I live in God's creation












Pages

Tuesday, November 07, 2006

Relasi antara Teologi, Filsafat, Apologetika dan Penginjilan

Relasi antara Teologi, Filsafat, Apologetika dengan Penginjilan
Teologi- Filsafat- Apologetika- Penginjilan

“Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis : Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” ( Roma 10 :13-15 )

Bukankah sebelum kita menginjili orang yang belum mengenal Tuhan, pertama-tama kita harus terlebih dulu percaya dan mengenal Injil? Selain itu, bukankah kita juga harus mengetahui dengan jelas dan teguh mengenai apa yang kita percayai? Bagaimana kita dapat menginjili kalau kita tidak tahu apa yang kita percayai? Dalam penginjilan ada sharing pengetahuan, bukan? Pengajaran teologi dan Alkitab yang komprehensif diperlukan dan menolong untuk penginjilan, bukan? Namun sekarang ini kita banyak menyaksikan banyak penginjil yang melalaikan teologi dan sebaliknya banyak teolog yang tidak mengabarkan Injil. Bukankah setelah kita mengerti teologi dengan benar, kita punya tanggung jawab untuk memberitakan kabar sukacita kepada orang lain? Sebaliknya, bukankah bila kita ada kerinduan untuk menginjili orang yang belum mengenal Tuhan, kita harus terlebih dahulu belajar teologi dengan baik sehingga paling sedikit kita tahu pengajaran dasar Kekristenan?

Teologi adalah pengenalan akan Firman Allah secara sistematis dan aplikasinya dalam hidup kita. Teologi yang benar seharusnya menghasilkan aplikasi yang benar. Kita melihat contoh dari Paulus. Bukankah dia mengajar teologi dengan ketat dan sistematis dalam surat-suratnya? dan bukankah dia juga mengabarkan Injil dengan giat? Bukankah dia mengajarkan tentang pemilihan Allah terhadap manusia ( predestinasi ) tetapi dia juga giat menginjili? Bukankah gereja yang percaya predestinasi justru harus giat menginjili? Bukankah dengan adanya predestinasi berarti ada orang pilihan dan dengan demikian itu jaminan adanya orang yang akan percaya dan terlebih lagi kita harus menginjili karena itu juga perintah Tuhan? Jadi, kesimpulan pertama orang yang mengerti teologi, berkewajiban untuk menginjili dan orang yang menginjili harus punya dasar teologi. Penginjilan harus didasarkan pada teologi dan teologi harus didasarkan pada wahyu Allah dalam Alkitab. Ini relasi antara teologi dan penginjilan.

“Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami akan menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus” ( 2 Korintus 10:4-5 )

Ketika kita berhadapan dengan orang yang kita injili, kita akan berhadapan dengan kubu-kubu buatan manusia dan ideologi filsafat. Kita akan berhadapan pikiran yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Sebenarnya pengertian filsafat ( philosophy ) sendiri adalah cinta bijaksana ( philea = cinta , sofie = bijaksana ). Filsafat berusaha mengerti natur dan realitas dunia ini. Filsafat berusaha mengerti mengenai pengetahuan, etika, kebenaran, dan segalanya. Tetapi dapatkah manusia yang rasionya sudah jatuh dalam dosa mengerti kebenaran? Dapatkah manusia berdosa mengerti realita ini tanpa wahyu dari Tuhan? Tanpa wahyu Tuhan, manusia tidak bisa mengerti dengan realiti sesungguhnya. Tanpa wahyu Tuhan, filsafat tidak menemukan terang iluminasi namun hanya meraba-raba di dalam kegelapan.

Jadi apa tujuan belajar filsafat bagi orang Kristen? Selain untuk menambah wawasan, dengan belajar filsafat, kita dapat mengerti pikiran dari orang yang ingin kita injili, kesalahan pikirannya dan dengan pengertian teologi yang benar, kita dapat menunjukkan pikirannya yang salah dan tidak konsisten. Dan kemudian memberitakan Kristus yang adalah Jalan Kebenaran dan Hidup ( Yohanes 14:6 ). Ini relasi antara teologi, filsafat dan penjililan.

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka yang menfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” ( 1 Petrus 3:15-16 )

Orang yang akan kita injili seringkali juga mempunyai pikiran yang melawan dan menyerang kebenaran kekristenan. Tugas dari apologetika ( apologia = membela ) adalah membela iman Kristen. Dalam menginjili, kita perlu mempertahankan kebenaran iman Kristen dan mungkinkah kita mempertahankan iman Kristen bila kita tidak mengerti teologi dengan baik? Jadi sebelum kita mempertahankan kebenaran iman Kristen, kita terlebih dahulu harus mengerti teologi. Kesimpulannya : apologetika bergantung kepada teologi yang benar bahkan apologetika adalah subdivisi dari teologi.
Apologetik dibedakan menjadi 3 : sebagai pembuktian, sebagai pembelaan dan sebagai penyerangan. Dalam mempertahankan kebenaran, kita tidak diam sampai mempertahankan kebenaran saja tapi kita akan menyerang pikiran lawan kita dengan kebenaran. Jadi apologetika bukan hanya defensif tapi terutama juga ofensif. Tujuannya untuk mempertahankan kebenaran, membuka ketidakbenaran dan juga memberitakan kebenaran.
Dalam tugasnya, berapologetika tidak terlepas dari teologi dan filsafat. Tujuan apologetik juga bukan supaya kita menang tetapi untuk memenangkan jiwa. Ini adalah relasi dari teologi, filsafat, apologetika dan penginjilan. Keempatnya saling berkaitan dan teologi yang merupakan pengenalan firman Tuhan adalah porosnya.

Sebelum menutup artikel singkat ini penulis akan memaparkan prinsip-prinsip penting dalam penginjilan:
1.   Penginjilan harus disertai doa.
2.   Penginjilan harus bergantung kepada Roh Tuhan.
3.   Penginjilan adalah peperangan rohani untuk memenangkan jiwa orang. Bila kita menyadari hal ini, prinsip nomor 1 dan 2 harus kita pegang dengan teguh.
4.   Apologetika untuk memenangkan jiwa dan untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk memenangkan perdebatan.
5.  Belajar teologi secara sistematis dan firman Tuhan yang ketat akan menolong kita dalam menginjili dan menjelaskan Firman.
6.  Namun hati yang tergerak untuk memenangkan jiwa, bergantung kepada Tuhan, dan doa, adalah yang terutama dan yang terpenting. Dalam hal ini penulis melihat penginjil seperti D.L Moody yang mempunyai pengetahuan Firman yang kurang tapi mempunyai hati, semangat cinta jiwa dan memenangkan banyak jiwa. Namun bukan berarti kita tidak belajar Firman untuk menginjili orang. Sebab ini adalah tanggung jawab kita.
7.   Belajar filsafat harus hati-hati dan selalu menaklukkannya kepada Firman Tuhan.

Jeffrey Lim
email : limpingen@gmail.com

Read More ....

Problem of Cloning

Problem of Cloning
From One Side of Christian Philosophy Perspectives

I praise you because I am fearfully and wonderfully made (Psalm 139 :14)

What is man that you are mindful of him, the son of man that you care for him? 
(Psalm 8:4)
You made him a little lower than God and crowned him with glory and honor 
(Psalm 8:5)
 
So God created man in his own image, in the image of God he created him; male and female He created them.
(Genesis 1 : 27)

Kelahiran domba dolly membangkitkan banyak pertanyaan-pertanyaan secara teologis, filosofis, sosial dan etika.
“Apakah ada batasan moral dan teologis terhadap teknologi?”Dan pertanyaan moral yang lebih jelas yaitu : bolehkah manusia mengkloning manusia ?”“Apakah di sini manusia sedang berperan sebagai Allah?”
Problem dan dilema yang dihadapi oleh manusia dalam hal kloning tidak sesimple yang dibayangkan. Dan thesis pertama yang dibuat di dalam artikel ini ialah,“Bila manusia mengkloning manusia maka manusia harus meredefinisi apa itu manusia?”
Apakah maksudnya? Redefinisi adalah mendefinisikan kembali. Apakah maksudnya manusia harus meredefinisi manusia?
Apakah itu manusia? Apakah natur dari manusia itu?
Filsuf dari barat, Aristoteles mengatakan bahwa manusia itu manusia karena manusia mempunyai rasio. Rasio, intelek dan kemampuan berpikir ini yang membedakan manusia dari binatang. Dan ini berarti manusia disebut manusia karena manusia bisa berpikir. Ini definisi manusia dari para filsuf.
Filsuf dari Timur, Mencius mengatakan bahwa manusia itu manusia karena manusia mempunyai hati nurani ( liang sin ). Ketika manusia melihat orang lain menderita maka hati nuraninya tersentuh. Juga filsuf dari Jerman, Immanuel Kant mengatakan bahwa di dalam manusia ada yang disebut imperative categorical yang memerintahkan manusia untuk melakukan hal yang baik dan bermoral. Ini definisi manusia dari para filsuf.
Pikiran Barat mengatakan manusia mempunyai rasio dan pikiran timur mengatakan manusia mempunyai hati nurani, namun apa kata Alkitab?
Alkitab berkata bahwa manusia itu disebut manusia karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27). Definisi manusia dalam Firman Tuhan adalah manusia diciptakan (bara ( Ibrani ), created by divine) oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Gambar dan rupa Allah berarti manusia berasal dari Allah, , diciptakan oleh Allah, ada bagian dari manusia yang mirip Allah dan manusia bertujuan untuk kemuliaan Allah. Gambar dan rupa Allah berarti manusia mempunyai bagian yang rohani, bagian yang kekal. Gambar dan rupa Allah berarti juga seperti yang telah disebutkan di atas oleh para filsuf yaitu bahwa manusia mempunyai rasio, emosi, hati nurani, intelektual, kemauan, dan lainnya. Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah.
Kata menciptakan di dalam ibrani ada beberapa yaitu : "bara" yang berarti diciptakan oleh Allah dan "asah" yang dipakai dalam buatan manusia.

Bila tidak ada cloning maka definisi mengenai manusia adalah :
“Semua manusia disebut manusia karena manusia diciptakan (bara) menurut gambar dan rupa Allah”
Bila kloning ada, maka definisi mengenai manusia adalah harus sebagai berikut :
“Semua manusia diciptakan (bara) menurut gambar dan rupa Allah”
“Ada manusia yang segambar dan rupa dengan Allah yang lahir secara natural”
“Namun sebagian manusia yang dicipta (bara) menurut gambar dan rupa Allah ( imago dei), diciptakan (asah) oleh manusia menurut gambar dan rupa manusia (imago mei)”

Akibatnya yaitu :
Apakah manusia yang dikloning itu bisa disebut manusia?
Apakah manusia yang dikloning itu sama dengan manusia normal?
Jawabannya juga tidak simple.
Bila jawabannya adalah sama, apakah ini benar? Mengapa manusia kloning ini mengalami proses yang tidak sama dengan manusia normal? Mengapa manusia kloning ini lahir dengan cara yang pada dasarnya berbeda dengan orang normal?  Mengapa orang akan memandang manusia kloning dengan berbeda?
Bila jawabannya adalah manusia kloning ini tidak sama dengan manusia normal, maka muncul banyak pertanyaan lain yaitu :
1. Kasih.
Apakah manusia kloning ini berhak mendapatkan kasih dari seperti orang normal dari keluarganya? Bukankah manusia secara naturnya perlu kasih dari orang tua? Apakah manusia kloning ini akan mendapatkan kasih? Bila ya, apakah manusia ini akan dapat kasih dengan normal? Jawabannya sulit. Namun bila manusia kloning ini tidak mendapat kasih secara normal , etiskah untuk mengkloning manusia? Bukankah kasihan bagi manusia kloning ini? Bukankah ini akan menimbulkan penderitaan bagi manusia kloning ini dan juga untuk masyarakat?
2. Hak hidup.
Apakah manusia
kloning ini mempunyai hak yang sama seperti manusia normal? Bila ya, mungkinkah manusia kloning ini mencapai dan mendapatkan hak hidup yang sama seperti manusia normal ?
3. Identitas diri dan tingkah laku.
Apakah hak manusia
kloning ini dapat hidup dan mempunyai identitas dirinya dengan sehat? Bagaimana manusia kloning ini memahami dirinya bila dia sadar bahwa dia berbeda dengan manusia normal? Apakah identitas dirinya tidak terganggu dan hidupnya tidak terganggu?
4. Aspek fisik, sosial, mental dan rohani.
Mungkinkah manusia
kloning hidup sehat secara fisik, mental, sosial dan rohani?
5. Masyarakat.
Apakah masyarakat bisa menerima manusia
kloning ini dengan baik? Apakah mungkin terjadi pengasingan? Apakah mungkin timbul problem sosial baru?

Semua pertanyaan secara filosofis ini menyatakan bahwa problem kloning ini bukanlah sekedar boleh atau tidak. Hal yang terutama adalah apakah scientist dan orang yang meng
kloning dapat menjamin kehidupan manusia kloning dan kesejahteraannya. Bila ya, apa jaminannya? Bila tidak, apakah ini berarti tidak mempedulikan kehidupan manusia kloning ini? Lebih baik hidup di dalam batas tertentu dari pada menghancurkan kemanusiaan.

Jeffrey Lim
email : limpingen@gmail.com

Bibliography
1. Kothbah Pdt Joshua Lie, M Phil
2. Systematic Theology , Louis Berkhoff
3. Peta dan Teladan Allah, Stephen Tong
4. Human Cloning, Ronald Cole Turner
5. Introduction to Philosophy, Ronald N Nash

Read More ....

Is Christianity a Rational Belief?

Is Christian Theism a Rational Belief?

Christian Theism percaya bahwa ada Allah yang adalah personal yang menciptakan manusia dan dunia ini, dan bahwa Allah adalah Allah yang maha kuasa, maha tahu, maha kudus, maha hadir. Christian Theism juga percaya bahwa selain pencipta, Allah juga adalah Allah yang memelihara dan menopang dunia ini.
Pertanyaannya adalah : apakah Christian Theism adalah kepercayaan yang bersifat rasional? Apa itu rasional? Seseorang disebut rasional bila dia percaya sesuatu yang sesuai dengan standar yang tepat. Nah! Apakah orang Kristen rasional dengan kepercayaannya? Tidak! Ini adalah tanggapan orang dunia yang mengatakan bahwa kepercayaan Christian Theism itu tidak rasional. Tidak rasional itu berarti tidak sesuai dengan rasio. Jadi orang dunia berpresuposisi bahwa manusia mempunyai akal budi atau rasio, dan dunia ini adalah dunia yang rasional namun Christian Theism adalah kepercayaan yang tidak rasional.

Kepercayaan Christian Theism juga banyak diserang oleh tokoh-tokoh terkenal di dalam sejarah. Karl Marx, seorang tokoh komunis berkata bahwa Religion is the opium of the masses. Dan juga Sigmund Freud ( Bapak psikologi ) menyatakan beberapa statement, pertama : Religion is an illusion and it derives its strength from the fact that it falls in with our instinctual desires. Kedua : Religion is a mass delusion or paranoid wish-fulfilment. Ketiga : Religion is a "universal obsessional ritual". Dan seorang tokoh filsafat atheis yang bernama Nietzsche yang melawan Kekristenan dan yang mempengaruhi Hitler berkata bahwa Allah sudah mati ( God is dead ).
Apakah Theism itu kepercayaan yang rasional? orang scientist mengatakan bahwa Theism adalah tidak rasional. Mengapa? Christian Theism itu tidak rasional karena keberadaan Allah tidak bisa dibuktikan secara empiris. Allah tidak bisa dilihat dengan indera mata, tidak bisa disentuh oleh indera kulit, tidak bisa dicium, tidak bisa didengar suaranya. Jadi karena Allah tidak bisa dibuktikan dengan pengalaman manusia, maka kepercayaan bahwa  Allah itu ada, tidak rasional.

Bila dipaparkan, maka logika silogismenya adalah seperti ini :
Premis major 1 : Jika sesuatu itu ada maka keberadaannya harus dapat dibuktikan dengan pengalaman atau percobaan secara empiris. Bila tidak, keberadaan sesuatu itu dipertanyakan.
Premis minor 1 : keberadaan Allah tidak bisa dibuktikan secara empiris.
Konklusi 1 : keberadaan Allah dipertanyakan.
Atau logika lainnya adalah seperti ini :
Premis major 2 : Suatu kepercayaan disebut rasional bila didukung oleh bukti empiris. Bila tidak ada bukti empiris, suatu kepercayaan ini dipertanyakan kerasionalannya.
Premis minor 2 : Kepercayaan Christian Theism mengenai Allah tidak bisa dibuktikan secara empiris.
Konklusi 2 : Kepercayaan Christian Theism mengenai Allah dipertanyakan kerasionalannya.

Apakah Christian Theism itu kepercayaan yang rasional? Bagaimana kita sebagai orang Kristen menjawab pertanyaan ini? Kalau konklusi yang diberikan oleh orang dunia itu benar, yaitu bahwa Theism tidak rasional, maka bukankah kepercayaan kita terhadap Allah itu sesuatu yang salah secara rasional? Kalau kepercayaan akan Allah tidak masuk akal dan salah, bukankah kita yang percaya kepercayaan itu adalah bodoh atau terobsesi ( seperti yang dikatakan oleh Freud )?
Apakah Christian Theism itu kepercayaan yang rasional? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita telusuri pikiran antitheism yang meaningless. Pertama, kita telusuri pikiran dari atheis yang paling menentang Kekristenan, selain secara pribadi juga secara akademis yaitu pikiran Frederick Nietzsche. Tidak ada seorang yang menyerang pola pikir Kekristenan secara gencar sekali ( Christian theistic worldview ) selain Frederick Nietzsche. Nietzsche berthesis bahwa Allah sudah mati ( God is dead ). Allah sudah mati berarti bahwa tahayul yang terbaik sudah mati. Maka manusia boleh bersukacita dan berbuat seenaknya. Mengapa? Karena Allah yang adalah Tuhan sudah mati. Kemudian Nietzche mengemukakan konsep manusia sebagai Superman ( uberman ). Manusia adalah perjalanan dari binatang menuju superman. Kita lihat apa akibat dari pikiran anti theism ini. Hidup Nietzsche penuh dengan sakit penyakit dan dia juga akhirnya menjadi gila akibat filosofinya. Pikirannya ternyata bukan juruselamat dunia namun sebuah perusak besar. Pikiran Nietzsche ini mempengaruhi Adolf Hitler dan akibatnya adalah pembunuhan massal karena konsep dari Nietzche ini. Lihatlah realita bahwa pikiran anti theism ini meaningless.
Apakah Christian Theism itu kepercayaan yang rasional? Ya! Betul. Namun bagaimana dengan logika dari para scientist di atas yang mempertanyakan kerasionalan Christian Theism dengan silogisme diatas? Mari kita serang dan berapologetika mengenai pola pikir logika silogisme yang dipaparkan di atas. Logika dari apologetika ini akan menolong untuk balas menyerang pola pikir yang menyerang Kekristenan.

Pertama, Premis major 1 adalah “Jika sesuatu itu ada maka keberadaannya harus dapat dibuktikan dengan pengalaman dan percobaan secara empiris.”Premis ini sendiri adalah salah. Mengapa? Karena premis ini sendiri ada self-referential absurd. Apa maksudnya? Yaitu Premis ini salah bila diterapkan ke dirinya sendiri. Yaitu apakah prinsip “Jika sesuatu itu ada maka keberadaannya harus dibuktikan dengan pengalaman dan percobaan secara empiris”ada ( exist )? Ya, prinsip ini tentunya harus ada untuk menekankan pernyataan di dalam prinsip ini. Bila prinsip ini tidak ada, maka prinsip ini tentunya salah sebab prinsip ini tidak bisa dinyatakan dan ditekankan seperti sekarang ini. Namun bila prinsip ini ada maka sesuai dengan prinsip ini yaitu semua yang ada harus ada bukti secara empiris atau pengalaman. Pertanyaannya : Apakah prinsip ini dapat dibuktikan secara empiris? Dibuktikan dengan pengalaman? Pasti tidak bisa, bukan? Dengan percobaan laboratory atau dengan indera mata, telinga, kulit, hidung, mulut, prinsip ini tidak bisa dibuktikan. Kalau begitu prinsip ini bertentangan sendiri sebab prinsip ini ada namun tidak bisa dibuktikan secara empiris. Konklusinya adalah, karena prinsip ini tidak bisa dibuktikan secara empiris maka prinsip ini dipertanyakan keberadaannya. Namun prinsip ini ada. Jadi self-defeating. Dan ini adalah tanda error.

Kedua, mengenai premis major 2 yang mirip logikanya dengan premis major 1. Premis major 2 adalah “Suatu kepercayaan disebut rasional bila didukung oleh bukti empiris.”Pertanyaannya, apakah prinsip ini suatu kepercayaan yang rasional? Bila ya, maka prinsip ini harus bisa dibuktikan secara empiris atau pengalaman. Dan kepercayaan premis major ini sendiri secara prinsip tidak bisa dibuktikan secara empiris, jadi kepercayaan akan premis ini sendiri dipertanyakan. Maka premis ini sendiri adalah self-defeating. Dan ini adalah tanda error.
Apakah Christian Theism itu kepercayaan yang rasional? Jawaban sebagai orang Kristen yang kita berikan adalah: Ya! Christian Theism adalah rasional dan masuk akal! Dan lebih dari itu, kita menantang dan menekankan bahwa kepercayaan antitheismlah yang tidak rasional. Mengapa? Sebab tanpa Christian Theism, banyak hal yang tidak bisa dijawab. Apa maksudnya? Tanpa Christian Theism, banyak pertanyaan filosofis yang tidak bisa dijawab. Pertanyaan-pertanyaan filosofis itu adalah dari epistemology ( about knowledge ), ontology ( about being ) dan juga ethics ( about doing ). Dapatkah manusia puas atas jawaban secara epistemology, ontology, ethics, dan lainnya tanpa theism?

Pertanyaan-pertanyaan filosofis yang tidak bisa dijawab dengan memuaskan tanpa Christian Theism adalah:
1. Pengetahuan
Apa itu pengetahuan? Apa natur dari pengetahuan? Dari mana asalnya pengetahuan itu? Mengapa manusia punya pengetahuan? Apa itu logika? Darimana asalnya logika? Mengapa manusia berlogika dan hewan tidak? Bukankah Allah yang adalah Logos ( Firman ) adalah sumber dari pengetahuan?
2. Kebenaran
Apa itu kebenaran? Apa standard kebenaran? Dari mana sumber kebenaran itu? Bukankah Allah adalah jawaban atas kebenaran?
3. Makna hidup
Apa makna dari hidup ini? Dimana arti hidup ini? Apa tujuan hidup ini? Apa yang membuat hidup bermakna? Yang membuat hidup bermakna adalah kasih, tujuan hidup, pengetahuan dan kebenaran. Kasih - Apa itu kasih? Siapa sumber kasih? Mengapa kasih membuat hidup bermakna? Dari mana kasih itu? Mengapa manusia butuh kasih? Bukankah Allah yang sumber kasih adalah jawaban apa itu kasih?
4. Etika
Mengapa kita harus beretika? Apakah dasar etika? Mengapa manusia beretika? Immanuel Kant berkata bahwa ada hal yang menakjubkan dia yaitu imperative categorical di dalam hati yang menyuruh manusia berbuat baik. Dari mana hati nurani yang menyuruh kita berbuat baik itu? Bukankah Christian Theism mengajarkan bahwa Tuhan adalah sumber kebenaran dan etika dan Dia menanamkan hukum-Nya di dalam manusia?
5. Manusia
Siapakah manusia itu? Apa natur dari manusia itu? Mengapa manusia berbeda dengan binatang? Manusia ada rasio, hati nurani, sifat kekekalan, sifat kreatif, sifat sosial. Bukankah gambar dan rupa Allah adalah jawaban untuk natur manusia?
6. Fellowship
Kenapa manusia adalah mahluk sosial? Kenapa manusia berfellowship? Bukankah Allah Tritunggal yang tunggal namun jamak adalah jawaban untuk mengapa manusia yang segambar dengan-Nya itu berfellowship?
7. Evil
Apa itu evil? Mengapa ada kejahatan di dunia ini? Bukankah dosa adalah jawaban yang rasional mengenai kejahatan?
8. World
Dari mana dunia ini? Mengapa ada something daripada nothing?
Orang dunia menjawab pertanyaan ini salah satunya adalah dari big bang theory, namun mungkinkah sesuatu yang nothing menghasilkan something? Sesuatu yang impersonal menghasilkan yang personal? Bukankah Allah adalah jawaban dari mengapa ada something daripada nothing di dunia ini? Bukankah creation ex nihilo ( menciptakan dari tidak ada ) adalah jawabannya?
9. Design
Mengapa di dalam dunia ini adalah suatu design? Mengapa adanya keindahan, adanya entity yang penuh dengan karya seni dan design didalam dunia ini? Mengapa sepertinya ada intellegent yang mendesign dunia ini? Dapatkah anda menjawabnya? Dari mana datangnya design ini? Bukankah Allah sebagai intellegent design adalah jawaban dari pertanyaan mengenai dunia yang penuh design ini?
10. Religious Experience
Bukankah manusia mengalami pengalaman beragama? Dari mana pengalaman beragama ini? Mengapa di dunia ini, di mana ada manusia, di situ ada agama ? Dari mana sense of divinity ini ( perasaan keilahian = from John Calvin )?

Dari 10 pertanyaan filosofis, apakah antitheism dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini? Bukankah Kekristenan itu rasional untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar dari manusia mengenai reality?

Jeffrey Lim
email : limpingen@gmail.com

Bibliography :
Can Man live without God - by Ravi Zacharia
Faith and Reason - by Ronald N Nash
Ultimate Questions - by Ronald N Nash
Karl Marx - http://www.top-education.com/Speeches/KarlMarx.htm
Sigmund Freud - http://www.freud.org.uk/religion.html
Sigmund Freud- http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/s/q139170.html
Institutio – John Calvin

Read More ....

Experiential Theology and Reformed Theology

Experiential Theology and Reformed Theology
Experience and Word of God 

Kekristenan dalam menegakkan kebenaran menghadapi banyak tantangan, baik dari luar yaitu dari filsafat sekular dan kepercayaan lain dan juga dari dalam yaitu dari ajaran yang tidak sehat. Pada abad 20, di dalam Kekristenan berkembang teologi yang berdasarkan pengalaman (experiential theology) dimana cara mengenal teologi (Firman Tuhan) berbeda dengan Kekristenan ortodoks dan prinsip-prinsip dalam menafsirkan Firman Tuhan sudah diselewengkan. Ajaran ini terus berkembang sampai pada abad 21 dan kita harus waspada dan kritis menanggapi ajaran ini. Maka dari itu, tujuan penulis menulis artikel ini adalah untuk menjelaskan mengenai teologi yang berdasarkan pengalaman, mengapa ajaran ini tidak benar dan juga menjelaskan prinsip-prinsip yang kembali kepada Firman Tuhan sesuai dengan ajaran para reformator.

Pertama-tama kita harus terlebih dahulu mengetahui apa itu teologi yang berdasarkan pengalaman (experiential theology). Dalam metode (methodology) untuk mengenal kebenaran Allah atau teologi, prinsip dari experiential theology adalah mengenal kebenaran Allah berdasarkan dari pengalaman, baik secara empiris atau intuitif. Misalnya saya mendapat mimpi dan wahyu dari Tuhan dan pengalaman saya ini adalah kebenaran. Atau contoh lain misalnya saya merasa Tuhan berkata di dalam pikiran saya untuk melakukan tugas tertentu dan pengalaman ini adalah kebenaran.

Pertanyaan yang harus kita pikirkan adalah : tahu dari mana bahwa pengalaman saya itu adalah kebenaran? Dapatkah kita membenarkan (justify) pengalaman saya sebagai kebenaran? Berdasarkan dari otoritas apa pengalaman saya sebagai standar kebenaran? 
Seringkali jawaban dari pertanyaan ini adalah saya tahu pengalaman saya ini benar karena dari hubungan saya yang dekat dengan Tuhan. Dari sini muncul pertanyaan lagi, tahu dari mana hubungan saya dekat dengan Tuhan? Jawabannya seringkali circular yaitu dari pengalaman saya dengan Tuhan yang orang lain tidak bisa tahu. Tapi, benarkah anda sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan dan benarkah pengalaman anda itu kebenaran? Apakah pengalaman anda itu dapat dijadikan patokan kebenaran? Dan pertanyaan yang lebih tajam adalah adakah kemungkinan bahwa pengalaman anda tidak benar? Kalau jawabannya tidak mungkin karena pengalaman saya dengan Tuhan yang berdasarkan hubungan saya dengan Tuhan itu pasti benar, benarkah ini? Bukankah manusia tidak sempurna dan penuh kelemahan? Kalau begitu, manusia yang tidak sempurna tidak luput dari kesalahan, bukan? Kalau manusia tidak luput dari kesalahan maka pengalaman saya pasti mungkin bisa salah, bukan? Kalau pengalaman saya bisa salah, bolehkah kita menjadikan pengalaman saya sebagai standar kebenaran? Kalau boleh, bukankah standar kebenaran ini jadi bisa salah? Kalau standar kebenaran ini bisa salah maka standar kebenaran ini tidak bisa menjadi standar kebenaran, bukan? Dan berarti kita harus mencari standar kebenaran yang tidak mungkin salah.

Ada beberapa argumen mengapa teologi yang berdasarkan pengalaman tidak bisa dijadikan standar kebenaran :
1. Seperti pada argumen di atas bahwa manusia itu tidak luput dari kesalahan maka pengalaman manusia mungkin salah.
2. Indera manusia mungkin salah dalam melihat fenomena alam seperti melihat tongkat yang bengkok di dalam air yang sebenarnya tongkat itu adalah lurus. Jadi pengalaman indera manusia bisa salah. Demikian juga dengan pengalaman intuitif manusia dapat juga salah yang dibuktikan dengan pengalaman sehari-hari dimana pengalaman intuitif kita kadang salah.
3. Kondisi fisik dan mental dapat mempengaruhi seseorang dalam pengalamannya.
4.Setan dan iblis dapat juga mempengaruhi pengalaman seseorang. Dan setan dan iblis dapat memalsukan pengalaman.
5. Pengalaman itu subjektif dan dapat berbeda-beda bagi setiap orang.
Pengalaman seseorang tentang "kebenaran" mengenai hal A kadang tidak sesuai dengan pengalaman orang lain tentang "kebenaran" mengenai hal A. Mungkinkah kebenaran mengenai satu hal itu berbeda? Bukankah ini tidak sesuai dengan hukum logika (law non contradiction) yang mengatakan bahwa A tidak mungkin A dan Non A pada saat yang bersamaan.

Jika pengalaman dijadikan standar kebenaran, ini sulit untuk diuji karena ini berarti dirinya sendiri yang menjadi standar kebenaran. Padahal pengalaman itu subjektif dan perlu diuji bukan? Namun bagaimana bisa diuji kalau dirinya adalah standar untuk menguji? Bukankah kalau standar kebenaran adalah dirinya yang menguji kebenaran lain? Problemnya yaitu pengalaman yang dijadikan standar kebenaran itu sendiri bisa salah.

Kesimpulannya yang ditarik dari argumen-argumen diatas ialah: bahwa dalam mengenal teologi, teologi berdasarkan pengalaman (experiential theology) tidak dapat dijadikan standar kebenaran karena pengalaman bisa salah.

Kalau begitu, bagaimana metode (methodology) untuk mengenal teologi yang benar? Reformed Theology yaitu teologi yang setia kepada prinsip-prinsip Firman Tuhan memberi jawaban mengenai bagaimana metode untuk mengenal teologi dengan benar. Reformed Theology mengajarkan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya melalui alam yang disebut general revelation atau wahyu umum (Mazmur 19:1-4) dan Allah juga mewahyukan diri-Nya melalui Yesus Kristus dan Kitab Suci yang disebut special revelation atau wahyu khusus (Mazmur 19 : 7-8). Kunci mengenal teologi adalah wahyu Allah dimana Allah mewahyukan diriNya kepada manusia.

Reformed Theology berpresuposisi (beranggapan dasar) bahwa :
1.  Allah ada (exist)
2. Allah mewahyukan diri-Nya melalui general revelation/wahyu umum (nature, conscience) dan special revelation/wahyu khusus (Jesus Christ , The Scripture)
3.  Roh Allah memimpin umatnya dalam memahami wahyu Allah (Yohanes 16:13)

Karena ada wahyu dari Tuhan maka kita bisa mengenal Allah dan kehendak-Nya. Reformed Theology mengajarkan prinsip-prinsip dalam mengenal teologi, yaitu :
- Firman Tuhan (Alkitab) adalah standard kebenaran
- Pengalaman harus diuji oleh Firman Tuhan (Alkitab).
- Pengalaman harus dihakimi oleh Firman Tuhan.
- Firman Tuhan lebih tinggi dari pengalaman.
- Firman Tuhan adalah otoritas tertinggi dan mutlak, pengalaman itu subjektif dan tidak mutlak.

Dan Reformed Theology berprinsip The Scriptures of the Old and New Testaments, Having Been Given By Inspiration of God, Are the All-Sufficient and Only Rule of Faith and Practice, and Judge of Controversies. Ini adalah prinsip sola scriptura dari Reformed Theology. Dan juga prinsip untuk menafsirkan Alkitab dari Reformed Theology adalah Scripture explain scripture. Alkitab menjelaskan Alkitab. Bagian yang tidak jelas dari Alkitab dijelaskan oleh bagian yang jelas.

Kesimpulan dari tulisan ini ialah mengenal teologi yang benar adalah dari wahyu Allah (scripture), wahyu Allah yang adalah standar kebenaran yang ditafsirkan dengan benar dan oleh kesaksian dari Roh Kudus. Semua pengalaman harus diuji oleh standar Firman ini. Kiranya hidup kita dapat terus berpegang pada prinsip Firman Tuhan. Berbahagialah orang yang senantiasa merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam. (Mazmur 1)

Sola Scriptura (Only Scripture)
Jeffrey Lim
email : limpingen@gmail.com

Bibliography :
Charismatic Chaos by John Macarthur
Outline of Theology by A A Hodge
Systematic Theology by Louis Berkhoff
Westminster Confession of Faith

Read More ....

Friendster as Virtual Community

Friendster as Virtual Community 

Di dunia postmodern sekarang ini dengan berkembangnya cyberspace, ada yang dinamakan komunitas maya. Friendster yang kita pakai sekarang ini adalah salah satu contoh komunitas maya. Setiap orang di dunia berkumpul menjadi satu di dalam internet dan bisa melakukan komunikasi. Setiap orang di dunia dapat melihat foto temannya dan bisa mengirim message. Dengan adanya internet membuat jarak bukan lagi masalah di dalam komunikasi. Tetapi ada something missing, yaitu personal touch (sentuhan pribadi).

Marilah kita renungkan lebih dalam. Apa itu komunitas? Apa itu hidup sosial? Apa itu persekutuan? Apa itu pergaulan? Marilah kita lebih dalam memikirkan natur komunitas ini! Apakah komunitas maya seperti friendster itu benar-benar komunitas? Apakah ini dapat menggantikan persahabatan yang bertemu secara langsung? Ataukah kita sedang mimpi bersahabat di dunia maya yang mungkin tidak sesuai dengan realitas?

Satu ironi yang besar, ketika orang-orang berkumpul di cyberspace dan menjadi satu di internet, orang itu merasa sekaligus terasing dan terpisah dengan sosial. Coba renungkan benarkah dengan komunitas maya kebutuhan akan sosial kita terpenuhi ataukah hanya ilusi dan penipuan diri? Benarkah waktu yang kita habiskan berjam-jam di internet untuk chatting, messaging, dan berkomunikasi dengan orang lain ini sesuatu yang benar-benar meaningful penuh untuk persahabatan? Ataukah hanya berarti sebagian dan ada bagian lain yang tidak terpenuhi di dalam komunitas maya ini?

Penulis lebih berpendapat bahwa kecanggihan teknologi di dunia modern ini tidak bisa menandingi sentuhan pribadi di dalam persahabatan dengan muka bertemu muka. Sebab manusia diciptakan oleh Tuhan untuk berelasi dan relasi yang meaningful adalah ketika kita secara utuh bertemu dengan orang yang kita kasihi. Tuhan Allah sendiri adalah Tuhan yang berelasi di dalam Trinitasnya. Ini adalah dasar komunitas.
Marilah kita jangan tertipu dengan komunitas maya yang sesungguhnya bukan komunitas sejati! Marilah kita jangan tertipu dengan dunia maya yang bukan realitas. Marilah kita kembali kepada realitas yaitu kepada dunia dengan segala kelimpahannya yang Tuhan ciptakan.

Soli Deo Gloria
Jakarta, 29 Mei 2006
Jeffrey Lim
email : limpingen@gmail.com

Read More ....

Yesaya 40:1-11

Eksposisi dari Yesaya 40:1-11

Gembala Agung Sang Juruselamat

“He shall feed His flock like a shepherd; And He shall gather the lambs with His arms. And carries them in His bossoms. And gently leads those that are with young” ( Isaiah 40: 11 )

Bangsa Israel pada zaman Musa sudah pernah merasakan penderitaan dengan mengalami perbudakan oleh bangsa Mesir. Mereka merasakan perbudakan sebagai suatu siksaan, baik secara fisik maupun mental. Hak mereka di rampas dan mereka dipaksa bekerja keras. Mereka merasa terikat, terjajah, terbelenggu, terhina, tersiksa oleh bangsa Mesir. Mereka letih lesu, lelah secara fisik dan terutama secara rohani. Namun karena Tuhan Allah setia, Tuhan mendengar keluhan bangsa pilihan-Nya dan melalui Musa, Dia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir dengan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Tuhan menyatakan diri-Nya bahwa Dialah Tuhan segala tuhan, Tuhan bangsa Israel, yang tidak melupakan perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Perbuatan-Nya yang ajaib dengan menebus bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dicatat dalam kitab Keluaran dan puji-pujian diberikan kepadaNya di kitab Mazmur. Perbuatan-Nya ini terus diberitakan kepada anak cucu bangsa Israel, bahwa Tuhan adalah Sang Penebus. Sang pemazmur berseru : Bersyukurlah kepada Tuhan, serukanlah nama-Nya, perkenalkan perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa (Mazmur 105:1).

Kembali ke Nabi Yesaya, Yesaya menubuatkan bahwa bangsa Israel akan kembali mengalami pembuangan dan diperbudak karena dosa mereka. Nabi Yesaya melayani di kaum Yehuda di kerajaan selatan. Bangsa Israel sudah terpecah menjadi dua kerajaan yaitu kerajaan utara (Israel) dan kerajaan selatan (Yehuda) karena Tuhan menghukum dosa Raja Salomo yang hatinya menyimpang dari Tuhan dengan menyembah berhala. Nabi Yesaya mulai dipanggil Tuhan ketika matinya raja Uzia. Tuhan memanggil Yesaya untuk menyampaikan berita penghukuman bagi orang Israel dan Yehuda. Yesaya menyampaikan bahwa Tuhan akan menghukum umat-Nya yang menyimpang dan berzinah kepada ilah lain, yang beribadah kepada Tuhan tetapi hatinya jauh daripada-Nya.

Karena itu nabi Yesaya mulai memberitakan bahwa Tuhan akan menghukum orang Yehuda. Yesaya mengatakan bahwa negerinya akan menjadi sunyi sepi, kota-kota akan habis terbakar, orang-orang asing akan memakan hasil tanah dan suasana negeri itu akan menjadi sunyi seolah-olah ditunggangbalikkan oleh orang asing. Suasana negeri ini akan sama seperti Sodom dan Gomora bila Tuhan tidak meninggalkan sedikit orang yang terlepas. Yesaya menubuatkan bangsa Asyur yang akan menyerang orang Yehuda dan kemudian bangsa Babel akan mengangkut mereka ke Babel. Karena dosa maka orang Yehuda mengalami pembuangan. Karena dosa mereka mengalami penjajahan kembali. Mereka mengalami perbudakan kembali. Bahkan di dalam Babel orang Yehuda dipaksa untuk menyembah dewa-dewi Babel. Orang Yehuda tidak bisa beribadah kepada Allah Israel yang hidup. Tuhan seakan-akan jauh dari mereka. Karena dosa, Tuhan yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, menghukum mereka kembali sehingga mereka kembali diperbudak dan menjadi hamba bangsa Babel.

Keadaan diperbudak oleh bangsa lain secara fisik dapat menggambarkan juga keadaan bagaimana dosa berkuasa memperbudak manusia secara rohani. Alkitab mengajarkan bahwa manusia di dalam dosa adalah hamba dosa. Dosa seperti seorang tuan yang memaksa hambanya untuk patuh. Dalam dosa, kita semua merasa terikat, terbelenggu, tersiksa, tidak ada harapan, kosong dan sia-sia. Dosa itu mengakibatkan kita menjadi letih dan lesu. Di dalam dosa kita tidak bebas melainkan terikat oleh kuasanya yang akan membawa manusia terus kepada maut.

Puji syukur kepada Tuhan. Tuhan Allah adalah Tuhan yang setia. Dia setia akan janji kepada umat-Nya. Tuhan sudah berjanji kepada Abraham bahwa dari keturunannya maka seluruh bangsa akan diberkati. Tuhan sudah berjanji kepada Daud bahwa Tuhan akan mengokohkan kerajaan keturunannya untuk selama-lamanya. Tuhan adalah Tuhan yang berpegang pada janji-Nya. Janji-Nya adalah murni dan benar. Sehingga Tuhan melalui nabi Yesaya, memberikan berita pengharapan bagi bangsa Israel yang berada di pembuangan. Berita pengharapan ini dimulai dengan kalimat :”Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikian firman Allahmu; Tenanglah hati Yerusalem dan serukan bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni!”(ay 1). Tuhan menjanjikan keselamatan umat-Nya yang ada didalam pembuangan. Tuhan mendeklarasikan bahwa penghambaan umat-Nya akan berakhir. Tuhan menjanjikan adanya pemulihan. Tuhan menjanjikan adanya restorasi bagi bangsa yang dibuang.

Berita pengharapan mengenai penghiburan ini mengandung arti yang lebih dalam dari sekedar perhambaan oleh bangsa Babel. Tuhan menjanjikan umat-Nya untuk bebas dari perhambaan dosa. Tuhan menjanjikan umat-Nya mengenai pengampunan dosa(ay 2).  Keselamatan bagi umat-Nya terutama adalah keselamatan dari dosa.

Bagaimana kebebasan dari perhambaan dosa ini bisa terjadi? Dikatakan bahwa, ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!” (ay 3). Pada ayat ini dan ayat 9-10 mengatakan bahwa Tuhan akan datang melawat umat-Nya. Namun sebelumnya ada seseorang yang mempersiapkan kedatangan Tuhan, yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Alkitab Perjanjian Baru menjelaskan bahwa nubuat ini digenapi oleh kedatangan Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan yaitu Yesus Kristus. Yohanes Pembaptis adalah orang yang berseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan hati orang-orang untuk menerima kedatangan Tuhan Yesus. Yohanes Pembaptis berseru-seru :”Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” (Matius 3:2)

Dikatakan pada ayat 9-10 : “Hai Sion, pembawa kabar baik naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkan suaramu, jangan takut! Katakan kepada kota-kota Yehuda:“Lihat, itu Allahmu! Lihat itu Tuhan Allah, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa.”” Injil merupakan berita kabar baik dan sukacita yang mengatakan bahwa Tuhan datang untuk menyelamatkan dan menebus umat-Nya dari dosa.

Bagaimana Tuhan Sang Penyelamat datang? Apa yang akan Dia lakukan?“Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.” (Yesaya 40:11) Tuhan datang seperti seorang gembala yang menggembalakan ternak-Nya. Pengertian mengenai gembala mengesankan bangsa Israel karena di Israel banyak terdapat peternakan domba sejak dahulu kala. Abraham, Ishak dan Yakub pernah menjadi seorang gembala. Musa pernah menjadi seorang gembala selama 40 tahun dan Daud pernah menjadi seorang gembala sebelum pergi ke istana melayani Saul. Apa maksud dari pengertian Tuhan datang seperti gembala?

Dalam Yehezkiel 34, Tuhan berfirman melalui Yehezkiel bahwa celakalah gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri. Maksud gembala dalam ayat ini adalah penguasa bangsa Israel. Gembala-gembala ini menikmati hasil dari domba-dombanya. Mereka menikmati hasil susunya, mengambil bulunya untuk pakaian, menyembelih daging dombanya namun mereka tidak menggembalakan domba-dombanya. Domba-domba yang lemah tidak mereka kuatkan, yang sakit tidak diobati, yang luka tidak dibalut, yang tersesat tidak dibawa pulang, yang hilang tidak mereka cari, melainkan mereka menginjak-injak dombanya. Karena itu para domba yaitu umat Tuhan menjadi terserak, menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Tuhan berkata bahwa domba-domba-Nya (umat-Nya) tersesat tanpa ada seorangpun yang memperhatikan atau mencarinya. (Yeh 34:6) sebab gembala-gembala Israel tidak menggembalakan dombanya.

Namun kemudian Tuhan menjanjikan bahwa Ia akan memperhatikan domba-domba-Nya. Tuhan akan memperhatikan mereka dan mencari mereka. Ketika domba-domba-Nya tercerai-berai, Tuhan akan mencari dan menyelamatkan mereka. Tuhan akan menggembalakan domba-domba-Nya menuju padang rumput yang baik dan membuat domba-domba-Nya berbaring. Rumput yang segar menjadi makanan domba-domba-Nya. Yang hilang akan Tuhan cari, yang tersesat akan Tuhan bawa pulang, yang luka akan Tuhan balut, yang sakit akan Tuhan kuatkan, yang gemuk dan yang kuat akan Tuhan lindungi.

Pengertian Tuhan datang seperti gembala adalah Tuhan sendiri yang datang untuk memelihara umat-Nya, kawanan ternak-Nya. Dalam Mazmur 23, Daud mengatakan bahwa “Tuhan (Jehovah) adalah gembalaku.” Jadi penghiburan bagi umat berada di dalam pembuangan adalah bahwa Tuhan akan datang seperti seorang gembala yang akan menggembalakan kembali umat-Nya dan mengasihi umat-Nya. Ini adalah penghiburan yang sangat besar bagi bangsa yang berada di dalam pembuangan bahwa Tuhan akan mengumpulkan kembali umatNya. (...dan menghimpunkan dengan tanganNya ...Yesaya 40:11).
Tuhan sebagai gembala, juga akan menuntun induk-induk domba dengan hati-hati. (ay 11) Menuntun itu berarti Tuhan akan bersama-sama umat-Nya, mengarahkan setiap langkah mereka. Mazmur 23 ayat 3b mengatakan : Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Karena Tuhan menuntun maka Daud mengatakan :”Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” ( Mazmur 23:4 )

Siapakah Tuhan yang datang seperti gembala untuk menggembalakan umat-Nya ini? Nubuat Nabi Yesaya ini digenapi oleh kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus mengatakan bahwa :”Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik yang memberikan nyawanya bagi domba-domba-Nya” (Yoh 10:11). Tuhan Yesus berkata :”Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku; sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu. Ada lagi domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. (Yoh 10:14-16). Tuhan Yesus menghimpunkan domba-Nya menjadi satu kawanan dan Dia menuntun domba-Nya. (dan menghimpunkannya dengan tanganNya...induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati...Yesaya 40:11) Tuhan Yesus adalah Dia yang akan datang seperti seorang gembala.

Ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak, Alkitab mencatat, “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah orang banyak maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” ( Markus 6:34 ). Tuhan Yesus ingin mengumpulkan, menghimpun umat-Nya dan Dia menangisi kota Yerusalem :”Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi...Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya...”( Matius 23:37 )

Tuhan Yesus mencari umat-Nya, domba-domba yang tersesat. Yesaya 53:6 mengatakan bahwa “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalannya sendiri.” Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan domba yang hilang. Dalam perumpamaan mengenai domba yang hilang, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa seorang yang kehilangan dombanya akan mencarinya dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkan di atas bahunya dengan gembira dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta mengajak mereka bersukacita karena domba yang hilang telah ditemukan. Meletakkan di atas bahunya berarti “memangkunya” (...anak-anak domba dipangkuNya....Yes 40:11)

Tuhan Yesus datang untuk membebaskan umat-Nya dari dosa. Dia adalah Allah Penebus yang membebaskan orang Israel dari perbudakan Mesir, yang membawa orang Israel kembali dari pembuangan. Yang terutama Tuhan Yesus membawa umat-Nya yang berdosa keluar dari perbudakan dosa. Yohanes berseru ketika melihat Tuhan Yesus “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” ( Yohanes 1:29 )

Di dalam Markus 5 :1-18 dicatat ada orang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan yang menemui Yesus Kristus. Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun yang sanggup mengikatnya. Siang malam dia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit. Ia memukuli dirinya sendiri dengan batu. Orang ini terikat oleh Iblis dan hidupnya menderita. Tetapi Yesus Kristus menghardik roh jahat itu dan roh itu keluar dan masuk kepada babi-babi. Akhirnya orang itu disembuhkan dari kuasa jahat dan menjadi waras. Orang itu meminta supaya diperkenankan untuk menyertai Tuhan Yesus tetapi Tuhan Yesus berkata supaya orang itu pulang ke rumah dan memberitahukan kepada orang-orang sekampungnya tentang apa yang telah diperbuat Tuhan dan bagaimana Tuhan mengasihi orang itu.

Di dalam Yohanes 8 :1-11 dicatat ada seorang perempuan berzinah yang dibawa oleh orang-orang Farisi ketika Yesus sedang mengajar di tengah banyak orang. Sesuai dengan hukum Musa, ia harus dilempari batu. Orang Farisi mencobai Tuhan dengan menanyakan pendapat-Nya tentang hal itu. Di hadapan orang banyak, perempuan itu dihakimi dan dipermalukan karena dosanya. Namun Yesus mengatakan bahwa siapa yang tidak berdosa boleh melempari perempuan itu. Karena semua orang merasa berdosa maka seorang demi seorang, mereka semua pergi. Yesus tidak menghukum perempuan yang berdosa ini. Ia mengampuni dan memberikan perempuan ini kesempatan hidup baru.

Orang berdosa mempunyai pengharapan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dia hendak menerima orang berdosa yang letih lesu dan berbeban berat. Tuhan Yesus berkata : “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan” ( Matius 11:28-30 )

“Seperti seorang gembala Ia ( Tuhan Yesus ) menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.” (Yesaya 40:11)

Jakarta, 25 Agustus 2005
Jeffrey Lim
email : limpingen@gmail.com

Read More ....

Plot Hidup dan Penderitaan

Plot Hidup dan Penderitaan

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.” ( 2 Korintus 1:3-5 )

Realita hidup mengajarkan bahwa hidup ini menderita. Orang Budhis mengatakan bahwa hidup adalah penderitaan. Lahir menderita. Tua menderita. Sakit menderita dan mati menderita. Kenyataan memang berbicara bahwa hidup ini pahit. Hidup ini penuh dengan jerih lelah. Hidup ini penuh dengan peluh. Hidup ini penuh dengan kekerasan. Hidup manusia banyak mencucurkan air mata. Hidup ini adalah satu tragedi.

Siapakah yang dapat berkata hidup tidak menderita ? Siapa dapat berkata bahwa hidup ini tidak penuh dengan kepahitan ? Siapa diantara manusia yang dapat menyangkalnya ? Perhatikanlah kehidupan kita ini ! Bacalah koran dan berita di TV ! Lihatlah dengan mata ! Bukalah mata lebar-lebar ! Dengarlah dengan telinga ! Kondisi jiwa manusia modern mengalami kekuatiran, stress, depresi, kecemasan dan ketakutan. Jiwa manusia menjadi tidak tenang dan damai. Banyak kehidupan rumah tangga yang rusak. banyak anak-anak yang hidup tidak beres. Terjadi peperangan di dunia ini. Kemiskinan dimana-mana. Moral semakin merosot. Hidup menjadi tertekan. Angka bunuh diri meningkat. Orang yang mengalami depresi menjadi lebih banyak. Tingkat perceraian semakin tinggi. Kekosongan hidup semakin besar dalam hidup manusia. Kemiskinan merajalela dimana-mana. Penyakitpun banyak merongrong hidup manusia. Serangan kanker ada dimana-mana. Di dalam makanan kitapun sudah tidak aman. Inilah realita hidup ! Bila seseorang dapat menyangkal realita penderitaan hidup ini tetapi cobalah dia menyelidiki kedalaman hatinya ! Bila dia jujur maka dia harus mengakui bahwa dirinya sendiri menderita. Hati nurani walaupun sudah tercemar tetapi tidak dapat mengelabui bahwa ada realita penderitaan. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa Hidup ini tragedi. Hidup ini menderita.

Orang-orang modern menganggap penderitaan ini dengan kacamata penyelesaian. Orang modern yang rasionalis selalu memandang dunia ini dengan kacamata Subjek-Objek dimana diri sebagai subjek dan yang diluar diri sebagai objek. Pikiran ini berasal dari Rene Decartes. Filsafat rasionalisme Descartes terkenal dengan kata “I think therefore I am.”Artinya adalah karena saya berpikir maka saya ada. Apa implikasi pikiran rasionalisme ini ? Yang menjadi pusat keberadaan adalah saya. Saya yang besar I menjadi subjek untuk mengetahui segala sesuatu. Dan segala sesuatu di luar saya adalah objek.

Di dalam menghadapi masalah, orang modern menganggap masalah itu sebagai objek di luar diri saya. Objek masalah ini dianalisa, dicari penyebabnya, diteliti, dipahami, dimengerti naturnya dan dicari solusinya. Inilah cara orang modern mencari penyelesaian terhadap penderitaan. Ambil contoh ada penderitaan karena penyakit maka dicari penyebab penyakitnya dan dicari dan diselidiki obatnya di laboratorium. Ada penyakit SARS, dicari obatnya. Ada penyakit AIDS dicari obatnya. Contoh lain adanya penderitaan karena perang maka dicari penyebab perang dan dicari solusinya secara rasional. Contoh lain adalah adanya masalah di perusahaan maka dicari sumber masalahnya secara rasional dan diselesaikan masalahnya. Adanya krisis ekonomi dicari penyebabnya secara rasional dan diselesaikan masalahnya.

Orang modern mempunyai filsafat hidup problem-solving (menyelesaikan masalah). Manusia dianggap sebagai penyelesai masalah (problem solver) dan orang modern mempunyai anggapan bahwa manusia mampu (capable) untuk menyelesaikan masalah kehidupan (dalam hal ini penderitaan). Orang-orang modern mempunyai pandangan optimis terhadap kehidupan dan kepada kemampuan manusia untuk menghadapi hidup. Terutama orang modern optimis terhadap rasio manusia sebagai sumber kebenaran dan penyelesaian masalah. Tetapi ternyata orang-orang modern menemukan buntu di dalam menyelesaikan masalah kehidupan. Ternyata masalah yang satu dihilangkan ada masalah lain. Masalah satu diselesaikan ada masalah lain datang. Setelah penyakit yang  satu disembuhkan, ada realita penderitaan yang lain. Setelah perang selesai masih ada penderitaan lain. Realitanya penderitaan tidak pernah hilang. Bahkan ketika menyelesaikan satu masalah ternyata mungkin juga menimbulkan masalah lain. Teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, hukum, etika, filsafat, agama tidak bisa menghilangkan realita penderitaan. Jadi realita mengatakan bahwa hidup itu memang menderita. Dengan cara problem solving ternyata tidak bisa menghilangkan penderitaan. Penderitaan itu exist (ada).

Orang-orang postmodern mempunyai pandangan lain terhadap penderitaan. Bagi mereka penderitaan ini suatu bagian di dalam hidup, penderitaan itu bukan sesuatu Objek di luar yang bisa diselesaikan seperti pandangan orang modern. Bagi mereka penderitaan ini adalah plot atau alur dari hidup manusia. Penderitaan ini bagian dari hidup manusia. Penderitaan ini ada secara subjektif di dalam setiap pribadi. Yah! inilah hidup! Hidup yang ketika kita menghidupinya, kita menghidupinya di dalam penderitaan. Jadi, penderitaan adalah bagian hidup dan ada di dalam hidup yang tidak terpisahkan. Ketika banyak terjadi masalah, kekacauan di dalam hidup, perang, konflik, permusuhan, sakit penyakit maka inilah hidup manusia. Inilah realita. Maka orang-orang postmodern mempunyai pandangan yang pesimis terhadap kehidupan ini. Mereka sadar bahwa hidup ini menderita. Hidup ini berada di plot atau alur penderitaan. Plot hidup adalah menderita. Arah dan alur hidup ini ditentukan oleh plot penderitaan. Kita mengenal bahwa di dalam cerita narasi ada alur, karakter dan latar belakang. Hidup manusia juga seperti sebuah cerita narasi dimana ada alurnya. Alurnya ini adalah penderitaan. Benarkah pandangan orang postmodern bahwa hidup ini diatur oleh penderitaan. Benarkah pandangan mereka bahwa hidup ini diarahkan oleh penderitaan ?

Sebenarnya bila plot penderitaan menjadi plot hidup maka penderitaan ini mempunyai kuasa seperti Tuhan yang mengarahkan hidup. Musa berdoa di dalam Mazmur 90 yaitu supaya Tuhan membuatnya bersukacita seimbang dengan hari-hari Tuhan menindasnya. Sebab bila hidup hanya diatur oleh penderitaan maka penderitaan ini menjadi Tuhan.

Di dalam hidup yang menderita ini, bagaimana orang Kristen memandang penderitaan ? Bagaimana perpektif orang Kristen terhadap penderitaan ? Memang harus diakui bahwa manusia ini menderita karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Dunia ini sudah dikutuk. Dan manusia ada di dalam permusuhan dengan Allah, dengan sesama, dengan diri dan dengan alam. Karena itu penderitaan ada di dalam dunia ini. Tetapi satu hal yang harus dipahami dan dimengerti, penderitaan ini memang ada selama orang percaya hidup di dalam dunia namun penderitaan ini tidak harus menjadi alur atau plot yang membentuk hidup mereka. Penderitaan tidak harus bahkan jangan menjadi plot hidup yang mengarahkan hidup orang percaya. Mengapa ? Sebab Kristus datang untuk menebus penderitaan bagi Allah ! Kristus datang supaya manusia yang menderita plot hidupnya tidak dikuasai oleh penderitaan tetapi plot atau alur hidupnya diarahkan untuk Tuhan.

Perempuan Samaria mempunyai lima suami dan plot hidupnya dipenuhi penderitaan. Dia sudah dihianati dan ditolak oleh banyak laki-laki dan bahkan banyak orang menghina dia sehingga dia harus pergi mengambil air siang-siang supaya tidak bertemu orang di pagi hari. Hidupnya pahit dan menderita. Tetapi ketika bertemu dengan Kristus, hidupnya berubah dan bahkan menjadi penginjil. Orang Garasa plot hidupnya dikuasai oleh kuasa kegelapan sehingga dia berada di dalam kuasa iblis. Tetapi karena bertemu dengan Tuhan Yesus maka plot hidupnya menjadi berubah. Zakheus seorang pemungut cukai plot hidupnya dibenci masyarakat dan kesepian. Tetapi ketika ia bertemu dengan Kristus maka hidupnya berubah. Orang buta yang dicelikkan, orang lumpuh yang berjalan, dari sepuluh orang kusta yang ditahirkan, satu orang berubah plotnya karena Kristus. Kristus datang untuk mengubah plot hidup manusia yang menderita.

Bagi orang percaya, penderitaan tidak menjadi plot yang mengatur hidup mereka. Karena itu, orang percaya harus menerobos realita penderitaan supaya penderitaan tidak menjadi plot hidup mereka. Fanny Crosby, seorang perempuan buta yang banyak menulis lagu hymne, tidak dikuasai oleh plot kebutaannya. Dia dengan efektif menjadi penulis hymn bahkan diperkirakan dia menulis sekitar 9000 hymne dan hidupnya memuliakan Tuhan. Joni Earekson Tada, yang menjadi lumpuh total, tidak dikuasai oleh plot penderitaan. Kelumpuhannya bahkan menjadi berkat dengan menjadi pembicara dan penulis buku. Buku yang ditulisnya yaitu adalah “When God Weep”(Ketika Allah meratap). William Cowper menderita penyakit mental seumur hidupnya dan penuh dengan depresi serta melankolik. Tetapi hidupnya tidak dikuasai plot penderitaannya bahkan hidupnya masih menjadi berkat ketika dia menghasilkan karya-karya hymne sebanyak 64 hymne bagi Tuhan, banyak karya sastra dan puisi. John Bunyan yang menderita dipenjara tiga kali karena Injil, masih terus menginjili karena penjara tidak menghalangi plot hidupnya. Rasul Paulus sendiri yang menderita kekurangan, penaniayaan, kelaparan, dan lain-lain, tidak menganggap itu semua menjadi plot yang menguasai hidupnya tetapi rencana Allah menjadi plot hidupnya.

Bagi orang percaya, penderitaan bukan menjadi plot hidupnya karena ada kuasa penebusan di dalam Kristus yang bisa mengubah hidup manusia dan mengarahkan hidup manusia untuk Allah. Kristus datang supaya manusia memperoleh hidup bahkan hidup yang berkelimpahan. Roh Kudus juga diberikan untuk tinggal di dalam diri kita, orang percaya. Roh Kudus menyucikan, menghiburkan, mengajar, menasihati dan memimpin hidup orang percaya. Karena itu penderitaan bukan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi orang percaya. Mengapa ? Bahkan ketika kita orang percaya menderita, penderitaan itu adalah karunia Tuhan untuk membentuk kerohanian kita.

Dengan penderitaan, Tuhan Allah membuat plotNya di dalam diri kita orang percaya, bukan supaya kita dikuasai penderitaan tetapi supaya kita hidup sesuai dengan jalanNya yang indah. Karakter yang diperbaharui, hidup yang bergantung kepada Tuhan, ini semua rencana Tuhan yang indah. Ini semua dialami oleh orang percaya. Pemazmur mengatakan bahwa “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang tetapi sekarang aku berpegang kepada janjiMu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu.”

Bagi orang percaya, kita semua hidup di dalam plot Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sudah datang dan Allah memerintah. Allah memerintah orang percaya, ini sudah terjadi ( already ) walaupun belum terrealiasi secara penuh ( not yet ). Jadi orang percaya hidup di dalam atmosfir Kerajaan Allah. Kata atmosfir ini kata yang indah. Kita hidup di dalam atmosfir Kerajaan Allah. Dan di dalam atmosfir Kerajaan Allah, segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan, Tuhan Allah berdaulat atas hidup manusia dan segala sesuatu indah pada waktunya.

Ada beberapa prinsip yang menghibur kita orang percaya di dalam penderitaan:
1. Kita sudah diselamatkan dari dosa yang merupakan masalah utama kehidupan manusia sehingga kehidupan ini ada pengharapan karena pengampunan dosa. Kita sudah diselamatkan dan pemazmur mengatakan bahwa orang yang diampuni dosanya itu orang yang berbahagia dan diberkati.
2. Kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang percaya yang mengasihiNya. Ini janji Tuhan. Dan kita percaya bahwa Tuhan Allah berdaulat dan setia pada janjiNya. Segala sesuatu akan indah pada waktunya.
3. Kita tahu bahwa penderitaan pada saat ini tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan di masa mendatang. Kita boleh berharap dan beriman bahwa suatu saat, penderitaan ini akan hilang dan di surga tidak ada lagi air mata dan tangisan. Ada salib tetapi ada kemuliaan.
4. Kita mempunyai Tuhan Allah yang menyertai umatNya bahkan ketika melewati lembah bayang-bayang maut. Penyertaan Tuhan adalah penghiburan terbesar bagi umat Tuhan.
5. Seluruh janji Tuhan berlaku bagi orang percaya yang menderita. Tuhan menguji kita tidak melebihi kekuatan bahkan memberikan jalan keluar. JanjiNya memberikan kekuatan.
6. Seluruh penderitaan ini tidak sia-sia tetapi ada maksudnya. Hidup di dalam Tuhan ada artinya.
Karena itu marilah kita refleksi bersama ! Apakah penderitaan yang kita alami ? Apakah penderitaan ini menjadi alur atau plot dalam hidup kita ? Apakah sakit penyakit menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah kelemahan menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah kemalangan menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah krisis ekonomi menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah situasi dunia menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah dosa menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah kesalahan kita menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah masa lalu menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Apakah lingkungan menjadi plot yang mengatur hidup kita ? Maukah hidup kita diikat oleh plot penderitaan atau maukah kita bebas dari plot penderitaan yang menguasai hidup kita ?

Datanglah kepada Tuhan Yesus Kristus yang sanggup mengubah plot hidup kita untuk beribadah kepada Tuhan Allah. Marilah kita hidup di dalam atmosfir Kerajaan Allah di dalam Kristus. Satu-satunya yang dapat mengubah plot hidup manusia adalah Firman Tuhan.

Soli Deo Gloria, Taipei 26 June 2006.
Jeffrey Lim
email: limpingen@gmail.com

Read More ....

Allah Tritunggal Adalah Dasar Kita Mengasihi

Allah Tritunggal Adalah Dasar Kita Mengasihi
Renungan mengenai kasih Allah Tritunggal Revisi

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan, kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan jangan tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
( Filipi 2:1-4 )

Di zaman postmodern, sekarang ini banyak yang dinamakan Virtual Community seperti Friendster, chatting, blog, dan lain-lain. Apakah komunitas maya ini sungguh-sungguh komunitas ? Apakah ini sungguh-sungguh persekutuan ? Apakah komunitas ini real ? Apakah komunitas ini menyentuh kedalaman persekutuan pribadi ?
Ada juga pertanyaan: Apa itu komunitas sesungguhnya ? Apa dasar dari komunitas ? Apa dasar dari masyarakat di dalam dunia ini ?

Kembali ke ayat di atas. Kita orang percaya hidup di dalam gereja dan Gereja adalah komunitas orang Kristen. Yang membuat gereja bersatu adalah kasih. Tuhan Yesus juga mengajarkan kepada murid-muridNya yaitu“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”Rasul Paulus, seorang yang pernah menganiaya jemaat Kristus, setelah dia bertobat dan mengenal kasih Allah maka dia mengajarkan kepada jemaatnya supaya mereka saling mengasihi antara saudara seiman di dalam Kristus. Di dalam surat Filipi ini, Paulus mengajarkan bahwa di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan, kasih, persekutuan Roh dan kasih mesra.

Di dalam Kristus berarti di dalam Dia, yaitu orang percaya adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah kepalanya. Kristus adalah kepala jemaat yang menyelamatkan tubuh. Kristus mengasihi dan telah menyerahkan DiriNya bagi jemaat untuk menguduskannya ( Efesus 5 ) Di dalam Kristus kita semua satu. Kita semua satu tubuh di dalam Kristus. Kita yang berbeda-beda dan beragam, namun semua satu di dalam Kristus.

Lalu apa dasar kita sebagai sesama saudara seiman untuk mengasihi ? Apa dasar kita yang beragam ini untuk satu di dalam Kristus ? Kita semua ada banyak dan berbeda-beda tetapi dalam satu tubuh. Ada lagi pertanyaan yang lebih umum : Apa dasar dari komunitas di dalam dunia ini ? Mengapa manusia yang beragam saling berelasi satu sama lain sebagai mahluk sosial ?

Dasar komunitas, dasar masyarakat di dalam dunia dan dasar bagi kita orang percaya supaya saling mengasihi, ada di dalam pribadi Allah Tritunggal. Allah orang Kristen adalah Allah Tritunggal. Allah Tritunggal menciptakan manusia menurut gambarNya dan manusia menyerupai PenciptaNya. Firman Tuhan mengajarkan bahwa Allah adalah satu.
“Dengarlah, hai orang Israel : Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa ! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” ( Ulangan 6:4 )

Namun selain satu Allah juga mempunyai tiga pribadi. Yesus Kristus berkata :
“KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama ( satu ) Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” ( Matius 28:18-19 )
Allah satu sekaligus banyak. Ini adalah misteri. Allah Tritunggal juga pribadi yang bersosial. Allah Tritunggal merupakan satu misteri yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Namun bukan berarti kita tidak bisa memahami sama sekali. Kita dapat memahaminya dengan kerelaan Allah sendiri yang menyatakanNya kepada kita. Allah Tritunggal inilah yang merupakan dasar kita saling mengasihi antara saudara seiman kita di dalam tubuh Kristus.

Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah kasih. ( 1 Yohanes 4:8 ) Berarti Allah Tritunggal adalah kasih. Kasih merupakan atribut Allah yang sangat penting. Pemazmur sering berkata “Kasih setiaNya untuk selama-lamanya.”Kasih Allah adalah kekal adanya. Sebelum Dia menciptakan bumi beserta isinya yang juga termasuk manusia, Dia adalah kasih adanya. Siapakah yang Dia kasihi sebelum ada manusia yang Ia kasihi ? Allah mengasihi diriNya sendiri. Allah Tritunggal saling mengasihi satu sama lain. Allah Bapa mengasihi Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Anak mengasihi Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Allah Roh Kudus mengasihi Allah Bapa dan Allah Anak. Ketiga pribadi Allah saling mengasihi satu sama lain. Di dalam tiga Pribadi ada kesatuan. Dan di dalam tiga Pribadi ada satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Hubungan Allah Tritunggal merupakan hubungan yang harmonis. Benar-benar harmonis. Hubungan Allah Tritunggal yang harmonis ini, ada keragaman namun ada kesatuan yang harmonis yang merupakan dasar hidup kita sebagai orang Kristen.

Alkitab juga mengajarkan bahwa ada saling menghargai, saling melayani, saling mengasihi dan saling menganggap yang lain lebih utama di dalam ketiga pribadi Allah Tritunggal. Allah Tritunggal tidak mementingkan PribadiNya sendiri terlepas dari Pribadi yang lain namun saling memperhatikan. Perhatikanlah! Allah Bapa mengasihi dan memuliakan Allah Anak. Di atas gunung Allah Bapa berkata,“Inilah Anak yang kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” ( Matius 17:5 ). Yesus Kristus berkata “BapaKulah yang memuliakan Aku” ( Yohanes 8:54 ). Allah Anak juga memuliakan Allah Bapa. Yesus Kristus berkata :”Bapa, muliakanlah namaMu” (Yohanes 12:28 ). Yesus Kristus mengajarkan doa Bapa kami yang berisi “Bapa kami yang ada di dalam surga, dikuduskanlah namaMu” ( Matius 6:9). Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah Bapa dan Allah Anak saling memuliakan :”Jikalah Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.( Yohanes 13:32 ) Yesus Kristus berkata “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu supaya AnakMu mempermuliakan Engkau.” ( Yohanes 17:1 ) Alkitab mengajarkan bahwa Allah Bapa dan Allah Anak saling mempermuliakan satu sama lain. Yesus juga menganggap Allah Bapa lebih besar walaupun Dia setara dengan Bapa: “Aku pergi kepada BapaKu sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” ( Yohanes 14:29 )

Allah Anak juga memuliakan dan menganggap Allah Roh Kudus lebih besar dari diriNya. Yesus Kristus berkata “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” ( Matius 12:32 ). Demikian juga Allah Roh Kudus memuliakan Allah Anak. Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus mengajar dan mengingatkan orang percaya kepada Kristus : “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” ( Yohanes 14:26 ) Alkitab mengajarkan mengenai Roh Kudus :”Tetapi apabila Ia datang yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku ( Kristus ), sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada Ku” ( Yohanes 16:14 )

Kembali kepada kitab Filipi 2:1-4, Alkitab mengajarkan supaya kita sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dan saling mengasihi satu sama lain. Alkitab mengajarkan supaya kita menganggap saudara seiman kita lebih penting daripada kita. Alkitab mengajarkan supaya kita tidak hanya memperhatikan kepentingan kita tetapi juga kepentingan saudara seiman kita. Dan dasarnya adalah di dalam Kristus sebagai satu tubuh. Tetapi dasarnya kita yang banyak namun saling satu hati mengasihi adalah juga Allah Tritunggal dan kasih di dalam Allah Tritunggal.

Seperti Allah Tritunggal saling menghormati dan memandang Pribadi lainnya, kita juga harus saling menghormati dan memandang saudara seiman kita. Seperti Allah Tritunggal yang saling mengasihi dan melayani Pribadi lainnya, kita juga harus saling mengasihi dan melayani saudara seiman kita. Kita bersyukur bahwa Allah Tritunggal menjadi contoh dan juga teladan bagi kita untuk hidup saling mengasihi. Kita bersyukur bahwa Allah Tritunggal menjadi model bagi umat manusia bagaimana umat manusia harus berelasi satu sama lain. Allah Tritunggal menjadi model mengenai komunitas. Allah Tritunggal menjadi model mengenai apa itu komunitas dan masyarakat. Komunitas yang sejati itu di dalam tubuh Kristus merefleksikan keberadaan yang menjadi modelnya yaitu komunitas di dalam Allah Tritunggal. Kiranya kasih Allah Tritunggal menjadi dasar kita untuk mengasihi.

MRII Taipei , 3 Juli 2006
Jeffrey Lim
email: limpingen@gmail.com

Read More ....

Kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat

Renungan mengenai Saluran berkat

Kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat
- By Jeffrey Lim -

“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”
( Roma 12:14 )

“kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;” ( 1 Korintus 4:12 )

“dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. ( 1 Petrus 3:9 )

Alkitab mengajarkan bahwa kita sebagai orang percaya dipanggil untuk menjadi saluran berkat. Seperti lagu “Jadikan aku saluran berkat” kita dipanggil untuk memberkati. Apa artinya memberkati ? Mari kita melihat apa artinya memberkati !
Tuhan kita adalah Tuhan yang memberkati umatNya. Tuhan memberkati berarti Tuhan berkenan dan memberi keuntungan bagi yang diberkatinya. Di perjanjian lama, Tuhan menjanjikan berkat kepada manusia yang taat kepadaNya namun kutuk kepada manusia yang melanggar FirmanNya. Ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa, Tuhan mengutuk manusia dan alam semesta. Karena dosa manusia maka Allah mengutuk manusia. Karena dosa maka manusia hidup di dalam kemalangan, penderitaan, kekosongan, kesia-siaan terutama karena keterpisahan dari Allah.
Bersyukur kepada Tuhan bahwa Tuhan menjanjikan kepada Abraham untuk membuat Abraham akan menjadi bangsa yang besar dan menjadi berkat ( Kej 12:2 ). Alkitab menceritakan bahwa dari keturunan Abraham yaitu Kristus, bangsa-bangsa akan mendapatkan berkat. Kitab Galatia 3:14 mengatakan bahwa di dalam Kristus berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain. Hidup Kristus menjadi berkat bagi banyak orang. Kristus mati supaya orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal dan hidup yang berkelimpahan.
Kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk meneladani Kristus. Kita dipanggil untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Dalam Lukas 6:38 Tuhan Yesus mengajarkan “mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”. Tuhan Yesus ingin supaya kita memberkati orang yang mengutuk kita. Bagaimana kita memberkati orang ?
Berkat dan kutuk itu keluar dari kata-kata atau firman yang tentunya keluar dari hati yang paling dalam. Ketika Allah memberkati, Dia menggunakan Firman yang keluar dari mulutNya untuk memberkati. Ketika perkataan Allah dikeluarkan, keluar juga kuasa yang mengikuti perkataan itu. Seperti perkataan Allah adalah penting maka perkataan yang keluar dari mulut manusia itu juga sesuatu yang penting. Kitab Amsal mengajarkan bahwa “Hidup mati dikuasai lidah. Siapa yang sering menggemakannya akan memakan buahnya”. Demikian mulut kita juga harus dipakai untuk Tuhan. Kitab Yakobus mengatakan dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Kitab Yakobus mengajarkan bahwa mulut yang mengeluarkan perkataan tidak benar adalah dosa. Jadi kita harus memakai mulut kita untuk memberkati bukan mengutuk. Memberkati juga dapat berarti kita berdoa meminta berkat kepada Tuhan bagi orang lain.
Kita memberkati sesama manusia karena Allah terlebih dahulu memberkati kita. Paulus berkata “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” ( Efesus 1:3 ). Kristus memberikan diriNya menjadi berkat bagi banyak orang baik Yahudi maupun orang kafir sehingga mereka mengenal Allah. Demikian juga kita harus menjadi saluran berkat, jadi garam dan terang dunia sehingga orang sekitar kita mengenal Allah. Yesus mengajarkan supaya terang kita bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatan kita dan memuliakan Bapa di sorga. ( Matius 5:16 ). Tuhan Yesus mengajarkan yaitu :”Kasihilah musuhmu dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kamu”. Dalam hal ini hidup Tuhan Yesus memberikan contoh yang sempurna. Ketika orang-orang menyalibkan Dia dan membenci Dia, Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa di sorga bagi mereka supaya dosa mereka diampuni.
Kita dipanggil untuk menjadi berkat baik bagi orang percaya maupun bagi orang yang belum percaya Tuhan. Dan terutama kita harus memberikan berkat kepada saudara-saudara seiman kita. Ketika kita hidup saling mengasihi, saling rukun dan saling memberkati satu sama lain diantara saudara seiman, disanalah berkat-berkat Tuhan dicurahkan. Alkitab mengajarkan
“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik diatas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” ( Mazmur 133 )

Read More ....

Teladan hamba Tuhan

Teladan Pelayan Tuhan
Renungan dari Surat Filipi 1
Jeffrey Lim


“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini……. Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” ( Filipi 1:3-11 )

Paulus berada di dalam penjara ketika sedang menulis surat Filipi ini. Di dalam penjara seharusnya tidak enak : Fisik yang terkurung, kadang-kadang ada penyiksaan, kebosanan, kebersihan yang kotor, dll. Tetapi yang terutama adalah beban batin di dalam penjara. Manusia bila tidak bekerja dan tidak beraktivitas dapat mengakibatkan kejenuhan dan kekosongan. Tetapi mari kita lihat apa yang rasul Paulus alami dan kerjakan.
Di dalam penjara ini, Rasul Paulus tidak kehilangan identitasnya. Bahkan dia menulis surat kepada Jemaat di Filipi : Dari Paulus, dan Timotius, pelayan-pelayan Kristus. Paulus menyadari bahwa dirinya adalah seorang pelayan Kristus. Bahkan lebih dari itu Paulus menyadari bahwa dia dipenjarakan karena Injil Yesus Kristus. Paulus sadar siapa dia dan mengapa dia harus menderita. Dia menderita karena Kristus. Siapa yang mengikut Kristus pasti mengalami penderitaan. Sebab Kristus memanggil murid-muridnya untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Dalam hal ini Paulus adalah murid Kristus bahkan seorang rasul yang dipanggil untuk memberitakan Injil.
Di dalam renungan ini marilah kita merenungkan teladan dari rasul Paulus ketika dia ada berada di dalam penjara.
Rasul Paulus perduli kepada jemaatnya di dalam penderitaannya
Ini adalah contoh cinta kasih kepada jemaat. Cinta kasih kepada jemaat mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus ketika dia melayani jiwa-jiwa bahkan sampai mati di kayu salib. Di kayu salib di dalam penderitaannya, Yesus masih mendoakan orang berdosa, melayani ibunya dan muridnya, serta menginjili orang yang disalib di sebelahnya. Demikian juga rasul Paulus di dalam penderitaan di dalam penjara masih memperhatikan jemaatnya. Ini adalah satu teladan pelayan Tuhan.
Rasul Paulus mendoakan jemaatnya.
Di pasal 1 ayat 3 dikatakan bahwa Paulus mengucap syukur kepada Allah setiap kali mengingat jemaatnya. Ini berarti Paulus selalu mengingat jemaatnya. Paulus seperti seorang gembala yang memperhatikan kerohanian jemaatnya. Bahkan yang sangat indah adalah Paulus berdoa dengan sukacita ketika mendoakan jemaatnya. Bersukacita berarti paulus benar-benar menaruh hati kepada jemaatnya.


Rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah karena jemaatnya
Paulus bersyukur bahwa jemaatnya boleh diselamatkan. Paulus menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan dan Paulus bersukur bahwa jemaat Filipi boleh mengalami anugerah keselamatan. Dengan mengucap syukur, Paulus membalikkan kemuliaan kepada Allah yang menyelamatkan. Ini adalah berpusat kepada Allah. Paulus juga mengucap syukur buat persekutuan jemaat di dalam gereja. Jemaat bersekutu di dalam persektuuan orang kudus. Dan Paulus mempunyai keyakinana bahwa Allah yang memulai pekerjaan baik akan meneruskannya sampai pada akhir hari Kristus.
Paulus menaruh hati dan kasih kepada jemaatnya
Paulus sendiri mengatakan bahwa jemaat Filipi ada di dalam hatinya. Pelayan Tuhan yang baik adalah pelayan Tuhan yang mempunyai hati kepada jemaatnya. Ini adalah teladan dari Kristus sendiri yang mempunyai kasih kepada jemaatNya. Kristus mengasihi jemaatnya seperti suami mengasihi istrinya. Sebagai seorang rasul, Paulus juga mengasihi jemaatnya.
Paulus mendoakan pertumbuhan jemaatnya.
Di dalam pasal 1 ayat 9, Paulus mendoakan supaya kasih jemaat makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian. Dalam pertumbuhan kasih ini ada hal pengetahuan dan pengertian. Dengan pengetahuan yang melimpah mengakibatkan jemaat dapat memilih apa yang baik. Seperti Hikmat diberikan supaya kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, maka kasih di dalam pengetahuan yang benar juga dapat memilih apa yang baik. Pilihan yang baik mengakibatkan jemaat menjadi suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.
Jadi di dalam ayat ini ada beberapa hal yang dikaitkan yaitu kasih, hikmat, pengetahuan, kebaikan dan kesucian hidup. Semua dimulai dengan kasih di dalam pengetahuan yang benar.
Paulus mempunyai pikiran positif mengenai penderitaannya dan akibatnya.
Paulus mengatakan bahwa apa yang terjadi padanya justu mengakibatkan kemajuan Injil. Seperti perkataan dari Roma 8:28 “Segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan” demkian juga Tuhan mengasihi Paulus dan kejadian penderitaannya mendatangkan kebaikan bagi kemuliaan nama Tuhan. Bukankah tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan dan menikmatiNya ? Dalam penderitaan Paulus maka tujuan hidup untuk memuliakan nama Tuhan terpenuhi dan ini adalah baik adanya. Paulus melihat hidupnya dari kacamata Allah.
Paulus bersukacita
Di dalam penderitaannya Paulus bersukacita. Ada orang yang memberitakan Injil dengan maksud jelek. Tetapi Paulus tetap bersukacita. Paulus tetap mempunyai sikap yang positif di dalam penderitaannya. Tema surat Filipi adalah sukacita. Kegembiraan Paulus terutama karena iman dari jemaat Filipi. Teladan bagi seorang pelayan Tuhan adalah dia boleh terus bersukacita walaupun dalam berbagai keadaan. Ini tidak mudah.
Paulus menyadari bahwa hidupnya adalah Kristus
Paulus mengatakan bahwa hidup adalah Kristus. Hati Paulus dipenuhi dengan kemuliaan Kristus sehingga yang lain terlihat tidak penting. Yang merupakan harta di dalam hidup Paulus adalah Kristus. Di dalam surat yang lain Paulius mengatakan bahwa segala sesuatu kuanggap sampah karena pengenalan akan Kristus. Bagi Paulus Kristus adalah mutiara di dalam hidupnya. Sudahkah kita sebagai pelayan menganggap bahwa Kristus dan FirmanNya sebagai mutiara ?

Dari delapan point ini kita bisa belajar dari hidup Paulus. Marilah kita melayani dari sikap dan hidup Paulus sebagai pelayan Tuhan.

Soli Deo Gloria
Taipei 13 Juli 2006

Read More ....

Segala sesuatu mendatangkan kebaikan

Renungan dari Roma 8:28

Segala sesuatu mendatangkan kebaikan
- By Jeffrey Lim –

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” ( Roma 8:28 )

Hidup di dalam dunia ini tidak selalu mulus. Hidup di dalam dunia ini tidak selalu lancar. Hidup tidak selalu senang. Alkitab mengatakan di dalam pengkotbah “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari”.
Ada kalanya di dalam hidup ini manusia mengalami kesulitan, penderitaan, sakit penyakit. Ada orang yang cacat tubuhnya: buta,tuli,bisu, ada yang mengalami penyakit berat yang menyakitkan, ada orang yang hanya terbaring di kamar karena lemah tubuhnya, ada orang yang ditinggalkan istri anaknya, ada orang yang ditolak oleh masyarakat, ada orang yang menjadi korban kekejaman orang lain, ada orang yang disiksa oleh orang lain, ada orang yang tidak diperlakukan manusiawi. Mereka yang menderita sering berpikir “Mengapa hal ini terjadi ?” atau “Mengapa Allah membiarkan hal ini terjadi ?”. Juga orang menderita sering bertanya “Mengapa aku yang mengalami hal ini ?” dan “Dimana Tuhan ketika saya menderita”
Kesulitan dan penderitaan ini dapat mengakibatkan orang yang menderita menjadi merefleksikan hidupnya : “Apa arti hidupku ?”. Seringkali orang yang menderita menjadi kepahitan, kekosongan, putus asa, tawar hati, kesedihan. Penderitaan di dalam hidup manusia ini membuat manusia merasa dirinya kecil. Banyak hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Ada waktunya seorang maju namun beberapa waktu kemudian dia dapat mengalami kegagalan. Hidup manusia adalah rapuh adanya.
Bagaimana kalau kesulitan, penderitaan, sakit penyakit datang kepada kita ? Atau bagaimana bila kita sedang mengalami hal itu ? Adakah harapan bagi manusia yang mengalami penderitaan hidup ? Adakah jalan untuk menghadapi hal ini ? Alkitab mengajarkan bahwa ada pengharapan di dalam Tuhan bagi mereka yang mengalami penderitaan hidup. Alkitab mengajarkan bahwa “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya. Apabila ia jatuh tak sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangannya” ( Mazmur 37 ). Pengharapan adalah bahwa Tuhan menopang hidup orang yang hidupnya berkenan kepadaNya. Mengapa orang percaya punya harapan di dalam Tuhan ? Karena tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini terlepas dari kontrol Tuhan. Tuhan adalah Allah yang mengontrol sejarah dan mengarahkannya sesuai dengan kehendakNya yang mulia, agung, dan besar.
Lalu mengapa harus ada penderitaan ? Mengapa harus ada cacat tubuh ? Mengapa seseorang menjadi korban kejahatan orang lain ? Mengapa harus seseorang mengalami kesulitan hidup ?
Yohanes 9 mengajarkan mengenai orang buta yang buta sejak lahirnya. Murid-murid Tuhan Yesus bertanya kepada Tuhan Yesus mengapa orang ini buta ? Siapakah yang berdosa : dia sendiri atau orang tuanya ? Tetapi Tuhan Yesus menjawab bahwa bukan dia dan bukan orang tuanya tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kemudian Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta itu. Setelah sembuh orang buta itu menyaksikan pekerjaan Tuhan di dalam dirinya kepada banyak orang sehingga dia dipakai menjadi saksi untuk kemuliaan nama Tuhan.
Ada juga peristiwa lain di dalam sejarah mengenai seorang wanita yang bernama Fanny Crosby. Dia buta sejak kecil. Puji Tuhan bahwa neneknya terus mengajarkan Firman kepadaNya sejak kecil. Keindahan Firman Tuhan mengakibatkan dirinya pribadinya menjadi halus. Fanny banyak menulis puisi dan hymn selama hidupnya. Diperkirakan ada 9000 hymn yang ditulis oleh dia dan terutama text lagu terkenal :”SalibNya salibNya / Near the Cross”, “Blessed Assurance”, “To God be the glory”.
Jadi apa arti penderitaan di dalam hidup ini ? Supaya kita dapat memuliakan nama Tuhan di dalam hidup ini. Firman Tuhan mengajarkan bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. ( Roma 5 ). Ayub ketika menderita berkata bahwa dia akan muncul seperti emas.
Mengapa ada penderitaan ? Penderitaan orang percaya ada maksudnya. Dan satu hal Allah berjanji bahwa “segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiNya”. Inilah janji Tuhan bahwa segala sesuatu akhirnya indah pada waktunya. Seringkali kita manusia yang terbatas tidak bisa melihat secara keseluruhan rencana Allah di dalam diri kita sehingga kita belum bisa melihat kebaikan di dalam penderitaan. Tetapi janji Allah adalah murni dan benar adanya bahwa segala sesuatu baik penderitaan akan mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiNya. Ini adalah penghiburan dan pengharapan bagi orang yang menderita.
Satu hal yang harus kita pegang dalam penderitaan adalah bahwa “Allah mengasihi umatNya dan tidak pernah meninggalkan mereka”. Pemazmur mengatakan “Inilah penghiburan dalam sengsaraku bahwa janjiMu menghidupkan aku” ( Mazmur 119 : 50). Maka mendekatlah kepada Tuhan ! Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berseru kepdaNya dalam kesetiaan ( Mazmur 145:18 ). Carilah kehendakNya di dalam penderitaan kita sebab Tuhan berjanji bahwa akan memberitahukan perjanjianNya kepada orang yang takut akan Tuhan. ( Mazmur 25 ). Berharaplah kepada Tuhan di dalam penderitaan dan janji Tuhan kepada kita adalah bahwa pencobaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita. Pada akhirnya segala sesuatu indah pada waktunya. Pada akhirnya Tuhan akan memberikan kepada kita langit dan bumi baru dimana tidak ada air mata, tidak ada kesedihan, tidak ada penderitaan. Disana yang ada hanya kehadiran dan persekutuan dengan Tuhan Allah selama-lamanya.

Soli Deo Gloria

Jakarta, 02 September 2005

Read More ....

Saluran Anugerah

Saluran anugerah
- By Jeffrey Lim –

“Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” ( Yoh 1:14 )

Grace upon grace
Blessing after another blessing
Grace to grace

Di dalam Kristus manusia berdosa berpindah status menjadi orang kudus dan orang benar. Manusia berdosa juga berpindah status dari murka Allah kepada kasih karunia Allah. Setelah dibenarkan di dalam Kristus, orang berdosa dibenarkan di hadapan Allah dan menjadi anak Allah. Hidup orang percaya sekarang berada dalam kasih karunia di dalam Kristus. Hidupnya sekarang adalah hidup yang baru. Baru yaitu mempunyai status baru sebagai orang kudus, orang benar, anak Allah. Baru juga berarti hidupnya ada arah dan tujuan baru yaitu meninggalkan dosa dan berpaling kepada Allah. Baru juga berarti sekarang orang percaya mempunyai natur baru yang kudus yang membenci dosa.
Sebagai manusia baru, orang percaya seperti bayi rohani yang perlu bertumbuh. Di dalam dunia yang penuh dengan racun dosa ini orang percaya perlu bertumbuh. Memang secara status dan natur orang percaya sudah kudus dan bersih di hadapan Allah. Orang percaya sudah hidup dalam kasih karunia Tuhan dan sudah tidak berada dalam kutuk Taurat. Tetapi bukan berarti hidup suci sudah tercapai sempurna karena orang percaya perlu mengalami transformasi. Dosa memang sudah dikalahkan. Sengatnya sudah tidak ada. Tetapi kebiasaan berdosa yang sudah tertanam di dalam hati pikiran orang percaya perlu diubahkan. Ini namanya proses pengudusan yang dilakukan oleh Allah Roh Kudus. Pengudusan secara status dan natur sudah terjadi ( already ) tetapi belum sempurna ( not yet ) . Pengudusan secara transformasi natur akan terjadi ( present ) dan pengudusan secara sempurna akan terjadi ketika bertemu dengan Tuhan.
Di dalam proses pengudusan ini, orang percaya juga berada dalam kasih karunia Tuhan dan untuk mengalami proses pengudusan maka Tuhan Allah beranugerah memberikan saluran anugerahNya kepada kita orang percaya. Saluran anugerah ini adalah di dalam doa, sakramen, Firman, persekutuan orang kudus, dan diri Allah sendiri sebagai pemberi anugerah. Tuhan menguduskan kita melalui darah Kristus, Firman dan RohNya yang Kudus. Ini adalah sarana-sarana pengudusan dari Tuhan Allah
Dengan melakukan doa maka orang percaya bersekutu dengan Tuhan dan dimana ada persekutuan dengan Tuhan maka akan ada pengudusan. Dengan doa dalam nama Kristus maka orang percaya masuk ruang yang maha kudus dan boleh mendapatkan anugerah disana.
Dengan melakukan sakramen baptisan, orang percaya masuk ke dalam gereja yang kelihatan yang melambangkan baptisan roh kudus dimana orang percaya masuk ke dalam gereja yang tidak kelihatan. Dengan melakukan sakramen perjamuan kudus, orang percaya mengingat anugerah keselamatan dalam Kristus dan saat ini orang percaya ada di dalam persekutuan mistik dengan Kristus. Seperti janji Kristus bahwa barangsiapa tetap tinggal diam di dalamNya maka pasti kita akan berbuah.
Kemudian Firman Tuhan juga merupakan saluran anugerah dimana melalui Firman Tuhan orang percaya mengenal Tuhan. Dengan menyimpan Firman Tuhan dalam hati maka orang percaya dicegah dari dosa. Dengan menjaga kelakuan sesuai dengan Firman maka kelakuan orang percaya menjadi bersih. Firman Tuhan itu mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang percaya di dalam kebenaran. Firman Tuhan juga mendisiplin, menyegarkan jiwa, memberi kekuatan, memberikan arah, memberikan petunjuk, memberi nasihat, mempersiapkan orang di dalam pelayanan.
Saluran anugerah yang lain adalah juga persekutuan orang kudus. Di dalam persekutuan dalam Kristus ada kasih dan di dalam kasih inilah orang percaya boleh bertumbuh. Hanya melalui kasih saja orang percaya boleh bertumbuh untuk melaksanakan kebenaran Firman Tuhan. Di dalam persekutuan orang kudus terjadi saling mengasihi, saling mendoakan, saling mendukung, saling menegur, saling menasihati, saling berbagi beban, saling melayani. Persekutuan di dalam Tuhan di dalam kasih membuat hidup menjadi indah dan berarti. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.
Anugerah yang paling penting juga adalah Allah sendiri. Allah Bapa menjadi sumber segala berkat. Allah Anak menjadi perantara manusia dengan Allah. Anak Allah menjadi imam besar agung dimana orang percaya boleh datang kepada Allah dan mencari kasih karunia. Semua anugerah kasih karunia yang diterima oleh orang percaya berada di dalam Anak Allah Yesus Kristus. Oleh kepenuhan Kristus, orang percaya menerima kasih karunia demi kasih karunia. Karya keselamatan Kristus di kayu salib mendatangkan anugerah keselamatan yaitu penebusan. Anugerah penebusan ini menyelamatkan orang percaya kemudian terus mentransformasi hidup orang percaya sehingga orang percaya menjadi makin serupa dengan Kristus di dalam setiap aspek kehidupan. Semua pekerjaan keselamatan ini dikerjakan oleh pribadi Allah Roh Kudus yang melahir barukan orang percaya dan menyucikan orang percaya. Allah Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya menjadi pengajar kebenaran, penasihat, konselor, penghibur yang memimpin orang percaya untuk hidup memuliakan Tuhan Allah.
Puji Syukur kepada Allah yang beranugerah kepada kita sehingga kita boleh dikuduskan dan diperbaharui untuk melayaniNya. Marilah kita mengucap syukur karena hidup kita orang percaya berada di dalam kasih karunia…

Soli Deo Gloria

Jeffrey Lim, Jakarta 24 Maret 2006

Read More ....

Roh Kudus memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran

Renungan mengenai Roh Kudus

Roh Kudus memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran
- By Jeffrey Lim –

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” ( Yohanes 16:13a )

Alkitab mengajarkan bahwa semua orang percaya memiliki Roh Kudus ( Roma 8:9 ). Roh Kudus adalah materai keselamatan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Roh itu tinggal di dalam hati orang percaya sebagai Allah yang imanen yaitu Allah yang beserta kita. Siapakah kita ini yang hanya tanah dan debu sehingga Roh Allah tinggal di dalam diri kita bahkan Alkitab mengajarkan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus ( 1 Korintus 6:19 ). Siapakah kita yang terbatas dan lemah ini sehingga Allah mau tinggal di dalam hati kita ?
Apa pekerjaan Roh Kudus didalam hidup kita orang percaya ? Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus itu adalah Roh Kebenaran. Roh Kudus berkait dengan kebenaran dan pengajaran tentang kebenaran. Alkitab berkata bahwa Roh Kudus itu Allah pribadi ketiga yang mewahyukan kebenaran. Roh Kudus adalah Roh Allah dan Dia adalah Allah sendiri. Roh Kudus disebut sebagai Roh Wahyu ( Efesus 1:17 ). Roh Kudus adalah Roh yang memcelikkan mata hati orang sehingga membuat orang mengerti Firman Tuhan. Seperti janji Tuhan Yesus kepada kita bahwa Roh Kudus akah memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran.
Pada waktu perjanjian Lama, Allah memberikan Taurat kepada Musa sehingga mereka mengenal hukum Allah. Taurat diberikan supaya mereka yang taat kepada Taurat diberkati dan siapa yang tidak taat dikutuk. Namun sejarah bangsa Israel membuktikan bahwa hati bangsa Israel tidak taat kepada Firman Tuhan. Pada perjanjian baru, Allah menuliskan hukumnya di dalam hati orang percaya. Allah memberikan hati yang baru dan roh yang baru di dalam diri umatNya ( Yehezkiel 36:26 ). Roh Kudus diberikan Allah supaya diam di dalam batin umatNya sehingga mereka hidup menurut segala ketetapan Tuhan dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan Tuhan dan melakukannya ( Yehezkiel 36:27 ). Pada waktu Roh Allah diam di dalam diri seseorang, maka Alkitab berkata “Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku ( Tuhan )” ( Yeremia 31:34 ).
Walaupun Allah berjanji bahwa Roh Kudus memimpin seseorang ke dalam seluruh kebenaran, namun seseorang dapat mendukakan Roh Kudus ( Efesus 4:30 ). Pada saat pekerjaan Roh Kudus ditekan dan diacuhkan, Roh Kudus akan berduka. Roh Kudus bekerja dengan lembut dan tidak memaksakan kehendakNya dengan keras kepada kita dan Ia dapat bersedih karena ketidaktaatan kita. Pada saat kita tidak mau taat Roh Kudus maka kita rugi sendiri. Maka kita perlu taat dan rendah hati berdoa kepada Tuhan meminta Tuhan mengajari kebenaranNya seperti pemazmur :”Beritahukanlah jalan-jalan-jalanMu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku” ( Mazmur 25:5 ).Kita tahu dari Alkitab bahwa “Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum” (Mazmur 25:8 ). Menunjukkan jalan dan membimbing adalah pekerjan Roh Kudus. Berdoalah seperti pemazmur ketika sedang merenungkan mengenai Firman Tuhan yaitu:”Terpujilah Engkau, ya Tuhan; ajarkanlah ketetapan-ketetapanMu kepadaku” ( Mazmur 119:12 ) “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari TauratMu” ( Mazmur 119:18 ) “Aku ini orang asing di dunia, janganlah sembunyikan perintah-perintahMu terhadap aku” ( Mazmur 119:19 ) “Jalan-jalan hidupku telah aku ceritakan dan Engkau menjawab aku – ajarkanlah ketetapan-ketetapanMu kepadaku” ( Mazmur 119:26 ) “Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titahMu, supaya Aku merenungkan perbuatan-perbuatanMu yang ajaib” ( Mazmur 119:27 ) “Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan, petunjuk ketetapan-ketetapanMu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir” (Mazmur 119:33 ) “Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang TauratMu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati” (Mazmur 119:34 ) “Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapanMu kepadaku” ( Mazmur 119:68 ) “TanganMu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintahMu” ( Mazmur 119:73 ) “Perlakukanlah hambaMu sesuai dengan kasih setiaMu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapanMu kepadaku. HambaMu aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku tahu peringatan-peringatanMu” ( Mazmur 119:124-125 ) “Sinarilah hambaMu dengan wajahMu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapanMu kepadaku” ( Mazmur 119:135 ) “ Peringatan-peringatanMu adil untuk selam-lamanya, buatlah aku mengerti, supaya aku hidup” ( Mazmur 119:144 )
Roh Kudus membawa kita mengenal Tuhan dan KebenaranNya. Namun ada syarat-syaratNya yang harus kita penuhi yaitu kita harus rendah hati dan takut akan Tuhan. Alkitab mengajarkan “Siapakah orang yang takut akan Tuhan ? Kepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.” (Mazmur 25:12).”Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjianNya diberitahukannya kepada mereka” ( Mazmur 25:14 ). Karena itu marilah kita datang kepada Tuhan dengan rendah hati dan takut akan Tuhan untuk mengenal Dia dan kehendakNya. Sebab “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” ( Amsal 9:10 ) Soli Deo Gloria

Jakarta, 02 September 2005

Read More ....

Blog Archive

LIMPINGEN BLOG