Alkitab juga mengajarkan bahwa ada saling menghargai, saling melayani, saling mengasihi dan saling menganggap yang lain lebih utama di dalam ketiga pribadi Allah Tritunggal. Allah Tritunggal tidak mementingkan pribadiNya sendiri terlepas dari pribadi yang lain namun saling memperhatikan. Perhatikanlahlah Allah Bapa mengasihi dan memuliakan Allah Anak. Di atas gunung Allah Bapa berkata "Inilah Anak yang kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia" ( Matius 17:5 ). Yesus Kristus berkata "BapaKulah yang memuliakan Aku" ( Yohanes 8:54 ). Allah Anak juga memuliakan Allah Bapa. Yesus Kristus berkata :"Bapa, muliakanlah namaMu" (Yohanes 12:28 ). Yesus Kristus mengajarkan doa Bapa kami yang berisi "Bapa kami yang ada di dalam surga, dikuduskanlah namaMu" ( Matius 6:9). Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah Bapa dan Allah Anak saling memuliakan :"Jikalah Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.( Yohanes 13:32 ). Yesus Kristus berkata "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu supaya AnakMu mempermuliakan Engkau." ( Yohanes 17:1 ) . Alkitab mengajarkan Allah Bapa dan Allah Anak saling mempermuliakan satu sama lain. Yesus juga menganggap Allah Bapa lebih besar walaupun Dia setara dengan Bapa: "Aku pergi kepada BapaKu sebab Bapa lebih besar dari pada Aku" ( Yohanes 14:29 )
Allah Anak juga memuliakan dan menganggap Allah Roh Kudus lebih besar dari diriNya. Yesus Kristus berkata "Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak." ( Matius 12:32 ). Demikian juga Allah Roh Kudus memuliakan Allah Anak. Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus mengajar dan mengingatkan orang percaya kepada Kristus : "Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." ( Yohanes 14:26 ). Alkitab mengajarkan mengenai Roh Kudus :"Tetapi apabila Ia datang yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku ( Kristus ), sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada Ku" ( Yohanes 16:14 )
Lalu apa kaitan antara Allah Tritunggal dengan keluarga, laki-laki dan perempuan ?
i. Allah Tritunggal menjadi pola di mana relasi manusia diatur. Karena Allah adalah Allah yang berelasi maka manusia adalah manusia yang berelasi. Karena Allah tidak seorang diri maka manusia tidak seorang diri. Karena adanya ordo di dalam diri Allah maka didalam hidup manusia adanya ordo :
a. Laki-laki dan perempuan
b. Orang tua dan anak
c. Tuan dan hamba
ii. Karena adanya kesetaraan di dalam Allah Tritunggal maka adanya kesetaraan di dalam hidup manusia. Semua manusia adalah setara. Laki-laki dan perempuan adalah setara. Karena Allah Tritunggal adalah saling melayani maka manusia harus saling melayani.
Kembali kepada apa yang Alkitab katakan mengenai laki-laki dan perempuan.
Allah menciptakan manusia menurut pola Tritunggal. Adanya kesatuan tetapi adanya keragaman. Hubungan Allah Tritunggal yang terintim itu dilukiskan di dalam hubungan suami dan istri di dalam relasi perjanjian yaitu pernikahan. Dua menjadi satu dimana di dalam Allah Tritunggal adalah esa tetapi mempunyai tiga pribadi.
Kemudian Alkitab mengajarkan bahwa relasi laki-laki dan perempuan itu dilukiskan di dalam analogi relasi Allah dengan umatNya dan relasi antara Kristus dengan gerejaNya.
Relasi antara Allah dan umatNya dilukiskan di dalam nuansa perjanjian ( covenant ). Apa itu covenant ? Covenant adalah perjanjian antara 2 pihak dimana di dalam relasi adanya komitmen dan adanya satu kesetiaan. Relasi antara kita dengan Tuhan adalah relasi perjanjian. Ini digambarkan dengan nuansa pernikahan. Allah sebagai suami dan umatNya sebagai istrinya. Relasi antara Kristus dengan jemaat juga dilambangkan dengan hubungan suami istri. Ini adalah dalam nuansa perjanjian. Karena itu Alkitab mengajarkan
"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
(Efesus 5:22-25)
Di dalam relasi ini kita bisa belajar beberapa hal yaitu :
a. Ordo
b. Ketaatan
c. Kesetiaan
d. Kasih
e. Pelayanan
f. Pengorbanan
Di dalam relasi ini adalah eksklusif tanpa pihak ketiga, karena itu pernikahan yang Allah inginkan adalah monogami.
To be continued :)
Jeffrey Lim
8 Oktober 2007
Institut Reformed
Menggumuli apa yang Alkitab katakan mengenai laki-laki dan perempuan dan menanggapi tanggapan atas artikel "let man be man and let woman be woman"
Soli Deo Gloria


Read More ....

Sunday, October 07, 2007

Let man be man, Let woman be woman

Let man be man, Let woman be woman
Gender problem as spiritual issue
Jeffrey Lim

Allah menciptakan manusia laki dan wanita sebagai gambar dan rupaNya. Mereka adalah setara namun ada ordonya. Ini adalah hal indah yang Allah ciptakan. Allah sudah menetapkan bahwa laki-laki adalah kepala wanita. Tetapi bukan berarti laki-laki menguasai wanita. Tetapi laki-laki harus menjadi kepala yang mengepalai wanita tetapi dengan kasih dan wanita harus tunduk kepada laki-laki. Ini adalah ordo yang sudah Tuhan tetapkan di dalam dunia ini. Ini adalah satu keindahan yang Tuhan tetapkan di dalam dunia ini. Ibarat Kristus sebagai kepala jemaat, Suami adalah kepala istri. Tetapi seperti Kristus mengasihi jemaat maka suami harus mengasihi istri dan juga seperti jemaat tunduk kepada Kristus. Semua ini akan menciptakan harmoni dan keteraturan di dalam kehidupan kekristenan.

Salah satu permasalahan besar di dunia sekarang adalah permasalahan gender. Dan salah satu yang terberat adalah masalah feminisme. Mungkin kita merasa bahwa feminisme hanya satu fenomena sosial yang biasa terjadi di dalam dunia ini. Bahkan kepala Negara Inggris pun adalah seorang wanita. Sekarang juga kepala Negara amerika dicalonkan seorang wanita. Di bagian-bagian lain yang berskala kecil kita sudah melihat bahwa kekepalaan laki-laki mulai digantikan oleh wanita. Misalnya pemilihan ketua osis memilih wanita.
Apakah feminisme ini hanya fenomena sosial yang berubah saja ? Tetapi sesungguh ini adalah problema yang serius karena sudah melanggar ketetapan ordo yang Tuhan tetapkan di dalam dunia ini. Mengapa feminisme sangat serius dan perlu kita tanggapi di dalam isu kontemporer ini ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus merenungkan satu hal bahwa pelanggaran terhadap hukum yang Tuhan tetapkan di dalam dunia ini akan berakibatkan fatal. Ini pandangan secara aprori.
Realita apa sebenarnya yang terjadi ketika wanita menjadi kepala ?
1. Sebenarnya terjadi pergeseran peran dimana seharusnya laki-laki menjadi kepala dan wanita menjadi anggota. Namun sekarang terbalik.
2. Terjadi perlawanan terhadap natur yang Tuhan ciptakan. Seharusnya laki-laki bersifat maskulin dan wanita bersifat feminin.
Bagaimana jika wanita menjadi kepala ?
1. Ini akan mencenderung mengakibatkan laki-laki menyingkir. Coba renungkan setiap sektor dimana wanita menjadi kepala. Seberapa banyak laki-laki yang mau dikepalainya ? Hanya tipe laki-laki yang “lemah” yang akan menjadi anggota. Akibat ini begitu serius. Karena akan menimbulkan kelompok wanita yang merajalela. Dan akibat dari ini menimbulkan ketidak seimbangan yang mengganggu seluruh kesehatan organisme bagian.
2. Akan menimbulkan budaya yang akan mewariskan kader kekepalaan oleh wanita.
3. Wanita cenderung menyelesaikan masalah secara emosional-detail namun bukan rasional-general. Ini sangat berbahaya sekali di dalam mengambil keputusan-keputusan yang bersifat signifikan bagi sesuatu kelompok.
4. Karena laki-laki sulit dikepalai oleh wanita maka akan terjadi benturan dan masalah tingkat kepercayaan menjadi kecil di antara kelompok.
5. Karena terjadi pergeseran peran dan natur antara dan laki-laki dan wanita dapat mengakibatkan wanita menjadi maskulin dan laki-laki menjadi feminin. Ini menimbulkan dampak terhadap spiritualitas dan dampak sosial budaya.
6. Wanita yang cenderung menjadi kepala dan dominan biasanya sulit mendapatkan jodoh dan membawa efek buruk bagi dirinya dan bagi sekitarnya. Akibatnya banyak wanita lain yang terbawa efek seperti ini di dalam kelompok yang kebanyakan adalah kelompok wanita.
Langkah riskan selanjutnya dari pergeseran gender adalah :
1. Laki-laki tidak menjadi laki-laki dan wanita tidak menjadi wanita.
2. Homoseksualitas dan lesbian semakin merebak
3. Problema sosial dan moral semakin rusak
4. Keluarga semakin berantakan
5. Gereja terancam
6. Kehidupan manusia terancam
Ini semua adalah bahaya dari feminisme.
Alkitab sendiri sudah membahas bahwa pergeseran gender ini serius. Bahkan Misalnya laki-laki yang mengenakan pakaian wanita harus dihukum mati. Koq sedemikian keji ? Bukankah dijaman sekarang banyak laki-laki yang seperti wanita dan wanita yang seperti laki-laki ?
Feminisme ini begitu serius. Dan sekarang kalau kita melihat bahwa di dalam gereja, paham ini sudah mulai masuk ke dalam gereja. Bukankah kita sudah melihat realita bahwa kepala kerohanian dijabat oleh wanita ? Bukankah kita melihat bahwa ada yang berfungsi sebagai kepala keluarga adalah wanita ?
Mungkin ada terdengar pemahaman yang biasa di jaman sekarang bahwa laki-laki itu lebih tidak berdaya dan juga lebih tidak rohani. Ini biasa dikumandangkan oleh wanita yang menganut feminisme. Dari mana pandangan ini berasal ?
Kalau kita selidiki bahwa sebelum jaman revolusi industri, laki-laki dan wanita itu sama-sama bekerja sama di dalam satu usaha untuk keluarga. Suami dan istri bersama-sama bekerja misalnya sebagai tukang roti, dll. Dan anak dibesarkan oleh ayah dan ibu. Pendidikan anak diajakan oleh ayah dan ibu. Karena itu unit pendidikan keluarga sangat lengkap dan menyeluruh. Anak mendapat figur ayah dan kasih sayang ibu.
Kemudian terjadilah revolusi industri dimana laki-laki pergi ke pabrik dan wanita menjadi ibu rumah tangga. Laki-laki pergi bekerja keluar rumah dan ibu bekerja di dalam rumah. Karena itu ibu menjadi “kepala” bagi anak-anaknya selama suami bekerja. Dan ini mengakibatkan pandangan bahwa laki-laki itu kebanyakan suka keluar rumah dan tidak setia sebaliknya wanita itu menjaga keharmonisan rumah tangga sebagai istri setia yang menunggu suami pulang. Ini adalah latar belakang budaya.
Tetapi sesungguhnya konsep bahwa wanita lebih rohani daripada laki-laki ini bukan konsep Biblical. Sejak semula Alkitab sudah menjelaskan bahwa figur Allah adalah maskulin. Bahkan Allah disebut Bapa bukan Ibu. Yesus sendiri adalah laki-laki dan Yesus bersifat maskulin. Bahkan kepala rohani di Alkitab adalah laki-laki semua. 99% adalah laki-laki semua kecuali Debora yang adalah hakim wanita. Tetapi Debora sendiri adalah satu jaman dimana kekacauan spiritual terjadi. Debora menjadi maskulin dan Barak menjadi feminine. Karena Alkitab mengajarkan bahwa kepala adalah laki-laki maka laki-laki tidak lebih kurang rohani dibandingkan dengan wanita. Karena itu dijaman sekarang yang penuh dengan hawa feminisme, spiritualitas maskulin harus dibangun dan ditegakkan.
Untuk membangun spiritualitas ini maka ada beberapa konsep yang harus kita pegang :
1. Laki-laki adalah kepala wanita
2. Kerohanian dikepalai oleh laki-laki
3. Keputusan di tangan laki-laki
4. Wanita harus mendukung laki-laki menjalan perannya
5. Laki-laki harus mengasihi wanita
6. Feminisme harus ditentang habis karena berbahaya.
Karena itu hai laki-laki jadilah laki-laki sejati
Dan hai wanita jadilah wanita sejati.

Jeffrey Lim,
Jakarta 27 September 2007
Setelah merenungkan kuliah mengenai kekepalaan laki-laki





Read More ....

Butuh telinga rohani di jaman sekarang

Butuh Telinga Rohani di jaman sekarang
Jeffrey Lim

”Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. “ (Amsal 2:1-6)

Pendahuluan :
Jaman sekarang adalah banyak budaya gambar. Tetapi lebih sedikit budaya kata-kata. Bahkan sekarang adalah dunia multimedia gabungan gambar dan kata. Namun gambar menjadi lebih dominan. TV, Internet, dunia hiburan menawarkan gambar. Semua itu ada efeknya terhadap hidup kita.
Apa pentingnya kata-kata bagi hidup kita dan mengapa kita harus mempertahankan tradisi kata-kata ? Untuk itu marilah kita renungkan Firman Tuhan. Sebelumnya
Mari kita parsing ayat di atas !

“Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku ( Word ) dan menyimpan perintahku ( Word ) di dalam hatim ( Heart ) , sehingga telingamu ( Ear ) memperhatikan hikmat ( Wisdom ) , dan engkau mencenderungkan hatimu ( Heart ) kepada kepandaian ( Understanding ), ya, jikalau engkau berseru ( Speak ) kepada pengertian ( Understanding ) , dan menujukan suaramu ( Speak ) kepada kepandaian ( Understanding ) , jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam ( Heart ) , maka engkau akan memperoleh pengertian ( Understanding ) tentang takut akan TUHAN ( Fear the LORD ) dan mendapat pengenalan akan Allah ( Understanding ). Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat ( Wisdom ), dari mulut-Nya ( Word ) datang pengetahuan dan kepandaian ( Understanding ).” (Amsal 2:1-6)

Alkitab mengajarkan bahwa orang benar hidup oleh iman. Iman adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan Kristen. Iman adalah dasar hidup orang percaya. Dengan iman kita dibenarkan dengan iman kita disucikan. Dengan iman kita menerima anugerah Allah.
Yang mana lebih dahulu. Mengetahui lebih dulu baru beriman ? Atau beriman dulu baru mengetahui ?
Bagaimana kita bisa beriman kalau kita tidak mengetahui sesuatu ? Bukankah kalau kita beriman kita memerlukan adanya pengertian untuk menjadi dasar ?
Ini perdebatan yang tidak mudah.
Alkitab mengajarkan bahwa iman kita timbul dari pendengaran. Pendengaran akan Firman Kristus. Iman kita adalah berasal dari Firman Tuhan. Sebab Firman Tuhanlah yang memberikan kita bibit iman dan mempertumbuhkan iman kita. Jadi ada kaitan antara Faith and Word. Ada hubungan antara Faith and Logos. Tetapi ada juga hubungan antara Logos dan Hikmat. Dan ada juga hubungan antara Hikmat dan hati. Dan ada hubungan antara iman dan hikmat. Dan ada hubungan antara hati dan iman. Pengertian Firman Tuhan menghasilkan iman. Iman ini datangnya dari pendengaran Firman.
Relasi-relasi :
Faith and Logos
Logos and Wisdom
Wisdom and Heart
Heart and Understanding
Faith and Wisdom
Faith and Hearing
Wisdom and Hearing
Ini adalah relasi organik semua.
Iman timbul dari pendengaran akan Firman. Iman timbul dari Firman Tuhan.
Hikmat datangnya dari mulut Allah. Berarti hikmat datangnya dari Firman Tuhan. Hati yang mencari pengertian akan mendatangkan pengertian.
Hikmat juga datang dari takut akan Allah. Jadi sikap hati seseorang menerima Firman dan takut kepadaNya sangat penting untuk mendapatkan hikmat.
Untuk mendapatkan hikmat seseorang harus mendengar. Karena itu hikmat datang dari Firman Tuhan yang didengarkan. Hikmat juga berkaitan dengan iman dan kita mendapatkan hikmat dengan iman dan Firman.
Semua relasi ini ada kaitannya dengan iman datang dari pedengaran, pendengaran akan Firman Tuhan
Timbul satu pertanyaan ? Mengapa iman timbul dari pendengaran dan bukan dari penglihatan ? Mengapa iman timbul dari mendengar Firman dan bukan dari melihat ? Mengapa metaforanya adalah mendengar ?
Kalau kita pelajari bahwa budaya Ibrani adalah budaya yang mendengar. Sedangkan budaya Yunani adalah budaya melihat. Budaya Ibrani adalah Shema Israel. Dengarlah Israel. Tuhan itu Esa. Kasihlah Tuhan Allahmu dsb. Sedangkan budaya Yunani adalah budaya yang menyelidiki alam semesta dan melakukan penyelidikan empiris.
Dunia Barat dan kemajuannya sekarang diwarisi oleh budaya Ibrani dan budaya Yunani. Dari budaya Ibrani, orang mengenal iman dan dari budaya Yunani, orang mengenal pengetahuan. Ibrani menekankan iman dan Yunani menekankan rasio.
Kembali kepada pertanyaan sebelumnya. Mengapa iman timbul dari pendengaran dan bukan dari penglihatan. Mengapa pakai metafora telinga untuk menjelaskan semua ini ?
Perenungan hari ini akan berpusat pada satu hal yang dinamakan telinga rohani. Telinga rohani ini sangat penting bagi kehidupan orang percaya. Telinga rohani ini bisa menjadikan kita rohani dengan mendengarkan melaluinya. Telinga ini sangat penting bagi kita. Telinga rohani ini begitu penting supaya kita bisa bertumbuh.
Dari mana datangnya iman ? Dari pendengaran Firman dan telinga rohani harus mendengarnya.
Dari mana datangnya hikmat ? Dari pendengaran Firman dan telinga rohani harus mendengar suara hikmat yang berseru-seru.
Dari mana datangnya didikan ? Dari pendengaran Firman dan telinga rohani harus siap menerima teguran dan didikannya.
Dari mana kita mengenal Tuhan ? Dari Firman Tuhan dan telinga rohani harus mendengar suara Tuhan melalui FirmanNya.
Telinga rohani itu sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Mengapa metaforanya memakai telinga ? Ada pepatah bahwa mata adalah jendela jiwa. Tetapi saya juga berpendapat bahwa telinga adalah jendela jiwa juga.
Metafora telinga itu mempunyai arti bagi kehidupan kita yang hendak kita renungkan.
Kita mempunyai 5 inderawi yaitu : mata, telinga, raba, kecap dan cium. Menurut salah satu buku mengenai keindahan ( aesthetic ), 2 inderawi yang paling penting adalah mata dan telinga. Mengapa ? Sebab dua indera ini menghasilkan perenungan yang melebihi sekedar mengerti secara inderawi. Bahkan Alkitab juga menggambarkan kedua hal ini yaitu :
Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. (Mat 13:14-15)
Nah tetapi diantara mata dan telinga, mengapa Alkitab menggunakan metafora telinga untuk menggambarkan bahwa iman datangnya dari pendengaran Firman ?
Satu hal yaitu bahwa beda mata dan telinga itu adalah mata bersifat aktif dan telinga bersifat pasif. Mata harus aktif untuk dapat melihat tetapi telinga selalu siap sedia dan secara pasif menerima setiap bunyi yang ada.
Ambil contoh bila kita sedang istirahat maka semua inderawi kita yang bersifat aktif akan melemah. Tetapi telinga kita yang bersifat pasif tetap siap untuk mendengar. Ini keunikan telinga. Telinga selalu bersikap pasif dan selalu siap here I am. Maka itu sebagai seorang murid kebenaran, kita harus selalu siap seperti telinga untuk mendengar suara Tuhan.
Satu pengertian juga yaitu bahwa telinga itu berkaitan dengan pendengaran dan iman berkaitan dengan Firman dan iman itu selalu harus diproses dengan lama. Proses telinga untuk beriman itu tidak cepat. Telinga itu membutuhkan proses untuk mengerti. Berbeda dengan mata yang dapat dengan sekilas menangkap semua dengan cepat, telinga berproses dengan lambat. Misalnya kita hendak mengerti konsep Allah Tritunggal maka mendengarkan kotbah harus lama dan tidak bisa cepat. Telinga itu harus melewati proses dan tidak mudah.
Demikian juga hidup kita diproses Tuhan itu bukan dengan instan dan cepat. Tetapi harus melewati proses waktu yang panjang. Proses waktu dan ujian itu akan menghasilkan karakter. Ini tidak mudah. Tetapi melewati pergumulan. Demikianlah supaya kita dapat menerima Firman Tuhan, mengerti kehendak Allah, mengenal kebenaran harus memerlukan kesabaran dan didikan seperti telinga harus diproses untuk mengerti satu pengertian.
Jaman sekarang ini adalah budaya gambar lebih dominan daripada budaya kata-kata. Jaman duulu budaya adalah budaya oral. Kemudian tulisan. Dan kemudian gambar atau pada akhirnya adalah multimedia. Oral, berkata-kata, kemudian tulisan dan percetakan, radio, dll. Kemudian TV, Internet, dll.
Tetapi seringkali gambar itu berbeda dengan kata. Ada pepatah bahwa 1 gambar berarti 1000 kata-kata. Sebaliknya 1 kata juga dapat mengandung 1000 gambar. Gambar itu menggunakan mata dan kata menggunakan telinga.
Salah satu keistimewaan gambar adalah cepat untuk ditangkap tetapi kadang maknanya menjadi tidak dalam. Sebab untuk masuk ke dalam perenungan yang lebih dalam diperlukan telinga rohani.
Salah satu kelemahan gambar adalah dia dapat mengaburkan makna. Gambar dapat mereduksi makna. Sebaliknya kata-kata itu lebih mengandung banyak makna. Karena itu di dalam budaya jaman sekarang yang banyak menggunakan gambar daripada kata-kata akan menghasilkan pemikiran yang tidak mendalam. Apalagi jaman sekarang yang semakin berdosa ini banyak menampilkan gambar-gambar simulasi yang akhirnya bisa merusak banyak hal.
Simulasi di realitas maya itu ada beberapa efek negatif :
Membuat orang bosan dengan dunia realitas
Membuat orang tidak berpikir dalam
Bersifat menggugah emosi dan pikiran tetapi bukan dengan kebenaran. Akhirnya akan membawa kepada kekosongan
Bersifat menghibur tetapi pada akhirnya membosankan
Secara tidak langsung banyak mendoktrinasi dan membentuk hidup manusia

Kembali kepada telinga rohani.
Sebagai orang percaya, kita perlu telinga rohani dijaman sekarang. Telinga rohani ini bersedia untuk mendengar dan dikoreksi. Telinga rohani ini bersedia untuk siap sedia mendengar suara Tuhan. Ini yang Tuhan kehendaki. Marilah belajar seperti Samuel yang siap mendengar suara Tuhan. Marilah dengar Tuhan Allah dan mengasihiNya.
Bagaimana supaya kita mempunyai hikmat ?
Bagaimana kita mempunyai iman ?
Bagaimana supaya kita dibentuk dan mempunyai karakter ?
Bagaimana supaya kita memperoleh pengertian dan kepandaian ?
Dengar-dengar dan dengar Firman !

Bagaimana mendengar Firman ? Bukannya seringkali kita membaca Firman dengan mata ?
Ketika kita membaca Firman Tuhan maka ada kita harus membaca dengan keseluruhan inderawi dan keberadaan kita. Hal ini demikian penting karena dijaman sekarang di jaman pasca modern ini banyak sekali godaan yang menawarkan kenikmatan bagi indera-indera kita dan bagi seluruh keberadaan kita. Karena itu, Di jaman sekarang ini kita harus belajar membaca Firman dengan seluruh keberadaan kita. Kenikmatan sejati hanya ada didalam Allah dan FirmanNya yaitu ketika manusia memuliakan Tuhan dan menikmatiNya. Ketika kita membaca Firman kita harus :
Hati kita terpaut kepada Firman dan mencari pengertian
Rasio kita merenungkan Firman Tuhan
Intuisi kita berkontemplatif
Mata kita membaca Firman
Emosi kita digerakkan untuk mengasihi Firman
Kehendak kita mau untuk belajar dan mengenal Tuhan
Telinga kita mendengar suara Tuhan
Lutut kita bersujud.
Tangan kita melipat.. .Untuk lebih jauh coba renungkan Mazmur 119
Ketika sedang membaca Firman maka Jangan hanya menggunakan mata saja. Tetapi gunakan telinga rohani. Renungkan di dalam pikiran kita dengan membaca Firman dan Firman itu berkata-kata buat jiwa kita. Bukan saja kita membaca Firman tetapi biarlah Firman itu membaca hidup kita.
Biarkan Firman itu berkata-kata dan menjadi cermin dan membaca hidup kita. Maka kita akan dibentuk terus oleh Firman Tuhan.
Kiranya renungan ini boleh menjadi berkat bagi kemuliaan nama Tuhan

Jeffrey Lim
BandungRabu, 12 September 2007


Read More ....
Powered By Blogger

LIMPINGEN BLOG